BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Tim Sekolah Vokasi UGM Kembangkan PathoCODE, Bantu Calon Perekam Medis Hindari Salah Kode Klaim JKN

(SLEMAN) Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan PathoCODE, media pembelajaran digital untuk kodifikasi penyakit pernapasan dan penetapan severity level dalam sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBG). Pengembangan dilakukan pada April hingga Oktober 2026 di Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM, melalui Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 skema kompetitif. Penelitian diketuai oleh Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH dan beranggotakan Dr. Savitri Citra Budi, S.KM., M.P.H., Nuryati, S.Far., M.P.H., dan Sugeng, S.KM., M.M. dari Sekolah Vokasi UGM, Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc. dari Departemen Parasitologi FK-KMK UGM, serta tiga mahasiswa MIK, yaitu Khodijah Aulia, Nasywa Natania Ramadhani, dan Rifka Aulia Rizki. Pembangunan platform dilakukan bersama mitra PT Lentera Amartha Berdaya. [caption id="attachment_1762" align="alignnone" width="600"] Infografis riset PathoCODE: permasalahan kodifikasi, enam modul belajar, hasil uji coba pada 48 mahasiswa, dan kolaborasi pengembangan. (Foto: Dok. Tim Peneliti PathoCODE)[/caption] Ketepatan kodifikasi diagnosis dan tindakan menjadi kunci dalam pembayaran rumah sakit pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam sistem INA-CBG, setiap episode rawat inap dikelompokkan berdasarkan diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan tindakan. Kode diagnosis sekunder yang tergolong komorbiditas atau komplikasi menentukan severity level 1, 2, atau 3 beserta besaran tarifnya. Studi di Malaysia mencatat 89,4 persen rekam medis yang diaudit memuat setidaknya satu kesalahan kode, dan diagnosis sekunder menjadi unsur yang paling sering keliru. Kondisi serupa dilaporkan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Pengembangan PathoCODE bertujuan menyediakan media yang memadukan materi klinis, kodifikasi, dan simulasi severity level dalam satu tempat, sehingga mahasiswa dapat berlatih penalaran koding sebelum terjun ke rumah sakit. Pengembangan PathoCODE mengikuti model ADDIE yang terdiri atas tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap analisis, tim mengkaji capaian pembelajaran mata kuliah kodifikasi dan pedoman INA-CBG dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2021. Tahap desain dan pengembangan dikerjakan bersama PT Lentera Amartha Berdaya dan menghasilkan lima versi aplikasi yang ditelaah secara internal oleh tim. Seluruh kode diselaraskan dengan ICD-10 versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan INA-CBG, bukan versi modifikasi klinis Amerika Serikat (ICD-10-CM). Tahap implementasi dan evaluasi dilaksanakan melalui uji coba kepada mahasiswa MIK pada September–Oktober 2026. PathoCODE memiliki enam modul utama. Modul anatomi–patologi menampilkan sepuluh area saluran napas yang dapat diklik dan memetakan 57 kode penyakit J00–J18. Modul triase gejala membantu menelusuri kemungkinan diagnosis beserta kodenya. Modul alur pembelajaran tujuh langkah membahas sepuluh penyakit utama, mulai dari anatomi hingga INA-CBG. Simulator severity level memperlihatkan perubahan tingkat keparahan secara langsung ketika kode CC atau MCC ditambahkan. Aplikasi juga dilengkapi bank soal kasus serta referensi berupa tabel 145 kode ICD-10, panduan INA-CBG, dan glosarium 32 istilah. Aplikasi dapat diakses melalui peramban di laptop maupun ponsel pada alamat https://pathocode.jasoet.co. “Kolaborasi lintas bidang ilmu membuat materi klinis dan materi kodifikasi dapat disusun secara utuh. Mahasiswa dapat melihat letak penyakit, perjalanan klinisnya, hingga dampaknya pada pengelompokan kasus," ujar Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc., dosen Departemen Parasitologi FK-KMK UGM. "Kesalahan koding yang tidak terlihat dapat berdampak pada klaim rumah sakit. Melalui PathoCODE, kami ingin mahasiswa terbiasa mengode apa yang terdokumentasi dan mendokumentasikan apa yang dikerjakan," tutur Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH. Penelitian ini menghasilkan beberapa luaran. Luaran pertama adalah aplikasi PathoCODE yang telah diuji coba oleh 48 mahasiswa, dengan penilaian kelayakan media sebesar 81,4 persen atau kategori sangat layak. Luaran kedua adalah instrumen evaluasi yang mengukur kompetensi kodifikasi, kegunaan, dan kualitas media. Luaran berikutnya adalah naskah artikel ilmiah yang sedang disiapkan untuk jurnal internasional, serta rencana pendaftaran hak cipta atas aplikasi. Hasil uji coba juga memetakan bagian yang masih perlu diperkuat, terutama pemahaman mahasiswa dalam membedakan kode CC dan MCC. Riset ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target cakupan kesehatan semesta, melalui penguatan kompetensi tenaga pengelola informasi kesehatan yang menopang ketepatan pembiayaan JKN. Riset ini juga mendukung SDG ke-4, Pendidikan Berkualitas, melalui media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan dengan PT Lentera Amartha Berdaya. Ke depan, tim peneliti akan menyempurnakan PathoCODE berdasarkan masukan pengguna dan telaah ahli koding, termasuk validasi oleh koder praktisi rumah sakit dengan target skor validasi minimal 80 persen serta pencocokan dengan aplikasi grouper INA-CBG resmi. Tim juga merencanakan perluasan materi ke bab ICD-10 lainnya serta persiapan menghadapi penerapan ICD-11. PathoCODE diharapkan dapat menjadi sumber belajar pendamping bagi mahasiswa perekam medis dan informasi kesehatan, sekaligus mendukung upaya peningkatan mutu data klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Akses PathoCODE: https://pathocode.jasoet.co (dapat dibuka melalui peramban di laptop maupun ponsel)

Lanjut Baca

Dukung Program Pendampingan Ibu Hamil, Dosen HBES FK-KMK UGM Bekali Mahasiswa Kebidanan dengan Teknik Konseling

Yogyakarta, 21 Agustus 2026 — Kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam pendampingan ibu hamil di Daerah istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menyampaikan informasi kesehatan, tenaga pendamping juga perlu membangun hubungan saling percaya agar ibu hamil mampu memahami kondisi dan mengambil keputusan terkait kesehatannya secara mandiri. Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes. dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dalam kegiatan Pembekalan Pendampingan Ibu Hamil yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan pembekalan dilaksanakan pada 18–21 Agustus 2026 di Gedung Radya Suyoso BAPPERIDA dan Gedung Wisanggeni/Unit 8 Biro Umum, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Dinas Kesehatan DIY dengan institusi pendidikan kebidanan di DIY untuk mempersiapkan mahasiswa sebelum terlibat dalam pendampingan ibu hamil, nifas, dan bayi baru lahir. Dalam sesi bertajuk “Teknik Konseling dengan Komunikasi Antar Pribadi (KAP)”, Bu Supriyati membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan dasar konseling yang dapat diterapkan dalam interaksi dengan ibu hamil. Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai konseling, meningkatkan keterampilan melakukan konseling, sekaligus membangun self-efficacy dalam memberikan pendampingan. Bu Supriyati menekankan bahwa konseling ibu hamil bukan sekadar memberikan nasihat. Konseling merupakan proses membangun hubungan saling percaya sehingga ibu hamil dapat lebih mandiri dalam mengambil keputusan terkait kesehatannya. Pendekatan komunikasi antar pribadi juga perlu berpusat pada kebutuhan ibu hamil, menjaga kerahasiaan, tidak menghakimi, serta menghargai nilai sosial dan budaya yang dianut. Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai keterampilan komunikasi, seperti membuka diri, mendengarkan, bertanya, memperhatikan komunikasi nonverbal, serta melakukan konfirmasi atau feedback. Keterampilan tersebut menjadi dasar untuk menciptakan komunikasi yang efektif dan membantu ibu hamil merasa nyaman dalam menyampaikan kebutuhan maupun permasalahannya. Untuk memperkuat pemahaman, pembekalan dilanjutkan dengan praktik Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Mahasiswa berlatih melalui sejumlah studi kasus, mulai dari ibu hamil dengan keluhan mual muntah, perencanaan persalinan, hingga keraguan dalam memberikan ASI eksklusif. Melalui praktik tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari cara menyampaikan informasi, tetapi juga berlatih memvalidasi emosi, menggali kebutuhan, menguraikan pilihan, serta membantu ibu hamil mengambil keputusan. Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan DIY untuk memperkuat pendampingan ibu hamil sebagai strategi penurunan kematian ibu dan bayi. Pendampingan yang dilakukan secara intensif diharapkan dapat mendukung deteksi dini faktor risiko, pemantauan kepatuhan terhadap pengobatan, pendampingan psikososial, edukasi kesehatan, serta penguatan dukungan keluarga. Pembekalan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being yang menekankan pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan anak serta akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penguatan kemampuan komunikasi dan konseling bagi calon pendamping diharapkan dapat mendukung upaya promotif dan preventif, deteksi dini faktor risiko, serta peningkatan kualitas pendampingan selama kehamilan hingga masa setelah persalinan. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 4: Quality Education melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan praktis mahasiswa agar memiliki kompetensi yang relevan dalam memberikan pendampingan kesehatan berbasis kebutuhan masyarakat.  Melalui penguatan keterampilan konseling dan komunikasi antar pribadi, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang lebih komprehensif untuk menjalankan peran pendamping. Pendekatan yang komunikatif, empatik, dan berpusat pada ibu hamil diharapkan dapat mendukung terciptanya pendampingan yang berkualitas, berkesinambungan, dan sesuai dengan kebutuhan ibu serta keluarganya. Penulis : Zilfani Fuadiyah Haq Editor : Ari Prayogo Pribadi  

