BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Fornas XVI JKKI 2026 Dorong Revisi UU SJSN dan UU BPJS demi Penguatan Pendanaan Kesehatan

FK-KMK UGM. Transformasi sistem kesehatan membutuhkan napas panjang, tetapi di lapangan banyak pelaku layanan kesehatan justru merasa sesak. Gambaran itu mengemuka dalam Press Conference Forum Nasional (Fornas) XVI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) Tahun 2026 di Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Selasa (20/10). Kegiatan bersama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM ini menjadi pembuka sebelum forum utama digelar pada 21 hingga 22 Oktober 2026. Sumber kesesakan itu adalah pendanaan. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta Indonesia masih sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari Malaysia yang berkisar 4,5 persen dan China yang mendekati 5 persen. Pengeluaran kesehatan per kapita pun baru sekitar 150 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai 480 dolar AS. Akibatnya, pelayanan terhambat, pendapatan tenaga kesehatan belum sebanding dengan tanggung jawabnya, dan mutu layanan ikut menurun. Tekanan serupa dirasakan pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa usulan perbaikan regulasi sebenarnya telah dirumuskan sejak 2019, tetapi terhenti oleh pandemi COVID-19. Kala itu, dana Pemulihan Ekonomi Nasional sempat menghadirkan surplus bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit. “Setelah COVID selesai, … defisit mulai muncul lagi. Jadi ini penyakit lama,” ujarnya. Menurut Prof. Laksono, dampaknya pertama kali terasa di rumah sakit karena pembayaran klaim menjadi lebih lambat. Jika mutu layanan turun, masyarakat yang akhirnya menanggung akibatnya, termasuk harus membayar langsung dari kantong sendiri. “Mutu pelayanan jangan turun,” tegasnya. Ia juga menyoroti manfaat JKN yang lebih banyak dinikmati warga Jawa dan kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan dokter dan rumah sakit. Di tengah tekanan anggaran negara, masyarakat yang mampu pun perlu didorong membeli asuransi swasta agar beban kesehatan tidak bertumpu pada satu sumber. Berangkat dari persoalan tersebut, Fornas XVI mengusung penguatan kebijakan pendanaan kesehatan dan JKN, termasuk dorongan merevisi UU SJSN dan UU BPJS 2011. Selain Prof. Laksono, press conference ini menghadirkan Prof. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes., dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., dan Muhamad Faozi Kurniawan, S.E., MPH. sebagai narasumber. Penyelenggara menargetkan belanja kesehatan naik menjadi 4 hingga 5 persen PDB dalam 10 tahun. Prof. Laksono menyadari peran perguruan tinggi memiliki batas. “Kalau kita perguruan tinggi, kita hanya bisa memberikan data, analisis,” katanya, sehingga organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan media diajak ikut bersuara. Revisi tersebut diharapkan mulai masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2027. Upaya memperkuat pendanaan ini sejalan dengan SDG 3 kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya jaminan kesehatan semesta. Pemerataan manfaat JKN bagi daerah terpencil berkaitan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).  

Lanjut Baca

Perkuat Implementasi Program Double Degree dan Joint Degree, UGM dan LPDP Gelar Diskusi Evaluasi dan Sinergi Beasiswa

Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar forum diskusi dan evaluasi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperkuat implementasi serta optimalisasi program Double Degree (DD) dan Joint Degree (JD) di Ruang Pertemuan Utama Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM (1/10). Acara yang dihadiri oleh Direktur LDPD, Direktur Kerjasama dan Relasi Global, Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran,  Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Kerjasama serta para Ketua Program Studi Doktoral Penyelenggara Program DD/JD di lingkungan UGM ini bertujuan untuk memetakan tantangan administrasi, juga memperluas cakupan kerja sama internasional, serta menyelaraskan skema pembiayaan beasiswa untuk meningkatkan daya saing akademik dan riset mahasiswa UGM di tingkat global. Dalam evaluasi strategis implementasi program DD/DJ yang disampaikan oleh pihak UGM diwakili oleh Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., dan Direktur Kemitraan, Alumni, dan Urusan Internasional UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., menyoroti tren pertumbuhan pendaftar program gelar ganda dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah kendala teknis dan administratif masih ditemukan, terutama pada tahap perolehan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas mitra serta sinkronisasi data pada sistem informasi akademik. UGM menetapkan beberapa langkah strategis untuk mengatasi hambatan tersebut”, terang Sigit. Di antaranya yakni penyelarasan persyaratan admisi dengan mewajibkan pengelola program studi menyusun dan menyerahkan daftar persyaratan kesepakatan antara pendaftaran dan lembaga pemberi beasiswa untuk diunggah secara terintegrasi pada sistem admisi. UGM juga mendorong perlunya peran aktif program studi dan pembimbing untuk menghubungkan calon mahasiswa dengan calon pembimbing di universitas mitra sejak dini, terutama untuk jenjang doktoral. Langkah strategis lainnya yaitu melalui peningkatan sinergi dengan perguruan tinggi mitra luar negeri melalui kegiatan sosialisasi bersama serta menegosiasikan skema pembebasan atau pemotongan biaya pendidikan (tuition fee waiver/discount) guna membuka peluang skema pendanaan bersama (co-funding). Direktur Beasiswa LPDP, Ir. Dwi Larso, M.Sc., Ph.D menguatkan komitmen LPDP bahwa dana abadi pendidikan yang dikelola LPDP terus mengalami peningkatan pesat. ”LPDP secara konsisten berkomitmen memaksimalkan alokasi dana untuk pengiriman mahasiswa ke perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri”, jelasnya. Dwi Larso juga menerangkan beberapa poin penting komitmen dan arah kebijakan LPDP yang mengemuka dalam diskusi tersebut di antaranya melakukan peningkatan alokasi program doktoral. Dalam hal ini, LPDP meningkatkan porsi penerima beasiswa program doktoral dari yang semula seperempat menjadi sepertiga dari total alokasi penerima beasiswa. ”Kami tingkatkan porsinya dari seperempat menjadi sepertiga”, tegasnya. Diungkapan Dwi Larso bahwa fokus pendanaan akan diprioritaskan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). “Mayoritas penerima beasiswa dialokasikan untuk bidang STEM guna mendukung kebutuhan industri nasional dan kemandirian teknologi”, jelasnya. Dwi Larso menambahkan bahwa LPDP juga terus mendorong mekanisme pembiayaan bersama dengan institusi luar negeri maupun instansi pemerintah/daerah untuk melipatgandakan kapasitas penerima beasiswa melalui dukungan skema co-funding. Selain itu, penyederhanaan persyaratan bahasa juga menjadi salah satu komitmen yang mengemuka dalam diskusi tersebut. “LPDP melakukan evaluasi kebijakan persyaratan sertifikat bahasa di awal pendaftaran agar tidak membebani calon pendaftar secara finansial, dengan menyerahkan kriteria kemampuan bahasa pada standar pengujian masing-masing universitas tujuan”, terangnya. Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif yang menyoroti berbagai isu praktis dari para pengelola prodi, seperti kuota penerimaan mahasiswa internasional, kerja sama spesifik perguruan tinggi mitra antara lain Utrecht University dan Groningen University, termasuk penanganan keterlambatan masa studi, hingga fleksibilitas proses seleksi bagi pendaftar berkebutuhan khusus (difabel). Pihak LPDP menyambut baik masukan tersebut dan berjanji akan terus melakukan penyempurnaan pada kriteria wawancara, mekanisme pendampingan, serta memperluas koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait. Diharapkan sinergi kuat antara UGM dan LPDP mampu memperluas akses civitas akademika UGM terhadap program pendidikan berkualitas internasional. ”Dengan tata kelola admisi yang semakin baik serta fleksibilitas pembiayaan beasiswa, UGM siap mencetak lulusan berdaya saing global yang berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa”, pungkas Sigit Priyanta.     Reportase & tulisan: Bondan Wijanarko Ditulis ulang:  B. Diah Listianingsih Penyunting: Endang Sulastri  

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

FK-KMK UGM Dukung Penguatan Skrining Layak Hamil untuk Mempersiapkan Kehamilan Sehat

