BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

FMIPA UGM Salurkan 10 Tangki Air Bersih untuk Bantu Warga Kamal Hadapi Kekeringan

Pengabdian Laboratorium Kimia Organik menghubungkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga dengan penguatan pengetahuan pertanian di Gunungkidul. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyalurkan bantuan 10 tangki air bersih bagi warga Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 500 jiwa yang menghadapi keterbatasan pasokan air pada musim kemarau. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Melalui kegiatan ini, dosen dan tenaga kependidikan merespons kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan warga di wilayah pendampingan. Membantu Memenuhi Kebutuhan Dasar Warga Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memengaruhi berbagai kegiatan rumah tangga. Bagi warga yang mengalami keterbatasan sumber air selama kemarau, tambahan pasokan diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Dr. Yehezkiel Steven K., M.Eng., dan Dr. Sugeng Triono, M.Si., yang mewakili tim dosen dan tenaga kependidikan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Kegiatan tersebut menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian perguruan tinggi. Kehadiran tim di tengah warga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa kebutuhan masyarakat perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan bentuk kontribusi kampus. Bantuan air bersih ini merupakan respons terhadap kebutuhan saat ini. Keberlanjutan akses air tetap menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama, sehingga manfaat bantuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau. Pengabdian yang Menjangkau Air Bersih dan Pertanian Pada hari yang sama, tim Laboratorium Kimia Organik juga menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung. Kegiatan tersebut memberikan pembekalan bagi petani dan pekebun dari Wunung, Duwet, dan Mulo untuk mengenali gangguan tanaman serta memahami langkah pengendalian yang sesuai. Kedua kegiatan menjangkau kebutuhan masyarakat yang saling berkaitan. Pasokan air membantu kebutuhan dasar rumah tangga, sementara pembelajaran pertanian diharapkan memperkuat kemampuan warga dalam menjaga tanaman dan mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dalam rangkaian pengabdian ini, FMIPA UGM menghubungkan kepedulian sosial dengan pemanfaatan kepakaran. Bantuan air diberikan sesuai kebutuhan warga, sedangkan pengetahuan ilmiah dihadirkan melalui pembekalan teknis pertanian yang relevan dengan kondisi setempat. Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Penyaluran bantuan air bersih sejalan dengan SDGs Poin 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya aspek akses terhadap air bersih. Kontribusi kegiatan ini terletak pada penyediaan tambahan pasokan bagi warga yang membutuhkan, tanpa menyamakan bantuan sementara dengan penyelesaian menyeluruh persoalan akses air. Sementara itu, bimbingan teknis pertanian mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas pangan. Materi pengelolaan gangguan tanaman secara berkelanjutan juga berkaitan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan. Memperkuat Budaya Akademik yang Peduli Keterlibatan dosen dan tenaga kependidikan memperlihatkan bahwa kontribusi kampus dapat hadir melalui kepakaran maupun tindakan sosial. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat keberlanjutan peran almamater di masyarakat. Bagi calon mahasiswa, pengabdian tersebut menunjukkan kesempatan untuk belajar memahami persoalan kehidupan melalui keterlibatan langsung. Ke depan, hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat dapat menjadi landasan pengembangan kolaborasi bersama mitra. Dengan mendengarkan kebutuhan warga dan mengevaluasi manfaat kegiatan, FMIPA UGM dapat terus memperluas kontribusi pengabdian yang relevan, terarah, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan global dari tingkat lokal. Penulis : Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Foto : Yehezkiel Steven Kurniawan Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG 15: Ekosistem Daratan

Lanjut Baca

Sains Menjawab Tantangan Pertanian, FMIPA UGM Perkuat Kapasitas Petani Gunungkidul

