BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Dubes Belanda dan Jerman Kunjungi UGM, Dorong Kolaborasi Pendidikan Tinggi 

Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, dan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia pada Rabu (20/5) di Gedung Pusat UGM. Kunjungan ini menjadi momentum dalam rencana memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, riset, inovasi, serta pertukaran mahasiswa dan akademisi antara UGM dengan institusi pendidikan dan penelitian di kedua negara. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai bahwa masih banyak peluang dalam memperluas kolaborasi riset antara UGM dengan institusi di Belanda dan Jerman, terkhusus pada pendanaan riset skala kecil sebagai langkah awal membangun kerja sama yang lebih besar. “Adapun kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat melalui diskusi lanjutan dan inisiatif konkret di berbagai bidang strategis,” jelasnya. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menilai bahwa UGM merupakan salah satu universitas paling prestisius di Indonesia yang memiliki pondasi kuat untuk memperluas kerja sama akademik dan ilmiah dengan Belanda. Tidak hanya itu, menurut Marc, UGM menunjukkan lingkungan kampus yang dinamis, di mana ilmu pengetahuan, seni, dan inovasi berkembang tidak hanya untuk mencapai standar akademik tertinggi, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. “Pengetahuan idealnya tidak berhenti di kampus, tetapi juga harus diperkenalkan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Belanda bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam memberikan beasiswa di bidang-bidang strategis seperti hortikultura, pertanian, pangan, serta pengelolaan dan kualitas air. Bidang tersebut merupakan kekuatan utama Belanda yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. “Kami ingin talenta Indonesia belajar di universitas seperti Wageningen University & Research dan Delft University of Technology, kemudian membawa kembali pengetahuan itu untuk menjawab tantangan di Indonesia,” katanya. Sementara itu, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menegaskan bahwa kerja sama dalam bidang pendidikan merupakan pondasi yang sangat penting dalam membangun hubungan jangka panjang antarnegara. Adapun program German Academic Exchange Service menjadi salah satu instrumen utama pemerintah Jerman dalam membangun hubungan pendidikan dan riset dengan Indonesia. “Program ini merupakan mesin pertukaran people-to-people yang telah berjalan selama lebih dari satu abad dan menjadi fondasi hubungan akademik yang bermakna,” ujarnya. Ia memberikan contoh mengenai Presiden ke-3 Republik Indonesia, B. J. Habibie, sebagai bukti bahwa pengalaman belajar di Jerman dapat memberikan dampak besar, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi pembangunan bangsa. Menurutnya, sistem pendidikan tinggi Jerman terus membutuhkan energi baru melalui mobilitas mahasiswa dan peneliti. Karena itu, pemerintah Jerman secara konsisten berinvestasi dalam program pertukaran dan kerja sama universitas ke universitas. “Oleh karena itu kami akan terus mendukung kerja sama akademik dan riset dengan Indonesia, termasuk dengan UGM, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia,” ucapnya. Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan kerja sama UGM dengan universitas-universitas di Belanda dan Jerman, baik dalam bidang publikasi ilmiah, mobilitas mahasiswa, maupun pendanaan riset bersama. Ia menjelaskan bahwa UGM telah mencatat lebih dari 600 publikasi bersama dengan universitas di Belanda dan hampir 500 publikasi dengan perguruan tinggi di Jerman. Menurutnya, capaian tersebut merupakan investasi akademik yang sangat berharga bagi semua pihak. “Ini merupakan investasi yang sangat baik bagi UGM dan universitas-universitas di Eropa,” katanya. Ia menambahkan bahwa negara Belanda dan Jerman merupakan dua destinasi studi yang paling diminati oleh mahasiswa UGM. Oleh sebab itu, UGM berupaya mendorong penguatan kerja sama yang lebih konkret, termasuk dengan melalui skema joint funding yang tengah dibahas bersama mitra dari Jerman. Selain itu, UGM terus memperluas kemitraan dengan berbagai institusi di Belanda, termasuk Wageningen University & Research, serta melalui program Erasmus+ yang mendukung mobilitas mahasiswa dan dosen. “Mobilitas mahasiswa sangat penting, selain tentu manfaat dari berbagai proyek riset dan kerja sama profesional,” ujarnya. CEO Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Alfatika Aunuriella Dini, turut menyampaikan peluang kolaborasi dengan Belanda dan Jerman melalui program magang mahasiswa internasional, residensi seniman, serta pengembangan ekosistem inovasi yang melibatkan industri dan investor. “GIK merupakan pusat kreativitas dan inovasi baru yang dibangun UGM untuk mempertemukan industri, inkubator, akselerator, dan modal ventura dalam mempercepat lahirnya inovasi,” ungkapnya. Menurutnya kerja sama ini tidak hanya dapat dikembangkan di bidang riset, tetapi juga terdapat peluang dalam kerja sama seni dan budaya. Ia menuturkan bahwa GIK UGM memiliki galeri seni serta ekosistem inovasi yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa, seniman, dan pelaku industri dari berbagai negara. “Kami berharap dapat menerima lebih banyak mahasiswa internasional untuk magang di salah satu pusat kreativitas dan inovasi terbesar di kawasan ini,” katanya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Lanjut Baca

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

IMAGRO Selenggarakan GEMATI x Petani Mengajar 2026 untuk Kenalkan Pertanian kepada Anak Panti Asuhan

BANTUL – Ikatan Mahasiswa Agronomi (IMAGRO) menyelenggarakan kegiatan GEMATI (Gerakan Bantu Petani) x Petani Mengajar (PM) 2026 sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mengenalkan dunia pertanian kepada anak-anak panti asuhan sejak dini. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (24/4/2026) di Panti Asuhan Mustika Tama. Kegiatan diawali dengan penyerahan donasi hasil penggalangan dana kepada pihak panti asuhan sebagai bentuk dukungan dan kepedulian sosial dari mahasiswa. Selain itu, panitia juga memberikan plakat sebagai kenang-kenangan kepada pihak panti asuhan atas kerja sama yang telah terjalin dalam kegiatan tersebut. Melalui program Petani Mengajar, anak-anak diajak mengenal dunia pertanian melalui penyampaian materi sederhana yang dikemas secara santai dan interaktif. Mahasiswa IMAGRO memperkenalkan pentingnya pertanian dalam kehidupan sehari-hari serta mengajak peserta untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan tanaman. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aktivitas kreatif berupa menghias pot menggunakan cat akrilik dan menanam tanaman sukulen bersama. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, terlebih dengan adanya berbagai sesi ice breaking yang membuat suasana semakin hangat dan menyenangkan. Melalui kegiatan GEMATI x Petani Mengajar 2026, IMAGRO berharap anak-anak panti asuhan dapat memperoleh pengalaman baru yang edukatif dan menyenangkan, sekaligus menumbuhkan kreativitas, rasa peduli, dan ketertarikan terhadap dunia pertanian sejak usia dini. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui kegiatan edukasi interaktif, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui lingkungan belajar yang positif dan menyenangkan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Penulis : Nurul Ahati Editor : Niken Nabilaputri Pranaasri, S.P., M.Agr. Foto : IMAGRO

Selengkapnya

Jangan Berhenti! Cerita Filmon Seko yang Gagal 6 Kali Sebelum Berhasil Raih Beasiswa LPDP Afirmasi

https://youtu.be/ubdi3gzEXiQ Gagal sekali mungkin menyakitkan. Gagal berkali-kali bisa membuat siapa pun ingin menyerah. Tapi bagaimana jika kegagalan itu justru menjadi jalan menuju keberhasilan? Dalam episode podcast ini, kita akan mendengar kisah inspiratif dari Filmon Seko, tentang perjuangan meraih beasiswa daerah afirmasi. Bukan dalam 1 atau 2 kali percobaan, tetapi hingga 6 kali kegagalan. Sebuah cerita tentang ketekunan, harapan, dan keberanian untuk terus mencoba saat banyak orang sudah berhenti. Karena terkadang, batas antara gagal dan berhasil hanyalah satu langkah lagi untuk tidak menyerah. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tapi karena berhenti terlalu cepat. Jangan lupa Like, Comment, dan Subscribe untuk konten akademik dan inspiratif lainnya dari MeTSi FT UGM.

Selengkapnya

Public Lecture “Gender, Agama, dan Filantropi: Perspektif Multikultural”

Yogyakarta – Senin, 11 Mei 2026, Departemen Sosiologi FISIPOL UGM kembali menyelenggarakan kuliah tamu dalam mata kuliah Sosiologi Agama, Identitas, dan Kewargaan. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Indah Piliyanti, S.Ag., M.Si. dari UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai dosen tamu dengan materi bertajuk “Gender, Agama, dan Filantropi: Perspektif Multikultural”. Dalam perkuliahan tersebut, mahasiswa diajak melihat filantropi tidak hanya sebagai praktik amal, tetapi juga sebagai praktik sosial yang berkaitan dengan relasi kuasa, legitimasi, dan distribusi otoritas dalam masyarakat. Mengacu pada pemikiran Emile Durkheim dan Marcel Mauss, Dr. Indah menjelaskan bahwa filantropi berperan dalam membangun solidaritas sosial sekaligus membentuk hubungan timbal balik di masyarakat. Melalui materi “Filantropi sebagai Ruang Kuasa”, mahasiswa diajak memahami bahwa lembaga filantropi memiliki peran penting dalam menentukan arah distribusi bantuan sosial karena didukung oleh legitimasi moral-keagamaan, struktur organisasi, dan akses terhadap sumber daya. Diskusi kemudian berlanjut pada pengelolaan lembaga filantropi Islam di Indonesia, khususnya BAZNAS dan LAZ. Dr. Indah menunjukkan bahwa perempuan masih minim berada di posisi strategis meskipun memiliki keterlibatan tinggi dalam aktivitas sosial dan pelaksanaan program. Mahasiswa juga diajak mendiskusikan perbedaan antara partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam organisasi sosial-keagamaan. Menurutnya, ketimpangan tersebut dipengaruhi oleh struktur sosial, budaya patriarki, interpretasi agama, dan sistem kelembagaan yang masih membatasi akses perempuan terhadap posisi pengambilan keputusan. Selain itu, kuliah tamu ini turut mengangkat studi kasus kepemimpinan perempuan di Gereja Katolik Keuskupan Ruteng, Flores. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan aktif dalam berbagai aktivitas gereja, tetapi masih minim hadir dalam jabatan strategis. Pada bagian akhir perkuliahan, Dr. Indah Piliyanti menjelaskan pendekatan Maqāṣid al-Sharī‘ah sebagai kerangka untuk membaca persoalan keadilan gender dalam lembaga filantropi Islam dengan menekankan prinsip keadilan sosial dan kemaslahatan bersama. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan antara agama, gender, identitas, dan relasi kuasa dalam praktik filantropi. Diskusi yang berlangsung juga membuka ruang refleksi kritis mengenai pentingnya keadilan dan inklusivitas dalam institusi sosial dan keagamaan. Penulis: Iqbal Dwi Pamungkas

Selengkapnya

SMA Negeri 3 Boyolali, Menyeduh Asa di FKG UGM

Perjalanan ditempuh oleh 150 siswa-siswi SMA Negeri 3 Boyolali beserta para guru ke Fakultas Kedokteran Gigi UGM pada Jumat pagi (11/05/2026) bukan sekadar agenda kunjungan sekolah biasa. Meneropong harapan dari Boyolali menuju Kampus Biru, tersimpan asa besar, melihat masa depan lebih dekat, menyentuh atmosfer perguruan tinggi UGM. Para siswa kelas XI tampak antusias menatap gedung-gedung akademik, laboratorium, hingga fasilitas pendidikan yang selama ini hanya mereka lihat melalui media sosial dan cerita para alumni. Perwakilan sekolah yang membacakan sambutan Kepala Sekolah menyebut kunjungan tersebut sebagai “langkah awal menjemput masa depan”. Ia menegaskan bahwa kedatangan para siswa ke UGM bukan sekadar wisata edukasi, melainkan upaya membangun orientasi hidup dan cita-cita generasi muda. “Menjadi seorang dokter gigi bukan hanya soal gelar, tetapi soal pengabdian. Semoga suatu hari nanti ada di antara kalian yang kembali ke kampus ini bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai mahasiswa,” ujarnya penuh semangat. Kunjungan itu menjadi momentum penting di tengah semakin ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri. Bagi banyak siswa daerah, kampus seperti UGM kerap terasa jauh, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara psikologis. Karena itu, pendekatan langsung seperti ini dinilai mampu mematahkan rasa minder sekaligus membuka cakrawala baru. Dalam sesi pemaparan, dosen drg. Heriati Sitosari, MD.Sc,. Ph.D menjelaskan berbagai program studi, sistem seleksi masuk perguruan tinggi, fasilitas kampus, hingga peluang beasiswa di UGM. Dengan gaya komunikatif dan cair, ia berusaha menghapus kesan bahwa kuliah di universitas ternama hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu. “Yang angkat tangan ingin masuk UGM, saya doakan semoga keterima,” katanya disambut tepuk tangan dan gelak tawa para siswa. Ia menegaskan bahwa UGM membuka akses seluas-luasnya bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi melalui skema beasiswa dan subsidi UKT. Menurutnya, banyak siswa sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik, namun sering kali terhambat rasa takut terhadap biaya pendidikan. Dalam paparannya, dijelaskan bahwa UGM memiliki berbagai jalur bantuan pendidikan mulai dari KIP Kuliah, beasiswa afirmasi daerah 3T, dukungan dari BUMN, yayasan alumni, hingga bantuan dari fakultas dan mitra industri. Bahkan, mahasiswa dengan prestasi akademik tinggi tetap memiliki peluang besar memperoleh bantuan pendanaan meskipun berasal dari keluarga menengah. Fenomena ini menunjukkan perubahan paradigma pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus tidak lagi hanya berlomba mengejar reputasi akademik, tetapi juga dituntut menghadirkan akses pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi kini mulai aktif membangun komunikasi dengan sekolah-sekolah di daerah. Strategi ini bukan hanya promosi institusi, melainkan bagian dari upaya memperluas pemerataan pendidikan. Di hadapan para siswa, drg. Sari memaparkan bahwa universitas memiliki 293 program studi dari jenjang sarjana, pasasarjana hingga spesialis, lengkap dengan fasilitas penunjang seperti rumah sakit akademik, perpustakaan pusat, asrama mahasiswa, layanan kesehatan, sarana olahraga, hingga transportasi internal kampus seperti bus “Tayo Gama” dan sepeda kampus. Bagi sebagian siswa, penjelasan mengenai dunia kedokteran gigi menjadi bagian paling menarik. Pertanyaan demi pertanyaan muncul, mulai dari besaran UKT, prospek kerja lulusan FKG, hingga peluang kuliah melalui jalur internasional atau International Undergraduate Program (IUP). Menjawab rasa penasaran itu, FKG UGM menjelaskan bahwa lulusan kedokteran gigi tidak hanya bekerja membuka praktik klinik, tetapi juga memiliki peluang di bidang manajemen kesehatan, rumah sakit, BPJS Kesehatan, penelitian, industri kesehatan, hingga kebijakan publik kesehatan. Dalam sesi diskusi, FKG UGM bahkan mengingatkan siswa agar tidak asal memilih program studi hanya demi “yang penting lolos”. Sikap semacam itu, menurut mereka, berpotensi membuat kursi pendidikan terbuang sia-sia ketika mahasiswa akhirnya mengundurkan diri karena tidak sesuai minat. “Kalau memilih program studi, tanyakan dulu kepada diri sendiri, apakah sesuai dengan passion? Jangan sampai diterima lalu mundur, karena itu berarti mengambil kesempatan orang lain,” ungkap salah satu narasumber dari pihak fakultas. Pesan tersebut sangat relevan di tengah meningkatnya fenomena kebingungan karier di kalangan generasi muda. Banyak siswa memilih jurusan berdasarkan tekanan sosial, gengsi, atau sekadar mengikuti teman, bukan berdasarkan pemahaman mendalam terhadap minat dan kompetensinya. Kunjungan edukatif seperti yang dilakukan SMA Negeri 3 Boyolali ini menjadi contoh bagaimana sekolah dan perguruan tinggi dapat membangun ekosistem pembinaan karier yang lebih sehat dan visioner. Di akhir acara, terdapat pesan namun penuh makna mendalam kepada para siswa. “Selain usaha dan doa, restu orang tua adalah hal utama. Insya Allah kalau doa anak dan doa orang tua bertemu, jalan akan dimudahkan,” ujar Dyana Rakhmasari Kusumaningsih, S.E., M.Ec. Dev selaku Ketua Tim Kerja Akademik dan Kemahasiswaan disambut tepuk tangan meriah oleh SMAN 3 Boyolali. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

BLC FH UGM dan RRI Pro 2 Jogja Dorong Literasi Legalitas UMKM melalui Siaran Penyuluhan Hukum Berbasis SDGs

Rabu (6/5/2026), Business Law Community (BLC) Fakultas Hukum UGM bekerja sama dengan RRI 2 Pro Jogja menyelenggarakan Siaran Penyuluhan Hukum bertajuk “UMKM Naik Kelas: Usaha Sah, Peluang Usaha Meluas” sebagai bentuk realisasi Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum UGM. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi hukum masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta terkait pentingnya legalitas usaha dalam mendorong keberlanjutan dan daya saing bisnis. Program siaran ini menghadirkan dua narasumber dari Fakultas Hukum UGM. Skolastika Probo Citaningrum, S.H., LL.M., alumnus Pascasarjana, dan Afanin Fariq Fajriya, selaku mahasiswa aktif. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya pertumbuhan UMKM di Yogyakarta yang belum sepenuhnya diiringi dengan pemahaman terkait legalitas usaha. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset DIY, jumlah UMKM di Yogyakarta terus mengalami peningkatan signifikan selama beberapa tahun terakhir, terutama pada sektor kuliner, ekonomi kreatif, perdagangan, dan jasa. Namun demikian, sebagian besar UMKM masih berada pada level mikro dan menghadapi tantangan dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dalam siaran tersebut dibahas berbagai persoalan yang sering dihadapi pelaku UMKM, mulai dari minimnya pemahaman mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga akses terhadap pembiayaan dan peluang ekspor. Selain itu, narasumber juga menjelaskan transformasi sistem legalitas usaha melalui mekanisme Online Single Submission (OSS) yang saat ini dirancang untuk mempermudah pelaku usaha memperoleh legalitas secara cepat, mudah, dan tanpa biaya. Siaran ini juga mengangkat sejumlah studi kasus nyata yang menunjukkan risiko usaha tanpa legalitas. Salah satunya adalah kasus pelaku usaha frozen food di Sampit yang dijatuhi sanksi pidana akibat tidak memiliki izin edar dan label produk yang sesuai ketentuan. Selain itu, dibahas pula kasus UMKM keripik singkong di Malang yang gagal mengekspor produk ke Malaysia karena tidak memiliki Nomor Induk Berusaha. Kedua kasus tersebut menjadi gambaran konkret bahwa legalitas usaha tidak hanya berfungsi sebagai syarat administratif, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan hukum dan pintu masuk menuju pasar yang lebih luas. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pemahaman bahwa legalitas usaha memiliki manfaat strategis bagi keberlanjutan bisnis UMKM. Legalitas memberikan perlindungan hukum terhadap pelaku usaha, meningkatkan kepercayaan konsumen, mempermudah akses pembiayaan dari lembaga keuangan, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Di sisi lain, legalitas juga membantu UMKM memperoleh akses terhadap program pemerintah, termasuk pendampingan usaha, bantuan pembiayaan, dan fasilitasi pengembangan pasar. Diskusi interaktif selama siaran berlangsung menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap isu legalitas usaha. Banyak pelaku UMKM yang menyampaikan pertanyaan mengenai proses pembuatan NIB, perlindungan merek dagang, hingga prosedur sertifikasi halal dan izin edar. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap edukasi hukum bisnis masih sangat besar, khususnya di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif dan transformasi digital yang semakin pesat. Kegiatan penyuluhan hukum ini juga memiliki relevansi yang kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 8 mengenai Decent Work and Economic Growth melalui penguatan kapasitas UMKM agar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja yang layak. Kedua, program ini mendukung SDG 9 mengenai Industry, Innovation, and Infrastructure melalui dorongan transformasi UMKM menuju sistem usaha yang lebih modern, legal, dan berbasis digital. Ketiga, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 16 mengenai Peace, Justice, and Strong Institutions karena mendorong peningkatan kesadaran hukum, kepastian hukum, serta akses masyarakat terhadap sistem regulasi yang inklusif. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, media publik, dan komunitas UMKM dalam menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan. RRI 2 Pro Jogja sebagai media publik memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi edukatif yang mudah diakses masyarakat luas. Sementara itu, FH UGM melalui BLC berupaya menghadirkan pengabdian masyarakat berbasis akademik yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui siaran ini, diharapkan pelaku UMKM di Yogyakarta semakin memahami bahwa legalitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi penting untuk meningkatkan daya saing usaha, memperluas pasar, dan memperkuat perlindungan hukum. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap legalitas usaha, UMKM diharapkan mampu berkembang secara berkelanjutan dan menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah maupun nasional. Penulis: Maytri Gestart Ignatius (BLC)

Selengkapnya

Fakultas Farmasi UGM Berdayakan Srikandi Desa Kulon Progo melalui Pengembangan Produk Farmasi Berbasis Empon-Empon

