BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Inovasi Sistem Rumah Pintar Berbasis Photovoltaic, IoT, dan Artificial Intelligence dalam Mendukung Pencapaian SDG 7 dan SDG 9

Upaya akselerasi transisi energi terbarukan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan terus didorong melalui kolaborasi strategis antara institusi pendidikan tinggi dan sektor industri. Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan prototipe Smart-Home Kit berdaya mandiri berbasis teknologi Photovoltaic (PV) yang terintegrasi dengan pemantauan real-time berbasis Internet of Things (IoT) serta analisis data berorientasi Machine Learning. Riset yang dipimpin oleh Dr. Ir. Atikah Surriani, S.T., M.Eng, SMIEEE dan Tim yang terdiri dari Dr. Ir. Fahmizal, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., SMIEEE, Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE, Adlan Bagus Pradana, S.T., M.Sc., Ph.D., Ir. Ma’un Budiyanto, S.T., M.T., IPU dan Ir. Ahmad Adhiim Muthahhari, S.T., M.Eng., IPM., ini berfokus pada efisiensi konsumsi energi skala domestik guna mendukung target Sustainable Development Goals (SDG), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Arsitektur Teknis dan Mekanisme Kerja Prototipe Prototipe yang dikembangkan menggunakan simulasi maket rumah tinggal berkonstruksi atap miring untuk mengoptimalkan sudut tangkap (tilt angle) terhadap radiasi sinar matahari. Sistem daya utama bertumpu pada panel surya polikristalin bertegangan nominal 5 Volt. Energi listrik hasil konversi dialirkan melalui modul pengisi daya (solar charger controller) menuju unit penyimpanan energi. Arsitektur elektronik sistem mengintegrasikan mikrokontroler ESP32 sebagai unit pemroses pusat dan pengirim data. Mikrokontroler ini terhubung dengan modul relai empat kanal yang bertindak sebagai sakelar elektronik untuk mendistribusikan daya ke beban domestic rumah tangga. Guna menjamin akurasi pemantauan parameter listrik, instrumen berupa modul sensor arus dan tegangan INA219 ditempatkan pada dua titik krusial: lini keluaran panel surya dan lini baterai. Data arus, tegangan, serta daya listrik yang terekam dikirimkan secara nirkabel melalui protokol komunikasi data menuju dasbor IoT berbasis web. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem memiliki sensitivitas tinggi dalam merekam fluktuasi daya secara dinamis sesuai pergeseran intensitas radiasi matahari harian. Integrasi Artificial Intelligence untuk Prediksi Energi Selain berfungsi sebagai penyedia daya mandiri (self-powered system), inovasi ini menonjolkan pemanfaatan data lingkungan (environmental telemetry). Parameter suhu, kelembapan udara, dan tingkat intensitas cahaya yang dikumpulkan oleh sistem dimanfaatkan sebagai set data latih (training dataset) bagi algoritma Machine Learning. Model kecerdasan buatan tersebut dilatih untuk melakukan estimasi dan prediksi produksi energi harian secara presisi. Kapabilitas prediktif ini penting dalam manajemen beban listrik (demand-side management), sehingga efisiensi energi pada hunian dapat dioptimalkan secara otomatis berdasarkan estimasi pasokan daya yang tersedia. Analisis Komparatif Teknologi Photovoltaic Penerapan panel jenis polikristalin pada prototipe Smart-home Kit mencerminkan pertimbangan teknis dan ekonomis dalam implementasi teknologi PV. Dalam lanskap material semikonduktor, teknologi konversi fotolistrik terbagi dalam beberapa karakteristik utama: Polycrystalline Silicon (Poly-Si): Diproduksi dari leburan beberapa kristal silikon. Memiliki ciri visual berwarna biru dengan tingkat efisiensi rata-rata 13% hingga 17%. Karakteristik fabrikasinya menjadikan varian ini berbiaya lebih rendah, sehingga ideal untuk aplikasi skala prototipe dan domestik berbiaya terjangkau. Monocrystalline Silicon (Mono-Si): Berbahan dasar kristal silikon tunggal bers purity tinggi dengan tampilan warna hitam gelap. Varian ini menawarkan efisiensi tertinggi (melebihi 20%), ketahanan terhadap suhu tinggi, dan usia pakai (lifespan) hingga 25 tahun, sangat direkomendasikan untuk instalasi dengan keterbatasan luas area atap. Thin Film Solar Cell: Terbuat dari lapisan tipis material semikonduktor seperti silikon amorf, CdTe, atau CIGS pada substrat fleksibel. Memiliki keunggulan dalam bobot yang ringan dan fleksibilitas bentuk, meskipun dengan efisiensi konversi yang lebih rendah, yaitu sekitar 8% hingga 11%. Compound Thin Film Triple Junction: Merupakan struktur multi-lapisan (multi-junction) berteknologi tinggi yang mampu mencapai efisiensi konversi ekstrem hingga 45%. Mengingat kompleksitas dan biaya produksinya, penerapan material ini dikhususkan untuk aplikasi keantariksaan dan satelit. Sinergi antara pemahaman karakteristik material photovoltaic dan penerapan sistem kendali cerdas berbasis IoT/AI ini menegaskan kontribusi sektor akademis dan industri nasional dalam menciptakan solusi energi terbarukan yang terukur, efisien, dan siap diimplementasikan secara luas. Referensi: Green, M. A., Dunlop, E. D., Hohl-Ebinger, J., Yoshita, M., Kopidakis, N., & Hao, X. (2023). Solar cell efficiency tables (Version 61). Progress in Photovoltaics: Research and Applications, 31(1), 3-16 Saga, T. (2010). Advances in crystalline silicon solar cell technology for industrial mass production. NPG Asia Materials, 2(3), 96-102. Luque, A., & Hegedus, S. (Eds.). (2011). Handbook of Photovoltaic Science and Engineering (2nd ed.). John Wiley & Sons