Selengkapnya

130 Peserta Ramaikan Tenis Kagama Cup, Jadi Ajang Reuni sekaligus Unjuk Kebolehan

Sebanyak 130 peserta mengikuti Turnamen Tenis Kagama Cup di GOR Lembah Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 17–18 Oktober, turnamen tahunan yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) ini memasuki penyelenggaraan ke-XIX dan menjadi ajang silaturahmi bagi alumni UGM melalui olahraga tenis. Dalam pembukaannya, turut dihadiri oleh Ketua Senat Akademik UGM, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. Seremoni pembukaan turnamen ini turut dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, dan Ketua Dies Natalis ke-77 UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku ketua panitia, mengatakan bahwa kompetisi ini berawal dari keinginan alumni untuk berkumpul dan bermain tenis bersama. Kemudian, dikembangkan menjadi sebuah kompetisi agar lebih menarik dan meriah. “Kalau konteksnya pasti selalu reuni. Reuninya (dibarengi dengan) main tenis. Kalau cuma reuni main tenis, itu kurang gayeng, maka diadakanlah turnamen,” ujar Wikan. Wikan menjelaskan turnamen ini bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan pemenang sampai podium saja, melainkan tim yang menang akan menjadi delegasi tim tenis dari Kagama untuk berkompetisi antarikatan/keluarga alumni universitas di Indonesia. “Kalau jajaran pemenang, biasanya kita masukkan ke tim Kagama yang bertanding melawan keluarga alumni kampus lain. Jadi, kompetisi itu memang ada setiap tahun. Ini (KAGAMA CUP) tiap tahun, yang itu juga tiap tahun,” ungkapnya. Direktur Kemahasiswaan Hempri Suyatna menyampaikan turnamen Tenis Kagama Cup merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara UGM dan keluarga alumni. Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan olahraga, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama dalam berbagai kegiatan lainnya. “Saya kira kolaborasi ini tidak hanya berhenti di lapangan tenis, tetapi juga dalam berbagai bentuk kegiatan yang lain,” ujar Hempri saat membuka KAGAMA Tennis Cup 2026. Ketua Panitia Die Natalis UGM, Siti Murtiningsih juga menyampaikan ucapan selamat bertanding kepada para peserta dan harapan agar turnamen ini dapat terus diselenggarakan dan menjadi ajang silaturahmi. “Menurut saya, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi yang harus terus kita jaga dan rawat. Pertandingan hari ini bukan semata-mata tentang menang atau kalah, melainkan menjadi ruang untuk menjalin silaturahmi dan mempererat persaudaraan,” tuturnya. Wira, selaku Bendahara Tenis Kagama Cup 2026, menjelaskan bahwa turnamen tahun ini mempertandingkan tiga kategori, yakni kelompok usia 65 tahun ke atas (KU 65), 55 tahun ke atas (KU 55), serta kategori jumlah usia pasangan 85 tahun (KU 85). Ia mengatakan, turnamen berlangsung selama dua hari dengan sistem pertandingan yang berbeda pada setiap harinya.“Jadi, kita sistemnya hari pertama itu sistem grup. Satu pemain bisa main tiga sampai empat kali. Baru di hari kedua kita mulai masuk 16 besar. Nah, itu kita baru mulai masuk sistem gugur,” jelas Wira. Dalam pelaksanaannya, panitia menggunakan empat lapangan outdoor di UGM dan empat lapangan indoor di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mengakomodasi jumlah pertandingan. Sementara itu, pertandingan semifinal dan final dari ketiga kategori dijadwalkan berlangsung di GOR Lembah UGM pada hari kedua turnamen. Wira juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini menghadapi tantangan dalam mencari sponsor di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif. Meski demikian, dukungan dan semangat kebersamaan para peserta membantu turnamen tetap terlaksana.“Tantangan untuk tahun ini memang cukup tricky untuk mencari sponsor karena kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, dengan keguyuban peserta dan semboyan kami, ‘dari peserta untuk peserta’, kami mencoba bersama-sama. Ada yang mendukung bola, konsumsi, pertandingan, dan sebagainya,” ungkapnya. Manfaat Kagama Tennis Cup juga dirasakan langsung oleh peserta. Ringgo, anggota Kagama sekaligus mahasiswa Magister Manajemen UGM angkatan 2021, mengatakan bahwa turnamen ini menjadi salah satu agenda yang dinantikan setiap tahun karena mempertemukan alumni dengan latar belakang dan profesi yang beragam. “Event tahunan ini salah satunya untuk bersilaturahmi, khususnya insan tenis alumni UGM. Alumni-alumni yang bekerja di Jakarta maupun di luar Jawa bisa berkumpul setahun sekali untuk acara tenis. Namun, tidak hanya tenis saja, kita juga menyambung silaturahmi,” ujar Ringgo. Baginya, nilai utama turnamen ini bukan terletak pada besarnya hadiah atau kemeriahan acara, melainkan pada kesempatan untuk menjaga hubungan antar alumnus. Pertemuan tersebut bahkan dapat membuka peluang baru melalui pertukaran informasi dan pengalaman. “Kita tidak berharap hadiahnya lebih besar atau hospitality-nya seperti apa. Konsep utamanya adalah untuk menyambung silaturahmi,” tuturnya. Ringgo berharap turnamen antar alumni UGM dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. “Keberlanjutan kegiatan ini penting agar para alumni tetap memiliki ruang untuk bertemu, berolahraga, dan memperkuat jejaring,” pungkasnya. Disela kegiatan turnamen, Akhdiyat Duta Modjo, vokalis band Sheila on 7 sempat hadir menyaksikan langsung. Meski tidak ikut bertanding, Duta, demikian ia akrab disapa, sengaja menyaksikan sahabatnya yang merupakan teman satu angkatan saat kuliah di FTP UGM ikut bertanding. Apalagi belakangan ini Duta memiliki hobi main tenis lapangan dengan jadwal rutin latihan dua kali seminggu. Penulis    : M. Aidil Syahputra Editor      : Gusti Grehenson foto       : Aidil, Dok. Komunitas Tenis UGM

