BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Lanjut Baca

Fakultas Farmasi Peduli Air Bersih: Donasikan Air Bersih Untuk Warga Desa Kecamatan Purwosari, Gunungkidul

Yogyakarta, 08 Juli 2026 —Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mempertegas komitmennya dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui penyaluran bantuan pasokan air bersih bagi warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan distribusi air bersih yang dilaksanakan pada 2–8 Juli 2026 ini merupakan agenda lanjutan dari rangkaian program pengabdian serupa yang telah diinisiasi sejak tahun 2018. Proses penyerahan dan distribusi bantuan kemanusiaan di lapangan dikawal dan diwakili secara langsung oleh tenaga kependidikan Fakultas Farmasi UGM. Kehadiran perwakilan fakultas tersebut bertujuan untuk memastikan seluruh proses penyaluran air berjalan lancar, terdistribusi secara merata, dan tepat sasaran kepada masyarakat yang paling terdampak krisis air bersih. Guna mengoptimalkan jangkauan bantuan, lokasi penyaluran air bersih pada kegiatan kali ini difokuskan pada sepuluh titik strategis yang tersebar di lima dusun, meliputi Dusun Widoro, Dusun Gubar, Dusun Klampok, Dusun Sumur, dan Dusun Geger Seloharjo. Program pengadaan dan penyaluran air bersih ini dapat terlaksana berkat partisipasi dan kepedulian Civitas Akademika Fakultas Farmasi UGM melalui kegiatan penggalangan donasi. Penggalangan dana tersebut menjadi wujud semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan solidaritas warga fakultas dalam membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih. Selain bersumber dari donasi Civitas Akademika Fakultas Farmasi UGM, pelaksanaan kegiatan ini juga memperoleh dukungan melalui Hibah Sustainability Campus Action 2026. Melalui kolaborasi antara donasi Civitas Akademika Fakultas Farmasi UGM dan dukungan Hibah Sustainability Campus Action 2026, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp12.050.648. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengadaan, pengangkutan, dan distribusi pasokan air bersih kepada masyarakat di wilayah sasaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan aksi nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi sekaligus wujud kontribusi aktif Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak. Melalui upaya nyata dalam memberikan kemudahan akses terhadap air bersih, Fakultas Farmasi UGM berharap dapat meringankan beban warga Kecamatan Purwosari dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. Penulis: Gilang | Editor: Fathul | Foto: Gilang

Selengkapnya

Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keinginan untuk berkuliah di UGM sebenarnya telah tumbuh sejak Andini Dwi Lestari masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam perjalanan akademiknya, Andini dikenal sebagai siswa yang konsisten berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia beberapa kali meraih peringkat pertama di kelas. Di SMA, tepatnya SMA 1 CIrebon, ia berhasil meraih peringkat pertama paket IPS dan dinyatakan sebagai siswa eligible pertama. Ia juga pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota Cirebon pada tahun 2025, bidang ekonomi. Di balik capaian tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar bagi Andini. Kedua orang tuanya selalu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pentingnya memohon ridha Tuhan dalam setiap usaha yang dilakukan. Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Andini diterima kuliah di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kebahagiaan keluarga terus bertambah setelah mengetahui Andini memperoleh beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen dari UGM atau UKT nol. Sebelumnya, sang ibu sempat memikirkan berbagai kebutuhan biaya kuliah, mulai dari uang pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal selama Andini menempuh studi di Yogyakarta. “Alhamdulillah, senang sekali melihat nominal UKT nol rupiah karena bisa membantu meringankan beban keluarga dalam biaya kuliah,” ungkap Andini, Rabu (8/7). Sementara itu, sang ibu, Siti Patonah menyampaikan bahwa ia dan suaminya, Suryanto selalu mendukung keinginan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Siti, yang merupakan lulusan SMA, bersama sang suami yang mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP, berharap Andini dapat memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya. Meski sempat memikirkan keterbatasan biaya, keluarga tetap bertekad mencari berbagai peluang bantuan pendidikan. “Yang penting Andini bisa masuk kuliah dulu. Soal biaya, kami yakin selalu ada jalan dan bisa diusahakan nanti, termasuk mencari beasiswa,” ujar Siti. Siti mengatakan bahwa selama ini ia dan suami yang bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Cirebon, selalu menanamkan pentingnya doa, ikhtiar, dan semangat untuk tidak mudah menyerah kepada anak-anaknya. Menurutnya, setiap hari harus menjadi kesempatan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.“Saya selalu berpesan kepada Andini agar jangan pernah putus asa, terus berusaha, dan berdoa. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Jangan sampai mengecewakan Bapak dan Ibu,” tuturnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada UGM atas kesempatan dan bantuan pendidikan yang diberikan kepada putrinya.“Terima kasih kepada UGM yang telah menerima Andini dan memberikan subsidi UKT. Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, menjadi amanah yang dijaga dengan sungguh-sungguh, dan membantu Andini mewujudkan cita-citanya, sehingga bantuan yang diberikan tidak menjadi sia-sia,” ungkapnya. Kini, langkah Andini menuju FEB UGM tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Menurut Andini, kunci untuk menjaga prestasi adalah kemampuan mengatur waktu dan menetapkan prioritas. Ia selalu berusaha menyeimbangkan waktu untuk belajar, bermain, dan kegiatan lainnya.“Saya juga selalu mengingat mimpi jangka panjang saya untuk menjadi pengusaha sehingga saya lebih bersemangat untuk belajar,” katanya. Andini berpesan kepada teman-teman yang masih berjuang meraih cita-cita agar tidak mudah menyerah. “Terus semangat belajar, berusaha, dan berdoa. Kalau kita bersungguh-sungguh dalam berikhtiar, pasti akan ada jalan,” pesannya. Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson Foto           : Dok. Humas FEB