Lanjut Baca

GAMA Rain Filter Turunkan Pengeluaran Air Rumah Tangga di Gunungkidul, Temuan Riset UGM Ungkap Manfaat Ekonominya

Pemanfaatan air hujan melalui teknologi GAMA Rain Filter berpotensi membantu rumah tangga mengurangi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian di Kalurahan Pacarejo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menemukan bahwa pengeluaran air rumah tangga penerima Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) berbasis GAMA Rain Filter mengalami penurunan lebih besar dibandingkan kelompok pembanding. Penelitian berjudul “Dampak Sosial Ekonomi GAMA Rain Filter di Kalurahan Pacarejo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta” dilakukan oleh Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si., Ega Bashiela Hartono, S.E., M.Ec.Dev., dan Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. Kajian ini berlokasi di Padukuhan Banyumanik dan Padukuhan Piyuyon, Kapanewon Semanu, wilayah yang menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan air akibat kondisi geografisnya.   GAMA Rain Filter merupakan teknologi pemanenan air hujan yang menggunakan mekanisme first flush untuk membuang aliran awal air hujan dan penyaringan bertahap. Teknologi ini diterapkan sebagai alternatif sumber air bagi masyarakat. Dalam menilai manfaat ekonominya, tim peneliti mengkaji 72 rumah tangga dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penerapan program. Analisis dilakukan menggunakan metode Difference-in-Differences (DiD) untuk membandingkan perubahan pengeluaran air antara rumah tangga penerima dan kelompok pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran air rumah tangga penerima program turun dari Rp243.088 menjadi Rp60.500 per bulan. Sebagai pembanding, pengeluaran kelompok nonpenerima juga menurun, dari Rp160.263 menjadi Rp119.947 per bulan. Setelah memperhitungkan perbedaan perubahan pada kedua kelompok, analisis menunjukkan penurunan pengeluaran sekitar Rp140.855 per bulan lebih besar pada kelompok penerima. Hasil pengujian dengan pendekatan lain juga menunjukkan pola serupa, memperkuat indikasi bahwa pengurangan beban biaya air merupakan manfaat ekonomi yang paling konsisten teridentifikasi dalam penelitian ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan air hujan berpotensi memberikan manfaat lebih dari sekadar menyediakan sumber air alternatif. Pengeluaran air yang lebih rendah dapat memberi ruang bagi rumah tangga untuk mengalokasikan anggaran pada kebutuhan lainnya. Meski demikian, besarnya manfaat yang dirasakan setiap keluarga dapat berbeda, bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing rumah tangga. Penelitian ini sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya upaya mendukung akses air dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Kajian ini juga relevan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dalam konteks kesejahteraan rumah tangga, meskipun penelitian tidak secara langsung mengukur perubahan kondisi kesehatan masyarakat. Ke depan, pengembangan program pemanenan air hujan perlu disertai pemeliharaan instalasi dan evaluasi berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pengumpulan data sejak sebelum program diterapkan juga penting untuk memperkuat penilaian dampaknya. Pengalaman di Kalurahan Pacarejo dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan solusi pengelolaan air yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses air. Referensi: Castier, M., & de Barros Barreto, P. (2023). Economic attractiveness of domestic rainwater harvesting in Brazilian cities. Discover Water, 3, Article 9. https://doi.org/10.1007/s43832-023-00033-1 Dallman, S., Chaudhry, A. M., Muleta, M. K., & Lee, J. (2021). Is rainwater harvesting worthwhile? A benefit–cost analysis. Journal of Water Resources Planning and Management, 147(4). https://doi.org/10.1061/(ASCE)WR.1943-5452.0001361 Islam, M. R. (2023). Factors influencing economic benefit of rainwater harvesting: An empirical analysis. AQUA—Water Infrastructure, Ecosystems and Society, 72(1), 32–48. https://doi.org/10.2166/aqua.2022.040 Maryono, A., Nuranto, S., Sembada, P. T. S., & Petrus, H. T. B. M. (2022). GAMA-RainFilter: A modified rainwater harvesting technique to meet the demand of clean water in Indonesia. International Journal of Hydrology Science and Technology, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.1504/IJHST.2022.11927   [Red. Dra. Ike Yuli Andjani., M.Si]

Selengkapnya

VKTR dan DTM SV UGM Jajaki Co-Lab Bengkel Perawatan Kendaraan Listrik untuk Pembelajaran Mahasiswa

