BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

FMIPA UGM Salurkan 10 Tangki Air Bersih untuk Bantu Warga Kamal Hadapi Kekeringan

Pengabdian Laboratorium Kimia Organik menghubungkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga dengan penguatan pengetahuan pertanian di Gunungkidul. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyalurkan bantuan 10 tangki air bersih bagi warga Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 500 jiwa yang menghadapi keterbatasan pasokan air pada musim kemarau. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Melalui kegiatan ini, dosen dan tenaga kependidikan merespons kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan warga di wilayah pendampingan. Membantu Memenuhi Kebutuhan Dasar Warga Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memengaruhi berbagai kegiatan rumah tangga. Bagi warga yang mengalami keterbatasan sumber air selama kemarau, tambahan pasokan diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Dr. Yehezkiel Steven K., M.Eng., dan Dr. Sugeng Triono, M.Si., yang mewakili tim dosen dan tenaga kependidikan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Kegiatan tersebut menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian perguruan tinggi. Kehadiran tim di tengah warga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa kebutuhan masyarakat perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan bentuk kontribusi kampus. Bantuan air bersih ini merupakan respons terhadap kebutuhan saat ini. Keberlanjutan akses air tetap menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama, sehingga manfaat bantuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau. Pengabdian yang Menjangkau Air Bersih dan Pertanian Pada hari yang sama, tim Laboratorium Kimia Organik juga menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung. Kegiatan tersebut memberikan pembekalan bagi petani dan pekebun dari Wunung, Duwet, dan Mulo untuk mengenali gangguan tanaman serta memahami langkah pengendalian yang sesuai. Kedua kegiatan menjangkau kebutuhan masyarakat yang saling berkaitan. Pasokan air membantu kebutuhan dasar rumah tangga, sementara pembelajaran pertanian diharapkan memperkuat kemampuan warga dalam menjaga tanaman dan mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dalam rangkaian pengabdian ini, FMIPA UGM menghubungkan kepedulian sosial dengan pemanfaatan kepakaran. Bantuan air diberikan sesuai kebutuhan warga, sedangkan pengetahuan ilmiah dihadirkan melalui pembekalan teknis pertanian yang relevan dengan kondisi setempat. Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Penyaluran bantuan air bersih sejalan dengan SDGs Poin 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya aspek akses terhadap air bersih. Kontribusi kegiatan ini terletak pada penyediaan tambahan pasokan bagi warga yang membutuhkan, tanpa menyamakan bantuan sementara dengan penyelesaian menyeluruh persoalan akses air. Sementara itu, bimbingan teknis pertanian mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas pangan. Materi pengelolaan gangguan tanaman secara berkelanjutan juga berkaitan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan. Memperkuat Budaya Akademik yang Peduli Keterlibatan dosen dan tenaga kependidikan memperlihatkan bahwa kontribusi kampus dapat hadir melalui kepakaran maupun tindakan sosial. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat keberlanjutan peran almamater di masyarakat. Bagi calon mahasiswa, pengabdian tersebut menunjukkan kesempatan untuk belajar memahami persoalan kehidupan melalui keterlibatan langsung. Ke depan, hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat dapat menjadi landasan pengembangan kolaborasi bersama mitra. Dengan mendengarkan kebutuhan warga dan mengevaluasi manfaat kegiatan, FMIPA UGM dapat terus memperluas kontribusi pengabdian yang relevan, terarah, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan global dari tingkat lokal. Penulis : Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Foto : Yehezkiel Steven Kurniawan Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG 15: Ekosistem Daratan

Lanjut Baca

Sains Menjawab Tantangan Pertanian, FMIPA UGM Perkuat Kapasitas Petani Gunungkidul

Laboratorium Kimia Organik mempertemukan kepakaran lintas lembaga untuk mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan melalui program desa binaan. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Melalui pemaparan ahli lintas lembaga, kegiatan ini membekali petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo dengan pengetahuan untuk mengenali gangguan tanaman serta menentukan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan. Diketuai oleh Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran akademik untuk membantu menjaga produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani. Membawa Pengetahuan Ilmiah ke Persoalan Sehari-hari Bagi masyarakat Wunung, Duwet, dan Mulo, pertanian dan perkebunan merupakan sumber penghidupan penting. Padi, kacang tanah, jagung, cabai, bawang merah, alpukat, dan mangga menjadi bagian dari potensi setempat. Namun, serangan hama dan penyakit dapat mengurangi hasil panen sekaligus menekan pendapatan keluarga. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit, pemahaman gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Pengetahuan ini diharapkan membantu petani melakukan deteksi dini dan memilih tindakan berdasarkan penyebab gangguan. Prinsipnya sederhana: mengenali masalah dengan tepat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Melalui pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu, petani didorong mempertimbangkan kondisi pertanaman dan keberlanjutan lingkungan dalam mengambil keputusan. Menghubungkan Perlindungan Tanaman dan Konservasi Selain hama dan penyakit tanaman, masyarakat menghadapi gangguan monyet pada lahan pertanian dan perkebunan. Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian, keselamatan warga, dan konservasi satwa liar. Edi Warsito dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul memberikan informasi mengenai persoalan tersebut beserta kendala penanganannya. Pemaparan ini memperlihatkan pentingnya koordinasi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang dalam menyusun langkah yang terarah. Kehadiran narasumber dari UGM, BRIN, dan BKSDA menunjukkan pendekatan lintas keahlian yang dibutuhkan untuk memahami persoalan pertanian secara menyeluruh. FMIPA UGM mengambil peran sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan kewenangan lembaga terkait. Kontribusi Nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Kegiatan ini mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan, terutama melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kemampuan mengenali gangguan tanaman sejak dini diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dukungan terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui akses pembelajaran bagi masyarakat di luar ruang kuliah. Kepakaran perguruan tinggi dan lembaga penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan praktis yang relevan dengan pekerjaan petani. Pembahasan gangguan satwa liar juga sejalan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan, dengan menempatkan perlindungan tanaman dalam pertimbangan konservasi. Sementara itu, keterlibatan berbagai lembaga dan masyarakat mencerminkan SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kontribusi tersebut merupakan arah yang didukung program; dampak jangka panjangnya memerlukan penerapan dan evaluasi berkelanjutan.   Menumbuhkan Kemitraan, Memperluas Manfaat Sains Kepala Laboratorium Kimia Organik, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian tahunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lurah Wunung, Sudarto, berharap pengetahuan yang dibagikan dapat membantu petani dan pekebun mengatasi persoalan di lapangan. Pelaksanaan program didukung seluruh dosen dan karyawan Laboratorium Kimia Organik. Kerja bersama ini memperlihatkan peran sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam menghadirkan manfaat perguruan tinggi di tengah masyarakat. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi alasan untuk terus bangga dan terlibat dalam kontribusi almamater. Bagi calon mahasiswa, program tersebut memperlihatkan bahwa belajar sains membuka kesempatan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata. Bagi mitra, kegiatan ini memperlihatkan ruang kolaborasi berbasis kepakaran dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kesinambungan pendampingan dan evaluasi penerapan pengetahuan menjadi langkah penting agar manfaat program semakin kuat. Dari desa binaan, FMIPA UGM meneguhkan kontribusi lokal menuju tujuan pembangunan global: pertanian yang tangguh, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang semakin berdaya. Penulis: Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Fotografer: Robby Noor Cahyono Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Selengkapnya

VKTR dan DTM SV UGM Jajaki Co-Lab Bengkel Perawatan Kendaraan Listrik untuk Pembelajaran Mahasiswa

YOGYAKARTA – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyatakan antusiasmenya untuk membuka kolaborasi dengan Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (DTM SV UGM) dalam membangun laboratorium kolaborasi (co-lab) berupa bengkel perawatan (maintenance workshop) kendaraan listrik di DTM SV UGM. Gagasan ini mengemuka dalam kunjungan VKTR ke DTM SV UGM pada Selasa, 20 Oktober 2026. VKTR diwakili oleh Y. Leonardi, Deputy Vice President, Aftersales & Account Management, dan M. Nurkhozin, Manager, Aftersales & Warranty. Fasilitas ini ditujukan sebagai sarana belajar bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Sarjana Terapan Teknik Pengelolaan dan Perawatan Alat Berat (TPPAB), untuk mempelajari perawatan unit-unit VKTR secara langsung. Calon lokasinya berada di area Laboratorium Perawatan Mesin Industri (Alat Berat) DTM SV UGM, di kompleks Fakultas Teknik UGM, Jalan Grafika, Yogyakarta. Rencana co-lab ini akan dibahas lebih lanjut oleh kedua pihak. Mengapa co-lab bengkel perawatan? Seiring bertambahnya armada bus, truk, dan alat berat listrik VKTR, kebutuhan akan teknisi dan rekayasawan perawatan yang memahami sistem kendaraan listrik juga meningkat. Dengan co-lab bengkel perawatan di DTM SV UGM, mahasiswa dapat berlatih pada unit dan komponen nyata, mulai dari inspeksi berkala, diagnosis sistem kelistrikan dan tegangan tinggi (high-voltage/HV), hingga perawatan sistem rem, suspensi, dan penggerak. Pembelajaran itu berlangsung di bawah standar keselamatan dan prosedur VKTR. Fasilitas ini juga relevan dengan armada yang sudah ada di UGM. Pada Mei 2024, Kementerian Investasi/BKPM menghibahkan tiga unit bus listrik produksi VKTR kepada UGM untuk mendukung mobilitas sivitas akademika dan program kampus hijau. Dalam kunjungan ini, tim VKTR bersama DTM SV UGM meninjau langsung bus listrik VKTR milik UGM beserta stasiun pengisian dayanya. Ke depan, co-lab di DTM SV UGM berpotensi mendukung perawatan unit-unit tersebut sekaligus menjadikannya media belajar mahasiswa. Apa saja yang akan dibahas lebih lanjut? Lingkup co-lab yang akan dijajaki bersama meliputi: Area perawatan kendaraan listrik untuk praktik inspeksi, diagnosis, dan perbaikan unit VKTR. Area pelatihan keselamatan tegangan tinggi (HV safety) bagi mahasiswa, teknisi VKTR, dan guru SMK. Pembelajaran berbasis unit nyata yang terintegrasi dengan Kurikulum 2026 (K26) TPPAB, termasuk magang, capstone project, dan sertifikasi kompetensi. Solution engineering untuk model perawatan dan remanufacturing komponen di bagian purnajual VKTR. Rencana ini sejalan dengan Peta Jalan Keunggulan TPPAB, yang menargetkan hadirnya laboratorium kerja sama industri pada periode 2025–2030. “Kami menyambut baik gagasan co-lab bengkel perawatan di DTM SV UGM. Fasilitas ini dapat menjadi tempat mahasiswa belajar langsung merawat unit-unit VKTR,” ujar Y. Leonardi. Melengkapi langkah DTMI FT UGM Inisiatif ini sejalan dengan penjajakan kolaborasi yang lebih dahulu dilakukan Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM (DTMI FT UGM) dengan PT VKTR Sakti Industries di Magelang pada Juli 2026. Kedua departemen mengambil peran yang saling melengkapi: DTMI FT UGM berfokus pada riset dan pengembangan produk, seperti baterai, sistem pendingin, powertrain, telematika, dan material komposit. DTM SV UGM, melalui TPPAB, berfokus pada operasi armada, perawatan, purnajual, dan penyiapan teknisi bersertifikat. Dengan begitu, UGM hadir di sepanjang siklus hidup kendaraan listrik VKTR, dari rancang bangun hingga perawatan di lapangan. Dukungan terhadap SDGs SDG 4 – Pendidikan Berkualitas: fasilitas praktik perawatan kendaraan listrik untuk mahasiswa vokasi. SDG 7 – Energi Bersih dan Terjangkau: dukungan pada operasi armada listrik yang andal. SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi: teknisi dan rekayasawan perawatan siap kerja. SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur: co-lab industri–kampus sebagai infrastruktur pembelajaran. SDG 11 – Kota dan Permukiman Berkelanjutan: mendukung bus listrik kampus hijau UGM. SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan: kemitraan UGM–VKTR lintas departemen.

Selengkapnya

Pantau Bencana dan Salurkan Bantuan, Drone GAMAFORCE UGM Raih Juara 3 Piala Panglima TNI

Tim Akasmatika Wijaya, salah satu subtim Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil menempati peringkat ketiga kategori Drone Militer, SAR & Bantuan Kebencanaan. Kejuaraan itu adalah Open Tournament Pengembangan Drone Piala Panglima TNI dan Festival Drone Nusantara 2026, yang digelar Kodiklat TNI di Kompleks Kodiklat TNI pada 22–26 September 2026. Sekitar 30 tim dari kampus dan industri drone dalam negeri ikut serta. Setiap peserta merancang drone sesuai gagasan dan kebutuhan misi yang mereka ajukan sendiri. Rancangan itu dipaparkan dalam sesi pitch deck, lalu dibuktikan lewat demonstrasi terbang yang memperlihatkan cara kerja teknologinya. Akasmatika Wijaya membawa Podocarpus D-13, drone quadcopter untuk pemantauan dan penanganan bencana. Drone ini membawa kamera untuk memetakan area dan membantu menemukan korban. Sistem komputasi di dalamnya mendukung live stitching dan computer vision. Live stitching menyatukan sejumlah gambar dari kamera secara real-time sehingga terbentuk citra area yang lebih luas. Fitur ini membantu pemantauan wilayah terdampak dan pencarian korban, terutama di tempat yang sulit didatangi petugas secara langsung. Podocarpus D-13 juga bisa menjatuhkan logistik dan obat-obatan ke titik tertentu. Kemampuan ini diharapkan membantu penyaluran bantuan ketika jalur darat atau jalur distribusi biasa terputus akibat bencana. Saat demonstrasi terbang, Podocarpus D-13 menyelesaikan misinya sesuai kemampuan yang dipaparkan dalam presentasi. Bagi tim, uji terbang ini menjadi kesempatan memperlihatkan hasil pengembangan teknologi mereka sekaligus membuktikan bahwa fiturnya bekerja dalam misi nyata. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa S1 aktif UGM. Lewat kompetisi yang diikuti akademisi dan pelaku industri ini, mereka bisa menguji hasil riset dan rancangan di tingkat nasional. Bertemu peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda juga membantu tim menilai kembali teknologi yang sudah mereka kembangkan. Ke depan, Akasmatika Wijaya berkomitmen terus mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) yang kompetitif dan bisa benar-benar diterapkan. Fokusnya pada kebutuhan penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), serta misi kemanusiaan. Tim berharap inovasinya terus disempurnakan hingga layak diproduksi secara industri dan dipakai dalam operasi SAR di dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memperlihatkan kesungguhan GAMAFORCE UGM mengembangkan wahana udara tanpa awak lewat riset, perancangan, dan uji coba langsung. Bagi Akasmatika Wijaya, gelar juara ini juga menjadi bagian dari proses mematangkan teknologi UAV agar makin sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Selengkapnya

Farmasi UGM Ajak Warga Sompok Imogiri Menjaga sanitasi dan Buat Minuman Fermentasi

Bantul, 14 Oktober 2026 – Penyakit infeksi seperti diare, cacingan, dan infeksi kulit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari, mulai dari kebiasaan cuci tangan, kualitas air minum, pengelolaan jamban dan sampah, hingga keamanan makanan. Selain kebiasaan hidup bersih, pola makan yang baik turut menjaga daya tahan tubuh. Dua hal yang dekat dengan keseharian ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat Departemen Kimia Farmasi (DKF), Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, di Pendopo Padukuhan Sompok, Kelurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Rabu (14/10). Mengangkat tema “Penyuluhan Sanitasi Lingkungan dalam Pencegahan Penyakit Infeksi serta Praktik Pembuatan Minuman Kesehatan”, kegiatan ini memadukan edukasi kesehatan lingkungan dengan keterampilan membuat kombucha dan yogurt. Warga diajak memahami hubungan antara kebersihan lingkungan, penyediaan makanan sehat, keamanan pangan, dan kesehatan keluarga melalui penyuluhan, tanya jawab, serta praktik. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Carik Sriharjo, Kuswoyo, SH., dan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. ret. nat. apt. Endang Lukitaningsih, M.Si. Kegiatan yang didanai Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Farmasi UGM ini diinisiasi oleh Ketua Panitia, Prof. Dr. apt. Rumiyati, M.Si., sebagai kelanjutan pendampingan DKF bagi masyarakat Sompok. Pada tahun sebelumnya, DKF telah menyelenggarakan kegiatan peningkatan sanitasi dan edukasi kebersihan di wilayah tersebut. Pada sesi pertama, Prof. Dr. apt. Ratna Asmah Susidarti, M.Si. menyampaikan materi sanitasi lingkungan dalam pencegahan penyakit infeksi. Pembahasan mencakup penggunaan air yang aman, pemeliharaan jamban, kebersihan tangan, keamanan makanan, pengelolaan sampah, serta pengendalian nyamuk dan hewan pembawa penyakit. Melalui contoh sehari-hari, warga diajak mengenali bagaimana kuman dapat berpindah dari tangan ke makanan, atau dari lingkungan tercemar ke sumber air. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menyimpan air minum dalam wadah bersih dan tertutup, serta memisahkan makanan mentah dari makanan matang menjadi langkah sederhana untuk membantu memutus rantai penularan.  Perhatian juga diberikan pada penggunaan bahan kimia rumah tangga. Warga diingatkan untuk membaca petunjuk pemakaian, menggunakan produk sesuai peruntukannya, dan tidak sembarangan mencampur bahan pembersih. Pengelolaan sampah serta pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk turut dibahas sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan rumah tetap sehat. Sesi berikutnya beralih ke penjelasan dan praktik pembuatan kombucha, dipandu oleh Dr. apt. Riris Istighfari Jenie, M.Sc. bersama tim. Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh manis menggunakan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), yaitu kultur simbiotik bakteri dan khamir. Warga diperkenalkan pada proses menyiapkan teh manis, mendinginkannya, menambahkan SCOBY dan cairan starter, hingga melakukan fermentasi. Kebersihan tangan, alat, dan wadah menjadi benang merah yang menghubungkan praktik ini dengan materi sanitasi sebelumnya. Kombucha dengan tanda kontaminasi, seperti seperti tumbuhnya kapang (jamur berbulu) berwarna hijau, biru, atau hitam, atau berbau busuk, tidak boleh dikonsumsi. Selain proses pembuatannya, materi juga membahas kandungan senyawa bioaktif dan potensi manfaat kombucha. Bukti ilmiah manfaatnya pada manusia masih terus diteliti, sehingga minuman fermentasi ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat dan bukan pengganti pengobatan. Gizi seimbang, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup tetap menjadi dasar menjaga kesehatan tubuh. Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi pencegahan penyakit, serta SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pembahasan air yang aman dan kebersihan rumah tangga. Materi pengelolaan sampah dan penggunaan bahan kimia secara bijak juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui perpaduan penyuluhan dan praktik, pengetahuan dari kampus diharapkan semakin mudah diterapkan di rumah. Dari menjaga kebersihan tangan hingga menyiapkan minuman secara higienis, warga dapat mengambil peran dalam membangun kebiasaan sehat bagi keluarga dan lingkungan Sompok. Penulis: Raisatun Nisa dan Siti Nurul Hidayah | Foto: Tim PKM DKF

Selengkapnya

Juara Greenovate 2026, Tim UGM Kembangkan Limbah TKKS Menjadi Material Elektroda Inovatif

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM kembali meraih prestasi, kali ini dalam event Greenovate 2026 yang diadakan di Senayan, DKI Jakarta pada 3-5 Agustus 2026. Dalam kompetisi yang diadakan oleh TBS Foundation ini, Tim UGM dengan nama ”Powerhart” beranggotakan 2 Pratiwi Putri Hasibuan (Teknik Industri 2024), Arsi Cahyani (Teknik Kimia 2024), dan Hayya Majida Amani (Teknik Kimia 2024) meraih juara 3.  Sebagai latar belakang, Tim Powerhart mengangkat permasalahan melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang pemanfaatannya saat ini masih didominasi oleh aplikasi bernilai tambah relatif rendah, seperti mulsa dan pembenah tanah. ”Berdasarkan permasalahan tersebut, kami mengusulkan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku material elektroda karbon hibrida untuk superkapasitor,” tutur Putri. Ide yang diusulkan tim berupa inovasi material berbasis tandan kosong kelapa sawit sebagai alternatif material berbasis karbon untuk elektroda superkapasitor, dengan penambahan katalis feldspar sebagai salah satu bagian dari proses rekayasa material. Inovasi ini menargetkan pemanfaatan limbah TKKS yang belum optimal sekaligus mengurangi ketergantungan pada material karbon bernilai tinggi seperti grafena. ”Dengan demikian, gagasan kami tidak hanya berfokus pada pengembangan material baru, tetapi juga menghubungkan aspek teknologi, pemanfaatan limbah, dan keberlanjutan,” jelas Putri. Putri menjelaskan bahwa kebaruan gagasan tersebut terletak pada rekayasa material secara bertahap, dimulai dari karbonisasi TKKS dengan penambahan Fe dan feldspar untuk membantu menghasilkan struktur karbon yang lebih grafitik dan konduktif, kemudian mengombinasikannya dengan MnO₂ dan PANI. Karbon TKKS berperan menyimpan muatan pada permukaannya, sementara MnO₂ dan PANI memberikan tambahan penyimpanan muatan melalui reaksi elektrokimia. “Dengan pendekatan ini, kami tidak hanya mengubah limbah TKKS menjadi karbon, tetapi juga merancangnya menjadi material elektroda bernilai tambah tinggi yang berpotensi meningkatkan performa elektrokimia sekaligus mendukung pemanfaatan limbah dan pengembangan teknologi penyimpanan energi yang lebih berkelanjutan,” ujar Putri. Karya Powerhart tersebut memukau dewan juri yang terdiri dari Roderick Purwana (Managing Partner, East Ventures); Gita Sjahrir (Managing Director for Investor Relations, TBS); dan Iwan Syahril (Former Director General of Education, Indonesia) sehingga dinilai pantas untuk menjadi salah satu juara. Pada seleksi awal, tim Powerhart mengumpulkan ide yang mencakup identifikasi masalah, solusi yang ditawarkan, serta aspek kelayakan finansial dalam bentuk presentasi PPT. Setelah lolos ke babak final, Powerhart mengikuti sesi mentoring bersama Triana Krisandini, SVP Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk., untuk mempersiapkan presentasi. ”Selama mentoring, kami mendapatkan banyak masukan, terutama dalam membangun storytelling yang kuat dan menyampaikan data secara lebih menarik bagi audiens. Salah satu contohnya adalah bagaimana mengubah data emisi yang berupa angka menjadi perbandingan atau gambaran yang lebih mudah dibayangkan, sehingga dampak dari permasalahan yang kami angkat dapat lebih dirasakan oleh audiens,” papar Putri.  Dalam proses meraih juara, tantangan utama yang dihadapi Powerhart adalah penerjemahan gagasan yang cukup teknis menjadi konsep yang mudah dipahami sekaligus menarik dari sisi bisnis. ”Kami perlu menjelaskan proses rekayasa material dan keunggulan elektroda tanpa membuat materi terlalu kompleks bagi audiens,” tutur Putri. Lebih jelas lagi, tim harus memastikan bahwa gagasan yang ditawarkan tidak hanya memiliki potensi keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan yang jelas melalui pemanfaatan limbah TKKS dan pengembangan material untuk teknologi penyimpanan energi. Seluruh aspek tersebut, mulai dari permasalahan, solusi, kebaruan, potensi bisnis, hingga aspek keberlanjutan, harus disampaikan dalam durasi presentasi yang hanya 7 menit. ”Oleh karena itu, kami perlu menyusun materi secara ringkas, terstruktur, dan didukung oleh storytelling yang kuat,” tutur Putri.  Dari kompetisi Greenovate 2026, Putri menyatakan mereka belajar bahwa sebuah ide tidak hanya harus menarik, tetapi juga harus bisa menjawab masalah yang ada dan punya nilai dari sisi teknologi, bisnis, maupun keberlanjutan. Kami juga belajar bagaimana menyampaikan ide yang cukup teknis dengan cara yang lebih sederhana dan menarik melalui storytelling,” tutur Putri. Selain itu, tambah Putri, lomba ini memberikan pengalaman bekerja dalam tim dengan latar belakang yang berbeda, menerima masukan, dan lebih percaya diri dalam menyampaikan serta mempertahankan ide di depan juri. Dr. Akmal Irfan Majid sebagai perwakilan DTMI yang turut menghadiri penyerahan juara menyatakan bahwa kompetisi ini merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa karena kasus yang diangkat oleh Greenovate layak untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis dan memperoleh bimbingan dari para prominent figures perusahaan-perusahaan terbaik. “Hal ini tentu mengasah soft skill dan kemampuan analisis untuk mendekatkan mata kuliah di kampus dengan solusi praktis dari industri yang prominent,” tuturnya.

Selengkapnya

Tim Pengabdian DBSMB SV UGM Gelar Pelatihan Promosi Digital dan Storytelling AI di Demangrejo

Kulonprogo - Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Inggris, Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), menyelenggarakan pelatihan bertajuk “UMKM Desa Naik Kelas: Promosi Digital & Inovasi Storytelling dengan AI” di Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM dengan judul “Sosialisasi Literasi Digital dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Warga Demangrejo”. [caption id="attachment_18043" align="aligncenter" width="634"] Gambar 1. Tim Pengabdian DBSMB bersama pembicara[/caption] Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas literasi digital masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemuda, serta kelompok perempuan, agar mampu memanfaatkan teknologi digital secara aman, etis, dan produktif. Melalui penguasaan keterampilan digital, masyarakat diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan daya saing produk lokal, serta mengembangkan peluang ekonomi berbasis potensi desa. Pelatihan dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan praktis mengenai strategi pemasaran digital, pembuatan katalog produk, pemanfaatan WhatsApp Business, dan pencatatan transaksi usaha sederhana. Peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) untuk mengembangkan ide konten kreatif dan menyusun narasi promosi (storytelling) yang menarik. Aspek keamanan digital turut menjadi perhatian melalui edukasi mengenai perlindungan data pribadi dan pencegahan penipuan daring. Perkuat Kapasitas Digital Masyarakat Desa Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan resmi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sesi foto bersama. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Tim Pengabdian, Dr. Erizal Lugman, M.A., yang menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat menghadapi perkembangan teknologi digital. Pendampingan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga mendorong penerapan teknologi secara berkelanjutan dalam kegiatan ekonomi produktif. Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan Karang Taruna dan organisasi pemuda Kalurahan Demangrejo, serta Kepala Kalurahan Demangrejo, Heriyanto. Pemerintah kalurahan menyambut baik pelaksanaan program ini sebagai upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pengembangan usaha dan perekonomian lokal. Kepala Kalurahan Demangrejo sekaligus membuka kegiatan pelatihan secara resmi. Sesi inti pelatihan menghadirkan Satria Agung Nugraha, S.Si., M.IST., sebagai narasumber. Melalui dua sesi materi interaktif, peserta memperoleh penjelasan dan kesempatan praktik menggunakan perangkat AI sederhana untuk mendukung aktivitas promosi usaha. Peserta dipandu untuk menemukan ide konten yang relevan dengan karakteristik produk, menyusun caption promosi yang menarik, serta merancang katalog digital yang dapat digunakan untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen. Pemanfaatan AI dalam pelatihan ini diarahkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kreativitas dan efisiensi produksi konten, bukan sebagai pengganti pengetahuan dan identitas lokal pelaku usaha. Dengan mengintegrasikan teknologi dan cerita mengenai produk, peserta diharapkan mampu membangun komunikasi pemasaran yang lebih menarik, autentik, dan sesuai dengan karakteristik usaha masing-masing. Di samping keterampilan promosi, penguatan literasi digital juga mencakup pemahaman tentang penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Pengetahuan mengenai keamanan data pribadi dan kewaspadaan terhadap penipuan daring menjadi bekal penting bagi masyarakat agar dapat menjalankan aktivitas ekonomi digital dengan lebih aman. Sebagai penutup sesi pelatihan, Tim Pengabdian menyerahkan sertifikat dan cinderamata kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat Kalurahan Demangrejo. Dorong Keberlanjutan melalui Modul dan Kader Digital Program pengabdian ini diketuai oleh Dr. Erizal Lugman, M.A., dengan anggota tim dosen Ummul Hasanah, S.S., M.A., Nabilla Kusuma Vardhani, S.I.P., M.A., Erlin Estiana Yuanti, S.S., M.A., dan Ahmad Mu’am, S.S., M.Sc. Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa Excel Ardiansyah Pratama Tampubolon dan Nadhifa Rechti De Wijaya. Untuk mendukung keberlanjutan manfaat program, tim pengabdian menyusun Modul Literasi Digital Ekonomi Warga serta menyediakan templat katalog digital dan pencatatan transaksi sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Tim juga melakukan pendampingan dalam pembentukan kader digital lokal di Kalurahan Demangrejo. Keberadaan kader digital diharapkan dapat membantu masyarakat menerapkan pengetahuan yang diperoleh sekaligus mendorong penyebaran keterampilan digital secara berkelanjutan di lingkungan setempat. Melalui pendekatan yang menggabungkan edukasi, praktik, dan pendampingan, program ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola promosi usaha, meningkatkan kualitas komunikasi pemasaran, serta membuka peluang pemanfaatan teknologi digital yang lebih luas bagi pengembangan ekonomi desa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendukung pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) diwujudkan melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pengetahuan dan keterampilan literasi digital. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) didukung melalui penguatan kapasitas pelaku UMKM untuk memperluas pemasaran dan meningkatkan daya saing usaha. Selanjutnya, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) tercermin dalam pengenalan dan penerapan teknologi digital serta AI untuk mendukung inovasi pemasaran produk lokal. Sementara itu, SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) diwujudkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, komunitas pemuda, dan pelaku UMKM dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui kegiatan ini, DBSMB SV UGM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat melalui pengembangan kapasitas sumber daya manusia, penerapan inovasi teknologi, dan penguatan kemitraan. Pendampingan literasi digital di Kalurahan Demangrejo diharapkan menjadi langkah awal bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi desa yang adaptif, kreatif, inklusif, dan berkelanjutan.

Selengkapnya

Tim Pengabdian DTMI FT UGM Hadirkan Teknologi Air Bersih Siap Minum bagi Warga Kampung Terban

Yogyakarta, 13 Oktober 2026 – Akses terhadap air minum yang aman dan layak konsumsi menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang perlu terus diperkuat. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) mengimplementasikan teknologi pengolahan air bersih siap minum bagi masyarakat RW 05 Kampung Terban, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Implementasi teknologi tersebut menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin Dr. Ir. Orchida Dianita, S.T., MBA, M.Sc. Kegiatan sekaligus dipantau melalui monitoring dan evaluasi (monev) FT UGM yang dilaksanakan pada Selasa (13/10). Kegiatan monev dihadiri oleh Tim Monev FT UGM, yaitu Prof. Rochim Bakti Cahyono, Dr. Dwi Joko Suroso, I Gde Budi Indrawan, Ph.D.,  Angga Fajar Setiawan, Ph.D., serta Dr.  Nur Abdillah Siddiq selaku Manajer Layanan Kerjasama, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni FT UGM. Kehadiran tim disambut oleh Ketua RW 05 Kampung Terban, Supriyanto, S.Sos., bersama sejumlah warga. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk melihat langsung implementasi teknologi sekaligus mendengarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat setelah program dilaksanakan. Program pengabdian DTMI FT UGM dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan yang meliputi sosialisasi, workshop, implementasi instalasi pengolahan air, pengujian fungsi, serta pelatihan kepada masyarakat. Dr. Orchida Dianita menjelaskan, kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya penyediaan air minum yang memenuhi standar kesehatan. Masyarakat kemudian diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja instalasi dan tata cara pengoperasiannya melalui workshop. “Tim melakukan pemasangan instalasi pengolahan air minum yang menggunakan sistem filtrasi bertingkat untuk menghilangkan partikel dan kontaminan. Sistem tersebut kemudian dilengkapi teknologi penyinaran ultraviolet (UV) sebagai tahap akhir desinfeksi untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme penyebab penyakit,” jelasnya. Menurut Dr. Orchida, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Karena itu, setelah proses implementasi dan pelatihan selesai, instalasi diserahkan kepada masyarakat RW 05 Kampung Terban untuk dikelola dan dimanfaatkan secara bersama. “Harapannya, masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan merawatnya sehingga manfaatnya dapat berlangsung secara berkelanjutan,” tambahnya. Bagi masyarakat Kampung Terban, kehadiran FT UGM melalui program pengabdian bukanlah hal yang baru. Hubungan antara DTMI FT UGM dan masyarakat Terban telah terjalin melalui berbagai kegiatan pengabdian sejak 2018. Supriyanto menyampaikan, sejumlah program sebelumnya telah memberikan manfaat langsung bagi warga, di antaranya pengelolaan dan distribusi air bersih serta pemasangan instalasi panel surya untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat. “Pengabdian ini bukan kali pertama. Ini merupakan rangkaian kegiatan pengabdian tim DTMI sejak tahun 2018. Mulai dari pengelolaan dan distribusi air bersih untuk masyarakat Terban sampai instalasi solar panel untuk kebutuhan listrik masyarakat,” ungkap Supriyanto. Menurutnya, berbagai program tersebut membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga. “Warga sangat terbantu karena bisa lebih berhemat, terutama untuk kebutuhan air bersih. Sekarang ada lagi pengabdian untuk air bersih siap minum dari tim Dr. Orchida Dianita,” lanjutnya. Supriyanto berharap kerja sama dan pendampingan FT UGM dapat terus berlanjut di Kampung Terban. Harapan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen tim pengabdian DTMI untuk terus mengembangkan program berdasarkan persoalan dan kebutuhan masyarakat. Selain melihat implementasi teknologi, kunjungan monev juga menjadi kesempatan bagi FT UGM untuk berdialog secara langsung dengan masyarakat. Dalam diskusi, sejumlah warga menyampaikan bahwa instalasi depot air minum yang sebelumnya telah tersedia masih menghadapi kendala dalam pengoperasiannya. Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi tim untuk melakukan evaluasi dan menentukan langkah pendampingan berikutnya. Bagi perguruan tinggi, keberhasilan sebuah program pengabdian tidak hanya diukur dari terpasangnya teknologi, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut dapat digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat secara nyata bagi masyarakat. Dr. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP., selaku Manajer Layanan Kerjasama, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni FT UGM, menyampaikan bahwa kegiatan yang dipimpin Dr. Orchida Dianita memiliki keterkaitan erat dengan visi FT UGM untuk memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar kampus. “Kegiatan ini sangat sejalan dengan visi Fakultas Teknik untuk mengabdi kepada lingkungan sekitar kampus. Kampung Terban juga berada sangat dekat dengan FT UGM, sehingga pengabdian seperti ini menjadi bentuk nyata bagaimana perguruan tinggi hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya. Ia menambahkan, keberlanjutan program perlu menjadi perhatian bersama agar teknologi yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan masyarakat. Implementasi teknologi air bersih siap minum di Kampung Terban menjadi salah satu contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kegiatan ini sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan air minum yang aman; SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui peningkatan akses terhadap air berkualitas; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peluang pengembangan usaha berbasis air minum siap konsumsi; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan teknologi tepat guna; serta SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui dukungan terhadap infrastruktur dasar masyarakat perkotaan.   Bagi FT UGM, pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang untuk memastikan bahwa hasil riset, pengetahuan, dan inovasi tidak berhenti di lingkungan akademik. Teknologi perlu hadir dalam bentuk yang relevan, dapat digunakan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kegiatan monev kemudian ditutup dengan peninjauan langsung instalasi air minum di Kampung Terban. Tim FT UGM bersama masyarakat melihat kondisi instalasi sekaligus berdiskusi mengenai pengoperasian dan kebutuhan pengembangan ke depan. Dari Kampung Terban, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat kembali menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus hadir dalam skala besar. Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan nyata, teknologi dapat menjadi solusi yang sederhana, dekat, dan berdampak. (Opal/HumasFT)

Selengkapnya

UGM Perkuat Kapasitas Digital Masyarakat Kemiriombo untuk Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan

TILC (12/10) – Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong penguatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi pariwisata lokal melalui Pelatihan Social Media Management yang berfokus pada penyusunan strategi komunikasi pemasaran pariwisata di Padukuhan Kemiriombo, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan potensi wisata sekaligus memperkuat daya saing destinasi berbasis masyarakat. [caption id="attachment_18030" align="aligncenter" width="741"] Gambar 1. Foto bersama peserta dan tim pengabdian kepada masyarakat Program Studi D4 Bisnis Perjalanan Wisata, Sekolah Vokasi UGM.[/caption] Pelatihan yang dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, merupakan bagian dari program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Program Studi D4 Bisnis Perjalanan Wisata, Sekolah Vokasi UGM, pengelola Rumah Jamu Menoreh, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana strategis untuk mengembangkan dan memasarkan potensi pariwisata lokal. Di tengah perubahan perilaku wisatawan yang semakin mengandalkan informasi digital dalam merencanakan perjalanan, pengelolaan media sosial menjadi salah satu aspek penting dalam pemasaran destinasi. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana publikasi, tetapi juga sebagai media untuk membangun identitas destinasi, menyampaikan informasi kepada calon wisatawan, memperkuat interaksi dengan audiens, serta membentuk citra dan daya tarik wisata. Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pembekalan mengenai pembuatan konten kreatif, penguatan identitas visual, pengelolaan media sosial, serta penyusunan strategi komunikasi pemasaran pariwisata. Materi tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan konten digital, tetapi juga memahami cara menyampaikan pesan promosi yang terarah, konsisten, dan sesuai dengan karakteristik potensi wisata yang dimiliki. Pendekatan pelatihan menekankan pentingnya mengangkat keunikan lokal sebagai identitas dalam komunikasi pemasaran. Rumah Jamu Menoreh, misalnya, memiliki potensi wisata yang memadukan edukasi, tanaman herbal, jamu tradisional, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat. Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi narasi dan konten digital yang menarik sehingga memberikan gambaran pengalaman wisata yang khas kepada calon pengunjung. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menerapkan pengetahuan akademik untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Salah satu pihak yang terlibat aktif adalah Husein Nur Wijaya, mahasiswa Program Studi S2 Magister Pengembangan Atraksi Wisata, Sekolah Vokasi UGM, yang berperan sebagai Koordinator Tim Pelaksana Kegiatan. Keterlibatan mahasiswa magister tersebut mencerminkan upaya menghubungkan pembelajaran akademik dengan praktik pengembangan pariwisata melalui pendampingan langsung kepada masyarakat. Pengetahuan mengenai pengelolaan destinasi, pengembangan atraksi wisata, dan komunikasi pemasaran menjadi bekal dalam mendukung penguatan kapasitas pengelola lokal. Melalui pendekatan ini, kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong penerapan ilmu pengetahuan untuk mendukung pengembangan potensi daerah secara berkelanjutan. Penguatan pemasaran digital diharapkan dapat membantu masyarakat Kemiriombo memperluas jangkauan promosi sekaligus meningkatkan keterlihatan Rumah Jamu Menoreh di tengah persaingan destinasi wisata. Konten yang informatif dan menarik dapat digunakan untuk memperkenalkan aktivitas edukasi jamu, kekayaan tanaman herbal, tradisi lokal, serta pengalaman wisata yang ditawarkan. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi penghubung antara potensi lokal dan kebutuhan calon wisatawan, khususnya generasi muda yang memanfaatkan platform digital untuk mencari inspirasi perjalanan. Selain memperkuat kapasitas pemasaran, kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) diwujudkan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan media digital. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) didukung melalui pengembangan potensi pariwisata lokal yang berpeluang menciptakan aktivitas ekonomi dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Sementara itu, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) berkaitan dengan upaya menjaga identitas budaya serta mengembangkan potensi lokal sebagai bagian dari pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Kolaborasi antara UGM, pengelola Rumah Jamu Menoreh, dan masyarakat juga mencerminkan semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun sinergi untuk mencapai manfaat bersama. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin percaya diri dan mandiri dalam mengelola media sosial sebagai bagian dari strategi pengembangan destinasi. Keberlanjutan program menjadi aspek penting agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam aktivitas promosi sehari-hari, disesuaikan dengan perkembangan tren digital, dan dievaluasi berdasarkan respons audiens. Sinergi antara UGM, pengelola Rumah Jamu Menoreh, dan masyarakat Kemiriombo diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem pariwisata berbasis masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan pengelolaan komunikasi pemasaran yang lebih terarah, potensi wisata Kemiriombo diharapkan semakin dikenal luas, memiliki daya saing yang lebih kuat, serta mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya secara berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Selengkapnya

8 Dokter Muda Palestina Program SHEMIND FK-KMK UGM Ucap Janji Koas untuk Jalankan Misi Kemanusiaan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND) melaksanakan medical student oath atau janji koas di Grha Wiyata FK-KMK UGM. Berlangsung pada Jumat (02/10), janji koas ini diikuti oleh delapan dokter muda dari Al-Azhar University Gaza yang akan menjalani studi profesi di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.  Dalam sambutannya, dr. Ahmad Hamim Sadewa., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM mengucapkan selamat kepada delapan mahasiswa yang sebelumnya menempuh studi di Gaza tersebut. Menurutnya, janji koas ini merupakan persiapan tahap akhir setelah mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan klinis di FK-KMK UGM selama beberapa bulan. “Hari ini kita mencapai akhir dari program persiapan tersebut. Anda harus melangkah maju ke tempat profesi di rumah sakit,” ujar dr. Hamim. Sementara itu, Kepala Bagian Akademik dan Riset RSA UGM, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E, Subsp.Ven., mengatakan bahwa janji koas SHEMIND bukan sekadar pendidikan keterampilan klinis semata. Upacara ini ditujukan agar kedelapan mahasiswa memiliki empati, integritas, dan rasa profesionalisme sebagai dokter. Sebab, menurut dr. Nurwestu, mereka tengah menjalankan misi yang berakar pada solidaritas global dan martabat kemanusiaan. “Di rumah sakit, Anda akan menemui pasien pada momen-momen paling rentan mereka,” ujarnya. Sejalan dengan misi tersebut, dr. Mohammad Zughbur selaku Dekan Faculty of Medicine Al Azhar University Gaza menasehati kedelapan mahasiswa agar menjalankan pendidikan profesi dengan rasa kemanusiaan. Terlebih, bekal ilmu kesehatan ini akan sangat berguna bagi korban terdampak genosida di Gaza, Palestina. “Kami berharap suatu hari nanti kalian kembali untuk melayani rakyat kalian dan berkontribusi dalam membangun kembali sistem pelayanan kesehatan di Gaza,” tuturnya. Janji koas SHEMIND menjadi bukti komitmen kelembagaan FK-KMK UGM terhadap misi kemanusiaan global. “Melalui program kolaboratif ini, UGM menegaskan kembali komitmennya terhadap etika kedokteran, layanan kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dalam skala internasional,” ujar dr. Nurwestu. Oleh sebab itu, agenda ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berupa SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan. (Reporter: Aghits Azka)