BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Modal Rp500 Ribu dari Beasiswa, Mahasiswa UGM Berhasil Bangun Bisnis Ayam Petelur

Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan untuk berusaha. Hal ini dibuktikan oleh seorang mahasiswa UGM yang sukses membangun bisnis ayam petelur berbekal modal dari tabungan beasiswanya. Berbekal tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, ia merintis usaha tersebut di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga berkembang menjadi peternakan mandiri dengan ratusan ekor ayam. Memanfaatkan ilmu pemuliaan ternak yang dipelajari di bangku kuliah, Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, mengembangkan inovasi persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi melalui usaha peternakannya, Bejo Farm. Inovasi persilangan ini berangkat dari pemahaman Anjeli terhadap karakteristik masing-masing jenis ayam. Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur yang tinggi, sedangkan ayam Mardi memiliki postur tubuh lebih besar. Melalui persilangan keduanya, Anjeli berupaya menggabungkan potensi produksi telur dan pertumbuhan tubuh dalam satu keturunan ayam. “Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” tuturnya. Melalui teknik crossbreeding, Anjeli berharap dapat menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan tubuh yang baik untuk dimanfaatkan sebagai ayam potong, sementara ayam betinanya tetap memiliki potensi produksi telur. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pemuliaan ternak yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fapet UGM. Selain mengembangkan persilangan ayam Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. "Saat ini, BejoBejo Farm memproduksi telur sekitar 15–20 butir per hari, didukung puluhan indukan aktif dan anakan hasil penetasan sendiri," dalam keterangannya. Di tengah harga pakan pabrikan yang tengah melonjak, Anjeli memanfaatkan potensi limbah lokal untuk menekan biaya operasional. “Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari," ungkapnya. Tak hanya pakan ternak, Anjeli turut menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih dan daun pepaya. “Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan," jelasnya. Untuk sistem penjualan telurnya, Anjeli menggunakan sistem beli langsung di tempat dan menyediakan pesanan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook. Produk yang ia jual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Dari hasil penjualannya, Anjeli pun mengungkapkan, sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana penerapan ilmu peternakan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha untuk membangun peternakan yang mandiri. Perjalanan Bejo Farm tidak selalu berjalan mulus. Anjeli sempat mengalami kerugian akibat kematian anakan ayam ketika cuaca di Klaten mengalami perubahan ekstrem. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk mengevaluasi sanitasi kandang dan perawatan ternak agar usaha dapat terus berkembang. Anjeli mengungkapkan alasannya membangun usaha Bejo Farm ini. Hanya bermodalkan tabungan beasiswa yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan dana tabungannya untuk mengembangkan usaha dengan mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. “Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli. Bagaimana pun, Anjeli menuturkan tabungan sebagai modal awalnya tidak luput dari penerapan ilmu di Peternakan UGM. “Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” ungkapnya. Melalui Bejo Farm, Anjeli menunjukkan bahwa ilmu pemuliaan ternak dapat menjadi dasar pengembangan inovasi di bidang peternakan. Perpaduan pengetahuan akademik, percobaan persilangan, dan pengelolaan usaha membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi ternak sekaligus membangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Anjeli

Lanjut Baca

Perkuat Implementasi Program Double Degree dan Joint Degree, UGM dan LPDP Gelar Diskusi Evaluasi dan Sinergi Beasiswa

Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar forum diskusi dan evaluasi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperkuat implementasi serta optimalisasi program Double Degree (DD) dan Joint Degree (JD) di Ruang Pertemuan Utama Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM (1/10). Acara yang dihadiri oleh Direktur LDPD, Direktur Kerjasama dan Relasi Global, Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran,  Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Kerjasama serta para Ketua Program Studi Doktoral Penyelenggara Program DD/JD di lingkungan UGM ini bertujuan untuk memetakan tantangan administrasi, juga memperluas cakupan kerja sama internasional, serta menyelaraskan skema pembiayaan beasiswa untuk meningkatkan daya saing akademik dan riset mahasiswa UGM di tingkat global. Dalam evaluasi strategis implementasi program DD/DJ yang disampaikan oleh pihak UGM diwakili oleh Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., dan Direktur Kemitraan, Alumni, dan Urusan Internasional UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., menyoroti tren pertumbuhan pendaftar program gelar ganda dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah kendala teknis dan administratif masih ditemukan, terutama pada tahap perolehan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas mitra serta sinkronisasi data pada sistem informasi akademik. UGM menetapkan beberapa langkah strategis untuk mengatasi hambatan tersebut”, terang Sigit. Di antaranya yakni penyelarasan persyaratan admisi dengan mewajibkan pengelola program studi menyusun dan menyerahkan daftar persyaratan kesepakatan antara pendaftaran dan lembaga pemberi beasiswa untuk diunggah secara terintegrasi pada sistem admisi. UGM juga mendorong perlunya peran aktif program studi dan pembimbing untuk menghubungkan calon mahasiswa dengan calon pembimbing di universitas mitra sejak dini, terutama untuk jenjang doktoral. Langkah strategis lainnya yaitu melalui peningkatan sinergi dengan perguruan tinggi mitra luar negeri melalui kegiatan sosialisasi bersama serta menegosiasikan skema pembebasan atau pemotongan biaya pendidikan (tuition fee waiver/discount) guna membuka peluang skema pendanaan bersama (co-funding). Direktur Beasiswa LPDP, Ir. Dwi Larso, M.Sc., Ph.D menguatkan komitmen LPDP bahwa dana abadi pendidikan yang dikelola LPDP terus mengalami peningkatan pesat. ”LPDP secara konsisten berkomitmen memaksimalkan alokasi dana untuk pengiriman mahasiswa ke perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri”, jelasnya. Dwi Larso juga menerangkan beberapa poin penting komitmen dan arah kebijakan LPDP yang mengemuka dalam diskusi tersebut di antaranya melakukan peningkatan alokasi program doktoral. Dalam hal ini, LPDP meningkatkan porsi penerima beasiswa program doktoral dari yang semula seperempat menjadi sepertiga dari total alokasi penerima beasiswa. ”Kami tingkatkan porsinya dari seperempat menjadi sepertiga”, tegasnya. Diungkapan Dwi Larso bahwa fokus pendanaan akan diprioritaskan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). “Mayoritas penerima beasiswa dialokasikan untuk bidang STEM guna mendukung kebutuhan industri nasional dan kemandirian teknologi”, jelasnya. Dwi Larso menambahkan bahwa LPDP juga terus mendorong mekanisme pembiayaan bersama dengan institusi luar negeri maupun instansi pemerintah/daerah untuk melipatgandakan kapasitas penerima beasiswa melalui dukungan skema co-funding. Selain itu, penyederhanaan persyaratan bahasa juga menjadi salah satu komitmen yang mengemuka dalam diskusi tersebut. “LPDP melakukan evaluasi kebijakan persyaratan sertifikat bahasa di awal pendaftaran agar tidak membebani calon pendaftar secara finansial, dengan menyerahkan kriteria kemampuan bahasa pada standar pengujian masing-masing universitas tujuan”, terangnya. Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif yang menyoroti berbagai isu praktis dari para pengelola prodi, seperti kuota penerimaan mahasiswa internasional, kerja sama spesifik perguruan tinggi mitra antara lain Utrecht University dan Groningen University, termasuk penanganan keterlambatan masa studi, hingga fleksibilitas proses seleksi bagi pendaftar berkebutuhan khusus (difabel). Pihak LPDP menyambut baik masukan tersebut dan berjanji akan terus melakukan penyempurnaan pada kriteria wawancara, mekanisme pendampingan, serta memperluas koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait. Diharapkan sinergi kuat antara UGM dan LPDP mampu memperluas akses civitas akademika UGM terhadap program pendidikan berkualitas internasional. ”Dengan tata kelola admisi yang semakin baik serta fleksibilitas pembiayaan beasiswa, UGM siap mencetak lulusan berdaya saing global yang berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa”, pungkas Sigit Priyanta.     Reportase & tulisan: Bondan Wijanarko Ditulis ulang:  B. Diah Listianingsih Penyunting: Endang Sulastri  

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

FK-KMK UGM Dukung Penguatan Skrining Layak Hamil untuk Mempersiapkan Kehamilan Sehat

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berpartisipasi dalam penguatan upaya kesehatan reproduksi melalui keterlibatan Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.O.G., Subsp. Urogin, Re., sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Skrining Layak Hamil yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026, di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan, terutama bagi calon pengantin dan pasangan usia subur, agar persiapan kehamilan dapat dilakukan secara lebih sehat, aman, dan terencana. Dalam kegiatan tersebut, Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman menyampaikan materi bertajuk “Skrining Layak Hamil bagi Calon Pengantin dan Pasangan Usia Subur”. Materi ini menyoroti pentingnya mengenali kondisi kesehatan sejak sebelum konsepsi sebagai bagian dari persiapan kehamilan. Pemeriksaan kesehatan sebelum hamil dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu maupun janin, sehingga langkah pencegahan dan penanganan dapat direncanakan lebih awal. Skrining layak hamil menjadi salah satu langkah penting dalam memastikan calon orang tua memperoleh informasi yang memadai mengenai kondisi kesehatannya. Melalui pemeriksaan sejak dini, masalah kesehatan yang berpotensi memengaruhi kehamilan dapat diketahui lebih awal. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan edukasi, pendampingan, maupun penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu sebelum kehamilan direncanakan. Upaya ini juga merupakan bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan reproduksi. Persiapan kehamilan tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik, tetapi juga pemahaman mengenai kondisi kesehatan dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk hamil. Dengan demikian, calon pengantin dan pasangan usia subur memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi kesehatan yang tepat. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sebelum kehamilan perlu terus diperkuat agar faktor risiko dapat diantisipasi sedini mungkin. Persiapan yang baik diharapkan membantu mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan serta mendukung perlindungan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, skrining layak hamil perlu dipahami sebagai bagian dari perencanaan keluarga, bukan sekadar pemeriksaan yang dilakukan ketika kehamilan telah terjadi. Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya promotif dan preventif untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan dinas kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (Kontributor: Munjayati).

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM

Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu membiayai kuliahnya hingga selesai. Kedua orang tua Silvia, Syarifuddin (45) dan Mufati (45), tak lulus SMA. Tentunya besar keinginan mereka agar anak-anaknya dapat mencapai pendidikan yang lebih baik. Syarifuddin, yang merupakan petani, penghasilannya tak menentu karena bergantung pada cuaca dan hasil panen, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan keluarganya, Silvia tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik. Semangatnya yang gigih dan rasa ingin tahu yang besar ini pun sudah terlihat jelas dari jejak prestasinya selama bersekolah. Selama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonosobo, Silvia menjaga konsistensi prestasi akademik hingga berhasil meraih Penghargaan Khusus OSN-K Bidang Kimia peringkat kedelapan dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya pada tahun 2026. Dari SMP-nya, Silvia pernah menjuarai perlombaan LCC Islami juara 3 dan PBB juara 1 di kabupaten. Ia pun aktif dalam berorganisasi, terbukti dengan jejaknya sebagai koordinator di ekskul Pramuka. Saat SMA, ia pun pernah menjabat sebagai ketua koordinator Fraksi 2 dan juga ketua Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolahnya. Saat menjadi ketua PIK-R, ia menjadi juara satu sebagai PIK-R percontohan 1 Jawa Tengah. Untuk membagi antara kegiatan organisasi dan akademiknya, Silvia memfokuskan energinya pada kegiatannya saat itu. Prestasinya ini tak lepas dari kontribusi lingkungan yang mendukungnya untuk terus melangkah. Lalu ia pun mengejar ketertinggalannya di kelas dengan belajar di rumah saat malam hari dan pada liburan. “Kebetulan kalau di sekolah saya itu dispensasinya mudah gitu ya, Kak. Dan gurunya itu mendukung kita kalau misal dispensasinya itu tentang hal yang positif gitu. Jadi saya juga merasa sangat beruntung karena bisa didukung oleh lingkungannya,” jelasnya, Selasa (28/7). Gadis itu tak menyerah dan terus berusaha untuk mengupayakan mimpinya untuk berkuliah. Kedua orang tuanya pun mendukungnya dengan segenap hati. Meski dalam keterbatasan ekonomi, bukannya menyerah, gadis itu mencari informasi secara mandiri tentang beasiswa. Ia sempat bertanya kepada salah satu temannya yang juga merupakan penerima beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk pelajar. Pilihannya pun jatuh pada BSI Scholarship Unggulan karena beasiswa ini memenuhi kebutuhannya saat kuliah nanti, seperti laptop, uang saku bulanan, dan juga UKT, serta tak kalah penting juga menyediakan pengembangan diri dengan berbagai program leadership dan character building, dan juga kesempatan magang dan mentorship di industri ekonomi syariah. Dengan semangat belajar, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, ia berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ia diterima di prodi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur SNBP. Kini, menjadi calon sarjana pertama di keluarganya terasa bagaikan mimpi bagi Silvia. Ia pun berpesan kepada  semua teman-teman yang mungkin saat ini memiliki kondisi yang sama dengannya, bahwa mereka harus banyak mencari informasi, terlebih dengan kemudahan teknologi dan media sosial yang ada saat ini. Menurutnya, banyak sumber pendanaan dari beasiswa yang mungkin masih tak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Selain itu, ia pun mengingatkan untuk tak berpasrah pada keadaan. "Jangan pernah mengubur mimpimu sebelum bertarung habis-habisan. Menjadi generasi pertama yang kuliah memang berat karena harus membuka jalan sendiri. Namun, ketika kita mendahulukan keluarga dan melangkah dengan ikhlas, pintu yang semula terlihat tertutup dapat terbuka," ujar Silvia. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Silvia

Selengkapnya

UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat pengembangan riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., mengatakan pengembangan ekosistem AI menjadi salah satu langkah strategis UGM dalam mendorong inovasi, memperkuat kapasitas riset, sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. “Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison,” ujar Mardhani dalam seminar seminar UGM AI bertajuk “Riset dengan Artificial Intelligence (AI)” yang digelar di Ruang Multimedia, Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin (27/7). Mardhani mengungkapkan, tim dari Indosat dan NVIDIA sudah beberapa kali melakukan site visit serta evaluasi langsung ke UGM sebelum akhirnya menyatakan UGM memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat kapasitas riset AI di UGM melalui dukungan teknologi NVIDIA. “Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya,” jelasnya sembari memaparkan program-program yang telah digulirkan. Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga tengah menyiapkan sejumlah program untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun serta pembentukan Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. “Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” tuturnya. Menurut Mardhani, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan riset AI secara bersama-sama. Ke depan, kata Mardhani, UGM AI juga ditargetkan berkembang menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kolaborasi di tingkat internasional. “Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” pungkasnya. Memasuki diskusi sesi seminar, Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Rimawati, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam mendukung penelitian hukum, khususnya pada tahapan penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan AI. “Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam,” ujar Rimawati. Kendati demikian, lanjut Rimawati, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian dan pengorganisasian data hukum. Analisis, penafsiran norma, hingga justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Ia menambahkan, setiap hasil yang diberikan AI harus diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan yang menjadi sumber aslinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keakuratan informasi sekaligus menjaga kualitas dan integritas akademik dalam penelitian hukum. Senada dengan Rimawati, pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM., Guru Besar Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning mampu meningkatkan efisiensi penelitian, dalam hal ini eksplorasi sumber daya mineral serta energi. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan peneliti mengolah data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat sehingga proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat. “Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya,” ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-ekosistem-pembelajaran-ai-melalui-kolaborasi-dan-riset-multidisiplin/

Selengkapnya

FK-KMK UGM Kembangkan Program Puskesmas Inklusif untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan Primer

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan kegiatan koordinasi dan sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah awal implementasi Program Puskesmas Inklusif bertajuk “FASKES Sahabat Kita Semua”. Kegiatan yang berlangsung pada 27 Juli 2026 di Puskesmas Umbulharjo 1, Kota Yogyakarta, ini bertujuan memperkuat layanan kesehatan primer yang inklusif, ramah, dan bebas stigma, khususnya bagi orang dengan HIV (ODHIV) dan penyintas tuberkulosis (TB), melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, M.A., bersama tim CHBP FK-KMK UGM. Kehadiran tim disambut oleh Kepala Puskesmas Umbulharjo 1, drg. Yunita Haryanti, M.M., didampingi penanggung jawab Program Pencegahan Penyakit Menular dr. Siti Kusdinariyalun Handarumurti, penyuluh kesehatan masyarakat Lany Kurniati, serta Sri Setiari sebagai pelaksana Program Pencegahan Penyakit Menular. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui Program Puskesmas Inklusif, kedua institusi berkomitmen menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih terbuka, menghargai keberagaman, serta memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada seluruh kelompok masyarakat. Setelah bergabung dalam grup WhatsApp, peserta akan mengikuti diskusi reflektif secara berkala sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan mulai Agustus 2026. Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 57 pegawai Puskesmas Umbulharjo 1. Melalui diskusi yang berkelanjutan, peserta diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pelayanan yang telah dilakukan, serta memperkuat kapasitas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih ramah dan bebas stigma. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mubasysyir Hasan Basri menjelaskan bahwa program ini berangkat dari keprihatinan terhadap stigma yang masih dialami oleh ODHIV maupun penyintas tuberkulosis. Menurutnya, stigma tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis individu, tetapi juga dapat menghambat akses terhadap layanan kesehatan, menurunkan kepatuhan berobat, bahkan memperbesar risiko penularan penyakit akibat keterlambatan diagnosis maupun pengobatan. Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif serta peningkatan upaya penanggulangan HIV dan tuberkulosis. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan dalam pelayanan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: Purnama Dewi Siregar).

