BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

FMIPA UGM Salurkan 10 Tangki Air Bersih untuk Bantu Warga Kamal Hadapi Kekeringan

Pengabdian Laboratorium Kimia Organik menghubungkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga dengan penguatan pengetahuan pertanian di Gunungkidul. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyalurkan bantuan 10 tangki air bersih bagi warga Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 500 jiwa yang menghadapi keterbatasan pasokan air pada musim kemarau. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Melalui kegiatan ini, dosen dan tenaga kependidikan merespons kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan warga di wilayah pendampingan. Membantu Memenuhi Kebutuhan Dasar Warga Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memengaruhi berbagai kegiatan rumah tangga. Bagi warga yang mengalami keterbatasan sumber air selama kemarau, tambahan pasokan diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Dr. Yehezkiel Steven K., M.Eng., dan Dr. Sugeng Triono, M.Si., yang mewakili tim dosen dan tenaga kependidikan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Kegiatan tersebut menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian perguruan tinggi. Kehadiran tim di tengah warga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa kebutuhan masyarakat perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan bentuk kontribusi kampus. Bantuan air bersih ini merupakan respons terhadap kebutuhan saat ini. Keberlanjutan akses air tetap menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama, sehingga manfaat bantuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau. Pengabdian yang Menjangkau Air Bersih dan Pertanian Pada hari yang sama, tim Laboratorium Kimia Organik juga menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung. Kegiatan tersebut memberikan pembekalan bagi petani dan pekebun dari Wunung, Duwet, dan Mulo untuk mengenali gangguan tanaman serta memahami langkah pengendalian yang sesuai. Kedua kegiatan menjangkau kebutuhan masyarakat yang saling berkaitan. Pasokan air membantu kebutuhan dasar rumah tangga, sementara pembelajaran pertanian diharapkan memperkuat kemampuan warga dalam menjaga tanaman dan mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dalam rangkaian pengabdian ini, FMIPA UGM menghubungkan kepedulian sosial dengan pemanfaatan kepakaran. Bantuan air diberikan sesuai kebutuhan warga, sedangkan pengetahuan ilmiah dihadirkan melalui pembekalan teknis pertanian yang relevan dengan kondisi setempat. Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Penyaluran bantuan air bersih sejalan dengan SDGs Poin 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya aspek akses terhadap air bersih. Kontribusi kegiatan ini terletak pada penyediaan tambahan pasokan bagi warga yang membutuhkan, tanpa menyamakan bantuan sementara dengan penyelesaian menyeluruh persoalan akses air. Sementara itu, bimbingan teknis pertanian mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas pangan. Materi pengelolaan gangguan tanaman secara berkelanjutan juga berkaitan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan. Memperkuat Budaya Akademik yang Peduli Keterlibatan dosen dan tenaga kependidikan memperlihatkan bahwa kontribusi kampus dapat hadir melalui kepakaran maupun tindakan sosial. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat keberlanjutan peran almamater di masyarakat. Bagi calon mahasiswa, pengabdian tersebut menunjukkan kesempatan untuk belajar memahami persoalan kehidupan melalui keterlibatan langsung. Ke depan, hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat dapat menjadi landasan pengembangan kolaborasi bersama mitra. Dengan mendengarkan kebutuhan warga dan mengevaluasi manfaat kegiatan, FMIPA UGM dapat terus memperluas kontribusi pengabdian yang relevan, terarah, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan global dari tingkat lokal. Penulis : Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Foto : Yehezkiel Steven Kurniawan Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG 15: Ekosistem Daratan

Lanjut Baca

Sains Menjawab Tantangan Pertanian, FMIPA UGM Perkuat Kapasitas Petani Gunungkidul

Laboratorium Kimia Organik mempertemukan kepakaran lintas lembaga untuk mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan melalui program desa binaan. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Melalui pemaparan ahli lintas lembaga, kegiatan ini membekali petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo dengan pengetahuan untuk mengenali gangguan tanaman serta menentukan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan. Diketuai oleh Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran akademik untuk membantu menjaga produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani. Membawa Pengetahuan Ilmiah ke Persoalan Sehari-hari Bagi masyarakat Wunung, Duwet, dan Mulo, pertanian dan perkebunan merupakan sumber penghidupan penting. Padi, kacang tanah, jagung, cabai, bawang merah, alpukat, dan mangga menjadi bagian dari potensi setempat. Namun, serangan hama dan penyakit dapat mengurangi hasil panen sekaligus menekan pendapatan keluarga. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit, pemahaman gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Pengetahuan ini diharapkan membantu petani melakukan deteksi dini dan memilih tindakan berdasarkan penyebab gangguan. Prinsipnya sederhana: mengenali masalah dengan tepat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Melalui pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu, petani didorong mempertimbangkan kondisi pertanaman dan keberlanjutan lingkungan dalam mengambil keputusan. Menghubungkan Perlindungan Tanaman dan Konservasi Selain hama dan penyakit tanaman, masyarakat menghadapi gangguan monyet pada lahan pertanian dan perkebunan. Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian, keselamatan warga, dan konservasi satwa liar. Edi Warsito dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul memberikan informasi mengenai persoalan tersebut beserta kendala penanganannya. Pemaparan ini memperlihatkan pentingnya koordinasi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang dalam menyusun langkah yang terarah. Kehadiran narasumber dari UGM, BRIN, dan BKSDA menunjukkan pendekatan lintas keahlian yang dibutuhkan untuk memahami persoalan pertanian secara menyeluruh. FMIPA UGM mengambil peran sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan kewenangan lembaga terkait. Kontribusi Nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Kegiatan ini mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan, terutama melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kemampuan mengenali gangguan tanaman sejak dini diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dukungan terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui akses pembelajaran bagi masyarakat di luar ruang kuliah. Kepakaran perguruan tinggi dan lembaga penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan praktis yang relevan dengan pekerjaan petani. Pembahasan gangguan satwa liar juga sejalan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan, dengan menempatkan perlindungan tanaman dalam pertimbangan konservasi. Sementara itu, keterlibatan berbagai lembaga dan masyarakat mencerminkan SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kontribusi tersebut merupakan arah yang didukung program; dampak jangka panjangnya memerlukan penerapan dan evaluasi berkelanjutan.   Menumbuhkan Kemitraan, Memperluas Manfaat Sains Kepala Laboratorium Kimia Organik, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian tahunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lurah Wunung, Sudarto, berharap pengetahuan yang dibagikan dapat membantu petani dan pekebun mengatasi persoalan di lapangan. Pelaksanaan program didukung seluruh dosen dan karyawan Laboratorium Kimia Organik. Kerja bersama ini memperlihatkan peran sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam menghadirkan manfaat perguruan tinggi di tengah masyarakat. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi alasan untuk terus bangga dan terlibat dalam kontribusi almamater. Bagi calon mahasiswa, program tersebut memperlihatkan bahwa belajar sains membuka kesempatan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata. Bagi mitra, kegiatan ini memperlihatkan ruang kolaborasi berbasis kepakaran dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kesinambungan pendampingan dan evaluasi penerapan pengetahuan menjadi langkah penting agar manfaat program semakin kuat. Dari desa binaan, FMIPA UGM meneguhkan kontribusi lokal menuju tujuan pembangunan global: pertanian yang tangguh, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang semakin berdaya. Penulis: Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Fotografer: Robby Noor Cahyono Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Selengkapnya