YOGYAKARTA – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyatakan antusiasmenya untuk membuka kolaborasi dengan Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (DTM SV UGM) dalam membangun laboratorium kolaborasi (co-lab) berupa bengkel perawatan (maintenance workshop) kendaraan listrik di DTM SV UGM. Gagasan ini mengemuka dalam kunjungan VKTR ke DTM SV UGM pada Selasa, 20 Oktober 2026. VKTR diwakili oleh Y. Leonardi, Deputy Vice President, Aftersales & Account Management, dan M. Nurkhozin, Manager, Aftersales & Warranty. Fasilitas ini ditujukan sebagai sarana belajar bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Sarjana Terapan Teknik Pengelolaan dan Perawatan Alat Berat (TPPAB), untuk mempelajari perawatan unit-unit VKTR secara langsung. Calon lokasinya berada di area Laboratorium Perawatan Mesin Industri (Alat Berat) DTM SV UGM, di kompleks Fakultas Teknik UGM, Jalan Grafika, Yogyakarta. Rencana co-lab ini akan dibahas lebih lanjut oleh kedua pihak. Mengapa co-lab bengkel perawatan? Seiring bertambahnya armada bus, truk, dan alat berat listrik VKTR, kebutuhan akan teknisi dan rekayasawan perawatan yang memahami sistem kendaraan listrik juga meningkat. Dengan co-lab bengkel perawatan di DTM SV UGM, mahasiswa dapat berlatih pada unit dan komponen nyata, mulai dari inspeksi berkala, diagnosis sistem kelistrikan dan tegangan tinggi (high-voltage/HV), hingga perawatan sistem rem, suspensi, dan penggerak. Pembelajaran itu berlangsung di bawah standar keselamatan dan prosedur VKTR. Fasilitas ini juga relevan dengan armada yang sudah ada di UGM. Pada Mei 2024, Kementerian Investasi/BKPM menghibahkan tiga unit bus listrik produksi VKTR kepada UGM untuk mendukung mobilitas sivitas akademika dan program kampus hijau. Dalam kunjungan ini, tim VKTR bersama DTM SV UGM meninjau langsung bus listrik VKTR milik UGM beserta stasiun pengisian dayanya. Ke depan, co-lab di DTM SV UGM berpotensi mendukung perawatan unit-unit tersebut sekaligus menjadikannya media belajar mahasiswa. Apa saja yang akan dibahas lebih lanjut? Lingkup co-lab yang akan dijajaki bersama meliputi: Area perawatan kendaraan listrik untuk praktik inspeksi, diagnosis, dan perbaikan unit VKTR. Area pelatihan keselamatan tegangan tinggi (HV safety) bagi mahasiswa, teknisi VKTR, dan guru SMK. Pembelajaran berbasis unit nyata yang terintegrasi dengan Kurikulum 2026 (K26) TPPAB, termasuk magang, capstone project, dan sertifikasi kompetensi. Solution engineering untuk model perawatan dan remanufacturing komponen di bagian purnajual VKTR. Rencana ini sejalan dengan Peta Jalan Keunggulan TPPAB, yang menargetkan hadirnya laboratorium kerja sama industri pada periode 2025–2030. “Kami menyambut baik gagasan co-lab bengkel perawatan di DTM SV UGM. Fasilitas ini dapat menjadi tempat mahasiswa belajar langsung merawat unit-unit VKTR,” ujar Y. Leonardi. Melengkapi langkah DTMI FT UGM Inisiatif ini sejalan dengan penjajakan kolaborasi yang lebih dahulu dilakukan Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM (DTMI FT UGM) dengan PT VKTR Sakti Industries di Magelang pada Juli 2026. Kedua departemen mengambil peran yang saling melengkapi: DTMI FT UGM berfokus pada riset dan pengembangan produk, seperti baterai, sistem pendingin, powertrain, telematika, dan material komposit. DTM SV UGM, melalui TPPAB, berfokus pada operasi armada, perawatan, purnajual, dan penyiapan teknisi bersertifikat. Dengan begitu, UGM hadir di sepanjang siklus hidup kendaraan listrik VKTR, dari rancang bangun hingga perawatan di lapangan. Dukungan terhadap SDGs SDG 4 – Pendidikan Berkualitas: fasilitas praktik perawatan kendaraan listrik untuk mahasiswa vokasi. SDG 7 – Energi Bersih dan Terjangkau: dukungan pada operasi armada listrik yang andal. SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi: teknisi dan rekayasawan perawatan siap kerja. SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur: co-lab industri–kampus sebagai infrastruktur pembelajaran. SDG 11 – Kota dan Permukiman Berkelanjutan: mendukung bus listrik kampus hijau UGM. SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan: kemitraan UGM–VKTR lintas departemen.

Selengkapnya

Fapet UGM dan Pemkab Blora Perkuat Sinergi Pengembangan Ayam Kampung Berbasis Pemberdayaan Peternak