Selengkapnya

Perkuat Implementasi Program Double Degree dan Joint Degree, UGM dan LPDP Gelar Diskusi Evaluasi dan Sinergi Beasiswa

Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar forum diskusi dan evaluasi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperkuat implementasi serta optimalisasi program Double Degree (DD) dan Joint Degree (JD) di Ruang Pertemuan Utama Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM (1/10). Acara yang dihadiri oleh Direktur LDPD, Direktur Kerjasama dan Relasi Global, Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran,  Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Kerjasama serta para Ketua Program Studi Doktoral Penyelenggara Program DD/JD di lingkungan UGM ini bertujuan untuk memetakan tantangan administrasi, juga memperluas cakupan kerja sama internasional, serta menyelaraskan skema pembiayaan beasiswa untuk meningkatkan daya saing akademik dan riset mahasiswa UGM di tingkat global. Dalam evaluasi strategis implementasi program DD/DJ yang disampaikan oleh pihak UGM diwakili oleh Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., dan Direktur Kemitraan, Alumni, dan Urusan Internasional UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., menyoroti tren pertumbuhan pendaftar program gelar ganda dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah kendala teknis dan administratif masih ditemukan, terutama pada tahap perolehan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas mitra serta sinkronisasi data pada sistem informasi akademik. UGM menetapkan beberapa langkah strategis untuk mengatasi hambatan tersebut”, terang Sigit. Di antaranya yakni penyelarasan persyaratan admisi dengan mewajibkan pengelola program studi menyusun dan menyerahkan daftar persyaratan kesepakatan antara pendaftaran dan lembaga pemberi beasiswa untuk diunggah secara terintegrasi pada sistem admisi. UGM juga mendorong perlunya peran aktif program studi dan pembimbing untuk menghubungkan calon mahasiswa dengan calon pembimbing di universitas mitra sejak dini, terutama untuk jenjang doktoral. Langkah strategis lainnya yaitu melalui peningkatan sinergi dengan perguruan tinggi mitra luar negeri melalui kegiatan sosialisasi bersama serta menegosiasikan skema pembebasan atau pemotongan biaya pendidikan (tuition fee waiver/discount) guna membuka peluang skema pendanaan bersama (co-funding). Direktur Beasiswa LPDP, Ir. Dwi Larso, M.Sc., Ph.D menguatkan komitmen LPDP bahwa dana abadi pendidikan yang dikelola LPDP terus mengalami peningkatan pesat. ”LPDP secara konsisten berkomitmen memaksimalkan alokasi dana untuk pengiriman mahasiswa ke perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri”, jelasnya. Dwi Larso juga menerangkan beberapa poin penting komitmen dan arah kebijakan LPDP yang mengemuka dalam diskusi tersebut di antaranya melakukan peningkatan alokasi program doktoral. Dalam hal ini, LPDP meningkatkan porsi penerima beasiswa program doktoral dari yang semula seperempat menjadi sepertiga dari total alokasi penerima beasiswa. ”Kami tingkatkan porsinya dari seperempat menjadi sepertiga”, tegasnya. Diungkapan Dwi Larso bahwa fokus pendanaan akan diprioritaskan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). “Mayoritas penerima beasiswa dialokasikan untuk bidang STEM guna mendukung kebutuhan industri nasional dan kemandirian teknologi”, jelasnya. Dwi Larso menambahkan bahwa LPDP juga terus mendorong mekanisme pembiayaan bersama dengan institusi luar negeri maupun instansi pemerintah/daerah untuk melipatgandakan kapasitas penerima beasiswa melalui dukungan skema co-funding. Selain itu, penyederhanaan persyaratan bahasa juga menjadi salah satu komitmen yang mengemuka dalam diskusi tersebut. “LPDP melakukan evaluasi kebijakan persyaratan sertifikat bahasa di awal pendaftaran agar tidak membebani calon pendaftar secara finansial, dengan menyerahkan kriteria kemampuan bahasa pada standar pengujian masing-masing universitas tujuan”, terangnya. Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif yang menyoroti berbagai isu praktis dari para pengelola prodi, seperti kuota penerimaan mahasiswa internasional, kerja sama spesifik perguruan tinggi mitra antara lain Utrecht University dan Groningen University, termasuk penanganan keterlambatan masa studi, hingga fleksibilitas proses seleksi bagi pendaftar berkebutuhan khusus (difabel). Pihak LPDP menyambut baik masukan tersebut dan berjanji akan terus melakukan penyempurnaan pada kriteria wawancara, mekanisme pendampingan, serta memperluas koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait. Diharapkan sinergi kuat antara UGM dan LPDP mampu memperluas akses civitas akademika UGM terhadap program pendidikan berkualitas internasional. ”Dengan tata kelola admisi yang semakin baik serta fleksibilitas pembiayaan beasiswa, UGM siap mencetak lulusan berdaya saing global yang berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa”, pungkas Sigit Priyanta.     Reportase & tulisan: Bondan Wijanarko Ditulis ulang:  B. Diah Listianingsih Penyunting: Endang Sulastri  