Laboratorium Kimia Organik mempertemukan kepakaran lintas lembaga untuk mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan melalui program desa binaan. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Melalui pemaparan ahli lintas lembaga, kegiatan ini membekali petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo dengan pengetahuan untuk mengenali gangguan tanaman serta menentukan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan. Diketuai oleh Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran akademik untuk membantu menjaga produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani. Membawa Pengetahuan Ilmiah ke Persoalan Sehari-hari Bagi masyarakat Wunung, Duwet, dan Mulo, pertanian dan perkebunan merupakan sumber penghidupan penting. Padi, kacang tanah, jagung, cabai, bawang merah, alpukat, dan mangga menjadi bagian dari potensi setempat. Namun, serangan hama dan penyakit dapat mengurangi hasil panen sekaligus menekan pendapatan keluarga. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit, pemahaman gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Pengetahuan ini diharapkan membantu petani melakukan deteksi dini dan memilih tindakan berdasarkan penyebab gangguan. Prinsipnya sederhana: mengenali masalah dengan tepat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Melalui pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu, petani didorong mempertimbangkan kondisi pertanaman dan keberlanjutan lingkungan dalam mengambil keputusan. Menghubungkan Perlindungan Tanaman dan Konservasi Selain hama dan penyakit tanaman, masyarakat menghadapi gangguan monyet pada lahan pertanian dan perkebunan. Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian, keselamatan warga, dan konservasi satwa liar. Edi Warsito dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul memberikan informasi mengenai persoalan tersebut beserta kendala penanganannya. Pemaparan ini memperlihatkan pentingnya koordinasi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang dalam menyusun langkah yang terarah. Kehadiran narasumber dari UGM, BRIN, dan BKSDA menunjukkan pendekatan lintas keahlian yang dibutuhkan untuk memahami persoalan pertanian secara menyeluruh. FMIPA UGM mengambil peran sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan kewenangan lembaga terkait. Kontribusi Nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Kegiatan ini mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan, terutama melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kemampuan mengenali gangguan tanaman sejak dini diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dukungan terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui akses pembelajaran bagi masyarakat di luar ruang kuliah. Kepakaran perguruan tinggi dan lembaga penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan praktis yang relevan dengan pekerjaan petani. Pembahasan gangguan satwa liar juga sejalan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan, dengan menempatkan perlindungan tanaman dalam pertimbangan konservasi. Sementara itu, keterlibatan berbagai lembaga dan masyarakat mencerminkan SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kontribusi tersebut merupakan arah yang didukung program; dampak jangka panjangnya memerlukan penerapan dan evaluasi berkelanjutan.   Menumbuhkan Kemitraan, Memperluas Manfaat Sains Kepala Laboratorium Kimia Organik, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian tahunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lurah Wunung, Sudarto, berharap pengetahuan yang dibagikan dapat membantu petani dan pekebun mengatasi persoalan di lapangan. Pelaksanaan program didukung seluruh dosen dan karyawan Laboratorium Kimia Organik. Kerja bersama ini memperlihatkan peran sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam menghadirkan manfaat perguruan tinggi di tengah masyarakat. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi alasan untuk terus bangga dan terlibat dalam kontribusi almamater. Bagi calon mahasiswa, program tersebut memperlihatkan bahwa belajar sains membuka kesempatan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata. Bagi mitra, kegiatan ini memperlihatkan ruang kolaborasi berbasis kepakaran dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kesinambungan pendampingan dan evaluasi penerapan pengetahuan menjadi langkah penting agar manfaat program semakin kuat. Dari desa binaan, FMIPA UGM meneguhkan kontribusi lokal menuju tujuan pembangunan global: pertanian yang tangguh, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang semakin berdaya. Penulis: Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Fotografer: Robby Noor Cahyono Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Selengkapnya

Dijaga Matahari, Mengawasi Sepanjang Hari: SV UGM Menghadirkan CCTV Tenaga Surya Bagi Warga Nanggulan

