BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Lanjut Baca

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

Upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi anak tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Pencegahan sejak usia dini justru menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Gadjah Mada bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar kegiatan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut bagi 71 siswa TK Rumahku Tumbuh, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 26/05/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk membangun kesadaran menjaga kesehatan gigi sejak usia emas pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas staf RSGM UGM, dosen Departemen IKGA FKG UGM, dokter gigi residen, hingga mahasiswa koas. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan di lapangan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan calon dokter gigi yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Setelah itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengidentifikasi kondisi rongga mulut masing-masing. Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi bahan informasi bagi orang tua dan guru sehingga potensi gangguan kesehatan gigi dapat dikenali lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. Secara analitis, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit gigi pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku hidup sehat sejak dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan gigi pada anak maupun orang tua masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Oleh karena itu, sekolah menjadi ruang intervensi yang efektif karena mampu menjangkau anak pada fase pembentukan kebiasaan. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti yang dilakukan RSGM UGM dan Departemen IKGA FKG UGM memperlihatkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, melainkan juga sebagai pusat edukasi masyarakat yang aktif membangun budaya hidup sehat. Ketua tim kegiatan dari Departemen IKGA FKG UGM menyampaikan bahwa pemeriksaan gigi pada anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui identifikasi penyakit. Masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan perilaku hidup sehat. Melalui pemeriksaan dan edukasi yang dilakukan dengan pendekatan ramah anak, kami berharap mereka tidak hanya mengenal dokter gigi sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai sahabat yang membantu menjaga kesehatan. Pengalaman positif seperti ini akan membangun keberanian anak untuk rutin memeriksakan gigi hingga dewasa. Keterlibatan guru dan orang tua merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program promotif. Edukasi kesehatan gigi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Orang tua dan guru memiliki peran penting untuk melanjutkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, mengontrol konsumsi makanan manis, serta memastikan anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat didampingi para guru dan tim pelaksana. Suasana yang komunikatif dan menyenangkan membantu mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan gigi, yang selama ini masih menjadi hambatan bagi banyak anak dalam mengakses layanan kesehatan gigi. Dari perspektif pendidikan kedokteran gigi, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi dan dokter gigi residen. Mereka memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memahami bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari tindakan kuratif, tetapi juga dari kemampuan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak satuan pendidikan. Tantangan kesehatan gigi anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan klinis, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan tumbuh dengan kesehatan gigi dan mulut yang optimal sebagai fondasi kualitas hidup yang lebih baik. (Kontributor: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono)

Selengkapnya

BISI Serahkan Beasiswa Fast Track Pascasarjana di Fakultas Pertanian UGM: Dorong Inovasi dan Ketahanan Pertanian Masa Depan

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menyelenggarakan acara penyerahan beasiswa bagi mahasiswa pascasarjana Program Fast Track penerima KIPK, hasil kerja sama dengan PT BISI International Tbk, di bawah naungan Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI) pada Jumat, 23 Januari 2026. Bertempat di Ruang Venture, AGLC Lantai 6, kegiatan ini menjadi simbol komitmen dunia industri dalam mendukung pendidikan tinggi dan inovasi pertanian berkelanjutan. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas dukungan beasiswa yang diberikan. “Terima kasih atas kontribusi BISI. Semoga beasiswa ini dapat membantu mahasiswa menyelesaikan dua jenjang pendidikan dalam lima tahun (Fast Track) dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pertanian Indonesia,” ujarnya. Direktur Utama PT BISI International Tbk, Agus Saputra Wijaya, menjelaskan bahwa CPFI menaungi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Charoen Pokphand Group, termasuk BISI melalui dukungan terhadap pendidikan dan riset pertanian. BISI sendiri dikenal sebagai produsen benih jagung unggulan yang aktif mendorong transformasi teknologi pertanian. Dalam sesi diskusi, BISI memaparkan tantangan dan peluang pertanian Indonesia menuju tahun 2030. Musim tanam terbaik diperkirakan berlangsung antara Maret hingga Juni, namun perubahan iklim yang tidak menentu membuat prediksi menjadi semakin kompleks. “Satu jenis tanaman tidak bisa digeneralisasi hasil panennya, apalagi dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam. Dibutuhkan strategi dan teknologi untuk menyiasati tantangan ini,” jelas narasumber dari BISI. Pak Agus menyampaikan bahwa salah satu solusi yang bisa dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi Control Atmosphere Storage (CAS) untuk menyimpan produk pertanian di luar musim panen, sehingga dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan. Selain itu, BISI juga memperkenalkan metode Tabela (tanam benih langsung) berbasis penggunaan drone sebagai bagian dari pengembangan sistem pertanian terpadu. “Kami tidak hanya menawarkan benih, tetapi juga sistem dan teknologi yang mendukung seluruh rantai produksi pertanian,” tegasnya. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah Editor: Tantriani

Selengkapnya

MBA SA Care 7.0: Kolaborasi Mahasiswa MBA FEB UGM untuk Menguatkan Kepedulian Sosial

Mahasiswa Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melaksanakan kegiatan sosial MBA SA Care Collaboration Charity 7.0 pada Sabtu, 15 November 2025, di Rumah Pengasuhan Anak Terlantar Wiloso, Jetis, Yogyakarta. Kegiatan bertema “CFC: Collab for Care, Melangkah Bersama untuk Sesama” ini merupakan bentuk kolaborasi antara MBA SA 19.0, KMK, dan FORKIS yang berupaya menghadirkan nilai solidaritas, kepedulian, dan toleransi di lingkungan mahasiswa. MBA SA Care 7.0 bertujuan menumbuhkan kepedulian sosial, memperkuat empati, dan mendorong semangat berbagi sebagai bagian dari pembelajaran karakter kepemimpinan. “Saya sangat senang karena kegiatan ini tidak hanya berfokus pada agenda akademik, tetapi juga memberi ruang untuk berbagi dengan teman-teman yang membutuhkan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menghadirkan lebih banyak kebaikan,” ujar Andreas, selaku Ketua KMK sekaligus panitia kegiatan. Sebagai wujud kepedulian, mahasiswa menyerahkan bantuan sembako dan donasi kepada anak-anak panti. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak pengurus panti. “Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan kepedulian mahasiswa. Kegiatan ini membawa manfaat positif bagi lembaga dan anak-anak di sini. Semoga empati dan kebaikan ini terus berlanjut,” ungkap Anissusilohadi, S.P, selaku Kepala Sub Bagian DUUPT Rumah Pengasuhan Anak Wilosoprojo. Sementara itu, salah satu peserta sekaligus anak panti, Kristia Arsi (16 tahun) juga menyampaikan kesan positifnya. “Acara ini sangat menyenangkan dan panitianya kompak. Semoga ke depan kegiatan seperti ini terus ada dan semakin baik dalam memberikan pengalaman bagi anak-anak panti,” tuturnya. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pengembangan kepemimpinan mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui proses akademik, tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat. Melalui MBA SA Care 7.0, mahasiswa diharapkan terus termotivasi menguatkan nilai kemanusiaan, rasa saling peduli, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial. Reporter: Daniswara Rafi R Editor: Ayu Aprilia

Selengkapnya

Bupati Purworejo Resmikan Sumur Bor Bantuan SPs UGM

[metaslider id="1520314"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan mendukung terwujudnya kampus yang berdampak bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat berupa penyelidikan sumber air dan pembangunan enam sumur bor untuk irigasi serta kebutuhan air bersih di Kabupaten Purworejo. Adapun enam sumur bor tersebut tersebar di Desa Girimulyo (Kecamatan Kemiri), Desa Mendiro (Kecamatan Ngombol), Desa Purwodadi (Kecamatan Purwodadi), serta Desa Bagelen (Kecamatan Bagelen). Dalam sambutannya, Bupati Purworejo menyampaikan apresiasi atas kontribusi SPs UGM. Menurutnya, program ini sangat membantu pemerintah daerah dalam penyediaan sumber daya air bersih sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Program ini bukan hanya menyediakan air, tetapi juga mendukung peningkatan hasil pertanian seperti padi dan cabai, sehingga berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan. Kami titipkan agar sumur bor ini dirawat dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya saat meresmikan ke-6 sumur bor di Balai Desa Purwodadi, Jumat (31/10). Sementara itu, Dekan SPs UGM menyampaikan bahwa program ini memiliki nilai khusus karena melibatkan berbagai pihak. “Program ini sangat unik karena merupakan kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah daerah, hingga mitra luar negeri. Namun, kolaborasi ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, yaitu bagaimana memastikan penggunaan air secara bijaksana dan menjaga keberlanjutan program,” ungkapnya. Ia berharap sinergi ini dapat terus berjalan pada tahun-tahun mendatang. Program ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat SPs UGM yang dipimpin oleh Dr. Sudaryatno dan telah berjalan sejak tahun 2022. Dalam perjalanannya, program ini berhasil menggandeng berbagai mitra strategis seperti Pemerintah Jepang, PDAM Purworejo, PP KAGAMA, Alumni Muda Ganesha (SMAN 1 Purworejo), dan Alumni SMP 8 Purworejo. Kolaborasi lintas lembaga ini didedikasikan untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan akses air bersih yang lebih baik. (Suronokarti)