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berpartisipasi dalam penguatan upaya kesehatan reproduksi melalui keterlibatan Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.O.G., Subsp. Urogin, Re., sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Skrining Layak Hamil yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026, di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan, terutama bagi calon pengantin dan pasangan usia subur, agar persiapan kehamilan dapat dilakukan secara lebih sehat, aman, dan terencana. Dalam kegiatan tersebut, Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman menyampaikan materi bertajuk “Skrining Layak Hamil bagi Calon Pengantin dan Pasangan Usia Subur”. Materi ini menyoroti pentingnya mengenali kondisi kesehatan sejak sebelum konsepsi sebagai bagian dari persiapan kehamilan. Pemeriksaan kesehatan sebelum hamil dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu maupun janin, sehingga langkah pencegahan dan penanganan dapat direncanakan lebih awal. Skrining layak hamil menjadi salah satu langkah penting dalam memastikan calon orang tua memperoleh informasi yang memadai mengenai kondisi kesehatannya. Melalui pemeriksaan sejak dini, masalah kesehatan yang berpotensi memengaruhi kehamilan dapat diketahui lebih awal. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan edukasi, pendampingan, maupun penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu sebelum kehamilan direncanakan. Upaya ini juga merupakan bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan reproduksi. Persiapan kehamilan tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik, tetapi juga pemahaman mengenai kondisi kesehatan dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk hamil. Dengan demikian, calon pengantin dan pasangan usia subur memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi kesehatan yang tepat. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sebelum kehamilan perlu terus diperkuat agar faktor risiko dapat diantisipasi sedini mungkin. Persiapan yang baik diharapkan membantu mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan serta mendukung perlindungan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, skrining layak hamil perlu dipahami sebagai bagian dari perencanaan keluarga, bukan sekadar pemeriksaan yang dilakukan ketika kehamilan telah terjadi. Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya promotif dan preventif untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan dinas kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (Kontributor: Munjayati).

Selengkapnya

8 Dokter Muda Palestina Program SHEMIND FK-KMK UGM Ucap Janji Koas untuk Jalankan Misi Kemanusiaan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND) melaksanakan medical student oath atau janji koas di Grha Wiyata FK-KMK UGM. Berlangsung pada Jumat (02/10), janji koas ini diikuti oleh delapan dokter muda dari Al-Azhar University Gaza yang akan menjalani studi profesi di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.  Dalam sambutannya, dr. Ahmad Hamim Sadewa., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM mengucapkan selamat kepada delapan mahasiswa yang sebelumnya menempuh studi di Gaza tersebut. Menurutnya, janji koas ini merupakan persiapan tahap akhir setelah mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan klinis di FK-KMK UGM selama beberapa bulan. “Hari ini kita mencapai akhir dari program persiapan tersebut. Anda harus melangkah maju ke tempat profesi di rumah sakit,” ujar dr. Hamim. Sementara itu, Kepala Bagian Akademik dan Riset RSA UGM, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E, Subsp.Ven., mengatakan bahwa janji koas SHEMIND bukan sekadar pendidikan keterampilan klinis semata. Upacara ini ditujukan agar kedelapan mahasiswa memiliki empati, integritas, dan rasa profesionalisme sebagai dokter. Sebab, menurut dr. Nurwestu, mereka tengah menjalankan misi yang berakar pada solidaritas global dan martabat kemanusiaan. “Di rumah sakit, Anda akan menemui pasien pada momen-momen paling rentan mereka,” ujarnya. Sejalan dengan misi tersebut, dr. Mohammad Zughbur selaku Dekan Faculty of Medicine Al Azhar University Gaza menasehati kedelapan mahasiswa agar menjalankan pendidikan profesi dengan rasa kemanusiaan. Terlebih, bekal ilmu kesehatan ini akan sangat berguna bagi korban terdampak genosida di Gaza, Palestina. “Kami berharap suatu hari nanti kalian kembali untuk melayani rakyat kalian dan berkontribusi dalam membangun kembali sistem pelayanan kesehatan di Gaza,” tuturnya. Janji koas SHEMIND menjadi bukti komitmen kelembagaan FK-KMK UGM terhadap misi kemanusiaan global. “Melalui program kolaboratif ini, UGM menegaskan kembali komitmennya terhadap etika kedokteran, layanan kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dalam skala internasional,” ujar dr. Nurwestu. Oleh sebab itu, agenda ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berupa SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan. (Reporter: Aghits Azka)

Selengkapnya

FKG UGM dan RSGM UGM Prof. Soedomo Beri Subsidi Pendidikan untuk Mahasiswa Koas

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada (RSGM UGM) Prof. Soedomo resmi meluncurkan program subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa profesi atau koas (1/10). Langkah strategis ini bertujuan memangkas beban biaya pendidikan klinis yang selama ini ditanggung mandiri oleh mahasiswa. Kehadiran subsidi ini merupakan jawaban atas impian panjang fakultas. Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. menyebut perwujudan program ini sebagai mimpi bersama yang akhirnya terealisasi demi melancarkan pendidikan mahasiswa koas. Kebutuhan subsidi berkaitan dengan adanya perbedaan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi terutama pada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun Bidikmisi. Regulasi pemerintah yang berlaku saat ini hanya memberi bantuan biaya pendidikan hanya pada jenjang S1, sementara tidak untuk jenjang pendidikan profesi. “Untuk saat ini kami anggarkan Rp5 Miliar per tahun untuk memberikan subsidi bagi seluruh mahasiswa koas tanpa terkecuali,” ucap Dekan Suryono. Guna memastikan subsidi tersebut berjalan lancar, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG menyebut 49 mahasiswa penerima subsidi akan diberikan Buku Kendali dan Buku Formularium Alat dan Bahas Koas. Buku Kendali difungsikan sebagai pedoman utama yang memuat seluruh daftar syarat pemenuhan kompetensi (requirement) klinis mahasiswa yang mendapatkan pembiayaan penuh dari program subsidi. Melalui buku ini, setiap tahapan perawatan dan klaim subsidi mahasiswa harapannya dapat tercatat dengan baik. Sementara itu, Buku Formularium Alat dan Bahan Koas berperan sebagai panduan rinci terkait manajemen logistik, kendali bahan, biaya, serta peralatan yang akan digunakan oleh seluruh sivitas hospitalia. "Buku ini kita buat agar semua syarat pemenuhan kompetensi (requirement) yang disubsidi tercantum didalamnya,” kata drg. Rini. Sementara itu, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. selaku Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo memandang peluncuran program pendanaan ini sebagai tonggak sejarah baru bagi kedua institusi. "Ini bentuk komitmen bersama antara FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung seluruh proses pendidikan bagi mahasiswa koas," tegasnya. Ia meminta kepada para mahasiswa koas untuk menghargai perjalanan pendidikan ini dan memperlakukan pasien secara bermartabat dengan menjunjung tinggi mutu keselamatan. Menurut Margareta, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa koas tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Mahasiswa juga harus menanggung biaya kebutuhan saat merawat pasien, dan melalui program ini, institusi ikut meringankan biaya tersebut. Kebijakan subsidi ini mendapat respons positif dari peserta didik. Muhammad Al Fatih Su'aidi, mahasiswa koas angkatan 87, menilai subsidi tersebut meringankan proses pemenuhan kompetensi (requirement). "Subsidi ini sangat bermanfaat bagi kami para peserta didik koas untuk memenuhi requirement. Harapannya semua proses menjadi lebih mudah dan masyarakat bisa lebih terjangkau untuk segera datang berobat ke RSGM UGM," ujarnya. Hal serupa dirasakan Farrel, mahasiswa koas angkatan 91 yang baru dua bulan menjalani pendidikan koas. Ia mengaku terbantu secara finansial dan merasa didukung oleh FKG UGM dan RSGM UGM. “Jadi makin semangat dan termotivasi untuk segera menyelesaikan pendidikan koas, pungkas Farrel. Penulis dan Juru Kamera: Fajar Budi Harsakti

Selengkapnya

Magister Teknik Biomedis UGM Gelar Layanan Kesehatan Terpadu bagi Penyandang Disabilitas dan Pendamping