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Selengkapnya

Teliti Senyawa Kunyit, Mahasiswa UGM Ungkap Potensi Kurkumin Tangani Depresi

Tim Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti potensi kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa), sebagai kandidat pengembangan antidepresan melalui pendekatan komputasi biologi. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin memiliki potensi interaksi dengan reseptor serotonin 5-HT2C, yakni protein yang berperan dalam mengatur suasana hati. Penelitian yang dilakukan oleh tim Hibah Kreativitas Mahasiswa Psikologi UGM ini menggunakan pendekatan in silico melalui metode network pharmacology dan molecular docking. Adapun penelitian yang beranggotakan Calista Gracianauli (Psikologi 2024), Jevan Nathaniel Malau (Biologi 2024), Nirvana Sabathani (Farmasi 2024), dan Feodora Davina Aloysia Christy (Teknologi Industri Pertanian 2024) ini dilatarbelakangi oleh penggunaan antidepresan konvensional sebagai salah satu penanganan klinis depresi yang seringkali menimbulkan efek samping, seperti disfungsi seksual dan perubahan berat badan. Menanggapi hal tersebut, tim mencoba untuk mengeksplorasi senyawa lain yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat antidepresan, salah satunya ialah kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa). Tak hanya itu, tim juga kemudian menelusuri potensi kurkumin melalui kajian hubungan mikrobioma usus dengan mekanisme molekuler yang berkaitan dengan depresi. Dalam penelitian ini, tim menelaah hubungan antara mikrobioma usus dan depresi. Mikrobioma usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran pencernaan dan dapat berkomunikasi dengan sistem saraf pusat melalui berbagai jalur biologis. Mengutip dari berbagai artikel ilmiah, tim menyebut bahwa sejumlah metabolit yang dihasilkan mikrobiota usus, termasuk short-chain fatty acids (SCFA), diketahui berperan dalam proses biologis yang berkaitan dengan fungsi saraf. “Kombinasi antara bukti manfaat bagi kesehatan otak, kepopuleran budaya yang tinggi, serta dukungan data pasar yang kuat menjadi dasar utama untuk meneliti kurkumin dan potensinya dalam perawatan depresi lebih lanjut,” ujar Calista Gracenauli, dalam keterangan yang dikirim, Jumat (16/10). Untuk mengidentifikasi target molekuler yang potensial, tim juga memetakan hubungan antara kurkumin, metabolit mikrobiota usus, dan gen yang berkaitan dengan depresi. Analisis jaringan protein kemudian dilakukan dengan menggunakan perangkat STRING dan Cytoscape. Melalui analisis tersebut, reseptor serotonin 5-HT2C teridentifikasi sebagai salah satu protein yang berpotensi menjadi target interaksi kurkumin. Lebih lanjut, tim menggunakan metode molecular docking untuk memprediksi interaksi kurkumin dengan reseptor tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin memperoleh skor docking sebesar −7,26 kcal/mol, lebih negatif dibandingkan amitriptilin, salah satu antidepresan konvensional, yang memperoleh skor −6,08 kcal/mol. Sementara itu, serotonin, sebagai molekul alami yang berinteraksi dengan reseptor tersebut, memperoleh skor −5,02 kcal/mol. Adapun skor yang lebih negatif menunjukkan interaksi yang lebih menguntungkan menurut fungsi penilaian komputasi yang digunakan. Meski begitu, hasil tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kurkumin lebih efektif dalam mengatasi depresi ketimbang amitriptilin. Molecular docking hanya memprediksi kemungkinan posisi dan interaksi molekul dengan protein, bukan mengukur efektivitas pengobatan pada manusia. Analisis interaksi molekuler juga menemukan kesamaan residu asam amino Val354 yang berinteraksi dengan kurkumin, amitriptilin, dan serotonin. Temuan tersebut menunjukkan adanya kemiripan dalam pola interaksi ketiga molekul dengan reseptor 5-HT2C. Akan tetapi, kesamaan ini belum dapat memastikan bahwa kurkumin memiliki mekanisme kerja farmakologis yang sama dengan kedua senyawa pembanding. Dalam penelitian ini, tim juga menelaah jalur biologis yang berkaitan dengan reseptor serotonin melalui analisis pathway enrichment menggunakan Kyoto Encyclopedia of Genes and Genomes (KEGG). Analisis ini digunakan untuk memahami keterkaitan target molekuler yang ditemukan dengan jalur pensinyalan sel. Meski memberikan petunjuk mengenai mekanisme biologis yang mungkin terlibat, hasil analisis komputasi tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui pengujian eksperimental. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai potensi kurkumin sebagai kandidat untuk penelitian pengembangan antidepresan. Tim mengakui bahwa tetap diperlukan pengujian lanjutan guna memastikan aktivitas kurkumin terhadap reseptor 5-HT2C, mekanisme farmakologisnya, serta keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat dipertimbangkan untuk penggunaan klinis. “Metode ini belum dapat menentukan apakah kurkumin bekerja sebagai pengaktif (agonis) atau penghambat (antagonis) reseptor, sehingga efek farmakologisnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim PKM

Selengkapnya

Juara Greenovate 2026, Tim UGM Kembangkan Limbah TKKS Menjadi Material Elektroda Inovatif

