BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Achmad Munjid, Ph.D. Raih Hibah Perjalanan Internasional untuk Penelitian Humaniora

Dalam sebuah perkembangan signifikan bagi keberagaman budaya dan pendidikan, Achmad Munjid, Ph.D., telah dianugerahi dana hibah perjalanan (travel grant) untuk melakukan penelitian tentang diaspora Indonesia di Amerika Serikat. Hibah sebesar $2.000 tersebut akan mendukung proyeknya yang berjudul “A Shade for Shadow Citizens: Religious Communities, Belonging, and Immigrant Resilience among the Indonesian Diaspora in the United States under the Trump Era” (Naungan bagi Warga Bayangan: Komunitas Keagamaan, Rasa Memiliki, dan Ketahanan Imigran di antara Diaspora Indonesia di Amerika Serikat pada Era Trump). Penelitian ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 13 hingga 31 Agustus 2026. Proyek ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman para imigran Indonesia, dengan fokus khusus pada komunitas keagamaan mereka dan rasa memiliki (sense of belonging) yang mereka tumbuhkan di negeri asing. Penelitian ini sangat relevan dalam konteks pemerintahan Trump, yang ditandai oleh perubahan kebijakan imigrasi yang signifikan dan peningkatan pengawasan terhadap komunitas imigran. Dengan meneliti dinamika ini, Dr. Munjid berharap dapat memberikan pencerahan mengenai ketahanan komunitas-komunitas ini di tengah berbagai tantangan. Karya Dr. Munjid sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya dalam mempromosikan keberagaman budaya dan membina kemitraan global. Dengan memahami pengalaman imigran Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada dialog yang lebih luas tentang pentingnya inklusivitas dan penerimaan di negara-negara berkembang dan sekitarnya. Temuan dari penelitian ini dapat menjadi sumber daya yang berharga bagi para pembuat kebijakan maupun pendidik. Dana hibah perjalanan ini akan memungkinkan Dr. Munjid untuk terlibat langsung dengan diaspora Indonesia, melakukan wawancara, dan mengumpulkan data kualitatif yang akan memperkaya penelitiannya. Pendekatan langsung ini sangat penting untuk memahami pengalaman kompleks dari individu-individu yang sering kali berada di "bayang-bayang" masyarakat. Wawasan yang diperoleh tidak hanya akan bermanfaat bagi wacana akademik, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan sistem dukungan komunitas. Selain implikasi akademis, penelitian Dr. Munjid menegaskan pentingnya pendidikan dalam memupuk pemahaman dan empati di antara kelompok budaya yang beragam. Dengan menyoroti kisah-kisah imigran Indonesia, beliau bertujuan untuk mengedukasi audiens yang lebih luas tentang tantangan yang mereka hadapi dan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat Amerika. Hal ini sejalan dengan penekanan SDGs pada pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang. Dukungan dari hibah perjalanan ini mencerminkan peningkatan pengakuan akan perlunya kemitraan global dalam mengatasi kompleksitas migrasi dan integrasi budaya. Seiring negara-negara berkembang terus bergelut dengan dampak globalisasi, penelitian seperti yang dilakukan oleh Dr. Munjid sangat krusial dalam menginformasikan kebijakan yang mempromosikan kohesi sosial dan pemahaman lintas budaya. Selain itu, proyek ini juga akan mengeksplorasi peran komunitas keagamaan dalam memberikan dukungan dan memupuk ketahanan di antara para imigran. Komunitas-komunitas ini sering kali berfungsi sebagai jaringan vital yang membantu individu menghadapi tantangan hidup di negara baru. Dengan memeriksa dinamika ini, Dr. Munjid berharap dapat menyoroti dampak positif dari organisasi berbasis keagamaan dalam mempromosikan integrasi sosial. Di tengah dunia yang semakin terhubung, pentingnya memahami keberagaman budaya tidak dapat dikesampingkan. Penelitian Dr. Munjid akan berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana komunitas imigran beradaptasi dan berkembang di lingkungan baru mereka. Hal ini menjadi sangat penting dalam konteks meningkatnya nasionalisme dan sentimen anti-imigran di berbagai belahan dunia. Sebagai kesimpulan, hibah perjalanan yang dianugerahkan kepada Achmad Munjid, Ph.D., mewakili langkah signifikan menuju kemajuan penelitian tentang diaspora Indonesia di Amerika Serikat. Proyeknya berjanji untuk memberikan wawasan berharga tentang pengalaman komunitas imigran, dengan menekankan pentingnya keberagaman budaya, pendidikan, dan kemitraan global dalam membina masyarakat yang lebih inklusif.

Lanjut Baca

Penyaluran Dana Bantuan dari Masjid Jogokariyan Untuk 18 Mahasiswa FIB UGM yang Terdampak Bencana Banjir Sumatera

Yogyakarta, 8 Januari 2025 - Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Masjid Jogokariyan untuk penyerahan donasi kepada 18 mahasiswa FIB UGM asal Sumatera yang terdampak bencana banjir. Penyerahan bantuan ini menjadi wujud kepedulian dan solidaritas berbagai elemen masyarakat terhadap mahasiswa yang terdampak langsung bencana alam. Kegiatan ini dihadiri oleh empat perwakilan mahasiswa terdampak bencana dari Sumatra, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof. Dr. Setiadi, M.Si., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, Dr. Mimi Savitri, M.A., Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., Paksi Raras Alit selaku Ketua Kagama FIB, Alit Jevi Prabangkoro selaku  perwakilan seniman penggalangan dana Jogja Hanyengkuyung Sumatra, Muhammad Rizqi Rahim dan rekan-rekan, serta perwakilan dari Masjid Jogokariyan. Paksi Raras Alit menyampaikan bahwa pada Selasa, 23 Desember 2025, telah dilaksanakan kegiatan Jogja Hanyengkuyung Sumatra sebagai bentuk solidaritas para musisi, penggiat event, relawan, dan masyarakat Yogyakarta untuk membantu saudara-saudara di Sumatra yang terdampak bencana banjir. Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kagama dan Kagama Care untuk pembangunan fasilitas MCK di wilayah terdampak, yang saat ini telah mulai berjalan. Penggalangan donasi tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Masjid Jogokariyan yang dikenal memiliki sistem pengelolaan dana yang transparan dan terpercaya, sehingga diharapkan bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran. Perwakilan relawan menyampaikan bahwa kehadiran mereka di FIB UGM juga menjadi momentum silaturahmi dan diharapkan dapat menjadi awal dari kerja sama lanjutan dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Sementara itu, perwakilan pengurus Masjid Jogokariyan menjelaskan bahwa pihaknya menerima amanah dari panitia Jogja Hanyengkuyung Sumatra serta rekomendasi dari Kagama FIB untuk menyalurkan bantuan kepada mahasiswa FIB UGM yang terdampak bencana di Sumatra. Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., menyampaikan bahwa FIB UGM sangat terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi, khususnya yang berkaitan dengan pendampingan masyarakat dan kegiatan pengabdian. Ia juga menegaskan dukungannya terhadap sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat dalam menjawab kebutuhan bersama. Donasi yang disalurkan oleh Masjid Jogokariyan kepada mahasiswa FIB UGM terdampak bencana Sumatra sebesar Rp3.000.000 per mahasiswa. Penyaluran donasi diberikan setiap bulan sekali, bantuan disalurkan melalui Fakultas Ilmu Budaya UGM Kegiatan penyaluran donasi ini tidak hanya bertujuan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa terdampak bencana, tetapi juga menjadi upaya menjaga keberlanjutan pendidikan serta memperkuat semangat gotong royong dan kemitraan lintas komunitas. Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas keagamaan, seniman, relawan, dan alumni, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya dalam pengentasan dampak sosial pascabencana, pemenuhan akses pendidikan yang inklusif, serta penguatan kemitraan untuk pembangunan yang berkelanjutan. [Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

Selengkapnya

Participation of Women in Renewable Energy [POWERE]: Keterlibatan Antropologi Mengawal Energi Terbarukan dari Pesisir Negeri

Laboratorium Antropologi untuk Riset dan Aksi (LAURA) menjadi perwakilan UGM yang terlibat dalam proyek Participation of Women in Renewable Energy (POWERE). Proyek ini memperoleh hibah dari UKRI Ayrton Challenge, melibatkan beberapa universitas seperti University of Sussex, Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Proyek POWERE menyoroti isu ketidakmerataan akses dan dampak perubahan iklim di kawasan pulau dan pesisir. Menawarkan inovasi melalui pendayagunaan FPV (floating photovoltaic) atau panel surya apung sebagai alternatif energi terbarukan turut menaruh perhatian pada aspek gender, dan ekonomi masyarakat pesisir-luar jaringan (off-grid). Proyek POWERE ini tak hanya berfokus pada penciptaan infrastuktur fisik, namun juga infrastruktur sosial yang ditempuh melalui penguatan inklusivitas gender dalam ekonomi rumput laut di kawasan pesisir dan kepulauan di Sulawesi Selatan. Tim POWERE dipimpin oleh Prof. Raminder Kaur (US), Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi (UGM), Dr. Mia Siscawati (UI), Dr. Bradley Parrish (US), Prof. Peter Newell (US) menjadi proyek kolaborasi multidisiplin yang ‘utuh’ dalam topik energi terbarukan.  Sejak pertengahan tahun ini, tim POWERE melakukan kajian awal menyasar beberapa lokasi seperti Rannu, Katingting, Biawasa dan mempresentasikannya di World Conference on Governance and Social Sciences Universitas Hasanuddin pada 11-12 November 2025 lalu. Beragam topik dari kajian awal didiskusikan diantaranya desain infrastruktur berbasis komunitas, sensory ethnography, telaah hubungan gender-perubahan iklim-resiliensi perempuan dari perspektif feminis, energi terbarukan-infrastruktur sosial, dan tantangan adaptasi iklim bagi perempuan petani rumput laut. Keluasan topik yang muncul dari solar energy dan konsekuensi sosial yang mulai disadari menjadi tantangan kedepan dari proyek POWERE. Disamping Project Lead, proyek ini turut melibatkan peneliti post-doc seperti Dr. Diah Irawaty, Dr. Runavia Mulyasari, Dr. Chu Chun Yu, Dr. Agung Iswadi dan Monika Swastyastu, M.A. dalam riset lanjutan selama proyek ini berlangsung. Proyek POWERE mendapat dukungan berbagai lembaga non-pemerintah maupun pemerintah seperti CARE Indonesia, Aquatera, Development Finance International, Auroville Consulting dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sebagai mitra finansial maupun pembuat kebijakan. Memijaki tahapan awal dari tiga tahun program kerja, tim POWERE telah menerbitkan Newsletter dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dapat diakses melalui laman University of Sussex serta Departemen Antropologi. Untuk mendapat perkembangan terbaru akan proyek POWERE, pembaca bisa mengikuti akun instagram resmi @powere.women yang secara berkala membagikan foto dan video kegiatan selama proyek berlangsung.  Penulis: Okky Chandra Baskoro