Oleh: Ika

Sebanyak 39 mahasiswa Prodi S2 Ketahanan Nasional UGM melakukan kunjungan ke Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Kunjungan tersebut sebagai bagian dari kuliah lapangan yang ditujukan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan jiwa serta karakter kepemimpinan mahasiswa.

Dalam kunjungan yang dilakukan Jumat (22/11) lalu ini rombongan UGM yang dipimpin Ketua Prodi S2 Ketahanan Nasional, Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si., mengikuti kuliah tentang pengukuran sistem indeks ketahanan nasional dan simulasi kebijakan publik oleh  Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA., selaku Tenaga Profesional Lemhannas RI bidang Sumber Kekayaan Alam dan Ketahanan Nasional.

Shinta Dewi Novitasari, mahasiswa prodi S2 ketahanan nasional, menjelaskan pada kesempatan itu Dadan mengungkapkan bahwa konsep dasar ketahanan nasional merupakan upaya untuk menciptakan kondisi dinamis suatu bangsa. Sementara ketahanan nasional perlu diukur untuk mengetahui seberapa tinggi ketahanan nasional di Indonesia serta dapat digunakan sebagai pedoman dalam menjunjung nilai-nilai kebangsaan.

“Selain mendapatkan kuliah umum, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas) Lemhannas RI,”tuturnya dalam rilis yang diterima Kamis (5/12)

Dalam kesempatan tersebut turut didiskusikan tindak lanjut kerja sama yang telah terjalin antara UGM dengan Lemhanas dan berbagai peluang kerja sama lainnya. Adapun kerja sama yang telah terjalin selama ini meliputi program peningkatkan kualitas SDM melalui penyelenggaran program pascasarjana.

Selain mengunjungi Lemhannas rombongan dari Prodi S2 Ketahanan Nasional juga melakukan kunjungan ke Komando Daerah Militer Jaya/Jayakarta. Rombongan UGM diterima langsung oleh Panglima Kodam Jaya, Mayor Jenderal TNI Eko Margiyono, M.A, yang sekaligus memberikan kuliah umum dengan tema Integritas Generasi Muda dan Tantangan Satkowil di Kodam Jaya. Eko menyampaikan berbagai isu sosial yang berkembang di ibu kota beberapa waktu terakhir, salah satunya tentang radikalisme.

Dia mengatakan radikalisme yang berkembang saat ini cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuannya. Aliran radikalisme menganggap bahwa yang berbeda atau tidak sealiran dengan kelompoknya dianggap salah. (Humas UGM/Ika)