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) bersama Pemerintah Kabupaten Blora terus memperkuat sinergi dalam pengembangan ayam kampung sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan peternak dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Komitmen tersebut ditindaklanjuti melalui pertemuan jajaran Pemkab Blora bersama tim UGM dan Bank Jateng di Fapet UGM, Jumat (23/10). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penjajakan kerja sama yang sebelumnya dirintis untuk mengembangkan potensi peternakan ayam kampung di Kabupaten Blora. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai tantangan di lapangan serta peluang pendampingan yang dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari aspek produksi hingga pemasaran. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fapet UGM, Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., menyampaikan bahwa UGM siap mendukung pengembangan peternakan di Blora melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu. Selain Fapet UGM, kerja sama ini juga melibatkan tim dari beberapa fakultas lain. Menurut Yuny, pendampingan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi ternak, tetapi perlu dirancang secara menyeluruh agar mampu membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. “Fapet bersama tim UGM lainnya siap melakukan pendampingan dan konsultasi pengembangan peternakan dari hulu hingga hilir. Harapannya, pengembangan ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, keberlanjutan program juga perlu mempertimbangkan dinamika anggaran yang dapat mengalami fluktuasi. Oleh karena itu, perencanaan program perlu disusun secara realistis, bertahap, dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat di lapangan. Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Blora, Dasiran, S.Ag., M.Si., menjelaskan bahwa pengembangan potensi peternakan di Blora menghadapi sejumlah tantangan, baik dari aspek lingkungan maupun ketersediaan lahan. Dalam lima bulan terakhir, kondisi cuaca yang relatif kering dan minim hujan turut memunculkan persoalan ketersediaan air bagi masyarakat. Selain persoalan air, penyediaan lahan untuk pengembangan usaha juga tidak mudah, terutama ketika berkaitan dengan pembebasan lahan dan kawasan hutan. Berbagai kendala tersebut membutuhkan perencanaan yang matang serta dukungan lintas sektor agar program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara optimal. Meski demikian, Pemkab Blora tetap berupaya mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan peternak. Selama ini, sektor minyak dan gas bumi menjadi salah satu sumber penghasilan penting bagi Kabupaten Blora sehingga penguatan sektor lain, termasuk peternakan, dinilai perlu terus didorong. Dasiran menilai kolaborasi dengan Fapet UGM dan tim lintas fakultas dapat menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Penguatan Peternak Dimulai dari Kelompok yang Sudah Berpengalaman Dari sisi teknis dan pemberdayaan, peneliti Fapet UGM, Dr. Ir. Heru Sasongko, M.P., menekankan pentingnya merancang program berdasarkan kondisi riil peternak dan pengalaman pelaksanaan program serupa. Ia mencontohkan, program bantuan ternak dan pakan yang pernah dijalankan di salah satu kabupaten belum selalu berhasil mencapai hasil yang diharapkan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa bantuan berupa ternak dan pakan saja tidak cukup apabila tidak disertai penguatan kapasitas, pendampingan, dan kelembagaan kelompok. Menurut Heru, pengembangan ayam kampung di Blora sebaiknya memprioritaskan peternak yang telah memiliki pengalaman beternak. Peternak yang sudah menjalankan usaha diharapkan dapat menjadi fondasi awal pengembangan sekaligus memperkuat keberlanjutan program. Heru juga telah melakukan pendataan terhadap 316 responden peternak sebagai bagian dari upaya memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan peternak. Data tersebut dapat menjadi salah satu bahan untuk menyusun pendekatan pendampingan yang lebih tepat sasaran.   Penulis: Satria

Selengkapnya

Dijaga Matahari, Mengawasi Sepanjang Hari: SV UGM Menghadirkan CCTV Tenaga Surya Bagi Warga Nanggulan