Selengkapnya

FK-KMK UGM Sambut 8 Mahasiswa Palestina untuk Lanjutkan Studi Kedokteran Melalui Program SHEMIND 2026

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyambut kedatangan delapan mahasiswa Palestina pada Selasa (7/7/2026). Pertemuan ini dilaksanakan di Executive Room, Lantai 2 Gedung Pusat FK-KMK UGM. Kedatangan mahasiswa Palestina yang terdiri atas tiga mahasiswa dan lima mahasiswi Kedokteran Al-Azhar University, Gaza, ini merupakan hasil dari kerja sama FK-KMK UGM dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND): UGM For Palestine untuk memberikan kesempatan mahasiswa Kedokteran Palestina belajar dan mengembangkan diri secara praktis di FK-KMK UGM, serta membangkitkan kembali pendidikan kedokteran di Gaza. Menyambut kehadiran delapan mahasiswa Al-Azhar University Gaza, Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, mengatakan bahwa kehadiran mereka di FK-KMK bukan sekadar menyelesaikan studi, tetapi juga bukti ketahanan, ketekunan, dan harapan, dan komitmen mereka sebagai calon dokter masa depan dari tantangan yang telah dihadapi. Prof. Yodi meyakini bahwa tanggung jawab FK-KMK UGM tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga melampaui batas negara. “Jadi, ketika para profesional kesehatan di masa depan, yaitu calon dokter seperti Anda sekalian, menghadapi kesulitan, solidaritas akademik menjadi lebih dari sekadar nilai, tanggung jawab, dan kewajiban moral bagi kami,” ujar Prof. Yodi. Di FK-KMK UGM, para mahasiswa Palestina akan memperkuat kompetensi klinis, membangun persahabatan yang erat dengan mahasiswa lainnya, sekaligus menemukan rumah kedua. Di sisi lain, kehadiran para mahasiswa Palestina juga mengajarkan kepada sivitas FK-KMK UGM tentang ketahanan hidup. “Kami sangat berharap, suatu hari nanti, Anda akan kembali ke Gaza tidak hanya sebagai profesional kesehatan, tetapi juga sebagai pemimpin. Sampai hari itu tiba, ketahuilah bahwa kami di sini ada untuk kalian,” pesan Prof. Yodi. Selain Dekan, turut hadir Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D. dan Sekretaris Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D. Sementara itu, tim SHEMIND FK-KMK UGM yang juga membersamai antara lain Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., AIFO-K selaku konseptor SHEMIND; dr. Noviarina Kurniawati, M.Sc. dari Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika; Dr.rer.nat. Risky Oktriani, S.Si., M.Biotech., M.Sc. dari Departemen Biokimia; dr. Farida Nur Oktoviani, M.Biotech dari Departemen Mikrobiologi; dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc. dari Departemen Parasitologi; dan Apri Linawati, S.E. dari Unit Akademik dan Kemahasiswaan. Mewakili Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dr. Hamim mengemukakan bahwa saat ini, Fakultas tengah berupaya untuk menyelaraskan kurikulum FK-KMK dengan kurikulum Kedokteran di Al-Azhar University Gaza. “Meskipun nantinya kurikulum antara kedua universitas tidak dapat persis sama, semoga kurikulum yang telah diselaraskan tetap dapat relevan dengan kurikulum di Al-Azhar University Gaza,” terang dr. Hamim. Salah satu mahasiswa Al-Azhar University Gaza yang hadir, Yousef Albashiti, berterima kasih kepada FK-KMK UGM atas kesempatan yang diberikan. “Kami berterima kasih atas kesempatan yang ditawarkan kepada kami untuk melanjutkan tahun-tahun pendidikan klinis kami,” kata Yusuf. Mahasiswa lainnya, Mahmoud Hamdouna, turut bahagia atas sambutan yang diberikan oleh FK-KMK UGM. “Saya berasal dari Mesir dan berkuliah di Palestina. Terima kasih telah menyambut kami. Saya senang sekali bisa berada di sini,” ungkap Mahmoud. Inisiatif FK-KMK UGM dalam melanjutkan studi mahasiswa Kedokteran Palestina yang terdampak perang merupakan salah satu upaya fakultas dalam mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Fasilitasi pendidikan bagi mahasiswa kedokteran Palestina ini memastikan keberlanjutan hak atas pendidikan yang berkualitas meskipun di tengah situasi krisis, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang kelak akan memulihkan dan membangun kembali sistem kesehatan masyarakat di Gaza. Lebih dari itu, kemitraan global antara FK-KMK UGM, Pemerintah Republik Indonesia melalui Indonesian AID, dan Al-Azhar University ini merupakan wujud representatif dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi institusi pendidikan dan solidaritas kemanusiaan bersatu padu untuk mengatasi tantangan global serta merajut harapan masa depan yang lebih baik. (Penulis: Citra/Humas)

Selengkapnya

Komitmen Pendidikan Inklusif, Dekan Fakultas Peternakan UGM Temui Keluarga Mahasiswa Penerima Bantuan UKT

Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 non KIP Kuliah. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di Fapet UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya mantap memilih Fapet UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkap Arifin, Selasa (7/7). Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan yang menjadi salah satu alasan memilih Fapet UGM sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangganya yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, Arifin bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Di bidang nonakademik, Arifin juga memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat propinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. Namun, ia dikenal sebagai anak yang fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah. Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., yang berkunjung ke rumahnya daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, bersama Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Prof. Yuny Erwanto dan Sekretaris Prodi S1 Fapet, Viagian Pastawan, Ph.d, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat ya mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,”pesan Budi Guntoro. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Fapet UGM berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang dan menyelesaikan studinya secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fapet UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Penulis: Satria Foto: Satria-Tim Media Center          

Selengkapnya

Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM

Di balik keberhasilan mahasiswa baru diterima kuliah gratis di kampus Universitas Gadjah Mada, tersimpan cerita perjuangan yang menginspirasi. Begitu pun dengan kehidupan  keluarga Muhammad Fathan Khairul Muna R (17). Bersama ibu dan kakaknya, Fathan menapaki hari demi hari sambil terus memperjuangkan mimpinya untuk tembus kuliah di kampus UGM dengan belajar secara giat.  Ia selalu bangun dini hari untuk membantu mengantarkan sang ibu beserta dagangan menuju kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru, tempat ibunya mencari nafkah sekaligus sekolahnya, sebelum kemudian mengenakan seragam dan menjalani hari sebagai siswa seperti remaja lainnya. Ibunya,  Rida Rahayu,menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di kantin sekolah setelah suaminya meninggal. Namun di tengah keterbatasan tersebut, pendidikan selalu menjadi prioritas utama dalam keluarga mereka. “Sejak SMA, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk masuk kuliah. Saya suka belajar dan bertemu dengan orang-orang untuk memperluas pengetahuan. Ibu saya juga selalu mendukung dalam hal apa pun, meskipun tidak sesuai atau Ibu pengennya berbeda, tetap mendukung saya dan percaya apa pun pilihannya,” ujar Fathan, Rabu (1/7). Persiapannya menuju kampus impian dimulai sejak Fathan masuk SMA. Ia menjaga konsistensi nilai akademik karena sekolah menerapkan penilaian prestasi akademik sejak semester awal hingga semester kelima. Ia memberikan perhatian khusus pada mata pelajaran ekonomi saat memasuki peminatan untuk mendukung impiannya masuk ke Program Studi Akuntansi. Di balik prestasinya, Fathan didukung oleh lingkungan yang aktif mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu kompetisi yang paling berkesan baginya adalah Cerdas Cermat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi Indonesia, dan ia berhasil meraih Juara II tingkat Sumatera. Bahkan di kelas XII, Fathan juga menerima Beasiswa 4698 yang diberikan oleh para alumni sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan selama masa pendidikan di SMA. Ia mengaku sempat kecewa saat mengalami berbagai kegagalan dalam beberapa kompetisi. Namun, pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk terus berani mengikuti berbagai perlombaan, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Baginya, setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses yang diyakininya sebagai cara Tuhan mempersiapkan kesempatan yang lebih baik di masa depan. “Awalnya sedih harus menghadapi banyak kekalahan. Tetapi, ini membuat saya untuk terus tetap berani mencoba banyak lomba-lomba lainnya dari akademik hingga non akademik. Prinsip yang selalu saya pegang adalah bahwa setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkapnya. Perjuangan Fathan tidak sia-sia, Dua orang yang paling berperan dalam perjalanan Fathan adalah ibunya dan kakak perempuannya. Ibunya selalu meyakinkannya bahwa tidak ada mimpi yang mustahil dicapai selama ia mau berusaha. Sementara itu, kakaknya menjadi sosok yang selalu memberikan dukungan moral maupun finansial selama Fathan menjalani studinya. Kini, Fathan bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa FEB UGM. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih selama seseorang mau terus berusaha. “Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri,” pungkasnya. Reportase  : Shofi Hawa Anjani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang, Anak Buruh Tani Asal Gunungkidul Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi Leni Ismawati (18) untuk meraih mimpi tinggi. Gadis asal Gunungkidul tersebut telah memiliki mimpi untuk berkuliah di UGM sejak menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Keberhasilannya lolos Akuntansi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol dari UGM membuktikan bahwa dirinya berhasil memenuhi salah satu impiannya. Leni merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Semojo (50) dan Ibu Erni (37) yang sehari-harinya mengurus sawah dan ternak dengan penghasilan yang tidak tetap. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Erni mengaku sering mencari tambahan dengan menjadi buruh tani kepada tetangganya. Namun, keterbatasan ini bukan halangan untuk pendidikan putrinya. Erni mengatakan dirinya selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Hal ini karena dirinya yang hanya lulusan SMP dan suaminya yang hanya  lulusan SD. Bahkan ia mengaku menyesal tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ditambah dari keluarganya dan suaminya belum ada yang melanjutkan pendidikan hingga kuliah. Rasa bangga terhadap Leni turut menyertai pencapaian yang didapatkannya. “Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya untuk biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” tutur Erni, Senin (29/6). Dukungan penuh yang diberikan kedua orang tuanya, membuat Leni lebih berani dalam melangkah. “Ibu sempat berpesan agar jangan takut mengejar mimpi. Hal itulah yang akhirnya membuat saya berani mencoba mendaftar di jurusan Akuntansi UGM,” ujar Leni. Erni mengungkap bahwa sejak kecil Leni sudah diajarkan untuk selalu prihatin karena bukan dari keluarga berada yang bisa mengadakan segala sesuatu secara instan. Ia menanamkan pemahaman bahwa setiap keinginan harus dicapai melalui usaha dan kerja keras, termasuk membiasakan Leni menabung dari uang sakunya jika ingin membeli kebutuhan pribadi. Ia juga memantau pendidikan agama serta pergaulannya agar ia tidak terjerumus ke dalam lingkungan yang membawa dampak negatif. “Saya sengaja tidak memanjakannya sedari kecil, selain karena kondisi ekonomi, saya juga khawatir Leni akan kesulitan menghadapi masa depannya nanti,” ungkapnya. Perjalanan Leni menuju kampus biru tidaklah mudah. Sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA 1 Wonosari, yang berjarak cukup jauh dari rumah, membuatnya harus tinggal di kos sendiri. Namun, hal inilah yang membuatnya dapat hidup mandiri dan membagi waktu dengan lebih baik. Berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang mengikuti bimbingan belajar tambahan, karena keterbatasan ekonomi, Ia memilih untuk belajar mandiri. Leni menemukan waktu belajar efektif untuknya yaitu saat dini hari, Ia secara rutin bangun pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Kegigihannya berbuah manis, Ia berhasil mendapat peringkat kedua eligible yang menjadi modal untuk melanjutkan pendidikannya. Ketertarikan Leni pada bidang ekonomi telah tumbuh sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA. Minat tersebut diperdalam dengan mengambil mata pelajaran peminatan ekonomi, yang kemudian secara spesifik mempelajari akuntansi di kelas 12. “Semenjak kelas 12, saya mulai mendalami akuntansi serta bagaimana prospek karir ke depan. Hal tersebut akhirnya membuat saya merasa bidang ini sangat tepat bagi saya,” tuturnya. Prestasinya dalam hal akademik tidak diragukan lagi, sedari menempuh pendidikan SD, Leni rutin mendapat peringkat satu hingga mendapatkan title lulusan terbaik saat SMP. Ia juga menyambangi berbagai kegiatan seperti Rohani Islam (Rohis), Palang Merah Remaja (PMR), hingga keikutsertaan dalam Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kapanewon Wonosari. Saat SMA, Ia sempat mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi hingga tingkat Kabupaten. Leni mengaku bahwa semakin bertambah usia, pemikirannya semakin terbuka luas. Awalnya Ia belajar untuk meraih peringkat dan hadiah, kini Ia belajar untuk mengubah kehidupannya baik dari segi ekonomi maupun latar belakang pendidikannya. “Saya berharap setelah ini, Akuntansi UGM bisa membuka lebih banyak jalan dan hal-hal baik bagi masa depan saya,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Hanifah dan Dok. Leni

Selengkapnya

Kisah Syahla, Putri Pengemudi Ojek Online Kuliah Gratis di UGM 

Tak hanya menjadi tempat tinggal bagi Syahla Nabilah Junita Wibawa (19) dan keluarganya, rumah sederhana yang berada di Nogotirto, Sleman, ini juga menjadi tempat sang ibu mencari nafkah melalui warung makan sederhana. Sang ibu, Nurjanah (42) berjualan makanan di warung nasi yang juga berlokasi di rumahnya. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata (43) bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di tengah keterbatasan ekonomi dan penghasilan keluarga yang tak menentu, Syahla tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas. Keyakinan itu kini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM. Keberhasilan Syahla diterima berkuliah di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah pencapaian yang ia raih secara instan. Sejak kelas 10 SMA, ia sudah menargetkan untuk menjadi siswa eligible agar memiliki peluang peluang lebih besar lolos ke perguruan tinggi impiannya, yakni UGM. Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” tuturnya, Rabu (24/6). Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan. “Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya. Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal. “Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya. Di tengah kesibukannya, Syahla juga menyempatkan waktu untuk berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah. Bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upayanya untuk memiliki uang saku tambahan dan ingin senantiasa belajar mandiri sejak dini. Kesadaran akan jerih payah kedua orang tua untuk membiayainya sekaligus ketiga saudaranya membuatnya berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa banyak meminta. “Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” ujarnya. Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih. “Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya. Nurjanah mengaku bersyukur atas keberhasilan putri sulungnya diterima di UGM. Menurutnya, semangat belajar Syahla sudah terlihat sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua, ia berupaya mendukung cita-cita anaknya meski harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. “Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” terangnya. Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah. Penulis : Cynthia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine dan Dok.Syahla

Selengkapnya

Sosialisasi Perdana Hibah Pengabdian Masyarakat Desa Mitra Fakultas Biologi UGM: Pengenalan Sistem Reproduksi Ayam untuk Mendukung Pengembangan Budidaya Ayam Golden Kamper

Selasa, 16 Juni 2026, Tim Pengabdian Desa Mitra Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada dengan judul “Teknologi Budidaya Ayam Golden Kamper Melalui Penerapan Mesin Tetas Dual Input sebagai Upaya Pengembangan Inti-Plasma Mandiri Guna Mendukung Tanpa Kelaparan (SDG 2)” telah mengawali rangkaian kegiatan melalui sosialisasi perdana. Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sasaran program yang terdiri dari anggota Kelompok Ternak Reka Amartani antusias mengikuti rangkaian sosialisasi mulai dari pembukaan, pematerian, hingga penutupan. Rangkaian kegiatan dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana hibah, yaitu Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. Pada sambutannya, beliau berharap kegiatan ini dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar melalui optimalisasi produktivitas ternak ayam. [metaslider id="59206"] Setelah sambutan ketua pelaksana, kegiatan dilanjutkan dengan pematerian bertema “Kenalan dengan Sistem Reproduksi Ayam: Rahasia Ayam Rajin Bertelur dan Banyak Anak” yang disampaikan oleh Ibu Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D. Penyampaian materi dirancang untuk memberikan pemahaman dasar kepada masyarakat mengenai sistem reproduksi ayam, faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas telur, serta pentingnya manajemen reproduksi dalam mendukung keberhasilan budidaya ayam. Dalam pemaparan materi, secara lebih detail juga dijelaskan bagaimana organ reproduksi ayam bekerja, proses pembentukan telur, hingga berbagai faktor yang dapat memengaruhi kemampuan ayam dalam menghasilkan telur yang berkualitas. Selain itu, masyarakat juga diajak memahami keterkaitan antara kesehatan ternak, nutrisi, lingkungan pemeliharaan, dan keberhasilan penetasan telur. Setelah pematerian selesai, dilakukan dokumentasi bersama antara tim pengabdian masyarakat dengan peserta kegiatan. Sosialisasi perdana ini menjadi langkah awal dalam rangkaian program pengabdian yang bertujuan memperkenalkan teknologi budidaya ayam Golden Kamper, termasuk penerapan mesin tetas dual input sebagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian peternak. Program ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya sistem inti-plasma yang mandiri dan berkelanjutan sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penguatan sektor peternakan masyarakat. Selanjutnya, berbagai kegiatan akan dilaksanakan mulai dari pendampingan budidaya hingga penerapan teknologi penetasan yang mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ayam di Desa Hargowilis. Melalui kolaborasi antara tim pelaksana, narasumber, serta masyarakat setempat, program ini diharapkan dapat membentuk peluang pengembangan usaha peternakan yang lebih produktif, mandiri, serta berkelanjutan bagi masyarakat Desa Hargowilis.

Selengkapnya

Dari Kandang Sederhana ke Kampus Impian: Perjuangan Ririn Menembus UGM Tanpa Biaya

Suara ayam dan bebek sudah menjadi bagian dari keseharian Ririn Dwi Nurtyani (17) sejak kecil. Di rumah sederhana miliknya di wilayah Terbah, Wates, Kulon Progo, gadis tersebut tumbuh dengan kebiasaan membantu orang tua merawat ternak peliharaan. Dari aktivitas sederhana itulah tumbuh mimpi besar yang kini membawanya menjadi mahasiswa baru di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ririn resmi diterima di program studi S1 Ilmu dan Industri Peternakan UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026. Tidak hanya itu, ia juga memperoleh Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol rupiah sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa membayar biaya kuliah. Perjalanan Ririn menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Ayahnya, Sutiono (50), bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Ketika proyek bangunan sepi, penghasilan keluarga pun ikut berhenti. Sementara sang ibu, Nur (47), merupakan ibu rumah tangga yang fokus mengurus keluarga dan ketiga anaknya. Keterbatasan ekonomi sempat membuat keinginan Ririn untuk kuliah diragukan oleh sang ayah. Namun, tekadnya untuk mengubah masa depan keluarga membuatnya tetap berusaha meyakinkan orang tua agar memberikan izin melanjutkan pendidikan. “Saya ingin punya kehidupan yang lebih baik dan bisa membanggakan orang tua,” ungkap Ririn. Kecintaannya terhadap dunia peternakan menjadi alasan utama memilih program studi di bidang tersebut. Sehari-hari ia terbiasa merawat ayam, bebek, hingga burung bersama keluarganya. Baginya, peternakan bukan sekadar jurusan kuliah, melainkan sesuatu yang sudah dekat dengan kehidupannya sejak kecil. “Saya memang suka hewan ternak dan ingin belajar lebih jauh tentang peternakan,” katanya. Dukungan terbesar datang dari sang ibu yang memahami minat anaknya terhadap hewan. Nur menyebut Ririn sejak kecil dikenal rajin belajar dan memiliki banyak prestasi akademik maupun non-akademik. Saat SMA, Ririn juga aktif dalam kegiatan marching band SMAN 1 Wates dan ikut membawa timnya meraih prestasi tingkat provinsi. Menurut Nur, kedisiplinan menjadi nilai yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya. Ia berharap pendidikan dapat menjadi jalan bagi Ririn untuk memperbaiki masa depan keluarga. “Semoga Ririn bisa punya kehidupan yang lebih baik dan mengangkat derajat orang tua,” tutur Nur haru. Keberhasilan Ririn diterima di UGM menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dari kandang ternak sederhana di rumahnya, kini langkah Ririn mengarah menuju dunia akademik yang lebih luas dengan harapan baru bagi masa depan keluarganya.   Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/hobi-merawat-ternak-anak-buruh-serabutan-diterima-kuliah-gratis-di-peternakan-ugm/ Editor: Satria Foto: Donie (Humas UGM)