Oleh: Satria

Fakultas Farmasi UGM menyelenggarakan minum jamu bersama di SMAN 3 Yogyakarta pada Kamis (10/10) sore. Kegiatan ini merupakan pre-event dari acara “Festival Jamu Internasional : Jamu Menjamu  yang akan diselenggarakan oleh Farmasi UGM juga pada 14-17 November 2019 nanti.

Kepala Sekolah SMAN 3 Yogyakarta, Maman Surakhman, menyambut baik upaya dari Farmasi UGM tersebut. Menurutnya, siswa sekarang walau kenal istilah jamu, tapi hanya sedikit yang pernah mencicipinya langsung. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi momen untuk menggairahkan jamu sebagai warisan asli Indonesia, termasuk kepada para remaja dan anak-anak sekolah.

Berkat acara ini, Maman berencana untuk memulai membudayakan minum jamu di SMAN 3 Yogyakarta. Beberapa upayanya seperti menambahkan jamu sebagai suguhan dalam kegiatan rapat ataupun workshop. Selain itu, ia menyebut bisa saja nanti menyediakan jamu di kantin sekolah agar para siswa juga bisa menikmatinya ketika jam istirahat.

Sementara itu, Dekan Farmasi UGM, Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D., menyatakan kegiatan minum jamu bersama sebagai pre-event ini telah diselenggarakan di beberapa sekolah selain SMAN 3 Yogakarta, yakni di SMA Kolese De Britto dan SMAN 2 Bantul. “Salah satu sasaran kami adalah para pelajar yang kini telah awam terhadap jamu. Maka dari itu, kami mendatangi beberapa SMA sebagai representasinya,” ujarnya.

Selain itu, Agung memaparkan Farmasi UGM juga akan mengadakan minum jamu bersama di Titik Nol Yogyakarta. Sasaran dalam acara tersebut adalah masyarakat umum. Ia menjelaskan bahwa setelah itu, Farmasi UGM juga rencananya akan mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) untuk minum jamu bersama para narapidana.

Agung menerangkan tujuan dari pemilihan sasaran dari tur pre-event tersebut sesuai dengan slogan yang diangkat, yaitu “Narkoba No, Jamu Yes”. Pemilihan slogan tersebut didasarkan atas kondisi pengguna narkoba yang kian hari semakin meningkat, termasuk di Yogyakarta.

Tujuan lain, sebut Agung, tentu berkaitan dengan jamu sebagai warisan bangsa Indonesia. “Jamu merupakan salah satu kearifan lokal dari DIY. Kami bekerja sama dengan keraton Yogyakarta, Kementrian Kesehatan, serta pegiat jamu, berupaya untuk mengangkat posisi jamu agar lebih familiar di mata masyarakat,” ujarnya.

Melalui Festival Jamu Internasional, Agung menyatakan keinginan Farmasi UGM untuk memperkenalkan jamu pula kepada dunia Internasional. Ia ingin agar ketika ada wisatawan asing datang ke Yogyakarta, mereka tidak hanya mencari tempat wisata atau kuliner yang umum, seperti gudeg atau bakpia. “Saya ingin mereka juga mencari jamu sebagai minuman yang menyehatkan dari Indonesia. Hal itu seperti ketika orang asing datang ke Korea Selatan mencari gingseng,” ungkapnya.

Hal lain diungkapkan Ahmad Saleh, S.Farm., APt., MPH., perwakilan dari Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) Kendari. Ia menyebut kegiatan semacam ini juga merupakan salah satu bentuk ketahanan nasional di bidang kesehatan.

Hal itu karena jamu merupakan minuman yang dibuat untuk menyehatkan tubuh. Dengan membudayakan konsumsinya pada masyarakat, dapat mengurangi konsumsi obat-obatan Impor. “Akhirnya, konsumsi jamu tadi akan menggantikan posisi obat impor tadi. Walaupun tidak semua dari obat tersebut dapat digantikan, tapi minimal bisa berkurang secara siginifikan,” pungkasnya.  (Humas UGM/Hakam)