BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Social Entrepreneurship: Membangun Kemandirian melalui Kewirausahaan Sosial

YOGYAKARTA – Alumni Sastra Arab Universitas Gadjah Mada, Ahmad Fauzi Qosim, S.S., M.A., mengisi perkuliahan Kewirausahaan bertema “Peluang Kewirausahaan Sosial” yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada. Dalam perkuliahan tersebut, ia memaparkan bahwa kewirausahaan pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan ekonomi untuk mengejar keuntungan finansial semata, melainkan sebuah jalan strategi untuk membangun masyarakat yang mandiri, berdaya, dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan sosial-ekonomi secara berkelanjutan. Menurutnya, makna kata wira secara filosofis mengandung arti kemandirian, yang seharusnya menjadi pijakan utama bagi setiap pelaku usaha agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada skema bantuan pemerintah. Untuk mengimplementasikan filosofi tersebut, Ahmad Fauzi memperkenalkan konsep PROPHETIC – Socio-Technopreneurship , yakni sebuah model kewirausahaan yang memadukan dunia usaha dan kesejahteraan sosial berbasis pemanfaatan teknologi modern dengan tetap meneladani nilai-nilai serta sistem bisnis yang pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Melalui pendekatan ini, aktivitas bisnis tidak lagi terfokus pada keuntungan pribadi atau keuntungan duniawi semata, melainkan juga diarahkan untuk memiliki nilai ibadah, keberkahan, serta memberikan dampak sosial positif yang nyata bagi lingkungan sekitar. Gagasan ini sendiri sebenarnya berawal dari keresahan pribadi Ahmad Fauzi selesai menyelesaikan studi perguruan tinggi, di mana kecemasan pasca studi kini kian nyata dirasakan oleh banyak mahasiswa mengingat data menunjukkan terdapat kurang lebih 500.000 lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang belum terserap lapangan kerja dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tantangan ketersediaan lapangan kerja tersebut menjadi semakin kompleks ketika diperhadapkan pada laju pertumbuhan populasi dunia dan pergeseran struktur demografi yang masif. Mengutip laporan UN World Population Prospects , memuat jumlah penduduk bumi turut memicu krisis multidimensi di berbagai sektor, mulai dari pembatasan pangan, krisis energi, krisis layanan kesehatan, krisis permukiman, hingga akses pendidikan dan lapangan kerja. Di Indonesia sendiri, kondisi ini semakin diperparah oleh fenomena urbanisasi yang tergolong tinggi, dimana data statistik menunjukkan perubahan proporsi penduduk perkotaan yang semula hanya 20% pada tahun 1980 melonjak drastis menjadi 53% pada tahun 2010, sementara populasi populasi menurun dari 80% menjadi 47%. Pergeseran demografi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap timbulnya berbagai krisis sosial dan ekonomi di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Dampak dari permasalahan ekonomi warga ini bahkan merambah hingga ke pelosok daerah, yang tercermin dari maraknya kebiasaan destruktif seperti praktik judi online dan pinjaman online (pinjol) ilegal. Fenomena maraknya tersebut mengindikasikan bahwa permasalahan ekonomi masyarakat tidak hanya dipicu oleh minimnya pendapatan harian, namun juga berkaitan erat dengan rendahnya literasi keuangan serta ketidakmampuan dalam mengelola kebutuhan dan mengambil keputusan finansial secara bijak. Oleh karena itu, hadirnya bisnis sosial ( social enterprise ) yang dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan hadir sebagai strategi solusi untuk memberdayakan masyarakat melalui optimalisasi berbagai instrumen pendanaan seperti dana hibah, dana wakaf, maupun hasil usaha mandiri, sehingga mampu mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat jangka panjang dan tidak hanya menyelesaikan masalah secara instan. Penulis : Ahmad Ghifari 

Lanjut Baca

Participation of Women in Renewable Energy [POWERE]: Keterlibatan Antropologi Mengawal Energi Terbarukan dari Pesisir Negeri

