BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Aksi Waste Management pada Jalan Sehat dan Kumpul Rimbawan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63

Yogyakarta, 16 Oktober 2026 – Sampah menjadi isu internasional yang terkenal menyumbang pencemaran udara dan sumber penyebaran penyakit. Sebuah kajian mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik 3,2 juta ton dan 1,29 juta ton berakhir di laut. Di Yogyakarta sendiri, masalah terbesar ada pada pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknik open dumping. Teknik tersebut dilakukan di TPA Piyungan seluas 16 hektare dengan timbunan sampah mencapai 600–800 ton perhari. Hal ini tentunya berdampak pada lingkungan dan kesehatan seperti pencemaran air sumur, penyebaran penyakit lewat lalat, dan polusi lewat emisi metana serta air lindi. Menanggapi kondisi ini, Fakultas Kehutanan UGM melalui tim “Rumeksa” menyelenggarakan program waste management yang dilakukan pada kegiatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63. Kegiatan ini dilakukan pada acara Jalan Sehat dan Malam Puncak sebagai upaya mengelola dan mengatasi masalah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini menjadi aksi iklim mengatasi masalah sampah dari sumbernya dengan tidak hanya memilah sampah dari hulu untuk mengurangi beban di hilir, tetapi juga memaksimalkan nilai material dari sampah tersebut. Dalam mekanisme pelaksanaannya, tim waste management membagi sampah menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sampah organik yang berupa sisa makanan dan sisa buah, sampah daur ulang seperti dupleks, plastik (thinwall dan botol), karton, sendok, dan sedotan, dan sampah residu seperti tisu, gelas/mangkok kertas, dan mika. Selain ketiga sampah tersebut, terdapat juga daftar sampah yang dihindari, seperti sterofoam, piring mika, kertas minyak, dan papercup. Adanya mekanisme pemilahan dan pengurangan sampah ini tentunya menunjang keberhasilan dari tujuan awal waste management yaitu mengurangi timbunan dan memaksimalkan potensi sampah. Edukasi ini juga disampaikan melalui poster yang disebar ke dalam 8 titik di area ‘kritis’ sampah dan kumpulan orang dalam bentuk berikut. Selain mekanisme operasional, kegiatan ini juga didukung oleh tim volunteer yang telah membantu dan mendukung jalannya waste management dalam Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Para volunteer berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, mulai dari mahasiswa S1 dari berbagai angkatan dan mahasiswa S2. Harapannya, dengan memberikan kesempatan volunteer, relawan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, baik dari segi konsep maupun praktiknya. Kegiatan waste management dilakukan secara operasional di lapangan pada tanggal 4 dan 9 Oktober 2026, yaitu ketika acara Jalan Sehat dan Malam Puncak Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Secara teknis, kelancaran program ini juga didukung oleh beberapa pihak, khususnya adalah para relawan waste ranger yang cekatan dan tanggap dalam mengedukasi dan memilah sampah yang dihasilkan dari acara tersebut. [caption id="attachment_11710" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Jalan Sehat[/caption] “Saya senang teman-teman rangers antusias dalam inisiasi ini. Harapan saya, inisiasi ini bisa menjadi pemantik untuk pengelolaan sampah yang lebih baik kedepannya, baik di”, ucap Maulida Muhadini sebagai salah satu inisiator kegiatan ini. [caption id="attachment_11711" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Malam Puncak Dies Natalis ke-63[/caption] Beberapa kendala yang dialami oleh tim waste ranger antara lain adalah sosialisasi aturan pemilahan sebelum acara perlu diperkuat, partisipasi peserta dalam memilah sampah masih perlu didorong, dan beberapa tenant yang meninggalkan sampah tercampur, sehingga berdampak pada timbunan sampah yang banyak. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan langkah adaptif tim waste management dan para volunteer yang cekatan dan dengan semangat memilah sampah dan mengedukasi peserta. [caption id="attachment_11712" align="aligncenter" width="1920"] Hasil Timbulan Sampah pada dua kegiatan[/caption] Berdasarkan grafik timbulan sampah yang dihimpun selama rangkaian acara, terdapat perbedaan komposisi yang signifikan antara Jalan Sehat dan Malam Puncak. Pada acara Jalan Sehat, sampah didominasi oleh jenis Residu sebesar 15,20 kg (41,6%), diikuti oleh sampah Recycle sebesar 14,20 kg (38,9%), dan Organik sebesar 7,10 kg (19,5%). Sementara itu, pada acara Malam Puncak, komposisi sampah yang tertimbang mayoritas adalah sampah Organik yang mencapai 122,50 kg (75,5%) dan sampah Recycle sebesar 39,80 kg (24,5%). Sebagai catatan penting, data sampah residu pada Malam Puncak tidak dapat dihitung atau ditimbang secara pasti akibat jumlah dan volumenya yang terlalu besar, ditambah dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh tim di lapangan pada saat penutupan maupun pasca acara. Dengan adanya kendala tersebut, ke depannya, dapat dilakukan penegasan kepada tenant terkait material yang dihindari agar mengurangi timbunan sampah residu. Selanjutnya, diharapkan bahwa seluruh pihak, mulai dari panitia dan seluruh tim, diharapkan juga lebih menjaga kebersihan dan berkontribusi dalam kebersihan acara. Meskipun mengalami beberapa kendala, program ini diharapkan juga tetap berkelanjutan sehingga dapat terus mengedukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kualitas lingkungan Fakultas Kehutanan UGM.   Penulis: Rizky Lanang Rangga Kumara, Maulida Muhadini Dokumentasi: Jiil Apriliyani, Thoriq Muhamad Akbar Yusuf