Selengkapnya

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Selengkapnya

Kolaborasi Riset DEB SV UGM dan Pemerintah Kabupaten Sikka Ungkap Keterkaitan Risiko Bencana dengan Nilai Tanah di Kabupaten Sikka

Lokasi yang strategis dan kemudahan akses jalan sering menjadi pertimbangan dalam menentukan nilai tanah. Namun, tahukah Anda bahwa ancaman bencana alam juga dapat berkaitan dengan tinggi rendahnya nilai tanah di suatu wilayah? Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh kolaborasi tim peneliti antar fakultas yang terdiri dari Fatima Putri Prativi, S.T., M.Ec.Dev, Bagaskara, S.E., M.Ec.Dev, dan Diego Bagus Pratama, Yanuba Hana Latifah, E. F Anugrah Putra peneliti dari Departemen Ekonomika dan Bisnis (DEB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM); Dr. Sudaryatno, M.Si peneliti dari Fakultas Geografi UGM; Wayan Hari Premananda, S.E., M.Ec.Dev peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, dan Margaretha Movaldes De Maga Bapa, S.T., M.Eng selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kab. Sikka.  Melalui penelitian di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Tim Peneliti mengkaji hubungan antara ancaman bencana alam dan nilai tanah dengan memanfaatkan 127.566 data perpajakan serta peta kondisi geografis wilayah. Kabupaten Sikka dipilih karena memiliki kondisi geografis yang beragam dan menghadapi sejumlah ancaman bencana, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir. Kondisi tersebut menjadikan Sikka sebagai wilayah yang menarik untuk diteliti, terutama dalam memahami bagaimana ancaman bencana berkaitan dengan nilai ekonomi tanah. Ancaman Bencana dan Nilai Tanah Penelitian ini menggunakan data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan informasi geografis dari 151 desa di Kabupaten Sikka. Data tersebut kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jarak menuju pusat kegiatan ekonomi, akses jalan, perkembangan kawasan, dan tingkat ancaman bencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat ancaman bencana yang lebih tinggi cenderung memiliki nilai tanah yang lebih rendah. Meski demikian, nilai tanah tidak hanya dipengaruhi oleh ancaman bencana, tetapi juga oleh kondisi lingkungan dan perkembangan wilayah di sekitarnya. Peneliti juga menemukan bahwa nilai tanah di suatu desa memiliki keterkaitan dengan nilai tanah di wilayah sekitarnya. Artinya, perkembangan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di suatu kawasan dapat berkaitan dengan kondisi nilai tanah di kawasan lain yang berdekatan. Melalui perhitungan menggunakan model statistik OLS, SAR, SEM, and SDM, penelitian ini juga menghasilkan perkiraan perbedaan nilai tanah sebesar 37 persen sebagai nilai tengah dari perbandingan antara kondisi ancaman bencana yang ada dan kondisi simulasi tanpa ancaman bencana tinggi. Angka tersebut bukan berarti harga tanah di Kabupaten Sikka telah turun sebesar 37 persen. Angka ini merupakan hasil simulasi penelitian untuk menggambarkan bagaimana ancaman bencana dapat diperhitungkan dalam penilaian tanah. Mendukung Perencanaan Wilayah yang Lebih Aman Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan informasi kebencanaan dalam perencanaan pembangunan dan pengelolaan wilayah. Dengan menggabungkan data nilai tanah dan peta ancaman bencana, pemerintah daerah berpotensi memperoleh informasi tambahan untuk membantu menentukan kawasan yang memerlukan perhatian lebih lanjut dalam perencanaan pembangunan maupun peninjauan nilai tanah. Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam mendorong pembangunan kawasan yang lebih aman dan tangguh menghadapi bencana. Selain itu, penelitian ini turut mendukung SDGs Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya melalui pemanfaatan informasi ancaman lingkungan dan bencana terkait iklim untuk mendukung perencanaan wilayah yang lebih baik. Melalui penelitian yang didukung oleh pendanaan Dana Masyarakat Sekolah Vokasi UGM ini, DEB SV UGM terus berkontribusi dalam menghasilkan kajian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pembangunan, sehingga pemanfaatan tanah tidak hanya memperhatikan nilai ekonominya, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. [Red. Fatima Putri Prativi]

