Oleh: Satria

Era globalisasi membawa Indonesia kepada tantangan-tantangan yang lebih kompleks dan berat. Hal itu seperti kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, ketersediaan cadangan energi yang menipis, keterbatasan lapangan kerja, hingga berbagai persoalan perekonomian negara. Tantangan-tantangan ini harus dijawab segera oleh para akademisi sebagai ujung tombak intelektual bangsa.

Untuk menjawab hal itu, dibutuhkan kerja-kerja intelektual yang mampu menghasilkan produk-produk akademik yang inovatif dan dapat menjawab permasalahan sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan penelitian yang kolaboratif di berbagai bidang dan multi disipliner, agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dapat terakomodasi dengan baik.

Oleh karena itulah, menurut Prof. Dr. Suprijadi, M.Eng., perwakilan dari ITB, beberapa universitas sejak dua tahun lalu mulai menjalin riset kolaboratif. Awalnya, kolaborasi ini hanya dari empat universitas, lalu tahun kedua bertambah hingga akhirnya dibentuk Program Penelitian Kolaboratif Indonesia (PPKI) dan Riset Kolaboratif Indonesia (RKI).

Riset kolaboratif ini menyangkut banyak bidang, dari agro, medis, saintek, hingga sosio-humaniora.

“Total saat ini ada 43 kelompok peneliti yang tiap topik dikerjakan 3-4 penelti dari berbagai bidang. Tujuan dari dibangunnya satu kelompok dari beberapa bidang karena agar tiap topik bisa ditinjau dari banyak aspek. Produk dari hasil kolaborasi ini ada dua. Pertama tentu untuk keperluan ilmu pengetahuan, lalu kedua untuk menghasilkan karya yang dekat dengan keperluan masyarakat,” papar guru besar Fakultas MIPA ITB ini.

Sementara itu, drg.Ika Dewi Anna, M.Kes., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Penelitan dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, menyatakan bagi UGM, riset kolaborasi ini merupakan salah satu kewajiban yang diamanatkan sejak universitas dibangun. Hal tersebut yakni untuk berkontribusi nyata kepada masyarakat dan pengetahuan.

Ika kemudian menjelaskan bahwa sebuah universitas dinilai berhasil tidak hanya dari pemeringkatannya saja. Namun, hal yang paling utama adalah dilihat dari kemampuannya untuk menyelesaikan problematika nasional dengan hasil-hasil risetnya.

“Pandangan tersebutlah yang saat ini mendorong UGM untuk terus produktif menghasilkan karya. Tujuan kami adalah bagaimana kita bersama membawa masyarakat Indonesia lebih maju dan sejahtera,” ungkap dosen FKG UGM ini.

Prof. Ainun Na’im, Ph.D., M.B.A., Sekretaris Kementrian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional RI,  menyatakan pihaknya menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif dari universitas-universitas ini untuk berkolaborasi. Ia menyebut kolaborasi ini sebenarnya sejalan dengan produk atau undang-undang yang dikembangkan pemerintah saat ini.

Ainun mengungkapkan Kemenriset/BRIN selama ini telah menghasilkan produk regulasi untuk membangun ekosistem riset dan inovasi nasional. Prioritas riset selama ini ingin membangun integrasi riset secara nasional, termasuk di perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk memacu laju inovasi nasional yang selama ini indeksnya terbilang rendah dibanding negara-negara lainnya.

Integrasi ini, menurut Ainun, juga melibatkan pihak swasta atau industri. Hal tersebut karena dalam kasus selama ini, walaupun perguruan tinggi memiliki kemampuan untuk menghasilkan inovasi, tetapi ketika sudah dalam tahap komersialisasi produk, mereka tidak memiliki ahlinya. Oleh karenanya, diperlukan pihak swasta untuk menangani hal ini.

Ainun mengungkapkan integrasi ini pada akhirnya tidak hanya berdampak pada perguruan tinggi semata. Namun, hal yang lebih utama adanya integrasi akan mendorong serta mendukung transformasi ekonomi nasional agar lebih mandiri. Selain itu, hal ini juga dapat meningkatkan ekosistem inovasi sehingga menambah daya saing kita di mata dunia “Dengan demikian, kita juga menjadi lebih dekat dengan mimpi untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (Humas UGM/Hakam;foto: Firsto)