BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi UGM Selenggarakan Workshop Intensif MGMP Biologi SMA Kabupaten Sleman

Fakultas Biologi UGM bermitra dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi SMA Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Workshop Intensif MGMP Biologi SMA: Pendalaman Materi Esensial, Strategi Penyampaian Topik Kompleks dan Praktikum Terintegrasi untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas (SDG 4)” melalui skema Hibah Pengadian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2025. Acara yang digelar di Auditorium Biologi Tropika Fakultas Biologi UGM pada hari Kamis, 16 April 2026 mulai pukul 13.00 WIB ini merupakan pembukaan dari rangkaian kegiatan yang akan berlangsung hingga bulan November 2026. Kegiatan dihadiri oleh 27 peserta dari 40 guru yang diundang (67,5%) yang merupakan perwakilan dari berbagai kapanewon se-Sleman. [metaslider id="57895"] Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan pendalaman materi esensial dan topik kompleks dalam mata pelajaran Biologi, terutama tema Genetika dan Fisiologi Manusia. Selain itu nantinya akan dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan praktik biologi sel dan molekuler serta teknik preparasi dan analisis sampel darah yang diintegrasikan dengan topik pendalaman materi/teori. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang menjadi narasumber dalam kegiatan workshop ini adalah: Prof. Dr. Niken Satuti Nur Handayani, M.Sc., Dr. Laksmindra Fitria, S.Si., M.Si., dan Indra Lesmana, S,Si., M.Sc. Tim juga melibatkan anggota dari komponen mahasiswa mulai dari Program Sarjana, Magister, hingga Doktoral, yang akan membantu dalam pelaksanaan praktikum, yaitu: Khilda Aquilatin Nada, Audrey Azalia Jovita, Elisabet Lintang Permata, Nafisa Qotrunnada Arif, Alifa Tafrinjiyah, Angeline Steffany Sirami, S,Si., dan Firdaus, S.Pd., M.Sc. Acara dibuka oleh Ketua Tim PkM Fakultas biologi UGM yaitu Prof. Niken, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua MGMP Biologi SMA Kabupaten Sleman yaitu Ibu Persita Pupung Hariadi, S.Pd., M.Pd. Acara dilanjutkan dengan pematerian oleh Prof. Niken tentang prinsip dasar genetika sel dan molekuler. Antusiasme peserta tercermin dari banyaknya pertanyaan yang diajukan sehingga membangun diskusi yang interaktif. Acara berikutnya adalah pembahasan terkait agenda kegiatan selanjutnya yang direncanakan akan diselenggarakan di sekolah secara bergiliran, Selain itu dibahas pula mengenai aktivitas pendampingan olimpiade, praktikum, penelitian, dan kegiatan lain untuk diterapkan oleh para guru kepada siswanya masing-masing sebagai bentuk tindak lanjut kolaborasi antara kedua belah pihak. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan workshop ini bagi Fakultas Biologi UGM sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah menjadi wadah diseminasi dan hilirisasi keilmuan yang memastikan perkembangan ilmu tidak hanya berhenti di laboratorium. Selain itu, kegiatan ini menunjukkan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Sustainable Development Goal yaitu mewujudkan kontribusi nyata terhadap pendidikan berkualitas (SDG 4) dengan meningkatkan kompetensi tenaga pendidik di garda terdepan. Dengan membekali guru metode pengajaran yang menekankan Critical Thinking dan Higher Order Thinking Skills (HOTS), Fakultas Biologi UGM secara tidak langsung mempersiapkan siswa SMA sebagai input calon mahasiswa yang memiliki fondasi sains dan semangat riset yang kuat. Di sisi lain, bagi pihak MGMP Biologi SMA Kabupaten Sleman, kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan nilai tambah yang signifikan bagi profesionalisme guru dan kualitas pembelajaran di kelas, melalui Pembaruan Kompetensi Konten (Content Knowledge). Guru mendapatkan pendalaman materi esensial (Fisiologi) dan topik kompleks (Dogma Sentral dan Ekspresi Gen) yang seringkali sulit dijelaskan karena keterbatasan referensi visual dan teknis di sekolah. Selain itu para guru memperoleh Peningkatan Keterampilan Teknis (Pedagogical Content Knowledge) melalui praktikum di laboratorium. Guru akan memperoleh pengalaman praktik secara langsung sehingga memberikan rasa percaya diri sebagai pengajar dan pendidik untuk membimbing para siswa dalam kegiatan praktikum serupa atau menjelaskan aplikasi klinis biologi secara lebih konkret.

Lanjut Baca

Revitalisasi Kejayaan Kerajinan Kulon Progo: Sinergi DPKM UGM dan Pemkab dalam Membangkitkan Sentra Bambu Kencana

  KULON PROGO – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal kembali menjadi fokus perhatian dalam upaya penguatan ekonomi kerakyatan. Pada Kamis, 16  April 2026, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) Universitas Gadjah Mada melakukan langkah strategis dengan mengunjungi Sentra Bambu Kencana yang terletak di Padukuhan Jangkang Kidul, Kalurahan Sintoro, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Kunjungan ini dilaksanakan bersama jajaran Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM, (Disperinkop UKM) Kabupaten Kulon Progo guna meninjau potensi serta tantangan yang dihadapi oleh salah satu ikon kerajinan bambu tertua di wilayah tersebut. Jejak Historis dan Produk Unggulan Sentra Bambu Kencana bukanlah nama baru dalam peta industri kreatif Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas usaha ini telah berdiri sejak tahun 1984 di bawah kepemimpinan Bapak Sumardi, yang kini berusia 75 tahun. Sejak awal berdirinya, sentra ini telah mengakar kuat di masyarakat dengan merangkul warga sekitar sebagai pengrajin, sehingga tercipta ekosistem ekonomi yang inklusif di Padukuhan Jangkang Kidul. Dukungan pemerintah pun telah mengalir sejak masa kepemimpinan Bupati Kulon Progo terdahulu yang memberikan respons positif terhadap inisiatif industri rumah tangga ini. Kepercayaan tersebut dibuktikan melalui kualitas produk yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Produk utama yang dihasilkan meliputi furnitur seperti meja dan kursi rumah tangga, serta berbagai produk pelengkap seperti tirai, kap lampu, dekorasi rumah, hingga peralatan makan berupa tusuk sate. Kualitas tinggi dan daya tarik estetika produk Sentra Bambu Kencana bahkan pernah menarik perhatian pejabat negara di tingkat pusat. Beberapa tokoh penting yang tercatat pernah mengunjungi sentra ini antara lain Menteri Perekonomian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Penerangan. Pencapaian ini semakin mempertegas posisi Sentra Bambu Kencana sebagai produsen kerajinan yang diakui secara nasional maupun internasional, dengan jangkauan pemasaran yang pernah menembus pasar Thailand melalui pihak ketiga. Tantangan Pascapandemi dan Kebutuhan Revitalisasi Meskipun sempat mengalami perkembangan pesat dan memperoleh hibah berupa gedung workshop produksi serta ruang display pada tahun 1991 (sebagai bentuk timbal balik atas hibah tanah pribadi seluas 1.500 m² dari Bapak Sumardi), kejayaan tersebut sempat meredup akibat pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas sosial memaksa operasional sentra berhenti total. Pada saat itu, aktivitas produksi belum pulih sepenuhnya dan masih bergantung pada sistem pesanan (by order). Fasilitas gedung yang luas serta peralatan modern bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK)—meliputi mesin pemotong, mesin bubut, hingga mesin laminasi, belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini mendorong perlunya intervensi melalui kebijakan revitalisasi yang menyeluruh. Melihat kondisi tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM, (Disperinkop UKM) Kabupaten Kulon Progo, Iffah Mufidanti, S.H., M.M., menekankan pentingnya langkah pemulihan yang sistematis. Ia menyampaikan bahwa diperlukan tindakan nyata agar komunitas pengrajin dapat kembali bergerak. "Perlu dilakukan revitalisasi Sentra Bambu Kencana agar dapat tumbuh, maju, dan mampu menyejahterakan masyarakat di sekitarnya," tegas Iffah. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan kawasan sentra industri harus bertumpu pada dua pilar utama, yaitu ketersediaan sumber daya alam (SDA) dan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Sinergi antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketersediaan bahan baku bambu yang melimpah tidak akan memberikan kesejahteraan jika tidak dikelola oleh SDM yang kompeten, demikian pula sebaliknya. Kolaborasi Strategis dengan DPKM UGM     Menjawab tantangan tersebut, DPKM UGM hadir sebagai mitra strategis dalam kerangka kolaborasi lintas sektor. Kerja sama ini dipandang sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan kompetensi SDM sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi yang telah tersedia di sentra tersebut. Mewakili DPKM UGM, Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si., menyatakan komitmen universitas dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui berbagai skema pengabdian. Menanggapi ajakan kerja sama dari pemerintah daerah, ia menyampaikan kesiapan institusinya untuk terlibat aktif. "DPKM UGM menyambut dengan sangat baik tawaran kolaborasi tersebut karena hal ini sejalan dengan mandat Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Dharma Pengabdian, yang mengharuskan kami memberikan kontribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya. Implementasi kolaborasi ini direncanakan melalui sejumlah program konkret yang dapat segera diakses masyarakat, seperti penerjunan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik, program pemberdayaan dan pendampingan UMKM secara intensif, serta pemberian hibah pengabdian masyarakat guna mendukung kemandirian Sentra Bambu Kencana.   Harapan ke Depan   Dengan dukungan fasilitas yang memadai—mulai dari gedung workshop hingga 12 unit peralatan produksi yang lengkap—kemitraan antara DPKM UGM dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat para pengrajin di Jangkang Kidul. Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga pada penguatan kembali mata rantai ekonomi yang sempat terputus. Dengan demikian, Sentra Bambu Kencana diharapkan dapat kembali menjadi primadona kerajinan bambu yang membanggakan bagi Kulon Progo, baik di tingkat nasional maupun global.   Penulis : Widodo dan Ayyub Rizqullah

Selengkapnya

DTETI UGM Gelar Sosialisasi dan Pelatihan PLTS bagi Warga Terban

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bagi warga binaan Desa Terban, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah KONEKSI bertajuk reNEWable Energy for Remote Island Sustainability and Economic LivElihoodS (NEWER-ISLES). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan dalam pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas, khususnya untuk mendukung keberlanjutan dan kemandirian energi di wilayah terpencil. Pelatihan dilaksanakan dalam beberapa sesi sejak Rabu (8/4) lalu hingga Sabtu (18/4), yang dibagi ke dalam enam kelompok warga. Nantinya, kegiatan khusus bersama Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak akan dijadwalkan pada Selasa (21/4) mendatang, bertempat di Ruang Sidang Laboratorium Teknik Tenaga Listrik (TTL) DTETI UGM. Materi pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan dasar energi terbarukan, penggunaan teknologi pembuat es berbasis energi surya, penyampaian materi melalui media visual dan video, serta praktik langsung pengoperasian alat. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman praktis dalam memanfaatkan teknologi energi terbarukan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen DTETI UGM dalam mendorong pemanfaatan energi bersih yang inklusif dan berbasis masyarakat. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat dapat mengembangkan keterampilan baru yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi sehari-hari, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. (RAS)

Selengkapnya

Kegiatan Perpustakaan Fakultas Biologi : Perkenalan Mahasiswa Volunteer baru 2026 dan Pengenalan Program Kerja Perpustakaan dalam Mewujudkan Ekosistem Pendidikan Berkualitas (SDG 4)

Selasa (6/4/2026) Perpustakaan Fakultas Biologi menyelenggarakan kegiatan first gathering serta pengenalan mahasiswa volunteer baru yang diikuti oleh seluruh SDM perpustakaan baik dari pustakawan maupun seluruh anggota mahasiswa volunteers. Kegiatan ini menjadi momentum ramah tamah pasca libur lebaran dan cuti bersama ASN 2026, selain itu juga kegitan ini untuk mempererat hubungan antara pengelola perpustakaan dengan para mahasiswa volunteers sahabat perpustakaan yang akan bersinergi dalam program kegiatan bersama dalam mewujudkan ekosistem pendidikan berkualitas di tahun akademik 2026/2027 ini. [metaslider id="57494"] Acara first gathering yang diadakan di ruang komputer perpustakaan ini diawali dipandu oleh MC-mhs volunteer Wahyu Febriani, S.Si. dengan gaya bicara penuh komunikatif dan bersemangat membuat suasana kegiatan ini semakin meriah dan berkesan mendalam bagi seluruh peserta. Kegiatan ini sebelumnya diisi dengan acara makan siang bersama untuk menciptakan ruang interaksi yang santai dan akrab antar peserta. Memasuki acara inti diawali dengan sambutan disampaikan oleh Bapak Drs. Ignatius Sudaryadi, M.Kes selaku penanggungjawab perpustakaan 2026. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran volunteer sebagai bagian penting dari pengembangan program kegiatan perpustakaan sejalan dengan visi misi fakultas. Kehadiran volunteer mampu mengisi celah-celah layanan yang belum optimal menjadi semakin sempurna dan bermakna baik layanan untuk internal maupun eksternal perpustakaan. Mahasiswa volunteers sahabat perputakaan ini telah memberikan energi baru, ide kreatif, serta membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada sivitas akademika utamanya untuk program kegiatan manajemen sitasi literasi, bedah buku karya dosen biologi, pengabdian masyarakat PkM), anjangsana/studi tiru, serta kegiatan lain dalam kerjasama dengan lembaga/institusi mitra Fakultas. Kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan profil Perpustakaan Biologi yang mencakup informasi mengenai kegiatan layanan, program kerjasama, serta perkenalan seluruh SDM kepada mahasiswa volunteer baru. Sesi ini tentunya juga memperkenalkan empat volunteer baru yakni Anis Fauzia, Desti Liani, Nur Azizah, dan Faqih Ainun Lubab. Proses perkenalan dipandu langsung oleh pembimbing Volunteer Perpustakaan Ibu Rusna, yang juga memberikan arahan serta motivasi kepada para volunteer agar dapat menjalankan tugas dengan penuh semangat dan dedikasi. Sesi lanjutan yakni para mahasiswa volunteer bersama-sama melakukan sesi diskusi singkat mengenai program kerja dan kegiatan yang akan berlangsung selama periode tahun ini.  Melalui kegiatan first gathering ini, diharapkan seluruh SDM perpustakaan dapat saling terhubung dan bersinergi layaknya ‘enzim’ yang mempercepat setiap proses dalam pelayanan dan pengembangan perpustakaan. Dengan semangat kebersamaan, kolaborasi, dan energi positif yang terbangun, perpustakaan diharapkan mampu terus berkembang, menghadirkan inovasi, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi sivitas akademika guna mewujudkan ekosistem pendidikan yang berkualitas di Fakultas Biologi UGM ini.”. Salam literasi ~  

Selengkapnya

Menerjang ‘Ombak’ Ketimpangan Pelayanan Kesehatan di Bumi Sumekar

Di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep yang meliputi ratusan kepulauan kecil, terdapat paradoks layanan kesehatan, terlebih pelayanan kesehatan gigi. Secara administratif bagian dari Propinsi Jawa Timur, namun secara realitas geografis dan akses layanan, menyerupai wilayah terpencil wilayah Indonesia timur. Dengan 126 pulau yang sebagian besarberpenghuni dan tersebar berjauhan, tantangan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumenep bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga tentang tekad & keberanian menembus deburan ombak menuju layanan kesehatan masyarakat yang memadai. Bentang Alam Menguji Integritas Bangsa Perjalanan menuju salah satu wilayah terluar seperti Masalembu bisa memakan waktu hingga 18 jam perjalanan laut. Bahkan dari pusat kabupaten ke rumah sakit di Pulau Kangayan, masih dibutuhkan waktu tambahan berjam-jam, baik melalui laut maupun udara yang terbatas frekuensinya.  Kondisi ini menciptakan realitas keras, akses terhadap layanan kesehatan bukan hanya soal biaya, tetapi soal jarak, cuaca, dan ketersediaan transportasi. Rabu, 1 April 2026 FKG UGM menerima kunjungan kemitraan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep yang diawaki oleh: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep drg. Ellya Fardasah, M.Kes. Moh Nur Insan, S.Kep., M.Kes (Kepala Bidang-Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) Deddi Wahyono, S.Kep.Ners (Analisis Penanggulangan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep),  Syarifa Ainun, S.K.M. (Pengelola Program dan Kegiatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) drg. Azmi Fauzan Nurwansyah (Dokter Gigi Puskesmas Pasongsongan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) diterima oleh Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Pengabdian Masyarakat, & Riset, drg. Triana Wahyu Utami, MDSc, Ph.D) Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes. Wakil Dekan Bidang SDM, Keuangan, Aset. IT drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, Kepala Unit Kerja Sama FKG UGM drg. Raras Ajeng Enggardipta, Sp.KG, PhD. Kepala Departemen Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.B.M.M., Subsp. C.O.M.(K). Kaprodi Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) beserta staf FKG UGM berlangsung dengan penuh antusias terkait ketimpangan kondisi khususnya pelayanan kesehatan gigi yang masih jauh dari harapan. Dalam situasi darurat, keterlambatan rujukan bukan pengecualian, melainkan risiko sistemik. Ketika gelombang tinggi menghambat kapal, bahkan suplai oksigen pun terancam terhenti, sebuah ironi di tengah komitmen Universal Health Coverage (UHC) yang telah dicanangkan pemerintah daerah. Krisis yang Lebih Dalam: Kelangkaan Dokter Spesialis Masalah utama bukan hanya infrastruktur, tetapi kekurangan akut tenaga medis spesialis, khususnya di bidang kedokteran gigi spesialistik seperti bedah mulut. Rumah Sakit Abuya yang melayani sekitar 100 ribu penduduk kepulauan tidak terdapat satu pun dokter gigi spesialis. Bahkan di wilayah daratan Sumenep, jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya, pasien dengan kasus kompleks harus dirujuk ke kota lain seperti Surabaya sebuah proses yang mahal, lama, dan berisiko tinggi. Padahal, secara kebijakan, layanan sudah “gratis” melalui BPJS. Namun dalam praktiknya, ketiadaan tenaga spesialis membuat jaminan kesehatan kehilangan makna substansinya. Ketika Regulasi Tidak Membaca Realitas Ironi semakin dalam ketika kebijakan pusat tidak sepenuhnya sinkron dengan kondisi daerah. Sumenep, meski memiliki karakteristik kepulauan ekstrem, tidak dikategorikan sebagai daerah terpencil secara administratif, sehingga tidak memenuhi syarat penempatan residen dokter. Akibatnya, skema distribusi tenaga medis berbasis pendidikan yang seharusnya menjadi solusi tidak dapat dimanfaatkan. Ini menunjukkan satu hal krusial: standar nasional sering kali gagal menangkap kompleksitas lokal, sehingga kebijakan menjadi kaku dan tidak adaptif. Strategi Bertahan: Dari Beasiswa hingga “Kontrak Moral” Menghadapi kebuntuan struktural, pemerintah daerah memilih jalur alternatif: Mengirim dokter untuk sekolah spesialis melalui beasiswa. Memberikan insentif tinggi (hingga puluhan juta rupiah) bagi tenaga medis yang bersedia bertugas di kepulauan. Merancang skema pendidikan bagi putra daerah dengan harapan mereka akan kembali mengabdi. Namun strategi ini tidak tanpa risiko. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua dokter yang disekolahkan kembali ke daerah asal, meskipun telah menandatangani komitmen. Fenomena ini membuka dilema etis sekaligus struktural:Apakah cukup dengan kontrak formal untuk menjamin distribusi tenaga kesehatan?Ataukah diperlukan pendekatan yang lebih sistemik—mengikat secara sosial, ekonomi, dan profesional? Meretas Harapan Sinergitas Kampus dan Pemerintah Daerah Kerja sama dengan institusi pendidikan seperti UGM menjadi titik terang. Tidak hanya dalam bentuk pendidikan dokter spesialis, tetapi juga potensi: Pengiriman tenaga medis berbasis supervisi, program pengabdian Masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan model kolaborasi resiprokal di mana daerah tidak hanya menjadi “objek”, tetapi juga mitra aktif dalam sistem pendidikan kesehatan. Dimensi Sosial: Ketika Sakit adalah Urusan Kolektif Di tengah segala keterbatasan, masyarakat Sumenep memiliki kekuatan sosial yang unik. Dalam budaya lokal, ketika satu orang sakit, seluruh komunitas ikut terlibat, sebuah solidaritas yang menjadi penyangga di tengah lemahnya sistem formal. Namun solidaritas sosial tidak bisa menggantikan peran negara. Negara Harus Hadir Secara Nyata Kasus Sumenep mengungkap problem klasik pembangunan Indonesia, ketimpangan bukan hanya antar wilayah, tetapi juga antara kebijakan dan kenyataan. Beberapa poin kritis yang perlu dicermati: Reklasifikasi daerah terpencil harus berbasis realitas geografis, bukan administratif semata. Distribusi tenaga kesehatan perlu pendekatan insentif + kewajiban yang lebih kuat dan terukur . Desentralisasi kebijakan kesehatan harus memberi ruang adaptasi bagi daerah kepulauan . Investasi jangka panjang pada SDM lokal menjadi solusi paling berkelanjutan. Apakah keadilan kesehatan di Indonesia benar-benar merata? Sumenep bukan sekadar cerita tentang daerah pinggiran, hal ini adalah cermin dari pertanyaan besar. Di tengah gelombang laut dan keterbatasan akses, perjuangan tenaga kesehatan dan pemerintah daerah menjadi bukti bahwa harapan tetap ada. Namun tanpa reformasi kebijakan yang lebih adaptif dan berpihak, perjuangan itu akan terus berjalan di tempat. Dan bagi masyarakat di pulau-pulau kecil itu, waktu bukan sekadar angkamelainkan penentu antara hidup dan kehilangan. (Reporter & Fotografi: Andri Wicaksono)