BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Dukung Pertanian Berkelanjutan, UGM Serahkan Bantuan Alsintan di Bantul

BANTUL – Universitas Gadjah Mada (UGM) melaui kerja sama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan Center for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) dan Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa chopper dan thresher di Dusun Japuhan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (2/10/2026). Penyerahan alsintan kepada Kelompok Ternak "Lembu Suro" dan Kelompok Wanita Tani (KWT) ini menjadi langkah nyata UGM dalam mendukung modernisasi pertanian ramah lingkungan serta mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan yang merupakan bagian dari program "Scaling Crop Residue Management Through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia" ini selaras dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan (peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan), SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (pengelolaan limbah tanaman/ekonomi sirkular), SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multisektor antara akademisi UGM, pemerintah daerah melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan kelompok masyarakat. Acara serah terima tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM Dr. Arifin Dwi Saputro, Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM Prof. Lilik Sutiarso, anggota tim Dr. Radi dan Dr. Sri Markumningsih, serta teknisi Marheri. Turut hadir Penyuluh Pertanian BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., serta Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM, Prof. Lilik Sutiarso, mengapresiasi komitmen para petani dan peternak di Dusun Japuhan yang dinilai sangat aktif dan maksimal dalam memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian. "Lokasi Japuhan ini bahkan akan kita jadikan salah satu daerah percontohan bagi laporan di skala nasional dan internasional. Saya berharap alat ini dapat dimaksimalkan melalui berbagai skema kerja sama yang ada agar kegiatan pertanian dan peternakan di Dusun Japuhan dapat terus berkelanjutan (sustainable)," ujar Prof. Lilik. Ketua DTPB UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, menambahkan bahwa keaktifan kelompok tani lokal yang mampu mengoperasikan hingga 90 persen hibah peralatan dari program sebelumnya menjadi alasan kuat UGM untuk terus memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan. "Harapan kami setelah serah terima ini tidak berhenti di sini. Kami di departemen memiliki laboratorium khusus yang menangani alat dan mesin pertanian, sehingga apabila Bapak dan Ibu mengalami kendala atau hendak melakukan modifikasi alat yang kami hibahkan, dapat berkunjung ke laboratorium kami," kata Dr. Arifin. Perwakilan dari BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian UGM terhadap kemajuan sektor pertanian di wilayahnya. Ia mengimbau para penerima manfaat untuk terus merawat alsintan yang diberikan agar dapat menyokong perekonomian dan kesejahteraan warga Desa Sidomulyo. Rasa syukur turut dirasakan oleh Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ia mengungkapkan bahwa pendampingan dari DTPB FTP UGM yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu memberikan dampak nyata bagi efisiensi kerja kelompoknya. "Terima kasih atas perhatian UGM kepada kelompok kami. Ini menjadi 'Jumat Berkah' bagi kami karena bantuan alat dan mesin ini akan sangat membantu serta mempermudah aktivitas sehari-hari anggota kelompok ternak," tutur Paijo. Melalui program pendampingan dan modernisasi alsintan ini, DTPB FTP UGM menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan tata kelola pertanian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat desa.

Lanjut Baca

Program Pengabdian Masyarakat UGM Hadirkan Teknologi Evaporator dan Kristalisator bagi Produsen Gula Semut Banyumas

Banyumas, 31 Mei 2026 – Menjawab tantangan peningkatan mutu gula semut untuk pasar ekspor, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menerapkan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini bertujuan meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi gula semut melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar, sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Banyumas di pasar internasional. Program Community Development berbasis riset aplikatif dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan berjudul “Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas” ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, bersama tim dosen lintas bidang, yaitu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia. Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan survei, sosialisasi, pelatihan, dan penyusunan laporan. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah KOPIPO. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan gula semut sebagai pemanis alami di pasar domestik maupun internasional. Gula semut memiliki berbagai keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki umur simpan yang lebih panjang, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik. Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan terhadap gula semut terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. [caption id="attachment_15150" align="alignnone" width="1024"] Proses Pemasakan Nira Kelapa menjadi Semut secara Tradisional[/caption] Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan, menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia untuk komoditas tersebut. Salah satu sentra produksi utama gula semut nasional adalah Kabupaten Banyumas. Menurut data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada tahun 2024 dan berkontribusi sekitar 40–50 persen terhadap produksi gula kelapa nasional, sehingga menjadi salah satu wilayah terpenting dalam rantai pasok gula semut Indonesia. Meskipun memiliki potensi pasar yang besar, proses produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi berbagai kendala, seperti ketidakseragaman mutu produk, keterbatasan pengendalian proses, dan tingginya ketergantungan pada keterampilan operator. Proses evaporasi nira umumnya masih dilakukan secara konvensional, sementara proses kristalisasi masih banyak bergantung pada pengalaman produsen. Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional. Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator dirancang untuk mengentalkan nira hingga mencapai kondisi siap kristalisasi dengan suhu yang lebih terkendali. Sementara itu, kristalisator digunakan untuk membantu proses pembentukan kristal gula semut agar lebih cepat dan seragam. [caption id="attachment_15149" align="alignnone" width="1024"] Pelatihan pengoperasian evaporator gula semut[/caption] Dr. Sri Rahayoe menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. “Selama ini proses produksi gula semut masih sangat bergantung pada pengalaman operator sehingga kualitas produk sering kali tidak seragam. Melalui penerapan evaporator dan kristalisator tepat guna, kami berharap proses pengolahan menjadi lebih terukur, efisien, dan menghasilkan gula semut dengan mutu yang lebih konsisten sesuai kebutuhan pasar ekspor,” ujarnya. [caption id="attachment_15151" align="alignnone" width="1024"] Alat Kristalisator (kanan) dan Evaporator (kiri) Gula Semut yang dihibahkan kepada Petani Produsen Gula Semut[/caption] Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup serangkaian pelatihan dan transfer pengetahuan yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keahlian. Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc. menyampaikan materi mengenai penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) proses produksi dan standar mutu gula semut untuk mendukung konsistensi kualitas produk. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D. memaparkan inovasi rekayasa alat pendukung penderesan nira kelapa serta pengembangan (improvement) teknologi kristalisator dan evaporator gula semut guna meningkatkan efisiensi dan keamanan proses produksi. Sementara itu, mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin, berbagi pengalaman mengenai budidaya dan pemanfaatan tanaman kelapa di Malaysia sebagai bagian dari praktik terbaik pengembangan industri kelapa yang berkelanjutan. [caption id="attachment_15152" align="alignnone" width="1024"] Prof. Rosnah menjelaskan materi budidaya kelapa dan pemanfaatannya di Malaysia[/caption] Kegiatan juga mencakup pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, penanganan pascapanen nira kelapa, serta praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan oleh Tim Fakultas Teknologi Pertanian UGM. [caption id="attachment_15153" align="alignnone" width="1024"] Prof. Eni Harmayani memberikan pelatihan GMP dan HACCP guna menjaga kualitas gula semut[/caption] Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Dr. Sri Rahayoe beserta tim dalam mengembangkan program berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana hasil riset dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan desa. “Saya memberikan apresiasi kepada Bu Yayuk atas inisiatif kegiatan ini. Program ini sangat baik karena mempertemukan unsur akademisi, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem pengembangan yang saling mendukung. FTP UGM akan selalu mendukung upaya mewujudkan kemandirian pangan, di mana desa dapat menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Dari pelatihan ini kami berharap terjadi transfer teknologi dan penguatan jejaring yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan asli desa (PAD) serta kesejahteraan masyarakat,” ungkap Prof. Eni. Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Mario Ngensowidjaja, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC). Dalam wawancara daring, ia menilai kolaborasi antara UGM dan industri memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas dan konsistensi produksi gula semut di tingkat petani. “Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki UGM, kegiatan pelatihan ini sangat membantu dalam menjaga kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membuat kegiatan pascapanen menjadi lebih terukur. Kerja sama antara UGM dan IMC membantu petani memahami proses yang mereka kerjakan dengan lebih baik sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan lebih konsisten,” ujarnya. Mario menambahkan bahwa pihaknya berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Harapan kami, kerja sama ini dapat terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan membantu pengembangan produksi gula kelapa dengan mutu yang semakin baik serta volume yang semakin besar. Dengan demikian, Indonesia dapat semakin dikenal sebagai salah satu produsen gula kelapa berkualitas di dunia,” tambahnya. Salah satu petani peserta kegiatan, Bapak Mukamil, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari materi dan pelatihan yang diberikan selama program berlangsung. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai proses produksi gula semut, tetapi juga meningkatkan kesadaran para petani akan pentingnya menjaga mutu produk secara berkelanjutan. “Materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menyadarkan dan memberikan semangat kepada kami untuk bersama-sama menjaga kualitas nira dan gula semut yang kami produksi. Kami jadi lebih memahami bahwa kualitas yang baik merupakan kunci agar produk kami dapat terus diterima di pasar,” ujar Mukamil. Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, menyampaikan bahwa penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani. “Keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga mutu secara konsisten. Karena itu, selain menyediakan teknologi, kami juga memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyusunan SOP, dan pengendalian mutu agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar pasar global,” jelasnya. Program ini juga diarahkan untuk mendukung produksi gula semut yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan. Budidaya kelapa genjah menjadi salah satu bagian penting dalam program karena tanaman ini memiliki batang lebih rendah dibandingkan kelapa dalam, sehingga proses penderesan nira dapat dilakukan dengan lebih aman dan berpotensi membuka ruang keterlibatan yang lebih luas bagi perempuan dan generasi muda. [caption id="attachment_15148" align="alignnone" width="1024"] Gula Semut hasil pelatihan bersama para produsen gula semut[/caption] Luaran utama dari kegiatan ini meliputi terpasangnya unit evaporator dan kristalisator yang operasional, meningkatnya kompetensi petani dan operator dalam penggunaan alat, tersusunnya SOP produksi dan mutu, serta terlaksananya sistem pengendalian mutu internal di tingkat kelompok. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengolahan gula semut berbasis teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di wilayah sentra produksi gula semut lainnya. Melalui kegiatan ini, UGM berkomitmen untuk mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, memperkuat kapasitas petani, meningkatkan mutu produk lokal, serta mendukung daya saing gula semut Indonesia di pasar global.