BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Memilih Jalan Pendidikan untuk Mengubah Stereotip Desa

Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, jalan aspal berhenti. Berganti jadi jalan tanah berbatu dan berdebu. Rumah-rumah berdiri berjajar dengan wajah yang timpang, ada yang megah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman karena kiriman anak, istri atau suami yang jadi buruh migran di negeri seberang dan ada yang lantai dan dindingnya masih bata ekspos belum diaci. Desa ini pernah punya julukan yang menyakitkan untuk disebut: "kampung idiot," julukan yang lahir dari isolasi geografis yang begitu lama akibat perkawinan sedarah antar penduduk yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan minim akses pendidikan yang meninggalkan luka panjang, berupa keterbelakangan mental pada sebagian anak-anaknya. Di kemudian hari, daerah ini berganti julukan menjadi “kampung TKI”. Banyak warga yang bekerja sebagai buruh di luar negeri. Uang dari luar negeri memang bisa membangun rumah bertingkat, tapi tidak selalu membangun jalan keluar yang berkelanjutan. Dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan milik Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43), dua anak kembar perempuannya bernama Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah) lahir. Mereka tumbuh besar dan memilih jalan yang jarang ditempuh sebagian besar masyarakat di desanya, bukan merantau jadi buruh, melainkan memperjuangkan mimpi punya pendidikan tinggi di kampus yang namanya dulu hanya berani mereka ucapkan sambil bercanda. Anak Buruh Serabutan  Meseri, sang ayah, sehari-hari adalah buruh serabutan. Ia seringkali mencari nafkah dengan menawarkan jasa pertanian pada warga sekitar yang sedang menggarap sawah. Selain itu, kalau ada proyek bangunan, ia juga ikut mandor ke kota jadi buruh bangunan. "Yang penting ada pemasukan," katanya, mengulang kalimat yang lebih terdengar seperti doa daripada rencana. Sedangkan Siti, istrinya, adalah ibu rumah tangga yang sesekali ikut ke sawah membantu suami mencari tambahan. Penghasilan mereka tidak pernah tetap, kadang ada, kadang tidak. Saat pasangan buruh itu mendapati buah hatinya lahir kembar, mereka memutuskan cukup memiliki dua anak. Keputusan itu atas kesadaran penuh bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan berharap anak-anaknya dapat memiliki nasib yang lebih baik. Dari keputusan itu lahir sebuah komitmen yang mereka pegang bertahun-tahun sebelum tahu akan berbuah apa. Sejak sebelum masuk TK, kedua anaknya sudah dikenalkan pada buku dan latihan menulis, ditanamkan tekad bahwa sekolah adalah jalan keluar dari nasib mencangkul yang mereka jalani sendiri. "Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga," ujar Siti. Mahmudah dan Rikah selalu satu sekolah sejak sekolah dasar, mereka bersekolah di SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, dan lulus dari SMAN 1 Badegan. Hal ini bukan kebetulan, tapi strategi. "Satu sekolah itu untuk mempermudah, dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain," kata Rikah. Di sekolah mereka adalah murid berprestasi, keduanya adalah partner berkompetisi yang kompak. Dari SD keduanya selalu berada di peringkat tiga besar di kelas, sering berebut posisi ranking satu. Kombinasi kompetensi keduanya berhasil memanen puluhan prestasi. Terhitung 18 prestasi untuk Mahmudah, 14 untuk Rikah, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan sampai juara esai dan poster tingkat nasional. Saat satu menang dan satu belum beruntung, keduanya menganggapnya giliran. "Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan," kata Mahmudah. Mimpi yang Disimpan  Mimpi kuliah di UGM lahir diam-diam, dari dua arah yang tak saling tahu. Bagi Rikah, keinginan kuliah di UGM bermula dari seorang guru kelas 4 SD yang bercerita tentang muridnya yang berhasil kuliah di UGM lewat beasiswa. "Saya kan masih polos, jadi saya simpan sendiri aja. Saya nggak cerita juga ke Mahmudah," kenangnya. Bagi Mahmudah, ketertarikan itu tumbuh dari rasa penasaran begitu ia pertama kali mendengar nama Universitas Gadjah Mada. Setiap kali ada orang bertanya, “Mau kuliah ke mana?” Mahmudah selalu menjawab ke UGM. “Itu saya menjawabnya sambil bercanda,tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan," kenangnya. Baru belakangan mereka sadar bahwa sedang menuju arah yang sama. Namun jalan untuk bisa diterima di UGM tidak mudah bagi keduanya. Keduanya sudah melalui kegagalan berulang kali untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat berbagai jalur. Rikah menghitungnya tujuh kali. "Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka," ungkapnya. Keduanya sempat sama-sama gagal di SNBP, lalu sama-sama diterima di kampus di Malang. Keduanya merasa belum puas, karena itu bukan tujuan sebenarnya yang mereka kejar. Satu kesempatan tersisa yang mereka pilih, jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM)UGM. "Saat itu harapan saya itu tinggal kecil sekali. Saya sudah tidak berani terlalu berharap," kenang Rikah. Ketika pengumuman itu datang, dan keduanya dinyatakan lolos bersama dengan subsidi UKT 100 persen. Keduanya merasa senang dan bannga karena usaha tidak pernah menghianati hasil. "Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil", kata Mahmudah bersyukur. Mengetahui kedua buah hatinya diterima  di terima di Kampus UGM, Meseri merasa bersyukur dikaruniai anak yang berprestasi dan mampu membanggkan keluarga. Namun ia sempat gamang membayangkan anaknya pergi jauh ke Yogyakarta. "Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM," katanya. Mahmudah diterima di D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Volasi. Sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi. Rikah sempat membayangkan jika suatu saat kelak setelah lulus akan membentuk komunitas penyuluhan ternak bagi warga desanya. Meski belum tahu bentuk pastinya, yakin ilmunya kelak juga harus kembali menolong masyarakat sekitar rumah. Di desa yang mayoritas anak mudanya berhenti di SMK, selanjutnya kebanyakan memilih langsung bekerja atau merantau jauh sebagai buruh migran. Dua anak buruh serabutan ini memilih menempuh jalan yang lebih panjang dan lebih sunyi, demi menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang desa terpencil bukan vonis akhir."Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya," ucap Rikah kepada kedua orang tuanya, di hadapan kamera yang merekam pertemuan itu. Di sebuah desa yang selama ini lebih dikenal karena kisah pilunya, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif sedang menulis cerita lain, bahwa dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, mimpi tetap bisa melenting setinggi langit dan merawat harapan dapat pulang membawa terang untuk desa yang membesarkannya. Penulis/Foto : Donnie Tristan Editor : Gusti Grehenson

Lanjut Baca

Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM

Di balik keberhasilan mahasiswa baru diterima kuliah gratis di kampus Universitas Gadjah Mada, tersimpan cerita perjuangan yang menginspirasi. Begitu pun dengan kehidupan  keluarga Muhammad Fathan Khairul Muna R (17). Bersama ibu dan kakaknya, Fathan menapaki hari demi hari sambil terus memperjuangkan mimpinya untuk tembus kuliah di kampus UGM dengan belajar secara giat.  Ia selalu bangun dini hari untuk membantu mengantarkan sang ibu beserta dagangan menuju kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru, tempat ibunya mencari nafkah sekaligus sekolahnya, sebelum kemudian mengenakan seragam dan menjalani hari sebagai siswa seperti remaja lainnya. Ibunya,  Rida Rahayu,menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di kantin sekolah setelah suaminya meninggal. Namun di tengah keterbatasan tersebut, pendidikan selalu menjadi prioritas utama dalam keluarga mereka. “Sejak SMA, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk masuk kuliah. Saya suka belajar dan bertemu dengan orang-orang untuk memperluas pengetahuan. Ibu saya juga selalu mendukung dalam hal apa pun, meskipun tidak sesuai atau Ibu pengennya berbeda, tetap mendukung saya dan percaya apa pun pilihannya,” ujar Fathan, Rabu (1/7). Persiapannya menuju kampus impian dimulai sejak Fathan masuk SMA. Ia menjaga konsistensi nilai akademik karena sekolah menerapkan penilaian prestasi akademik sejak semester awal hingga semester kelima. Ia memberikan perhatian khusus pada mata pelajaran ekonomi saat memasuki peminatan untuk mendukung impiannya masuk ke Program Studi Akuntansi. Di balik prestasinya, Fathan didukung oleh lingkungan yang aktif mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu kompetisi yang paling berkesan baginya adalah Cerdas Cermat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi Indonesia, dan ia berhasil meraih Juara II tingkat Sumatera. Bahkan di kelas XII, Fathan juga menerima Beasiswa 4698 yang diberikan oleh para alumni sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan selama masa pendidikan di SMA. Ia mengaku sempat kecewa saat mengalami berbagai kegagalan dalam beberapa kompetisi. Namun, pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk terus berani mengikuti berbagai perlombaan, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Baginya, setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses yang diyakininya sebagai cara Tuhan mempersiapkan kesempatan yang lebih baik di masa depan. “Awalnya sedih harus menghadapi banyak kekalahan. Tetapi, ini membuat saya untuk terus tetap berani mencoba banyak lomba-lomba lainnya dari akademik hingga non akademik. Prinsip yang selalu saya pegang adalah bahwa setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkapnya. Perjuangan Fathan tidak sia-sia, Dua orang yang paling berperan dalam perjalanan Fathan adalah ibunya dan kakak perempuannya. Ibunya selalu meyakinkannya bahwa tidak ada mimpi yang mustahil dicapai selama ia mau berusaha. Sementara itu, kakaknya menjadi sosok yang selalu memberikan dukungan moral maupun finansial selama Fathan menjalani studinya. Kini, Fathan bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa FEB UGM. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih selama seseorang mau terus berusaha. “Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri,” pungkasnya. Reportase  : Shofi Hawa Anjani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang, Anak Buruh Tani Asal Gunungkidul Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi Leni Ismawati (18) untuk meraih mimpi tinggi. Gadis asal Gunungkidul tersebut telah memiliki mimpi untuk berkuliah di UGM sejak menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Keberhasilannya lolos Akuntansi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol dari UGM membuktikan bahwa dirinya berhasil memenuhi salah satu impiannya. Leni merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Semojo (50) dan Ibu Erni (37) yang sehari-harinya mengurus sawah dan ternak dengan penghasilan yang tidak tetap. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Erni mengaku sering mencari tambahan dengan menjadi buruh tani kepada tetangganya. Namun, keterbatasan ini bukan halangan untuk pendidikan putrinya. Erni mengatakan dirinya selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Hal ini karena dirinya yang hanya lulusan SMP dan suaminya yang hanya  lulusan SD. Bahkan ia mengaku menyesal tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ditambah dari keluarganya dan suaminya belum ada yang melanjutkan pendidikan hingga kuliah. Rasa bangga terhadap Leni turut menyertai pencapaian yang didapatkannya. “Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya untuk biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” tutur Erni, Senin (29/6). Dukungan penuh yang diberikan kedua orang tuanya, membuat Leni lebih berani dalam melangkah. “Ibu sempat berpesan agar jangan takut mengejar mimpi. Hal itulah yang akhirnya membuat saya berani mencoba mendaftar di jurusan Akuntansi UGM,” ujar Leni. Erni mengungkap bahwa sejak kecil Leni sudah diajarkan untuk selalu prihatin karena bukan dari keluarga berada yang bisa mengadakan segala sesuatu secara instan. Ia menanamkan pemahaman bahwa setiap keinginan harus dicapai melalui usaha dan kerja keras, termasuk membiasakan Leni menabung dari uang sakunya jika ingin membeli kebutuhan pribadi. Ia juga memantau pendidikan agama serta pergaulannya agar ia tidak terjerumus ke dalam lingkungan yang membawa dampak negatif. “Saya sengaja tidak memanjakannya sedari kecil, selain karena kondisi ekonomi, saya juga khawatir Leni akan kesulitan menghadapi masa depannya nanti,” ungkapnya. Perjalanan Leni menuju kampus biru tidaklah mudah. Sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA 1 Wonosari, yang berjarak cukup jauh dari rumah, membuatnya harus tinggal di kos sendiri. Namun, hal inilah yang membuatnya dapat hidup mandiri dan membagi waktu dengan lebih baik. Berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang mengikuti bimbingan belajar tambahan, karena keterbatasan ekonomi, Ia memilih untuk belajar mandiri. Leni menemukan waktu belajar efektif untuknya yaitu saat dini hari, Ia secara rutin bangun pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Kegigihannya berbuah manis, Ia berhasil mendapat peringkat kedua eligible yang menjadi modal untuk melanjutkan pendidikannya. Ketertarikan Leni pada bidang ekonomi telah tumbuh sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA. Minat tersebut diperdalam dengan mengambil mata pelajaran peminatan ekonomi, yang kemudian secara spesifik mempelajari akuntansi di kelas 12. “Semenjak kelas 12, saya mulai mendalami akuntansi serta bagaimana prospek karir ke depan. Hal tersebut akhirnya membuat saya merasa bidang ini sangat tepat bagi saya,” tuturnya. Prestasinya dalam hal akademik tidak diragukan lagi, sedari menempuh pendidikan SD, Leni rutin mendapat peringkat satu hingga mendapatkan title lulusan terbaik saat SMP. Ia juga menyambangi berbagai kegiatan seperti Rohani Islam (Rohis), Palang Merah Remaja (PMR), hingga keikutsertaan dalam Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kapanewon Wonosari. Saat SMA, Ia sempat mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi hingga tingkat Kabupaten. Leni mengaku bahwa semakin bertambah usia, pemikirannya semakin terbuka luas. Awalnya Ia belajar untuk meraih peringkat dan hadiah, kini Ia belajar untuk mengubah kehidupannya baik dari segi ekonomi maupun latar belakang pendidikannya. “Saya berharap setelah ini, Akuntansi UGM bisa membuka lebih banyak jalan dan hal-hal baik bagi masa depan saya,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Hanifah dan Dok. Leni