BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Fapet UGM dan Pemkab Blora Perkuat Sinergi Pengembangan Ayam Kampung Berbasis Pemberdayaan Peternak

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) bersama Pemerintah Kabupaten Blora terus memperkuat sinergi dalam pengembangan ayam kampung sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan peternak dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Komitmen tersebut ditindaklanjuti melalui pertemuan jajaran Pemkab Blora bersama tim UGM dan Bank Jateng di Fapet UGM, Jumat (23/10). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penjajakan kerja sama yang sebelumnya dirintis untuk mengembangkan potensi peternakan ayam kampung di Kabupaten Blora. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai tantangan di lapangan serta peluang pendampingan yang dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari aspek produksi hingga pemasaran. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fapet UGM, Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., menyampaikan bahwa UGM siap mendukung pengembangan peternakan di Blora melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu. Selain Fapet UGM, kerja sama ini juga melibatkan tim dari beberapa fakultas lain. Menurut Yuny, pendampingan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi ternak, tetapi perlu dirancang secara menyeluruh agar mampu membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. “Fapet bersama tim UGM lainnya siap melakukan pendampingan dan konsultasi pengembangan peternakan dari hulu hingga hilir. Harapannya, pengembangan ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, keberlanjutan program juga perlu mempertimbangkan dinamika anggaran yang dapat mengalami fluktuasi. Oleh karena itu, perencanaan program perlu disusun secara realistis, bertahap, dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat di lapangan. Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Blora, Dasiran, S.Ag., M.Si., menjelaskan bahwa pengembangan potensi peternakan di Blora menghadapi sejumlah tantangan, baik dari aspek lingkungan maupun ketersediaan lahan. Dalam lima bulan terakhir, kondisi cuaca yang relatif kering dan minim hujan turut memunculkan persoalan ketersediaan air bagi masyarakat. Selain persoalan air, penyediaan lahan untuk pengembangan usaha juga tidak mudah, terutama ketika berkaitan dengan pembebasan lahan dan kawasan hutan. Berbagai kendala tersebut membutuhkan perencanaan yang matang serta dukungan lintas sektor agar program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara optimal. Meski demikian, Pemkab Blora tetap berupaya mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan peternak. Selama ini, sektor minyak dan gas bumi menjadi salah satu sumber penghasilan penting bagi Kabupaten Blora sehingga penguatan sektor lain, termasuk peternakan, dinilai perlu terus didorong. Dasiran menilai kolaborasi dengan Fapet UGM dan tim lintas fakultas dapat menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Penguatan Peternak Dimulai dari Kelompok yang Sudah Berpengalaman Dari sisi teknis dan pemberdayaan, peneliti Fapet UGM, Dr. Ir. Heru Sasongko, M.P., menekankan pentingnya merancang program berdasarkan kondisi riil peternak dan pengalaman pelaksanaan program serupa. Ia mencontohkan, program bantuan ternak dan pakan yang pernah dijalankan di salah satu kabupaten belum selalu berhasil mencapai hasil yang diharapkan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa bantuan berupa ternak dan pakan saja tidak cukup apabila tidak disertai penguatan kapasitas, pendampingan, dan kelembagaan kelompok. Menurut Heru, pengembangan ayam kampung di Blora sebaiknya memprioritaskan peternak yang telah memiliki pengalaman beternak. Peternak yang sudah menjalankan usaha diharapkan dapat menjadi fondasi awal pengembangan sekaligus memperkuat keberlanjutan program. Heru juga telah melakukan pendataan terhadap 316 responden peternak sebagai bagian dari upaya memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan peternak. Data tersebut dapat menjadi salah satu bahan untuk menyusun pendekatan pendampingan yang lebih tepat sasaran.   Penulis: Satria

Lanjut Baca

Dijaga Matahari, Mengawasi Sepanjang Hari: SV UGM Menghadirkan CCTV Tenaga Surya Bagi Warga Nanggulan