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM kembali meraih prestasi, kali ini dalam event Greenovate 2026 yang diadakan di Senayan, DKI Jakarta pada 3-5 Agustus 2026. Dalam kompetisi yang diadakan oleh TBS Foundation ini, Tim UGM dengan nama ”Powerhart” beranggotakan 2 Pratiwi Putri Hasibuan (Teknik Industri 2024), Arsi Cahyani (Teknik Kimia 2024), dan Hayya Majida Amani (Teknik Kimia 2024) meraih juara 3.  Sebagai latar belakang, Tim Powerhart mengangkat permasalahan melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang pemanfaatannya saat ini masih didominasi oleh aplikasi bernilai tambah relatif rendah, seperti mulsa dan pembenah tanah. ”Berdasarkan permasalahan tersebut, kami mengusulkan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku material elektroda karbon hibrida untuk superkapasitor,” tutur Putri. Ide yang diusulkan tim berupa inovasi material berbasis tandan kosong kelapa sawit sebagai alternatif material berbasis karbon untuk elektroda superkapasitor, dengan penambahan katalis feldspar sebagai salah satu bagian dari proses rekayasa material. Inovasi ini menargetkan pemanfaatan limbah TKKS yang belum optimal sekaligus mengurangi ketergantungan pada material karbon bernilai tinggi seperti grafena. ”Dengan demikian, gagasan kami tidak hanya berfokus pada pengembangan material baru, tetapi juga menghubungkan aspek teknologi, pemanfaatan limbah, dan keberlanjutan,” jelas Putri. Putri menjelaskan bahwa kebaruan gagasan tersebut terletak pada rekayasa material secara bertahap, dimulai dari karbonisasi TKKS dengan penambahan Fe dan feldspar untuk membantu menghasilkan struktur karbon yang lebih grafitik dan konduktif, kemudian mengombinasikannya dengan MnO₂ dan PANI. Karbon TKKS berperan menyimpan muatan pada permukaannya, sementara MnO₂ dan PANI memberikan tambahan penyimpanan muatan melalui reaksi elektrokimia. “Dengan pendekatan ini, kami tidak hanya mengubah limbah TKKS menjadi karbon, tetapi juga merancangnya menjadi material elektroda bernilai tambah tinggi yang berpotensi meningkatkan performa elektrokimia sekaligus mendukung pemanfaatan limbah dan pengembangan teknologi penyimpanan energi yang lebih berkelanjutan,” ujar Putri. Karya Powerhart tersebut memukau dewan juri yang terdiri dari Roderick Purwana (Managing Partner, East Ventures); Gita Sjahrir (Managing Director for Investor Relations, TBS); dan Iwan Syahril (Former Director General of Education, Indonesia) sehingga dinilai pantas untuk menjadi salah satu juara. Pada seleksi awal, tim Powerhart mengumpulkan ide yang mencakup identifikasi masalah, solusi yang ditawarkan, serta aspek kelayakan finansial dalam bentuk presentasi PPT. Setelah lolos ke babak final, Powerhart mengikuti sesi mentoring bersama Triana Krisandini, SVP Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk., untuk mempersiapkan presentasi. ”Selama mentoring, kami mendapatkan banyak masukan, terutama dalam membangun storytelling yang kuat dan menyampaikan data secara lebih menarik bagi audiens. Salah satu contohnya adalah bagaimana mengubah data emisi yang berupa angka menjadi perbandingan atau gambaran yang lebih mudah dibayangkan, sehingga dampak dari permasalahan yang kami angkat dapat lebih dirasakan oleh audiens,” papar Putri.  Dalam proses meraih juara, tantangan utama yang dihadapi Powerhart adalah penerjemahan gagasan yang cukup teknis menjadi konsep yang mudah dipahami sekaligus menarik dari sisi bisnis. ”Kami perlu menjelaskan proses rekayasa material dan keunggulan elektroda tanpa membuat materi terlalu kompleks bagi audiens,” tutur Putri. Lebih jelas lagi, tim harus memastikan bahwa gagasan yang ditawarkan tidak hanya memiliki potensi keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan yang jelas melalui pemanfaatan limbah TKKS dan pengembangan material untuk teknologi penyimpanan energi. Seluruh aspek tersebut, mulai dari permasalahan, solusi, kebaruan, potensi bisnis, hingga aspek keberlanjutan, harus disampaikan dalam durasi presentasi yang hanya 7 menit. ”Oleh karena itu, kami perlu menyusun materi secara ringkas, terstruktur, dan didukung oleh storytelling yang kuat,” tutur Putri.  Dari kompetisi Greenovate 2026, Putri menyatakan mereka belajar bahwa sebuah ide tidak hanya harus menarik, tetapi juga harus bisa menjawab masalah yang ada dan punya nilai dari sisi teknologi, bisnis, maupun keberlanjutan. Kami juga belajar bagaimana menyampaikan ide yang cukup teknis dengan cara yang lebih sederhana dan menarik melalui storytelling,” tutur Putri. Selain itu, tambah Putri, lomba ini memberikan pengalaman bekerja dalam tim dengan latar belakang yang berbeda, menerima masukan, dan lebih percaya diri dalam menyampaikan serta mempertahankan ide di depan juri. Dr. Akmal Irfan Majid sebagai perwakilan DTMI yang turut menghadiri penyerahan juara menyatakan bahwa kompetisi ini merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa karena kasus yang diangkat oleh Greenovate layak untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis dan memperoleh bimbingan dari para prominent figures perusahaan-perusahaan terbaik. “Hal ini tentu mengasah soft skill dan kemampuan analisis untuk mendekatkan mata kuliah di kampus dengan solusi praktis dari industri yang prominent,” tuturnya.