BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Penguatan Pemahaman AMR Berbasis One Health bagi Kader Kesehatan di Wonokerto

Sleman, 18 Juni 2026 – Upaya mengendalikan resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan pemahaman serta keterlibatan masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, tim Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Implementasi Konsep One Health melalui Penguatan Antimicrobial Stewardship Berbasis Komunitas di Desa Binaan Wilayah Sleman” pada Kamis (18/6) di Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM Tahun 2026 melalui skema integrasi dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM dan Gugus One Health UGM. Kegiatan menyasar masyarakat, khususnya kader kesehatan di Wonokerto, yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kesehatan dan mendorong perubahan perilaku di tingkat keluarga maupun komunitas. [caption id="attachment_6622" align="aligncenter" width="800"] Peserta pengabdian masyarakat para ibu kader kesehatan Wonokerto[/caption] Ketua pelaksana kegiatan, dr. Domas Fitria Widyasari, Sp.MK, menyampaikan bahwa pengendalian AMR perlu diperkenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui konsep One Health, masyarakat diajak memahami bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Keterkaitan tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan, termasuk penyakit zoonosis dan resistensi antimikroba. Pemahaman tersebut diperkuat melalui materi dari sejumlah narasumber dengan perspektif keilmuan yang saling melengkapi. drh. Yudhi Ratna Nugraheni, M.Sc., Ph.D. menyampaikan materi mengenai Konsep One Health dan Pencegahan Penyakit Zoonosis di Lingkungan Agraris. Materi ini memberikan gambaran mengenai hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan, khususnya pada masyarakat yang hidup di kawasan agraris, serta pentingnya pencegahan penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia. Selanjutnya, dr. Marselinus Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK memberikan materi mengenai Pengenalan Mikrobiologi Dasar serta Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Komunitas. Peserta diperkenalkan pada peran mikroorganisme dalam kesehatan dan penyakit, cara penularan infeksi, serta langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mencegah penyebaran infeksi di lingkungan keluarga dan masyarakat. [caption id="attachment_6623" align="aligncenter" width="800"] dr. Edwin sebagai salah satu narasumber[/caption] Aspek penggunaan antimikroba secara bijak dibahas oleh Prof. apt. Ika Puspitasari, M.Si., Ph.D. melalui materi Antimicrobial Stewardship Berbasis Komunitas dan Manajemen Obat. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan obat, khususnya antibiotik, secara tepat dan bertanggung jawab. Edukasi di tingkat komunitas menjadi penting untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi sekaligus meningkatkan pemahaman bahwa antibiotik tidak dapat digunakan untuk semua jenis penyakit. Tidak hanya melalui penyampaian materi, kegiatan juga dirancang secara interaktif melalui sesi diskusi dan workshop “Seeing is Believing” yang dipandu oleh dr. Domas Fitria Widyasari, Sp.MK. Pendekatan tersebut bertujuan membuat konsep mikrobiologi, pencegahan infeksi, serta AMR yang relatif kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan dikaitkan dengan praktik sehari-hari oleh para kader. Pendekatan One Health menjadi benang merah dalam keseluruhan kegiatan. Penggunaan antimikroba pada manusia maupun hewan, interaksi manusia dengan hewan, pencegahan penyakit zoonosis, kebersihan dan sanitasi, serta kondisi lingkungan merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pengendalian AMR membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan sejak tingkat komunitas. Melalui kegiatan ini, kader kesehatan di Wonokerto diharapkan dapat menjadi penggerak dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya mengenai penggunaan antimikroba secara bijak dan pencegahan infeksi. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat sehingga pesan mengenai AMR tidak berhenti pada peserta kegiatan, tetapi dapat menjangkau komunitas yang lebih luas. [caption id="attachment_6624" align="aligncenter" width="681"] workshop seeing is believing[/caption] Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan literasi mengenai AMR, pencegahan penyakit, dan pengendalian infeksi; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan pengetahuan dan kapasitas kader kesehatan; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui edukasi penggunaan antimikroba dan obat secara bertanggung jawab; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui sinergi perguruan tinggi, rumah sakit, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi landasan untuk mendorong upaya pengendalian AMR yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Melalui penguatan antimicrobial stewardship berbasis komunitas, kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman kader mengenai AMR, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dalam penggunaan antimikroba dan pencegahan infeksi. Dengan keterlibatan aktif kader, upaya menghadapi resistensi antimikroba dapat dimulai dari keluarga dan masyarakat sebagai bagian penting dari implementasi One Health. Oleh: Ayu R

Lanjut Baca

Rektor UGM Resmikan Gedung Laboratorium Bahasa dan Pusat Pengembangan Riset Humaniora

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., meresmikan Gedung C Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM yang diperuntukkan sebagai Laboratorium Bahasa dan Pusat Pengembangan Riset Humaniora. Peresmian tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan dihadiri oleh pimpinan universitas, jajaran pimpinan FIB UGM, guru besar, sivitas akademika, serta pimpinan PT Waskita Karya selaku kontraktor pembangunan gedung, Sabtu (17/8). Gedung C FIB UGM diharapkan menjadi fasilitas yang mendukung pengembangan riset dan kegiatan akademik di bidang humaniora, meliputi sejarah, linguistik, sastra, arkeologi, antropologi, hingga kajian pariwisata. Keberadaan fasilitas baru tersebut juga menjadi bagian dari upaya FIB UGM memperkuat perannya dalam pengembangan keilmuan dan kebudayaan di lingkungan UGM. Dalam sambutannya, Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan bahwa keberadaan gedung baru perlu diiringi dengan pemanfaatan fasilitas secara optimal oleh sivitas akademika. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan gedung, termasuk mempertahankan ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH). “RTH adalah aset bagi kelangsungan ekologi, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat sehingga tercipta ruang akademik yang sehat dan kondusif bagi proses pembelajaran,” tegasnya. Sementara itu, Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa peresmian Gedung C tidak sekadar menandai selesainya pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang FIB UGM yang tahun ini memasuki usia 80 tahun. Menurutnya, pembangunan Gedung C merupakan bagian dari masterplan pembangunan kampus FIB UGM yang telah disusun sejak 2014. Pembangunan tersebut dilakukan secara bertahap sebagai upaya mewujudkan lingkungan kampus yang terintegrasi sekaligus memperkuat fasilitas pendukung kegiatan akademik. “Pembangunan Gedung C sendiri merupakan bagian dari masterplan pembangunan kampus FIB UGM yang telah dibuat pada tahun 2014 hingga pada akhirnya satu per satu elemen penyusun kampus semakin terwujud,” tuturnya. Setiadi turut menyampaikan laporan mengenai pembiayaan pembangunan gedung. Setelah mengalami adendum final pada 22 Juli 2026, berdasarkan keputusan Rektor UGM, nilai kontrak maksimal yang diizinkan untuk menyelesaikan pembangunan Gedung C mencapai Rp127,22 miliar. Nilai tersebut mencakup tambahan sekitar 12,5 persen atau Rp14 miliar untuk pengembangan sejumlah fasilitas penting yang diperlukan dalam mendukung operasional fakultas. Ia menjelaskan, pendanaan pembangunan gedung berasal dari akumulasi anggaran atau sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) yang dikelola sesuai dengan standar biaya UGM, serta dukungan dana hibah UGM sebesar Rp10 miliar. Pembangunan Gedung C juga diarahkan untuk mendukung transformasi FIB UGM. Setiadi mengatakan, FIB tidak hanya ingin berfokus pada produksi riset, artikel, dan buku, tetapi juga mendorong sivitas akademika menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. “FIB UGM ingin bertransformasi, memberikan kesempatan kepada civitas akademika untuk menghasilkan banyak karya-karya yang lebih langsung bisa dinikmati oleh masyarakat seluruh Indonesia. Karena itu, di lantai tujuh misalnya, kami sediakan nanti ruang DKV, ada multimedia yang cukup representatif untuk mengembangkan kajian-kajian digital,” tambahnya. Selain Laboratorium Bahasa dan Pusat Bahasa, Gedung C dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti selasar, ruang pameran, auditorium, co-working space, dan amphitheater. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas pembelajaran, penelitian, kolaborasi, serta pengembangan karya sivitas akademika FIB UGM. Peresmian Gedung C ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Rektor UGM. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata berupa Kayon Sekartaji, tokoh perempuan dalam mitologi Panji yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pertunjukan wayang gedhog. Kayon Sekartaji tersebut merepresentasikan sosok perempuan yang memiliki peran penting sebagai pasangan ksatria protagonis sekaligus simbol rahim peradaban yang melahirkan para pemimpin tanah Jawa dan Nusantara. Pemberian simbol tersebut diharapkan dapat menjadi nilai yang dijiwai oleh seluruh sivitas akademika UGM. Sebelumnya, rangkaian peresmian diawali dengan tarian penyambutan flashmob oleh sivitas akademika FIB UGM. Acara dilanjutkan dengan prosesi gunting pita oleh Rektor UGM, Dekan FIB UGM, dan pimpinan PT Waskita Karya, kemudian ditutup dengan tur Gedung C. Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie dan Dok. FIB

