BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

Upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi anak tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Pencegahan sejak usia dini justru menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Gadjah Mada bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar kegiatan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut bagi 71 siswa TK Rumahku Tumbuh, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 26/05/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk membangun kesadaran menjaga kesehatan gigi sejak usia emas pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas staf RSGM UGM, dosen Departemen IKGA FKG UGM, dokter gigi residen, hingga mahasiswa koas. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan di lapangan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan calon dokter gigi yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Setelah itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengidentifikasi kondisi rongga mulut masing-masing. Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi bahan informasi bagi orang tua dan guru sehingga potensi gangguan kesehatan gigi dapat dikenali lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. Secara analitis, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit gigi pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku hidup sehat sejak dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan gigi pada anak maupun orang tua masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Oleh karena itu, sekolah menjadi ruang intervensi yang efektif karena mampu menjangkau anak pada fase pembentukan kebiasaan. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti yang dilakukan RSGM UGM dan Departemen IKGA FKG UGM memperlihatkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, melainkan juga sebagai pusat edukasi masyarakat yang aktif membangun budaya hidup sehat. Ketua tim kegiatan dari Departemen IKGA FKG UGM menyampaikan bahwa pemeriksaan gigi pada anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui identifikasi penyakit. Masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan perilaku hidup sehat. Melalui pemeriksaan dan edukasi yang dilakukan dengan pendekatan ramah anak, kami berharap mereka tidak hanya mengenal dokter gigi sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai sahabat yang membantu menjaga kesehatan. Pengalaman positif seperti ini akan membangun keberanian anak untuk rutin memeriksakan gigi hingga dewasa. Keterlibatan guru dan orang tua merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program promotif. Edukasi kesehatan gigi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Orang tua dan guru memiliki peran penting untuk melanjutkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, mengontrol konsumsi makanan manis, serta memastikan anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat didampingi para guru dan tim pelaksana. Suasana yang komunikatif dan menyenangkan membantu mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan gigi, yang selama ini masih menjadi hambatan bagi banyak anak dalam mengakses layanan kesehatan gigi. Dari perspektif pendidikan kedokteran gigi, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi dan dokter gigi residen. Mereka memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memahami bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari tindakan kuratif, tetapi juga dari kemampuan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak satuan pendidikan. Tantangan kesehatan gigi anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan klinis, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan tumbuh dengan kesehatan gigi dan mulut yang optimal sebagai fondasi kualitas hidup yang lebih baik. (Kontributor: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono)

Lanjut Baca

Kembangkan Tanaman Pakan dan Pendirian Laboratorium Biosistem, Fapet UGM Terima Hibah 5 Cultivator dari Quick Traktor

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM terus meningkatkan kerja sama dengan dunia industri. Kerja sama tersebut salah satunya diwujudkan dengan diserahkannya 5 unit traktor cultivator dari CV Karya Hidup Sentosa (Quick Traktor) ke Fapet UGM, Kamis (23/7). Penyerahan hibah 5 unit traktor cultivator dilakukan oleh Wawan Kartika Hadi, STP selaku Asisten Kepala Unit Spesial Marketing CV Karya Hidup Sentosa kepada Dekan Fapet, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng bersama jajaran pimpinan lainnya. Budi Guntoro dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas pemberian hibah cultivator tersebut. Menurutnya, bantuan ini sangat bermanfaat dalam mendukung pengembangan tanaman pakan seperti rumput Gama Umami dan rumput unggul lainnya serta kegiatan Tridarma di Fapet lainnya. “Harapannya dengan CSR ini ada sinergi antara dunia industri dengan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi khususnya peternakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,”kata Budi. Selain itu, keberadaan cultivator ini juga selaras dengan pengembangan laboratorium Biosistem Industri Peternakan (Mekanisasi dan Otomasi) di Fapet UGM yang kini tengah disusun. Nantinya, imbuh Dekan, para ahli dari Quick Traktor bersama peneliti-dosen Fapet UGM bisa berkolaborasi dalam pengembangan laboratorium tersebut. Senada dengan itu, Wawan Kartika mengatakan pihaknya berterima kasih atas kerja sama yang dijalin. Kerja sama tersebut harapannya bisa menjadi sarana pembelajaran bersama serta alih teknologi dengan SDM di perguruan tinggi. “Terima kasih atas kerja sama yang dijalin. Ke depan harapannya alumni Fapet UGM juga bisa bergabung dan berkarier di Quick Traktor,”kata Wawan. Quick Traktor adalah perusahaan manufaktur alat dan mesin pertanian (alsintan) asal Indonesia yang berkantor pusat di Yogyakarta. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1953 dan dikenal sebagai salah satu produsen traktor tangan (hand tractor) terbesar di Indonesia.   Penulis: Satria Foto: Margiyono

