Oleh: Satria

Dewan Guru Besar UGM menyelenggarakan bincang-bincang dengan mengusung topik “Laboratorium dan Kesiapan Universitas Menghadapi Pandemi di Masa Depan” pada Jumat (15/5). Acara ini diselenggarakan secara daring melalui Webex.

Beberapa pembicara dihadirkan oleh DGB UGM untuk mengisi bincang-bincang ini. Mereka adalah dr. I Nyoman Kandun, MPH. (Mantan Dirjen Penyakit Menular RI), drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat),  Prof. Dr. dr. Hari Kusnanto (Guru Besar FKKMK UGM), dan Prof. Sofia Mubarika, M.Med., Sc.Ph.D. (Guru Besar FKKMK UGM). Sementara Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. (Direktur Penelitian UGM) turut hadir sebagai moderator.

Kandun memulai diskusi dengan memaparkan bahwa dalam sejarah dunia, pandemi sudah terjadi beberapa kali terjadi. Melihat pandemi bisa hadir kapan saja pada masa mendatang, WHO pada tahun 2005 menyusun International Health Regulation (IHR) yang disetujui oleh 194 negara melalui World Health Assembly ke-58.

Kandun menyebut  IHR ini bertujuan untuk mencegah, melindungi, dan mengendalikan penyakit lintas negara yang mengganggu lalu lintas dan perdagangan internasional. Penyakit yang dimaksudkan dalam IHR tersebut adalah penyakit menular serta penyakit tidak menular yang menyebabkan Public Health Emergency International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan yang meresahkan dunia.

“Adanya PHEIC ini mendorong agar negara-negara di dunia untuk bekerja sama mengatasi ancaman dengan terkoordinasi,” terangnya.

Kerja sama ini disebut sebagai Global Health Security Agenda (GHSA). GHSA terdiri dalam beberapa tindakan, dari pencegahan, pendeteksian, hingga tanggap darurat. Utamanya dalam pendeteksian, yang mencakup sistem laboratorium dan pengembangan tenaga kerja. Kandun menjelaskan pula diselenggarakannya pelatihan  Field Epidemiology Training Program (FETP).

“FETP ini telah dilaksanakan di Indonesia. Pemerintah mengajak beberapa lembaga, termasuk perguruan tinggi. Ada 5 perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam program pelatihan ini, yakni UI, UGM, Universitas Hasanudin, Universitas Airlangga, dan Universitas Udayana. Kerja sama itu  dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini,” terangnya.

Sementara itu, Ika Dewi Ana mengatakan UGM sejauh ini selalu berupaya untuk mendukung percepatan penanganan pandemi Covid-19. Mulai dari edukasi masyarakat, memberikan dukungan APD dan peralatan kesehatan, mengembangkan screening laboratory, dan melakukan penelitian terkait Covid-19 (baik vaksin, obat, maupun peralatan kesehatan).

“Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium World Mosquito Project di FKKMK UGM telah ditetapkan sebagai tempat rujukan pemeriksaan di area DIY dan Jawa Tengah. Setiap harinya laboratorium ini dapat melakukan 300 tes dengan kecepatan 2x24 jam. Kini juga Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM juga telah membangun laboratorium baru dengan standar BSL-3 dan Biobank untuk mempercepat proses pengujian. Hal ini setelah diberikannya bantuan dari BIN kepada UGM tempo lalu,” terangnya.

Ika juga menjelaskan bahwa kini ini UGM tengah melaksanakan rapid test di tiga daerah, yakni Jogja, Solo, dan Semarang. Kegiatan ini merupakan produk Gugus Tugas Riset dan Inovasi Teknologi BPPT. Selain UGM, dua perguruan tinggi lain yang tergabung dalam akronim GHA (Gadjah Mada, Hepatika/Universitas Mataram, dan  Airlangga) turut serta dalam kegiatan ini.

Hasil rapid test RI-GHA19 tadi akan dibandingkan dengan pool testing. Pembandingan ini akan dikaji lebih lanjut untuk kemudian hasil kajiannya dapat digunakan pemerintah sebagai pengembangan kebijakan untuk wabah, baik Covid-19 maupun lainnya di masa mendatang.

Prof. Hari Kusnanto mengapresiasi langkah-langkah dari UGM ini. Ia menilai aksi tersebut sudah tepat karena sumber daya UGM, utamanya laboratoriumnya tadi. “Kita sudah berada di jalan yang benar. Hal ini seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Berkat insiatif tes Covid-19 oleh Laboratorium Penyakit Menular Universitas Yale yang dipimpin Marie-Louise Landry, MD., mempercepat deteksi di sana,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Mubarika merasa optimis geliat penelitian selama pandemi ini. Ia menyebut Covid-19 ini telah memacu kebangkitan penelitian nasional. Hal itu karena penelitian-penelitian semasa ini dilakukan secara sinergis yang melibatkan semua komponen bangsa.

“Sinergi ini sangat bagus untuk perkembangan penelitian kita. Saling dukung antar institusi terjalin secara harmonis. Saya harap semangat semacam ini dapat terus dibudayakan. Dengan sinergi ini, saya harap vaksin segera ditemukan sehingga pandemi ini dapat lekas berlalu,” pungkasnya.


Penulis: Hakam
Foto: Firsto