Selengkapnya

Dorong Hilirisasi Agrikultur, Lab Kimia Fisika UGM Latih SMK 1 Muhammadiyah, Genteng, Banyuwangi Olah Minyak Nilam

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Fisika (Tim PkM Lab KF), Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat di Kabupaten Banyuwangi pada 15–16 Agustus 2026. Kegiatan ini menyasar SMK 1 Muhammadiyah Genteng dengan fokus pada edukasi pengolahan daun nilam menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini merupakan implementasi dari program Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Pemandatan Laboratorium Departemen Kimia FMIPA UGM Tahun Anggaran 2026, dengan mengusung tema "Prospek Industri Minyak Atsiri Berbasis Nilam Sebagai Penggerak Ekonomi Lokal Di Banyuwangi". Program ini diketuai oleh Drs. Iqmal Tahir, M.Si. dan memberikan penjelasan mengenai pengolahan daun nilam dan teknologi penyulingan (distilasi). Beliau menekankan bahwa pengembangan komoditas nilam tidak boleh berhenti pada tahap produksi daun mentah saja.   "Pengembangan nilam perlu diarahkan melalui proses hilirisasi menjadi minyak nilam dan berbagai produk turunannya. Pemahaman mengenai kewirausahaan dan bisnis juga menjadi faktor krusial agar teknologi ini dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan," tegas Iqmal Tahir. Edukasi di SMK 1 Muhammadiyah Genteng diarahkan agar generasi muda mulai melirik potensi inovasi komoditas lokal dan termotivasi menjadi wirausahawan muda di bidang agroindustri atsiri.   Sinergi Akademisi, Kewirausahaan, dan Jejaring Alumni Selain edukasi teknologi ekstraksi, peserta juga dibekali dengan wawasan wirausaha. Ketua Pelaksana Kegiatan, Drs. Iqmal Tahir, M.Si., memberikan materi mengenai potensi ekonomi minyak nilam, pengembangan produk, hingga peluang pasar yang luas. Pendekatan terintegrasi ini ditujukan agar kelompok tani mampu mengelola bisnis secara produktif. Pelaksanaan kegiatan ini tidak lepas dari sinergi kuat antara kampus dan masyarakat yang dijembatani oleh peran alumni. Rekomendasi dan dukungan dari drg. Dodik, anggota Kagama Banyuwangi, terbukti efektif dalam membuka akses jejaring antara Laboratorium Kimia Fisika UGM dengan pemangku kepentingan di Kabupaten Banyuwangi. Drs. Iqmal Tahir, M.Si., menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang minyak nilam bukan sekadar hasil penyulingan, melainkan komoditas bernilai ekonomi tinggi dengan pangsa pasar luas. Melalui integrasi teknologi dan manajemen bisnis, UGM berkomitmen mendukung ketahanan ekonomi lokal di Banyuwangi melalui pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Program pemberdayaan dan hilirisasi nilam di Banyuwangi ini merupakan komitmen nyata UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain: SDG 1: Tanpa Kemiskinan (No Poverty) — Membuka peluang peningkatan pendapatan petani melalui penciptaan nilai tambah (hilirisasi) produk pertanian, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth) — Mengembangkan kewirausahaan, memberdayakan masyarakat lokal, dan menciptakan ekosistem bisnis agroindustri yang menggerakkan ekonomi daerah, dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) — Mengedukasi penggunaan teknologi ekstraksi yang tepat guna serta mendorong praktik produksi minyak atsiri yang berkelanjutan. Penulis : Mokhammad Fajar Pradipta Editor   : Mokhammad Fajar Pradipta Foto      : Aldino Javier Saviola

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM

Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu membiayai kuliahnya hingga selesai. Kedua orang tua Silvia, Syarifuddin (45) dan Mufati (45), tak lulus SMA. Tentunya besar keinginan mereka agar anak-anaknya dapat mencapai pendidikan yang lebih baik. Syarifuddin, yang merupakan petani, penghasilannya tak menentu karena bergantung pada cuaca dan hasil panen, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan keluarganya, Silvia tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik. Semangatnya yang gigih dan rasa ingin tahu yang besar ini pun sudah terlihat jelas dari jejak prestasinya selama bersekolah. Selama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonosobo, Silvia menjaga konsistensi prestasi akademik hingga berhasil meraih Penghargaan Khusus OSN-K Bidang Kimia peringkat kedelapan dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya pada tahun 2026. Dari SMP-nya, Silvia pernah menjuarai perlombaan LCC Islami juara 3 dan PBB juara 1 di kabupaten. Ia pun aktif dalam berorganisasi, terbukti dengan jejaknya sebagai koordinator di ekskul Pramuka. Saat SMA, ia pun pernah menjabat sebagai ketua koordinator Fraksi 2 dan juga ketua Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolahnya. Saat menjadi ketua PIK-R, ia menjadi juara satu sebagai PIK-R percontohan 1 Jawa Tengah. Untuk membagi antara kegiatan organisasi dan akademiknya, Silvia memfokuskan energinya pada kegiatannya saat itu. Prestasinya ini tak lepas dari kontribusi lingkungan yang mendukungnya untuk terus melangkah. Lalu ia pun mengejar ketertinggalannya di kelas dengan belajar di rumah saat malam hari dan pada liburan. “Kebetulan kalau di sekolah saya itu dispensasinya mudah gitu ya, Kak. Dan gurunya itu mendukung kita kalau misal dispensasinya itu tentang hal yang positif gitu. Jadi saya juga merasa sangat beruntung karena bisa didukung oleh lingkungannya,” jelasnya, Selasa (28/7). Gadis itu tak menyerah dan terus berusaha untuk mengupayakan mimpinya untuk berkuliah. Kedua orang tuanya pun mendukungnya dengan segenap hati. Meski dalam keterbatasan ekonomi, bukannya menyerah, gadis itu mencari informasi secara mandiri tentang beasiswa. Ia sempat bertanya kepada salah satu temannya yang juga merupakan penerima beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk pelajar. Pilihannya pun jatuh pada BSI Scholarship Unggulan karena beasiswa ini memenuhi kebutuhannya saat kuliah nanti, seperti laptop, uang saku bulanan, dan juga UKT, serta tak kalah penting juga menyediakan pengembangan diri dengan berbagai program leadership dan character building, dan juga kesempatan magang dan mentorship di industri ekonomi syariah. Dengan semangat belajar, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, ia berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ia diterima di prodi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur SNBP. Kini, menjadi calon sarjana pertama di keluarganya terasa bagaikan mimpi bagi Silvia. Ia pun berpesan kepada  semua teman-teman yang mungkin saat ini memiliki kondisi yang sama dengannya, bahwa mereka harus banyak mencari informasi, terlebih dengan kemudahan teknologi dan media sosial yang ada saat ini. Menurutnya, banyak sumber pendanaan dari beasiswa yang mungkin masih tak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Selain itu, ia pun mengingatkan untuk tak berpasrah pada keadaan. "Jangan pernah mengubur mimpimu sebelum bertarung habis-habisan. Menjadi generasi pertama yang kuliah memang berat karena harus membuka jalan sendiri. Namun, ketika kita mendahulukan keluarga dan melangkah dengan ikhlas, pintu yang semula terlihat tertutup dapat terbuka," ujar Silvia. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Silvia

Selengkapnya

UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin 

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat pengembangan riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., mengatakan pengembangan ekosistem AI menjadi salah satu langkah strategis UGM dalam mendorong inovasi, memperkuat kapasitas riset, sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. "Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison," ujar Mardhani dalam seminar seminar UGM AI bertajuk "Riset dengan Artificial Intelligence (AI)" yang digelar di Ruang Multimedia, Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin (27/7). Mardhani mengungkapkan, tim dari Indosat dan NVIDIA sudah beberapa kali melakukan site visit serta evaluasi langsung ke UGM sebelum akhirnya menyatakan UGM memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat kapasitas riset AI di UGM melalui dukungan teknologi NVIDIA.  "Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," jelasnya sembari memaparkan program-program yang telah digulirkan. Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga tengah menyiapkan sejumlah program untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun serta pembentukan Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. "Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” tuturnya. Menurut Mardhani, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan riset AI secara bersama-sama. Ke depan, kata Mardhani, UGM AI juga ditargetkan berkembang menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kolaborasi di tingkat internasional. "Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” pungkasnya. Memasuki diskusi sesi seminar, Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Rimawati, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam mendukung penelitian hukum, khususnya pada tahapan penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan AI. "Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam," ujar Rimawati. Kendati demikian, lanjut Rimawati, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian dan pengorganisasian data hukum. Analisis, penafsiran norma, hingga justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Ia menambahkan, setiap hasil yang diberikan AI harus diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan yang menjadi sumber aslinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keakuratan informasi sekaligus menjaga kualitas dan integritas akademik dalam penelitian hukum. Senada dengan Rimawati, pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM., Guru Besar Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning mampu meningkatkan efisiensi penelitian, dalam hal ini eksplorasi sumber daya mineral serta energi. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan peneliti mengolah data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat sehingga proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat.  “Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya," ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut. Implementasi AI berikutnya dipaparkan oleh Dr. Nur Mohammad Farda dari Fakultas Geografi melalui pengembangan Tech4Disaster, sebuah platform GeoAI yang mengintegrasikan teknologi geospasial, Internet of Things (IoT), big data, citra satelit, drone, dan Artificial Intelligence untuk mendukung seluruh siklus manajemen bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana. Platform tersebut memanfaatkan berbagai sumber data spasial yang diproses menggunakan model AI untuk menghasilkan informasi secara real time, seperti rapid mapping, identifikasi bangunan terdampak menggunakan deep learning, pemetaan kebutuhan masyarakat terdampak, hingga geoportal informasi kebencanaan yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan akurat. Pengembangan Tech4Disaster juga menjadi contoh bagaimana AI dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana melalui kolaborasi antara teknologi, data, dan berbagai disiplin ilmu. Rangkaian presentasi dalam Seminar UGM AI menunjukkan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence di UGM telah berkembang melampaui penggunaan sebagai alat bantu penelitian. Berbagai penelitian yang dipresentasikan memperlihatkan implementasi AI pada beragam bidang strategis, mulai dari hukum, energi, pertanian, kesehatan, hingga kebencanaan. Hal tersebut sekaligus mencerminkan kekuatan UGM sebagai universitas multidisiplin yang mampu menghubungkan keilmuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem inovasi. Melalui kolaborasi bersama Indosat Ooredoo Hutchison dan NVIDIA, UGM tidak hanya memperkuat kapasitas komputasi untuk penelitian, tetapi juga mempercepat lahirnya berbagai inovasi berbasis Artificial Intelligence yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan AI Infrastructure as a Service menjadi fondasi penting bagi pengembangan riset-riset AI di lingkungan UGM sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam membangun ekosistem AI nasional yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berdampak. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

FK-KMK UGM Kembangkan Program Puskesmas Inklusif untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan Primer

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan kegiatan koordinasi dan sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah awal implementasi Program Puskesmas Inklusif bertajuk “FASKES Sahabat Kita Semua”. Kegiatan yang berlangsung pada 27 Juli 2026 di Puskesmas Umbulharjo 1, Kota Yogyakarta, ini bertujuan memperkuat layanan kesehatan primer yang inklusif, ramah, dan bebas stigma, khususnya bagi orang dengan HIV (ODHIV) dan penyintas tuberkulosis (TB), melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, M.A., bersama tim CHBP FK-KMK UGM. Kehadiran tim disambut oleh Kepala Puskesmas Umbulharjo 1, drg. Yunita Haryanti, M.M., didampingi penanggung jawab Program Pencegahan Penyakit Menular dr. Siti Kusdinariyalun Handarumurti, penyuluh kesehatan masyarakat Lany Kurniati, serta Sri Setiari sebagai pelaksana Program Pencegahan Penyakit Menular. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui Program Puskesmas Inklusif, kedua institusi berkomitmen menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih terbuka, menghargai keberagaman, serta memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada seluruh kelompok masyarakat. Setelah bergabung dalam grup WhatsApp, peserta akan mengikuti diskusi reflektif secara berkala sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan mulai Agustus 2026. Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 57 pegawai Puskesmas Umbulharjo 1. Melalui diskusi yang berkelanjutan, peserta diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pelayanan yang telah dilakukan, serta memperkuat kapasitas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih ramah dan bebas stigma. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mubasysyir Hasan Basri menjelaskan bahwa program ini berangkat dari keprihatinan terhadap stigma yang masih dialami oleh ODHIV maupun penyintas tuberkulosis. Menurutnya, stigma tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis individu, tetapi juga dapat menghambat akses terhadap layanan kesehatan, menurunkan kepatuhan berobat, bahkan memperbesar risiko penularan penyakit akibat keterlambatan diagnosis maupun pengobatan. Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif serta peningkatan upaya penanggulangan HIV dan tuberkulosis. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan dalam pelayanan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: Purnama Dewi Siregar).

Selengkapnya

Laboratorium Terpadu FKH UGM Jadi Ruang Belajar Global bagi Peserta International Summer Course untuk Konservasi Satwa Liar

Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) menjadi salah satu sarana pembelajaran dalam rangkaian The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026, pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan bertema “Guardian of Forest Wildlife: Advancing Global Perspective in Wildlife Conservation, Health” ini, menghadirkan pengalaman praktik laboratorium yang memperkaya pemahaman peserta tentang konservasi, kesehatan, dan kesejahteraan satwa liar pada skala laboratorium. Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh 26 peserta dari berbagai negara, antara lain Inggris, Filipina, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, Brunei Darussalam, Sri Lanka, dan Malaysia. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok kecil yang secara bergantian mengikuti pembelajaran di tiga learning station, yaitu Sperm Cryopreservation, Wildlife Parasitology, dan Stem Cell Culture. Setiap learning station diawali dengan materi pengantar oleh para dosen pengampu, kemudian dilanjutkan dengan praktik sederhana yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu kedokteran hewan untuk konservasi satwa liar. Pada station sperm cryopreservation, Dr. drh. Vincentia Yoelinda, M.Si. dan Dr. drh. Berlin Pandapotan Pardede, M.Si., memandu peserta mempelajari teknik uji viabilitas sperma dan memberikan pengantar tentang preservasi semen beku. Peserta mengamati proses handling semen beku serta mengevaluasi kualitasnya menggunakan mikroskop. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya teknologi reproduksi di tingkat laboratorium sebagai salah satu strategi konservasi satwa liar untuk menjaga keberlanjutan populasi satwa liar. Dr. drh. Vika Ichsania bersama asisten laboratorium parasitologi, Fais, memperkenalkan Wildlife Parasitology kepada para peserta. Peserta mengamati preparat berbagai parasit yang dapat menyerang satwa liar, seperti gajah, komodo, dan kerbau. Melalui pengamatan mikroskopis tersebut, peserta diajak untuk memahami pentingnya deteksi dan pengendalian penyakit parasitik dalam mendukung kesehatan satwa serta keberhasilan upaya konservasi di habitat alaminya. Sementara itu, di station stem cell culture, drh. Yudith Violetta Pamulang, M.Sc. dan drh. Irma Padeta, M.Sc., memberikan pengantar teknik dasar kultur sel, memandu praktik penggantian media kultur, serta mengamati pertumbuhan dan morfologi sel punca. Pembelajaran ini memperkenalkan potensi teknologi sel punca sebagai pendekatan inovatif dalam riset biomedis dan konservasi satwa liar di masa depan. Kegiatan yang dikemas secara interaktif ini tidak hanya memperluas wawasan peserta mengenai penerapan ilmu laboratorium dalam kedokteran hewan, tetapi juga mendorong minat mereka untuk terlibat lebih jauh dalam riset konservasi satwa liar. Kegiatan ini terselenggara melalui Program EQUITY (Hibah Inovasi dan Internasionalisasi Akademik Melalui Kursus Singkat Bidang Unggulan Lintas Disiplin), yang diinisiasi oleh Kemdiktisaintek dan LPDP, melalui Direktorat Kemitraan dan Relasi Global Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi lintas negara melalui Summer Course ini diharapkan dapat memperkuat perspektif global dan jejaring akademik dalam menghadapi tantangan kesehatan dan kesejahteraan satwa liar.Pelaksanaan kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Selengkapnya

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

Upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi anak tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Pencegahan sejak usia dini justru menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Gadjah Mada bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar kegiatan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut bagi 71 siswa TK Rumahku Tumbuh, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 26/05/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk membangun kesadaran menjaga kesehatan gigi sejak usia emas pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas staf RSGM UGM, dosen Departemen IKGA FKG UGM, dokter gigi residen, hingga mahasiswa koas. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan di lapangan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan calon dokter gigi yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Setelah itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengidentifikasi kondisi rongga mulut masing-masing. Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi bahan informasi bagi orang tua dan guru sehingga potensi gangguan kesehatan gigi dapat dikenali lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. Secara analitis, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit gigi pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku hidup sehat sejak dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan gigi pada anak maupun orang tua masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Oleh karena itu, sekolah menjadi ruang intervensi yang efektif karena mampu menjangkau anak pada fase pembentukan kebiasaan. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti yang dilakukan RSGM UGM dan Departemen IKGA FKG UGM memperlihatkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, melainkan juga sebagai pusat edukasi masyarakat yang aktif membangun budaya hidup sehat. Ketua tim kegiatan dari Departemen IKGA FKG UGM menyampaikan bahwa pemeriksaan gigi pada anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui identifikasi penyakit. Masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan perilaku hidup sehat. Melalui pemeriksaan dan edukasi yang dilakukan dengan pendekatan ramah anak, kami berharap mereka tidak hanya mengenal dokter gigi sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai sahabat yang membantu menjaga kesehatan. Pengalaman positif seperti ini akan membangun keberanian anak untuk rutin memeriksakan gigi hingga dewasa. Keterlibatan guru dan orang tua merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program promotif. Edukasi kesehatan gigi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Orang tua dan guru memiliki peran penting untuk melanjutkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, mengontrol konsumsi makanan manis, serta memastikan anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat didampingi para guru dan tim pelaksana. Suasana yang komunikatif dan menyenangkan membantu mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan gigi, yang selama ini masih menjadi hambatan bagi banyak anak dalam mengakses layanan kesehatan gigi. Dari perspektif pendidikan kedokteran gigi, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi dan dokter gigi residen. Mereka memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memahami bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari tindakan kuratif, tetapi juga dari kemampuan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak satuan pendidikan. Tantangan kesehatan gigi anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan klinis, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan tumbuh dengan kesehatan gigi dan mulut yang optimal sebagai fondasi kualitas hidup yang lebih baik. (Kontributor: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono)