BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Revitalisasi Kejayaan Kerajinan Kulon Progo: Sinergi DPKM UGM dan Pemkab dalam Membangkitkan Sentra Bambu Kencana

  KULON PROGO – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal kembali menjadi fokus perhatian dalam upaya penguatan ekonomi kerakyatan. Pada Kamis, 16  April 2026, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) Universitas Gadjah Mada melakukan langkah strategis dengan mengunjungi Sentra Bambu Kencana yang terletak di Padukuhan Jangkang Kidul, Kalurahan Sintoro, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Kunjungan ini dilaksanakan bersama jajaran Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM, (Disperinkop UKM) Kabupaten Kulon Progo guna meninjau potensi serta tantangan yang dihadapi oleh salah satu ikon kerajinan bambu tertua di wilayah tersebut. Jejak Historis dan Produk Unggulan Sentra Bambu Kencana bukanlah nama baru dalam peta industri kreatif Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas usaha ini telah berdiri sejak tahun 1984 di bawah kepemimpinan Bapak Sumardi, yang kini berusia 75 tahun. Sejak awal berdirinya, sentra ini telah mengakar kuat di masyarakat dengan merangkul warga sekitar sebagai pengrajin, sehingga tercipta ekosistem ekonomi yang inklusif di Padukuhan Jangkang Kidul. Dukungan pemerintah pun telah mengalir sejak masa kepemimpinan Bupati Kulon Progo terdahulu yang memberikan respons positif terhadap inisiatif industri rumah tangga ini. Kepercayaan tersebut dibuktikan melalui kualitas produk yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Produk utama yang dihasilkan meliputi furnitur seperti meja dan kursi rumah tangga, serta berbagai produk pelengkap seperti tirai, kap lampu, dekorasi rumah, hingga peralatan makan berupa tusuk sate. Kualitas tinggi dan daya tarik estetika produk Sentra Bambu Kencana bahkan pernah menarik perhatian pejabat negara di tingkat pusat. Beberapa tokoh penting yang tercatat pernah mengunjungi sentra ini antara lain Menteri Perekonomian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Penerangan. Pencapaian ini semakin mempertegas posisi Sentra Bambu Kencana sebagai produsen kerajinan yang diakui secara nasional maupun internasional, dengan jangkauan pemasaran yang pernah menembus pasar Thailand melalui pihak ketiga. Tantangan Pascapandemi dan Kebutuhan Revitalisasi Meskipun sempat mengalami perkembangan pesat dan memperoleh hibah berupa gedung workshop produksi serta ruang display pada tahun 1991 (sebagai bentuk timbal balik atas hibah tanah pribadi seluas 1.500 m² dari Bapak Sumardi), kejayaan tersebut sempat meredup akibat pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas sosial memaksa operasional sentra berhenti total. Pada saat itu, aktivitas produksi belum pulih sepenuhnya dan masih bergantung pada sistem pesanan (by order). Fasilitas gedung yang luas serta peralatan modern bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK)—meliputi mesin pemotong, mesin bubut, hingga mesin laminasi, belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini mendorong perlunya intervensi melalui kebijakan revitalisasi yang menyeluruh. Melihat kondisi tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM, (Disperinkop UKM) Kabupaten Kulon Progo, Iffah Mufidanti, S.H., M.M., menekankan pentingnya langkah pemulihan yang sistematis. Ia menyampaikan bahwa diperlukan tindakan nyata agar komunitas pengrajin dapat kembali bergerak. "Perlu dilakukan revitalisasi Sentra Bambu Kencana agar dapat tumbuh, maju, dan mampu menyejahterakan masyarakat di sekitarnya," tegas Iffah. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan kawasan sentra industri harus bertumpu pada dua pilar utama, yaitu ketersediaan sumber daya alam (SDA) dan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Sinergi antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketersediaan bahan baku bambu yang melimpah tidak akan memberikan kesejahteraan jika tidak dikelola oleh SDM yang kompeten, demikian pula sebaliknya. Kolaborasi Strategis dengan DPKM UGM     Menjawab tantangan tersebut, DPKM UGM hadir sebagai mitra strategis dalam kerangka kolaborasi lintas sektor. Kerja sama ini dipandang sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan kompetensi SDM sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi yang telah tersedia di sentra tersebut. Mewakili DPKM UGM, Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si., menyatakan komitmen universitas dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui berbagai skema pengabdian. Menanggapi ajakan kerja sama dari pemerintah daerah, ia menyampaikan kesiapan institusinya untuk terlibat aktif. "DPKM UGM menyambut dengan sangat baik tawaran kolaborasi tersebut karena hal ini sejalan dengan mandat Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Dharma Pengabdian, yang mengharuskan kami memberikan kontribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya. Implementasi kolaborasi ini direncanakan melalui sejumlah program konkret yang dapat segera diakses masyarakat, seperti penerjunan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik, program pemberdayaan dan pendampingan UMKM secara intensif, serta pemberian hibah pengabdian masyarakat guna mendukung kemandirian Sentra Bambu Kencana.   Harapan ke Depan   Dengan dukungan fasilitas yang memadai—mulai dari gedung workshop hingga 12 unit peralatan produksi yang lengkap—kemitraan antara DPKM UGM dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat para pengrajin di Jangkang Kidul. Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga pada penguatan kembali mata rantai ekonomi yang sempat terputus. Dengan demikian, Sentra Bambu Kencana diharapkan dapat kembali menjadi primadona kerajinan bambu yang membanggakan bagi Kulon Progo, baik di tingkat nasional maupun global.   Penulis : Widodo dan Ayyub Rizqullah

Lanjut Baca

Dari Air Bersih hingga Pojok Baca, Pengabdian Mahasiswa KKN-PPM UGM di Aceh

[caption id="attachment_13676" align="alignnone" width="555"] Dari Air Bersih hingga Pojok Baca, Pengabdian Mahasiswa KKN-PPM UGM di Aceh[/caption] Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program KKN-PPM Peduli Bencana Sumatera 2026. Program ini menjadi wujud nyata kontribusi UGM dalam mendukung fase pemulihan (recovery) pasca bencana melalui pendekatan multidisipliner yang berfokus pada sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 30 hari dari akhir Januari hingga awal Maret 2026. Koordinator Unit KKN PPM UGM, Dewarta Bagus Bagaskara, mahasiswa Sekolah Vokasi Departemen Teknik Sipil angkatan 2023, menyampaikan bahwa partisipasinya dilandasi kepedulian kemanusiaan serta keinginan untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan. “Dorongan utamanya adalah rasa kemanusiaan. Saya merasa ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah akan jauh lebih bermanfaat jika dipraktekkan langsung di lapangan, khususnya dalam fase pemulihan pasca bencana,” ujarnya, Rabu (4/3). Pada sektor infrastruktur, tim KKN-PPM UGM melakukan perbaikan sanitasi warga serta instalasi penjernihan air untuk memastikan akses air bersih kembali tersedia. Selain itu, mahasiswa turut membantu pendistribusian dan pemetaan hunian sementara (huntara), membangun balai masjid yang difungsikan sebagai pusat kegiatan masyarakat, serta memasang penerangan jalan berbasis panel surya. Kemudian, di bidang pendidikan dan fasilitas umum, tim membangun MCK dan menyediakan toren air di SMP setempat, serta merevitalisasi ruang bersalin di puskesmas guna mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak.  Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) khususnya Tujuan 6 - Air Bersih dan Sanitasi Layak dan Tujuan 11 - Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Dalam sektor kesehatan, mahasiswa melaksanakan sosialisasi dan praktik cuci tangan di sekolah dengan pengadaan sabun, revitalisasi ruang pelayanan kesehatan, serta menggelar pengobatan gratis berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan puskesmas setempat. “Tim juga memberikan terapi korespondensi sujok serta menghibahkan alat kesehatan kepada tenaga medis desa, termasuk bidan dan kader kesehatan,” ujarnya. Kegiatan ini mendukung TPB pada Tujuan 3 - Kehidupan sehat dan sejahtera. Sementara di sektor pendidikan, mahasiswa membantu kegiatan belajar-mengajar di SD dan SMP, mengadakan aktivitas literasi dan senam bersama, membangun pojok baca dari hasil donasi buku, serta melakukan edukasi pengelolaan sampah yang berkoordinasi dengan takmir masjid. Pelaksanaan program pengabdian ini tentu saja dibarengi dengan tantangan yang dihadapi di lapangan. Disebutkan bahwa tantangan utama selama pelaksanaan program adalah aspek logistik dan aksesibilitas, mengingat beberapa lokasi terdampak sulit dijangkau. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat mahasiswa untuk tetap menjalankan program kerja secara optimal. Secara langsung, kegiatan ini mendukung TPB pada Tujuan 4 - Pendidikan berkualitas. Diungkapkan oleh Dewa, Bagi tim, momen paling berkesan adalah ketika warga kembali dapat menikmati akses air bersih dan melihat progres pembangunan hunian sementara. “Ada momen saat melihat warga kembali tersenyum lebar ketika air bersih mulai mengalir kembali. Di sana saya sadar bahwa resiliensi masyarakat kita itu luar biasa hebat,” tutur Dewa. Melalui program ini, UGM tidak hanya mendorong mahasiswa untuk mengimplementasikan keilmuan secara aplikatif, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan solidaritas sosial. “Menjadi kormanit adalah pelajaran kepemimpinan paling nyata bagi saya. Saya belajar bahwa menjadi pemimpin bukan soal memberi perintah, tapi soal bagaimana melayani dan mendengarkan anggota tim juga warga setempat,” ungkapnya. Program KKN-PPM Peduli Bencana Sumatera 2026 menegaskan peran UGM sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat, terutama dalam situasi krisis. Melalui kolaborasi, empati, dan kerja tim, UGM berkomitmen terus berkontribusi dalam upaya pemulihan dan penguatan ketahanan masyarakat pascabencana. Penulis  : Jelita Agustine Foto       : Tim KKN PPM

Selengkapnya

UGM Bergerak Cepat Tangani Banjir di Pati, DERU DPkM dan Mahasiswa KKN-PPM Turun ke Lapangan

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggerakkan Disaster Responses Unit (DERU) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) unit JT-159 untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga yang terdampak banjir di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah (16/1). Inisiatif ini merupakan bagian dari program UGM Peduli Bencana Banjir Jawa Tengah 2026, yang mencerminkan komitmen universitas terhadap tanggung jawab sosial dan dukungan kepada masyarakat di saat bencana. Penyaluran bantuan dilakukan di salah satu posko desa yang terdampak banjir, kebutuhan logistik dasar disalurkan, termasuk bahan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan darurat lainnya yang diperlukan oleh warga selama masa tanggap darurat. Tim DERU berkoordinasi dengan pejabat pemerintah setempat, relawan komunitas, TNI, Polri, dan lembaga penanganan bencana untuk memastikan bantuan tersalurkan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dr. Djoko Santosa, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat yang mengelola DERU UGM, menekankan bahwa kehadiran UGM di lokasi bencana adalah manifestasi nyata dari komitmen universitas terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. "UGM berusaha untuk hadir tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang merasakan dan membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana,"ungkapnya. Kepala Desa Kedung Pancing, Didik Narwadi, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian UGM terhadap warganya di tengah masa sulit ini. Ia menjelaskan bahwa banjir mulai melanda wilayahnya sejak Sabtu lalu dan berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat. "Saya dan seluruh masyarakat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Saat ini hampir 197 rumah terendam banjir dengan sekitar 750 jiwa terdampak. Bantuan ini sangat berarti, terutama bagi warga kami yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan tidak bisa melaut karena debit air yang terus meningkat serta arus yang deras," terang Didik. Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Dewi Riani, Ketua Tim Relawan Desa Tluwah. Ia memaparkan kondisi terkini banjir di desanya yang masih cukup memprihatinkan, dengan 362 rumah terdampak, 392 Kepala Keluarga, dan total 1.083 jiwa, dengan ketinggian air berkisar antara 5 hingga 145 sentimeter. "Kebutuhan utama warga saat ini adalah sembako dan kebutuhan sehari-hari. Idealnya kami membuka dapur umum, namun karena kondisi belum memungkinkan, sementara ini dapur umum baru tersedia di tingkat kecamatan. Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan, termasuk dari UGM. Semoga membawa berkah bagi warga kami," jelas Dewi. Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena sejumlah program kerja mahasiswa KKN-PPM belum dapat berjalan optimal akibat situasi darurat bencana. Selain menyalurkan bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan pendukung evakuasi, mahasiswa KKN-PPM UGM juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Mereka membantu proses evakuasi warga, pendistribusian logistik, serta pendampingan masyarakat di posko-posko siaga bencana. Muhammad Reza Oktavian, Koordinator Mahasiswa Subunit Kedungpancing, mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. "Kami sangat berterima kasih kepada UGM atas dukungan yang diberikan. Selama banjir, kami membantu evakuasi, penyaluran makanan, obat-obatan, dan logistik lainnya. Dari peristiwa ini, kami belajar tentang pentingnya rasa syukur, kerja sama, serta saling tolong-menolong dalam menghadapi situasi sulit," ujarnya. Sementara itu, Dimas Satria Utama, Koordinator Mahasiswa Subunit Desa Tluwah, menjelaskan bahwa sejak banjir melanda pada Minggu lalu, mahasiswa telah aktif berada di posko untuk membantu warga. "Kami membantu penyaluran bantuan ke RT 2 Desa Tluwah, termasuk donasi dari alumni SMP dan Badan Amil Zakat. Selain itu, kami juga melakukan pendampingan masyarakat dan pembentukan posko siaga bencana," jelasnya. Dimas menambahkan, pengalaman menghadapi banjir menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa. "Kami belajar tentang solidaritas dan kerja sama, baik dengan warga maupun relawan, dalam proses evakuasi dan penanganan banjir. Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami, sehingga ke depan kami lebih siap dan dapat mendorong upaya-upaya preventif," ungkapnya. Koordinator Mahasiswa Unit Desa Tluwah, Lara Daniswara, turut menambahkan bahwa banjir menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan bagi mahasiswa. "Kami sempat kaget karena unit kami belum pernah mengalami banjir. Namun dari sini kami belajar dari masyarakat bagaimana cara menanggulangi bencana, tetap tenang, serta memahami kebutuhan warga," tuturnya. Prof. Ir. Nanung Agus Fitriyanto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM, selaku Kepala Sub Direktorat Pengelolaan KKN-PPM UGM, menyampaikan bahwa bencana tidak dapat dipahami semata sebagai angka dan data. Menurutnya, di balik setiap laporan terdapat keluarga yang kehilangan rasa aman dan aktivitas harian masyarakat yang terhenti. “Kehadiran mahasiswa KKN-PPM di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga menghadirkan empati, kepedulian, dan semangat kebersamaan bagi warga terdampak sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat,”pungkasnya. Penulis/Editor: DnHalimah&Ainun/Dn Halimah, Sumber/Foto: Tim Humas DPkM UGM