BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Lanjut Baca

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM

Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu membiayai kuliahnya hingga selesai. Kedua orang tua Silvia, Syarifuddin (45) dan Mufati (45), tak lulus SMA. Tentunya besar keinginan mereka agar anak-anaknya dapat mencapai pendidikan yang lebih baik. Syarifuddin, yang merupakan petani, penghasilannya tak menentu karena bergantung pada cuaca dan hasil panen, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan keluarganya, Silvia tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik. Semangatnya yang gigih dan rasa ingin tahu yang besar ini pun sudah terlihat jelas dari jejak prestasinya selama bersekolah. Selama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonosobo, Silvia menjaga konsistensi prestasi akademik hingga berhasil meraih Penghargaan Khusus OSN-K Bidang Kimia peringkat kedelapan dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya pada tahun 2026. Dari SMP-nya, Silvia pernah menjuarai perlombaan LCC Islami juara 3 dan PBB juara 1 di kabupaten. Ia pun aktif dalam berorganisasi, terbukti dengan jejaknya sebagai koordinator di ekskul Pramuka. Saat SMA, ia pun pernah menjabat sebagai ketua koordinator Fraksi 2 dan juga ketua Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolahnya. Saat menjadi ketua PIK-R, ia menjadi juara satu sebagai PIK-R percontohan 1 Jawa Tengah. Untuk membagi antara kegiatan organisasi dan akademiknya, Silvia memfokuskan energinya pada kegiatannya saat itu. Prestasinya ini tak lepas dari kontribusi lingkungan yang mendukungnya untuk terus melangkah. Lalu ia pun mengejar ketertinggalannya di kelas dengan belajar di rumah saat malam hari dan pada liburan. “Kebetulan kalau di sekolah saya itu dispensasinya mudah gitu ya, Kak. Dan gurunya itu mendukung kita kalau misal dispensasinya itu tentang hal yang positif gitu. Jadi saya juga merasa sangat beruntung karena bisa didukung oleh lingkungannya,” jelasnya, Selasa (28/7). Gadis itu tak menyerah dan terus berusaha untuk mengupayakan mimpinya untuk berkuliah. Kedua orang tuanya pun mendukungnya dengan segenap hati. Meski dalam keterbatasan ekonomi, bukannya menyerah, gadis itu mencari informasi secara mandiri tentang beasiswa. Ia sempat bertanya kepada salah satu temannya yang juga merupakan penerima beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk pelajar. Pilihannya pun jatuh pada BSI Scholarship Unggulan karena beasiswa ini memenuhi kebutuhannya saat kuliah nanti, seperti laptop, uang saku bulanan, dan juga UKT, serta tak kalah penting juga menyediakan pengembangan diri dengan berbagai program leadership dan character building, dan juga kesempatan magang dan mentorship di industri ekonomi syariah. Dengan semangat belajar, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, ia berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ia diterima di prodi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur SNBP. Kini, menjadi calon sarjana pertama di keluarganya terasa bagaikan mimpi bagi Silvia. Ia pun berpesan kepada  semua teman-teman yang mungkin saat ini memiliki kondisi yang sama dengannya, bahwa mereka harus banyak mencari informasi, terlebih dengan kemudahan teknologi dan media sosial yang ada saat ini. Menurutnya, banyak sumber pendanaan dari beasiswa yang mungkin masih tak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Selain itu, ia pun mengingatkan untuk tak berpasrah pada keadaan. "Jangan pernah mengubur mimpimu sebelum bertarung habis-habisan. Menjadi generasi pertama yang kuliah memang berat karena harus membuka jalan sendiri. Namun, ketika kita mendahulukan keluarga dan melangkah dengan ikhlas, pintu yang semula terlihat tertutup dapat terbuka," ujar Silvia. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Silvia

Selengkapnya

FK-KMK UGM Kembangkan Program Puskesmas Inklusif untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan Primer

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan kegiatan koordinasi dan sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah awal implementasi Program Puskesmas Inklusif bertajuk “FASKES Sahabat Kita Semua”. Kegiatan yang berlangsung pada 27 Juli 2026 di Puskesmas Umbulharjo 1, Kota Yogyakarta, ini bertujuan memperkuat layanan kesehatan primer yang inklusif, ramah, dan bebas stigma, khususnya bagi orang dengan HIV (ODHIV) dan penyintas tuberkulosis (TB), melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, M.A., bersama tim CHBP FK-KMK UGM. Kehadiran tim disambut oleh Kepala Puskesmas Umbulharjo 1, drg. Yunita Haryanti, M.M., didampingi penanggung jawab Program Pencegahan Penyakit Menular dr. Siti Kusdinariyalun Handarumurti, penyuluh kesehatan masyarakat Lany Kurniati, serta Sri Setiari sebagai pelaksana Program Pencegahan Penyakit Menular. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui Program Puskesmas Inklusif, kedua institusi berkomitmen menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih terbuka, menghargai keberagaman, serta memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada seluruh kelompok masyarakat. Setelah bergabung dalam grup WhatsApp, peserta akan mengikuti diskusi reflektif secara berkala sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan mulai Agustus 2026. Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 57 pegawai Puskesmas Umbulharjo 1. Melalui diskusi yang berkelanjutan, peserta diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pelayanan yang telah dilakukan, serta memperkuat kapasitas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih ramah dan bebas stigma. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mubasysyir Hasan Basri menjelaskan bahwa program ini berangkat dari keprihatinan terhadap stigma yang masih dialami oleh ODHIV maupun penyintas tuberkulosis. Menurutnya, stigma tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis individu, tetapi juga dapat menghambat akses terhadap layanan kesehatan, menurunkan kepatuhan berobat, bahkan memperbesar risiko penularan penyakit akibat keterlambatan diagnosis maupun pengobatan. Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif serta peningkatan upaya penanggulangan HIV dan tuberkulosis. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan dalam pelayanan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: Purnama Dewi Siregar).

Selengkapnya

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

Upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi anak tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Pencegahan sejak usia dini justru menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Gadjah Mada bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar kegiatan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut bagi 71 siswa TK Rumahku Tumbuh, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 26/05/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk membangun kesadaran menjaga kesehatan gigi sejak usia emas pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas staf RSGM UGM, dosen Departemen IKGA FKG UGM, dokter gigi residen, hingga mahasiswa koas. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan di lapangan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan calon dokter gigi yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Setelah itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengidentifikasi kondisi rongga mulut masing-masing. Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi bahan informasi bagi orang tua dan guru sehingga potensi gangguan kesehatan gigi dapat dikenali lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. Secara analitis, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit gigi pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku hidup sehat sejak dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan gigi pada anak maupun orang tua masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Oleh karena itu, sekolah menjadi ruang intervensi yang efektif karena mampu menjangkau anak pada fase pembentukan kebiasaan. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti yang dilakukan RSGM UGM dan Departemen IKGA FKG UGM memperlihatkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, melainkan juga sebagai pusat edukasi masyarakat yang aktif membangun budaya hidup sehat. Ketua tim kegiatan dari Departemen IKGA FKG UGM menyampaikan bahwa pemeriksaan gigi pada anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui identifikasi penyakit. Masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan perilaku hidup sehat. Melalui pemeriksaan dan edukasi yang dilakukan dengan pendekatan ramah anak, kami berharap mereka tidak hanya mengenal dokter gigi sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai sahabat yang membantu menjaga kesehatan. Pengalaman positif seperti ini akan membangun keberanian anak untuk rutin memeriksakan gigi hingga dewasa. Keterlibatan guru dan orang tua merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program promotif. Edukasi kesehatan gigi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Orang tua dan guru memiliki peran penting untuk melanjutkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, mengontrol konsumsi makanan manis, serta memastikan anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat didampingi para guru dan tim pelaksana. Suasana yang komunikatif dan menyenangkan membantu mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan gigi, yang selama ini masih menjadi hambatan bagi banyak anak dalam mengakses layanan kesehatan gigi. Dari perspektif pendidikan kedokteran gigi, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi dan dokter gigi residen. Mereka memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memahami bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari tindakan kuratif, tetapi juga dari kemampuan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak satuan pendidikan. Tantangan kesehatan gigi anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan klinis, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan tumbuh dengan kesehatan gigi dan mulut yang optimal sebagai fondasi kualitas hidup yang lebih baik. (Kontributor: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono)

Selengkapnya

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Selengkapnya

FK-KMK UGM Sambut 8 Mahasiswa Palestina untuk Lanjutkan Studi Kedokteran Melalui Program SHEMIND 2026

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyambut kedatangan delapan mahasiswa Palestina pada Selasa (7/7/2026). Pertemuan ini dilaksanakan di Executive Room, Lantai 2 Gedung Pusat FK-KMK UGM. Kedatangan mahasiswa Palestina yang terdiri atas tiga mahasiswa dan lima mahasiswi Kedokteran Al-Azhar University, Gaza, ini merupakan hasil dari kerja sama FK-KMK UGM dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND): UGM For Palestine untuk memberikan kesempatan mahasiswa Kedokteran Palestina belajar dan mengembangkan diri secara praktis di FK-KMK UGM, serta membangkitkan kembali pendidikan kedokteran di Gaza. Menyambut kehadiran delapan mahasiswa Al-Azhar University Gaza, Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, mengatakan bahwa kehadiran mereka di FK-KMK bukan sekadar menyelesaikan studi, tetapi juga bukti ketahanan, ketekunan, dan harapan, dan komitmen mereka sebagai calon dokter masa depan dari tantangan yang telah dihadapi. Prof. Yodi meyakini bahwa tanggung jawab FK-KMK UGM tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga melampaui batas negara. “Jadi, ketika para profesional kesehatan di masa depan, yaitu calon dokter seperti Anda sekalian, menghadapi kesulitan, solidaritas akademik menjadi lebih dari sekadar nilai, tanggung jawab, dan kewajiban moral bagi kami,” ujar Prof. Yodi. Di FK-KMK UGM, para mahasiswa Palestina akan memperkuat kompetensi klinis, membangun persahabatan yang erat dengan mahasiswa lainnya, sekaligus menemukan rumah kedua. Di sisi lain, kehadiran para mahasiswa Palestina juga mengajarkan kepada sivitas FK-KMK UGM tentang ketahanan hidup. “Kami sangat berharap, suatu hari nanti, Anda akan kembali ke Gaza tidak hanya sebagai profesional kesehatan, tetapi juga sebagai pemimpin. Sampai hari itu tiba, ketahuilah bahwa kami di sini ada untuk kalian,” pesan Prof. Yodi. Selain Dekan, turut hadir Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D. dan Sekretaris Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D. Sementara itu, tim SHEMIND FK-KMK UGM yang juga membersamai antara lain Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., AIFO-K selaku konseptor SHEMIND; dr. Noviarina Kurniawati, M.Sc. dari Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika; Dr.rer.nat. Risky Oktriani, S.Si., M.Biotech., M.Sc. dari Departemen Biokimia; dr. Farida Nur Oktoviani, M.Biotech dari Departemen Mikrobiologi; dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc. dari Departemen Parasitologi; dan Apri Linawati, S.E. dari Unit Akademik dan Kemahasiswaan. Mewakili Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dr. Hamim mengemukakan bahwa saat ini, Fakultas tengah berupaya untuk menyelaraskan kurikulum FK-KMK dengan kurikulum Kedokteran di Al-Azhar University Gaza. “Meskipun nantinya kurikulum antara kedua universitas tidak dapat persis sama, semoga kurikulum yang telah diselaraskan tetap dapat relevan dengan kurikulum di Al-Azhar University Gaza,” terang dr. Hamim. Salah satu mahasiswa Al-Azhar University Gaza yang hadir, Yousef Albashiti, berterima kasih kepada FK-KMK UGM atas kesempatan yang diberikan. “Kami berterima kasih atas kesempatan yang ditawarkan kepada kami untuk melanjutkan tahun-tahun pendidikan klinis kami,” kata Yusuf. Mahasiswa lainnya, Mahmoud Hamdouna, turut bahagia atas sambutan yang diberikan oleh FK-KMK UGM. “Saya berasal dari Mesir dan berkuliah di Palestina. Terima kasih telah menyambut kami. Saya senang sekali bisa berada di sini,” ungkap Mahmoud. Inisiatif FK-KMK UGM dalam melanjutkan studi mahasiswa Kedokteran Palestina yang terdampak perang merupakan salah satu upaya fakultas dalam mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Fasilitasi pendidikan bagi mahasiswa kedokteran Palestina ini memastikan keberlanjutan hak atas pendidikan yang berkualitas meskipun di tengah situasi krisis, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang kelak akan memulihkan dan membangun kembali sistem kesehatan masyarakat di Gaza. Lebih dari itu, kemitraan global antara FK-KMK UGM, Pemerintah Republik Indonesia melalui Indonesian AID, dan Al-Azhar University ini merupakan wujud representatif dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi institusi pendidikan dan solidaritas kemanusiaan bersatu padu untuk mengatasi tantangan global serta merajut harapan masa depan yang lebih baik. (Penulis: Citra/Humas)

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Charity Run MENEFEST 2026, Angkat Semangat Olarhraga dan Kepedulian Sosial

Charity run MENEFEST 2026 telah sukses diselenggarakan dengan meriah yang diikuti oleh 450 pelari dari berbagai kalangan pada Sabtu, (23/05/2026). Charity run ini merupakan salah satu rangkaian acara Management Festival (MENEFEST) 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Mengusung tema “Endorphins: Steps We Take, Light We Create”, acara ini diharapkan dapat membawa semangat, inspirasi, serta harapan melalui olahraga dan aksi sosial yang dilakukan bersama-sama. Ketua panitia MENEFEST 2026, Dhafa Novendra (Manajemen 2025), mengatakan bahwa charity run tahun ini menghadirkan 2 kategori, yakni 5K dan 10K. Kemudian, acara ini juga menghadirkan seorang guest star, yakni Sabian Tama, seorang influencer pelari di media sosial. Dalam kesempatan ini, Sabian turut berbagi pengalaman dan tips bagi para pelari pemula. Selain meramaikan hari ulang tahun Manajemen FEB UGM melalui perayaan olahraga, MENEFEST 2026 juga mengadakan aksi sosial dengan menyalurkan donasi dari hasil charity run tersebut. Dana yang terkumpul tersebut didonasikan kepada SD Negeri Karangwuni 1 di Depok, Sleman pada Jum'at (29/05/2026). “Hasil charity run ini kami sampaikan kepada pihak SD Negeri Karangwuni 1. Selain itu, kami juga memberikan edukasi gizi kepada para siswa di sana,” terang Dhafa. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan manfaat kesehatan dari olahraga, tetapi juga dapat turut berkontribusi dalam kegiatan sosial bagi masyarakat. “Harapannya, setiap orang yang ikut secara tidak langsung juga  berkontribusi kepada kegiatan charity-nya. Jadi, tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga dapat memberikan dampak sosial bagi orang lain,” tutup Dhafa. Reportase: Najwa Anggi Namira Foto: Dokumentasi Panitia Menefest Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals    

Selengkapnya

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)