Oleh: Gusti

Kemiskinan bukan hanya disebabkan akibat ketidakmampuan finansial karena tidak bekerja secara ajek. Namun, faktor kesehatan juga bisa memiskinkan sebuah keluarga. Pasalnya, jika salah satu anggota keluarga yang sakit bisa menyebabkan risiko anggota lainnya juga terkena penyakit yang sama, apalagi sakit yang diderita tidak mudah disembuhkan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dalam pengambilan kebijakan yang baik untuk menghasilkan generasi sehat di masa mendatang.

Demikian beberapa hal yang mengemuka dalam seminar Kesiapan Pengelolaan Generasi Sehat 2020, Jumat (8/11) lalu di Hotel Inna Garuda. Seminar ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Wanita (PSW) UGM dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, 

Kepala PSW UGM, Dr. Widya Nayati, mengatakan perempuan memiliki peran untuk ikut serta dalam penanggulangan kemiskinan. Namun, hal itu bisa dilakukan apabila perempuan mampu mengembangkan diri secara maksimal untuk mengisi peluang ekonomi dengan ide kreatifnya. Hanya saja pengembangan ekonomi lewat kegiatan usaha dapat dilakukan apabila kondisi rumah selalu sehat.   

“Diperlukan penataan dan penyiapan generasi sehat di dalam keluarga untuk menuju kehidupan sejahtera,” ungkapnya.

Di dalam keluarga, kata Widya, pola kehidupan berkeluarga berkaitan dengan pola pengasuhan generasi. Namun, kesiapan masing-masing individu sangat beragam dikarenakan permasalahan terhadap informasi yang diperoleh masing-masing individu tidak sama.  Bahkan, penanganan pengasuhan jangan menimbulkan konflik dan kebingungan pada anak. “Pola pengasuhan generasi emas harus tetap memasukkan dan mengembangkan karakter budaya,” ujarnya.

Seminar kali ini juga menghadirkan beberapa narasumber yang umumnya pakar kesehatan dan praktisi yang berkecimpung dalam dunia kesehatan dan pengembangan pola pengasuhan anak. Dosen Kesehatan Anak dari FKKMK UGM, dr. Retno Sutomo, SpA., mengatakan salah satu persoalan dalam penyiapan generasi  sehat adalah munculnya kasus anak yang sering terlambat bicara. Anak-anak yang terlambat bicara ini bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya akibat gangguan pendengaran, kekurangan stimulasi dan disabilitas intelektual. “Orang tua saat ini masih banyak yang menganggap bicara itu identik dengan pengucapan kalimat. Padahal, prasyarat untuk anak bisa berbicara adalah pendengaran,” ungkapnya.

Anak-anak yang akhirnya kesulitan bicara berawal dari keterlambatan orang tua dalam memeriksa dan mengecek kondisi kesehatan anaknya. Ia menyarankan setiap orang tua menyediakan waktu untuk memantau dan berinteraksi dengan anaknya setiap saat. “Ada floor time, interaksi orang tua dengan anak minimal 30 menit setiap hari,” katanya.

Pakar Penyakit Menular Seksual dari UGM, dr. Yanri Wijayanti, Sp.PD., Ph.D., mengatakan seorang ibu sangat menentukan dalam mengedukasi soal pengetahuan seks, orientasi seksual dan identitas gender. “Sebaiknya orang tua membicarakan gender dan orientasi seksual pada anaknya sedini mungkin,” katanya.

Ia berpandangan orientasi seksual dan identitas gender merupakan bagian integral dari martabat dan kemanusiaan masing-masing manusia sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk melakukan diskriminasi ataupun kekerasan. “Tidak ada satu orang pun, termasuk orang terdekat dengan kita dapat mengintervensi segala sesuatu yang ada di tubuh kita,” ujarnya.

Menurutnya, kasus penularan HIV-AIDS saat ini erat terjadi dengan persoalan kemiskinan. Baginya, kemiskinan bukan soal ekonomi, namun keterbatasan pada akses edukasi. “Yang bisa berbicara di sini adalah ibu untuk melakukan parenting pada anak anak,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)