BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Lanjut Baca

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

Tak Cukup Sekadar Berbagi Makanan: FTP UGM dan Foodbank of Indonesia Sepakat Hidupkan Lagi Lumbung Pangan Desa

Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami di Operation Room FTP UGM pada Jumat (25/9), untuk mengembangkan gerakan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta jajaran pimpinan departemen dan dosen. Dari pihak yayasan hadir Ketua Dewan Pembina M. Hendro Utomo, S.S., MBA, Ketua Yayasan Wida Septarina, S.S., M.Si., serta pengurus Foodbank of Indonesia (FOI). Dekan FTP UGM menyambut baik kedatangan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan adanya keberlanjutan dan pengembangan kerja sama yang dilakukan oleh FTP UGM dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. “Kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan bersama masyarakat dengan melibatkan akademisi serta yayasan atau lembaga lain yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu pangan” Ujar Eni. Hendro Utomo menyampaikan bahwa pengalaman FOI selama sekitar 11 tahun menunjukkan pembagian makanan lebih tepat disebut solusi darurat (emergency response) yang belum menyelesaikan persoalan secara struktural. Karena itu, menurutnya organisasi kemanusiaan perlu mendorong masyarakat agar mampu menolong dan memberdayakan dirinya sendiri. Pandangan inilah yang melandasi Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami, yakni menghidupkan kembali ekosistem pangan di desa. Ruang lingkup PKS ini mencakup penelitian dan publikasi mengenai lumbung pangan, pangan lokal, dan budaya pertanian dari sudut pandang ilmu teknologi pertanian, serta hasil riset beragam varietas benih lokal. Kedua pihak juga akan mendampingi pengembangan Lumbung Mustikarasa di Dusun Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dan menyusun buku bunga rampai "Bangkitnya Lumbung Kami". Sebagai sarana kaderisasi dan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa FTP UGM, akan digelar Rembug Pangan Orang Muda. Kerja sama ini turut mencakup inisiasi Pasar Rakyat Mustikarasa, yakni UMKM setempat menampilkan kreasi dan olahan pangan lokal sebagai pengenalan kuliner lokal di lingkungan universitas. Pembahasan juga menyinggung rencana pendampingan petani muda di Sriharjo, Bantul, yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng., dan kelompok Taruna Tani yang mulai memanfaatkan teknologi. Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menilai inisiatif ini berpeluang menjadi flagship program pemberdayaan masyarakat FTP UGM, dengan catatan dampaknya perlu diukur secara konkret pada satu lokasi yang sama dan dapat dikembangkan menjadi policy brief . Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. penulis : Shella Herdanti

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Selengkapnya

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

KAFEGAMA Gelar Konser Amal untuk Bantu Korban Bencana Sumatra dan Beasiswa Mahasiswa FEB

Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) dan FEB UGM menyelenggarakan Konser Amal KAFEGAMA untuk penggalangan dana beasiswa sekaligus dana kemanusian bagi korban bencana di Sumatra. Konser berlangsung Sabtu malam, 6 Desember 2025 di Grand Pacific Hotel, Yogyakarta.  Pada momen tersebut, KAFEGAMA menyerahkan donasi beasiswa sebesar Rp 250 juta  ke FEB UGM. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., kepada Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA.  Sementara itu, penggalangan dana kemanusiaan untuk masyarakat terdampak bencana di Sumatera yang telah dibuka sejak 1 Desember 2025 telah berhasil menghimpun Rp 525.800.000. Adapun donasi masih terus dibuka hingga 10 Desember 2025.  Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., menjelaskan bahwa konser amal ini menjadi seruan untuk berempati dan bertindak nyata membantu masyarakat yang tertimpa musibah di wilayah Sumatra.  Ia pun secara khusus mengajak seluruh keluarga besar FEB UGM untuk berdonasi guna meringankan beban para korban bencana banjir dan longsor, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.  "Acara ini tidak memiliki arti apabila kita tidak berempati atas apa yang terjadi kepada Saudara kita yang sedang dilanda bencana. Mari kita berdoa agar proses pemulihan pasca bencana berjalan aman dan lancar, serta masyarakat di wilayah terdampak senantiasa dilimpahkan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan," ujar Kiki, sapaan akrab Friderica. Bukti aksi kemanusiaan dan dampak nyata konser amal ini menegaskan komitmen KAFEGAMA untuk menjadi organisasi yang "Migunani" atau bermanfaat. Kiki mengungkapkan dampak kemanfaatan yang telah dihasilkan alumni yaitu aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan senilai Rp80 juta kepada 400 penerima manfaat melalui  sinergi aktif dengan tujuh cabang Pengurus Daerah KAFEGAMA. Lalu, KAFEGAMA menyalurkan bantuan beasiswa sebesar Rp250 juta untuk mahasiswa FEB UGM. Upaya ini menjadi investasi alumni untuk memastikan bibit-bibit unggul masa depan tidak terhalang oleh kendala finansial dalam meraih prestasi. “Acara ini merupakan realisasi dari motto organisasi "Guyub Rukun Migunani". Di usia ke-10, KAFEGAMA membutuhkan energi, gagasan, dan kontribusi dari kita semua untuk melangkah menuju dekade berikutnya," jelas  Kiki.  Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., mengucapkan terima kasih atas kontribusi alumni dalam mendukung mahasiswa FEB UGM melalui program beasiswa. Ia menegaskan bahwa dukungan alumni berperan penting dalam menjaga keberlanjutan studi mahasiswa FEB UGM. Menurutnya, kolaborasi antara fakultas dan alumni merupakan pilar penting dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan. “Terima kasih atas dukungan dari alumni selama ini baik melalui program beasiswa maupun magang bagi mahasiswa,” ucapnya. Didi menambahkan bahwa Konser Amal KAFEGAMA ini tidak hanya menjadi sarana penggalangan dana beasiswa, tetapi juga bentuk kepedulian bersama untuk membantu korban bencana di Sumatera. Menurutnya, inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara alumni dan institusi dapat menghadirkan manfaat luas, baik bagi dunia pendidikan maupun masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang terus memperkuat jaringan alumni sekaligus memperluas impak sosial FEB UGM. Ketua Panitia Konser Amal KAFEGAMA, Tur Nastiti, M.Si., Ph.D., menyampaikan konser yang menghadirkan Sheila on 7 dan Jikustik ini menjadi salah satu upaya untuk menggalang dana. Dana yang diperoleh digunakan untuk beasiswa bagi mahasiswa FEB UGM dan disalurkan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. “Seluruh dana donasi dialokasikan sepenuhnya untuk mahasiswa dan Saudara-saudara kita yang dilanda musibah di Sumatera,” jelasnya. Acara yang dihadiri lebih dari 3.000 peserta merupakan  perayaan Dies Natalis rangkaian penutup perayaan Dies Natalis ke-70, Lustrum XIV FEB UGM dan Satu Dekade KAFEGAMA,. Konser digelar secara gratis untuk keluarga besar FEB UGM, termasuk alumni lintas angkatan, dosen, staf profesional, mahasiswa, dan pengurus KAFEGAMA, serta  memfasilitasi kebutuhan peserta disabilitas. Dalam penyelenggaraannya, konser ini turut melibatkan 16 UMKM dari Yogyakarta dan Malang serta mahasiswa sebagai bagian dari panitia dan pelaksanaan acara. Sebelumnya, setiap Pengurus Daerah (Pengda) KAFEGAMA di berbagai daerah juga telah mengadakan kegiatan bakti sosial di wilayah masing-masing guna memperkuat semangat berbagi. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)  

Selengkapnya

MBA SA Care 7.0: Kolaborasi Mahasiswa MBA FEB UGM untuk Menguatkan Kepedulian Sosial

Mahasiswa Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melaksanakan kegiatan sosial MBA SA Care Collaboration Charity 7.0 pada Sabtu, 15 November 2025, di Rumah Pengasuhan Anak Terlantar Wiloso, Jetis, Yogyakarta. Kegiatan bertema “CFC: Collab for Care, Melangkah Bersama untuk Sesama” ini merupakan bentuk kolaborasi antara MBA SA 19.0, KMK, dan FORKIS yang berupaya menghadirkan nilai solidaritas, kepedulian, dan toleransi di lingkungan mahasiswa. MBA SA Care 7.0 bertujuan menumbuhkan kepedulian sosial, memperkuat empati, dan mendorong semangat berbagi sebagai bagian dari pembelajaran karakter kepemimpinan. “Saya sangat senang karena kegiatan ini tidak hanya berfokus pada agenda akademik, tetapi juga memberi ruang untuk berbagi dengan teman-teman yang membutuhkan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menghadirkan lebih banyak kebaikan,” ujar Andreas, selaku Ketua KMK sekaligus panitia kegiatan. Sebagai wujud kepedulian, mahasiswa menyerahkan bantuan sembako dan donasi kepada anak-anak panti. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak pengurus panti. “Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan kepedulian mahasiswa. Kegiatan ini membawa manfaat positif bagi lembaga dan anak-anak di sini. Semoga empati dan kebaikan ini terus berlanjut,” ungkap Anissusilohadi, S.P, selaku Kepala Sub Bagian DUUPT Rumah Pengasuhan Anak Wilosoprojo. Sementara itu, salah satu peserta sekaligus anak panti, Kristia Arsi (16 tahun) juga menyampaikan kesan positifnya. “Acara ini sangat menyenangkan dan panitianya kompak. Semoga ke depan kegiatan seperti ini terus ada dan semakin baik dalam memberikan pengalaman bagi anak-anak panti,” tuturnya. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pengembangan kepemimpinan mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui proses akademik, tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat. Melalui MBA SA Care 7.0, mahasiswa diharapkan terus termotivasi menguatkan nilai kemanusiaan, rasa saling peduli, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial. Reporter: Daniswara Rafi R Editor: Ayu Aprilia