Kulon Progo, Agustus 2026  |  Tim Pengabdian Sekolah Vokasi UGM Selama ini, menjaga keamanan lingkungan di Kapanewon Nanggulan, banyak bertumpu pada ronda malam. Sebagian titik masih kurang aman dan banyak kasus kehilangan peralatan seperti komputer di sekolah-sekolah. Kini, ada “mata” tambahan yang tidak pernah lelah. Di sekolah, pos kamling, hingga gardu RT, kamera pengawas berjaga dengan energi dari panel surya. Sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun di wilayah ini ditangkap pada siang hari dan diubah menjadi listrik, sehingga kamera tetap bekerja tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional. Kamera-kamera tersebut merupakan hasil kerja bersama tim pengabdian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) dan masyarakat Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat SV UGM 2026 berjudul Implementasi Teknologi Tepat Guna Kamera Pengawas untuk Mendukung Keamanan Lingkungan dan Penguatan Kapasitas Masyarakat. Gagasannya sederhana: teknologi tepat guna harus bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga, dan warga sendiri yang mampu merawatnya. Berawal dari kebutuhan warga Semuanya berawal dari koordinasi dengan Pemerintah Kapanewon Nanggulan, mitra program ini. Pihak kapanewon menyambut baik kelanjutan program pengabdian SV UGM yang tahun lalu sudah lebih dulu hadir di Kalurahan Jatisarono. Tim pengabdian yang dipimpin Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas bidang keilmuan di Departemen Teknik Elektro dan Informatika SV UGM. Mereka melakukan observasi lapangan dan berdiskusi dengan perangkat setempat serta warga. Dari observasi dan diskusi itu, titik pemasangan dipilih dengan pertimbangan yang sangat praktis: tingkat kerawanan, kemudahan akses, pencahayaan, ketersediaan ruang untuk panel surya, serta kesiapan warga atau pengelola yang akan menjaganya setelah tim kembali ke kampus. “Teknologi ini tidak hanya kami pasang, tetapi juga kami serahkan pengelolaannya kepada warga. Karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi bagian yang sama pentingnya dengan instalasi.” — Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. Ketua Tim Pengabdian SV UGM Dari sekolah hingga pos jaga Sabtu, 29 Agustus 2026, pekerjaan lapangan dimulai sejak pagi. Ketua tim, Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. Beserta dosen yang lainnya turun langsung bersama tiga mahasiswa, yaitu Satria Bhekti Akhisnu, Da'i Sabili Wahyu Kusumo, dan Rangga Ivan Nugraha. Mereka berpindah dari satu titik ke titik lain sambil membawa tangga, bor, dan kamera. Rute dimulai dari SLB PGRI Nanggulan dan TK PGRI, berlanjut ke Padukuhan Bejaten dan Temanggal, lalu SD Negeri Kalimanggis dan SD Negeri Tanjungharjo, dan berakhir di SD Negeri Wonorejo. Di SLB PGRI Nanggulan, kamera dipasang di bawah atap teras dan pada tiang. Di TK PGRI, kamera menempel di dinding Ruang Kelompok A. Satu per satu, mahasiswa memasang braket, menarik kabel, lalu memasang kamera di tempatnya. Mahasiswa memasang braket kamera di bawah atap SLB PGRI Nanggulan & Kamera pengawas terpasang pada tiang teras sekolah & Kamera di dinding Ruang Kelompok A TK PGRI. Energinya datang dari panel surya kecil yang dipasang di tepi atap menghadap langit, lalu dihubungkan dengan kabel ke kamera. Di setiap titik, tim juga menempelkan stiker “Perhatian: Area Ini Dipantau CCTV 24 Jam” sebagai pengingat bagi siapa pun yang lewat bahwa lingkungan ini dijaga. Panel surya kecil di tepi atap memasok energi bagi kamera & Stiker pengingat bahwa area ini dipantau CCTV 24 jam. Di Padukuhan Bejaten, perangkat dipasang di Pos Satkamling dan Jaga Warga, tempat warga biasa berkumpul dan bergantian berjaga. Panel surya dipasang di bawah atap pos, dan stiker peringatan menempel di dinding anyaman bambu tepat di tempat yang mudah terlihat. Penempelan stiker di Pos Satkamling RT 39 RW 14 Padukuhan Bejaten & Serah terima kamera kepada warga di Pos Satkamling Bejaten. Di setiap lokasi, kegiatan ditutup dengan serah terima kamera kepada warga dan pengelola setempat, sebagai tanda bahwa perangkat kini menjadi tanggung jawab bersama. Di Gardu RT 05 RW 02, kamera dipasang di langit-langit gardu tempat warga biasa berjaga. Serah terima kamera di Gardu RT 05 RW 02 & Serah terima kamera di halaman TK PGRI. Menjelang sore, giliran SD Negeri Kalimanggis. Di bawah papan “Selamat Datang”, mahasiswa naik ke atas tangga untuk memasang kamera di tiang teras. Dengan kamera di sana, bangunan sekolah ikut terpantau, bahkan ketika kelas sudah kosong. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke SD Negeri Tanjungharjo dan ditutup di SD Negeri Wonorejo. Pemasangan kamera di SD Negeri Kalimanggis & Kamera terpasang pada gapura sd. Kehadiran kamera ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SD Negeri Kalimanggis berharap manfaatnya tidak berhenti di satu tahun saja. “Semoga bermanfaat untuk warga dan sekolah. Harapan kami, program ini ada keberlanjutannya di tahun depan.” — Kepala SD Negeri Kalimanggis, Kapanewon Nanggulan Bekal untuk merawat, bukan sekadar menerima Selain memasang perangkat, tim membekali warga dengan pelatihan teknis yang ditujukan bagi perangkat kalurahan, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, kelompok pemuda, dan warga setempat. Bertempat di Kapanewon Nanggulan, materi “CCTV untuk Lingkungan yang Lebih Aman” disampaikan secara interaktif, mulai dari pengenalan energi surya dan prinsip kerja kamera pengawas, cara memantau, hingga perawatan panel surya dan baterai serta penanganan gangguan sederhana. Untuk pegangan setelah tim kembali ke kampus, tersedia modul pelatihan dan SOP penggunaan serta pemeliharaan yang disusun sederhana agar mudah dibaca dan dipraktikkan warga. Tim juga membawa alat peraga sistem tenaga surya sederhana, agar warga bisa melihat langsung bagaimana sinar matahari diubah menjadi listrik, disimpan di baterai, lalu dipakai. Pemaparan materi “CCTV untuk Lingkungan yang Lebih Aman” kepada warga. Rangkaian kegiatan ditandai dengan serah terima perangkat secara simbolis kepada Bapak Drs. Sri Wahyuniarto, M.A. sebagai Camat (Panewu) Nanggulan selaku mitra program, sebagai tanda dimulainya pengelolaan sistem oleh masyarakat bersama pemerintah setempat. Serah terima kamera pengawas tenaga surya secara simbolis kepada Camat Nanggulan. Tim SV UGM bersama warga dan peserta kegiatan “Nanggulan Aman, Terang, dan Berkelanjutan” di Kapanewon Nanggulan. Keamanan yang dijaga bersama Keberlanjutan menjadi kata kunci. Kamera-kamera ini diharapkan dikelola oleh kelompok pengelola lokal yang bertanggung jawab atas operasional, pemeliharaan, dan pelaporan kondisi sistem, sementara pemerintah kalurahan mendampingi lewat koordinasi warga dan dukungan pemeliharaan. Bila berjalan baik, model ini dapat dikembangkan pada titik lain di Kapanewon Nanggulan atau direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Bagi warga, perubahannya mungkin tampak sederhana: sekolah, pos kamling, dan gardu kini memiliki pengawasan tambahan. Namun di baliknya ada langkah menuju permukiman yang aman dan berkelanjutan. Program ini mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui lingkungan yang lebih aman dan nyaman, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan keamanan berbasis komunitas dan kerja sama dengan pemerintah setempat.