Lanjut Baca

Kolaborasi Riset DEB SV UGM dan Pemerintah Kabupaten Sikka Ungkap Keterkaitan Risiko Bencana dengan Nilai Tanah di Kabupaten Sikka

Lokasi yang strategis dan kemudahan akses jalan sering menjadi pertimbangan dalam menentukan nilai tanah. Namun, tahukah Anda bahwa ancaman bencana alam juga dapat berkaitan dengan tinggi rendahnya nilai tanah di suatu wilayah? Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh kolaborasi tim peneliti antar fakultas yang terdiri dari Fatima Putri Prativi, S.T., M.Ec.Dev, Bagaskara, S.E., M.Ec.Dev, dan Diego Bagus Pratama, Yanuba Hana Latifah, E. F Anugrah Putra peneliti dari Departemen Ekonomika dan Bisnis (DEB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM); Dr. Sudaryatno, M.Si peneliti dari Fakultas Geografi UGM; Wayan Hari Premananda, S.E., M.Ec.Dev peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, dan Margaretha Movaldes De Maga Bapa, S.T., M.Eng selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kab. Sikka.  Melalui penelitian di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Tim Peneliti mengkaji hubungan antara ancaman bencana alam dan nilai tanah dengan memanfaatkan 127.566 data perpajakan serta peta kondisi geografis wilayah. Kabupaten Sikka dipilih karena memiliki kondisi geografis yang beragam dan menghadapi sejumlah ancaman bencana, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir. Kondisi tersebut menjadikan Sikka sebagai wilayah yang menarik untuk diteliti, terutama dalam memahami bagaimana ancaman bencana berkaitan dengan nilai ekonomi tanah. Ancaman Bencana dan Nilai Tanah Penelitian ini menggunakan data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan informasi geografis dari 151 desa di Kabupaten Sikka. Data tersebut kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jarak menuju pusat kegiatan ekonomi, akses jalan, perkembangan kawasan, dan tingkat ancaman bencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat ancaman bencana yang lebih tinggi cenderung memiliki nilai tanah yang lebih rendah. Meski demikian, nilai tanah tidak hanya dipengaruhi oleh ancaman bencana, tetapi juga oleh kondisi lingkungan dan perkembangan wilayah di sekitarnya. Peneliti juga menemukan bahwa nilai tanah di suatu desa memiliki keterkaitan dengan nilai tanah di wilayah sekitarnya. Artinya, perkembangan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di suatu kawasan dapat berkaitan dengan kondisi nilai tanah di kawasan lain yang berdekatan. Melalui perhitungan menggunakan model statistik OLS, SAR, SEM, and SDM, penelitian ini juga menghasilkan perkiraan perbedaan nilai tanah sebesar 37 persen sebagai nilai tengah dari perbandingan antara kondisi ancaman bencana yang ada dan kondisi simulasi tanpa ancaman bencana tinggi. Angka tersebut bukan berarti harga tanah di Kabupaten Sikka telah turun sebesar 37 persen. Angka ini merupakan hasil simulasi penelitian untuk menggambarkan bagaimana ancaman bencana dapat diperhitungkan dalam penilaian tanah. Mendukung Perencanaan Wilayah yang Lebih Aman Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan informasi kebencanaan dalam perencanaan pembangunan dan pengelolaan wilayah. Dengan menggabungkan data nilai tanah dan peta ancaman bencana, pemerintah daerah berpotensi memperoleh informasi tambahan untuk membantu menentukan kawasan yang memerlukan perhatian lebih lanjut dalam perencanaan pembangunan maupun peninjauan nilai tanah. Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam mendorong pembangunan kawasan yang lebih aman dan tangguh menghadapi bencana. Selain itu, penelitian ini turut mendukung SDGs Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya melalui pemanfaatan informasi ancaman lingkungan dan bencana terkait iklim untuk mendukung perencanaan wilayah yang lebih baik. Melalui penelitian yang didukung oleh pendanaan Dana Masyarakat Sekolah Vokasi UGM ini, DEB SV UGM terus berkontribusi dalam menghasilkan kajian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pembangunan, sehingga pemanfaatan tanah tidak hanya memperhatikan nilai ekonominya, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. [Red. Fatima Putri Prativi]