Oleh: Ika

Teknologi Indonesia dinilai siap dalam menghadapi Covid-19. Hal tersebut mengemuka dalam seminar secara daring bertajuk Siapkah Teknologi Indonesia menghadapi Covid-19? yang diselenggarakan Dewan Guru Besar (DGB) UGM, Jumat (22/5).

Dalam seminar itu tiga narasumber utama yaitu Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof.Agung Endro Nugroho, Kepala Pusat Studi Bioteknologi UGM, Pro. Siti Subandiyah, dan Dosen FT UGM, Dr. Andhika Widyaparaga.

Agung Endro Nugroho menyebutkan bahwa teknologi Indonesia dianggap siap menghadapi Covid-19. Kendati begitu dengan beberapa catatan yang mesti diperhatikan.

Pertama, mempercepat hilirisasi produk yang dihasilkan oleh peneliti dari berbagai lembaga penelitian, universitas, maupun lainnya. Dia mencontohkan, UGM saat ini telah menghasilkan berbagai macam inovasi alat kesehatan, obat, herbal serta suplemen untuk mendukung penanganan Covid-19. Beberapa diantaranya berupa produk inovasi yang masih berbentuk prototipe. Lainnya berupa produk yang sudah diproduksi mandiri/digunakan secara luas, namun belum memiliki izin produksi/izin edar.

Terkait izin edar ini, dia menyampaikan bahwa Kemenkes telah melakukan upaya percepatan pemberian izin edar produk-produk dalam negeri untuk komoditi alkes dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) yang dibutuhkan melalui mekanisme One Day Service. Hal tersebut dilakukan  dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di tanah air.

Langkah selanjutnya agar teknologi Indonesia siap menghadapi Covid-19 adalah dengan mengoptimalkan peran unsur-unsur di perguruan tinggi baik pada tahap hulu maupun hilirisasi. Selain itu, memperkuat koneksi antar unsur-unsur tersebut.

“Berikutnya, memperkuat konsep penta heliks (pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta, dan media). Semua komponen harus memiliki semangat dan keselarasan dalam mengopimalkan inovasi-inovasi teknologi yang dihasilkan,” jelasnya.

Hal senada turut disampaikan oleh Andhika Widyaparaga. Menurutnya, kolaborasi dan kerja sama menjadi kata kunci penting yang akan mendukung keberhasilan pengembangan alkes di Indonesia.

“Saat situasi saat ini semua harus kerja sama. Harus ikhlas, tak perlu tampil kedepan dan dipuji orang karena yang penting itu upaya bersama membantu dalam mengatasi persoalan yang ada,”paparnya.

Seperti diketahui hingga saat ini sebanyak 90 persen alkes di Indonesia masih dipenuhi dari impor. Baru sebanyak 10 persen saja alkes yang diproduksi dalam negeri.

Dia mengatakan memiliki peluang besar dalam pengembangan alkes. Bahkan, industri alkes menjadi salah satu industri andalan dalam Bangun Industri Nasional Nasional berdasar RIPIN 2015-2035. Karenanya kedepan perlu ada program yang berkelanjutan.

“Jadi, mengapa harus mengembangkan industri alkes nasional? Selain permintaan alkes yang besar, ketersediaan infrastruktur dan SDM cukup memadai serta relatif murah,” sebutnya.

Sementara Siti Subandiyah menambahkan dalam penanganan Covid-19 ini perlu menghilangkan ego sektoral maupun individual. Sebab, hal ini menjadi saah satu hambatan tidak hanya dalam penanggulangan Covid-19, tetapi juga berbagai hal lainnya.

“Ego sektoral dan ego individual masih kental, termasuk dalam pengembangan riset bioteknologi,” erangnya.

Sementara itu, bioteknologi merupakan ilmu yang multidispliner sehingga perlu kerja sama di dalamnya. Tanpa adanya kerja sama maka perkembangan riset bioteknologi Indonesia akan terhambat.

Persoalan lain adalah minimnya fasilitas maupun sarana prasarana dalam riset bioteknologi. Selain itu, inovasi di bidang bioteknologi di tanah air masih sangat sedikit. Apabila peneliti tanah air tidak berinovasi dikhawatirkan akan semakin jauh tertinggal dari negara-negara lainnya.

“Namun, ada peluang dalam pengembangan riset bioteknologi di Indonesia yakni secara pengetahuan dan keterampilannya sudah siap,”terangnya.

Penulis: Ika
Foto: Firsto