BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

UGM Bantu 48 Mahasiswa NTT Terdampak Bencana

Universitas Gadjah Mada menegaskan komitmennya untuk memastikan mahasiswa yang terkena dampak bencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dapat melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik di kampus UGM. Untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga dari mahasiswa yang terdampak, UGM menyalurkan bantuan kepada 48 mahasiswa dari NTT. Mahasiswa terdampak bencana ini berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari jenjang program sarjana (S1) sebanyak 6 orang, magister (S2) 33 mahasiswa dan 7 mahasiswa jenjang doktor (S3). Sebelumnya, para mahasiswa terdampak dilakukan melalui proses verifikasi dan validasi. Bantuan yang diberikan meliputi Uang Kuliah Tunggal (UKT) Semester Gasal 2026/2027, uang saku sebesar Rp500.000 per orang selama tiga bulan pada Agustus, September, dan Oktober 2026, serta kupon makan siang gratis untuk periode Agustus–September. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menyampaikan bahwa kondisi bencana tidak semestinya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, UGM berkomitmen untuk hadir bersama mahasiswa, khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit akibat bencana. “Saya prihatin atas situasi ini. Tapi, saya juga berharap upaya saudara-saudara untuk bangkit lebih besar,” ujar Arie, Kamuis (1/10) di Gedung Pusat UGM. Arie menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan kepada mahasiswa terdampak merupakan bentuk kepedulian UGM sekaligus upaya untuk meringankan beban mahasiswa dan keluarga. Selain bantuan dana, UGM juga terus mendorong penguatan pendampingan melalui koordinasi dengan fakultas atau sekolah serta layanan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa tetap memperoleh dukungan akademik dan kemahasiswaan selama menghadapi situasi pascabencana. Kehadiran universitas diharapkan dapat membantu mahasiswa mempertahankan keberlanjutan pendidikan sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk kembali menjalani aktivitas akademik secara optimal. Bagi mahasiswa penerima bantuan, dukungan dari UGM tidak hanya memiliki arti secara material, tetapi juga menjadi bentuk perhatian dan solidaritas dari keluarga besar UGM. Imelda, perwakilan mahasiswa terdampak dari FISIPOL angkatan 2026, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang diberikan UGM kepada mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan. “Saya merasa bahwa UGM bukan hanya tempat kami belajar dan menikmati UGM juga hadir ketika mahasiswanya sedang menghadapi kesulitan,” ungkap Imelda, salah satu mahasiswa asal NTT. Ia menyampaikan bantuan tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa terdampak untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dukungan yang diberikan juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi dan kelak memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya bagi daerah asal mereka di Flores dan Indonesia. “Bantuan ini bagi kami bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan bentuk kepedulian, kekuatan, dan harapan kami untuk terus melanjutkan,” tuturnya. Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, mengatakan penyerahan bantuan ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam mendukung kelanjutan mahasiswa yang terdampak bencana. Melalui bantuan dan pendampingan yang diberikan, UGM berupaya memastikan mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan meskipun menghadapi kondisi sulit akibat bencana. “Mari kita berkomitmen untuk mewujudkan UGM yang inklusif, peduli, dan berkelanjutan,” ujar Hempri. Melalui penyerahan bantuan dan pendampingan tersebut, UGM berupaya memastikan mahasiswa terdampak bencana tetap memperoleh dukungan selama menjalani proses pendidikan. Semangat gotong royong, kepedulian, dan solidaritas diharapkan dapat membantu mahasiswa dan keluarganya menghadapi dampak bencana serta melanjutkan pendidikan mereka. Penulis     : Zabrina Kumara Editor       : Gusti Grehenson Foto         : Donnie