Selengkapnya

Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa

Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, jalan aspal berhenti. Berganti jadi jalan tanah berbatu dan berdebu. Rumah-rumah berdiri berjajar dengan wajah yang timpang, ada yang megah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman karena kiriman anak, istri atau suami yang jadi buruh migran di negeri seberang dan ada yang lantai dan dindingnya masih bata ekspos belum diaci. Desa ini pernah punya julukan yang menyakitkan untuk disebut: "kampung idiot," julukan yang lahir dari isolasi geografis yang begitu lama akibat perkawinan sedarah antar penduduk yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan minim akses pendidikan yang meninggalkan luka panjang, berupa keterbelakangan mental pada sebagian anak-anaknya. Di kemudian hari, daerah ini berganti julukan menjadi “kampung TKI”. Banyak warga yang bekerja sebagai buruh di luar negeri. Uang dari luar negeri memang bisa membangun rumah bertingkat, tapi tidak selalu membangun jalan keluar yang berkelanjutan. Dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan milik Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43), dua anak kembar perempuannya bernama Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) lahir. Mereka tumbuh besar dan memilih jalan yang jarang ditempuh sebagian besar masyarakat di desanya, bukan merantau jadi buruh, melainkan memperjuangkan mimpi punya pendidikan tinggi di kampus yang namanya dulu hanya berani mereka ucapkan sambil bercanda. Anak Buruh Serabutan  Meseri, sang ayah, sehari-hari adalah buruh serabutan. Ia seringkali mencari nafkah dengan menawarkan jasa pertanian pada warga sekitar yang sedang menggarap sawah. Selain itu, kalau ada proyek bangunan, ia juga ikut mandor ke kota jadi buruh bangunan. "Yang penting ada pemasukan," katanya, mengulang kalimat yang lebih terdengar seperti doa daripada rencana. Sedangkan Siti, istrinya, adalah ibu rumah tangga yang sesekali ikut ke sawah membantu suami mencari tambahan. Penghasilan mereka tidak pernah tetap, kadang ada, kadang tidak. Saat pasangan buruh itu mendapati buah hatinya lahir kembar, mereka memutuskan cukup memiliki dua anak. Keputusan itu atas kesadaran penuh bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan berharap anak-anaknya dapat memiliki nasib yang lebih baik. Dari keputusan itu lahir sebuah komitmen yang mereka pegang bertahun-tahun sebelum tahu akan berbuah apa. Sejak sebelum masuk TK, kedua anaknya sudah dikenalkan pada buku dan latihan menulis, ditanamkan tekad bahwa sekolah adalah jalan keluar dari nasib mencangkul yang mereka jalani sendiri. "Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga," ujar Siti. Mahmudah dan Rikah selalu satu sekolah sejak sekolah dasar, mereka bersekolah di SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, dan lulus dari SMAN 1 Badegan. Hal ini bukan kebetulan, tapi strategi. "Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain," kata Rikah. Di sekolah mereka adalah murid berprestasi, keduanya adalah partner berkompetisi yang kompak. Dari SD keduanya selalu berada di peringkat tiga besar di kelas, sering berebut posisi ranking satu. Kombinasi kompetensi keduanya berhasil memanen puluhan prestasi. Terhitung 18 prestasi untuk Mahmudah, 14 untuk Rikah, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan sampai juara esai dan poster tingkat nasional. Saat satu menang dan satu belum beruntung, keduanya menganggapnya giliran. "Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan," kata Mahmudah. Mimpi yang Disimpan  Mimpi kuliah di UGM lahir diam-diam, dari dua arah yang tak saling tahu. Bagi Rikah, keinginan kuliah di UGM bermula dari seorang guru kelas 4 SD yang bercerita tentang muridnya yang berhasil kuliah di UGM lewat beasiswa. "Saya kan masih polos, jadi saya simpan sendiri aja. Saya nggak cerita juga ke Mahmudah," kenangnya. Bagi Mahmudah, ketertarikan itu tumbuh dari rasa penasaran begitu ia pertama kali mendengar nama Universitas Gadjah Mada. Setiap kali ada orang bertanya, “Mau kuliah ke mana?” Mahmudah selalu menjawab ke UGM. “Itu saya menjawabnya sambil bercanda,tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan," kenangnya. Baru belakangan mereka sadar bahwa sedang menuju arah yang sama. Namun jalan untuk bisa diterima di UGM tidak mudah bagi keduanya. Keduanya sudah melalui kegagalan berulang kali untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat berbagai jalur. Rikah menghitungnya tujuh kali. "Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka," ungkapnya. Keduanya sempat sama-sama gagal di SNBP, lalu sama-sama diterima di kampus di Malang. Keduanya merasa belum puas, karena itu bukan tujuan sebenarnya yang mereka kejar. Satu kesempatan tersisa yang mereka pilih, jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM)UGM. "Saat itu harapan saya itu tinggal kecil sekali. Saya sudah tidak berani terlalu berharap," kenang Rikah. Ketika pengumuman itu datang, dan keduanya dinyatakan lolos bersama dengan subsidi UKT 100 persen. Keduanya merasa senang dan bannga karena usaha tidak pernah menghianati hasil. "Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil", kata Mahmudah bersyukur. Mengetahui kedua buah hatinya diterima  di terima di Kampus UGM, Meseri merasa bersyukur dikaruniai anak yang berprestasi dan mampu membanggkan keluarga. Namun ia sempat gamang membayangkan anaknya pergi jauh ke Yogyakarta. "Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM," katanya. Mahmudah diterima di D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Volasi. Sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi. Rikah sempat membayangkan jika suatu saat kelak setelah lulus akan membentuk komunitas penyuluhan ternak bagi warga desanya. Meski belum tahu bentuk pastinya, yakin ilmunya kelak juga harus kembali menolong masyarakat sekitar rumah. Di desa yang mayoritas anak mudanya berhenti di SMK, selanjutnya kebanyakan memilih langsung bekerja atau merantau jauh sebagai buruh migran. Dua anak buruh serabutan ini memilih menempuh jalan yang lebih panjang dan lebih sunyi, demi menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang desa terpencil bukan vonis akhir."Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya," ucap Rikah kepada kedua orang tuanya, di hadapan kamera yang merekam pertemuan itu. Di sebuah desa yang selama ini lebih dikenal karena kisah pilunya, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif sedang menulis cerita lain, bahwa dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, mimpi tetap bisa melenting setinggi langit dan merawat harapan dapat pulang membawa terang untuk desa yang membesarkannya. Penulis/Foto : Donnie Tristan Editor : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Selengkapnya

Cerita Fecia, Anak Buruh Tani Asal Semanu Merajut Mimpi Kuliah di UGM  

Hidup dalam kesederhanaan di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya du Padukuhan Tunggul Barat, Semanu, Gunungkidul, tak membuat Fecia Laura Revani (18) berhenti bermimpi untuk meraih cita-citanya bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Sang Ayah, Subyono (51), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan, ia hanya bisa mengumpulkan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. Sementara sang ibu, Puji (46), sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun demikian, kedua orang tuanya sangat mendukung penuh cita-cita Fecia untuk meraih cita-citanya. Bungsu dari dua bersaudara ini aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya, SMAN 1 Wonosari Gunungkidul. Ia aktif di organisasi Patroli Keamanan Sekolah hingga menjadi vokalis band sekolah yang mengantarkannya langganan juara. Kesibukannya ini cukup membuat Fecia kewalahan dalam mengatur waktu dengan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memprioritaskan kegiatan akademiknya. “Jika di sekolah sedang ada ujian, saya mengutamakan ujian sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, jika ada waktu luang setelah pulang sekolah, saya usahakan mencicil belajar sedikit demi sedikit untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi,” jelasnya, Senin (20/7). Mimpi yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi tertanam kuat dalam diri Fecia. Sudah sejak lama, memiliki tekad untuk berkuliah dengan jurusan pertanian. Ia sempat mendaftar lewat jalur SNBP dan SNBT namun belum diterima. Meskipun ia sempat mengalami beberapa kali kegagalan, ia tidak menyerah begitu saja. Dengan rain belajar dan senantiasa terus berdoa, Fecia akhirnya diterima menjadi mahasiswa Agronomi UGM melalui jalur ujian mandiri UGM atau UM UGM CBT. Pada mulanya, Fecia mengaku tak percaya berhasil lolos seleksi ujian mandiri UGM. Ia merasa sangat senang dapat diterima di jurusan impiannya. Sejak awal, ia sudah tertarik untuk mempelajari lebih dalam bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman. Minatnya tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya, yang paham betul bahwa Fecia tertarik pada dunia pertanian. “Dari awal tertariknya, ke pertanian untuk membudidaya tanaman. Karena suka menanam tanaman, jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang tanaman-tanaman,”kata sang Ibu, Puji. Sempat khawatir soal biaya, namun Puji percaya bahwa anaknya memiliki rezekinya sendiri. “Memang secara hitung-hitungan penghasilannya cuma segini, tapi dari awal kan insya Allah anak saya itu kan memiliki rezeki sendiri gitu,” ungkap Puji. Berkat doa orang tua dan kegigihan Puji yang mengajukan beasiswa subsidi Uang Kuliah Tunggal dari pihak Kampus, ia pun berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau biaya UKT 0. Fecia mengaku bersyukur bisa diterima kuliah gratis di UGM dan diterima di prodi yang sesuai dengan minatnya. Ia berterus terang bahwa kedua orang tuanyalah yang menjadi sosok inspiratifnya dalam meraih mimpi. Merekalah menjadi alasan bagi Fecia untuk terus berjuang,  tidak mudah menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. “Mereka sudah berjuang banyak buat aku, sudah ngorbanin semuanya buat aku sampai apa ya cari uang ke mana-mana gitu,” terangnya. Keberhasilan Fecia lolos kuliah di UGM ini disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Puji berharap agar Fecia bisa menjalankan kuliah dengan lancar. Ia dan suaminya selalu memberikan dukungan. “Kami selalu mengajarkan Fecia untuk  selalu banyak berdoa, berusaha secara maksimal semampunya, dan memasrahkan hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Puji. Fecia berpesan kepada teman-teman seperjuangan, untuk tetap semangat dan optimis dalam meraih mimpi. Ia selalu percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. “Meskipun saya sendiri memiliki banyak kekurangan dan belajar kurang maksimal, saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pungkasnya. Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid Editor : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Selengkapnya

