BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

Upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi anak tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Pencegahan sejak usia dini justru menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Gadjah Mada bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar kegiatan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut bagi 71 siswa TK Rumahku Tumbuh, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 26/05/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk membangun kesadaran menjaga kesehatan gigi sejak usia emas pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas staf RSGM UGM, dosen Departemen IKGA FKG UGM, dokter gigi residen, hingga mahasiswa koas. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan di lapangan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan calon dokter gigi yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Setelah itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengidentifikasi kondisi rongga mulut masing-masing. Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi bahan informasi bagi orang tua dan guru sehingga potensi gangguan kesehatan gigi dapat dikenali lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. Secara analitis, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit gigi pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku hidup sehat sejak dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan gigi pada anak maupun orang tua masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Oleh karena itu, sekolah menjadi ruang intervensi yang efektif karena mampu menjangkau anak pada fase pembentukan kebiasaan. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti yang dilakukan RSGM UGM dan Departemen IKGA FKG UGM memperlihatkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, melainkan juga sebagai pusat edukasi masyarakat yang aktif membangun budaya hidup sehat. Ketua tim kegiatan dari Departemen IKGA FKG UGM menyampaikan bahwa pemeriksaan gigi pada anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui identifikasi penyakit. Masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan perilaku hidup sehat. Melalui pemeriksaan dan edukasi yang dilakukan dengan pendekatan ramah anak, kami berharap mereka tidak hanya mengenal dokter gigi sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai sahabat yang membantu menjaga kesehatan. Pengalaman positif seperti ini akan membangun keberanian anak untuk rutin memeriksakan gigi hingga dewasa. Keterlibatan guru dan orang tua merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program promotif. Edukasi kesehatan gigi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Orang tua dan guru memiliki peran penting untuk melanjutkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, mengontrol konsumsi makanan manis, serta memastikan anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat didampingi para guru dan tim pelaksana. Suasana yang komunikatif dan menyenangkan membantu mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan gigi, yang selama ini masih menjadi hambatan bagi banyak anak dalam mengakses layanan kesehatan gigi. Dari perspektif pendidikan kedokteran gigi, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi dan dokter gigi residen. Mereka memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memahami bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari tindakan kuratif, tetapi juga dari kemampuan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak satuan pendidikan. Tantangan kesehatan gigi anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan klinis, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan tumbuh dengan kesehatan gigi dan mulut yang optimal sebagai fondasi kualitas hidup yang lebih baik. (Kontributor: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono)

Lanjut Baca

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

Menerjang ‘Ombak’ Ketimpangan Pelayanan Kesehatan di Bumi Sumekar

Di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep yang meliputi ratusan kepulauan kecil, terdapat paradoks layanan kesehatan, terlebih pelayanan kesehatan gigi. Secara administratif bagian dari Propinsi Jawa Timur, namun secara realitas geografis dan akses layanan, menyerupai wilayah terpencil wilayah Indonesia timur. Dengan 126 pulau yang sebagian besarberpenghuni dan tersebar berjauhan, tantangan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumenep bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga tentang tekad & keberanian menembus deburan ombak menuju layanan kesehatan masyarakat yang memadai. Bentang Alam Menguji Integritas Bangsa Perjalanan menuju salah satu wilayah terluar seperti Masalembu bisa memakan waktu hingga 18 jam perjalanan laut. Bahkan dari pusat kabupaten ke rumah sakit di Pulau Kangayan, masih dibutuhkan waktu tambahan berjam-jam, baik melalui laut maupun udara yang terbatas frekuensinya.  Kondisi ini menciptakan realitas keras, akses terhadap layanan kesehatan bukan hanya soal biaya, tetapi soal jarak, cuaca, dan ketersediaan transportasi. Rabu, 1 April 2026 FKG UGM menerima kunjungan kemitraan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep yang diawaki oleh: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep drg. Ellya Fardasah, M.Kes. Moh Nur Insan, S.Kep., M.Kes (Kepala Bidang-Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) Deddi Wahyono, S.Kep.Ners (Analisis Penanggulangan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep),  Syarifa Ainun, S.K.M. (Pengelola Program dan Kegiatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) drg. Azmi Fauzan Nurwansyah (Dokter Gigi Puskesmas Pasongsongan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) diterima oleh Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Pengabdian Masyarakat, & Riset, drg. Triana Wahyu Utami, MDSc, Ph.D) Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes. Wakil Dekan Bidang SDM, Keuangan, Aset. IT drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, Kepala Unit Kerja Sama FKG UGM drg. Raras Ajeng Enggardipta, Sp.KG, PhD. Kepala Departemen Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.B.M.M., Subsp. C.O.M.(K). Kaprodi Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) beserta staf FKG UGM berlangsung dengan penuh antusias terkait ketimpangan kondisi khususnya pelayanan kesehatan gigi yang masih jauh dari harapan. Dalam situasi darurat, keterlambatan rujukan bukan pengecualian, melainkan risiko sistemik. Ketika gelombang tinggi menghambat kapal, bahkan suplai oksigen pun terancam terhenti, sebuah ironi di tengah komitmen Universal Health Coverage (UHC) yang telah dicanangkan pemerintah daerah. Krisis yang Lebih Dalam: Kelangkaan Dokter Spesialis Masalah utama bukan hanya infrastruktur, tetapi kekurangan akut tenaga medis spesialis, khususnya di bidang kedokteran gigi spesialistik seperti bedah mulut. Rumah Sakit Abuya yang melayani sekitar 100 ribu penduduk kepulauan tidak terdapat satu pun dokter gigi spesialis. Bahkan di wilayah daratan Sumenep, jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya, pasien dengan kasus kompleks harus dirujuk ke kota lain seperti Surabaya sebuah proses yang mahal, lama, dan berisiko tinggi. Padahal, secara kebijakan, layanan sudah “gratis” melalui BPJS. Namun dalam praktiknya, ketiadaan tenaga spesialis membuat jaminan kesehatan kehilangan makna substansinya. Ketika Regulasi Tidak Membaca Realitas Ironi semakin dalam ketika kebijakan pusat tidak sepenuhnya sinkron dengan kondisi daerah. Sumenep, meski memiliki karakteristik kepulauan ekstrem, tidak dikategorikan sebagai daerah terpencil secara administratif, sehingga tidak memenuhi syarat penempatan residen dokter. Akibatnya, skema distribusi tenaga medis berbasis pendidikan yang seharusnya menjadi solusi tidak dapat dimanfaatkan. Ini menunjukkan satu hal krusial: standar nasional sering kali gagal menangkap kompleksitas lokal, sehingga kebijakan menjadi kaku dan tidak adaptif. Strategi Bertahan: Dari Beasiswa hingga “Kontrak Moral” Menghadapi kebuntuan struktural, pemerintah daerah memilih jalur alternatif: Mengirim dokter untuk sekolah spesialis melalui beasiswa. Memberikan insentif tinggi (hingga puluhan juta rupiah) bagi tenaga medis yang bersedia bertugas di kepulauan. Merancang skema pendidikan bagi putra daerah dengan harapan mereka akan kembali mengabdi. Namun strategi ini tidak tanpa risiko. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua dokter yang disekolahkan kembali ke daerah asal, meskipun telah menandatangani komitmen. Fenomena ini membuka dilema etis sekaligus struktural:Apakah cukup dengan kontrak formal untuk menjamin distribusi tenaga kesehatan?Ataukah diperlukan pendekatan yang lebih sistemik—mengikat secara sosial, ekonomi, dan profesional? Meretas Harapan Sinergitas Kampus dan Pemerintah Daerah Kerja sama dengan institusi pendidikan seperti UGM menjadi titik terang. Tidak hanya dalam bentuk pendidikan dokter spesialis, tetapi juga potensi: Pengiriman tenaga medis berbasis supervisi, program pengabdian Masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan model kolaborasi resiprokal di mana daerah tidak hanya menjadi “objek”, tetapi juga mitra aktif dalam sistem pendidikan kesehatan. Dimensi Sosial: Ketika Sakit adalah Urusan Kolektif Di tengah segala keterbatasan, masyarakat Sumenep memiliki kekuatan sosial yang unik. Dalam budaya lokal, ketika satu orang sakit, seluruh komunitas ikut terlibat, sebuah solidaritas yang menjadi penyangga di tengah lemahnya sistem formal. Namun solidaritas sosial tidak bisa menggantikan peran negara. Negara Harus Hadir Secara Nyata Kasus Sumenep mengungkap problem klasik pembangunan Indonesia, ketimpangan bukan hanya antar wilayah, tetapi juga antara kebijakan dan kenyataan. Beberapa poin kritis yang perlu dicermati: Reklasifikasi daerah terpencil harus berbasis realitas geografis, bukan administratif semata. Distribusi tenaga kesehatan perlu pendekatan insentif + kewajiban yang lebih kuat dan terukur . Desentralisasi kebijakan kesehatan harus memberi ruang adaptasi bagi daerah kepulauan . Investasi jangka panjang pada SDM lokal menjadi solusi paling berkelanjutan. Apakah keadilan kesehatan di Indonesia benar-benar merata? Sumenep bukan sekadar cerita tentang daerah pinggiran, hal ini adalah cermin dari pertanyaan besar. Di tengah gelombang laut dan keterbatasan akses, perjuangan tenaga kesehatan dan pemerintah daerah menjadi bukti bahwa harapan tetap ada. Namun tanpa reformasi kebijakan yang lebih adaptif dan berpihak, perjuangan itu akan terus berjalan di tempat. Dan bagi masyarakat di pulau-pulau kecil itu, waktu bukan sekadar angkamelainkan penentu antara hidup dan kehilangan. (Reporter & Fotografi: Andri Wicaksono)

Selengkapnya

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menandai Dies Natalis ke-78 dengan langkah yang melampaui seremoni akademik. Pada perayaan tahun ini, FKG UGM meluncurkan sistem panen air hujan yang diolah menjadi air layak konsumsi, sebuah inovasi yang menggabungkan sains kesehatan, teknologi lingkungan, dan komitmen keberlanjutan kampus. Peresmian dilakukan dalam rangkaian pembukaan Dies Natalis yang dihadiri Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia (SDM)FKG UGM  drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D, sivitas akademika FKG UGM, mitra industri, serta perwakilan fakultas kluster kesehatan UGM. Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM menegaskan bahwa usia 78 tahun bukan sekadar penanda historis, melainkan momentum refleksi atas peran fakultas dalam menjawab tantangan masa depan, khususnya krisis lingkungan dan efisiensi sumber daya air. DARI PENGELOLAAN SAMPAH KE PANEN AIR HUJAN FKG UGM sebelumnya dikenal sebagai salah satu fakultas yang konsisten mengelola sampah berbasis pemilahan dan daur ulang. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas tidak hanya dipisahkan, tetapi juga dimanfaatkan untuk program donasi dan pengelolaan berkelanjutan. Tahun ini, pendekatan tersebut dikembangkan lebih jauh melalui pengelolaan air hujan. Air yang ditampung tidak langsung digunakan, melainkan melalui serangkaian proses teknologi: filtrasi, pengendapan, sterilisasi ultraviolet (UV), hingga reverse osmosis (RO). Hasil akhirnya adalah air dengan tingkat kemurnian tinggi yang aman untuk dikonsumsi serta berpotensi digunakan dalam kebutuhan klinik kedokteran gigi “Inovasi ini bukan sekadar memanen hujan lalu diminum. Ada tahapan ilmiah yang ketat agar air benar-benar steril dan aman,”, papar Dekan FKG UGM. “Keberadaan inovasi pemberdayaan air hujan ini, sebagai penanda komitmen terhadap inovasi serta keberlanjutan, hari ini juga kita kuatkan dengan agenda Peresmian Air Minum RO (Reverse Osmosis) dari air tadah hujan FKG UGM, sebagai langkah nyata menghadirkan kampus yang lebih sehat, adaptif, dan ramah lingkungan, ungkap Ketua Panitia Dies Natalis FKG UGM ke 78, Dr, drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.B.M.M., Subsp. T.M.T.M.J.(K), dalam sambutannya. Wakil Rektor UGM & Dekan FKG UGM mengamati instalasi air minum berbasis air hujan RELEVANSI MEDIS: AIR MURNI UNTUK PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI Berbeda dari program lingkungan pada umumnya, sistem panen air hujan FKG UGM dirancang dengan orientasi medis. Air hasil RO memiliki konduktivitas listrik yang sangat rendah karena bebas dari partikel terlarut. Kondisi ini dinilai ideal untuk mendukung penggunaan alat-alat kedokteran gigi seperti bur dan ultrasonic scaler, karena dapat mengurangi risiko rasa ngilu pada pasien serta meningkatkan kenyamanan tindakan klinis Ke depan, fakultas berencana memanfaatkan menara penampungan air di area sekitar musala, Dental Learning Center, serta gedung OECF sebagai bagian dari sistem terpadu panen air hujan. JEJAK KARBON DAN BUDAYA INTROSPEKSI LINGKUNGAN Selain air, Dies Natalis ke-78 juga menjadi titik awal pengembangan penghitungan jejak karbon (carbon footprint) di lingkungan FKG UGM. Melalui indikator ini, setiap aktivitas sivitas akademika—mulai dari penggunaan kendaraan, listrik, hingga kebiasaan merokok akan dipetakan kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan. Pendekatan ini bertujuan membangun budaya introspeksi kolektif. Fakultas berharap kesadaran lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam perubahan perilaku sehari-hari. APRESIASI UGM DAN HARAPAN REPLIKASI KE FAKULTAS LAIN Pimpinan universitas yang hadir menyebut FKG UGM sebagai contoh konkret bahwa inovasi lingkungan dapat lahir dari fakultas kesehatan, bukan hanya dari rumpun teknik atau sains murni. Inisiatif panen air hujan dan penghitungan jejak karbon dinilai berpotensi direplikasi oleh fakultas lain di UGM. “Acara besar tidak selalu identik dengan sampah berserakan. Apa yang dilakukan FKG UGM menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa menjadi bagian dari budaya akademik,” ujar Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D. SIMBOL PERUBAHAN DI USIA 78 TAHUN Perayaan Dies Natalis ditutup dengan simbolisasi minum air hasil olahan hujan oleh pimpinan universitas dan fakultas. Aksi tersebut menegaskan pesan utama perayaan tahun ini: inovasi, keberanian ilmiah, dan tanggung jawab ekologis. Di usia ke-78, FKG UGM tidak hanya merayakan masa lalu sebagai salah satu cikal bakal UGM, tetapi juga menegaskan arah masa depan—menjadi institusi pendidikan kedokteran gigi yang unggul, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan global. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

Dua Dekade Berlalu, Alumni FKG UGM Angkatan 2005 Pulang ke Kampus: Serahkan Donasi Pendidikan & Tanam Pohon

Yogyakarta, 29 November 2025— Setelah 20 tahun menempuh jalan masing‑masing, Alumni Fakultas Kedokteran Gigi UGM Angkatan 2005 akhirnya kembali berkumpul di kampus tempat mereka dulu tumbuh bersama. Suasana haru, tawa, dan nostalgia terasa kuat sejak para alumni mulai berdatangan pada reuni yang digelar 29–30 November 2025. Yang membuat reuni ini istimewa bukan hanya temu kangen atau cerita masa lalu, tetapi juga niat tulus untuk memberikan sesuatu bagi almamater. Para alumni telah mengumpulkan Donasi Beasiswa Pendidikan sebesar Rp 30.002.005—angka yang unik, sekaligus simbol kebersamaan angkatan 2005. Dana itu berasal dari sumbangan sukarela, baik dari alumni yang hadir maupun yang berada jauh di luar kota dan luar negeri. “Kami ingin generasi berikutnya merasakan dukungan yang mungkin dulu belum kami miliki,”, kata drg. Fimma Naritasari, MDSc salah satu alumni FKG UGM 2005. Tak hanya itu, mereka juga melakukan penanaman pohon mangga di lingkungan FKG UGM. Pemilihan pohon mangga memiliki makna tersendiri: ia tumbuh perlahan, berakar kuat, dan kelak memberikan buah untuk dinikmati bersama — sebuah simbol tentang perjalanan hidup para alumni itu sendiri. Kebahagiaan reuni makin lengkap dengan hadirnya keluarga: pasangan, anak-anak, bahkan balita yang ikut berlarian di sela-sela kegiatan. Total hampir 100 orang memenuhi ruang kampus, menciptakan suasana hangat seperti “pulang ke rumah”. Beberapa alumni kini berprofesi sebagai dosen di FKG UGM sehingga turut mempermudah penyelenggaraan reuni. Ada pula yang datang jauh dari Malaysia demi kembali bertemu teman seangkatan. Semua itu menjadi bukti bahwa jarak dan waktu tak benar-benar memisahkan persahabatan yang telah terjalin sejak 2005. Dalam sambutannya, Ketua POTMAGI Prof. Dr. drg. Siti Sunarintyas, M.Kes menyampaikan apresiasi atas donasi pendidikan yang akan diberikan untuk mahasiswa yang membutuhkan. Harapannya, kontribusi seperti ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Reuni 20 Tahun FKG UGM Angkatan 2005 bukan tentang mengenang kisah lalu semata, tetapi juga turut merawat masa depan—baik bagi para alumni, maupun bagi generasi yang akan melanjutkan jejak mereka. (Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Foto: Arsip  drg. Fimma Naritasari, MDSc)