Selengkapnya

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM

Selengkapnya

Teliti Senyawa Kunyit, Mahasiswa UGM Ungkap Potensi Kurkumin Tangani Depresi

Tim Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti potensi kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa), sebagai kandidat pengembangan antidepresan melalui pendekatan komputasi biologi. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin memiliki potensi interaksi dengan reseptor serotonin 5-HT2C, yakni protein yang berperan dalam mengatur suasana hati. Penelitian yang dilakukan oleh tim Hibah Kreativitas Mahasiswa Psikologi UGM ini menggunakan pendekatan in silico melalui metode network pharmacology dan molecular docking. Adapun penelitian yang beranggotakan Calista Gracianauli (Psikologi 2024), Jevan Nathaniel Malau (Biologi 2024), Nirvana Sabathani (Farmasi 2024), dan Feodora Davina Aloysia Christy (Teknologi Industri Pertanian 2024) ini dilatarbelakangi oleh penggunaan antidepresan konvensional sebagai salah satu penanganan klinis depresi yang seringkali menimbulkan efek samping, seperti disfungsi seksual dan perubahan berat badan. Menanggapi hal tersebut, tim mencoba untuk mengeksplorasi senyawa lain yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat antidepresan, salah satunya ialah kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa). Tak hanya itu, tim juga kemudian menelusuri potensi kurkumin melalui kajian hubungan mikrobioma usus dengan mekanisme molekuler yang berkaitan dengan depresi. Dalam penelitian ini, tim menelaah hubungan antara mikrobioma usus dan depresi. Mikrobioma usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran pencernaan dan dapat berkomunikasi dengan sistem saraf pusat melalui berbagai jalur biologis. Mengutip dari berbagai artikel ilmiah, tim menyebut bahwa sejumlah metabolit yang dihasilkan mikrobiota usus, termasuk short-chain fatty acids (SCFA), diketahui berperan dalam proses biologis yang berkaitan dengan fungsi saraf. “Kombinasi antara bukti manfaat bagi kesehatan otak, kepopuleran budaya yang tinggi, serta dukungan data pasar yang kuat menjadi dasar utama untuk meneliti kurkumin dan potensinya dalam perawatan depresi lebih lanjut,” ujar Calista Gracenauli, dalam keterangan yang dikirim, Jumat (16/10). Untuk mengidentifikasi target molekuler yang potensial, tim juga memetakan hubungan antara kurkumin, metabolit mikrobiota usus, dan gen yang berkaitan dengan depresi. Analisis jaringan protein kemudian dilakukan dengan menggunakan perangkat STRING dan Cytoscape. Melalui analisis tersebut, reseptor serotonin 5-HT2C teridentifikasi sebagai salah satu protein yang berpotensi menjadi target interaksi kurkumin. Lebih lanjut, tim menggunakan metode molecular docking untuk memprediksi interaksi kurkumin dengan reseptor tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin memperoleh skor docking sebesar −7,26 kcal/mol, lebih negatif dibandingkan amitriptilin, salah satu antidepresan konvensional, yang memperoleh skor −6,08 kcal/mol. Sementara itu, serotonin, sebagai molekul alami yang berinteraksi dengan reseptor tersebut, memperoleh skor −5,02 kcal/mol. Adapun skor yang lebih negatif menunjukkan interaksi yang lebih menguntungkan menurut fungsi penilaian komputasi yang digunakan. Meski begitu, hasil tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kurkumin lebih efektif dalam mengatasi depresi ketimbang amitriptilin. Molecular docking hanya memprediksi kemungkinan posisi dan interaksi molekul dengan protein, bukan mengukur efektivitas pengobatan pada manusia. Analisis interaksi molekuler juga menemukan kesamaan residu asam amino Val354 yang berinteraksi dengan kurkumin, amitriptilin, dan serotonin. Temuan tersebut menunjukkan adanya kemiripan dalam pola interaksi ketiga molekul dengan reseptor 5-HT2C. Akan tetapi, kesamaan ini belum dapat memastikan bahwa kurkumin memiliki mekanisme kerja farmakologis yang sama dengan kedua senyawa pembanding. Dalam penelitian ini, tim juga menelaah jalur biologis yang berkaitan dengan reseptor serotonin melalui analisis pathway enrichment menggunakan Kyoto Encyclopedia of Genes and Genomes (KEGG). Analisis ini digunakan untuk memahami keterkaitan target molekuler yang ditemukan dengan jalur pensinyalan sel. Meski memberikan petunjuk mengenai mekanisme biologis yang mungkin terlibat, hasil analisis komputasi tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui pengujian eksperimental. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai potensi kurkumin sebagai kandidat untuk penelitian pengembangan antidepresan. Tim mengakui bahwa tetap diperlukan pengujian lanjutan guna memastikan aktivitas kurkumin terhadap reseptor 5-HT2C, mekanisme farmakologisnya, serta keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat dipertimbangkan untuk penggunaan klinis. “Metode ini belum dapat menentukan apakah kurkumin bekerja sebagai pengaktif (agonis) atau penghambat (antagonis) reseptor, sehingga efek farmakologisnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim PKM

Selengkapnya

17 Peneliti UGM Masuk Daftar Top 2% Ilmuwan Berpengaruh Dunia

Sebanyak 17 peneliti Universitas Gadjah Mada masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026. Pengakuan ini mencerminkan kontribusi peneliti UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai bidang keilmuan. Seperti diketahui, Top 2% World Scientists merupakan daftar yang dikeluarkan oleh peneliti dari Stanford University dengan data penerbit ilmiah Elsevier. Ketujuhbelas peneliti UGM masuk dalam daftar tersebut adalah Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D.; Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., Sp.A(K)., Ph.D.; dan dr. Sumadi Lukman Anwar, M.Sc., Ph.D., Sp.B., Subsp.Onk. (K), dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Dari Fakultas Kehutanan, terdapat Prof. Dr. Ir. Ragil Widyorini, S.T., M.T., IPU., dan Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For. Berikutnya, Dr. Yehezkiel Steven Kurniawan, S.Si., M.Eng.; Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng.; Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng.; Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si.; serta Prof. Drs. Jumina, Ph.D., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dari Fakultas Farmasi, terdapat apt. Eka Noviana, Ph.D., dan Prof. Dr. apt. Abdul Rohman, S.F., M.Si. Selain itu, Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D., dan Prof. Dr. Ir. Kusmono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., berasal dari Fakultas Teknik. Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi, sedangkan Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., dan Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris berasal dari Fakultas Geografi. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengapresiasi prestasi dan inovasi yang dilakukan 17 peneliti UGM yang berhasil masuk dalam daftar Top 2% ilmuwan berpengaruh dunia. Ova meyakini capaian tersebut adalah salah satu tanda atas kualitas pendidikan, riset, dan publikasi yang dilakukan peneliti dalam beberapa tahun terakhir. “Segenap capaian ini senantiasa akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan,” ungkapnya, Jumat (16/10). Dari 17 daftar peneliti UGM yang masuk daftar ilmuwan berpengaruh di dunia tersebut, umumnya mengembangkan penelitian dengan fokus yang beragam, mulai dari pemanfaatan material ramah lingkungan dan pemetaan ekosistem pesisir hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak. Biokomposit Ramah Lingkungan Ragil Widyorini merupakan salah satu dari 17 peneliti UGM yang masuk dalam daftar telah lama mengembangkan penelitian di bidang teknologi hasil hutan, khususnya produk komposit ramah lingkungan dengan memanfaatkan serat alam, kayu berkualitas rendah, serta limbah pertanian dan kehutanan. Penelitiannya juga berfokus pada penggunaan bahan perekat alami yang bebas formaldehida untuk menghasilkan material alternatif yang berpotensi diaplikasikan dalam berbagai kebutuhan. Salah satu kontribusi ilmiahnya ialah pengembangan biokomposit dari limbah pertanian dan kehutanan, baik tanpa perekat (binderless board) maupun menggunakan bahan pengikat alami. Menurut Ragil, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan untuk memperluas penerapan teknologi komposit. “Riset mengenai komposit mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dan diaplikasikan. Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam, yang bisa membuka peluang riset komposit yang lebih luas, baik untuk aplikasi struktural maupun non-struktural,” jelasnya. Pemanfaatan material alternatif tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kehutanan. Salah satu contohnya ialah penelitian pemanfaatan limbah kotoran gajah menjadi produk komposit sebagai alternatif penanganan limbah. Ragil juga mengembangkan penelitian pemanfaatan kayu hasil penjarangan menjadi komposit laminasi untuk aplikasi struktural. Dalam perjalanan risetnya, Ragil menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya, pendanaan, dan waktu, termasuk menjaga konsistensi dalam menghasilkan penelitian berkualitas. Untuk mengatasinya, ia membangun kolaborasi dengan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat. “Dalam menghadapi tantangan tersebut, saya berusaha terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,meningkatkan kompetensi, serta terbuka terhadap pendekatan dan gagasan baru agar riset dapat semakin berdampak kepada masyarakat,” ungkapnya. Pemetaan Ekosistem Pesisir Sementara Pramaditya Wicaksono, peneliti dari fakultas Geografi ini  lebih banyak menekuni bidang coastal biodiversity remote sensing atau penginderaan jauh biodiversitas pesisir, terutama untuk memetakan padang lamun, terumbu karang, dan habitat bentik. Penelitiannya berfokus pada evaluasi dan pengembangan metode serta model pemetaan yang dapat menghasilkan informasi mengenai kondisi ekosistem pesisir. Hasil penelitian ini menjadi referensi ilmiah bagi pengembangan berbagai metode pemetaan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Kontribusi tersebut turut mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui penyediaan data yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun organisasi nonpemerintah. Salah satu contohnya ialah keterlibatan Pramaditya bersama Indonesian Seagrass Mapping Partnership, yang terdiri atas UGM, BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Universitas Hasanuddin, dalam menghasilkan peta nasional terumbu karang dan padang lamun Indonesia yang pertama kali diluncurkan oleh Menteri KKP pada 2025. Peta tersebut menjadi dasar penghitungan luas padang lamun nasional sekaligus menyediakan data referensi untuk pengelolaan kawasan pesisir, ocean accounting, dan penghitungan karbon biru. Pengembangannya didukung oleh pendanaan David and Lucile Packard Foundation, dengan dukungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada fase akhir. Selain itu, bersama mitra nasional, Pramaditya turut mengembangkan profil karbon biru padang lamun untuk ASEAN beserta panduan pemetaan dan pengukurannya. Ia juga bekerja sama dengan Auriga Nusantara dalam mengembangkan peta nasional persentase tutupan padang lamun. Di tingkat global, Pramaditya berperan sebagai global data harmonization science lead dalam inisiatif seagrass mapping blueprint, yang bertujuan mendukung pemetaan padang lamun secara global melalui harmonisasi data. Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan metode pemetaan dapat menghasilkan data yang dibutuhkan untuk memahami ekosistem pesisir dan mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaannya. Dalam perjalanan penelitiannya, Pramaditya menghadapi keterbatasan anggaran, sementara penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil membutuhkan biaya besar. Ia mengatasi tantangan tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Tantangan terbesar awalnya adalah budget riset yang terbatas, sedangkan biaya untuk penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tinggi. Mengatasi dengan kolaborasi riset antar institusi, baik nasional maupun internasional,” paparnya. Menurut Pramaditya, tantangan lainnya ialah perhatian terhadap ekosistem padang lamun yang sebelumnya belum sebesar perhatian terhadap ekosistem pesisir lainnya. Namun, meningkatnya perhatian terhadap karbon biru dan ekonomi biru turut membuka peluang pendanaan serta mendorong perkembangan penelitian padang lamun. Deteksi Dini Penyakit Anak Usaha peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak, mencegah penyakit, serta menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak menjadi lokus penelitian Indah Kartika Murni. Ruang lingkup risetnya mencakup pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan, penggunaan antibiotik secara rasional, kardiologi anak, dan surveilans penyakit infeksi berbasis air limbah. Salah satu kontribusi pentingnya ialah penelitian mengenai keterlambatan diagnosis penyakit jantung bawaan. Dalam penelitian terhadap sekitar 850 anak, timnya menemukan bahwa sekitar 60 persen mengalami keterlambatan diagnosis. Pada kelompok dengan penyakit jantung bawaan berat atau kritis, proporsinya mencapai lebih dari 85 persen. Temuan ini mendorong penelitian mengenai skrining menggunakan pulse oximeter, alat pengukur saturasi oksigen yang dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis pada bayi baru lahir. Penelitian di empat rumah sakit di Yogyakarta melibatkan sekitar 1.450 bayi dan mengidentifikasi delapan bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis melalui pemeriksaan lanjutan. Hasil penelitian tersebut turut memperkuat bukti ilmiah bagi kebijakan nasional mengenai skrining pulse oximeter pada bayi baru lahir. Indah menjelaskan, penelitian kesehatan perlu menghasilkan bukti yang relevan dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk intervensi yang dapat diterapkan dengan sumber daya terbatas. “Salah satu kontribusi terpenting dari penelitian saya adalah yang tentu saja kami lakukan bersama tim, yaitu menghasilkan bukti ilmiah yang relevan dengan kondisi negara berkembang seperti Indonesia mengenai bagaimana intervensi yang berbasis bukti, yang relatif sederhana dan terjangkau, dapat meningkatkan keselamatan pasien dan juga kualitas pelayanan kesehatan,” jelas Indah. Selain itu, Indah bersama tim multidisiplin mengembangkan surveilans berbasis air limbah untuk memantau sirkulasi patogen di masyarakat. Penelitian ini digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 selama pandemi dan dikembangkan untuk memantau Salmonella typhi, bakteri penyebab demam tifoid, serta patogen lain yang berpotensi menimbulkan pandemi. Pendekatan ini dapat melengkapi data epidemiologi konvensional karena tidak semua orang yang terinfeksi datang ke fasilitas kesehatan. Meski demikian, Indah menilai tantangan utama penelitian kesehatan terletak pada penerapan hasilnya secara konsisten. Keterbatasan fasilitas, pendanaan, beban kerja tenaga kesehatan, serta kebutuhan koordinasi antarfasilitas dapat memengaruhi keberhasilan implementasi. “Salah satu tantangan terbesar adalah menjembatani kesenjangan antara bukti ilmiah dan implementasinya dalam pelayanan kesehatan sehari-hari. Kita mungkin mengetahui intervensi yang efektif, tetapi menerapkannya secara konsisten mungkin tidak mudah karena keterbatasan sumber daya, fasilitas, pendanaan, beban kerja, dan juga tantangan perubahan perilaku,” ungkapnya. Untuk menghadapinya, Indah membangun kolaborasi dengan tenaga kesehatan, peneliti multidisiplin, institusi nasional dan internasional, serta pemangku kebijakan. Ia juga melibatkan mahasiswa, residen, dan peneliti muda dalam pengembangan penelitian. Masuknya Ragil Widyorini, Pramaditya Wicaksono, dan Indah Kartika Murni dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 menunjukkan beragam kontribusi penelitian UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian Ragil menawarkan alternatif pemanfaatan limbah menjadi material bernilai guna, Pramaditya menyediakan data untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir, sedangkan Indah mengembangkan bukti ilmiah bagi peningkatan pelayanan kesehatan. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Humas UGM dan Dok. Direktorat penelitian

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto