BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM

Lanjut Baca

Tanggap Bencana Kekeringan, Mahasiswa UGM Kirim 250 Ribu Liter Air Bersih ke Gunungkidul

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP UGM) menyalurkan bantuan 50 tangki air bersih dengan total volume sekitar 250.000 liter kepada masyarakat terdampak kekeringan di Kalurahan Terbah, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu, (11/10). Norol Latifah, Ketua Umum HMP UGM, menyampaikan rasa prihatin atas kondisi yang dialami warga Gunungkidul saat musim kemarau ini. Bahkan beberapa dari mereka harus menjual hasil pertanian seperti singkong untuk mendapatkan air bersih. Ia berharap adanya bantuan yang disalurkan dapat memberikan sedikit keringanan di tengah kesulitan yang dihadapi. “Mungkin bantuan ini belum dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang ada, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban masyarakat. Kami juga berharap musim hujan segera tiba sehingga kekeringan ini berangsur berakhir dan warga lebih mudah mendapatkan air bersih,” ujarnya, Selasa (13/10). Ia menyampaikan dari total bantuan yang disiapkan, 175.000 liter air bersih disalurkan pada tahap awal untuk masyarakat Padukuhan Karang dan Kayugrit. Sementara 75.000 liter sisanya direncanakan untuk disalurkan ke wilayah terdampak lainnya. Penyaluran dilakukan secara bertahap menggunakan armada tangki air menuju titik-titik penerima, termasuk pemukiman warga, tempat ibadah, dan fasilitas pendidikan, dengan rata-rata empat hingga lima tangki setiap harinya bergantung pada kapasitas tampung yang tersedia di masing-masing titik. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Kemahasiswaan UGM yang telah memfasilitasi anggaran, kemudian CSR Bimasakti, Pemerintah Kalurahan Terbah, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan penyaluran bantuan,” ungkap Norol. Lurah Terbah, Giyanto, menjelaskan bahwa kekeringan merupakan persoalan yang berulang di wilayahnya setiap musim kemarau. Dari enam padukuhan yang ada di Kalurahan Terbah, sejumlah wilayah mengalami dampak kekeringan yang cukup serius, sementara upaya penyediaan air melalui sumur bor yang telah dilakukan sebelumnya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan warga ketika musim kemarau tiba. “Selama musim penghujan, ketersediaan air masih cukup. Namun, ketika musim kemarau, air yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Giyanto juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu. Ia berharap kedepannya dari berbagai pihak dapat melanjutkan kerja sama ini untuk mengatasi persoalan kekeringan sehingga masyarakat tidak bergantung pada bantuan air tangki setiap kemarau datang. “Kami mengucapkan terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu warga kami. Semoga bantuan ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi berkah bagi semua,” harapnya. Selain penyaluran air bersih, HMP UGM berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dengan pemerintah setempat dan berbagai pihak terkait. Salah satu rencana tindak lanjutnya dengan penghijauan melalui penanaman pohon, termasuk pohon beringin, sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mendukung kemampuan kawasan dalam menyimpan air untuk jangka panjang. Melalui kegiatan ini, HMP UGM menegaskan bahwa kepedulian mahasiswa pascasarjana UGM tidak hanya terwujud dalam pencapaian akademik, tetapi juga dalam aksi nyata yang merespons kebutuhan masyarakat paling mendasar yaitu ketersediaan air bersih yang layak bagi setiap warga. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok.HMP UGM

Selengkapnya

Cerita Mahasiswa Jepang Ikut Mengabdi di Desa

Sebanyak 5 orang mahasiswa asal Jepang bersama 14 mahasiswa UGM berkolaborasi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat selama 10 hari di Imogiri, Bantul. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan sebagai wujud penguatan kolaborasi internasional serta pembelajaran berbasis pengabdian pada masyarakat melalui pembelajaran lintas budaya melalui Program pertukaran mahasiswa Six University Initiative Japan Indonesia - Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026. Kelima mahasiswa Jepang ini terdiri dari mahasiswa dari Ehime University, 1 mahasiswa dari Kagawa University, dan 1 mahasiswa dari Kochi University. Sedangkan 14 mahasiswa UGM dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Ryoma, mahasiswa asal Jepang dari Kagawa University, menyampaikan pengalamannya melihat perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia selama mengikuti kegiatan di Imogiri, Bantul. Menurut Ryoma, salah satu hal yang paling ia rasakan selama mengikuti program tersebut adalah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun dalam budaya makanan. Selain itu, ia menyampaikan terdapat pula tantangan yang ditemuinya berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat mengenai permasalahan pertanian, khususnya terkait hama pada tanaman padi. “Saya tertarik pada permasalahan padi di desa tersebut. Dari wawancara dengan beberapa warga, saya menemukan adanya perbedaan pendapat mengenai hama tanaman padi dan cara penanganannya, sehingga hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memahami kondisi yang sebenarnya,” tutup Ryoma dalam Closing Ceremony & Farewell Dinner yang digelar pada Kamis (5/3) di Operation Room, Gedung Unit I, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kegiatan penutupan ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama mengikuti program pengabdian masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul. Selama program berlangsung, mahasiswa melakukan observasi desa dan wawancara dengan warga untuk memahami kondisi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai kegiatan budaya bersama masyarakat seperti lokakarya eco-print, membuat makanan ringan Indonesia, belajar membatik, hingga memainkan gamelan. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi peternakan domba, serta mempelajari pembuatan jamu dan tempe bersama warga desa. Menanggapi presentasi mahasiswa, Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional UGM, Tyas Ikhsan Himawan, S.Si., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam program SUIJI-SLP 2026. Ia menambahkan bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi universitas. “Di UGM kami sangat menghargai program kolaborasi internasional karena kami menyadari bahwa dengan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang akan memberikan dampak yang lebih besar, tidak hanya di bidang akademik dan riset tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan pedesaan dan praktik pertanian melalui adanya kolaborasi lintas negara ini. Ia menilai bahwa interaksi mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Jepang selama kegiatan pengabdian merupakan langkah awal dalam mewujudkan berbagai gagasan dalam meningkatkan praktik pertanian dan kehidupan masyarakat desa. “Kalian belajar tidak hanya tentang pertanian tetapi juga kehidupan pedesaan serta hubungan sosial masyarakat desa, dan pada akhirnya kalian dapat bekerja sama untuk mengusulkan berbagai ide guna meningkatkan kehidupan masyarakat desa dan praktik pertanian di lapangan,” tuturnya. Assoc. Prof. Dr. Kazuya Masuda, selaku pendamping program SUIJI-SLP 2026 dari Kochi University, juga turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan selama program berlangsung. Ia berharap berjalannya program ini dapat menjadi momentum awal terjalin hubungan erat antara mahasiswa dari kedua negara dapat terus dipertahankan hingga setelah program berakhir. “Saya telah berpartisipasi dalam program ini sejak 2017. Setiap kali mengikuti program ini, saya selalu menemukan hal baru. Terima kasih banyak karena telah menerima kami dan juga atas dukungan yang baik serta keramahan yang hangat. Semoga kedepannya para mahasiswa dapat terus menjaga komunikasi dan persahabatan yang telah terjalin melalui program ini,” ujarnya. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dari Indonesia dan Jepang yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Ia menilai program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, serta berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi dan kepemimpinan global di masa depan. “Lebih dari sekadar kegiatan akademik. Program ini menjadi wadah pembelajaran lintas budaya dan saling memahami, di mana mahasiswa tidak hanya belajar dari ruang kelas tetapi juga langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, dan berbagai tantangan nyata terkait keberlanjutan,” tuturnya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine