Oleh: Gusti

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indonesia termasuk penghasil emisi besar global. Emisi ini membentuk fenomena asap yang sangat berbahaya bagi kesehatan, bahkan bisa memicu terjadinya perubahan iklim dan mengganggu kelancaran sarana tranportasi. Untuk menanggulangi gangguan penerbangan di tanah air akibat bencana asap kebakaran hutan, diperlukan  pembangunan model deteksi asap yang mendukung sistem navigasi udara penerbangan nasional.

Mahasiwa program studi Doktor Ilmu Geografi, Fakultas Geografi UGM, Heri Ismanto, S.Si., M.Si., melakukan riset kajian estimasi risiko keselamatan penerbangan dengan menggunakan data teknologi penginderaan jauh orbital Himawari-8. Menurutnya, pemanfataan teknologi penginderaan jauh diyakini mampu mendukung program navigasi udara yag terintegrasi dengan memanfaatkan data satelit. Ia menambahkan, data dari satelit orbital Himawari-8, digabung dengan data observasi meteorologi penerbangan dan kuantifikasi risiko dianalisis dengan menggunakan metode komposit RGB (day microphysics, day natural color dan aerosol), Classification Tree Analysis dan Backpropagation of neural network (BPNN). “Data tersebut digunakan untuk mengetahui karakteristik dampak asap terhadap transportasi udara,” kata Heri dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Geografi UGM, Senin (27/1).

Penelitan ini dilakukan untuk mengetahui dampak kebakaran hutan dan lahan di bandara dengan area penelitian pada 40 bandara yang pernah terpapar asap pada  tahun 2015 lalu. Seperti diketahui, ada 15 bandara mengalami penurunan jumlah operasi penerbangan dan lebih dari 75 persennya akibat tingkat jangkauan jarak pandang kurang dari 1.600 meter pada pagi dan malam hari.

Penelitian yang ia lakukan, asap dideteksi menggunakan data penginderaan jauh menggunakan metode visual dan otomatis. Metode visual menggunakan citra visibility baik dengan true color atau fals color. Selanjutnya, ia menggunakan CTA untuk megetahui diameter asap yang sangat kecil. Sementara untuk analisis visual keberadaan asap menggunakan kombinasi RGB aerosol, mikroskofis dan day natural color. “Ketiga RGB ini membantu identifikasi objek-objek asap, awan dan latar lainnya,” ujarnya.  

Meski baru tahap penelitian untuk pengembangan kajian deteksi asap untuk keselamatan penerbangan melalui kombinasi satelit penginderaan jauh dengan data aktual, namun ia  menyebutkan penggunaan wahana satelit orbital masih cukup prospektif digunakan  untuk pengembangan deteksi asap dan estimasi jarak pandang. “Deteksi asap pada penelitian ini baru divalidasi berdasarkan data permukaan daratan, adapun untuk deteksi asap dan visibilitas sekitar area perairan menunjukkan karakter berbeda,” kata Staf BMKG Pusat ini.

Kepala BMKG, Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, mengapresiasi hasil penelitian ini yang menurutnya sejalan dengan pengembangan teknologi deteksi titik panas atau geo-hotspot  yang dilakukan oleh BMKG sekarang ini. “BMKG sudah mengembangkan deteksi geo hotspot, dengan satelit Himawari kita selalu update setiap sepuluh menit,” kata Dwikorita yang bertindak sebagai penguji dalam ujian doktor tersebut.

Meski  pemodelan yang dikembangkan oleh Heri masih dalam tahap deteksi asap atau bukan, ia mengharapkan penelitian ini terus dikembangkan untuk analisisis risiko setelah yang bersangkutan kembali bekerja di BMKG. “Ini karya yang penting bagi BMKG karena sistem otomatisasi mempercepat memprediksi risiko yang ujungnya itu sistem peringatan dini, ” pungkasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)