Oleh: Gusti

Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), Ganjar Pranowo, mengatakan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam mencegah penularan Covid-19 dengan mengikuti adaptasi perubahan perilaku dan budaya disiplin protokol kesehatan di era pandemi sekarang ini. Selain keluarga, peran pemerintah dan tokoh agama juga memberikan andil dalam memotivasi masyarakat mengikuti perubahan budaya dan perilaku baru. Hal itu disampaikan Ganjar setelah ia melakukan survei di akun media sosial miliknya terkait anjuran siapa saja yang paling diikuti para anak muda sekarang ini untuk berubah.

“Orang tua dan pemerintah menduduki persentase terbesar mendorong orang untuk berubah,” kata Ganjar dalam webinar yang bertajuk Membangun Budaya Tatanan Baru melalui Pengelolaan Perilaku, Minggu (12/7).

Dalam survei yang ia lakukan, Ganjar menyebutkan orang tua dan pemerintah paling banyak dipilih dengan persentase 48 persen dan 39 persen. Selebihnya yang dipilih adalah tokoh agama sebanyak 7 persen dan teman 6 persen.

Dari survei tersebut, Ganjar berkeyakinan pendekatan kepada orang tua untuk mengajak anaknya mengikuti anjuran agar bisa ikut mencegah penularan Covid sangat penting. Anjuran soal menggunakan masker, menjaga jarak dan kebiasaan cuci tangan perlu tersampaikan ke orang tua dengan baik. “Keluarga jauh lebih bisa melakukan kontrol sebagai bagian dari komunitas,” katanya.

Namun begitu, di era pandemi sekarang ini menurutnya anjuran promosi kesehatan selalu berubah mengikuti perkembangan terbaru dari virus Covid-19 ini. Metode dan pendekatan baru dalam upaya mendukung penanggulangan sangat diperlukan. Bahkan, ia mengajak sebagian warga dan tokoh masyarakat memberikan pesan dan anjuran kesehatan yang baik di medsos.

“Kampanye hal-hal yang baik soal pengalaman dan cara baru di medsos sangat manjur dalam mengajak warga menjaga kesehatan bersama cegah Covid,” katanya.

Webinar yang diselenggarakan hasil kerja sama UGM dan Kagama ini juga menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Dr. Wening Udasmoro dan Guru Besar Psikologi UGM, Prof. Dr. Djamaludin Ancok.

Wening Udasmoro mengatakan salah satu tantangan pemerintah dalam penangulangan penularan Covid-19 adalah mengubah budaya disiplin warga masyarakat. Sebab, menurutnya memberlakukan budaya disiplin untuk menggunakan masker atau cuci tangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. “Beratnya menerapkan budaya baru di masa pandemi disebabkan dari tiga faktor yakni sisi ekonomi, ideologi dan budaya,” katanya.

Dari sisi ekonomi, masyarakat sekarang ini yang terdampak Covid berusaha untuk bangkit memiliki daya tahan kemampuan ekonomi terbatas. “Mereka melanggar kedisiplinan karena mereka butuh makan sehingga banyak yang melanggar kedisipilinan,” ujarnya.

Soal  ideologi, hal itu terkait dengan persoalan resistensi anggota kelompok agama yang mengabaikan aturan protokol kesehatan Covid demi bisa melakukan ibadah layaknya dalam kondisi normal.”Kita bisa lihat banyak kluster yang muncul dari kelompok ini. Resistensi ini bukan hanya terjadi di tanah air, tapi juga di negara lain,” katanya.

Selanjutnya, dari faktor budaya menurutnya masyarakat Indonesia dikenal sangat senang kumpul-kumpul. Tidak heran sejak diberlakukan era New Normal, pertemuan di angkringan, kafe hingga kumpulan sosialita kembali muncul.  “Karena tidak sabar, justru berisiko jadi sarana baru penyebaran Covid,” paparnya.

Ia menilai kebijakan pemerintah dalam membangun budaya tatanan baru perlu memahami ketiga faktor ini sehingga mampu mendesain dan mengimplementasikan aturan dengan baik. “Kita harus memahami budaya. Tidak harus minta mereka untuk selalu cuci tangan dan jaga jarak, namun memahami budaya masyarakat secara detail,” ungkapnya.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Djamaludin Ancok, mengatakan ada tiga hal yang bisa mengajak masyarakat untuk berubah yakni pertama patuh karena takut dihukum sehingga ada peraturan dan penerapan sanksi yang tegas. “Sanksi diperlukan supaya orang ngerti, you berubah kalo tidak kena hukum,” katanya.

Namun, orang juga bisa berubah karena ada yang mengajak ia berubah sehingga peran seorang komunikator sangat diperlukan. “Komunikator perubahan sangat penting,” katanya.

Lalu yang ketiga, ada kesadaran dari diri sendiri lewat internalisasi dengan pengetahuan. “Kita harus membuat orang lain dan meyakinkan mereka sadar betul bahaya Covid ini bagi diri mereka sendiri,” pungkasnya.

Penulis : Gusti Grehenson