Kulon Progo, 9 Mei 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Kulon Progo untuk Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol” di Kelurahan Hargotirto, Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Program EQUITY Community Development 2026 dari Universitas Gadjah Mada menghadirkan inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Hargotirto, Kulon Progo dalam Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol.” Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis riset aplikatif yang dilaksanakan dengan dukungan kolaborator internasional. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan perempuan desa, khususnya kelompok istri petani yang tergabung dalam Srikandi Desa, melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman, bermutu, dan bernilai ekonomi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Equity Universitas Gadjah Mada, sekaligus komitmen Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pengembangan kesehatan masyarakat berbasis potensi lokal sekaligus memperkuat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Istilah “Srikandi Desa Hargotirto” mencerminkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pemberdayaan di wilayah tersebut. Sejak tahun 2010, Desa Hargotirto dikembangkan sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, dengan salah satu fokus utama pada penguatan peran perempuan. Hingga kini, terdapat 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan produktif, bahkan salah satunya telah meraih prestasi Juara I tingkat kabupaten. Pengembangan produk berbasis empon-empon dipilih karena Kabupaten Kulon Progo dikenal sebagai salah satu sentra utama empon-empon di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi empon-empon di wilayah ini sangat dominan dibandingkan kabupaten/kota lainnya, terutama untuk komoditas jahe yang kontribusinya mendekati sebagian besar produksi daerah. Komoditas empon-empon yang dikembangkan antara lain jahe, kencur, kunyit, temu ireng, temu kunci, lengkuas, dan temulawak. Komoditas jahe dipilih karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku produk herbal. Namun demikian, pengelolaan pascapanen serta standardisasi mutu berbasis kandungan senyawa aktif masih menjadi tantangan di tingkat masyarakat. Salah satu fokus utama program ini adalah penetapan mutu jahe berbasis kandungan senyawa aktif. Jahe diketahui mengandung senyawa bioaktif penting seperti 6-shogaol dan 6-gingerol yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antidiabetik. Namun demikian, selama ini penilaian mutu jahe di tingkat masyarakat masih lebih banyak didasarkan pada aspek fisik, belum mengacu pada kandungan senyawa aktif sebagai parameter ilmiah. Melalui program ini, tim pengabdian memperkenalkan penetapan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol sebagai parameter ilmiah untuk menjamin kualitas produk olahan empon-empon. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 9 Mei 2026 meliputi sosialisasi program, pelatihan dan focus group discussion (FGD), serta workshop dan praktik langsung pengolahan jahe. Peserta memperoleh pendampingan terkait teknik pengolahan pascapanen, pembuatan sediaan herbal sederhana, hingga penerapan teknologi tepat guna skala rumah tangga untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Selain penguatan kapasitas teknis, program ini juga mendorong pembentukan kelompok kerja perempuan sebagai unit produksi berbasis masyarakat yang diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut diperkuat melalui kolaborasi internasional guna mendukung transfer pengetahuan, inovasi, serta keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Menurut Prof. Agung Endro Nugroho selaku Ketua Program EQUITY Pengabdian kepada Masyarakat Farmasi UGM 2026, pendekatan berbasis sains ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk empon-empon sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya kelompok perempuan di Desa Hargotirto. Melalui program ini, Fakultas Farmasi UGM menargetkan tercapainya peningkatan kapasitas minimal 20 peserta perempuan desa, tersusunnya panduan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol, serta dihasilkannya produk olahan jahe yang berkualitas dan memiliki nilai tambah ekonomi. Program ini sejalan dengan beberapa tujuan SDGs, di antaranya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman dan bermutu, SDG 5 (Gender Equality) melalui pemberdayaan perempuan desa sebagai aktor utama pengembangan produk herbal, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan ekonomi masyarakat desa, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan produksi herbal yang terstandar dan berkelanjutan. Penulis: Rizqi Vazrin | Editor: Fathul | Foto: Rizqi Vazrin

Selengkapnya

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi UGM Selenggarakan Workshop Intensif MGMP Biologi SMA Kabupaten Sleman

Fakultas Biologi UGM bermitra dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi SMA Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Workshop Intensif MGMP Biologi SMA: Pendalaman Materi Esensial, Strategi Penyampaian Topik Kompleks dan Praktikum Terintegrasi untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas (SDG 4)” melalui skema Hibah Pengadian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2025. Acara yang digelar di Auditorium Biologi Tropika Fakultas Biologi UGM pada hari Kamis, 16 April 2026 mulai pukul 13.00 WIB ini merupakan pembukaan dari rangkaian kegiatan yang akan berlangsung hingga bulan November 2026. Kegiatan dihadiri oleh 27 peserta dari 40 guru yang diundang (67,5%) yang merupakan perwakilan dari berbagai kapanewon se-Sleman. [metaslider id="57895"] Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan pendalaman materi esensial dan topik kompleks dalam mata pelajaran Biologi, terutama tema Genetika dan Fisiologi Manusia. Selain itu nantinya akan dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan praktik biologi sel dan molekuler serta teknik preparasi dan analisis sampel darah yang diintegrasikan dengan topik pendalaman materi/teori. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang menjadi narasumber dalam kegiatan workshop ini adalah: Prof. Dr. Niken Satuti Nur Handayani, M.Sc., Dr. Laksmindra Fitria, S.Si., M.Si., dan Indra Lesmana, S,Si., M.Sc. Tim juga melibatkan anggota dari komponen mahasiswa mulai dari Program Sarjana, Magister, hingga Doktoral, yang akan membantu dalam pelaksanaan praktikum, yaitu: Khilda Aquilatin Nada, Audrey Azalia Jovita, Elisabet Lintang Permata, Nafisa Qotrunnada Arif, Alifa Tafrinjiyah, Angeline Steffany Sirami, S,Si., dan Firdaus, S.Pd., M.Sc. Acara dibuka oleh Ketua Tim PkM Fakultas biologi UGM yaitu Prof. Niken, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua MGMP Biologi SMA Kabupaten Sleman yaitu Ibu Persita Pupung Hariadi, S.Pd., M.Pd. Acara dilanjutkan dengan pematerian oleh Prof. Niken tentang prinsip dasar genetika sel dan molekuler. Antusiasme peserta tercermin dari banyaknya pertanyaan yang diajukan sehingga membangun diskusi yang interaktif. Acara berikutnya adalah pembahasan terkait agenda kegiatan selanjutnya yang direncanakan akan diselenggarakan di sekolah secara bergiliran, Selain itu dibahas pula mengenai aktivitas pendampingan olimpiade, praktikum, penelitian, dan kegiatan lain untuk diterapkan oleh para guru kepada siswanya masing-masing sebagai bentuk tindak lanjut kolaborasi antara kedua belah pihak. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan workshop ini bagi Fakultas Biologi UGM sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah menjadi wadah diseminasi dan hilirisasi keilmuan yang memastikan perkembangan ilmu tidak hanya berhenti di laboratorium. Selain itu, kegiatan ini menunjukkan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Sustainable Development Goal yaitu mewujudkan kontribusi nyata terhadap pendidikan berkualitas (SDG 4) dengan meningkatkan kompetensi tenaga pendidik di garda terdepan. Dengan membekali guru metode pengajaran yang menekankan Critical Thinking dan Higher Order Thinking Skills (HOTS), Fakultas Biologi UGM secara tidak langsung mempersiapkan siswa SMA sebagai input calon mahasiswa yang memiliki fondasi sains dan semangat riset yang kuat. Di sisi lain, bagi pihak MGMP Biologi SMA Kabupaten Sleman, kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan nilai tambah yang signifikan bagi profesionalisme guru dan kualitas pembelajaran di kelas, melalui Pembaruan Kompetensi Konten (Content Knowledge). Guru mendapatkan pendalaman materi esensial (Fisiologi) dan topik kompleks (Dogma Sentral dan Ekspresi Gen) yang seringkali sulit dijelaskan karena keterbatasan referensi visual dan teknis di sekolah. Selain itu para guru memperoleh Peningkatan Keterampilan Teknis (Pedagogical Content Knowledge) melalui praktikum di laboratorium. Guru akan memperoleh pengalaman praktik secara langsung sehingga memberikan rasa percaya diri sebagai pengajar dan pendidik untuk membimbing para siswa dalam kegiatan praktikum serupa atau menjelaskan aplikasi klinis biologi secara lebih konkret.

Selengkapnya

Revitalisasi Kejayaan Kerajinan Kulon Progo: Sinergi DPKM UGM dan Pemkab dalam Membangkitkan Sentra Bambu Kencana

  KULON PROGO – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal kembali menjadi fokus perhatian dalam upaya penguatan ekonomi kerakyatan. Pada Kamis, 16  April 2026, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) Universitas Gadjah Mada melakukan langkah strategis dengan mengunjungi Sentra Bambu Kencana yang terletak di Padukuhan Jangkang Kidul, Kalurahan Sintoro, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Kunjungan ini dilaksanakan bersama jajaran Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM, (Disperinkop UKM) Kabupaten Kulon Progo guna meninjau potensi serta tantangan yang dihadapi oleh salah satu ikon kerajinan bambu tertua di wilayah tersebut. Jejak Historis dan Produk Unggulan Sentra Bambu Kencana bukanlah nama baru dalam peta industri kreatif Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas usaha ini telah berdiri sejak tahun 1984 di bawah kepemimpinan Bapak Sumardi, yang kini berusia 75 tahun. Sejak awal berdirinya, sentra ini telah mengakar kuat di masyarakat dengan merangkul warga sekitar sebagai pengrajin, sehingga tercipta ekosistem ekonomi yang inklusif di Padukuhan Jangkang Kidul. Dukungan pemerintah pun telah mengalir sejak masa kepemimpinan Bupati Kulon Progo terdahulu yang memberikan respons positif terhadap inisiatif industri rumah tangga ini. Kepercayaan tersebut dibuktikan melalui kualitas produk yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Produk utama yang dihasilkan meliputi furnitur seperti meja dan kursi rumah tangga, serta berbagai produk pelengkap seperti tirai, kap lampu, dekorasi rumah, hingga peralatan makan berupa tusuk sate. Kualitas tinggi dan daya tarik estetika produk Sentra Bambu Kencana bahkan pernah menarik perhatian pejabat negara di tingkat pusat. Beberapa tokoh penting yang tercatat pernah mengunjungi sentra ini antara lain Menteri Perekonomian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Penerangan. Pencapaian ini semakin mempertegas posisi Sentra Bambu Kencana sebagai produsen kerajinan yang diakui secara nasional maupun internasional, dengan jangkauan pemasaran yang pernah menembus pasar Thailand melalui pihak ketiga. Tantangan Pascapandemi dan Kebutuhan Revitalisasi Meskipun sempat mengalami perkembangan pesat dan memperoleh hibah berupa gedung workshop produksi serta ruang display pada tahun 1991 (sebagai bentuk timbal balik atas hibah tanah pribadi seluas 1.500 m² dari Bapak Sumardi), kejayaan tersebut sempat meredup akibat pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas sosial memaksa operasional sentra berhenti total. Pada saat itu, aktivitas produksi belum pulih sepenuhnya dan masih bergantung pada sistem pesanan (by order). Fasilitas gedung yang luas serta peralatan modern bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK)—meliputi mesin pemotong, mesin bubut, hingga mesin laminasi, belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini mendorong perlunya intervensi melalui kebijakan revitalisasi yang menyeluruh. Melihat kondisi tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM, (Disperinkop UKM) Kabupaten Kulon Progo, Iffah Mufidanti, S.H., M.M., menekankan pentingnya langkah pemulihan yang sistematis. Ia menyampaikan bahwa diperlukan tindakan nyata agar komunitas pengrajin dapat kembali bergerak. "Perlu dilakukan revitalisasi Sentra Bambu Kencana agar dapat tumbuh, maju, dan mampu menyejahterakan masyarakat di sekitarnya," tegas Iffah. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan kawasan sentra industri harus bertumpu pada dua pilar utama, yaitu ketersediaan sumber daya alam (SDA) dan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Sinergi antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketersediaan bahan baku bambu yang melimpah tidak akan memberikan kesejahteraan jika tidak dikelola oleh SDM yang kompeten, demikian pula sebaliknya. Kolaborasi Strategis dengan DPKM UGM     Menjawab tantangan tersebut, DPKM UGM hadir sebagai mitra strategis dalam kerangka kolaborasi lintas sektor. Kerja sama ini dipandang sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan kompetensi SDM sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi yang telah tersedia di sentra tersebut. Mewakili DPKM UGM, Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si., menyatakan komitmen universitas dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui berbagai skema pengabdian. Menanggapi ajakan kerja sama dari pemerintah daerah, ia menyampaikan kesiapan institusinya untuk terlibat aktif. "DPKM UGM menyambut dengan sangat baik tawaran kolaborasi tersebut karena hal ini sejalan dengan mandat Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Dharma Pengabdian, yang mengharuskan kami memberikan kontribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya. Implementasi kolaborasi ini direncanakan melalui sejumlah program konkret yang dapat segera diakses masyarakat, seperti penerjunan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik, program pemberdayaan dan pendampingan UMKM secara intensif, serta pemberian hibah pengabdian masyarakat guna mendukung kemandirian Sentra Bambu Kencana.   Harapan ke Depan   Dengan dukungan fasilitas yang memadai—mulai dari gedung workshop hingga 12 unit peralatan produksi yang lengkap—kemitraan antara DPKM UGM dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat para pengrajin di Jangkang Kidul. Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga pada penguatan kembali mata rantai ekonomi yang sempat terputus. Dengan demikian, Sentra Bambu Kencana diharapkan dapat kembali menjadi primadona kerajinan bambu yang membanggakan bagi Kulon Progo, baik di tingkat nasional maupun global.   Penulis : Widodo dan Ayyub Rizqullah