Selengkapnya

Modal Rp500 Ribu dari Beasiswa, Mahasiswa UGM Berhasil Bangun Bisnis Ayam Petelur

Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan untuk berusaha. Hal ini dibuktikan oleh seorang mahasiswa UGM yang sukses membangun bisnis ayam petelur berbekal modal dari tabungan beasiswanya. Berbekal tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, ia merintis usaha tersebut di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga berkembang menjadi peternakan mandiri dengan ratusan ekor ayam. Memanfaatkan ilmu pemuliaan ternak yang dipelajari di bangku kuliah, Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, mengembangkan inovasi persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi melalui usaha peternakannya, Bejo Farm. Inovasi persilangan ini berangkat dari pemahaman Anjeli terhadap karakteristik masing-masing jenis ayam. Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur yang tinggi, sedangkan ayam Mardi memiliki postur tubuh lebih besar. Melalui persilangan keduanya, Anjeli berupaya menggabungkan potensi produksi telur dan pertumbuhan tubuh dalam satu keturunan ayam. “Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” tuturnya. Melalui teknik crossbreeding, Anjeli berharap dapat menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan tubuh yang baik untuk dimanfaatkan sebagai ayam potong, sementara ayam betinanya tetap memiliki potensi produksi telur. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pemuliaan ternak yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fapet UGM. Selain mengembangkan persilangan ayam Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. "Saat ini, BejoBejo Farm memproduksi telur sekitar 15–20 butir per hari, didukung puluhan indukan aktif dan anakan hasil penetasan sendiri," dalam keterangannya. Di tengah harga pakan pabrikan yang tengah melonjak, Anjeli memanfaatkan potensi limbah lokal untuk menekan biaya operasional. “Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari," ungkapnya. Tak hanya pakan ternak, Anjeli turut menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih dan daun pepaya. “Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan," jelasnya. Untuk sistem penjualan telurnya, Anjeli menggunakan sistem beli langsung di tempat dan menyediakan pesanan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook. Produk yang ia jual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Dari hasil penjualannya, Anjeli pun mengungkapkan, sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana penerapan ilmu peternakan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha untuk membangun peternakan yang mandiri. Perjalanan Bejo Farm tidak selalu berjalan mulus. Anjeli sempat mengalami kerugian akibat kematian anakan ayam ketika cuaca di Klaten mengalami perubahan ekstrem. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk mengevaluasi sanitasi kandang dan perawatan ternak agar usaha dapat terus berkembang. Anjeli mengungkapkan alasannya membangun usaha Bejo Farm ini. Hanya bermodalkan tabungan beasiswa yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan dana tabungannya untuk mengembangkan usaha dengan mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. “Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli. Bagaimana pun, Anjeli menuturkan tabungan sebagai modal awalnya tidak luput dari penerapan ilmu di Peternakan UGM. “Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” ungkapnya. Melalui Bejo Farm, Anjeli menunjukkan bahwa ilmu pemuliaan ternak dapat menjadi dasar pengembangan inovasi di bidang peternakan. Perpaduan pengetahuan akademik, percobaan persilangan, dan pengelolaan usaha membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi ternak sekaligus membangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Anjeli

Selengkapnya

GAMA Rain Filter sebagai Solusi Alternatif Air di Gunungkidul: Menelusuri Dampaknya terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga

[caption id="attachment_24193" align="aligncenter" width="1024"] Sumber foto: Dokumentasi Penulis 2026[/caption] Keterbatasan akses air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi geografis yang membuat air sulit tersimpan di permukaan maupun di dalam tanah menyebabkan sejumlah wilayah menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari, terutama ketika musim kemarau. Situasi tersebut turut dirasakan oleh masyarakat Padukuhan Banyumanik dan Padukuhan Piyuyon, Kalurahan Pacarejo, yang bergantung pada air hujan dan pasokan air dari truk tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Salah satu upaya yang telah diterapkan untuk menghadapi persoalan tersebut adalah Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) GAMA Rain Filter. Teknologi ini dirancang untuk menampung dan menyaring air hujan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif. Penerapannya di Kalurahan Pacarejo sejak 2023 membuka peluang untuk meningkatkan ketahanan air rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pembelian air dari luar wilayah. Namun, keberadaan teknologi pemanenan air hujan tidak serta-merta menjelaskan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Selain ketersediaan air, penerapan teknologi ini perlu ditinjau dari sisi sosial dan ekonomi, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air, pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan air, serta peluang pemanfaatan air bagi kegiatan produktif. Berangkat dari persoalan tersebut, Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si dari Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada mengkaji dampak sosial ekonomi penerapan GAMA Rain Filter di Kalurahan Pacarejo. Penelitian ini diarahkan untuk memahami apakah pemanfaatan teknologi tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi rumah tangga, baik dalam memenuhi kebutuhan dasar maupun dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Kajian ini juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Ketersediaan air yang memadai merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penelitian ini berkaitan dengan SDG 6, yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak, yang menekankan pentingnya akses air serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Melalui kajian ini, penerapan GAMA Rain Filter diharapkan dapat dipahami bukan hanya sebagai inovasi teknologi untuk menampung air hujan, tetapi juga sebagai upaya yang perlu dievaluasi berdasarkan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemahaman tersebut penting untuk mendukung pengembangan program penyediaan air yang sesuai dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air. Referensi: Campisano, A., Butler, D., Ward, S., Burns, M. J., Friedler, E., DeBusk, K., Fisher-Jeffes, L. N., Ghisi, E., Rahman, A., Furumai, H., & Han, M. (2017). Urban rainwater harvesting systems: Research, implementation and future perspectives. Water Research, 115, 195–209. https://doi.org/10.1016/j.watres.2017.02.056 Leonard, D., & Gato-Trinidad, S. (2021). Effect of rainwater harvesting on residential water use: Empirical case study. Journal of Water Resources Planning and Management, 147(4). https://doi.org/10.1061/(ASCE)WR.1943-5452.0001354 Maryono, A., Nuranto, S., Sembada, P. T. S., & Petrus, H. T. B. M. (2022). GAMA-RainFilter: A modified rainwater harvesting technique to meet the demand of clean water in Indonesia. International Journal of Hydrology Science and Technology, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.1504/IJHST.2022.119272 [Red. Ike yuli Andjani]

