Oleh: Satria

Fakultas Psikologi UGM tengah berduka. Salah seorang guru besarnya, yakni Prof. Dr. Asip F. Hadipranata, telah berpulang pada Kamis (5/12) di RS Panti Rapih, Yogyakarta. UGM menyelenggarakan upacara penghormatan terakhir mendiang pada Jumat (6/12) di Balairung UGM.

Prof. Asip semasa hidupnya telah banyak menghabiskan waktu di Fakultas Psikologi UGM. Mendiang merupakan lulusan Psikologi UGM tahun 1967. Seusai kuliah, mendiang langsung memulai mengabdikan diri ke Fakultas Psikologi UGM sebagai dosen. Bidang yang diampunya semasa aktif menjadi dosen ialah Psikologi Industri dan Organisasi.

Pada masa tersebut, selain mengajar, mendiang juga aktif terlibat dalam berbagai penelitian sesuai bidangnya. Hasilnya hingga sekarang, nama mendiang telah banyak tercantum dalam berbagai luaran produk pengetahuan, baik berupa jurnal maupun buku.

Atas pengabdiannya pada bidang tersebut, pada tahun 1998, mendiang dikukuhkan sebagai guru besar. Pidato pengukuhannya disampaikan pada 30 Mei 1998 berjudul “Manajemen Mandiri, Manunggal, dan Produktivitas Insani”.

Melalui pidato tersebut, Prof. Asip mengkritik pendekatan psikologi yang cenderung berasas individual differences. Pendekatan tersebut, menurutnya, melupakan dimensi sosial manusia. Padahal pada dasarnya pula, manusia merupakan makhluk individu serta makhluk sosial. Dengan demikian, pendekatannya juga harus utuh memandang manusia sebagai makhluk individual yang bersosial dan makhluk sosial yang individual.

Dari kritik tersebut, mendiang melihat masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang heterogen seharusnya memiliki komitmen kepedulian yang tinggi. Namun, menurutnya, masih memerlukan dorongan untuk mencapai kepedulian tersebut.

Prof. Asip kemudian menawarkan Falsafah Homping Sut yang mengajarkan mawas diri agar mengenal jati diri sehingga melahirkan sikap mandiri. Sikap mandiri diperlukan karena hanya insan mandiri yang mampu bekerja sama secara utuh manunggal. Hal ini berarti individu yang mampu berkontribusi pada orang lain dan dengan simpati memperoleh bantuan dari orang lain.

Untuk membentuk kemandirian dan kemanunggalan tadi, Prof. Asip menyebut perlu dibentuk kelompok berasaskan Manajemen Mandiri Manunggal. Kelompok ini berpengaruh secara signifikan terhadap etos kerja. Hal itu dengan kontribusi sebesar 87,5 persen bagi produktivitas insani. Dengan demikian, dapat disampaikan bahwa performa kerja diri seseorang dapat diperoleh melalui kepuasan maupun kenikmatan rekan sekerja atau rekanan bisnisnya.

Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU., ASEAN Eng.,  menyatakan bahwa pemikiran dari Prof. Asip masih relevan terhadap realitas kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini. Hal tersebut utamanya dalam menyikapi keberagaman Indonesia ini.

“Dengan menerima perbedaan atau keberagaman, menyadari kelebihan dan kekurang masing-masing, hal itu justru meningkatkan produktivitas kita. Oleh karena itu, keberagaman bukan merupakan sebuah halangan, melainkan sebuah modal dalam berkarya untuk kemajuan bangsa. Hal inilah yang kiranya perlu kita terapkan dalam melaksanakan tugas manajemen organisasi dan melaksanakan amanat pemerintah, membangun SDM unggul,” ungkapnya.

Terakhir, mewakili UGM, Panut menyampaikan rasa turut belasungkawa terhadap keluarga besar mendiang serta keluarga Fakultas Psikologi UGM. ”Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan. Serta kita semua di UGM, dapat meneruskan perjuangan serta mewarisi semangat mendiang. Aamiin,” pungkasnya. (Humas UGM/Hakam)