Kulon Progo, Agustus 2026  |  Tim Pengabdian Sekolah Vokasi UGM Selama ini, menjaga keamanan lingkungan di Kapanewon Nanggulan, banyak bertumpu pada ronda malam. Sebagian titik masih kurang aman dan banyak kasus kehilangan peralatan seperti komputer di sekolah-sekolah. Kini, ada “mata” tambahan yang tidak pernah lelah. Di sekolah, pos kamling, hingga gardu RT, kamera pengawas berjaga dengan energi dari panel surya. Sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun di wilayah ini ditangkap pada siang hari dan diubah menjadi listrik, sehingga kamera tetap bekerja tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional. Kamera-kamera tersebut merupakan hasil kerja bersama tim pengabdian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) dan masyarakat Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat SV UGM 2026 berjudul Implementasi Teknologi Tepat Guna Kamera Pengawas untuk Mendukung Keamanan Lingkungan dan Penguatan Kapasitas Masyarakat. Gagasannya sederhana: teknologi tepat guna harus bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga, dan warga sendiri yang mampu merawatnya. Berawal dari kebutuhan warga Semuanya berawal dari koordinasi dengan Pemerintah Kapanewon Nanggulan, mitra program ini. Pihak kapanewon menyambut baik kelanjutan program pengabdian SV UGM yang tahun lalu sudah lebih dulu hadir di Kalurahan Jatisarono. Tim pengabdian yang dipimpin Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas bidang keilmuan di Departemen Teknik Elektro dan Informatika SV UGM. Mereka melakukan observasi lapangan dan berdiskusi dengan perangkat setempat serta warga. Dari observasi dan diskusi itu, titik pemasangan dipilih dengan pertimbangan yang sangat praktis: tingkat kerawanan, kemudahan akses, pencahayaan, ketersediaan ruang untuk panel surya, serta kesiapan warga atau pengelola yang akan menjaganya setelah tim kembali ke kampus. “Teknologi ini tidak hanya kami pasang, tetapi juga kami serahkan pengelolaannya kepada warga. Karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi bagian yang sama pentingnya dengan instalasi.” — Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. Ketua Tim Pengabdian SV UGM Dari sekolah hingga pos jaga Sabtu, 29 Agustus 2026, pekerjaan lapangan dimulai sejak pagi. Ketua tim, Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. Beserta dosen yang lainnya turun langsung bersama tiga mahasiswa, yaitu Satria Bhekti Akhisnu, Da'i Sabili Wahyu Kusumo, dan Rangga Ivan Nugraha. Mereka berpindah dari satu titik ke titik lain sambil membawa tangga, bor, dan kamera. Rute dimulai dari SLB PGRI Nanggulan dan TK PGRI, berlanjut ke Padukuhan Bejaten dan Temanggal, lalu SD Negeri Kalimanggis dan SD Negeri Tanjungharjo, dan berakhir di SD Negeri Wonorejo. Di SLB PGRI Nanggulan, kamera dipasang di bawah atap teras dan pada tiang. Di TK PGRI, kamera menempel di dinding Ruang Kelompok A. Satu per satu, mahasiswa memasang braket, menarik kabel, lalu memasang kamera di tempatnya. Mahasiswa memasang braket kamera di bawah atap SLB PGRI Nanggulan & Kamera pengawas terpasang pada tiang teras sekolah & Kamera di dinding Ruang Kelompok A TK PGRI. Energinya datang dari panel surya kecil yang dipasang di tepi atap menghadap langit, lalu dihubungkan dengan kabel ke kamera. Di setiap titik, tim juga menempelkan stiker “Perhatian: Area Ini Dipantau CCTV 24 Jam” sebagai pengingat bagi siapa pun yang lewat bahwa lingkungan ini dijaga. Panel surya kecil di tepi atap memasok energi bagi kamera & Stiker pengingat bahwa area ini dipantau CCTV 24 jam. Di Padukuhan Bejaten, perangkat dipasang di Pos Satkamling dan Jaga Warga, tempat warga biasa berkumpul dan bergantian berjaga. Panel surya dipasang di bawah atap pos, dan stiker peringatan menempel di dinding anyaman bambu tepat di tempat yang mudah terlihat. Penempelan stiker di Pos Satkamling RT 39 RW 14 Padukuhan Bejaten & Serah terima kamera kepada warga di Pos Satkamling Bejaten. Di setiap lokasi, kegiatan ditutup dengan serah terima kamera kepada warga dan pengelola setempat, sebagai tanda bahwa perangkat kini menjadi tanggung jawab bersama. Di Gardu RT 05 RW 02, kamera dipasang di langit-langit gardu tempat warga biasa berjaga. Serah terima kamera di Gardu RT 05 RW 02 & Serah terima kamera di halaman TK PGRI. Menjelang sore, giliran SD Negeri Kalimanggis. Di bawah papan “Selamat Datang”, mahasiswa naik ke atas tangga untuk memasang kamera di tiang teras. Dengan kamera di sana, bangunan sekolah ikut terpantau, bahkan ketika kelas sudah kosong. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke SD Negeri Tanjungharjo dan ditutup di SD Negeri Wonorejo. Pemasangan kamera di SD Negeri Kalimanggis & Kamera terpasang pada gapura sd. Kehadiran kamera ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SD Negeri Kalimanggis berharap manfaatnya tidak berhenti di satu tahun saja. “Semoga bermanfaat untuk warga dan sekolah. Harapan kami, program ini ada keberlanjutannya di tahun depan.” — Kepala SD Negeri Kalimanggis, Kapanewon Nanggulan Bekal untuk merawat, bukan sekadar menerima Selain memasang perangkat, tim membekali warga dengan pelatihan teknis yang ditujukan bagi perangkat kalurahan, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, kelompok pemuda, dan warga setempat. Bertempat di Kapanewon Nanggulan, materi “CCTV untuk Lingkungan yang Lebih Aman” disampaikan secara interaktif, mulai dari pengenalan energi surya dan prinsip kerja kamera pengawas, cara memantau, hingga perawatan panel surya dan baterai serta penanganan gangguan sederhana. Untuk pegangan setelah tim kembali ke kampus, tersedia modul pelatihan dan SOP penggunaan serta pemeliharaan yang disusun sederhana agar mudah dibaca dan dipraktikkan warga. Tim juga membawa alat peraga sistem tenaga surya sederhana, agar warga bisa melihat langsung bagaimana sinar matahari diubah menjadi listrik, disimpan di baterai, lalu dipakai. Pemaparan materi “CCTV untuk Lingkungan yang Lebih Aman” kepada warga. Rangkaian kegiatan ditandai dengan serah terima perangkat secara simbolis kepada Bapak Drs. Sri Wahyuniarto, M.A. sebagai Camat (Panewu) Nanggulan selaku mitra program, sebagai tanda dimulainya pengelolaan sistem oleh masyarakat bersama pemerintah setempat. Serah terima kamera pengawas tenaga surya secara simbolis kepada Camat Nanggulan. Tim SV UGM bersama warga dan peserta kegiatan “Nanggulan Aman, Terang, dan Berkelanjutan” di Kapanewon Nanggulan. Keamanan yang dijaga bersama Keberlanjutan menjadi kata kunci. Kamera-kamera ini diharapkan dikelola oleh kelompok pengelola lokal yang bertanggung jawab atas operasional, pemeliharaan, dan pelaporan kondisi sistem, sementara pemerintah kalurahan mendampingi lewat koordinasi warga dan dukungan pemeliharaan. Bila berjalan baik, model ini dapat dikembangkan pada titik lain di Kapanewon Nanggulan atau direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Bagi warga, perubahannya mungkin tampak sederhana: sekolah, pos kamling, dan gardu kini memiliki pengawasan tambahan. Namun di baliknya ada langkah menuju permukiman yang aman dan berkelanjutan. Program ini mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui lingkungan yang lebih aman dan nyaman, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan keamanan berbasis komunitas dan kerja sama dengan pemerintah setempat.

Selengkapnya

Modal Rp500 Ribu dari Beasiswa, Mahasiswa UGM Berhasil Bangun Bisnis Ayam Petelur

Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan untuk berusaha. Hal ini dibuktikan oleh seorang mahasiswa UGM yang sukses membangun bisnis ayam petelur berbekal modal dari tabungan beasiswanya. Berbekal tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, ia merintis usaha tersebut di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga berkembang menjadi peternakan mandiri dengan ratusan ekor ayam. Memanfaatkan ilmu pemuliaan ternak yang dipelajari di bangku kuliah, Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, mengembangkan inovasi persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi melalui usaha peternakannya, Bejo Farm. Inovasi persilangan ini berangkat dari pemahaman Anjeli terhadap karakteristik masing-masing jenis ayam. Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur yang tinggi, sedangkan ayam Mardi memiliki postur tubuh lebih besar. Melalui persilangan keduanya, Anjeli berupaya menggabungkan potensi produksi telur dan pertumbuhan tubuh dalam satu keturunan ayam. “Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” tuturnya. Melalui teknik crossbreeding, Anjeli berharap dapat menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan tubuh yang baik untuk dimanfaatkan sebagai ayam potong, sementara ayam betinanya tetap memiliki potensi produksi telur. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pemuliaan ternak yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fapet UGM. Selain mengembangkan persilangan ayam Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. "Saat ini, BejoBejo Farm memproduksi telur sekitar 15–20 butir per hari, didukung puluhan indukan aktif dan anakan hasil penetasan sendiri," dalam keterangannya. Di tengah harga pakan pabrikan yang tengah melonjak, Anjeli memanfaatkan potensi limbah lokal untuk menekan biaya operasional. “Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari," ungkapnya. Tak hanya pakan ternak, Anjeli turut menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih dan daun pepaya. “Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan," jelasnya. Untuk sistem penjualan telurnya, Anjeli menggunakan sistem beli langsung di tempat dan menyediakan pesanan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook. Produk yang ia jual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Dari hasil penjualannya, Anjeli pun mengungkapkan, sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana penerapan ilmu peternakan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha untuk membangun peternakan yang mandiri. Perjalanan Bejo Farm tidak selalu berjalan mulus. Anjeli sempat mengalami kerugian akibat kematian anakan ayam ketika cuaca di Klaten mengalami perubahan ekstrem. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk mengevaluasi sanitasi kandang dan perawatan ternak agar usaha dapat terus berkembang. Anjeli mengungkapkan alasannya membangun usaha Bejo Farm ini. Hanya bermodalkan tabungan beasiswa yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan dana tabungannya untuk mengembangkan usaha dengan mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. “Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli. Bagaimana pun, Anjeli menuturkan tabungan sebagai modal awalnya tidak luput dari penerapan ilmu di Peternakan UGM. “Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” ungkapnya. Melalui Bejo Farm, Anjeli menunjukkan bahwa ilmu pemuliaan ternak dapat menjadi dasar pengembangan inovasi di bidang peternakan. Perpaduan pengetahuan akademik, percobaan persilangan, dan pengelolaan usaha membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi ternak sekaligus membangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Anjeli

Selengkapnya

GAMA Rain Filter sebagai Solusi Alternatif Air di Gunungkidul: Menelusuri Dampaknya terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga

[caption id="attachment_24193" align="aligncenter" width="1024"] Sumber foto: Dokumentasi Penulis 2026[/caption] Keterbatasan akses air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi geografis yang membuat air sulit tersimpan di permukaan maupun di dalam tanah menyebabkan sejumlah wilayah menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari, terutama ketika musim kemarau. Situasi tersebut turut dirasakan oleh masyarakat Padukuhan Banyumanik dan Padukuhan Piyuyon, Kalurahan Pacarejo, yang bergantung pada air hujan dan pasokan air dari truk tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Salah satu upaya yang telah diterapkan untuk menghadapi persoalan tersebut adalah Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) GAMA Rain Filter. Teknologi ini dirancang untuk menampung dan menyaring air hujan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif. Penerapannya di Kalurahan Pacarejo sejak 2023 membuka peluang untuk meningkatkan ketahanan air rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pembelian air dari luar wilayah. Namun, keberadaan teknologi pemanenan air hujan tidak serta-merta menjelaskan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Selain ketersediaan air, penerapan teknologi ini perlu ditinjau dari sisi sosial dan ekonomi, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air, pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan air, serta peluang pemanfaatan air bagi kegiatan produktif. Berangkat dari persoalan tersebut, Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si dari Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada mengkaji dampak sosial ekonomi penerapan GAMA Rain Filter di Kalurahan Pacarejo. Penelitian ini diarahkan untuk memahami apakah pemanfaatan teknologi tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi rumah tangga, baik dalam memenuhi kebutuhan dasar maupun dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Kajian ini juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Ketersediaan air yang memadai merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penelitian ini berkaitan dengan SDG 6, yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak, yang menekankan pentingnya akses air serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Melalui kajian ini, penerapan GAMA Rain Filter diharapkan dapat dipahami bukan hanya sebagai inovasi teknologi untuk menampung air hujan, tetapi juga sebagai upaya yang perlu dievaluasi berdasarkan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemahaman tersebut penting untuk mendukung pengembangan program penyediaan air yang sesuai dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air. Referensi: Campisano, A., Butler, D., Ward, S., Burns, M. J., Friedler, E., DeBusk, K., Fisher-Jeffes, L. N., Ghisi, E., Rahman, A., Furumai, H., & Han, M. (2017). Urban rainwater harvesting systems: Research, implementation and future perspectives. Water Research, 115, 195–209. https://doi.org/10.1016/j.watres.2017.02.056 Leonard, D., & Gato-Trinidad, S. (2021). Effect of rainwater harvesting on residential water use: Empirical case study. Journal of Water Resources Planning and Management, 147(4). https://doi.org/10.1061/(ASCE)WR.1943-5452.0001354 Maryono, A., Nuranto, S., Sembada, P. T. S., & Petrus, H. T. B. M. (2022). GAMA-RainFilter: A modified rainwater harvesting technique to meet the demand of clean water in Indonesia. International Journal of Hydrology Science and Technology, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.1504/IJHST.2022.119272 [Red. Ike yuli Andjani]

Selengkapnya

Gelar Serah Terima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea, Prodi BKK UGM Sekaligus Bagikan Buku Sejarah Korea untuk Angkatan 2026

Yogyakarta, 7 Oktober 2026 – Sebagai wujud apresiasi atas prestasi dan dedikasi akademis mahasiswanya, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea (BKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan acara serah terima beasiswa pada Rabu, 7 Oktober 2026. Acara ini mencakup penganugerahan Beasiswa Komitrando, Beasiswa KAGAMA Korea, sekaligus penyerahan buku Sejarah Korea bagi mahasiswa baru angkatan 2026. Kegiatan dibuka dengan hangat melalui sambutan dari Ketua Program Studi BKK UGM, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan apresiasi dari Ibu Irene selaku perwakilan dari pihak Komitrando. Memasuki agenda inti pertama, sertifikat Beasiswa Komitrando yang berupa bantuan pendidikan diserahkan secara langsung oleh Mr. Ahn Gyeong Hwan, perwakilan Komitrando. Beasiswa ini dianugerahkan kepada dua mahasiswi berprestasi, yaitu: Azzahra Ika Novitasari (IPK 3.68) Allysa Fadhia Pramudita (IPK 3.82) Setelah prosesi penyerahan sertifikat, kedua penerima beasiswa turut menyampaikan kesan dan pesan, serta mengutarakan komitmen untuk terus memaksimalkan potensi akademis mereka berkat dukungan pendidikan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Beasiswa KAGAMA Korea yang diserahkan oleh Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., dan Bapak Andri Saefudin, B.A., M.A.. Pada kesempatan ini, beasiswa dianugerahkan kepada 10 mahasiswa berprestasi Prodi BKK UGM dengan capaian nilai yang sangat membanggakan. Berikut adalah daftar kesepuluh penerima Beasiswa KAGAMA Korea: Rahadita Sekar Dea Alita (IPK 3.71) Layla Maryam Al-Muqaddas (IPK 3.70) Nadya Ammara Naura ADN (IPK 3.69) Nurhalima Ayunda Khoiriyya (IPK 3.79) Carissa Nura Firdaus (IPK 3.76) Salma Hayati Kurniasari (IPK 3.74) Paula Maureen Christella (IPK 3.69) Alvi Aulia Rachmi (IPK 3.97) Claudia Keishia Piji Swastika (IPK 3.92) Baiq Virnieza Muthia (IPK 3.92) Selain penganugerahan beasiswa, acara ini juga memfasilitasi kebutuhan literatur mahasiswa baru. Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D. menyerahkan Buku Sejarah Korea secara simbolis kepada Dylan selaku ketua angkatan, mewakili rekan-rekannya dari angkatan 2026. Kehadiran buku ini ditujukan sebagai bekal ilmu dan referensi berharga bagi perjalanan studi mahasiswa baru ke depannya. Tidak hanya kepada mahasiswa angkatan baru, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D. selaku Kaprodi BKK juga menyerahkan Buku Sejarah Korea kepada pihak Komitrando Mr. Ahn Gyeong Hwan dan Ibu Irene.   Selanjutnya, rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan jajaran dosen, perwakilan KOMITRANDO, penerima beasiswa, serta seluruh angkatan 2026. Selamat kepada para penerima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea! Semoga dukungan ini memberikan manfaat yang besar dan mampu memotivasi seluruh mahasiswa BKK UGM lainnya untuk terus bersemangat menorehkan prestasi cemerlang. Penulis: Salwa Aulia

Selengkapnya

Fornas XVI JKKI 2026 Dorong Revisi UU SJSN dan UU BPJS demi Penguatan Pendanaan Kesehatan