[metaslider id="1524581"] Sedayu, Bantul — Program Studi Magister Teknik Biomedis, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM serta Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Layanan Kesehatan Terpadu untuk Penyandang Disabilitas dan Pendampingnya”. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Rumah Kebugaran Difabel (RKD), Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PKM dan bertujuan memberikan layanan kesehatan terpadu bagi penyandang disabilitas dan anggota keluarga atau pengasuh yang mendampingi mereka. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan gigi, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta pemeriksaan khusus bagi sejumlah penyandang disabilitas berupa pemeriksaan neurologi, fisioterapi, dan survei penggunaan alat bantu. Sebanyak 25 penyandang disabilitas dan 25 anggota keluarga atau pengasuh menjadi sasaran kegiatan. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan peserta sekaligus memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung perawatan dan pendampingan secara berkelanjutan. Ketua PKM, Dr. drg. Anne Handrini Dewi, M. Kes., dari FKG UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta melalui informasi mengenai kondisi kesehatan mereka. “Dari kegiatan ini diharapkan peserta memperoleh informasi terkait kondisi kesehatannya secara langsung. Pemeriksaan gigi, khususnya pada penyandang disabilitas, bermanfaat untuk deteksi dini masalah kesehatan mulut, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas hidup. Selain itu, orang tua atau pengasuh juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Dr. Anne. Selain memberikan layanan pemeriksaan, tim juga memperhatikan aspek perlindungan data dan privasi peserta. Dr. Anne menegaskan bahwa identitas peserta dijamin kerahasiaannya. Publikasi hasil kegiatan hanya akan menggunakan data anonim dan tidak mencantumkan nama maupun identitas pribadi peserta. “Peserta berkewajiban mengikuti aturan kegiatan dan dapat bertanya kepada petugas apabila terdapat informasi atau prosedur yang belum jelas,” tambahnya. Sementara itu, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., selaku Ketua Program Studi Magister Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas bidang keilmuan. Menurut Dr. Rini, kebutuhan kesehatan penyandang disabilitas memiliki karakteristik yang beragam sehingga diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu aspek kesehatan. Kolaborasi antara bidang teknik biomedis, kedokteran, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, neurologi, dan fisioterapi memungkinkan layanan diberikan secara lebih terpadu sesuai kebutuhan peserta. “Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai kebutuhan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan pendampingnya. Kami berharap kolaborasi lintas fakultas dan lintas disiplin seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga hasil pendidikan dan keilmuan di UGM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Rini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM. Tim pelaksana terdiri atas tenaga profesional dan akademisi dari berbagai bidang, antara lain dokter neurologi dan dokter saraf dari FK-KMK UGM, dokter gigi dari FKG UGM, para residen FK-KMK UGM, serta mahasiswa Magister Teknik Biomedis. Keterlibatan berbagai bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan kesehatan terpadu. Selain pemeriksaan, peserta juga memperoleh informasi dan edukasi yang diharapkan dapat membantu keluarga maupun pengasuh dalam melakukan pendampingan kesehatan sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh hibah penelitian SPs ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis : Arni W

Selengkapnya

Tak Cukup Sekadar Berbagi Makanan: FTP UGM dan Foodbank of Indonesia Sepakat Hidupkan Lagi Lumbung Pangan Desa

Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami di Operation Room FTP UGM pada Jumat (25/9), untuk mengembangkan gerakan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta jajaran pimpinan departemen dan dosen. Dari pihak yayasan hadir Ketua Dewan Pembina M. Hendro Utomo, S.S., MBA, Ketua Yayasan Wida Septarina, S.S., M.Si., serta pengurus Foodbank of Indonesia (FOI). Dekan FTP UGM menyambut baik kedatangan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan adanya keberlanjutan dan pengembangan kerja sama yang dilakukan oleh FTP UGM dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. “Kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan bersama masyarakat dengan melibatkan akademisi serta yayasan atau lembaga lain yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu pangan” Ujar Eni. Hendro Utomo menyampaikan bahwa pengalaman FOI selama sekitar 11 tahun menunjukkan pembagian makanan lebih tepat disebut solusi darurat (emergency response) yang belum menyelesaikan persoalan secara struktural. Karena itu, menurutnya organisasi kemanusiaan perlu mendorong masyarakat agar mampu menolong dan memberdayakan dirinya sendiri. Pandangan inilah yang melandasi Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami, yakni menghidupkan kembali ekosistem pangan di desa. Ruang lingkup PKS ini mencakup penelitian dan publikasi mengenai lumbung pangan, pangan lokal, dan budaya pertanian dari sudut pandang ilmu teknologi pertanian, serta hasil riset beragam varietas benih lokal. Kedua pihak juga akan mendampingi pengembangan Lumbung Mustikarasa di Dusun Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dan menyusun buku bunga rampai "Bangkitnya Lumbung Kami". Sebagai sarana kaderisasi dan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa FTP UGM, akan digelar Rembug Pangan Orang Muda. Kerja sama ini turut mencakup inisiasi Pasar Rakyat Mustikarasa, yakni UMKM setempat menampilkan kreasi dan olahan pangan lokal sebagai pengenalan kuliner lokal di lingkungan universitas. Pembahasan juga menyinggung rencana pendampingan petani muda di Sriharjo, Bantul, yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng., dan kelompok Taruna Tani yang mulai memanfaatkan teknologi. Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menilai inisiatif ini berpeluang menjadi flagship program pemberdayaan masyarakat FTP UGM, dengan catatan dampaknya perlu diukur secara konkret pada satu lokasi yang sama dan dapat dikembangkan menjadi policy brief . Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. penulis : Shella Herdanti

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum