Oleh: Agung

Kasus kekurangan gizi masih sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dari berbagai kasus yang ada, Indonesia seringkali dihadapkan pada permasalahan kekurangan vitamin A.

Kekurangan Vitamin A (KVA) ini sebagai penyebab utama penyakit mata dari rabun hingga menyebabkan kebutaan. KVA dapat diibaratkan sebagai fenomena “gunung es” yaitu masalah yang hanya sedikit tampak di permukaan.

Meskipun KVA tingkat berat seperti xerophthalmia sudah jarang ditemui, tetapi KVA tingkat subklinis berupa gangguan pada suatu tingkat belum menampakkan gejala nyata atau tidak menunjukkan gejala secara fisik masih terus menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. Prevalensi subklinis kekurangan vitamin A terutama pada kadar serum retinol dalam darah kurang dari 20 µg/dl masih mencapai 0,8 persen.

“Oleh karena itu, melalui Program Pekan Kreativitas Mahasiswa-PE yang diadakan Kemenrinstekdikti, kami memanfaatkan salah satu sayuran, yaitu wortel yang memiliki kandungan vitamin A besar sebagai bahan utama pembuatan suplemen guna mencegah KVA," ujar Nindya Kirana Putri, di Fakultas Biologi UGM, Senin (22/7).

Produk berupa suplemen nanoemulsi ekstrak wortel dan VCO untuk mencegah KVA ini ia kerjakan bersama  Diah Ayu Puspitasari dan Nurlaili Rahmawati (FMIPA Kimia UGM) dan dibimbing oleh dosen Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng.

Diah Ayu Puspitasari menjelaskan berdasarkan studi literatur yang diperoleh, wortel mengandung beta-karoten yang merupakan bentuk pro-vitamin A paling aktif. Pro-vitamin A tersebut secara enzimatis dapat berubah menjadi vitamin A.

“Beta-karoten memiliki struktur yang non-polar sehingga dapat larut dalam suatu minyak. Di dalam penelitian ini digunakan virgin coconut oil (VCO) sebagai pelarut beta-karoten karena VCO mengandung asam lemak jenuh yang mudah dicerna dan dioksidasi di dalam tubuh,” jelasnya.

Penelitian diawali dengan pengumpulan wortel yang diperoleh di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Selanjutnya, dilakukan maserasi wortel yang sudah dikeringkan dalam VCO. Maserasi ini dilakukan dalam VCO agar beta-karoten yang berada dalam wortel kering dapat larut sempurna.

Diah Ayu menjelaskan pembuatan suplemen dilakukan dalam bentuk nanoemulsi agar proses absorpsi pro-vitamin A dalam tubuh dapat maksimal. Identifikasi ukuran suplemen dilakukan menggunakan uji mikroskop dan Particle Size Analyzer (PSA), sedangkan untuk kandungan beta-karoten dan mineral dalam suplemen masing-masing ditentukan dengan spektrometer.

“Berdasarkan uji yang dilakukan maka dapat disimpulkan bila suplemen nanoemulsi ekstrak wortel dan VCO dengan kandungan beta-karoten berpotensi sebagai sumber pro-vitamin A agen pencegah KVA," ungkapnya. (Humas UGM/ Agung)