Fakultas Farmasi Peduli Air Bersih: Donasikan Air Bersih Untuk Warga Desa Kecamatan Purwosari, Gunungkidul

Yogyakarta, 08 Juli 2026 —Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mempertegas komitmennya dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui penyaluran bantuan pasokan air bersih bagi warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan distribusi air bersih yang dilaksanakan pada 2–8 Juli 2026 ini merupakan agenda lanjutan dari rangkaian program pengabdian serupa yang telah diinisiasi sejak tahun 2018. Proses penyerahan dan distribusi bantuan kemanusiaan di lapangan dikawal dan diwakili secara langsung oleh tenaga kependidikan Fakultas Farmasi UGM. Kehadiran perwakilan fakultas tersebut bertujuan untuk memastikan seluruh proses penyaluran air berjalan lancar, terdistribusi secara merata, dan tepat sasaran kepada masyarakat yang paling terdampak krisis air bersih. Guna mengoptimalkan jangkauan bantuan, lokasi penyaluran air bersih pada kegiatan kali ini difokuskan pada sepuluh titik strategis yang tersebar di lima dusun, meliputi Dusun Widoro, Dusun Gubar, Dusun Klampok, Dusun Sumur, dan Dusun Geger Seloharjo. Program pengadaan dan penyaluran air bersih ini dapat terlaksana berkat partisipasi dan kepedulian Civitas Akademika Fakultas Farmasi UGM melalui kegiatan penggalangan donasi. Penggalangan dana tersebut menjadi wujud semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan solidaritas warga fakultas dalam membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih. Selain bersumber dari donasi Civitas Akademika Fakultas Farmasi UGM, pelaksanaan kegiatan ini juga memperoleh dukungan melalui Hibah Sustainability Campus Action 2026. Melalui kolaborasi antara donasi Civitas Akademika Fakultas Farmasi UGM dan dukungan Hibah Sustainability Campus Action 2026, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp12.050.648. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengadaan, pengangkutan, dan distribusi pasokan air bersih kepada masyarakat di wilayah sasaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan aksi nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi sekaligus wujud kontribusi aktif Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak. Melalui upaya nyata dalam memberikan kemudahan akses terhadap air bersih, Fakultas Farmasi UGM berharap dapat meringankan beban warga Kecamatan Purwosari dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. Penulis: Gilang | Editor: Fathul | Foto: Gilang

Selengkapnya

Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keinginan untuk berkuliah di UGM sebenarnya telah tumbuh sejak Andini Dwi Lestari masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam perjalanan akademiknya, Andini dikenal sebagai siswa yang konsisten berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia beberapa kali meraih peringkat pertama di kelas. Di SMA, tepatnya SMA 1 CIrebon, ia berhasil meraih peringkat pertama paket IPS dan dinyatakan sebagai siswa eligible pertama. Ia juga pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota Cirebon pada tahun 2025, bidang ekonomi. Di balik capaian tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar bagi Andini. Kedua orang tuanya selalu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pentingnya memohon ridha Tuhan dalam setiap usaha yang dilakukan. Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Andini diterima kuliah di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kebahagiaan keluarga terus bertambah setelah mengetahui Andini memperoleh beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen dari UGM atau UKT nol. Sebelumnya, sang ibu sempat memikirkan berbagai kebutuhan biaya kuliah, mulai dari uang pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal selama Andini menempuh studi di Yogyakarta. “Alhamdulillah, senang sekali melihat nominal UKT nol rupiah karena bisa membantu meringankan beban keluarga dalam biaya kuliah,” ungkap Andini, Rabu (8/7). Sementara itu, sang ibu, Siti Patonah menyampaikan bahwa ia dan suaminya, Suryanto selalu mendukung keinginan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Siti, yang merupakan lulusan SMA, bersama sang suami yang mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP, berharap Andini dapat memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya. Meski sempat memikirkan keterbatasan biaya, keluarga tetap bertekad mencari berbagai peluang bantuan pendidikan. “Yang penting Andini bisa masuk kuliah dulu. Soal biaya, kami yakin selalu ada jalan dan bisa diusahakan nanti, termasuk mencari beasiswa,” ujar Siti. Siti mengatakan bahwa selama ini ia dan suami yang bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Cirebon, selalu menanamkan pentingnya doa, ikhtiar, dan semangat untuk tidak mudah menyerah kepada anak-anaknya. Menurutnya, setiap hari harus menjadi kesempatan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.“Saya selalu berpesan kepada Andini agar jangan pernah putus asa, terus berusaha, dan berdoa. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Jangan sampai mengecewakan Bapak dan Ibu,” tuturnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada UGM atas kesempatan dan bantuan pendidikan yang diberikan kepada putrinya.“Terima kasih kepada UGM yang telah menerima Andini dan memberikan subsidi UKT. Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, menjadi amanah yang dijaga dengan sungguh-sungguh, dan membantu Andini mewujudkan cita-citanya, sehingga bantuan yang diberikan tidak menjadi sia-sia,” ungkapnya. Kini, langkah Andini menuju FEB UGM tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Menurut Andini, kunci untuk menjaga prestasi adalah kemampuan mengatur waktu dan menetapkan prioritas. Ia selalu berusaha menyeimbangkan waktu untuk belajar, bermain, dan kegiatan lainnya.“Saya juga selalu mengingat mimpi jangka panjang saya untuk menjadi pengusaha sehingga saya lebih bersemangat untuk belajar,” katanya. Andini berpesan kepada teman-teman yang masih berjuang meraih cita-cita agar tidak mudah menyerah. “Terus semangat belajar, berusaha, dan berdoa. Kalau kita bersungguh-sungguh dalam berikhtiar, pasti akan ada jalan,” pesannya. Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson Foto           : Dok. Humas FEB

Selengkapnya

FK-KMK UGM Sambut 8 Mahasiswa Palestina untuk Lanjutkan Studi Kedokteran Melalui Program SHEMIND 2026

