BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Inovasi Sistem Rumah Pintar Berbasis Photovoltaic, IoT, dan Artificial Intelligence dalam Mendukung Pencapaian SDG 7 dan SDG 9

Upaya akselerasi transisi energi terbarukan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan terus didorong melalui kolaborasi strategis antara institusi pendidikan tinggi dan sektor industri. Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan prototipe Smart-Home Kit berdaya mandiri berbasis teknologi Photovoltaic (PV) yang terintegrasi dengan pemantauan real-time berbasis Internet of Things (IoT) serta analisis data berorientasi Machine Learning. Riset yang dipimpin oleh Dr. Ir. Atikah Surriani, S.T., M.Eng, SMIEEE dan Tim yang terdiri dari Dr. Ir. Fahmizal, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., SMIEEE, Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE, Adlan Bagus Pradana, S.T., M.Sc., Ph.D., Ir. Ma’un Budiyanto, S.T., M.T., IPU dan Ir. Ahmad Adhiim Muthahhari, S.T., M.Eng., IPM., ini berfokus pada efisiensi konsumsi energi skala domestik guna mendukung target Sustainable Development Goals (SDG), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Arsitektur Teknis dan Mekanisme Kerja Prototipe Prototipe yang dikembangkan menggunakan simulasi maket rumah tinggal berkonstruksi atap miring untuk mengoptimalkan sudut tangkap (tilt angle) terhadap radiasi sinar matahari. Sistem daya utama bertumpu pada panel surya polikristalin bertegangan nominal 5 Volt. Energi listrik hasil konversi dialirkan melalui modul pengisi daya (solar charger controller) menuju unit penyimpanan energi. Arsitektur elektronik sistem mengintegrasikan mikrokontroler ESP32 sebagai unit pemroses pusat dan pengirim data. Mikrokontroler ini terhubung dengan modul relai empat kanal yang bertindak sebagai sakelar elektronik untuk mendistribusikan daya ke beban domestic rumah tangga. Guna menjamin akurasi pemantauan parameter listrik, instrumen berupa modul sensor arus dan tegangan INA219 ditempatkan pada dua titik krusial: lini keluaran panel surya dan lini baterai. Data arus, tegangan, serta daya listrik yang terekam dikirimkan secara nirkabel melalui protokol komunikasi data menuju dasbor IoT berbasis web. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem memiliki sensitivitas tinggi dalam merekam fluktuasi daya secara dinamis sesuai pergeseran intensitas radiasi matahari harian. Integrasi Artificial Intelligence untuk Prediksi Energi Selain berfungsi sebagai penyedia daya mandiri (self-powered system), inovasi ini menonjolkan pemanfaatan data lingkungan (environmental telemetry). Parameter suhu, kelembapan udara, dan tingkat intensitas cahaya yang dikumpulkan oleh sistem dimanfaatkan sebagai set data latih (training dataset) bagi algoritma Machine Learning. Model kecerdasan buatan tersebut dilatih untuk melakukan estimasi dan prediksi produksi energi harian secara presisi. Kapabilitas prediktif ini penting dalam manajemen beban listrik (demand-side management), sehingga efisiensi energi pada hunian dapat dioptimalkan secara otomatis berdasarkan estimasi pasokan daya yang tersedia. Analisis Komparatif Teknologi Photovoltaic Penerapan panel jenis polikristalin pada prototipe Smart-home Kit mencerminkan pertimbangan teknis dan ekonomis dalam implementasi teknologi PV. Dalam lanskap material semikonduktor, teknologi konversi fotolistrik terbagi dalam beberapa karakteristik utama: Polycrystalline Silicon (Poly-Si): Diproduksi dari leburan beberapa kristal silikon. Memiliki ciri visual berwarna biru dengan tingkat efisiensi rata-rata 13% hingga 17%. Karakteristik fabrikasinya menjadikan varian ini berbiaya lebih rendah, sehingga ideal untuk aplikasi skala prototipe dan domestik berbiaya terjangkau. Monocrystalline Silicon (Mono-Si): Berbahan dasar kristal silikon tunggal bers purity tinggi dengan tampilan warna hitam gelap. Varian ini menawarkan efisiensi tertinggi (melebihi 20%), ketahanan terhadap suhu tinggi, dan usia pakai (lifespan) hingga 25 tahun, sangat direkomendasikan untuk instalasi dengan keterbatasan luas area atap. Thin Film Solar Cell: Terbuat dari lapisan tipis material semikonduktor seperti silikon amorf, CdTe, atau CIGS pada substrat fleksibel. Memiliki keunggulan dalam bobot yang ringan dan fleksibilitas bentuk, meskipun dengan efisiensi konversi yang lebih rendah, yaitu sekitar 8% hingga 11%. Compound Thin Film Triple Junction: Merupakan struktur multi-lapisan (multi-junction) berteknologi tinggi yang mampu mencapai efisiensi konversi ekstrem hingga 45%. Mengingat kompleksitas dan biaya produksinya, penerapan material ini dikhususkan untuk aplikasi keantariksaan dan satelit. Sinergi antara pemahaman karakteristik material photovoltaic dan penerapan sistem kendali cerdas berbasis IoT/AI ini menegaskan kontribusi sektor akademis dan industri nasional dalam menciptakan solusi energi terbarukan yang terukur, efisien, dan siap diimplementasikan secara luas. Referensi: Green, M. A., Dunlop, E. D., Hohl-Ebinger, J., Yoshita, M., Kopidakis, N., & Hao, X. (2023). Solar cell efficiency tables (Version 61). Progress in Photovoltaics: Research and Applications, 31(1), 3-16 Saga, T. (2010). Advances in crystalline silicon solar cell technology for industrial mass production. NPG Asia Materials, 2(3), 96-102. Luque, A., & Hegedus, S. (Eds.). (2011). Handbook of Photovoltaic Science and Engineering (2nd ed.). John Wiley & Sons

Lanjut Baca

GAMA Rain Filter Turunkan Pengeluaran Air Rumah Tangga di Gunungkidul, Temuan Riset UGM Ungkap Manfaat Ekonominya

Pemanfaatan air hujan melalui teknologi GAMA Rain Filter berpotensi membantu rumah tangga mengurangi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian di Kalurahan Pacarejo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menemukan bahwa pengeluaran air rumah tangga penerima Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) berbasis GAMA Rain Filter mengalami penurunan lebih besar dibandingkan kelompok pembanding. Penelitian berjudul “Dampak Sosial Ekonomi GAMA Rain Filter di Kalurahan Pacarejo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta” dilakukan oleh Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si., Ega Bashiela Hartono, S.E., M.Ec.Dev., dan Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. Kajian ini berlokasi di Padukuhan Banyumanik dan Padukuhan Piyuyon, Kapanewon Semanu, wilayah yang menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan air akibat kondisi geografisnya.   GAMA Rain Filter merupakan teknologi pemanenan air hujan yang menggunakan mekanisme first flush untuk membuang aliran awal air hujan dan penyaringan bertahap. Teknologi ini diterapkan sebagai alternatif sumber air bagi masyarakat. Dalam menilai manfaat ekonominya, tim peneliti mengkaji 72 rumah tangga dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penerapan program. Analisis dilakukan menggunakan metode Difference-in-Differences (DiD) untuk membandingkan perubahan pengeluaran air antara rumah tangga penerima dan kelompok pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran air rumah tangga penerima program turun dari Rp243.088 menjadi Rp60.500 per bulan. Sebagai pembanding, pengeluaran kelompok nonpenerima juga menurun, dari Rp160.263 menjadi Rp119.947 per bulan. Setelah memperhitungkan perbedaan perubahan pada kedua kelompok, analisis menunjukkan penurunan pengeluaran sekitar Rp140.855 per bulan lebih besar pada kelompok penerima. Hasil pengujian dengan pendekatan lain juga menunjukkan pola serupa, memperkuat indikasi bahwa pengurangan beban biaya air merupakan manfaat ekonomi yang paling konsisten teridentifikasi dalam penelitian ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan air hujan berpotensi memberikan manfaat lebih dari sekadar menyediakan sumber air alternatif. Pengeluaran air yang lebih rendah dapat memberi ruang bagi rumah tangga untuk mengalokasikan anggaran pada kebutuhan lainnya. Meski demikian, besarnya manfaat yang dirasakan setiap keluarga dapat berbeda, bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing rumah tangga. Penelitian ini sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya upaya mendukung akses air dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Kajian ini juga relevan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dalam konteks kesejahteraan rumah tangga, meskipun penelitian tidak secara langsung mengukur perubahan kondisi kesehatan masyarakat. Ke depan, pengembangan program pemanenan air hujan perlu disertai pemeliharaan instalasi dan evaluasi berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pengumpulan data sejak sebelum program diterapkan juga penting untuk memperkuat penilaian dampaknya. Pengalaman di Kalurahan Pacarejo dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan solusi pengelolaan air yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses air. Referensi: Castier, M., & de Barros Barreto, P. (2023). Economic attractiveness of domestic rainwater harvesting in Brazilian cities. Discover Water, 3, Article 9. https://doi.org/10.1007/s43832-023-00033-1 Dallman, S., Chaudhry, A. M., Muleta, M. K., & Lee, J. (2021). Is rainwater harvesting worthwhile? A benefit–cost analysis. Journal of Water Resources Planning and Management, 147(4). https://doi.org/10.1061/(ASCE)WR.1943-5452.0001361 Islam, M. R. (2023). Factors influencing economic benefit of rainwater harvesting: An empirical analysis. AQUA—Water Infrastructure, Ecosystems and Society, 72(1), 32–48. https://doi.org/10.2166/aqua.2022.040 Maryono, A., Nuranto, S., Sembada, P. T. S., & Petrus, H. T. B. M. (2022). GAMA-RainFilter: A modified rainwater harvesting technique to meet the demand of clean water in Indonesia. International Journal of Hydrology Science and Technology, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.1504/IJHST.2022.11927   [Red. Dra. Ike Yuli Andjani., M.Si]

Selengkapnya

Mahasiswa Teknologi Veteriner UGM Terlibat dalam Kegiatan Pemberian Obat Cacing dan Vitamin pada Ternak di Bantul

Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Veteriner (Tekvet), Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner (DTHV), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), terlibat dalam kegiatan pemberian obat cacing dan vitamin pada ternak milik Kelompok Ternak Satwa Mulya di Paten, Sumberagung, Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilaksanakan Minggu, 25 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pemeliharaan kesehatan ternak sekaligus memperkuat penerapan praktik kesehatan hewan di tingkat peternak. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian program pengabdian kepada masyarakat (pengmas) berjudul “Peningkatan Kemandirian Pakan melalui Penerapan Bio-Amoniasi Berbasis Limbah Pertanian di Kelompok Ternak Satwa Mulya”. Program ini didanai melalui skema BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026, dengan tim pengusul yang melibatkan dosen Fakultas Peternakan UGM serta dosen Program Studi Teknologi Veteriner, DTHV SV UGM, yaitu drh. Fatkhanuddin Aziz, M.Biotech., Ph.D. Pemberian obat cacing dan vitamin merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan serta mendukung kondisi tubuh ternak. Pelaksanaan kegiatan di kelompok ternak juga menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman peternak mengenai pentingnya perhatian terhadap kesehatan hewan sebagai salah satu aspek yang mendukung keberhasilan usaha peternakan. Kegiatan ini melengkapi fokus utama program pengabdian, yaitu peningkatan kemandirian pakan melalui pemanfaatan limbah pertanian dengan teknologi bio-amoniasi. Bagi mahasiswa Tekvet, keterlibatan secara langsung dalam kegiatan di lapangan menjadi sarana pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan sebagai calon paramedik veteriner. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal pelaksanaan kegiatan kesehatan hewan di lingkungan peternakan serta memahami pentingnya penerapan pengetahuan dan keterampilan teknis secara tepat sesuai arahan tim pendamping. Pengalaman ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan mahasiswa dalam mendukung pelayanan kesehatan hewan dan pemberdayaan masyarakat peternak. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui dukungan terhadap keberlanjutan usaha peternakan masyarakat; SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui upaya mendukung kesehatan ternak dan ketahanan pangan; SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) m  elalui pembelajaran berbasis pengalaman lapangan bagi mahasiswa; serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kapasitas peternak dan pengembangan usaha peternakan yang produktif. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok ternak ini juga mencerminkan kontribusi pendidikan vokasi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat. Penulis:  drh. Fatkhanuddin Aziz, M.Biotech

Selengkapnya

FMIPA UGM Salurkan 10 Tangki Air Bersih untuk Bantu Warga Kamal Hadapi Kekeringan

Pengabdian Laboratorium Kimia Organik menghubungkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga dengan penguatan pengetahuan pertanian di Gunungkidul. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyalurkan bantuan 10 tangki air bersih bagi warga Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 500 jiwa yang menghadapi keterbatasan pasokan air pada musim kemarau. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Melalui kegiatan ini, dosen dan tenaga kependidikan merespons kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan warga di wilayah pendampingan. Membantu Memenuhi Kebutuhan Dasar Warga Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memengaruhi berbagai kegiatan rumah tangga. Bagi warga yang mengalami keterbatasan sumber air selama kemarau, tambahan pasokan diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Dr. Yehezkiel Steven K., M.Eng., dan Dr. Sugeng Triono, M.Si., yang mewakili tim dosen dan tenaga kependidikan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Kegiatan tersebut menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian perguruan tinggi. Kehadiran tim di tengah warga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa kebutuhan masyarakat perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan bentuk kontribusi kampus. Bantuan air bersih ini merupakan respons terhadap kebutuhan saat ini. Keberlanjutan akses air tetap menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama, sehingga manfaat bantuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau. Pengabdian yang Menjangkau Air Bersih dan Pertanian Pada hari yang sama, tim Laboratorium Kimia Organik juga menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung. Kegiatan tersebut memberikan pembekalan bagi petani dan pekebun dari Wunung, Duwet, dan Mulo untuk mengenali gangguan tanaman serta memahami langkah pengendalian yang sesuai. Kedua kegiatan menjangkau kebutuhan masyarakat yang saling berkaitan. Pasokan air membantu kebutuhan dasar rumah tangga, sementara pembelajaran pertanian diharapkan memperkuat kemampuan warga dalam menjaga tanaman dan mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dalam rangkaian pengabdian ini, FMIPA UGM menghubungkan kepedulian sosial dengan pemanfaatan kepakaran. Bantuan air diberikan sesuai kebutuhan warga, sedangkan pengetahuan ilmiah dihadirkan melalui pembekalan teknis pertanian yang relevan dengan kondisi setempat. Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Penyaluran bantuan air bersih sejalan dengan SDGs Poin 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya aspek akses terhadap air bersih. Kontribusi kegiatan ini terletak pada penyediaan tambahan pasokan bagi warga yang membutuhkan, tanpa menyamakan bantuan sementara dengan penyelesaian menyeluruh persoalan akses air. Sementara itu, bimbingan teknis pertanian mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas pangan. Materi pengelolaan gangguan tanaman secara berkelanjutan juga berkaitan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan. Memperkuat Budaya Akademik yang Peduli Keterlibatan dosen dan tenaga kependidikan memperlihatkan bahwa kontribusi kampus dapat hadir melalui kepakaran maupun tindakan sosial. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat keberlanjutan peran almamater di masyarakat. Bagi calon mahasiswa, pengabdian tersebut menunjukkan kesempatan untuk belajar memahami persoalan kehidupan melalui keterlibatan langsung. Ke depan, hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat dapat menjadi landasan pengembangan kolaborasi bersama mitra. Dengan mendengarkan kebutuhan warga dan mengevaluasi manfaat kegiatan, FMIPA UGM dapat terus memperluas kontribusi pengabdian yang relevan, terarah, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan global dari tingkat lokal. Penulis : Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Foto : Yehezkiel Steven Kurniawan Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG 15: Ekosistem Daratan

Selengkapnya

Sains Menjawab Tantangan Pertanian, FMIPA UGM Perkuat Kapasitas Petani Gunungkidul

Laboratorium Kimia Organik mempertemukan kepakaran lintas lembaga untuk mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan melalui program desa binaan. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Melalui pemaparan ahli lintas lembaga, kegiatan ini membekali petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo dengan pengetahuan untuk mengenali gangguan tanaman serta menentukan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan. Diketuai oleh Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran akademik untuk membantu menjaga produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani. Membawa Pengetahuan Ilmiah ke Persoalan Sehari-hari Bagi masyarakat Wunung, Duwet, dan Mulo, pertanian dan perkebunan merupakan sumber penghidupan penting. Padi, kacang tanah, jagung, cabai, bawang merah, alpukat, dan mangga menjadi bagian dari potensi setempat. Namun, serangan hama dan penyakit dapat mengurangi hasil panen sekaligus menekan pendapatan keluarga. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit, pemahaman gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Pengetahuan ini diharapkan membantu petani melakukan deteksi dini dan memilih tindakan berdasarkan penyebab gangguan. Prinsipnya sederhana: mengenali masalah dengan tepat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Melalui pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu, petani didorong mempertimbangkan kondisi pertanaman dan keberlanjutan lingkungan dalam mengambil keputusan. Menghubungkan Perlindungan Tanaman dan Konservasi Selain hama dan penyakit tanaman, masyarakat menghadapi gangguan monyet pada lahan pertanian dan perkebunan. Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian, keselamatan warga, dan konservasi satwa liar. Edi Warsito dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul memberikan informasi mengenai persoalan tersebut beserta kendala penanganannya. Pemaparan ini memperlihatkan pentingnya koordinasi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang dalam menyusun langkah yang terarah. Kehadiran narasumber dari UGM, BRIN, dan BKSDA menunjukkan pendekatan lintas keahlian yang dibutuhkan untuk memahami persoalan pertanian secara menyeluruh. FMIPA UGM mengambil peran sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan kewenangan lembaga terkait. Kontribusi Nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Kegiatan ini mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan, terutama melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kemampuan mengenali gangguan tanaman sejak dini diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dukungan terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui akses pembelajaran bagi masyarakat di luar ruang kuliah. Kepakaran perguruan tinggi dan lembaga penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan praktis yang relevan dengan pekerjaan petani. Pembahasan gangguan satwa liar juga sejalan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan, dengan menempatkan perlindungan tanaman dalam pertimbangan konservasi. Sementara itu, keterlibatan berbagai lembaga dan masyarakat mencerminkan SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kontribusi tersebut merupakan arah yang didukung program; dampak jangka panjangnya memerlukan penerapan dan evaluasi berkelanjutan.   Menumbuhkan Kemitraan, Memperluas Manfaat Sains Kepala Laboratorium Kimia Organik, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian tahunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lurah Wunung, Sudarto, berharap pengetahuan yang dibagikan dapat membantu petani dan pekebun mengatasi persoalan di lapangan. Pelaksanaan program didukung seluruh dosen dan karyawan Laboratorium Kimia Organik. Kerja bersama ini memperlihatkan peran sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam menghadirkan manfaat perguruan tinggi di tengah masyarakat. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi alasan untuk terus bangga dan terlibat dalam kontribusi almamater. Bagi calon mahasiswa, program tersebut memperlihatkan bahwa belajar sains membuka kesempatan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata. Bagi mitra, kegiatan ini memperlihatkan ruang kolaborasi berbasis kepakaran dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kesinambungan pendampingan dan evaluasi penerapan pengetahuan menjadi langkah penting agar manfaat program semakin kuat. Dari desa binaan, FMIPA UGM meneguhkan kontribusi lokal menuju tujuan pembangunan global: pertanian yang tangguh, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang semakin berdaya. Penulis: Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Fotografer: Robby Noor Cahyono Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Selengkapnya