Lanjut Baca

FKG UGM dan RSGM UGM Prof. Soedomo Beri Subsidi Pendidikan untuk Mahasiswa Koas

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada (RSGM UGM) Prof. Soedomo resmi meluncurkan program subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa profesi atau koas (1/10). Langkah strategis ini bertujuan memangkas beban biaya pendidikan klinis yang selama ini ditanggung mandiri oleh mahasiswa. Kehadiran subsidi ini merupakan jawaban atas impian panjang fakultas. Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. menyebut perwujudan program ini sebagai mimpi bersama yang akhirnya terealisasi demi melancarkan pendidikan mahasiswa koas. Kebutuhan subsidi berkaitan dengan adanya perbedaan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi terutama pada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun Bidikmisi. Regulasi pemerintah yang berlaku saat ini hanya memberi bantuan biaya pendidikan hanya pada jenjang S1, sementara tidak untuk jenjang pendidikan profesi. “Untuk saat ini kami anggarkan Rp5 Miliar per tahun untuk memberikan subsidi bagi seluruh mahasiswa koas tanpa terkecuali,” ucap Dekan Suryono. Guna memastikan subsidi tersebut berjalan lancar, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG menyebut 49 mahasiswa penerima subsidi akan diberikan Buku Kendali dan Buku Formularium Alat dan Bahas Koas. Buku Kendali difungsikan sebagai pedoman utama yang memuat seluruh daftar syarat pemenuhan kompetensi (requirement) klinis mahasiswa yang mendapatkan pembiayaan penuh dari program subsidi. Melalui buku ini, setiap tahapan perawatan dan klaim subsidi mahasiswa harapannya dapat tercatat dengan baik. Sementara itu, Buku Formularium Alat dan Bahan Koas berperan sebagai panduan rinci terkait manajemen logistik, kendali bahan, biaya, serta peralatan yang akan digunakan oleh seluruh sivitas hospitalia. "Buku ini kita buat agar semua syarat pemenuhan kompetensi (requirement) yang disubsidi tercantum didalamnya,” kata drg. Rini. Sementara itu, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. selaku Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo memandang peluncuran program pendanaan ini sebagai tonggak sejarah baru bagi kedua institusi. "Ini bentuk komitmen bersama antara FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung seluruh proses pendidikan bagi mahasiswa koas," tegasnya. Ia meminta kepada para mahasiswa koas untuk menghargai perjalanan pendidikan ini dan memperlakukan pasien secara bermartabat dengan menjunjung tinggi mutu keselamatan. Menurut Margareta, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa koas tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Mahasiswa juga harus menanggung biaya kebutuhan saat merawat pasien, dan melalui program ini, institusi ikut meringankan biaya tersebut. Kebijakan subsidi ini mendapat respons positif dari peserta didik. Muhammad Al Fatih Su'aidi, mahasiswa koas angkatan 87, menilai subsidi tersebut meringankan proses pemenuhan kompetensi (requirement). "Subsidi ini sangat bermanfaat bagi kami para peserta didik koas untuk memenuhi requirement. Harapannya semua proses menjadi lebih mudah dan masyarakat bisa lebih terjangkau untuk segera datang berobat ke RSGM UGM," ujarnya. Hal serupa dirasakan Farrel, mahasiswa koas angkatan 91 yang baru dua bulan menjalani pendidikan koas. Ia mengaku terbantu secara finansial dan merasa didukung oleh FKG UGM dan RSGM UGM. “Jadi makin semangat dan termotivasi untuk segera menyelesaikan pendidikan koas, pungkas Farrel. Penulis dan Juru Kamera: Fajar Budi Harsakti

Selengkapnya

Mengenal Human Flourishing, Tujuan Tertinggi Hidup Manusia

Human flourishing merupakan tingkat kesejahteraan secara utuh yang diukur dari kondisi seluruh aspek kehidupan dalam keadaan baik. Saat ini human flourishing menjadi tujuan tertinggi dari kehidupan manusia, dengan harapan seseorang tidak hanya sekadar bertahan hidup, namun benar-benar berkembang dan berkembang dengan baik sehingga manusia tidak hanya berfungsi secara biologis, tetapi juga secara psikologis, sosial, ekonomi, dan spiritual. Dicky Sofjan, M.A., MPP., Ph.D., Dosen Indonesia Consortium for religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, menjelaskan terdapat enam domain kesejahteraan yaitu kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, dan stabilitas finansial. Menurutnya, kepercayaan pada agama turut memberikan peran penting bagi setiap pengambilan keputusan dalam sehari-hari sehingga mempengaruhi tingkat kesejahteraan seseorang. “Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelasnya dalam Public Talk Show  yang bertajuk “Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif” pada Selasa (29/9) di Auditorium SPs UGM. Ia mengutip dari hasil penelitian Global Human Flourishing (GFS) belum lama ini yang menempatkan Indonesia menjadi negara yang paling sejahtera dari 22 negara yang lain. Menurutnya hasil survei ini erat kaitannya dengan kebanyakan responden Indonesia memahami makna kehidupan sesungguhnya serta dipengaruhi oleh hubungan sosial yang erat. Dalam perspektif agama islam, Dosen  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa terdapat beberapa istilah islam yang selaras dengan Human Flourishing seperti insan kamil (keseimbangan antara fisik, akal, sosial, serta hubungan spiritualnya), hayat thayyibah, maslahah (kesejahteraan holistik/martabat), dan tazkiyah an-nasf (penyucian jiwa). Baginya, syarat hidup baik dalam islam dimaknai dengan menggabungkan aspek iman, amal, kebaikan, sabar, memaafkan, serta prinsip maqasidul syariah (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan amal). Sementara itu, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menekankan pentingnya solidaritas terhadap sesama manusia sekaligus solidaritas terhadap bumi, serta mendefinisikan kondisi akhir yang ideal sebagai hidup yang terberkati dalam kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan kosmos. Perwakilan dari Human Flourishing Center UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., memaparkan terkait lima pilar Human Flourishing UGM. Pilar yang dikembangkan meliputi health and wellbeing, justice and equity for business and society, interreligious and intercultural relations, education across the lifespan, integral ecology and sustainability. Tujuan ini untuk membuktikan asumsi kemakmuran finansial yang berbanding lurus dengan kualitas hidup yang lebih baik. “Harapannya kontribusi bapak ibu bisa memunculkan studi yang sesuai dengan keadaan di Jogja,” tuturnya. Samantha Hauw dari Deakin University, Australia memaparkan kesejahteraan dari perspektif industrial dan keasliannya. Meskipun Australia adalah negara makmur, ukuran kesejahteraan tidak terdistribusi merata. Masyarakat adat terus mengalami kerugian sosio-ekonomi akibat dampak kolonisasi dan ketimpangan struktural. Sementara itu, populasi umum menghadapi masalah kesepian, kecemasan iklim, dan degradasi lingkungan. Selain itu, Ia juga menekankan prinsip non-hirarkis bahwa kesehatan manusia bergantung pada kesehatan alam. Konsep ini menawarkan kebebasan yang membebaskan dimana otonomi individu tetap terjaga di dalam jaringan hubungan yang saling bergantung secara mendalam. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok. Sps, Magnific