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyambut kedatangan delapan mahasiswa Palestina pada Selasa (7/7/2026). Pertemuan ini dilaksanakan di Executive Room, Lantai 2 Gedung Pusat FK-KMK UGM. Kedatangan mahasiswa Palestina yang terdiri atas tiga mahasiswa dan lima mahasiswi Kedokteran Al-Azhar University, Gaza, ini merupakan hasil dari kerja sama FK-KMK UGM dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND): UGM For Palestine untuk memberikan kesempatan mahasiswa Kedokteran Palestina belajar dan mengembangkan diri secara praktis di FK-KMK UGM, serta membangkitkan kembali pendidikan kedokteran di Gaza. Menyambut kehadiran delapan mahasiswa Al-Azhar University Gaza, Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, mengatakan bahwa kehadiran mereka di FK-KMK bukan sekadar menyelesaikan studi, tetapi juga bukti ketahanan, ketekunan, dan harapan, dan komitmen mereka sebagai calon dokter masa depan dari tantangan yang telah dihadapi. Prof. Yodi meyakini bahwa tanggung jawab FK-KMK UGM tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga melampaui batas negara. “Jadi, ketika para profesional kesehatan di masa depan, yaitu calon dokter seperti Anda sekalian, menghadapi kesulitan, solidaritas akademik menjadi lebih dari sekadar nilai, tanggung jawab, dan kewajiban moral bagi kami,” ujar Prof. Yodi. Di FK-KMK UGM, para mahasiswa Palestina akan memperkuat kompetensi klinis, membangun persahabatan yang erat dengan mahasiswa lainnya, sekaligus menemukan rumah kedua. Di sisi lain, kehadiran para mahasiswa Palestina juga mengajarkan kepada sivitas FK-KMK UGM tentang ketahanan hidup. “Kami sangat berharap, suatu hari nanti, Anda akan kembali ke Gaza tidak hanya sebagai profesional kesehatan, tetapi juga sebagai pemimpin. Sampai hari itu tiba, ketahuilah bahwa kami di sini ada untuk kalian,” pesan Prof. Yodi. Selain Dekan, turut hadir Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D. dan Sekretaris Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D. Sementara itu, tim SHEMIND FK-KMK UGM yang juga membersamai antara lain Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., AIFO-K selaku konseptor SHEMIND; dr. Noviarina Kurniawati, M.Sc. dari Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika; Dr.rer.nat. Risky Oktriani, S.Si., M.Biotech., M.Sc. dari Departemen Biokimia; dr. Farida Nur Oktoviani, M.Biotech dari Departemen Mikrobiologi; dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc. dari Departemen Parasitologi; dan Apri Linawati, S.E. dari Unit Akademik dan Kemahasiswaan. Mewakili Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dr. Hamim mengemukakan bahwa saat ini, Fakultas tengah berupaya untuk menyelaraskan kurikulum FK-KMK dengan kurikulum Kedokteran di Al-Azhar University Gaza. “Meskipun nantinya kurikulum antara kedua universitas tidak dapat persis sama, semoga kurikulum yang telah diselaraskan tetap dapat relevan dengan kurikulum di Al-Azhar University Gaza,” terang dr. Hamim. Salah satu mahasiswa Al-Azhar University Gaza yang hadir, Yousef Albashiti, berterima kasih kepada FK-KMK UGM atas kesempatan yang diberikan. “Kami berterima kasih atas kesempatan yang ditawarkan kepada kami untuk melanjutkan tahun-tahun pendidikan klinis kami,” kata Yusuf. Mahasiswa lainnya, Mahmoud Hamdouna, turut bahagia atas sambutan yang diberikan oleh FK-KMK UGM. “Saya berasal dari Mesir dan berkuliah di Palestina. Terima kasih telah menyambut kami. Saya senang sekali bisa berada di sini,” ungkap Mahmoud. Inisiatif FK-KMK UGM dalam melanjutkan studi mahasiswa Kedokteran Palestina yang terdampak perang merupakan salah satu upaya fakultas dalam mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Fasilitasi pendidikan bagi mahasiswa kedokteran Palestina ini memastikan keberlanjutan hak atas pendidikan yang berkualitas meskipun di tengah situasi krisis, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang kelak akan memulihkan dan membangun kembali sistem kesehatan masyarakat di Gaza. Lebih dari itu, kemitraan global antara FK-KMK UGM, Pemerintah Republik Indonesia melalui Indonesian AID, dan Al-Azhar University ini merupakan wujud representatif dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi institusi pendidikan dan solidaritas kemanusiaan bersatu padu untuk mengatasi tantangan global serta merajut harapan masa depan yang lebih baik. (Penulis: Citra/Humas)

Selengkapnya

Komitmen Pendidikan Inklusif, Dekan Fakultas Peternakan UGM Temui Keluarga Mahasiswa Penerima Bantuan UKT

Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 non KIP Kuliah. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di Fapet UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya mantap memilih Fapet UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkap Arifin, Selasa (7/7). Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan yang menjadi salah satu alasan memilih Fapet UGM sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangganya yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, Arifin bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Di bidang nonakademik, Arifin juga memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat propinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. Namun, ia dikenal sebagai anak yang fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah. Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., yang berkunjung ke rumahnya daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, bersama Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Prof. Yuny Erwanto dan Sekretaris Prodi S1 Fapet, Viagian Pastawan, Ph.d, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat ya mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,”pesan Budi Guntoro. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Fapet UGM berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang dan menyelesaikan studinya secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fapet UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Penulis: Satria Foto: Satria-Tim Media Center