BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

8 Dokter Muda Palestina Program SHEMIND FK-KMK UGM Ucap Janji Koas untuk Jalankan Misi Kemanusiaan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND) melaksanakan medical student oath atau janji koas di Grha Wiyata FK-KMK UGM. Berlangsung pada Jumat (02/10), janji koas ini diikuti oleh delapan dokter muda dari Al-Azhar University Gaza yang akan menjalani studi profesi di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.  Dalam sambutannya, dr. Ahmad Hamim Sadewa., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM mengucapkan selamat kepada delapan mahasiswa yang sebelumnya menempuh studi di Gaza tersebut. Menurutnya, janji koas ini merupakan persiapan tahap akhir setelah mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan klinis di FK-KMK UGM selama beberapa bulan. “Hari ini kita mencapai akhir dari program persiapan tersebut. Anda harus melangkah maju ke tempat profesi di rumah sakit,” ujar dr. Hamim. Sementara itu, Kepala Bagian Akademik dan Riset RSA UGM, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E, Subsp.Ven., mengatakan bahwa janji koas SHEMIND bukan sekadar pendidikan keterampilan klinis semata. Upacara ini ditujukan agar kedelapan mahasiswa memiliki empati, integritas, dan rasa profesionalisme sebagai dokter. Sebab, menurut dr. Nurwestu, mereka tengah menjalankan misi yang berakar pada solidaritas global dan martabat kemanusiaan. “Di rumah sakit, Anda akan menemui pasien pada momen-momen paling rentan mereka,” ujarnya. Sejalan dengan misi tersebut, dr. Mohammad Zughbur selaku Dekan Faculty of Medicine Al Azhar University Gaza menasehati kedelapan mahasiswa agar menjalankan pendidikan profesi dengan rasa kemanusiaan. Terlebih, bekal ilmu kesehatan ini akan sangat berguna bagi korban terdampak genosida di Gaza, Palestina. “Kami berharap suatu hari nanti kalian kembali untuk melayani rakyat kalian dan berkontribusi dalam membangun kembali sistem pelayanan kesehatan di Gaza,” tuturnya. Janji koas SHEMIND menjadi bukti komitmen kelembagaan FK-KMK UGM terhadap misi kemanusiaan global. “Melalui program kolaboratif ini, UGM menegaskan kembali komitmennya terhadap etika kedokteran, layanan kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dalam skala internasional,” ujar dr. Nurwestu. Oleh sebab itu, agenda ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berupa SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan. (Reporter: Aghits Azka)

Lanjut Baca

FKG UGM dan RSGM UGM Prof. Soedomo Beri Subsidi Pendidikan untuk Mahasiswa Koas

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada (RSGM UGM) Prof. Soedomo resmi meluncurkan program subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa profesi atau koas (1/10). Langkah strategis ini bertujuan memangkas beban biaya pendidikan klinis yang selama ini ditanggung mandiri oleh mahasiswa. Kehadiran subsidi ini merupakan jawaban atas impian panjang fakultas. Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. menyebut perwujudan program ini sebagai mimpi bersama yang akhirnya terealisasi demi melancarkan pendidikan mahasiswa koas. Kebutuhan subsidi berkaitan dengan adanya perbedaan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi terutama pada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun Bidikmisi. Regulasi pemerintah yang berlaku saat ini hanya memberi bantuan biaya pendidikan hanya pada jenjang S1, sementara tidak untuk jenjang pendidikan profesi. “Untuk saat ini kami anggarkan Rp5 Miliar per tahun untuk memberikan subsidi bagi seluruh mahasiswa koas tanpa terkecuali,” ucap Dekan Suryono. Guna memastikan subsidi tersebut berjalan lancar, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG menyebut 49 mahasiswa penerima subsidi akan diberikan Buku Kendali dan Buku Formularium Alat dan Bahas Koas. Buku Kendali difungsikan sebagai pedoman utama yang memuat seluruh daftar syarat pemenuhan kompetensi (requirement) klinis mahasiswa yang mendapatkan pembiayaan penuh dari program subsidi. Melalui buku ini, setiap tahapan perawatan dan klaim subsidi mahasiswa harapannya dapat tercatat dengan baik. Sementara itu, Buku Formularium Alat dan Bahan Koas berperan sebagai panduan rinci terkait manajemen logistik, kendali bahan, biaya, serta peralatan yang akan digunakan oleh seluruh sivitas hospitalia. "Buku ini kita buat agar semua syarat pemenuhan kompetensi (requirement) yang disubsidi tercantum didalamnya,” kata drg. Rini. Sementara itu, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. selaku Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo memandang peluncuran program pendanaan ini sebagai tonggak sejarah baru bagi kedua institusi. "Ini bentuk komitmen bersama antara FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung seluruh proses pendidikan bagi mahasiswa koas," tegasnya. Ia meminta kepada para mahasiswa koas untuk menghargai perjalanan pendidikan ini dan memperlakukan pasien secara bermartabat dengan menjunjung tinggi mutu keselamatan. Menurut Margareta, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa koas tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Mahasiswa juga harus menanggung biaya kebutuhan saat merawat pasien, dan melalui program ini, institusi ikut meringankan biaya tersebut. Kebijakan subsidi ini mendapat respons positif dari peserta didik. Muhammad Al Fatih Su'aidi, mahasiswa koas angkatan 87, menilai subsidi tersebut meringankan proses pemenuhan kompetensi (requirement). "Subsidi ini sangat bermanfaat bagi kami para peserta didik koas untuk memenuhi requirement. Harapannya semua proses menjadi lebih mudah dan masyarakat bisa lebih terjangkau untuk segera datang berobat ke RSGM UGM," ujarnya. Hal serupa dirasakan Farrel, mahasiswa koas angkatan 91 yang baru dua bulan menjalani pendidikan koas. Ia mengaku terbantu secara finansial dan merasa didukung oleh FKG UGM dan RSGM UGM. “Jadi makin semangat dan termotivasi untuk segera menyelesaikan pendidikan koas, pungkas Farrel. Penulis dan Juru Kamera: Fajar Budi Harsakti

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

BLC FH UGM dan RRI Pro 2 Jogja Dorong Literasi Legalitas UMKM melalui Siaran Penyuluhan Hukum Berbasis SDGs

Rabu (6/5/2026), Business Law Community (BLC) Fakultas Hukum UGM bekerja sama dengan RRI 2 Pro Jogja menyelenggarakan Siaran Penyuluhan Hukum bertajuk “UMKM Naik Kelas: Usaha Sah, Peluang Usaha Meluas” sebagai bentuk realisasi Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum UGM. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi hukum masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta terkait pentingnya legalitas usaha dalam mendorong keberlanjutan dan daya saing bisnis. Program siaran ini menghadirkan dua narasumber dari Fakultas Hukum UGM. Skolastika Probo Citaningrum, S.H., LL.M., alumnus Pascasarjana, dan Afanin Fariq Fajriya, selaku mahasiswa aktif. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya pertumbuhan UMKM di Yogyakarta yang belum sepenuhnya diiringi dengan pemahaman terkait legalitas usaha. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset DIY, jumlah UMKM di Yogyakarta terus mengalami peningkatan signifikan selama beberapa tahun terakhir, terutama pada sektor kuliner, ekonomi kreatif, perdagangan, dan jasa. Namun demikian, sebagian besar UMKM masih berada pada level mikro dan menghadapi tantangan dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dalam siaran tersebut dibahas berbagai persoalan yang sering dihadapi pelaku UMKM, mulai dari minimnya pemahaman mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga akses terhadap pembiayaan dan peluang ekspor. Selain itu, narasumber juga menjelaskan transformasi sistem legalitas usaha melalui mekanisme Online Single Submission (OSS) yang saat ini dirancang untuk mempermudah pelaku usaha memperoleh legalitas secara cepat, mudah, dan tanpa biaya. Siaran ini juga mengangkat sejumlah studi kasus nyata yang menunjukkan risiko usaha tanpa legalitas. Salah satunya adalah kasus pelaku usaha frozen food di Sampit yang dijatuhi sanksi pidana akibat tidak memiliki izin edar dan label produk yang sesuai ketentuan. Selain itu, dibahas pula kasus UMKM keripik singkong di Malang yang gagal mengekspor produk ke Malaysia karena tidak memiliki Nomor Induk Berusaha. Kedua kasus tersebut menjadi gambaran konkret bahwa legalitas usaha tidak hanya berfungsi sebagai syarat administratif, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan hukum dan pintu masuk menuju pasar yang lebih luas. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pemahaman bahwa legalitas usaha memiliki manfaat strategis bagi keberlanjutan bisnis UMKM. Legalitas memberikan perlindungan hukum terhadap pelaku usaha, meningkatkan kepercayaan konsumen, mempermudah akses pembiayaan dari lembaga keuangan, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Di sisi lain, legalitas juga membantu UMKM memperoleh akses terhadap program pemerintah, termasuk pendampingan usaha, bantuan pembiayaan, dan fasilitasi pengembangan pasar. Diskusi interaktif selama siaran berlangsung menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap isu legalitas usaha. Banyak pelaku UMKM yang menyampaikan pertanyaan mengenai proses pembuatan NIB, perlindungan merek dagang, hingga prosedur sertifikasi halal dan izin edar. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap edukasi hukum bisnis masih sangat besar, khususnya di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif dan transformasi digital yang semakin pesat. Kegiatan penyuluhan hukum ini juga memiliki relevansi yang kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 8 mengenai Decent Work and Economic Growth melalui penguatan kapasitas UMKM agar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja yang layak. Kedua, program ini mendukung SDG 9 mengenai Industry, Innovation, and Infrastructure melalui dorongan transformasi UMKM menuju sistem usaha yang lebih modern, legal, dan berbasis digital. Ketiga, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 16 mengenai Peace, Justice, and Strong Institutions karena mendorong peningkatan kesadaran hukum, kepastian hukum, serta akses masyarakat terhadap sistem regulasi yang inklusif. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, media publik, dan komunitas UMKM dalam menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan. RRI 2 Pro Jogja sebagai media publik memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi edukatif yang mudah diakses masyarakat luas. Sementara itu, FH UGM melalui BLC berupaya menghadirkan pengabdian masyarakat berbasis akademik yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui siaran ini, diharapkan pelaku UMKM di Yogyakarta semakin memahami bahwa legalitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi penting untuk meningkatkan daya saing usaha, memperluas pasar, dan memperkuat perlindungan hukum. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap legalitas usaha, UMKM diharapkan mampu berkembang secara berkelanjutan dan menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah maupun nasional. Penulis: Maytri Gestart Ignatius (BLC)

Selengkapnya

After Movie Biak Elok 2024 Tuai Apresiasi di Yogyakarta

Pemutaran After Movie Biak Elok 2024 di Empire XXI Yogyakarta, Sabtu silam (15/11), menjadi ruang refleksi atas perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM di Biak Numfor, Papua. Acara ini mendapat respons positif dari para penonton karena film tersebut bukan semata dokumentasi kegiatan mahasiswa, melainkan medium untuk menampilkan kembali kedekatan, keberagaman budaya, serta dinamika sosial masyarakat Papua yang selama ini jarang tersampaikan melalui karya visual mahasiswa. Film ini mengajak penonton menyelami aktivitas sehari-hari masyarakat Biak Numfor melalui kisah budaya, relasi sosial, hingga kondisi ekologis yang ditemui selama penugasan mahasiswa. Melalui pendekatan visual yang hangat dan autentik, After Movie Biak Elok 2024 membingkai hubungan mahasiswa dengan warga lokal melalui edukasi pengelolaan sampah, inisiatif pemberdayaan pesisir, serta aktivitas pelestarian pariwisata berkelanjutan. Keindahan lanskap laut Biak, kehidupan pesisir, dan tradisi masyarakat menjadi dasar penceritaan film ini. Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) KKN Biak Elok 2024, Anugrah Amin Ignatius Julio yang akrab disapa Wejai, membuka acara dengan membagikan refleksi tentang proses lahirnya film tersebut. Ia menekankan bahwa After Movie Biak Elok 2024 merupakan perjalanan batin yang terbangun dari kedekatan mahasiswa dengan warga Biak. Wejai juga menuturkan bagaimana plakat KKN UGM di kampung halamannya dulu memotivasinya hingga ia meraih beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi dan dapat berkuliah di UGM. Ia berharap kesempatan serupa dapat dinikmati generasi muda di Biak. “Kesuksesan ini harus bisa dinikmati semua anak di sana. Karena itu kami menginisiasi KKN Biak Elok bersama teman-teman,” ungkapnya. Ia kemudian menambahkan bahwa dokumenter tersebut tumbuh dari pengalaman hidup mahasiswa selama tinggal bersama masyarakat Biak. Menurutnya, film ini menjadi wujud pendekatan yang penuh cerita dan sukacita sebagaimana nilai yang dijunjung UGM. “Saya berharap film ini bisa menjadi tanda prasasti bagi kemajuan Papua yang berangkat dari rasa dan potensi yang ada di sana,” ucapnya. Direktur Pengabdian Kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., hadir dan memberikan pandangannya. Ia melihat film ini sebagai penanda penting yang memperkuat kontribusi KKN UGM di berbagai daerah. “Film ini menjadi inspirasi bagi kita semua bagaimana kita melihat Indonesia dengan keberagamannya, terdiri dari banyak suku, bahasa, keindahan, hingga potensi,” jelasnya. Apresiasi juga disampaikan Gubernur DIY melalui Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Dr. Sukamto. Ia menilai After Movie Biak Elok 2024 sebagai karya yang menunjukkan kreativitas dan kepedulian anak muda. “Saya bangga melihat semangat dan kreativitas generasi muda dalam mengolah realitas menjadi karya yang berkarakter, bermakna, dan berintegritas,” katanya. Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, memberikan penghargaan mendalam atas dedikasi tim KKN Biak Elok 2024 dalam menghasilkan film ini. Ia menyebut bahwa film tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat Biak. “Kalian adalah jawaban doa-doa orang Biak,” ujarnya. Sutradara After Movie Biak Elok 2024, Fauzy Ash Siddiqiy, turut menjelaskan bahwa film ini merupakan hasil kolaborasi tim yang mengerahkan energi, pemikiran, dan waktu demi menampilkan wajah Biak secara jujur. Ia menyebut film ini sebagai ruang yang membuka kesempatan bagi publik untuk mengenal Biak secara lebih dekat. “Premis awal film ini adalah menghadirkan orang-orang yang tidak pernah mengenal tanah Papua agar bisa masuk ke dunia Biak,” jelasnya. Ia menutup dengan penegasan bahwa, di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, film ini diselesaikan dengan pendekatan murni tanpa dukungan AI. “Bukan berarti kita tidak mendukung industri AI di Indonesia. Tetapi kita mencoba untuk memberikan audience how it feels like to be there, yang benar-benar nyata adanya,” pungkasnya. Penulis: Cyntia Noviana Foto: Ika Editor: Triya Andriyani

Selengkapnya

MBA SA Care 7.0: Kolaborasi Mahasiswa MBA FEB UGM untuk Menguatkan Kepedulian Sosial

Mahasiswa Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melaksanakan kegiatan sosial MBA SA Care Collaboration Charity 7.0 pada Sabtu, 15 November 2025, di Rumah Pengasuhan Anak Terlantar Wiloso, Jetis, Yogyakarta. Kegiatan bertema “CFC: Collab for Care, Melangkah Bersama untuk Sesama” ini merupakan bentuk kolaborasi antara MBA SA 19.0, KMK, dan FORKIS yang berupaya menghadirkan nilai solidaritas, kepedulian, dan toleransi di lingkungan mahasiswa. MBA SA Care 7.0 bertujuan menumbuhkan kepedulian sosial, memperkuat empati, dan mendorong semangat berbagi sebagai bagian dari pembelajaran karakter kepemimpinan. “Saya sangat senang karena kegiatan ini tidak hanya berfokus pada agenda akademik, tetapi juga memberi ruang untuk berbagi dengan teman-teman yang membutuhkan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menghadirkan lebih banyak kebaikan,” ujar Andreas, selaku Ketua KMK sekaligus panitia kegiatan. Sebagai wujud kepedulian, mahasiswa menyerahkan bantuan sembako dan donasi kepada anak-anak panti. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak pengurus panti. “Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan kepedulian mahasiswa. Kegiatan ini membawa manfaat positif bagi lembaga dan anak-anak di sini. Semoga empati dan kebaikan ini terus berlanjut,” ungkap Anissusilohadi, S.P, selaku Kepala Sub Bagian DUUPT Rumah Pengasuhan Anak Wilosoprojo. Sementara itu, salah satu peserta sekaligus anak panti, Kristia Arsi (16 tahun) juga menyampaikan kesan positifnya. “Acara ini sangat menyenangkan dan panitianya kompak. Semoga ke depan kegiatan seperti ini terus ada dan semakin baik dalam memberikan pengalaman bagi anak-anak panti,” tuturnya. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pengembangan kepemimpinan mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui proses akademik, tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat. Melalui MBA SA Care 7.0, mahasiswa diharapkan terus termotivasi menguatkan nilai kemanusiaan, rasa saling peduli, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial. Reporter: Daniswara Rafi R Editor: Ayu Aprilia

Selengkapnya

UGM Apresiasi Mitra Penyedia Beasiswa dalam Mendukung Akses Pendidikan Mahasiswa

Universitas Gadjah Mada menggelar ‘Malam Apresiasi dan Inspirasi: Irama untuk Bangsa’ sebagai bentuk penghargaan kepada para mitra yang selama ini berkontribusi dalam penyediaan beasiswa bagi mahasiswa. Acara yang berlangsung pada Kamis malam (13/11) di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM tersebut diisi dengan apresiasi, pemaparan capaian beasiswa, serta penampilan musik yang menghadirkan suasana kebersamaan. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas komitmen mitra yang secara konsisten mendukung keberlanjutan akses pendidikan bagi mahasiswa UGM. “Malam ini merupakan ungkapan terima kasih kami kepada Bapak-Ibu sekalian atas kontribusi bermakna yang telah membantu membuka jalan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi,” ujarnya. Rektor menambahkan, dukungan para mitra memperkuat penyediaan beasiswa sekaligus menjadi landasan penting bagi upaya menciptakan kesempatan belajar yang lebih inklusif. Ia menyampaikan bahwa semangat kolaborasi yang terbangun selama ini menjadi modal utama dalam memperluas jangkauan penerima manfaat beasiswa. “Keteguhan dan kepedulian yang Bapak-Ibu berikan menjadi kekuatan bagi UGM dalam memastikan pendidikan dapat diakses oleh lebih banyak anak bangsa,” tuturnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., yang memaparkan gambaran mengenai kondisi sosial-ekonomi mahasiswa dan tantangan pembiayaan pendidikan. Ia menjelaskan bahwa sekitar 30 persen mahasiswa UGM berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, sementara sebagian lainnya berada pada kelompok yang rentan namun tidak tercakup dalam skema bantuan pendidikan. “Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan pendampingan agar dapat menjalani studinya tanpa kendala finansial,” jelasnya. Wakil Rektor juga menyoroti berkurangnya kuota KIP Kuliah 2025 serta terbatasnya alternatif pendanaan yang berdampak pada kesinambungan dukungan bagi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa kondisi ini menuntut penguatan kolaborasi antara UGM dan para mitra untuk menjaga stabilitas pendanaan beasiswa di tengah dinamika kebijakan nasional. “Oleh karena itu, kerja sama yang semakin solid menjadi kunci dalam memastikan setiap mahasiswa tetap dapat melanjutkan pendidikannya,” ungkapnya. Selain memaparkan tantangan, Arie turut menyampaikan arah solusi yang tengah dikembangkan UGM, mulai dari penguatan beasiswa, mentoring, konektivitas dengan dunia profesional, hingga dukungan khusus bagi mahasiswa disabilitas. Ia menekankan bahwa penyediaan akses pendidikan mencakup aspek finansial serta dukungan ekosistem pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berkembang secara optimal. “Setiap bentuk dukungan merupakan investasi sosial yang akan memperkuat kualitas generasi mendatang,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor memaparkan perkembangan penghimpunan dan penyaluran beasiswa UGM yang selama ini didukung oleh pemerintah, BUMN, sektor swasta, yayasan, serta donatur individu. Ia memastikan bahwa seluruh dukungan tersebut dikelola melalui sistem yang kredibel dan transparan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh mahasiswa. “Kepercayaan para mitra menunjukkan bahwa sistem pengelolaan beasiswa di UGM diterima dengan baik karena akuntabel dan berdampak,” ujarnya. Acara malam itu juga menghadirkan sesi talkshow yang menghadangkan dua alumni UGM, Onny Hendro Adhiaksono dan Nur Agis Aulia, yang selama ini aktif memberikan dukungan pendidikan bagi mahasiswa. Keduanya berbagi pengalaman tentang perjalanan karier, alasan mereka tergerak menjadi donatur, serta pandangan mengenai pentingnya keberlanjutan akses pendidikan bagi generasi muda. Melalui kisah dan refleksi para alumni tersebut, UGM menegaskan bahwa kolaborasi lintas generasi memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem beasiswa dan membangun solidaritas yang berdampak nyata bagi mahasiswa. Malam Apresiasi dan Inspirasi ditutup dengan pesan kolaborasi untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif bagi seluruh anak bangsa. Melalui momentum ini, UGM dan para mitra menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan dukungan bagi mahasiswa di berbagai lapisan sosial. “Dengan bergotong royong, kita memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkontribusi bagi masyarakat,” pungkas Wakil Rektor. Penulis: Triya Andriyani Foto: Donnie