Selengkapnya

Cara Membangun Ketahanan Mental Anak melalui Dukungan Orang Tua dan Sekolah

Kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya ketika anak sudah menunjukkan masalah. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 4,4 persen anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan yang dapat membantu anak merasa aman, didengar, dan didukung dalam menghadapi berbagai tekanan. Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam sesi “Orang Tua-Sekolah: Support System Pembangun Kesehatan Mental Anak” yang menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM. Sesi tersebut merupakan bagian dari Program Kelas Parenting Online bertema “Rumah sebagai Ruang Aman: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta serta masyarakat umum. Dalam sesi tersebut, Nurul menjelaskan bahwa ketahanan mental bukan berarti anak harus selalu kuat dan mampu menghadapi segala sesuatu tanpa menangis atau mengeluh. “Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengeluh. Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah menangis,” ungkapnya. Menurut Nurul, kemampuan anak untuk bangkit dari kesulitan dapat berbeda-beda karena setiap anak memiliki kondisi dan dukungan yang berbeda. Ada anak yang memiliki lebih banyak orang untuk mendukungnya, sementara anak lain mungkin memiliki support system yang lebih terbatas. Karena itu, orang dewasa perlu melihat kebutuhan setiap anak secara lebih utuh, bukan membandingkan kemampuan mereka dalam menghadapi masalah. Sekolah juga menjadi bagian penting dari lingkungan pendukung tersebut. Anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah, sehingga pengalaman di sekolah turut berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Pada anak usia dini, misalnya, kesiapan untuk bersekolah dapat berbeda-beda. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi dan memastikan bahwa sekolah menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi mereka. Nurul juga mengingatkan bahwa peran orang dewasa tidak hanya sebatas menjadi teladan melalui “Ing Ngarsa Sung Tuladha”, tetapi juga hadir bersama anak melalui “Ing Madya Mangun Karsa” dan memberikan dukungan melalui “Tut Wuri Handayani”. Pada akhirnya, upaya membangun ketahanan mental anak juga dimulai dari orang dewasa yang mendampinginya. “Untuk menjadi orang dewasa yang aman, kita harus bisa menyediakan ruang aman bagi diri sendiri. Mari kita menjadi orang dewasa yang aman untuk diri sendiri dulu, sehingga kita merasa penuh dan dapat menghadirkan ruang yang aman untuk sekeliling kita,” jelas Nurul. Membangun ketahanan mental anak dengan demikian bukan sekadar mengajarkan anak untuk menjadi kuat. Ketahanan tumbuh melalui hubungan yang aman, komunikasi yang terbuka, serta dukungan yang konsisten dari keluarga dan sekolah. Ketika anak memiliki ruang untuk bercerita, menangis, melakukan kesalahan, dan belajar bangkit, orang dewasa membantu mereka membangun bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.