Laboratorium Antropologi untuk Riset dan Aksi (LAURA) menjadi perwakilan UGM yang terlibat dalam proyek Participation of Women in Renewable Energy (POWERE). Proyek ini memperoleh hibah dari UKRI Ayrton Challenge, melibatkan beberapa universitas seperti University of Sussex, Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Proyek POWERE menyoroti isu ketidakmerataan akses dan dampak perubahan iklim di kawasan pulau dan pesisir. Menawarkan inovasi melalui pendayagunaan FPV (floating photovoltaic) atau panel surya apung sebagai alternatif energi terbarukan turut menaruh perhatian pada aspek gender, dan ekonomi masyarakat pesisir-luar jaringan (off-grid). Proyek POWERE ini tak hanya berfokus pada penciptaan infrastuktur fisik, namun juga infrastruktur sosial yang ditempuh melalui penguatan inklusivitas gender dalam ekonomi rumput laut di kawasan pesisir dan kepulauan di Sulawesi Selatan. Tim POWERE dipimpin oleh Prof. Raminder Kaur (US), Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi (UGM), Dr. Mia Siscawati (UI), Dr. Bradley Parrish (US), Prof. Peter Newell (US) menjadi proyek kolaborasi multidisiplin yang ‘utuh’ dalam topik energi terbarukan.  Sejak pertengahan tahun ini, tim POWERE melakukan kajian awal menyasar beberapa lokasi seperti Rannu, Katingting, Biawasa dan mempresentasikannya di World Conference on Governance and Social Sciences Universitas Hasanuddin pada 11-12 November 2025 lalu. Beragam topik dari kajian awal didiskusikan diantaranya desain infrastruktur berbasis komunitas, sensory ethnography, telaah hubungan gender-perubahan iklim-resiliensi perempuan dari perspektif feminis, energi terbarukan-infrastruktur sosial, dan tantangan adaptasi iklim bagi perempuan petani rumput laut. Keluasan topik yang muncul dari solar energy dan konsekuensi sosial yang mulai disadari menjadi tantangan kedepan dari proyek POWERE. Disamping Project Lead, proyek ini turut melibatkan peneliti post-doc seperti Dr. Diah Irawaty, Dr. Runavia Mulyasari, Dr. Chu Chun Yu, Dr. Agung Iswadi dan Monika Swastyastu, M.A. dalam riset lanjutan selama proyek ini berlangsung. Proyek POWERE mendapat dukungan berbagai lembaga non-pemerintah maupun pemerintah seperti CARE Indonesia, Aquatera, Development Finance International, Auroville Consulting dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sebagai mitra finansial maupun pembuat kebijakan. Memijaki tahapan awal dari tiga tahun program kerja, tim POWERE telah menerbitkan Newsletter dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dapat diakses melalui laman University of Sussex serta Departemen Antropologi. Untuk mendapat perkembangan terbaru akan proyek POWERE, pembaca bisa mengikuti akun instagram resmi @powere.women yang secara berkala membagikan foto dan video kegiatan selama proyek berlangsung.  Penulis: Okky Chandra Baskoro

Selengkapnya

Bakti Sosial Fakultas Peternakan UGM: Edukasi dan Donasi untuk Santri dan Siswa Taman Siswa

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unsur Pelaksana Fakultas Peternakan kembali melaksanakan kegiatan Bakti Sosial  dalam rangka Dies Natalis ke-56 Fapet di Pondok Pesantren Ki Hajar Dewantara, kawasan Sekolah Taman Siswa, Ngempak, Sleman, Rabu (12/11). Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sivitas akademika terhadap masyarakat pendidikan, khususnya dalam mendukung pembelajaran dan kemandirian generasi muda di bidang pertanian dan peternakan. Pondok Pesantren Ki Hajar Dewantara berdiri di atas lahan milik Sekolah Taman Siswa dan menampung sekitar 40 santri serta 30 siswa SMP–SMA Taman Siswa, dibimbing oleh 12 guru dan 5 pengurus pondok. Sekolah ini memberikan pendidikan gratis bagi siswa yang kurang mampu dan berupaya menumbuhkan jiwa mandiri melalui kegiatan pertanian dan peternakan. Dalam kegiatan bakti sosial tahun ini, sebanyak satu paket donasi uang tunai dari para donatur disalurkan, disertai bingkisan dari sponsor yang berisi ayam segar dari PT Ciomas Adisatwa, telur konsumsi dari PT Japfa Comfeed Tbk, tepung bumbu serbaguna dari PT Mulia Inti Pangan, susu pasteurisasi dan telur cage-free dari Pusat Pengembangan Ternak Fapet UGM, serta produk susu dan makanan ringan dari Savoria Group. “Ada donasi uang tunai dan sekitar 160 paket bingkisan kita salurkan,”papar perwakilan DWP Fapet UGM, Sri Hastuti, S.Pt., M.P. Seluruh donasi dan bingkisan disalurkan kepada santri pondok pesantren, siswa SMP–SMA Taman Siswa, para guru, dan pengurus pondok pesantren. Selain kegiatan penyerahan donasi, acara juga diisi dengan penyuluhan dan pelatihan praktis di bidang peternakan unggas. Materi disampaikan oleh Dr. Heru Sasongko dengan topik Pengenalan Penetasan Telur Ayam, dan Fauzan Rifqi Giska Putra, S.Pt. dengan topik Pembuatan Pakan Ayam Sederhana. Sebagai tambahan, tim Asisten Laboratorium Ilmu Ternak Unggas Fapet UGM turut berpartisipasi dengan mengenalkan mesin tetas manual kepada para santri dan siswa. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar langsung mengenai proses penetasan telur secara sederhana dan aplikatif. Melalui kegiatan ini, Fapet UGM berharap dapat memberikan edukasi, inspirasi, dan dukungan nyata bagi generasi muda agar lebih mengenal serta tertarik terhadap sektor pertanian dan peternakan sebagai bidang yang penting dan berpotensi menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan. Dharma Wanita Persatuan Fapet UGM juga berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi antara dunia akademik, industri, dan masyarakat, serta menumbuhkan semangat kepedulian sosial di lingkungan kampus.   Sumber: Rima Amalia Editor: Satria Foto: Tim Media Center Fapet