Oleh: Gusti

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD) memungkinkan setiap manusia untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperlukan untuk membentuk masa depan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, konsep perkembangan ESD ini penting dimasukkan dalam pengajaran dan pembelajaran terutama soal perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, keanekaragaman hayati, pengurangan kemiskinan dan konsumsi berkelanjutan melalui metode pengajaran dan pembelajaran partisipatif. Demikian beberapa hal yang mengemuka dalam International ESD Forum yang berlangung di Kampus UGM, Selasa (14/11).

Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Prof. Ir. Priyambada, M.Sc., Ph.D., mengatakan konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan secara konsekuen mempromosikan kompetensi, seperti pemikiran kritis, membayangkan skenario masa depan dan membuat keputusan secara kolaboratif. Lebih dari itu ESD ini mampu memotivasi dan memberdayakan peserta didik untuk mengubah perilaku mereka dan mengambil tindakan untuk pembangunan berkelanjutan.

Di kampus UGM, kata Irfan, sampai sekarang masih banyak mahasiswa ikut berpartisipasi di masyarakat pada setiap jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab mereka termasuk bagi universitas dan negara. “Melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan kami implementasikan pada tridarma pendidikan tinggi,” katanya.

Prof. Lucia Yammoto dari Shizuoka University, Jepang, mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu kegiatan bersama yang dilakukan antara UGM dengan universitasnya. “Kami mengirim pertukaran mahasiswa yang ikut dalam kegiatan pengabdian,” katanya.

Menurutnya, tantangan dalam pengembangan ESD dalam pendidikan adalah mengharmonisasikan berbagai isu lokal dengan isu global soal pembangunan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian yang dilakukan perguruan tinggi dengan mengajak mahasiswa lebih banyak terjun ke masyarakat akan menambah pengetahuan dan kepekaan mereka untuk lebih banyak tahu tentang persoalan riil yang dihadapi masyarakat terutama soal kemiskinan. “Mereka bisa belajar kehidupan masyarakat miskin dan bisa menelitinya untuk kebutuhan riset,” katanya.

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Dr. Cahyono Agus, mengatakan konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan perlu diajarkan sejak dini agar sumber daya alam di masa depan dapat dikelola secara arif dan bijaksana . Menurutnya, kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi dan hutan yang dimiliki Indonesia ini telah dikuras habis dalam tempo satu generasi saja. “Kita memiliki warisan kekayaan alam, namun habis dalam satu turunan saja,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)