Selengkapnya

Schneider Indonesia Hibahkan Panel Listrik untuk Dukung Pengembangan Fasilitas FT UGM

PT Schneider Indonesia menghibahkan satu unit panel listrik PIX12 2500A kepada Fakultas Teknik (FT) UGM sebagai bagian dari hibah tiga unit panel listrik kepada Universitas Gadjah Mada senilai Rp778 juta. Hibah panel listrik tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan industri terhadap pengembangan sarana kelistrikan di lingkungan UGM. Bagi FT UGM, keberadaan panel PIX12 2500A diharapkan dapat mendukung kebutuhan fasilitas kelistrikan sekaligus menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan riset. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM Arief Setiawan Budi Nugroho, Ph.D., menyampaikan bahwa hibah tersebut sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk terus mengembangkan teknologi dan sarana kelistrikan. “Isu persoalan energi di Indonesia ini sedang umum terjadi sehingga kerja sama ini merupakan wujud dari upaya menjawab persoalan nyata tersebut,” ujar Arief di Gedung Pusat UGM, Jumat (18/9). Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fasilitas kelistrikan di FT UGM, tetapi juga membuka peluang pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, khususnya dalam bidang energi, otomasi, dan teknologi.

Selengkapnya

Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1999 dan 2001 cq. Menteri Sekretaris Negara RI Salurkan Beasiswa Keringanan UKT dan Prasarana Pendidikan

Yogyakarta – Kepedulian alumni terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa kembali diwujudkan melalui program Beasiswa Alumni dan pemberian sarana pendidikan untuk Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Program ini diberikan kepada mahasiswa berprestasi yang juga menghadapi kendala ekonomi akibat perubahan kondisi finansial orang tua atau wali, misalnya meninggal dunia, pensiun, kehilangan pekerjaan atau pemutusan hubungan kerja (PHK), serta penurunan usaha hingga kebangkrutan, serta sarana pendidikan untuk mendukung pendidikan menghadapi persaingan global.Bantuan tersebut merupakan kontribusi alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999 dan 2001, terutama Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia Prasetyo Hadi, S.Hut., M.H. dan Wahyu Fibriyanti, S.Hut., M.Sc., serta Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia  Rohmat Marzuki, S.Hut., beserta dukungan alumni angkatan tersebut. Penerima bantuan beasiswa merupakan mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UGM dari semester 2 hingga semester 14 yang tidak pernah menerima sanksi akademik. Penambahan prasarana pendidikan juga diberikan guna memudahkan transfer ilmu untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja di bidang kehutanan dan lingkungan saat ini. Besaran keringanan UKT yang diberikan berkisar antara 5 hingga 100 persen, sesuai dengan kondisi dan hasil pengajuan masing-masing mahasiswa. Pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, bantuan keringanan UKT disalurkan sebesar Rp. 118.050.000,- kepada 48 mahasiswa. Sementara itu, pada Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027, bantuan sebesar Rp. 137.200.000,- diberikan kepada 47 mahasiswa. Dengan demikian, total bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp. 255.250.000,- dan menjangkau 95 mahasiswa. Dukungan alumni tersebut memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dalam menjaga keberlanjutan studi di tengah perubahan kondisi ekonomi keluarga. Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Sa’duddin, mahasiswa angkatan 2019, yang menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prasetyo Hadi atas bantuan yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan masa studi saya. Semoga di masa mendatang, saya juga bisa menjadi alumni yang berguna bagi adik-adik mahasiswa yang sedang mengemban ilmu di Fakultas Kehutanan UGM.” ungkap Sa’duddin. Manfaat serupa juga dirasakan oleh Muhammad Ramadhan Mahesa Putra, mahasiswa angkatan 2021. “Dengan adanya beasiswa ini saya sangat terbantu untuk bisa menyelesaikan studi saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu alumni terkhusus Angkatan 1999 dan 2001, semoga segala kebaikan Bapak dan Ibu dibalas dengan kebaikan yang berlipat.” tutur Mahesa. Bantuan sarana pendidikan berupa 7 unit Smart Board sebagai sarana penunjang pendidikan diharapkan mampu memudahkan para pendidik dan mahasiswa di Fakultas Kehutanan UGM dalam berdiskusi, transfer knowledge, serta melaksanakan perkuliahan pada berbagai jenjang studi yang ada. Selain keringanan UKT dan sarana pendidikan, dukungan juga diberikan dalam bentuk fasilitas kos gratis bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan tempat tinggal. Rameyza Amani Rizky M. dan Alifia Citra R, mahasiswa angkatan 2024, menjadi 2 orang diantara 6 penerima bantuan kos. Mereka mengungkapkan,“Kami sangat terbantu sekali dengan adanya program kos yang diberikan karena sudah tidak memikirkan lagi terkait biaya kos sehingga kami dapat fokus pada kegiatan akademik dan non-akademik.” Lebih lanjut Rameyza dan Alifia Citra R juga mengapresiasi kualitas fasilitas kos yang dinilainya sangat bagus. Mereka berharap program tersebut dapat terus berlanjut karena menjadi salah satu bentuk dukungan penting bagi mahasiswa yang menghadapi kendala finasial. Melalui program ini, Fakultas Kehutanan UGM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Prasetyo Hadi, S.Hut., M.H. dan Ibu Wahyu Fibriyanti, serta Bapak Rohmat Marzuki, S.Hut. juga para alumni angkatan 1999 dan 2001, atas kontribusi dan kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa dan kampus. Dukungan tersebut menjadi wujud nyata semangat alumni untuk terus terhubung dengan almamater sekaligus membantu generasi penerus dalam melaksanakan dan menyelesaikan pendidikan.   Penulis : Irma Editor : Budi Mulyana

Selengkapnya

Ketika Keilmuan Teknik Pertanian Menjangkau Luar Angkasa, Mahasiswa TPB UGM Terpilih dalam DropTES UNOOSA

Yogyakarta, 24 September 2026 — Keilmuan Teknik Pertanian dan Biosistem tidak hanya berkontribusi pada persoalan pertanian di Bumi, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan teknologi eksplorasi luar angkasa. Hal tersebut ditunjukkan oleh Rendy Dwi Nugraha, mahasiswa Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB), Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) angkatan 2024, yang terpilih sebagai awardee Drop Tower Experiment Series (DropTES) ke-10 dari United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA). Bersama tim lintas disiplin UGM, Rendy akan menguji penelitian mengenai dinamika material granular pada kondisi gravitasi mikro di Bremen Drop Tower, Jerman, pada kuartal pertama 2027. Rendy tergabung dalam tim yang terdiri atas Alessander Reynard Aritonang sebagai Team Leader dari S1 Teknik Nuklir angkatan 2025, Rendy Dwi Nugraha sebagai Team Member 1 dari S1 Teknik Pertanian angkatan 2024, dan Idam Sholikhah sebagai Team Member 2 dari D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol angkatan 2023. Dalam program DropTES, tim tersebut membawa penelitian mengenai dinamika material granular, khususnya untuk mengamati redistribusi pasir silika yang sebagian mengandung air (partially wet silica sand) ketika mengalami guncangan dalam kondisi gravitasi mikro. Eksperimen tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana material granular berperilaku ketika berada pada kondisi gravitasi yang sangat rendah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan teknologi yang mendukung misi eksplorasi antariksa pada masa mendatang, termasuk misi menuju Bulan maupun objek planet lainnya. Kesempatan melakukan eksperimen secara langsung di Bremen Drop Tower menjadi bagian penting dari proses penelitian. Tim tidak hanya mengembangkan rancangan eksperimen, tetapi juga mempersiapkan perangkat dan menjalani proses pengujian teknis sesuai standar yang ditetapkan oleh penyelenggara. Melalui Proses Persiapan dan Critical Design Review [caption id="attachment_15905" align="alignnone" width="768"] Foto Bersama Tim (Kanan ke Kiri): Rendy Dwi Nugraha (Team Member 1 | S1 Teknik Pertanian 2024), Alessander Reynard Aritonang (Team Leader | S1 Teknik Nuklir 2025), dan Idam Sholikhah.[/caption] Program DropTES ke-10 tidak langsung dimulai dengan pelaksanaan eksperimen di Jerman. Tim terlebih dahulu mengikuti rangkaian persiapan dan pengujian teknis yang berlangsung pada Agustus hingga Desember 2026. Dalam fase tersebut, tim akan menjalani proses pengembangan dan penyempurnaan perangkat eksperimen, termasuk Critical Design Review (CDR) bersama pihak UNOOSA dan ZARM. Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan rancangan eksperimen memenuhi persyaratan teknis sebelum digunakan dalam pengujian gravitasi mikro. Pelaksanaan eksperimen di Jerman dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih dua minggu pada kuartal pertama 2027, dengan rencana pelaksanaan pada minggu kedua Februari 2027. Keterlibatan dalam program ini juga mempertemukan mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan. Kolaborasi antara Teknik Nuklir, Teknik Pertanian, serta Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol menjadi bagian dari proses pengembangan eksperimen yang membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari karakteristik material, perancangan eksperimen, hingga instrumentasi dan pengukuran. Ketika Keilmuan Teknik Pertanian Menjangkau Luar Angkasa Bagi Rendy, keterlibatannya dalam riset gravitasi mikro pada awalnya menghadirkan tantangan tersendiri. Riset antariksa kerap dipandang sebagai bidang yang jauh dari Teknik Pertanian. Namun, pengalaman mengikuti DropTES justru menunjukkan adanya keterkaitan antara keilmuan Teknik Pertanian dan kebutuhan penelitian untuk eksplorasi luar angkasa. “Jujur awal mulanya sempat ragu karena riset antariksa sering dianggap jauh dari ranah Teknik Pertanian, tetapi justru keilmuan TPB seperti mekanika tanah, perilaku material granular, dan interaksi fluida sangat krusial dipelajari terutama sebagai fondasi penting bagi pemahaman media tanam untuk space agriculture di masa depan,” ungkap Rendy. Menurutnya, keterlibatan dalam penelitian tersebut menjadi pengalaman yang menunjukkan bahwa keilmuan Teknik Pertanian tidak hanya relevan untuk persoalan produksi pertanian di Bumi. Pemahaman mengenai karakteristik tanah, material granular, serta interaksi antara material dan fluida juga dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi pertanian dalam lingkungan ekstrem. “Pengalaman ini membuktikan bahwa batas ilmu TPB tidak berhenti di bumi saja, melainkan berpotensi dalam aplikasi teknologi eksplorasi luar angkasa,” lanjutnya. Relevansi tersebut semakin terbuka seiring berkembangnya konsep space agriculture, yang membutuhkan pemahaman mengenai media tanam, distribusi material, air, dan lingkungan tumbuh pada kondisi gravitasi yang berbeda dari Bumi. Belajar Membawa Gagasan dari Kampus Menjadi Eksperimen Nyata Bagi Rendy, kesempatan mengikuti DropTES bukan hanya pengalaman melakukan eksperimen di fasilitas gravitasi mikro, tetapi juga menjadi proses pembelajaran mengenai bagaimana penelitian dikembangkan dalam lingkungan kolaborasi internasional. “Terpilih dalam program DropTES dari UNOOSA ini adalah sebuah kesempatan dan tantangan luar biasa bagi saya dan tim. Pengalaman baru yang paling berharga bukan hanya sekadar berkesempatan datang dan menguji riset kami langsung di fasilitas menara drop di Jerman, tetapi juga proses kolaborasi internasional yang kami jalani,” tutur Rendy. Ia menambahkan bahwa proses tersebut memberikan pengalaman dalam memahami standar penelitian antariksa, mulai dari perancangan perangkat eksperimen secara presisi hingga membawa gagasan ilmiah dari lingkungan perkuliahan menjadi eksperimen yang dapat diuji secara langsung. “Dari program ini, kami belajar banyak mengenai standar riset antariksa mulai dari perancangan alat yang presisi hingga bagaimana membawa gagasan ilmiah dari bangku perkuliahan menjadi eksperimen nyata yang berdampak bagi perkembangan ilmu pengetahuan antariksa,” tambahnya. Kolaborasi Internasional untuk Pengembangan Riset Mahasiswa DropTES ke-10 diselenggarakan oleh UNOOSA melalui inisiatif Access to Space for All bersama ZARM University of Bremen dan DLR. Pelaksanaan program juga berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia melalui KBRI/PTRI Vienna. Keterlibatan mahasiswa UGM dalam program tersebut menjadi bagian dari pengalaman akademik dan riset yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dengan ekosistem penelitian antariksa internasional. Bagi Rendy dan tim, rangkaian kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan riset, rekayasa eksperimen, kolaborasi lintas disiplin, sekaligus memahami standar penelitian pada fasilitas pengujian gravitasi mikro. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa TPB FTP UGM menunjukkan bahwa kompetensi Teknik Pertanian dan Biosistem dapat dikembangkan melampaui konteks pertanian konvensional. Pemahaman mengenai mekanika tanah, material granular, interaksi fluida, serta sistem lingkungan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertanian di lingkungan ekstrem, termasuk untuk mendukung visi space agriculture dan eksplorasi manusia di luar Bumi.

Selengkapnya

Magister Teknik Biomedis UGM Gelar Layanan Kesehatan Terpadu bagi Penyandang Disabilitas dan Pendamping

[metaslider id="1524581"] Sedayu, Bantul — Program Studi Magister Teknik Biomedis, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM serta Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Layanan Kesehatan Terpadu untuk Penyandang Disabilitas dan Pendampingnya”. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Rumah Kebugaran Difabel (RKD), Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PKM dan bertujuan memberikan layanan kesehatan terpadu bagi penyandang disabilitas dan anggota keluarga atau pengasuh yang mendampingi mereka. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan gigi, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta pemeriksaan khusus bagi sejumlah penyandang disabilitas berupa pemeriksaan neurologi, fisioterapi, dan survei penggunaan alat bantu. Sebanyak 25 penyandang disabilitas dan 25 anggota keluarga atau pengasuh menjadi sasaran kegiatan. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan peserta sekaligus memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung perawatan dan pendampingan secara berkelanjutan. Ketua PKM, Dr. drg. Anne Handrini Dewi, M. Kes., dari FKG UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta melalui informasi mengenai kondisi kesehatan mereka. “Dari kegiatan ini diharapkan peserta memperoleh informasi terkait kondisi kesehatannya secara langsung. Pemeriksaan gigi, khususnya pada penyandang disabilitas, bermanfaat untuk deteksi dini masalah kesehatan mulut, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas hidup. Selain itu, orang tua atau pengasuh juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Dr. Anne. Selain memberikan layanan pemeriksaan, tim juga memperhatikan aspek perlindungan data dan privasi peserta. Dr. Anne menegaskan bahwa identitas peserta dijamin kerahasiaannya. Publikasi hasil kegiatan hanya akan menggunakan data anonim dan tidak mencantumkan nama maupun identitas pribadi peserta. “Peserta berkewajiban mengikuti aturan kegiatan dan dapat bertanya kepada petugas apabila terdapat informasi atau prosedur yang belum jelas,” tambahnya. Sementara itu, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., selaku Ketua Program Studi Magister Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas bidang keilmuan. Menurut Dr. Rini, kebutuhan kesehatan penyandang disabilitas memiliki karakteristik yang beragam sehingga diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu aspek kesehatan. Kolaborasi antara bidang teknik biomedis, kedokteran, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, neurologi, dan fisioterapi memungkinkan layanan diberikan secara lebih terpadu sesuai kebutuhan peserta. “Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai kebutuhan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan pendampingnya. Kami berharap kolaborasi lintas fakultas dan lintas disiplin seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga hasil pendidikan dan keilmuan di UGM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Rini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM. Tim pelaksana terdiri atas tenaga profesional dan akademisi dari berbagai bidang, antara lain dokter neurologi dan dokter saraf dari FK-KMK UGM, dokter gigi dari FKG UGM, para residen FK-KMK UGM, serta mahasiswa Magister Teknik Biomedis. Keterlibatan berbagai bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan kesehatan terpadu. Selain pemeriksaan, peserta juga memperoleh informasi dan edukasi yang diharapkan dapat membantu keluarga maupun pengasuh dalam melakukan pendampingan kesehatan sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh hibah penelitian SPs ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis : Arni W

Selengkapnya

Tak Cukup Sekadar Berbagi Makanan: FTP UGM dan Foodbank of Indonesia Sepakat Hidupkan Lagi Lumbung Pangan Desa

Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami di Operation Room FTP UGM pada Jumat (25/9), untuk mengembangkan gerakan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta jajaran pimpinan departemen dan dosen. Dari pihak yayasan hadir Ketua Dewan Pembina M. Hendro Utomo, S.S., MBA, Ketua Yayasan Wida Septarina, S.S., M.Si., serta pengurus Foodbank of Indonesia (FOI). Dekan FTP UGM menyambut baik kedatangan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan adanya keberlanjutan dan pengembangan kerja sama yang dilakukan oleh FTP UGM dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. “Kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan bersama masyarakat dengan melibatkan akademisi serta yayasan atau lembaga lain yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu pangan” Ujar Eni. Hendro Utomo menyampaikan bahwa pengalaman FOI selama sekitar 11 tahun menunjukkan pembagian makanan lebih tepat disebut solusi darurat (emergency response) yang belum menyelesaikan persoalan secara struktural. Karena itu, menurutnya organisasi kemanusiaan perlu mendorong masyarakat agar mampu menolong dan memberdayakan dirinya sendiri. Pandangan inilah yang melandasi Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami, yakni menghidupkan kembali ekosistem pangan di desa. Ruang lingkup PKS ini mencakup penelitian dan publikasi mengenai lumbung pangan, pangan lokal, dan budaya pertanian dari sudut pandang ilmu teknologi pertanian, serta hasil riset beragam varietas benih lokal. Kedua pihak juga akan mendampingi pengembangan Lumbung Mustikarasa di Dusun Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dan menyusun buku bunga rampai "Bangkitnya Lumbung Kami". Sebagai sarana kaderisasi dan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa FTP UGM, akan digelar Rembug Pangan Orang Muda. Kerja sama ini turut mencakup inisiasi Pasar Rakyat Mustikarasa, yakni UMKM setempat menampilkan kreasi dan olahan pangan lokal sebagai pengenalan kuliner lokal di lingkungan universitas. Pembahasan juga menyinggung rencana pendampingan petani muda di Sriharjo, Bantul, yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng., dan kelompok Taruna Tani yang mulai memanfaatkan teknologi. Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menilai inisiatif ini berpeluang menjadi flagship program pemberdayaan masyarakat FTP UGM, dengan catatan dampaknya perlu diukur secara konkret pada satu lokasi yang sama dan dapat dikembangkan menjadi policy brief . Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. penulis : Shella Herdanti

Selengkapnya

BAKTI-TB FK-KMK UGM Perkuat Kompetensi Tenaga Kesehatan untuk Mendukung Eliminasi Tuberkulosis

Yogyakarta, 25 Juni 2026 – Penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan kualitas penemuan, diagnosis, dan tata laksana tuberkulosis (TB). Sebagai kontribusi terhadap upaya tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan BAKTI-TB (Bangun Kompetensi Tenaga Kesehatan Indonesia untuk Tuberkulosis) pada Kamis (25/6) di Auditorium FK-KMK UGM. Kegiatan ini diikuti oleh dokter dan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) di fasyankes, serta perwakilan Dinas Kesehatan. BAKTI-TB merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Dana Masyarakat FK-KMK UGM Tahun 2026 yang dilaksanakan melalui kolaborasi Departemen Mikrobiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, serta Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH) FK-KMK UGM bersama Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai mitra. Kolaborasi lintas disiplin tersebut dirancang untuk mempertemukan aspek diagnostik laboratorium, tata laksana klinis, dan perspektif kesehatan masyarakat dalam pengendalian TB. [caption id="attachment_6628" align="aligncenter" width="800"] Keynote speaker dari dinas kesehatan provinsi DIY[/caption] Rangkaian kegiatan diawali dengan keynote speech dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memaparkan situasi serta tantangan pengendalian TB di DIY. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi penting mengingat keberhasilan program TB tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pemeriksaan dan terapi, tetapi juga oleh kemampuan tenaga kesehatan dalam memastikan kualitas spesimen, memilih dan menginterpretasikan pemeriksaan, menentukan tata laksana yang tepat, serta menindaklanjuti pasien dalam sistem pelayanan kesehatan. Keterlibatan Dinas Kesehatan DIY juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendukung upaya eliminasi TB. Pada sesi pertama, pembelajaran difokuskan pada aspek pemeriksaan dan pelayanan laboratorium TB. Sesi yang dimoderatori oleh Dr. dr. R. Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech., Sp.MK(K) tersebut menghadirkan dr. Citra, dr. Domas Fitria W., Sp.MK, dan Linda Oktabriana, S.Si. sebagai narasumber. Pembahasan mencakup tahapan penting dalam pelayanan laboratorium, mulai dari aspek pra-analitik, handling dan transportasi spesimen, hingga best practices dan troubleshooting pemeriksaan TB berdasarkan pengalaman Laboratorium TB FK-KMK UGM. Diskusi interaktif juga membuka ruang bagi peserta untuk menyampaikan berbagai kendala yang ditemui dalam pelayanan TB di fasilitas kesehatan masing-masing. Sesi berikutnya mempertemukan perspektif diagnostik mikrobiologi dan tata laksana klinis. Dipandu oleh dr. Edwin Widyanto Daniwijaya, Sp.MK, Ph.D., sesi ini menghadirkan Prof. dr. Titik Nuryastuti, M.Si., Ph.D., Sp.MK(K) yang membahas pemeriksaan mikrobiologi untuk penegakan diagnosis TB di fasilitas pelayanan kesehatan. Perspektif klinis disampaikan oleh dr. Nur Rahmi Ananda, Sp.PD. K-PMK, FINASIM melalui pembahasan mengenai penegakan diagnosis dan tata laksana TB serta multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB). Integrasi kedua perspektif tersebut menekankan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium perlu dipahami sebagai bagian dari rangkaian pengambilan keputusan klinis sehingga diagnosis dan terapi pasien dapat dilakukan secara tepat. Penguatan pembelajaran dilanjutkan melalui kunjungan edukatif ke Laboratorium TB FK-KMK UGM, salah satu laboratorium rujukan nasional TB. Peserta diperkenalkan dengan alur pemeriksaan dan praktik laboratorium serta berbagai best practices yang diterapkan dalam menjaga kualitas pemeriksaan TB. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan konsep yang telah dibahas selama sesi seminar dan diskusi dengan implementasinya di laboratorium. [caption id="attachment_6629" align="aligncenter" width="800"] Kunjungan edukatif ke LB TB FKKMK UGM[/caption] BAKTI-TB dirancang sebagai program pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan dan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan klasikal. Penguatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi tahap awal yang selanjutnya dapat dikembangkan melalui pendampingan fasilitas pelayanan kesehatan, penguatan jejaring layanan TB, serta pemanfaatan data epidemiologi untuk mengidentifikasi kebutuhan intervensi di masing-masing wilayah. Pendekatan ini diharapkan dapat menjembatani penguatan kapasitas individu tenaga kesehatan dengan peningkatan mutu pelayanan TB secara lebih luas. [caption id="attachment_6630" align="aligncenter" width="800"] Foto bersama BAKTI-TB dengan seluruh peserta[/caption] Melalui kolaborasi FK-KMK UGM, Dinas Kesehatan DIY, serta tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, BAKTI-TB diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas diagnosis dan pelayanan TB di Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus mendukung upaya menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis (TB-End). Kegiatan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being, melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan TB; SDG 4: Quality Education, melalui pendidikan dan pengembangan kompetensi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan; serta SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan tenaga kesehatan dalam upaya eliminasi tuberkulosis. Oleh: Ayu R