Selengkapnya

Gelar Serah Terima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea, Prodi BKK UGM Sekaligus Bagikan Buku Sejarah Korea untuk Angkatan 2026

Yogyakarta, 7 Oktober 2026 – Sebagai wujud apresiasi atas prestasi dan dedikasi akademis mahasiswanya, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea (BKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan acara serah terima beasiswa pada Rabu, 7 Oktober 2026. Acara ini mencakup penganugerahan Beasiswa Komitrando, Beasiswa KAGAMA Korea, sekaligus penyerahan buku Sejarah Korea bagi mahasiswa baru angkatan 2026. Kegiatan dibuka dengan hangat melalui sambutan dari Ketua Program Studi BKK UGM, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan apresiasi dari Ibu Irene selaku perwakilan dari pihak Komitrando. Memasuki agenda inti pertama, sertifikat Beasiswa Komitrando yang berupa bantuan pendidikan diserahkan secara langsung oleh Mr. Ahn Gyeong Hwan, perwakilan Komitrando. Beasiswa ini dianugerahkan kepada dua mahasiswi berprestasi, yaitu: Azzahra Ika Novitasari (IPK 3.68) Allysa Fadhia Pramudita (IPK 3.82) Setelah prosesi penyerahan sertifikat, kedua penerima beasiswa turut menyampaikan kesan dan pesan, serta mengutarakan komitmen untuk terus memaksimalkan potensi akademis mereka berkat dukungan pendidikan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Beasiswa KAGAMA Korea yang diserahkan oleh Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., dan Bapak Andri Saefudin, B.A., M.A.. Pada kesempatan ini, beasiswa dianugerahkan kepada 10 mahasiswa berprestasi Prodi BKK UGM dengan capaian nilai yang sangat membanggakan. Berikut adalah daftar kesepuluh penerima Beasiswa KAGAMA Korea: Rahadita Sekar Dea Alita (IPK 3.71) Layla Maryam Al-Muqaddas (IPK 3.70) Nadya Ammara Naura ADN (IPK 3.69) Nurhalima Ayunda Khoiriyya (IPK 3.79) Carissa Nura Firdaus (IPK 3.76) Salma Hayati Kurniasari (IPK 3.74) Paula Maureen Christella (IPK 3.69) Alvi Aulia Rachmi (IPK 3.97) Claudia Keishia Piji Swastika (IPK 3.92) Baiq Virnieza Muthia (IPK 3.92) Selain penganugerahan beasiswa, acara ini juga memfasilitasi kebutuhan literatur mahasiswa baru. Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D. menyerahkan Buku Sejarah Korea secara simbolis kepada Dylan selaku ketua angkatan, mewakili rekan-rekannya dari angkatan 2026. Kehadiran buku ini ditujukan sebagai bekal ilmu dan referensi berharga bagi perjalanan studi mahasiswa baru ke depannya. Tidak hanya kepada mahasiswa angkatan baru, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D. selaku Kaprodi BKK juga menyerahkan Buku Sejarah Korea kepada pihak Komitrando Mr. Ahn Gyeong Hwan dan Ibu Irene.   Selanjutnya, rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan jajaran dosen, perwakilan KOMITRANDO, penerima beasiswa, serta seluruh angkatan 2026. Selamat kepada para penerima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea! Semoga dukungan ini memberikan manfaat yang besar dan mampu memotivasi seluruh mahasiswa BKK UGM lainnya untuk terus bersemangat menorehkan prestasi cemerlang. Penulis: Salwa Aulia

Selengkapnya

Fornas XVI JKKI 2026 Dorong Revisi UU SJSN dan UU BPJS demi Penguatan Pendanaan Kesehatan

FK-KMK UGM. Transformasi sistem kesehatan membutuhkan napas panjang, tetapi di lapangan banyak pelaku layanan kesehatan justru merasa sesak. Gambaran itu mengemuka dalam Press Conference Forum Nasional (Fornas) XVI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) Tahun 2026 di Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Selasa (20/10). Kegiatan bersama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM ini menjadi pembuka sebelum forum utama digelar pada 21 hingga 22 Oktober 2026. Sumber kesesakan itu adalah pendanaan. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta Indonesia masih sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari Malaysia yang berkisar 4,5 persen dan China yang mendekati 5 persen. Pengeluaran kesehatan per kapita pun baru sekitar 150 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai 480 dolar AS. Akibatnya, pelayanan terhambat, pendapatan tenaga kesehatan belum sebanding dengan tanggung jawabnya, dan mutu layanan ikut menurun. Tekanan serupa dirasakan pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa usulan perbaikan regulasi sebenarnya telah dirumuskan sejak 2019, tetapi terhenti oleh pandemi COVID-19. Kala itu, dana Pemulihan Ekonomi Nasional sempat menghadirkan surplus bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit. “Setelah COVID selesai, … defisit mulai muncul lagi. Jadi ini penyakit lama,” ujarnya. Menurut Prof. Laksono, dampaknya pertama kali terasa di rumah sakit karena pembayaran klaim menjadi lebih lambat. Jika mutu layanan turun, masyarakat yang akhirnya menanggung akibatnya, termasuk harus membayar langsung dari kantong sendiri. “Mutu pelayanan jangan turun,” tegasnya. Ia juga menyoroti manfaat JKN yang lebih banyak dinikmati warga Jawa dan kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan dokter dan rumah sakit. Di tengah tekanan anggaran negara, masyarakat yang mampu pun perlu didorong membeli asuransi swasta agar beban kesehatan tidak bertumpu pada satu sumber. Berangkat dari persoalan tersebut, Fornas XVI mengusung penguatan kebijakan pendanaan kesehatan dan JKN, termasuk dorongan merevisi UU SJSN dan UU BPJS 2011. Selain Prof. Laksono, press conference ini menghadirkan Prof. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes., dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., dan Muhamad Faozi Kurniawan, S.E., MPH. sebagai narasumber. Penyelenggara menargetkan belanja kesehatan naik menjadi 4 hingga 5 persen PDB dalam 10 tahun. Prof. Laksono menyadari peran perguruan tinggi memiliki batas. “Kalau kita perguruan tinggi, kita hanya bisa memberikan data, analisis,” katanya, sehingga organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan media diajak ikut bersuara. Revisi tersebut diharapkan mulai masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2027. Upaya memperkuat pendanaan ini sejalan dengan SDG 3 kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya jaminan kesehatan semesta. Pemerataan manfaat JKN bagi daerah terpencil berkaitan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).  

Selengkapnya

Dari Hobi Jadi Cuan: Kisah Mahasiswi UGM Silangkan Ayam Unggul hingga Cetak Omzet Ratusan Telur

Bermodalkan tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, Anjeli Astriani, mahasiswi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, sukses membangun usaha peternakan ayam organik mandiri bernama Bejo Farm di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Usaha yang berawal dari hobi memelihara ayam ini kini berkembang pesat hingga memiliki ratusan ekor ayam dengan puluhan indukan aktif serta anakan hasil tetasan sendiri. Saat ini Bejo Farm mencatatkan produksi telur harian berkisar antara 15 hingga 20 butir per hari (sekitar 280–392 butir per bulan).   Inovasi Persilangan (Crossbreeding) Ayam Elba dan Mardi Memanfaatkan ilmu Pemuliaan Ternak yang didapat di bangku perkuliahan, Anjeli menerapkan teknik crossbreeding antara ayam jenis Elba (tipe petelur unggul) dan ayam Mardi (tipe pedaging). "Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar," terang Anjeli, Selasa (20/10). Menurut Anjeli, hasil persilangan keduanya melahirkan keturunan dengan keunggulan ganda, yakni  pertumbuhan cepat, postur badan padat sebagai ayam potong, dan keturunan betina yang tetap rajin bertelur, serta memiliki daya tahan tubuh (heterosis) yang lebih kuat terhadap cuaca ekstrem. Selain Elba dan Mardi, Bejo Farm kini juga mengembangbiakkan varietas ayam KUB dan Kuntara 4. Anjeli menjelaskan untuk menekan biaya pakan pabrikan yang terus melonjak, ia memanfaatkan potensi limbah lokal. Pakan harian rutin diberikan dua kali sehari (pagi dan sore) menggunakan racikan bekatul, sisa makanan layak dari hajatan warga, serta potongan buah musiman seperti mangga atau jambu air. Tak hanya pakan, sistem kesehatan ternak di Bejo Farm menerapkan prinsip peternakan organik dengan memanfaatkan bawang putih dan daun pepaya. Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Dosis ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Sementara daun pepaya segar digunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan.   Sistem Pemasaran dan Kelayakan Usaha Pemasaran Bejo Farm dilakukan secara fleksibel, mulai dari pembelian langsung di kandang hingga pesanan online via WhatsApp dan Facebook. Produk yang dijual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Hasil penjualan telur Elba harian terbukti sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Anjeli mengakui meskipun sempat mengalami kerugian di awal rintisan akibat kematian anakan ayam karena cuaca pancaroba Klaten yang ekstrem, ia terus mengevaluasi manajemen sanitasi kandang dan perawatan herbalnya. Ia menegaskan bahwa pencapaian Bejo Farm tidak terlepas dari kombinasi disiplin finansial dan keilmuan Fapet UGM. "Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri," ungkap Anjeli. Melalui Bejo Farm, Anjeli membuktikan bahwa penerapan ilmu Nutrisi Pakan, Pemuliaan Ternak, dan Kesehatan Ternak dapat diterapkan secara praktis serta menguntungkan, sekaligus menjadi inspirasi bisnis berkelanjutan bagi generasi muda.   Penulis: Satria