VKTR dan DTM SV UGM Jajaki Co-Lab Bengkel Perawatan Kendaraan Listrik untuk Pembelajaran Mahasiswa

YOGYAKARTA – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyatakan antusiasmenya untuk membuka kolaborasi dengan Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (DTM SV UGM) dalam membangun laboratorium kolaborasi (co-lab) berupa bengkel perawatan (maintenance workshop) kendaraan listrik di DTM SV UGM. Gagasan ini mengemuka dalam kunjungan VKTR ke DTM SV UGM pada Selasa, 20 Oktober 2026. VKTR diwakili oleh Y. Leonardi, Deputy Vice President, Aftersales & Account Management, dan M. Nurkhozin, Manager, Aftersales & Warranty. Fasilitas ini ditujukan sebagai sarana belajar bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Sarjana Terapan Teknik Pengelolaan dan Perawatan Alat Berat (TPPAB), untuk mempelajari perawatan unit-unit VKTR secara langsung. Calon lokasinya berada di area Laboratorium Perawatan Mesin Industri (Alat Berat) DTM SV UGM, di kompleks Fakultas Teknik UGM, Jalan Grafika, Yogyakarta. Rencana co-lab ini akan dibahas lebih lanjut oleh kedua pihak. Mengapa co-lab bengkel perawatan? Seiring bertambahnya armada bus, truk, dan alat berat listrik VKTR, kebutuhan akan teknisi dan rekayasawan perawatan yang memahami sistem kendaraan listrik juga meningkat. Dengan co-lab bengkel perawatan di DTM SV UGM, mahasiswa dapat berlatih pada unit dan komponen nyata, mulai dari inspeksi berkala, diagnosis sistem kelistrikan dan tegangan tinggi (high-voltage/HV), hingga perawatan sistem rem, suspensi, dan penggerak. Pembelajaran itu berlangsung di bawah standar keselamatan dan prosedur VKTR. Fasilitas ini juga relevan dengan armada yang sudah ada di UGM. Pada Mei 2024, Kementerian Investasi/BKPM menghibahkan tiga unit bus listrik produksi VKTR kepada UGM untuk mendukung mobilitas sivitas akademika dan program kampus hijau. Dalam kunjungan ini, tim VKTR bersama DTM SV UGM meninjau langsung bus listrik VKTR milik UGM beserta stasiun pengisian dayanya. Ke depan, co-lab di DTM SV UGM berpotensi mendukung perawatan unit-unit tersebut sekaligus menjadikannya media belajar mahasiswa. Apa saja yang akan dibahas lebih lanjut? Lingkup co-lab yang akan dijajaki bersama meliputi: Area perawatan kendaraan listrik untuk praktik inspeksi, diagnosis, dan perbaikan unit VKTR. Area pelatihan keselamatan tegangan tinggi (HV safety) bagi mahasiswa, teknisi VKTR, dan guru SMK. Pembelajaran berbasis unit nyata yang terintegrasi dengan Kurikulum 2026 (K26) TPPAB, termasuk magang, capstone project, dan sertifikasi kompetensi. Solution engineering untuk model perawatan dan remanufacturing komponen di bagian purnajual VKTR. Rencana ini sejalan dengan Peta Jalan Keunggulan TPPAB, yang menargetkan hadirnya laboratorium kerja sama industri pada periode 2025–2030. “Kami menyambut baik gagasan co-lab bengkel perawatan di DTM SV UGM. Fasilitas ini dapat menjadi tempat mahasiswa belajar langsung merawat unit-unit VKTR,” ujar Y. Leonardi. Melengkapi langkah DTMI FT UGM Inisiatif ini sejalan dengan penjajakan kolaborasi yang lebih dahulu dilakukan Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM (DTMI FT UGM) dengan PT VKTR Sakti Industries di Magelang pada Juli 2026. Kedua departemen mengambil peran yang saling melengkapi: DTMI FT UGM berfokus pada riset dan pengembangan produk, seperti baterai, sistem pendingin, powertrain, telematika, dan material komposit. DTM SV UGM, melalui TPPAB, berfokus pada operasi armada, perawatan, purnajual, dan penyiapan teknisi bersertifikat. Dengan begitu, UGM hadir di sepanjang siklus hidup kendaraan listrik VKTR, dari rancang bangun hingga perawatan di lapangan. Dukungan terhadap SDGs SDG 4 – Pendidikan Berkualitas: fasilitas praktik perawatan kendaraan listrik untuk mahasiswa vokasi. SDG 7 – Energi Bersih dan Terjangkau: dukungan pada operasi armada listrik yang andal. SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi: teknisi dan rekayasawan perawatan siap kerja. SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur: co-lab industri–kampus sebagai infrastruktur pembelajaran. SDG 11 – Kota dan Permukiman Berkelanjutan: mendukung bus listrik kampus hijau UGM. SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan: kemitraan UGM–VKTR lintas departemen.

Selengkapnya

Rayakan Satu Dekade, KAGAMAHUT 2016 Inisiasi Forester Scholarship untuk Dukung Pengembangan Mahasiswa Kehutanan UGM

Yogyakarta, 10 Oktober 2026 — Memperingati satu dekade perjalanan sejak memasuki bangku perkuliahan pada 2016, Keluarga Alumni Mahasiswa Kehutanan Universitas Gadjah Mada angkatan 2016 (KAGAMAHUT 2016) menginisiasi Forester Scholarship, program beasiswa bagi mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UGM. Inisiatif ini menjadi wujud kontribusi alumni kepada almamater sekaligus upaya memperluas akses mahasiswa terhadap berbagai kesempatan pengembangan akademik dan profesional. Penyerahan beasiswa dilaksanakan di Yogyakarta kepada 10 mahasiswa penerima (awardee). Acara ini turut dihadiri oleh Bapak Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU selaku Dekan Fakultas Kehutanan UGM periode 2026–2031, serta perwakilan KAGAMAHUT 2016. Sepuluh tahun lalu, sekitar 200 mahasiswa baru Ilmu Kehutanan angkatan 2016 memulai perjalanan mereka di Fakultas Kehutanan UGM, Bulaksumur. Masa perkuliahan menjadi ruang untuk menimba ilmu, membangun pertemanan, dan tumbuh bersama sebagai calon rimbawan, sehingga menginspirasi KAGAMAHUT 2016 untuk menghadirkan dukungan yang relevan bagi generasi mahasiswa kehutanan berikutnya. Berangkat dari pengalaman alumni, Forester Scholarship dirancang untuk mengisi celah dukungan pendanaan bagi pengembangan akademik mahasiswa. Dalam bidang kehutanan, pengambilan data skripsi atau penelitian di lapangan maupun laboratorium kerap membutuhkan biaya yang tidak sedikit, termasuk untuk transportasi dan akomodasi. Keterbatasan pendanaan juga dapat menghambat mahasiswa mengikuti program magang, pelatihan/sertifikasi, dan kegiatan profesional lainnya, terutama ketika program tersebut tidak memberikan kompensasi atau hanya menawarkan uang saku terbatas. Di sisi lain, program beasiswa yang tersedia umumnya memiliki kriteria dan sasaran penerima yang spesifik, seperti prestasi akademik (merit-based), prestasi olahraga, serta kondisi sosial-ekonomi melalui skema prasejahtera/afirmasi. “Forester Scholarship hadir untuk melengkapi dukungan yang sudah ada melalui pendekatan yang lebih fleksibel, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan beasiswa sesuai kebutuhan dan aspirasi pengembangan akademik maupun profesional mereka”, ujar Lina Dwi Lestari, salah satu anggota KAGAMAHUT 2016 yang tergabung dalam tim seleksi beasiswa. Besaran beasiswa yang diterima oleh setiap awardee adalah sebesar Rp3.000.000 yang digunakan salah satunya untuk meringankan mereka dalam memenuhi biaya uang kuliah tunggal (UKT), seperti Upik Savina Maranis, “Terima kasih kepada alumni angkatan 2016 yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya melalui Forester Scholarship, dana ini akan sangat membantu meringankan beban pembayaran UKT dan kelancaran studi saya”. Selain itu, sejumlah awardee yang menginjak tahun akhir perkuliahan seperti Ella Rovinta Fajrin berencana menggunakan dana beasiswa untuk pengambilan data skripsi dan magang, “Dana ini akan saya pakai untuk pengambilan data skripsi di Kalimantan bulan depan, sekaligus membantu dana operasional selama magang di salah satu NGO konservasi". Awardee juga dibebaskan dalam memanfaatkan dana tersebut untuk mengikuti pelatihan, sertifikasi, serta kegiatan lain yang menunjang pengembangan akademik dan profesional. Lebih dari sekadar dukungan finansial, KAGAMAHUT 2016 berharap inisiatif ini dapat menjadi pemantik bagi tumbuhnya generasi rimbawan muda yang memiliki keterampilan praktis serta jejaring yang kuat. Dengan kesempatan pengembangan yang lebih terbuka, para penerima diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan memberikan kontribusi lebih luas bagi pengelolaan sumber daya hutan serta pembangunan sektor kehutanan Indonesia. Author: Arifah Hidayati  

Selengkapnya

Menilik Potensi Masa Depan, Tim NiFuel PKM UGM Kembangkan Inovasi Fuel Booster dari Limbah Baterai Ni-MH Melalui Kolaborasi Lintas Disiplin

Kontak Tim: Fidel Faj’ri, [081359993848] Tim NiFuel Universitas Gadjah Mada melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan katalis nikel/karbon aktif (Ni/KA) dari limbah baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH) bekas. Katalis ini dirancang untuk mengubah butanol menjadi 1,1-dibutoksibutana (DBB), senyawa aditif yang berpotensi menjadi fuel booster solar untuk memperbaiki pembakaran sekaligus menekan emisi kendaraan. Tim NiFuel diketuai oleh Fidel Faj’ri dengan beranggotakan Arashi Yuko Naeri, Olga Fitriyaningtyas, Jingga Rohmaningsih, dan Arghia Kalulla Agnafa di bawah bimbingan dosen pendamping Bapak Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng. Melalui penelitian berjudul “Transformasi Limbah Baterai Nikel–Logam Hidrida Menjadi Katalis Ni/Karbon Aktif untuk Aditif Solar Berbasis Butanol”, tim NiFuel memulihkan nikel dari baterai bekas, mengimpregnasikannya pada karbon aktif tempurung kelapa, lalu menggunakan katalis tersebut untuk mengonversi butanol menjadi DBB. Fidel Faj’ri, ketua tim PKM-RE NiFuel, menjelaskan bahwa “Kami melihat bahwa limbah baterai masih menyimpan potensi yang bisa dimanfaatkan kembali. Melalui NiFuel, kami mencoba mengolah nikel dari baterai bekas menjadi katalis bernilai tambah untuk pengembangan aditif solar, sehingga persoalan limbah dan kebutuhan inovasi energi dapat dijajaki melalui satu penelitian,” ujar Fidel. NiFuel hadir sebagai jawaban atas dua persoalan sekaligus, yaitu polusi udara dari sektor transportasi dan menumpuknya limbah baterai. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLHK mencatat kadar PM10 dan karbon monoksida di sejumlah wilayah perkotaan Indonesia mencapai kategori sedang hingga berbahaya, salah satunya akibat pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Di sisi lain, katalis yang umum dipakai untuk memproduksi aditif bahan bakar masih mahal dan kurang stabil, sementara nikel dari baterai Ni-MH bekas belum banyak dimanfaatkan. Selain menekan biaya katalis, NiFuel menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan green chemistry. Limbah baterai diolah menjadi sumber logam katalis, sedangkan tempurung kelapa menjadi bahan penyangga karbon aktif. Aditif DBB yang dihasilkan pun dapat dicampurkan langsung ke solar tanpa perlu memodifikasi mesin kendaraan. Perkembangan riset dapat diikuti melalui Instagram dan TikTok @pkmreugm_nifuel.  

Selengkapnya

Pantau Bencana dan Salurkan Bantuan, Drone GAMAFORCE UGM Raih Juara 3 Piala Panglima TNI

Tim Akasmatika Wijaya, salah satu subtim Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil menempati peringkat ketiga kategori Drone Militer, SAR & Bantuan Kebencanaan. Kejuaraan itu adalah Open Tournament Pengembangan Drone Piala Panglima TNI dan Festival Drone Nusantara 2026, yang digelar Kodiklat TNI di Kompleks Kodiklat TNI pada 22–26 September 2026. Sekitar 30 tim dari kampus dan industri drone dalam negeri ikut serta. Setiap peserta merancang drone sesuai gagasan dan kebutuhan misi yang mereka ajukan sendiri. Rancangan itu dipaparkan dalam sesi pitch deck, lalu dibuktikan lewat demonstrasi terbang yang memperlihatkan cara kerja teknologinya. Akasmatika Wijaya membawa Podocarpus D-13, drone quadcopter untuk pemantauan dan penanganan bencana. Drone ini membawa kamera untuk memetakan area dan membantu menemukan korban. Sistem komputasi di dalamnya mendukung live stitching dan computer vision. Live stitching menyatukan sejumlah gambar dari kamera secara real-time sehingga terbentuk citra area yang lebih luas. Fitur ini membantu pemantauan wilayah terdampak dan pencarian korban, terutama di tempat yang sulit didatangi petugas secara langsung. Podocarpus D-13 juga bisa menjatuhkan logistik dan obat-obatan ke titik tertentu. Kemampuan ini diharapkan membantu penyaluran bantuan ketika jalur darat atau jalur distribusi biasa terputus akibat bencana. Saat demonstrasi terbang, Podocarpus D-13 menyelesaikan misinya sesuai kemampuan yang dipaparkan dalam presentasi. Bagi tim, uji terbang ini menjadi kesempatan memperlihatkan hasil pengembangan teknologi mereka sekaligus membuktikan bahwa fiturnya bekerja dalam misi nyata. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa S1 aktif UGM. Lewat kompetisi yang diikuti akademisi dan pelaku industri ini, mereka bisa menguji hasil riset dan rancangan di tingkat nasional. Bertemu peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda juga membantu tim menilai kembali teknologi yang sudah mereka kembangkan. Ke depan, Akasmatika Wijaya berkomitmen terus mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) yang kompetitif dan bisa benar-benar diterapkan. Fokusnya pada kebutuhan penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), serta misi kemanusiaan. Tim berharap inovasinya terus disempurnakan hingga layak diproduksi secara industri dan dipakai dalam operasi SAR di dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memperlihatkan kesungguhan GAMAFORCE UGM mengembangkan wahana udara tanpa awak lewat riset, perancangan, dan uji coba langsung. Bagi Akasmatika Wijaya, gelar juara ini juga menjadi bagian dari proses mematangkan teknologi UAV agar makin sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Selengkapnya

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM Kembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM tengah mengembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being (DWB). Modul ini berisi panduan intervensi berbasis regulasi diri digital dan optimalisasi aktivitas digital berkualitas. Penyusunan modul bertujuan untuk meningkatkan kesadaran individu terhadap pola penggunaan digital serta mengidentifikasi perilaku maladaptif, seperti distraksi dan penggunaan impulsif.  Tim Hibah Penelitian ini merupakan kolaborasi dua universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada dan Universitas Muhammadiyah Lampung. Dari Fakultas Psikologi UGM, yaitu Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si., Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. Dari Fakultas Psikologi UML, Dr. Sovi Septania, M.Psi., Psikolog. Selain itu, mahasiswa S-3, S-2, dan alumni S-1 Fakultas Psikologi UGM juga turut terlibat dalam pengembangan modul ini. Anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UML, Sovi, menjelaskan bahwa pengembangan Modul Intervensi DWB dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko permasalahan psikologis yang turut timbul akibat penggunaan teknologi maladaptif. Risiko ini muncul seiring perkembangan teknologi digital yang mengubah kehidupan sehari-hari seorang individu. Menurut Sovi, modul Intervensi DWB berfokus pada pemberian intervensi dengan pendekatan psikologis yang menyeluruh.  “Meskipun berbagai inisiatif digital well-being telah berkembang, sebagian besar masih berfokus pada pembatasan penggunaan teknologi dan belum didasarkan pada model psikologis yang komprehensif. Oleh karena itu, modul digital wellbeing ini disusun untuk intervensi psikologis preventif dan promotif untuk meningkatkan kesejahteraan digital pada dewasa muda,” ujar Sovi.  Pengembangan Modul Intervensi DWB bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kualitas modul dengan model konseptual. Model ini memandang kesejahteraan digital muncul melalui interaksi antara mekanisme protektif antara regulasi diri digital dan mekanisme promotif berupa optimalisasi aktivitas digital. Selain itu, pengembangan modul ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan intervensi berbasis hasil riset psikologi di era digital.  Sementara itu, anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UGM, Lusi, berharap pengembangan modul ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan produktif. “Kami berharap hasil pengembangan Modul Intervensi DWB ini ke depannya dapat diakses sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna,” ucap Lusi. Kegiatan pengembangan Modul Intervensi DWB meliputi analisis konseptual dan penurunan indikator intervensi; penyusunan kerangka dan alur sesi modul; pengembangan konten modul intervensi; validasi isi modul (content validity); dan uji coba terbatas (pilot study).  Pengenalan modul telah dilakukan pada 26 Juni, dan diikuti oleh 22 peserta berusia 17-34 tahun. Kegiatan ini memberikan gambaran mengenai alur pelaksanaan modul yang terdiri atas lima sesi dan disusun secara bertahap.  Pada sesi pertama yang bertema “Kesadaran Pola Digitalmu”, tim mengawali kegiatan dengan pembukaan, penyusunan kontrak kegiatan, dan pengenalan pola penggunaan digital. Sesi kedua, yaitu “Pelajari Cara Tetap Sejahtera di Era Digital”, berfokus pada pemahaman peserta terhadap konsep digital well-being. Aktivitas dilanjutkan dengan sesi ketiga dan keempat, yaitu “Kendalikan Dirimu di Dunia Digital” dan “Gunakan secara Berkualitas”. Kedua sesi tersebut mengarahkan peserta untuk memahami dan mengembangkan kemampuan regulasi diri digital serta mengoptimalisasikan aktivitas digital yang berkualitas. Sesi kelima, “Rancang Hidup Seimbang Digital”, menutup kegiatan pengenalan modul dengan mengajak peserta mengintegrasikan pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh dari sesi-sesi sebelumnya.  Antusiasme peserta terlihat dari komitmen mereka dalam mengikuti dan menyelesaikan seluruh sesi pada Modul Intervensi DWB. Peserta terlibat dalam kegiatan dan menunjukkan kesungguhan dalam memahami materi. Ke depannya, hasil pengisian modul dapat menjadi sumber informasi penting bagi tim peneliti untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam mendukung kesejahteraan digital peserta.  Melalui pengembangan ini, tim peneliti berharap Modul Intervensi DWB yang berbentuk intervensi mandiri dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna.  Penulis: Kayla Anindya SashikiranaEditor: Erna Tri Nofiyana