Selengkapnya

Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa

Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, jalan aspal berhenti. Berganti jadi jalan tanah berbatu dan berdebu. Rumah-rumah berdiri berjajar dengan wajah yang timpang, ada yang megah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman karena kiriman anak, istri atau suami yang jadi buruh migran di negeri seberang dan ada yang lantai dan dindingnya masih bata ekspos belum diaci. Desa ini pernah punya julukan yang menyakitkan untuk disebut: "kampung idiot," julukan yang lahir dari isolasi geografis yang begitu lama akibat perkawinan sedarah antar penduduk yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan minim akses pendidikan yang meninggalkan luka panjang, berupa keterbelakangan mental pada sebagian anak-anaknya. Di kemudian hari, daerah ini berganti julukan menjadi “kampung TKI”. Banyak warga yang bekerja sebagai buruh di luar negeri. Uang dari luar negeri memang bisa membangun rumah bertingkat, tapi tidak selalu membangun jalan keluar yang berkelanjutan. Dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan milik Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43), dua anak kembar perempuannya bernama Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) lahir. Mereka tumbuh besar dan memilih jalan yang jarang ditempuh sebagian besar masyarakat di desanya, bukan merantau jadi buruh, melainkan memperjuangkan mimpi punya pendidikan tinggi di kampus yang namanya dulu hanya berani mereka ucapkan sambil bercanda. Anak Buruh Serabutan  Meseri, sang ayah, sehari-hari adalah buruh serabutan. Ia seringkali mencari nafkah dengan menawarkan jasa pertanian pada warga sekitar yang sedang menggarap sawah. Selain itu, kalau ada proyek bangunan, ia juga ikut mandor ke kota jadi buruh bangunan. "Yang penting ada pemasukan," katanya, mengulang kalimat yang lebih terdengar seperti doa daripada rencana. Sedangkan Siti, istrinya, adalah ibu rumah tangga yang sesekali ikut ke sawah membantu suami mencari tambahan. Penghasilan mereka tidak pernah tetap, kadang ada, kadang tidak. Saat pasangan buruh itu mendapati buah hatinya lahir kembar, mereka memutuskan cukup memiliki dua anak. Keputusan itu atas kesadaran penuh bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan berharap anak-anaknya dapat memiliki nasib yang lebih baik. Dari keputusan itu lahir sebuah komitmen yang mereka pegang bertahun-tahun sebelum tahu akan berbuah apa. Sejak sebelum masuk TK, kedua anaknya sudah dikenalkan pada buku dan latihan menulis, ditanamkan tekad bahwa sekolah adalah jalan keluar dari nasib mencangkul yang mereka jalani sendiri. "Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga," ujar Siti. Mahmudah dan Rikah selalu satu sekolah sejak sekolah dasar, mereka bersekolah di SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, dan lulus dari SMAN 1 Badegan. Hal ini bukan kebetulan, tapi strategi. "Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain," kata Rikah. Di sekolah mereka adalah murid berprestasi, keduanya adalah partner berkompetisi yang kompak. Dari SD keduanya selalu berada di peringkat tiga besar di kelas, sering berebut posisi ranking satu. Kombinasi kompetensi keduanya berhasil memanen puluhan prestasi. Terhitung 18 prestasi untuk Mahmudah, 14 untuk Rikah, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan sampai juara esai dan poster tingkat nasional. Saat satu menang dan satu belum beruntung, keduanya menganggapnya giliran. "Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan," kata Mahmudah. Mimpi yang Disimpan  Mimpi kuliah di UGM lahir diam-diam, dari dua arah yang tak saling tahu. Bagi Rikah, keinginan kuliah di UGM bermula dari seorang guru kelas 4 SD yang bercerita tentang muridnya yang berhasil kuliah di UGM lewat beasiswa. "Saya kan masih polos, jadi saya simpan sendiri aja. Saya nggak cerita juga ke Mahmudah," kenangnya. Bagi Mahmudah, ketertarikan itu tumbuh dari rasa penasaran begitu ia pertama kali mendengar nama Universitas Gadjah Mada. Setiap kali ada orang bertanya, “Mau kuliah ke mana?” Mahmudah selalu menjawab ke UGM. “Itu saya menjawabnya sambil bercanda,tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan," kenangnya. Baru belakangan mereka sadar bahwa sedang menuju arah yang sama. Namun jalan untuk bisa diterima di UGM tidak mudah bagi keduanya. Keduanya sudah melalui kegagalan berulang kali untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat berbagai jalur. Rikah menghitungnya tujuh kali. "Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka," ungkapnya. Keduanya sempat sama-sama gagal di SNBP, lalu sama-sama diterima di kampus di Malang. Keduanya merasa belum puas, karena itu bukan tujuan sebenarnya yang mereka kejar. Satu kesempatan tersisa yang mereka pilih, jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM)UGM. "Saat itu harapan saya itu tinggal kecil sekali. Saya sudah tidak berani terlalu berharap," kenang Rikah. Ketika pengumuman itu datang, dan keduanya dinyatakan lolos bersama dengan subsidi UKT 100 persen. Keduanya merasa senang dan bannga karena usaha tidak pernah menghianati hasil. "Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil", kata Mahmudah bersyukur. Mengetahui kedua buah hatinya diterima  di terima di Kampus UGM, Meseri merasa bersyukur dikaruniai anak yang berprestasi dan mampu membanggkan keluarga. Namun ia sempat gamang membayangkan anaknya pergi jauh ke Yogyakarta. "Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM," katanya. Mahmudah diterima di D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Volasi. Sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi. Rikah sempat membayangkan jika suatu saat kelak setelah lulus akan membentuk komunitas penyuluhan ternak bagi warga desanya. Meski belum tahu bentuk pastinya, yakin ilmunya kelak juga harus kembali menolong masyarakat sekitar rumah. Di desa yang mayoritas anak mudanya berhenti di SMK, selanjutnya kebanyakan memilih langsung bekerja atau merantau jauh sebagai buruh migran. Dua anak buruh serabutan ini memilih menempuh jalan yang lebih panjang dan lebih sunyi, demi menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang desa terpencil bukan vonis akhir."Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya," ucap Rikah kepada kedua orang tuanya, di hadapan kamera yang merekam pertemuan itu. Di sebuah desa yang selama ini lebih dikenal karena kisah pilunya, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif sedang menulis cerita lain, bahwa dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, mimpi tetap bisa melenting setinggi langit dan merawat harapan dapat pulang membawa terang untuk desa yang membesarkannya. Penulis/Foto : Donnie Tristan Editor : Gusti Grehenson