Oleh: Ika

Bencana tanah longsor susulan masih mengintai warga di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Terlebih jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.

Pakar Geologi UGM, Dr. Wahyu Wilopo, mengatakan hujan lebat menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya longsor di daerah Imogiri. Hujan dengan intensitas tinggi dan juga gempa akan memicu munculnya longsoran susulan di wilayah itu.

Guna mencegah bencana longsoran susulan dia merekomendasikan sejumlah langkah penting. Salah satunya dengan menutup retakan tanah dengan material kedap air  yang dapat mencegah terjadinya longsor susulan.  Langkah tersebut perlu dilakukan untuk menghambat air hujan masuk ke retakan yang dapat memicu terjadinya bencana longsor susulan.

“Menutup retakan-retakan yang ada dengan material kedap air seperti terpal agar air tidak masuk ke dalam retakan,” terangnya, Kamis (21/3) saat bincang-bincang dengan wartawan di Fakultas Geologi FT UGM.

Memaparkan Kajian Geologi Gerakan Tanah dan Banjir di Kabupaten Bantul, Yogyakarta khususnya di kompleks Pemakaman Raja-Raja Yogyakarta, Imogiri, Wahyu menyampaikan gerakan tanah di kompleks pemakaman tersebut secara umum memiliki karakteristik tipe luncuran. Gerakan tanah ini merupakan longsor dengan bidang luncur yang berbentuk kurva melengkung.

Gerakan tanah di selatan pemakaman mengikuti alur sungai musiman sehingga berubah menjadi aliran debris. Longsor berdampak pada rumah warga dan akses jalan.

Retakan utama berada di sisi barat bangunan calon makam HB X dengan lebar sekitar 25 meter dan kedalaman kurang lebih 25 meter. Sementara retakan di pemakaman HB IX memiliki arah retakan N95°E (barat-timur) dengan arah pergerakan ke selatan. Panjang retakan sekitar 25 meter, penurunan tanah sekitar 30 cm dan lebar bukaan 10 cm.

Berikutnya, di utara bangunan calon makam HB X memiliki panjang sekitar 10 cm dengan arah pergerakan ke utara. Retakan lainnya memiliki panjang kurang lebih 25 meter dengan arah pergerakan relatif ke timur.

“Lokasi yang berpotensi runtuh ada di sisi pintu masuk bagian barat,” sebutnya.

Lebih lanjut Wahyu menyampaikan upaya mitigasi lainnya untuk mencegah longsor susulan adalah dengan membersihkan material yang tidak stabil di sekitar retakan, misalnya bongkahan batu. Selain itu, juga melakukan penataan sistem drainase agar aliran air tidak bergerak secara bebas di permukaan.

Tidak kalah pentingnya meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan warga mengenai bencana gerakan tanah. Menurutnya, masyarakat yang tinggal di kawasan rentan bencana longsor harus ramah terhadap lingkungan dengan melakukan pemantauan rutin kondisi tanah. Apabila terjadi hujan lebat, masyarakat diharapkan mengecek kondisi di atas lahan apakah terjadi retakan atau tidak.

“Jika ada retakan masyarakat diharapkan bisa segera melapor ke pihak berwajib dan  mengungsi ke tempat aman. Hanya saja masyarakat terkadang tidak aware, sudah tahu ada potensi longsor tapi tidak mengecek lingkungan sehingga memakan korban,” paparnya.

Sementara itu terkait banjir di Kali Celeng, Wahyu menjelaskan kejadian banjir disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya kondisi daerah aliran sungai (DAS) Kali Celeng memiliki elevasi antara 25-27 meter. Kelerengan di daerah aliran sungai Kali Celeng berkisar antar 0° hingga 14°. Ditambah DAS tersebut merupakan pertemuan beberapa sungai yang mengalir ke selatan sehingga saat intesitas hujan tinggi, aliran sungai tidak dapat mengakomodasi debit puncah sehingga terjadi banjir. Disamping itu, kondisi geologi pada dataran banjir berupa endapan dengan kondisi tidak terkonsolidasi. (Humas UGM/Ika; foto : Firsto)