Kulon Progo, Agustus 2026  |  Tim Pengabdian Sekolah Vokasi UGM Selama ini, menjaga keamanan lingkungan di Kapanewon Nanggulan, banyak bertumpu pada ronda malam. Sebagian titik masih kurang aman dan banyak kasus kehilangan peralatan seperti komputer di sekolah-sekolah. Kini, ada “mata” tambahan yang tidak pernah lelah. Di sekolah, pos kamling, hingga gardu RT, kamera pengawas berjaga dengan energi dari panel surya. Sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun di wilayah ini ditangkap pada siang hari dan diubah menjadi listrik, sehingga kamera tetap bekerja tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional. Kamera-kamera tersebut merupakan hasil kerja bersama tim pengabdian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) dan masyarakat Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat SV UGM 2026 berjudul Implementasi Teknologi Tepat Guna Kamera Pengawas untuk Mendukung Keamanan Lingkungan dan Penguatan Kapasitas Masyarakat. Gagasannya sederhana: teknologi tepat guna harus bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga, dan warga sendiri yang mampu merawatnya. Berawal dari kebutuhan warga Semuanya berawal dari koordinasi dengan Pemerintah Kapanewon Nanggulan, mitra program ini. Pihak kapanewon menyambut baik kelanjutan program pengabdian SV UGM yang tahun lalu sudah lebih dulu hadir di Kalurahan Jatisarono. Tim pengabdian yang dipimpin Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas bidang keilmuan di Departemen Teknik Elektro dan Informatika SV UGM. Mereka melakukan observasi lapangan dan berdiskusi dengan perangkat setempat serta warga. Dari observasi dan diskusi itu, titik pemasangan dipilih dengan pertimbangan yang sangat praktis: tingkat kerawanan, kemudahan akses, pencahayaan, ketersediaan ruang untuk panel surya, serta kesiapan warga atau pengelola yang akan menjaganya setelah tim kembali ke kampus. “Teknologi ini tidak hanya kami pasang, tetapi juga kami serahkan pengelolaannya kepada warga. Karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi bagian yang sama pentingnya dengan instalasi.” — Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. Ketua Tim Pengabdian SV UGM Dari sekolah hingga pos jaga Sabtu, 29 Agustus 2026, pekerjaan lapangan dimulai sejak pagi. Ketua tim, Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE. Beserta dosen yang lainnya turun langsung bersama tiga mahasiswa, yaitu Satria Bhekti Akhisnu, Da'i Sabili Wahyu Kusumo, dan Rangga Ivan Nugraha. Mereka berpindah dari satu titik ke titik lain sambil membawa tangga, bor, dan kamera. Rute dimulai dari SLB PGRI Nanggulan dan TK PGRI, berlanjut ke Padukuhan Bejaten dan Temanggal, lalu SD Negeri Kalimanggis dan SD Negeri Tanjungharjo, dan berakhir di SD Negeri Wonorejo. Di SLB PGRI Nanggulan, kamera dipasang di bawah atap teras dan pada tiang. Di TK PGRI, kamera menempel di dinding Ruang Kelompok A. Satu per satu, mahasiswa memasang braket, menarik kabel, lalu memasang kamera di tempatnya. Mahasiswa memasang braket kamera di bawah atap SLB PGRI Nanggulan & Kamera pengawas terpasang pada tiang teras sekolah & Kamera di dinding Ruang Kelompok A TK PGRI. Energinya datang dari panel surya kecil yang dipasang di tepi atap menghadap langit, lalu dihubungkan dengan kabel ke kamera. Di setiap titik, tim juga menempelkan stiker “Perhatian: Area Ini Dipantau CCTV 24 Jam” sebagai pengingat bagi siapa pun yang lewat bahwa lingkungan ini dijaga. Panel surya kecil di tepi atap memasok energi bagi kamera & Stiker pengingat bahwa area ini dipantau CCTV 24 jam. Di Padukuhan Bejaten, perangkat dipasang di Pos Satkamling dan Jaga Warga, tempat warga biasa berkumpul dan bergantian berjaga. Panel surya dipasang di bawah atap pos, dan stiker peringatan menempel di dinding anyaman bambu tepat di tempat yang mudah terlihat. Penempelan stiker di Pos Satkamling RT 39 RW 14 Padukuhan Bejaten & Serah terima kamera kepada warga di Pos Satkamling Bejaten. Di setiap lokasi, kegiatan ditutup dengan serah terima kamera kepada warga dan pengelola setempat, sebagai tanda bahwa perangkat kini menjadi tanggung jawab bersama. Di Gardu RT 05 RW 02, kamera dipasang di langit-langit gardu tempat warga biasa berjaga. Serah terima kamera di Gardu RT 05 RW 02 & Serah terima kamera di halaman TK PGRI. Menjelang sore, giliran SD Negeri Kalimanggis. Di bawah papan “Selamat Datang”, mahasiswa naik ke atas tangga untuk memasang kamera di tiang teras. Dengan kamera di sana, bangunan sekolah ikut terpantau, bahkan ketika kelas sudah kosong. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke SD Negeri Tanjungharjo dan ditutup di SD Negeri Wonorejo. Pemasangan kamera di SD Negeri Kalimanggis & Kamera terpasang pada gapura sd. Kehadiran kamera ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SD Negeri Kalimanggis berharap manfaatnya tidak berhenti di satu tahun saja. “Semoga bermanfaat untuk warga dan sekolah. Harapan kami, program ini ada keberlanjutannya di tahun depan.” — Kepala SD Negeri Kalimanggis, Kapanewon Nanggulan Bekal untuk merawat, bukan sekadar menerima Selain memasang perangkat, tim membekali warga dengan pelatihan teknis yang ditujukan bagi perangkat kalurahan, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, kelompok pemuda, dan warga setempat. Bertempat di Kapanewon Nanggulan, materi “CCTV untuk Lingkungan yang Lebih Aman” disampaikan secara interaktif, mulai dari pengenalan energi surya dan prinsip kerja kamera pengawas, cara memantau, hingga perawatan panel surya dan baterai serta penanganan gangguan sederhana. Untuk pegangan setelah tim kembali ke kampus, tersedia modul pelatihan dan SOP penggunaan serta pemeliharaan yang disusun sederhana agar mudah dibaca dan dipraktikkan warga. Tim juga membawa alat peraga sistem tenaga surya sederhana, agar warga bisa melihat langsung bagaimana sinar matahari diubah menjadi listrik, disimpan di baterai, lalu dipakai. Pemaparan materi “CCTV untuk Lingkungan yang Lebih Aman” kepada warga. Rangkaian kegiatan ditandai dengan serah terima perangkat secara simbolis kepada Bapak Drs. Sri Wahyuniarto, M.A. sebagai Camat (Panewu) Nanggulan selaku mitra program, sebagai tanda dimulainya pengelolaan sistem oleh masyarakat bersama pemerintah setempat. Serah terima kamera pengawas tenaga surya secara simbolis kepada Camat Nanggulan. Tim SV UGM bersama warga dan peserta kegiatan “Nanggulan Aman, Terang, dan Berkelanjutan” di Kapanewon Nanggulan. Keamanan yang dijaga bersama Keberlanjutan menjadi kata kunci. Kamera-kamera ini diharapkan dikelola oleh kelompok pengelola lokal yang bertanggung jawab atas operasional, pemeliharaan, dan pelaporan kondisi sistem, sementara pemerintah kalurahan mendampingi lewat koordinasi warga dan dukungan pemeliharaan. Bila berjalan baik, model ini dapat dikembangkan pada titik lain di Kapanewon Nanggulan atau direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Bagi warga, perubahannya mungkin tampak sederhana: sekolah, pos kamling, dan gardu kini memiliki pengawasan tambahan. Namun di baliknya ada langkah menuju permukiman yang aman dan berkelanjutan. Program ini mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui lingkungan yang lebih aman dan nyaman, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan keamanan berbasis komunitas dan kerja sama dengan pemerintah setempat.

Selengkapnya

PkM Desa Mitra 2026 Fakultas Biologi UGM Perkenalkan Tanaman Obat Keluarga kepada Siswa SD Negeri Kiyaran 1 untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas #4

Sleman, 16 Oktober 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Mitra Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melaksanakan kegiatan edukasi biologi bagi siswa sekolah dasar di SD Negeri Kiyaran 1, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kegiatan kali ini mengangkat pengenalan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui penyampaian materi dan permainan interaktif untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai keanekaragaman tumbuhan obat serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. [metaslider id="62000"] Kegiatan dipandu oleh Sidiq Permana Putra, S.Si., M.Sc. sebagai moderator,  dengan menampilkan 2 pemateri yaitu Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. dan Dr. Maryani, M.Sc. Isi dari presentasi narasumber adalah penyampaian materi mengenai berbagai tanaman obat yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar rumah siswa. Para siswa diajak mengenali tanaman yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional, tetapi juga digunakan sebagai bumbu masakan dan bahan minuman sehari-hari. Melalui pengenalan ini, siswa diharapkan semakin menyadari bahwa tumbuhan di sekitar mereka memiliki beragam manfaat. Berbagai tanaman obat yang diulas  antara lain jahe, kunyit, kencur, lidah buaya, daun sirih, bawang putih, bawang merah, sereh, ketumbar, pala, kemangi, jeruk nipis, temulawak, kayu manis, cengkeh, lada, daun salam, temu kunci, laos, dan seledri. Dalam penyampaian materi, bagian dari organ tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diperlihatkan dan dibagikan secara langsung kepada siswa untuk diamati. Siswa diajak mengenali karakteristiknya masing-masing melalui pengamatan bentuk, warna, serta mencium aromanya. Pengalaman belajar secara langsung ini membantu siswa membedakan berbagai jenis tanaman obat yang diperkenalkan sekaligus mengenali ciri khasnya melalui pancaindra. Untuk memperkuat pemahaman siswa, kegiatan dilanjutkan dengan permainan tebak tanaman obat melalui responsi interaktif menggunakan sistem tokser (ketok, geser). Dalam sesi ini, siswa diminta menuliskan nama tanaman yang ada di setiap meja yang mereka lalui. Siswa tampak antusias sekaligus tegang saat berusaha mengenali dan mengingat kembali nama dari ciri-ciri tanaman obat yang telah dipelajari.   Selama pelaksanaan, anggota tim dosen Fakultas Biologi UGM, yaitu Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D. Dr. Utaminingsih, S.Si., M.Sc., Dr. Aprilia Sufi Subiastuti, S.Si., Dr. Siti Nurbaiti, S.Si., Novita Yustinadiar, S.Si., M.Si., serta dua mahasiswa (Rosya Irbah Mahdiyyah, NIM 23/515258/BI/11221 dan Nazwa Nur Sahara, NIM 23/514177/BI/11190) turut membantu kelancaran kegiatan. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong siswa untuk memahami materi yang dipelajari. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan hasil belajar siswa, tim pengabdian memberikan penghargaan kepada dua siswa terbaik dari setiap kelas (kelas 4, 5 dan 6). Pembagian hadiah disambut dengan antusias oleh para peserta dan menjadi penutup rangkaian pembelajaran interaktif pada kegiatan tersebut.   Pengenalan tanaman obat dan manfaatnya ini merupakan kegiatan terakhir kegiatan pengabdian tim kami di SD Negeri Kiyaran 1.  Setelah kegiatan ini  berakhir, acara dilanjutkan dengan penutupan oleh Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D. selaku ketua tim pengabdian. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan pengabdian di sekolah mitra telah terlaksana melalui empat pertemuan dengan beragam topik pembelajaran. Beliau menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan selama pelaksanaan program. Beliau mengharapkan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat bagi siswa dan memperkaya pengalaman belajar mereka.   Kepala sekolah, Ibu Kristiana Widi Rahayu, S.Pd., turut menyampaikan apresiasi kepada Tim PkM Desa Mitra Fakultas Biologi UGM atas pelaksanaan rangkaian edukasi yang telah mencakup berbagai topik, mulai dari ikan, pengelolaan sampah, budidaya tanaman, hingga pengenalan tanaman obat dan manfaatnya. Beliau berharap pengetahuan yang diperoleh dapat bermanfaat bagi anak-anak, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan dan kolaborasi antara pihak sekolah dan Fakultas Biologi UGM diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi pendidikan siswa. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama antara tim pengabdian, pihak sekolah, dan para siswa sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan.   Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi sains dan pembelajaran kontekstual sejak dini. Pengenalan tanaman obat juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan pengetahuan dasar mengenai tanaman yang berkaitan dengan kesehatan. Melalui program Desa Mitra Wukirsari, Fakultas Biologi UGM berharap pengenalan keanekaragaman hayati dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap tumbuhan, serta apresiasi siswa terhadap potensi hayati di lingkungan sekitar.

Selengkapnya

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM

Selengkapnya

Farmasi UGM Ajak Warga Sompok Imogiri Menjaga sanitasi dan Buat Minuman Fermentasi

Bantul, 14 Oktober 2026 – Penyakit infeksi seperti diare, cacingan, dan infeksi kulit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari, mulai dari kebiasaan cuci tangan, kualitas air minum, pengelolaan jamban dan sampah, hingga keamanan makanan. Selain kebiasaan hidup bersih, pola makan yang baik turut menjaga daya tahan tubuh. Dua hal yang dekat dengan keseharian ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat Departemen Kimia Farmasi (DKF), Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, di Pendopo Padukuhan Sompok, Kelurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Rabu (14/10). Mengangkat tema “Penyuluhan Sanitasi Lingkungan dalam Pencegahan Penyakit Infeksi serta Praktik Pembuatan Minuman Kesehatan”, kegiatan ini memadukan edukasi kesehatan lingkungan dengan keterampilan membuat kombucha dan yogurt. Warga diajak memahami hubungan antara kebersihan lingkungan, penyediaan makanan sehat, keamanan pangan, dan kesehatan keluarga melalui penyuluhan, tanya jawab, serta praktik. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Carik Sriharjo, Kuswoyo, SH., dan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. ret. nat. apt. Endang Lukitaningsih, M.Si. Kegiatan yang didanai Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Farmasi UGM ini diinisiasi oleh Ketua Panitia, Prof. Dr. apt. Rumiyati, M.Si., sebagai kelanjutan pendampingan DKF bagi masyarakat Sompok. Pada tahun sebelumnya, DKF telah menyelenggarakan kegiatan peningkatan sanitasi dan edukasi kebersihan di wilayah tersebut. Pada sesi pertama, Prof. Dr. apt. Ratna Asmah Susidarti, M.Si. menyampaikan materi sanitasi lingkungan dalam pencegahan penyakit infeksi. Pembahasan mencakup penggunaan air yang aman, pemeliharaan jamban, kebersihan tangan, keamanan makanan, pengelolaan sampah, serta pengendalian nyamuk dan hewan pembawa penyakit. Melalui contoh sehari-hari, warga diajak mengenali bagaimana kuman dapat berpindah dari tangan ke makanan, atau dari lingkungan tercemar ke sumber air. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menyimpan air minum dalam wadah bersih dan tertutup, serta memisahkan makanan mentah dari makanan matang menjadi langkah sederhana untuk membantu memutus rantai penularan.  Perhatian juga diberikan pada penggunaan bahan kimia rumah tangga. Warga diingatkan untuk membaca petunjuk pemakaian, menggunakan produk sesuai peruntukannya, dan tidak sembarangan mencampur bahan pembersih. Pengelolaan sampah serta pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk turut dibahas sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan rumah tetap sehat. Sesi berikutnya beralih ke penjelasan dan praktik pembuatan kombucha, dipandu oleh Dr. apt. Riris Istighfari Jenie, M.Sc. bersama tim. Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh manis menggunakan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), yaitu kultur simbiotik bakteri dan khamir. Warga diperkenalkan pada proses menyiapkan teh manis, mendinginkannya, menambahkan SCOBY dan cairan starter, hingga melakukan fermentasi. Kebersihan tangan, alat, dan wadah menjadi benang merah yang menghubungkan praktik ini dengan materi sanitasi sebelumnya. Kombucha dengan tanda kontaminasi, seperti seperti tumbuhnya kapang (jamur berbulu) berwarna hijau, biru, atau hitam, atau berbau busuk, tidak boleh dikonsumsi. Selain proses pembuatannya, materi juga membahas kandungan senyawa bioaktif dan potensi manfaat kombucha. Bukti ilmiah manfaatnya pada manusia masih terus diteliti, sehingga minuman fermentasi ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat dan bukan pengganti pengobatan. Gizi seimbang, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup tetap menjadi dasar menjaga kesehatan tubuh. Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi pencegahan penyakit, serta SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pembahasan air yang aman dan kebersihan rumah tangga. Materi pengelolaan sampah dan penggunaan bahan kimia secara bijak juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui perpaduan penyuluhan dan praktik, pengetahuan dari kampus diharapkan semakin mudah diterapkan di rumah. Dari menjaga kebersihan tangan hingga menyiapkan minuman secara higienis, warga dapat mengambil peran dalam membangun kebiasaan sehat bagi keluarga dan lingkungan Sompok. Penulis: Raisatun Nisa dan Siti Nurul Hidayah | Foto: Tim PKM DKF

Selengkapnya

Tim Pengabdian DTMI FT UGM Hadirkan Teknologi Air Bersih Siap Minum bagi Warga Kampung Terban

Yogyakarta, 13 Oktober 2026 – Akses terhadap air minum yang aman dan layak konsumsi menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang perlu terus diperkuat. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) mengimplementasikan teknologi pengolahan air bersih siap minum bagi masyarakat RW 05 Kampung Terban, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Implementasi teknologi tersebut menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin Dr. Ir. Orchida Dianita, S.T., MBA, M.Sc. Kegiatan sekaligus dipantau melalui monitoring dan evaluasi (monev) FT UGM yang dilaksanakan pada Selasa (13/10). Kegiatan monev dihadiri oleh Tim Monev FT UGM, yaitu Prof. Rochim Bakti Cahyono, Dr. Dwi Joko Suroso, I Gde Budi Indrawan, Ph.D.,  Angga Fajar Setiawan, Ph.D., serta Dr.  Nur Abdillah Siddiq selaku Manajer Layanan Kerjasama, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni FT UGM. Kehadiran tim disambut oleh Ketua RW 05 Kampung Terban, Supriyanto, S.Sos., bersama sejumlah warga. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk melihat langsung implementasi teknologi sekaligus mendengarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat setelah program dilaksanakan. Program pengabdian DTMI FT UGM dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan yang meliputi sosialisasi, workshop, implementasi instalasi pengolahan air, pengujian fungsi, serta pelatihan kepada masyarakat. Dr. Orchida Dianita menjelaskan, kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya penyediaan air minum yang memenuhi standar kesehatan. Masyarakat kemudian diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja instalasi dan tata cara pengoperasiannya melalui workshop. “Tim melakukan pemasangan instalasi pengolahan air minum yang menggunakan sistem filtrasi bertingkat untuk menghilangkan partikel dan kontaminan. Sistem tersebut kemudian dilengkapi teknologi penyinaran ultraviolet (UV) sebagai tahap akhir desinfeksi untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme penyebab penyakit,” jelasnya. Menurut Dr. Orchida, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Karena itu, setelah proses implementasi dan pelatihan selesai, instalasi diserahkan kepada masyarakat RW 05 Kampung Terban untuk dikelola dan dimanfaatkan secara bersama. “Harapannya, masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan merawatnya sehingga manfaatnya dapat berlangsung secara berkelanjutan,” tambahnya. Bagi masyarakat Kampung Terban, kehadiran FT UGM melalui program pengabdian bukanlah hal yang baru. Hubungan antara DTMI FT UGM dan masyarakat Terban telah terjalin melalui berbagai kegiatan pengabdian sejak 2018. Supriyanto menyampaikan, sejumlah program sebelumnya telah memberikan manfaat langsung bagi warga, di antaranya pengelolaan dan distribusi air bersih serta pemasangan instalasi panel surya untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat. “Pengabdian ini bukan kali pertama. Ini merupakan rangkaian kegiatan pengabdian tim DTMI sejak tahun 2018. Mulai dari pengelolaan dan distribusi air bersih untuk masyarakat Terban sampai instalasi solar panel untuk kebutuhan listrik masyarakat,” ungkap Supriyanto. Menurutnya, berbagai program tersebut membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga. “Warga sangat terbantu karena bisa lebih berhemat, terutama untuk kebutuhan air bersih. Sekarang ada lagi pengabdian untuk air bersih siap minum dari tim Dr. Orchida Dianita,” lanjutnya. Supriyanto berharap kerja sama dan pendampingan FT UGM dapat terus berlanjut di Kampung Terban. Harapan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen tim pengabdian DTMI untuk terus mengembangkan program berdasarkan persoalan dan kebutuhan masyarakat. Selain melihat implementasi teknologi, kunjungan monev juga menjadi kesempatan bagi FT UGM untuk berdialog secara langsung dengan masyarakat. Dalam diskusi, sejumlah warga menyampaikan bahwa instalasi depot air minum yang sebelumnya telah tersedia masih menghadapi kendala dalam pengoperasiannya. Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi tim untuk melakukan evaluasi dan menentukan langkah pendampingan berikutnya. Bagi perguruan tinggi, keberhasilan sebuah program pengabdian tidak hanya diukur dari terpasangnya teknologi, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut dapat digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat secara nyata bagi masyarakat. Dr. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP., selaku Manajer Layanan Kerjasama, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni FT UGM, menyampaikan bahwa kegiatan yang dipimpin Dr. Orchida Dianita memiliki keterkaitan erat dengan visi FT UGM untuk memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar kampus. “Kegiatan ini sangat sejalan dengan visi Fakultas Teknik untuk mengabdi kepada lingkungan sekitar kampus. Kampung Terban juga berada sangat dekat dengan FT UGM, sehingga pengabdian seperti ini menjadi bentuk nyata bagaimana perguruan tinggi hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya. Ia menambahkan, keberlanjutan program perlu menjadi perhatian bersama agar teknologi yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan masyarakat. Implementasi teknologi air bersih siap minum di Kampung Terban menjadi salah satu contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kegiatan ini sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan air minum yang aman; SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui peningkatan akses terhadap air berkualitas; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peluang pengembangan usaha berbasis air minum siap konsumsi; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan teknologi tepat guna; serta SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui dukungan terhadap infrastruktur dasar masyarakat perkotaan.   Bagi FT UGM, pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang untuk memastikan bahwa hasil riset, pengetahuan, dan inovasi tidak berhenti di lingkungan akademik. Teknologi perlu hadir dalam bentuk yang relevan, dapat digunakan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kegiatan monev kemudian ditutup dengan peninjauan langsung instalasi air minum di Kampung Terban. Tim FT UGM bersama masyarakat melihat kondisi instalasi sekaligus berdiskusi mengenai pengoperasian dan kebutuhan pengembangan ke depan. Dari Kampung Terban, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat kembali menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus hadir dalam skala besar. Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan nyata, teknologi dapat menjadi solusi yang sederhana, dekat, dan berdampak. (Opal/HumasFT)

Selengkapnya

Tanggap Bencana Kekeringan, Mahasiswa UGM Kirim 250 Ribu Liter Air Bersih ke Gunungkidul

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP UGM) menyalurkan bantuan 50 tangki air bersih dengan total volume sekitar 250.000 liter kepada masyarakat terdampak kekeringan di Kalurahan Terbah, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu, (11/10). Norol Latifah, Ketua Umum HMP UGM, menyampaikan rasa prihatin atas kondisi yang dialami warga Gunungkidul saat musim kemarau ini. Bahkan beberapa dari mereka harus menjual hasil pertanian seperti singkong untuk mendapatkan air bersih. Ia berharap adanya bantuan yang disalurkan dapat memberikan sedikit keringanan di tengah kesulitan yang dihadapi. “Mungkin bantuan ini belum dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang ada, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban masyarakat. Kami juga berharap musim hujan segera tiba sehingga kekeringan ini berangsur berakhir dan warga lebih mudah mendapatkan air bersih,” ujarnya, Selasa (13/10). Ia menyampaikan dari total bantuan yang disiapkan, 175.000 liter air bersih disalurkan pada tahap awal untuk masyarakat Padukuhan Karang dan Kayugrit. Sementara 75.000 liter sisanya direncanakan untuk disalurkan ke wilayah terdampak lainnya. Penyaluran dilakukan secara bertahap menggunakan armada tangki air menuju titik-titik penerima, termasuk pemukiman warga, tempat ibadah, dan fasilitas pendidikan, dengan rata-rata empat hingga lima tangki setiap harinya bergantung pada kapasitas tampung yang tersedia di masing-masing titik. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Kemahasiswaan UGM yang telah memfasilitasi anggaran, kemudian CSR Bimasakti, Pemerintah Kalurahan Terbah, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan penyaluran bantuan,” ungkap Norol. Lurah Terbah, Giyanto, menjelaskan bahwa kekeringan merupakan persoalan yang berulang di wilayahnya setiap musim kemarau. Dari enam padukuhan yang ada di Kalurahan Terbah, sejumlah wilayah mengalami dampak kekeringan yang cukup serius, sementara upaya penyediaan air melalui sumur bor yang telah dilakukan sebelumnya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan warga ketika musim kemarau tiba. “Selama musim penghujan, ketersediaan air masih cukup. Namun, ketika musim kemarau, air yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Giyanto juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu. Ia berharap kedepannya dari berbagai pihak dapat melanjutkan kerja sama ini untuk mengatasi persoalan kekeringan sehingga masyarakat tidak bergantung pada bantuan air tangki setiap kemarau datang. “Kami mengucapkan terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu warga kami. Semoga bantuan ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi berkah bagi semua,” harapnya. Selain penyaluran air bersih, HMP UGM berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dengan pemerintah setempat dan berbagai pihak terkait. Salah satu rencana tindak lanjutnya dengan penghijauan melalui penanaman pohon, termasuk pohon beringin, sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mendukung kemampuan kawasan dalam menyimpan air untuk jangka panjang. Melalui kegiatan ini, HMP UGM menegaskan bahwa kepedulian mahasiswa pascasarjana UGM tidak hanya terwujud dalam pencapaian akademik, tetapi juga dalam aksi nyata yang merespons kebutuhan masyarakat paling mendasar yaitu ketersediaan air bersih yang layak bagi setiap warga. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok.HMP UGM

Selengkapnya

Dukung Pertanian Berkelanjutan, UGM Serahkan Bantuan Alsintan di Bantul

BANTUL – Universitas Gadjah Mada (UGM) melaui kerja sama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan Center for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) dan Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa chopper dan thresher di Dusun Japuhan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (2/10/2026). Penyerahan alsintan kepada Kelompok Ternak "Lembu Suro" dan Kelompok Wanita Tani (KWT) ini menjadi langkah nyata UGM dalam mendukung modernisasi pertanian ramah lingkungan serta mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan yang merupakan bagian dari program "Scaling Crop Residue Management Through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia" ini selaras dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan (peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan), SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (pengelolaan limbah tanaman/ekonomi sirkular), SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multisektor antara akademisi UGM, pemerintah daerah melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan kelompok masyarakat. Acara serah terima tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM Dr. Arifin Dwi Saputro, Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM Prof. Lilik Sutiarso, anggota tim Dr. Radi dan Dr. Sri Markumningsih, serta teknisi Marheri. Turut hadir Penyuluh Pertanian BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., serta Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM, Prof. Lilik Sutiarso, mengapresiasi komitmen para petani dan peternak di Dusun Japuhan yang dinilai sangat aktif dan maksimal dalam memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian. "Lokasi Japuhan ini bahkan akan kita jadikan salah satu daerah percontohan bagi laporan di skala nasional dan internasional. Saya berharap alat ini dapat dimaksimalkan melalui berbagai skema kerja sama yang ada agar kegiatan pertanian dan peternakan di Dusun Japuhan dapat terus berkelanjutan (sustainable)," ujar Prof. Lilik. Ketua DTPB UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, menambahkan bahwa keaktifan kelompok tani lokal yang mampu mengoperasikan hingga 90 persen hibah peralatan dari program sebelumnya menjadi alasan kuat UGM untuk terus memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan. "Harapan kami setelah serah terima ini tidak berhenti di sini. Kami di departemen memiliki laboratorium khusus yang menangani alat dan mesin pertanian, sehingga apabila Bapak dan Ibu mengalami kendala atau hendak melakukan modifikasi alat yang kami hibahkan, dapat berkunjung ke laboratorium kami," kata Dr. Arifin. Perwakilan dari BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian UGM terhadap kemajuan sektor pertanian di wilayahnya. Ia mengimbau para penerima manfaat untuk terus merawat alsintan yang diberikan agar dapat menyokong perekonomian dan kesejahteraan warga Desa Sidomulyo. Rasa syukur turut dirasakan oleh Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ia mengungkapkan bahwa pendampingan dari DTPB FTP UGM yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu memberikan dampak nyata bagi efisiensi kerja kelompoknya. "Terima kasih atas perhatian UGM kepada kelompok kami. Ini menjadi 'Jumat Berkah' bagi kami karena bantuan alat dan mesin ini akan sangat membantu serta mempermudah aktivitas sehari-hari anggota kelompok ternak," tutur Paijo. Melalui program pendampingan dan modernisasi alsintan ini, DTPB FTP UGM menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan tata kelola pertanian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat desa.