FK-KMK UGM. Transformasi sistem kesehatan membutuhkan napas panjang, tetapi di lapangan banyak pelaku layanan kesehatan justru merasa sesak. Gambaran itu mengemuka dalam Press Conference Forum Nasional (Fornas) XVI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) Tahun 2026 di Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Selasa (20/10). Kegiatan bersama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM ini menjadi pembuka sebelum forum utama digelar pada 21 hingga 22 Oktober 2026. Sumber kesesakan itu adalah pendanaan. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta Indonesia masih sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari Malaysia yang berkisar 4,5 persen dan China yang mendekati 5 persen. Pengeluaran kesehatan per kapita pun baru sekitar 150 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai 480 dolar AS. Akibatnya, pelayanan terhambat, pendapatan tenaga kesehatan belum sebanding dengan tanggung jawabnya, dan mutu layanan ikut menurun. Tekanan serupa dirasakan pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa usulan perbaikan regulasi sebenarnya telah dirumuskan sejak 2019, tetapi terhenti oleh pandemi COVID-19. Kala itu, dana Pemulihan Ekonomi Nasional sempat menghadirkan surplus bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit. “Setelah COVID selesai, … defisit mulai muncul lagi. Jadi ini penyakit lama,” ujarnya. Menurut Prof. Laksono, dampaknya pertama kali terasa di rumah sakit karena pembayaran klaim menjadi lebih lambat. Jika mutu layanan turun, masyarakat yang akhirnya menanggung akibatnya, termasuk harus membayar langsung dari kantong sendiri. “Mutu pelayanan jangan turun,” tegasnya. Ia juga menyoroti manfaat JKN yang lebih banyak dinikmati warga Jawa dan kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan dokter dan rumah sakit. Di tengah tekanan anggaran negara, masyarakat yang mampu pun perlu didorong membeli asuransi swasta agar beban kesehatan tidak bertumpu pada satu sumber. Berangkat dari persoalan tersebut, Fornas XVI mengusung penguatan kebijakan pendanaan kesehatan dan JKN, termasuk dorongan merevisi UU SJSN dan UU BPJS 2011. Selain Prof. Laksono, press conference ini menghadirkan Prof. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes., dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., dan Muhamad Faozi Kurniawan, S.E., MPH. sebagai narasumber. Penyelenggara menargetkan belanja kesehatan naik menjadi 4 hingga 5 persen PDB dalam 10 tahun. Prof. Laksono menyadari peran perguruan tinggi memiliki batas. “Kalau kita perguruan tinggi, kita hanya bisa memberikan data, analisis,” katanya, sehingga organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan media diajak ikut bersuara. Revisi tersebut diharapkan mulai masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2027. Upaya memperkuat pendanaan ini sejalan dengan SDG 3 kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya jaminan kesehatan semesta. Pemerataan manfaat JKN bagi daerah terpencil berkaitan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).  

Selengkapnya

Dari Hobi Jadi Cuan: Kisah Mahasiswi UGM Silangkan Ayam Unggul hingga Cetak Omzet Ratusan Telur

Bermodalkan tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, Anjeli Astriani, mahasiswi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, sukses membangun usaha peternakan ayam organik mandiri bernama Bejo Farm di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Usaha yang berawal dari hobi memelihara ayam ini kini berkembang pesat hingga memiliki ratusan ekor ayam dengan puluhan indukan aktif serta anakan hasil tetasan sendiri. Saat ini Bejo Farm mencatatkan produksi telur harian berkisar antara 15 hingga 20 butir per hari (sekitar 280–392 butir per bulan).   Inovasi Persilangan (Crossbreeding) Ayam Elba dan Mardi Memanfaatkan ilmu Pemuliaan Ternak yang didapat di bangku perkuliahan, Anjeli menerapkan teknik crossbreeding antara ayam jenis Elba (tipe petelur unggul) dan ayam Mardi (tipe pedaging). "Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar," terang Anjeli, Selasa (20/10). Menurut Anjeli, hasil persilangan keduanya melahirkan keturunan dengan keunggulan ganda, yakni  pertumbuhan cepat, postur badan padat sebagai ayam potong, dan keturunan betina yang tetap rajin bertelur, serta memiliki daya tahan tubuh (heterosis) yang lebih kuat terhadap cuaca ekstrem. Selain Elba dan Mardi, Bejo Farm kini juga mengembangbiakkan varietas ayam KUB dan Kuntara 4. Anjeli menjelaskan untuk menekan biaya pakan pabrikan yang terus melonjak, ia memanfaatkan potensi limbah lokal. Pakan harian rutin diberikan dua kali sehari (pagi dan sore) menggunakan racikan bekatul, sisa makanan layak dari hajatan warga, serta potongan buah musiman seperti mangga atau jambu air. Tak hanya pakan, sistem kesehatan ternak di Bejo Farm menerapkan prinsip peternakan organik dengan memanfaatkan bawang putih dan daun pepaya. Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Dosis ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Sementara daun pepaya segar digunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan.   Sistem Pemasaran dan Kelayakan Usaha Pemasaran Bejo Farm dilakukan secara fleksibel, mulai dari pembelian langsung di kandang hingga pesanan online via WhatsApp dan Facebook. Produk yang dijual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Hasil penjualan telur Elba harian terbukti sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Anjeli mengakui meskipun sempat mengalami kerugian di awal rintisan akibat kematian anakan ayam karena cuaca pancaroba Klaten yang ekstrem, ia terus mengevaluasi manajemen sanitasi kandang dan perawatan herbalnya. Ia menegaskan bahwa pencapaian Bejo Farm tidak terlepas dari kombinasi disiplin finansial dan keilmuan Fapet UGM. "Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri," ungkap Anjeli. Melalui Bejo Farm, Anjeli membuktikan bahwa penerapan ilmu Nutrisi Pakan, Pemuliaan Ternak, dan Kesehatan Ternak dapat diterapkan secara praktis serta menguntungkan, sekaligus menjadi inspirasi bisnis berkelanjutan bagi generasi muda.   Penulis: Satria

Selengkapnya

Aksi Waste Management pada Jalan Sehat dan Kumpul Rimbawan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63

Yogyakarta, 16 Oktober 2026 – Sampah menjadi isu internasional yang terkenal menyumbang pencemaran udara dan sumber penyebaran penyakit. Sebuah kajian mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik 3,2 juta ton dan 1,29 juta ton berakhir di laut. Di Yogyakarta sendiri, masalah terbesar ada pada pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknik open dumping. Teknik tersebut dilakukan di TPA Piyungan seluas 16 hektare dengan timbunan sampah mencapai 600–800 ton perhari. Hal ini tentunya berdampak pada lingkungan dan kesehatan seperti pencemaran air sumur, penyebaran penyakit lewat lalat, dan polusi lewat emisi metana serta air lindi. Menanggapi kondisi ini, Fakultas Kehutanan UGM melalui tim “Rumeksa” menyelenggarakan program waste management yang dilakukan pada kegiatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63. Kegiatan ini dilakukan pada acara Jalan Sehat dan Malam Puncak sebagai upaya mengelola dan mengatasi masalah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini menjadi aksi iklim mengatasi masalah sampah dari sumbernya dengan tidak hanya memilah sampah dari hulu untuk mengurangi beban di hilir, tetapi juga memaksimalkan nilai material dari sampah tersebut. Dalam mekanisme pelaksanaannya, tim waste management membagi sampah menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sampah organik yang berupa sisa makanan dan sisa buah, sampah daur ulang seperti dupleks, plastik (thinwall dan botol), karton, sendok, dan sedotan, dan sampah residu seperti tisu, gelas/mangkok kertas, dan mika. Selain ketiga sampah tersebut, terdapat juga daftar sampah yang dihindari, seperti sterofoam, piring mika, kertas minyak, dan papercup. Adanya mekanisme pemilahan dan pengurangan sampah ini tentunya menunjang keberhasilan dari tujuan awal waste management yaitu mengurangi timbunan dan memaksimalkan potensi sampah. Edukasi ini juga disampaikan melalui poster yang disebar ke dalam 8 titik di area ‘kritis’ sampah dan kumpulan orang dalam bentuk berikut. Selain mekanisme operasional, kegiatan ini juga didukung oleh tim volunteer yang telah membantu dan mendukung jalannya waste management dalam Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Para volunteer berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, mulai dari mahasiswa S1 dari berbagai angkatan dan mahasiswa S2. Harapannya, dengan memberikan kesempatan volunteer, relawan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, baik dari segi konsep maupun praktiknya. Kegiatan waste management dilakukan secara operasional di lapangan pada tanggal 4 dan 9 Oktober 2026, yaitu ketika acara Jalan Sehat dan Malam Puncak Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Secara teknis, kelancaran program ini juga didukung oleh beberapa pihak, khususnya adalah para relawan waste ranger yang cekatan dan tanggap dalam mengedukasi dan memilah sampah yang dihasilkan dari acara tersebut. [caption id="attachment_11710" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Jalan Sehat[/caption] “Saya senang teman-teman rangers antusias dalam inisiasi ini. Harapan saya, inisiasi ini bisa menjadi pemantik untuk pengelolaan sampah yang lebih baik kedepannya, baik di”, ucap Maulida Muhadini sebagai salah satu inisiator kegiatan ini. [caption id="attachment_11711" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Malam Puncak Dies Natalis ke-63[/caption] Beberapa kendala yang dialami oleh tim waste ranger antara lain adalah sosialisasi aturan pemilahan sebelum acara perlu diperkuat, partisipasi peserta dalam memilah sampah masih perlu didorong, dan beberapa tenant yang meninggalkan sampah tercampur, sehingga berdampak pada timbunan sampah yang banyak. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan langkah adaptif tim waste management dan para volunteer yang cekatan dan dengan semangat memilah sampah dan mengedukasi peserta. [caption id="attachment_11712" align="aligncenter" width="1920"] Hasil Timbulan Sampah pada dua kegiatan[/caption] Berdasarkan grafik timbulan sampah yang dihimpun selama rangkaian acara, terdapat perbedaan komposisi yang signifikan antara Jalan Sehat dan Malam Puncak. Pada acara Jalan Sehat, sampah didominasi oleh jenis Residu sebesar 15,20 kg (41,6%), diikuti oleh sampah Recycle sebesar 14,20 kg (38,9%), dan Organik sebesar 7,10 kg (19,5%). Sementara itu, pada acara Malam Puncak, komposisi sampah yang tertimbang mayoritas adalah sampah Organik yang mencapai 122,50 kg (75,5%) dan sampah Recycle sebesar 39,80 kg (24,5%). Sebagai catatan penting, data sampah residu pada Malam Puncak tidak dapat dihitung atau ditimbang secara pasti akibat jumlah dan volumenya yang terlalu besar, ditambah dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh tim di lapangan pada saat penutupan maupun pasca acara. Dengan adanya kendala tersebut, ke depannya, dapat dilakukan penegasan kepada tenant terkait material yang dihindari agar mengurangi timbunan sampah residu. Selanjutnya, diharapkan bahwa seluruh pihak, mulai dari panitia dan seluruh tim, diharapkan juga lebih menjaga kebersihan dan berkontribusi dalam kebersihan acara. Meskipun mengalami beberapa kendala, program ini diharapkan juga tetap berkelanjutan sehingga dapat terus mengedukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kualitas lingkungan Fakultas Kehutanan UGM.   Penulis: Rizky Lanang Rangga Kumara, Maulida Muhadini Dokumentasi: Jiil Apriliyani, Thoriq Muhamad Akbar Yusuf

Selengkapnya

Dari Geodesi UGM ke Menara Petronas: Tentang Alumni dan Hubungan yang Terus Terjaga

Kuala Lumpur, Malaysia — Ada banyak cara untuk mengetahui bahwa hubungan antara kampus dan alumninya masih terjaga dengan baik. Salah satunya adalah ketika seorang alumni yang telah lama meninggalkan bangku kuliah justru dengan antusias mengundang dosen-dosen dan adik-adik almamaternya untuk berkunjung ke tempatnya bekerja. Bukan karena ada kewajiban, melainkan karena hubungan baik yang memang tidak pernah benar-benar terputus. Cerita itulah yang mewarnai kunjungan rombongan Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), ke Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam rangkaian kunjungan akademik pada Oktober 2026. Rombongan yang berjumlah 18 orang dan dipimpin Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Trias Aditya, mendapat sambutan hangat dari Kristiawan Tri Nugroho, yang akrab disapa Mas Wawan. Ia merupakan alumni Teknik Geodesi UGM angkatan 1999 yang kini berkarier sebagai Technical Manager di PETRONAS, perusahaan energi Malaysia. Dari Geodeta hingga PETRONAS Bagi sejumlah dosen Geodesi UGM, Mas Wawan bukanlah sosok yang asing. Sejak masih mahasiswa, ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk mengelola Geodeta, majalah mahasiswa Teknik Geodesi UGM. Keterlibatan tersebut rupanya menjadi bagian dari hubungan panjangnya dengan almamater. Setelah lulus dan membangun karier profesional, komunikasi dengan kampus tetap terjaga. Dr. I Made Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi UGM yang merupakan kakak angkatannya, mengenang bahwa kepedulian Mas Wawan terhadap kampus bukanlah sesuatu yang baru. Dalam salah satu kesempatan, Mas Wawan pernah membantu menyediakan dukungan dana bagi mahasiswa yang membutuhkan biaya untuk mengikuti konferensi akademik. Bantuan seperti ini mungkin tidak selalu menjadi berita besar. Namun, bagi mahasiswa yang sedang berusaha mengembangkan diri, dukungan seorang alumni dapat membuat perbedaan yang nyata. Kini, Mas Wawan telah memiliki pengalaman lebih dari 19 tahun di bidang geomatika, survei, dan akuisisi data geofisika untuk industri minyak dan gas. Di PETRONAS, ia menjalankan peran kepemimpinan teknis dan konsultansi untuk berbagai kegiatan, baik di darat maupun lepas pantai. Keahliannya mencakup investigasi bahaya geologi, pemantauan struktur, serta pengembangan kemampuan dan teknologi survei. Di tengah kesibukan profesionalnya, ia juga sedang menempuh pendidikan doktoral di bidang Teknik Geomatika di Universiti Teknologi Malaysia. Perjalanan profesional tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu geomatika dapat membawa lulusannya berkiprah dalam industri energi internasional. Namun, yang menarik dari cerita ini bukan hanya pencapaian kariernya, melainkan juga hubungan baik yang tetap ia rawat dengan kampus tempatnya belajar. Bertemu Kembali dengan Para Pembimbing Atas inisiatif Mas Wawan, rombongan UGM mendapat kesempatan berkunjung ke Menara Kembar Petronas. Kegiatan berlangsung dalam suasana santai melalui diskusi informal, kunjungan ke gedung, dan kesempatan berfoto bersama di jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar yang menjadi ikon Kuala Lumpur tersebut. Pertemuan ini juga menghadirkan momen personal yang istimewa. Mas Wawan kembali bertemu dengan Bapak Rochmad Muryamto dan Bapak Abdul Basith, dua dosen yang pernah menjadi dosen wali dan pembimbing skripsinya semasa kuliah. Bagi seorang alumni, bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah mendampingi perjalanan akademiknya tentu memiliki makna tersendiri. Demikian pula bagi para dosen, melihat mantan mahasiswa berkembang dan berkiprah dalam dunia profesional merupakan pengalaman yang menggembirakan. Kehangatan kunjungan semakin terasa ketika Mas Wawan menjamu seluruh rombongan untuk makan sore di sebuah restoran di lingkungan Menara Petronas. Jamuan tersebut menjadi perhatian tersendiri karena tidak semua orang berkesempatan menikmati pengalaman serupa di salah satu bangunan paling dikenal di Malaysia. Ada pula penyerahan tanda apresiasi sebagai ungkapan terima kasih atas sambutan dan hubungan baik yang telah terjalin. Hubungan Baik yang Membuka Peluang Di balik suasana akrab tersebut, pertemuan juga membuka pembicaraan mengenai peluang kolaborasi antara kampus dan dunia industri. Pengalaman Mas Wawan di PETRONAS menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi mahasiswa maupun dosen Teknik Geodesi UGM. Dalam diskusi informal, muncul gagasan untuk kembali menggiatkan kuliah tamu, menjajaki kunjungan lanjutan, serta membicarakan kemungkinan kesempatan magang bagi mahasiswa. Gagasan-gagasan tersebut memang masih memerlukan komunikasi dan tindak lanjut. Namun, pertemuan ini memperlihatkan bagaimana hubungan personal yang baik dapat mempermudah terbukanya percakapan tentang kerja sama yang lebih konkret. Hubungan antara kampus dan alumni sering kali dipahami sebagai sesuatu yang bersifat administratif. Alumni diundang ketika ada kegiatan, diminta mengisi survei, atau dihubungi ketika kampus membutuhkan dukungan. Padahal, hubungan yang kuat tidak dapat dibangun hanya ketika ada keperluan. Pengalaman bersama Mas Wawan memperlihatkan hal yang berbeda. Kepeduliannya sudah tumbuh sejak menjadi mahasiswa, terus terjaga melalui komunikasi, dan tetap terlihat ketika ia telah memiliki tanggung jawab profesional yang besar. Tentu saja, hubungan semacam ini tidak muncul begitu saja. Pengalaman yang baik selama kuliah, interaksi yang hangat antara mahasiswa dan dosen, serta kesediaan untuk terus berkomunikasi menjadi bagian penting dari proses panjang tersebut. Pada akhirnya, kunjungan ke Menara Petronas ini memberikan pelajaran sederhana yang penting. Kampus tidak hanya bertugas mendidik mahasiswa hingga mereka lulus. Kampus juga perlu membangun hubungan manusiawi yang membuat alumninya merasa tetap menjadi bagian dari keluarga akademik, di mana pun mereka berada. Sebaliknya, alumni dapat terus mengambil peran dalam perjalanan almamaternya, melalui berbagi pengalaman, membuka jejaring, atau membantu adik-adik mahasiswa menemukan kesempatan baru. Menara Petronas mungkin menjadi tempat yang paling menarik untuk dikenang dari kunjungan ini. Namun, yang lebih berharga adalah hubungan baik yang telah dibangun jauh sebelum pertemuan tersebut terjadi, dan diharapkan terus terjaga setelahnya.

Selengkapnya

PkM Desa Mitra 2026 Fakultas Biologi UGM Perkenalkan Tanaman Obat Keluarga kepada Siswa SD Negeri Kiyaran 1 untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas #4

Sleman, 16 Oktober 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Mitra Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melaksanakan kegiatan edukasi biologi bagi siswa sekolah dasar di SD Negeri Kiyaran 1, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kegiatan kali ini mengangkat pengenalan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui penyampaian materi dan permainan interaktif untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai keanekaragaman tumbuhan obat serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. [metaslider id="62000"] Kegiatan dipandu oleh Sidiq Permana Putra, S.Si., M.Sc. sebagai moderator,  dengan menampilkan 2 pemateri yaitu Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. dan Dr. Maryani, M.Sc. Isi dari presentasi narasumber adalah penyampaian materi mengenai berbagai tanaman obat yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar rumah siswa. Para siswa diajak mengenali tanaman yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional, tetapi juga digunakan sebagai bumbu masakan dan bahan minuman sehari-hari. Melalui pengenalan ini, siswa diharapkan semakin menyadari bahwa tumbuhan di sekitar mereka memiliki beragam manfaat. Berbagai tanaman obat yang diulas  antara lain jahe, kunyit, kencur, lidah buaya, daun sirih, bawang putih, bawang merah, sereh, ketumbar, pala, kemangi, jeruk nipis, temulawak, kayu manis, cengkeh, lada, daun salam, temu kunci, laos, dan seledri. Dalam penyampaian materi, bagian dari organ tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diperlihatkan dan dibagikan secara langsung kepada siswa untuk diamati. Siswa diajak mengenali karakteristiknya masing-masing melalui pengamatan bentuk, warna, serta mencium aromanya. Pengalaman belajar secara langsung ini membantu siswa membedakan berbagai jenis tanaman obat yang diperkenalkan sekaligus mengenali ciri khasnya melalui pancaindra. Untuk memperkuat pemahaman siswa, kegiatan dilanjutkan dengan permainan tebak tanaman obat melalui responsi interaktif menggunakan sistem tokser (ketok, geser). Dalam sesi ini, siswa diminta menuliskan nama tanaman yang ada di setiap meja yang mereka lalui. Siswa tampak antusias sekaligus tegang saat berusaha mengenali dan mengingat kembali nama dari ciri-ciri tanaman obat yang telah dipelajari.   Selama pelaksanaan, anggota tim dosen Fakultas Biologi UGM, yaitu Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D. Dr. Utaminingsih, S.Si., M.Sc., Dr. Aprilia Sufi Subiastuti, S.Si., Dr. Siti Nurbaiti, S.Si., Novita Yustinadiar, S.Si., M.Si., serta dua mahasiswa (Rosya Irbah Mahdiyyah, NIM 23/515258/BI/11221 dan Nazwa Nur Sahara, NIM 23/514177/BI/11190) turut membantu kelancaran kegiatan. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong siswa untuk memahami materi yang dipelajari. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan hasil belajar siswa, tim pengabdian memberikan penghargaan kepada dua siswa terbaik dari setiap kelas (kelas 4, 5 dan 6). Pembagian hadiah disambut dengan antusias oleh para peserta dan menjadi penutup rangkaian pembelajaran interaktif pada kegiatan tersebut.   Pengenalan tanaman obat dan manfaatnya ini merupakan kegiatan terakhir kegiatan pengabdian tim kami di SD Negeri Kiyaran 1.  Setelah kegiatan ini  berakhir, acara dilanjutkan dengan penutupan oleh Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D. selaku ketua tim pengabdian. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan pengabdian di sekolah mitra telah terlaksana melalui empat pertemuan dengan beragam topik pembelajaran. Beliau menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan selama pelaksanaan program. Beliau mengharapkan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat bagi siswa dan memperkaya pengalaman belajar mereka.   Kepala sekolah, Ibu Kristiana Widi Rahayu, S.Pd., turut menyampaikan apresiasi kepada Tim PkM Desa Mitra Fakultas Biologi UGM atas pelaksanaan rangkaian edukasi yang telah mencakup berbagai topik, mulai dari ikan, pengelolaan sampah, budidaya tanaman, hingga pengenalan tanaman obat dan manfaatnya. Beliau berharap pengetahuan yang diperoleh dapat bermanfaat bagi anak-anak, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan dan kolaborasi antara pihak sekolah dan Fakultas Biologi UGM diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi pendidikan siswa. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama antara tim pengabdian, pihak sekolah, dan para siswa sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan.   Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi sains dan pembelajaran kontekstual sejak dini. Pengenalan tanaman obat juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan pengetahuan dasar mengenai tanaman yang berkaitan dengan kesehatan. Melalui program Desa Mitra Wukirsari, Fakultas Biologi UGM berharap pengenalan keanekaragaman hayati dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap tumbuhan, serta apresiasi siswa terhadap potensi hayati di lingkungan sekitar.