BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa

Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, jalan aspal berhenti. Berganti jadi jalan tanah berbatu dan berdebu. Rumah-rumah berdiri berjajar dengan wajah yang timpang, ada yang megah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman karena kiriman anak, istri atau suami yang jadi buruh migran di negeri seberang dan ada yang lantai dan dindingnya masih bata ekspos belum diaci. Desa ini pernah punya julukan yang menyakitkan untuk disebut: "kampung idiot," julukan yang lahir dari isolasi geografis yang begitu lama akibat perkawinan sedarah antar penduduk yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan minim akses pendidikan yang meninggalkan luka panjang, berupa keterbelakangan mental pada sebagian anak-anaknya. Di kemudian hari, daerah ini berganti julukan menjadi “kampung TKI”. Banyak warga yang bekerja sebagai buruh di luar negeri. Uang dari luar negeri memang bisa membangun rumah bertingkat, tapi tidak selalu membangun jalan keluar yang berkelanjutan. Dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan milik Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43), dua anak kembar perempuannya bernama Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) lahir. Mereka tumbuh besar dan memilih jalan yang jarang ditempuh sebagian besar masyarakat di desanya, bukan merantau jadi buruh, melainkan memperjuangkan mimpi punya pendidikan tinggi di kampus yang namanya dulu hanya berani mereka ucapkan sambil bercanda. Anak Buruh Serabutan  Meseri, sang ayah, sehari-hari adalah buruh serabutan. Ia seringkali mencari nafkah dengan menawarkan jasa pertanian pada warga sekitar yang sedang menggarap sawah. Selain itu, kalau ada proyek bangunan, ia juga ikut mandor ke kota jadi buruh bangunan. "Yang penting ada pemasukan," katanya, mengulang kalimat yang lebih terdengar seperti doa daripada rencana. Sedangkan Siti, istrinya, adalah ibu rumah tangga yang sesekali ikut ke sawah membantu suami mencari tambahan. Penghasilan mereka tidak pernah tetap, kadang ada, kadang tidak. Saat pasangan buruh itu mendapati buah hatinya lahir kembar, mereka memutuskan cukup memiliki dua anak. Keputusan itu atas kesadaran penuh bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan berharap anak-anaknya dapat memiliki nasib yang lebih baik. Dari keputusan itu lahir sebuah komitmen yang mereka pegang bertahun-tahun sebelum tahu akan berbuah apa. Sejak sebelum masuk TK, kedua anaknya sudah dikenalkan pada buku dan latihan menulis, ditanamkan tekad bahwa sekolah adalah jalan keluar dari nasib mencangkul yang mereka jalani sendiri. "Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga," ujar Siti. Mahmudah dan Rikah selalu satu sekolah sejak sekolah dasar, mereka bersekolah di SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, dan lulus dari SMAN 1 Badegan. Hal ini bukan kebetulan, tapi strategi. "Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain," kata Rikah. Di sekolah mereka adalah murid berprestasi, keduanya adalah partner berkompetisi yang kompak. Dari SD keduanya selalu berada di peringkat tiga besar di kelas, sering berebut posisi ranking satu. Kombinasi kompetensi keduanya berhasil memanen puluhan prestasi. Terhitung 18 prestasi untuk Mahmudah, 14 untuk Rikah, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan sampai juara esai dan poster tingkat nasional. Saat satu menang dan satu belum beruntung, keduanya menganggapnya giliran. "Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan," kata Mahmudah. Mimpi yang Disimpan  Mimpi kuliah di UGM lahir diam-diam, dari dua arah yang tak saling tahu. Bagi Rikah, keinginan kuliah di UGM bermula dari seorang guru kelas 4 SD yang bercerita tentang muridnya yang berhasil kuliah di UGM lewat beasiswa. "Saya kan masih polos, jadi saya simpan sendiri aja. Saya nggak cerita juga ke Mahmudah," kenangnya. Bagi Mahmudah, ketertarikan itu tumbuh dari rasa penasaran begitu ia pertama kali mendengar nama Universitas Gadjah Mada. Setiap kali ada orang bertanya, “Mau kuliah ke mana?” Mahmudah selalu menjawab ke UGM. “Itu saya menjawabnya sambil bercanda,tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan," kenangnya. Baru belakangan mereka sadar bahwa sedang menuju arah yang sama. Namun jalan untuk bisa diterima di UGM tidak mudah bagi keduanya. Keduanya sudah melalui kegagalan berulang kali untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat berbagai jalur. Rikah menghitungnya tujuh kali. "Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka," ungkapnya. Keduanya sempat sama-sama gagal di SNBP, lalu sama-sama diterima di kampus di Malang. Keduanya merasa belum puas, karena itu bukan tujuan sebenarnya yang mereka kejar. Satu kesempatan tersisa yang mereka pilih, jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM)UGM. "Saat itu harapan saya itu tinggal kecil sekali. Saya sudah tidak berani terlalu berharap," kenang Rikah. Ketika pengumuman itu datang, dan keduanya dinyatakan lolos bersama dengan subsidi UKT 100 persen. Keduanya merasa senang dan bannga karena usaha tidak pernah menghianati hasil. "Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil", kata Mahmudah bersyukur. Mengetahui kedua buah hatinya diterima  di terima di Kampus UGM, Meseri merasa bersyukur dikaruniai anak yang berprestasi dan mampu membanggkan keluarga. Namun ia sempat gamang membayangkan anaknya pergi jauh ke Yogyakarta. "Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM," katanya. Mahmudah diterima di D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Volasi. Sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi. Rikah sempat membayangkan jika suatu saat kelak setelah lulus akan membentuk komunitas penyuluhan ternak bagi warga desanya. Meski belum tahu bentuk pastinya, yakin ilmunya kelak juga harus kembali menolong masyarakat sekitar rumah. Di desa yang mayoritas anak mudanya berhenti di SMK, selanjutnya kebanyakan memilih langsung bekerja atau merantau jauh sebagai buruh migran. Dua anak buruh serabutan ini memilih menempuh jalan yang lebih panjang dan lebih sunyi, demi menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang desa terpencil bukan vonis akhir."Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya," ucap Rikah kepada kedua orang tuanya, di hadapan kamera yang merekam pertemuan itu. Di sebuah desa yang selama ini lebih dikenal karena kisah pilunya, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif sedang menulis cerita lain, bahwa dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, mimpi tetap bisa melenting setinggi langit dan merawat harapan dapat pulang membawa terang untuk desa yang membesarkannya. Penulis/Foto : Donnie Tristan Editor : Gusti Grehenson

Lanjut Baca

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Selengkapnya

Cerita Fecia, Anak Buruh Tani Asal Semanu Merajut Mimpi Kuliah di UGM  

Hidup dalam kesederhanaan di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya du Padukuhan Tunggul Barat, Semanu, Gunungkidul, tak membuat Fecia Laura Revani (18) berhenti bermimpi untuk meraih cita-citanya bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Sang Ayah, Subyono (51), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan, ia hanya bisa mengumpulkan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. Sementara sang ibu, Puji (46), sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun demikian, kedua orang tuanya sangat mendukung penuh cita-cita Fecia untuk meraih cita-citanya. Bungsu dari dua bersaudara ini aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya, SMAN 1 Wonosari Gunungkidul. Ia aktif di organisasi Patroli Keamanan Sekolah hingga menjadi vokalis band sekolah yang mengantarkannya langganan juara. Kesibukannya ini cukup membuat Fecia kewalahan dalam mengatur waktu dengan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memprioritaskan kegiatan akademiknya. “Jika di sekolah sedang ada ujian, saya mengutamakan ujian sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, jika ada waktu luang setelah pulang sekolah, saya usahakan mencicil belajar sedikit demi sedikit untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi,” jelasnya, Senin (20/7). Mimpi yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi tertanam kuat dalam diri Fecia. Sudah sejak lama, memiliki tekad untuk berkuliah dengan jurusan pertanian. Ia sempat mendaftar lewat jalur SNBP dan SNBT namun belum diterima. Meskipun ia sempat mengalami beberapa kali kegagalan, ia tidak menyerah begitu saja. Dengan rain belajar dan senantiasa terus berdoa, Fecia akhirnya diterima menjadi mahasiswa Agronomi UGM melalui jalur ujian mandiri UGM atau UM UGM CBT. Pada mulanya, Fecia mengaku tak percaya berhasil lolos seleksi ujian mandiri UGM. Ia merasa sangat senang dapat diterima di jurusan impiannya. Sejak awal, ia sudah tertarik untuk mempelajari lebih dalam bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman. Minatnya tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya, yang paham betul bahwa Fecia tertarik pada dunia pertanian. “Dari awal tertariknya, ke pertanian untuk membudidaya tanaman. Karena suka menanam tanaman, jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang tanaman-tanaman,”kata sang Ibu, Puji. Sempat khawatir soal biaya, namun Puji percaya bahwa anaknya memiliki rezekinya sendiri. “Memang secara hitung-hitungan penghasilannya cuma segini, tapi dari awal kan insya Allah anak saya itu kan memiliki rezeki sendiri gitu,” ungkap Puji. Berkat doa orang tua dan kegigihan Puji yang mengajukan beasiswa subsidi Uang Kuliah Tunggal dari pihak Kampus, ia pun berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau biaya UKT 0. Fecia mengaku bersyukur bisa diterima kuliah gratis di UGM dan diterima di prodi yang sesuai dengan minatnya. Ia berterus terang bahwa kedua orang tuanyalah yang menjadi sosok inspiratifnya dalam meraih mimpi. Merekalah menjadi alasan bagi Fecia untuk terus berjuang,  tidak mudah menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. “Mereka sudah berjuang banyak buat aku, sudah ngorbanin semuanya buat aku sampai apa ya cari uang ke mana-mana gitu,” terangnya. Keberhasilan Fecia lolos kuliah di UGM ini disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Puji berharap agar Fecia bisa menjalankan kuliah dengan lancar. Ia dan suaminya selalu memberikan dukungan. “Kami selalu mengajarkan Fecia untuk  selalu banyak berdoa, berusaha secara maksimal semampunya, dan memasrahkan hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Puji. Fecia berpesan kepada teman-teman seperjuangan, untuk tetap semangat dan optimis dalam meraih mimpi. Ia selalu percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. “Meskipun saya sendiri memiliki banyak kekurangan dan belajar kurang maksimal, saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pungkasnya. Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid Editor : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Selengkapnya

Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keinginan untuk berkuliah di UGM sebenarnya telah tumbuh sejak Andini Dwi Lestari masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam perjalanan akademiknya, Andini dikenal sebagai siswa yang konsisten berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia beberapa kali meraih peringkat pertama di kelas. Di SMA, tepatnya SMA 1 CIrebon, ia berhasil meraih peringkat pertama paket IPS dan dinyatakan sebagai siswa eligible pertama. Ia juga pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota Cirebon pada tahun 2025, bidang ekonomi. Di balik capaian tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar bagi Andini. Kedua orang tuanya selalu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pentingnya memohon ridha Tuhan dalam setiap usaha yang dilakukan. Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Andini diterima kuliah di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kebahagiaan keluarga terus bertambah setelah mengetahui Andini memperoleh beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen dari UGM atau UKT nol. Sebelumnya, sang ibu sempat memikirkan berbagai kebutuhan biaya kuliah, mulai dari uang pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal selama Andini menempuh studi di Yogyakarta. “Alhamdulillah, senang sekali melihat nominal UKT nol rupiah karena bisa membantu meringankan beban keluarga dalam biaya kuliah,” ungkap Andini, Rabu (8/7). Sementara itu, sang ibu, Siti Patonah menyampaikan bahwa ia dan suaminya, Suryanto selalu mendukung keinginan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Siti, yang merupakan lulusan SMA, bersama sang suami yang mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP, berharap Andini dapat memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya. Meski sempat memikirkan keterbatasan biaya, keluarga tetap bertekad mencari berbagai peluang bantuan pendidikan. “Yang penting Andini bisa masuk kuliah dulu. Soal biaya, kami yakin selalu ada jalan dan bisa diusahakan nanti, termasuk mencari beasiswa,” ujar Siti. Siti mengatakan bahwa selama ini ia dan suami yang bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Cirebon, selalu menanamkan pentingnya doa, ikhtiar, dan semangat untuk tidak mudah menyerah kepada anak-anaknya. Menurutnya, setiap hari harus menjadi kesempatan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.“Saya selalu berpesan kepada Andini agar jangan pernah putus asa, terus berusaha, dan berdoa. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Jangan sampai mengecewakan Bapak dan Ibu,” tuturnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada UGM atas kesempatan dan bantuan pendidikan yang diberikan kepada putrinya.“Terima kasih kepada UGM yang telah menerima Andini dan memberikan subsidi UKT. Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, menjadi amanah yang dijaga dengan sungguh-sungguh, dan membantu Andini mewujudkan cita-citanya, sehingga bantuan yang diberikan tidak menjadi sia-sia,” ungkapnya. Kini, langkah Andini menuju FEB UGM tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Menurut Andini, kunci untuk menjaga prestasi adalah kemampuan mengatur waktu dan menetapkan prioritas. Ia selalu berusaha menyeimbangkan waktu untuk belajar, bermain, dan kegiatan lainnya.“Saya juga selalu mengingat mimpi jangka panjang saya untuk menjadi pengusaha sehingga saya lebih bersemangat untuk belajar,” katanya. Andini berpesan kepada teman-teman yang masih berjuang meraih cita-cita agar tidak mudah menyerah. “Terus semangat belajar, berusaha, dan berdoa. Kalau kita bersungguh-sungguh dalam berikhtiar, pasti akan ada jalan,” pesannya. Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson Foto           : Dok. Humas FEB

Selengkapnya

Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM

Di balik keberhasilan mahasiswa baru diterima kuliah gratis di kampus Universitas Gadjah Mada, tersimpan cerita perjuangan yang menginspirasi. Begitu pun dengan kehidupan  keluarga Muhammad Fathan Khairul Muna R (17). Bersama ibu dan kakaknya, Fathan menapaki hari demi hari sambil terus memperjuangkan mimpinya untuk tembus kuliah di kampus UGM dengan belajar secara giat.  Ia selalu bangun dini hari untuk membantu mengantarkan sang ibu beserta dagangan menuju kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru, tempat ibunya mencari nafkah sekaligus sekolahnya, sebelum kemudian mengenakan seragam dan menjalani hari sebagai siswa seperti remaja lainnya. Ibunya,  Rida Rahayu,menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di kantin sekolah setelah suaminya meninggal. Namun di tengah keterbatasan tersebut, pendidikan selalu menjadi prioritas utama dalam keluarga mereka. “Sejak SMA, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk masuk kuliah. Saya suka belajar dan bertemu dengan orang-orang untuk memperluas pengetahuan. Ibu saya juga selalu mendukung dalam hal apa pun, meskipun tidak sesuai atau Ibu pengennya berbeda, tetap mendukung saya dan percaya apa pun pilihannya,” ujar Fathan, Rabu (1/7). Persiapannya menuju kampus impian dimulai sejak Fathan masuk SMA. Ia menjaga konsistensi nilai akademik karena sekolah menerapkan penilaian prestasi akademik sejak semester awal hingga semester kelima. Ia memberikan perhatian khusus pada mata pelajaran ekonomi saat memasuki peminatan untuk mendukung impiannya masuk ke Program Studi Akuntansi. Di balik prestasinya, Fathan didukung oleh lingkungan yang aktif mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu kompetisi yang paling berkesan baginya adalah Cerdas Cermat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi Indonesia, dan ia berhasil meraih Juara II tingkat Sumatera. Bahkan di kelas XII, Fathan juga menerima Beasiswa 4698 yang diberikan oleh para alumni sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan selama masa pendidikan di SMA. Ia mengaku sempat kecewa saat mengalami berbagai kegagalan dalam beberapa kompetisi. Namun, pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk terus berani mengikuti berbagai perlombaan, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Baginya, setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses yang diyakininya sebagai cara Tuhan mempersiapkan kesempatan yang lebih baik di masa depan. “Awalnya sedih harus menghadapi banyak kekalahan. Tetapi, ini membuat saya untuk terus tetap berani mencoba banyak lomba-lomba lainnya dari akademik hingga non akademik. Prinsip yang selalu saya pegang adalah bahwa setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkapnya. Perjuangan Fathan tidak sia-sia, Dua orang yang paling berperan dalam perjalanan Fathan adalah ibunya dan kakak perempuannya. Ibunya selalu meyakinkannya bahwa tidak ada mimpi yang mustahil dicapai selama ia mau berusaha. Sementara itu, kakaknya menjadi sosok yang selalu memberikan dukungan moral maupun finansial selama Fathan menjalani studinya. Kini, Fathan bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa FEB UGM. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih selama seseorang mau terus berusaha. “Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri,” pungkasnya. Reportase  : Shofi Hawa Anjani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang, Anak Buruh Tani Asal Gunungkidul Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi Leni Ismawati (18) untuk meraih mimpi tinggi. Gadis asal Gunungkidul tersebut telah memiliki mimpi untuk berkuliah di UGM sejak menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Keberhasilannya lolos Akuntansi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol dari UGM membuktikan bahwa dirinya berhasil memenuhi salah satu impiannya. Leni merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Semojo (50) dan Ibu Erni (37) yang sehari-harinya mengurus sawah dan ternak dengan penghasilan yang tidak tetap. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Erni mengaku sering mencari tambahan dengan menjadi buruh tani kepada tetangganya. Namun, keterbatasan ini bukan halangan untuk pendidikan putrinya. Erni mengatakan dirinya selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Hal ini karena dirinya yang hanya lulusan SMP dan suaminya yang hanya  lulusan SD. Bahkan ia mengaku menyesal tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ditambah dari keluarganya dan suaminya belum ada yang melanjutkan pendidikan hingga kuliah. Rasa bangga terhadap Leni turut menyertai pencapaian yang didapatkannya. “Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya untuk biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” tutur Erni, Senin (29/6). Dukungan penuh yang diberikan kedua orang tuanya, membuat Leni lebih berani dalam melangkah. “Ibu sempat berpesan agar jangan takut mengejar mimpi. Hal itulah yang akhirnya membuat saya berani mencoba mendaftar di jurusan Akuntansi UGM,” ujar Leni. Erni mengungkap bahwa sejak kecil Leni sudah diajarkan untuk selalu prihatin karena bukan dari keluarga berada yang bisa mengadakan segala sesuatu secara instan. Ia menanamkan pemahaman bahwa setiap keinginan harus dicapai melalui usaha dan kerja keras, termasuk membiasakan Leni menabung dari uang sakunya jika ingin membeli kebutuhan pribadi. Ia juga memantau pendidikan agama serta pergaulannya agar ia tidak terjerumus ke dalam lingkungan yang membawa dampak negatif. “Saya sengaja tidak memanjakannya sedari kecil, selain karena kondisi ekonomi, saya juga khawatir Leni akan kesulitan menghadapi masa depannya nanti,” ungkapnya. Perjalanan Leni menuju kampus biru tidaklah mudah. Sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA 1 Wonosari, yang berjarak cukup jauh dari rumah, membuatnya harus tinggal di kos sendiri. Namun, hal inilah yang membuatnya dapat hidup mandiri dan membagi waktu dengan lebih baik. Berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang mengikuti bimbingan belajar tambahan, karena keterbatasan ekonomi, Ia memilih untuk belajar mandiri. Leni menemukan waktu belajar efektif untuknya yaitu saat dini hari, Ia secara rutin bangun pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Kegigihannya berbuah manis, Ia berhasil mendapat peringkat kedua eligible yang menjadi modal untuk melanjutkan pendidikannya. Ketertarikan Leni pada bidang ekonomi telah tumbuh sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA. Minat tersebut diperdalam dengan mengambil mata pelajaran peminatan ekonomi, yang kemudian secara spesifik mempelajari akuntansi di kelas 12. “Semenjak kelas 12, saya mulai mendalami akuntansi serta bagaimana prospek karir ke depan. Hal tersebut akhirnya membuat saya merasa bidang ini sangat tepat bagi saya,” tuturnya. Prestasinya dalam hal akademik tidak diragukan lagi, sedari menempuh pendidikan SD, Leni rutin mendapat peringkat satu hingga mendapatkan title lulusan terbaik saat SMP. Ia juga menyambangi berbagai kegiatan seperti Rohani Islam (Rohis), Palang Merah Remaja (PMR), hingga keikutsertaan dalam Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kapanewon Wonosari. Saat SMA, Ia sempat mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi hingga tingkat Kabupaten. Leni mengaku bahwa semakin bertambah usia, pemikirannya semakin terbuka luas. Awalnya Ia belajar untuk meraih peringkat dan hadiah, kini Ia belajar untuk mengubah kehidupannya baik dari segi ekonomi maupun latar belakang pendidikannya. “Saya berharap setelah ini, Akuntansi UGM bisa membuka lebih banyak jalan dan hal-hal baik bagi masa depan saya,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Hanifah dan Dok. Leni

Selengkapnya

Kisah Syahla, Putri Pengemudi Ojek Online Kuliah Gratis di UGM 

Tak hanya menjadi tempat tinggal bagi Syahla Nabilah Junita Wibawa (19) dan keluarganya, rumah sederhana yang berada di Nogotirto, Sleman, ini juga menjadi tempat sang ibu mencari nafkah melalui warung makan sederhana. Sang ibu, Nurjanah (42) berjualan makanan di warung nasi yang juga berlokasi di rumahnya. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata (43) bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di tengah keterbatasan ekonomi dan penghasilan keluarga yang tak menentu, Syahla tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas. Keyakinan itu kini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM. Keberhasilan Syahla diterima berkuliah di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah pencapaian yang ia raih secara instan. Sejak kelas 10 SMA, ia sudah menargetkan untuk menjadi siswa eligible agar memiliki peluang peluang lebih besar lolos ke perguruan tinggi impiannya, yakni UGM. Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” tuturnya, Rabu (24/6). Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan. “Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya. Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal. “Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya. Di tengah kesibukannya, Syahla juga menyempatkan waktu untuk berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah. Bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upayanya untuk memiliki uang saku tambahan dan ingin senantiasa belajar mandiri sejak dini. Kesadaran akan jerih payah kedua orang tua untuk membiayainya sekaligus ketiga saudaranya membuatnya berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa banyak meminta. “Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” ujarnya. Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih. “Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya. Nurjanah mengaku bersyukur atas keberhasilan putri sulungnya diterima di UGM. Menurutnya, semangat belajar Syahla sudah terlihat sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua, ia berupaya mendukung cita-cita anaknya meski harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. “Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” terangnya. Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah. Penulis : Cynthia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine dan Dok.Syahla

Selengkapnya

After Movie Biak Elok 2024 Tuai Apresiasi di Yogyakarta

Pemutaran After Movie Biak Elok 2024 di Empire XXI Yogyakarta, Sabtu silam (15/11), menjadi ruang refleksi atas perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM di Biak Numfor, Papua. Acara ini mendapat respons positif dari para penonton karena film tersebut bukan semata dokumentasi kegiatan mahasiswa, melainkan medium untuk menampilkan kembali kedekatan, keberagaman budaya, serta dinamika sosial masyarakat Papua yang selama ini jarang tersampaikan melalui karya visual mahasiswa. Film ini mengajak penonton menyelami aktivitas sehari-hari masyarakat Biak Numfor melalui kisah budaya, relasi sosial, hingga kondisi ekologis yang ditemui selama penugasan mahasiswa. Melalui pendekatan visual yang hangat dan autentik, After Movie Biak Elok 2024 membingkai hubungan mahasiswa dengan warga lokal melalui edukasi pengelolaan sampah, inisiatif pemberdayaan pesisir, serta aktivitas pelestarian pariwisata berkelanjutan. Keindahan lanskap laut Biak, kehidupan pesisir, dan tradisi masyarakat menjadi dasar penceritaan film ini. Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) KKN Biak Elok 2024, Anugrah Amin Ignatius Julio yang akrab disapa Wejai, membuka acara dengan membagikan refleksi tentang proses lahirnya film tersebut. Ia menekankan bahwa After Movie Biak Elok 2024 merupakan perjalanan batin yang terbangun dari kedekatan mahasiswa dengan warga Biak. Wejai juga menuturkan bagaimana plakat KKN UGM di kampung halamannya dulu memotivasinya hingga ia meraih beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi dan dapat berkuliah di UGM. Ia berharap kesempatan serupa dapat dinikmati generasi muda di Biak. “Kesuksesan ini harus bisa dinikmati semua anak di sana. Karena itu kami menginisiasi KKN Biak Elok bersama teman-teman,” ungkapnya. Ia kemudian menambahkan bahwa dokumenter tersebut tumbuh dari pengalaman hidup mahasiswa selama tinggal bersama masyarakat Biak. Menurutnya, film ini menjadi wujud pendekatan yang penuh cerita dan sukacita sebagaimana nilai yang dijunjung UGM. “Saya berharap film ini bisa menjadi tanda prasasti bagi kemajuan Papua yang berangkat dari rasa dan potensi yang ada di sana,” ucapnya. Direktur Pengabdian Kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., hadir dan memberikan pandangannya. Ia melihat film ini sebagai penanda penting yang memperkuat kontribusi KKN UGM di berbagai daerah. “Film ini menjadi inspirasi bagi kita semua bagaimana kita melihat Indonesia dengan keberagamannya, terdiri dari banyak suku, bahasa, keindahan, hingga potensi,” jelasnya. Apresiasi juga disampaikan Gubernur DIY melalui Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Dr. Sukamto. Ia menilai After Movie Biak Elok 2024 sebagai karya yang menunjukkan kreativitas dan kepedulian anak muda. “Saya bangga melihat semangat dan kreativitas generasi muda dalam mengolah realitas menjadi karya yang berkarakter, bermakna, dan berintegritas,” katanya. Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, memberikan penghargaan mendalam atas dedikasi tim KKN Biak Elok 2024 dalam menghasilkan film ini. Ia menyebut bahwa film tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat Biak. “Kalian adalah jawaban doa-doa orang Biak,” ujarnya. Sutradara After Movie Biak Elok 2024, Fauzy Ash Siddiqiy, turut menjelaskan bahwa film ini merupakan hasil kolaborasi tim yang mengerahkan energi, pemikiran, dan waktu demi menampilkan wajah Biak secara jujur. Ia menyebut film ini sebagai ruang yang membuka kesempatan bagi publik untuk mengenal Biak secara lebih dekat. “Premis awal film ini adalah menghadirkan orang-orang yang tidak pernah mengenal tanah Papua agar bisa masuk ke dunia Biak,” jelasnya. Ia menutup dengan penegasan bahwa, di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, film ini diselesaikan dengan pendekatan murni tanpa dukungan AI. “Bukan berarti kita tidak mendukung industri AI di Indonesia. Tetapi kita mencoba untuk memberikan audience how it feels like to be there, yang benar-benar nyata adanya,” pungkasnya. Penulis: Cyntia Noviana Foto: Ika Editor: Triya Andriyani

Selengkapnya

UGM Apresiasi Mitra Penyedia Beasiswa dalam Mendukung Akses Pendidikan Mahasiswa

Universitas Gadjah Mada menggelar ‘Malam Apresiasi dan Inspirasi: Irama untuk Bangsa’ sebagai bentuk penghargaan kepada para mitra yang selama ini berkontribusi dalam penyediaan beasiswa bagi mahasiswa. Acara yang berlangsung pada Kamis malam (13/11) di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM tersebut diisi dengan apresiasi, pemaparan capaian beasiswa, serta penampilan musik yang menghadirkan suasana kebersamaan. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas komitmen mitra yang secara konsisten mendukung keberlanjutan akses pendidikan bagi mahasiswa UGM. “Malam ini merupakan ungkapan terima kasih kami kepada Bapak-Ibu sekalian atas kontribusi bermakna yang telah membantu membuka jalan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi,” ujarnya. Rektor menambahkan, dukungan para mitra memperkuat penyediaan beasiswa sekaligus menjadi landasan penting bagi upaya menciptakan kesempatan belajar yang lebih inklusif. Ia menyampaikan bahwa semangat kolaborasi yang terbangun selama ini menjadi modal utama dalam memperluas jangkauan penerima manfaat beasiswa. “Keteguhan dan kepedulian yang Bapak-Ibu berikan menjadi kekuatan bagi UGM dalam memastikan pendidikan dapat diakses oleh lebih banyak anak bangsa,” tuturnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., yang memaparkan gambaran mengenai kondisi sosial-ekonomi mahasiswa dan tantangan pembiayaan pendidikan. Ia menjelaskan bahwa sekitar 30 persen mahasiswa UGM berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, sementara sebagian lainnya berada pada kelompok yang rentan namun tidak tercakup dalam skema bantuan pendidikan. “Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan pendampingan agar dapat menjalani studinya tanpa kendala finansial,” jelasnya. Wakil Rektor juga menyoroti berkurangnya kuota KIP Kuliah 2025 serta terbatasnya alternatif pendanaan yang berdampak pada kesinambungan dukungan bagi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa kondisi ini menuntut penguatan kolaborasi antara UGM dan para mitra untuk menjaga stabilitas pendanaan beasiswa di tengah dinamika kebijakan nasional. “Oleh karena itu, kerja sama yang semakin solid menjadi kunci dalam memastikan setiap mahasiswa tetap dapat melanjutkan pendidikannya,” ungkapnya. Selain memaparkan tantangan, Arie turut menyampaikan arah solusi yang tengah dikembangkan UGM, mulai dari penguatan beasiswa, mentoring, konektivitas dengan dunia profesional, hingga dukungan khusus bagi mahasiswa disabilitas. Ia menekankan bahwa penyediaan akses pendidikan mencakup aspek finansial serta dukungan ekosistem pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berkembang secara optimal. “Setiap bentuk dukungan merupakan investasi sosial yang akan memperkuat kualitas generasi mendatang,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor memaparkan perkembangan penghimpunan dan penyaluran beasiswa UGM yang selama ini didukung oleh pemerintah, BUMN, sektor swasta, yayasan, serta donatur individu. Ia memastikan bahwa seluruh dukungan tersebut dikelola melalui sistem yang kredibel dan transparan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh mahasiswa. “Kepercayaan para mitra menunjukkan bahwa sistem pengelolaan beasiswa di UGM diterima dengan baik karena akuntabel dan berdampak,” ujarnya. Acara malam itu juga menghadirkan sesi talkshow yang menghadangkan dua alumni UGM, Onny Hendro Adhiaksono dan Nur Agis Aulia, yang selama ini aktif memberikan dukungan pendidikan bagi mahasiswa. Keduanya berbagi pengalaman tentang perjalanan karier, alasan mereka tergerak menjadi donatur, serta pandangan mengenai pentingnya keberlanjutan akses pendidikan bagi generasi muda. Melalui kisah dan refleksi para alumni tersebut, UGM menegaskan bahwa kolaborasi lintas generasi memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem beasiswa dan membangun solidaritas yang berdampak nyata bagi mahasiswa. Malam Apresiasi dan Inspirasi ditutup dengan pesan kolaborasi untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif bagi seluruh anak bangsa. Melalui momentum ini, UGM dan para mitra menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan dukungan bagi mahasiswa di berbagai lapisan sosial. “Dengan bergotong royong, kita memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkontribusi bagi masyarakat,” pungkas Wakil Rektor. Penulis: Triya Andriyani Foto: Donnie