BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Sains Menjawab Tantangan Pertanian, FMIPA UGM Perkuat Kapasitas Petani Gunungkidul

Laboratorium Kimia Organik mempertemukan kepakaran lintas lembaga untuk mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan melalui program desa binaan. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Melalui pemaparan ahli lintas lembaga, kegiatan ini membekali petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo dengan pengetahuan untuk mengenali gangguan tanaman serta menentukan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan. Diketuai oleh Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran akademik untuk membantu menjaga produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani. Membawa Pengetahuan Ilmiah ke Persoalan Sehari-hari Bagi masyarakat Wunung, Duwet, dan Mulo, pertanian dan perkebunan merupakan sumber penghidupan penting. Padi, kacang tanah, jagung, cabai, bawang merah, alpukat, dan mangga menjadi bagian dari potensi setempat. Namun, serangan hama dan penyakit dapat mengurangi hasil panen sekaligus menekan pendapatan keluarga. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit, pemahaman gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Pengetahuan ini diharapkan membantu petani melakukan deteksi dini dan memilih tindakan berdasarkan penyebab gangguan. Prinsipnya sederhana: mengenali masalah dengan tepat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Melalui pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu, petani didorong mempertimbangkan kondisi pertanaman dan keberlanjutan lingkungan dalam mengambil keputusan. Menghubungkan Perlindungan Tanaman dan Konservasi Selain hama dan penyakit tanaman, masyarakat menghadapi gangguan monyet pada lahan pertanian dan perkebunan. Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian, keselamatan warga, dan konservasi satwa liar. Edi Warsito dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul memberikan informasi mengenai persoalan tersebut beserta kendala penanganannya. Pemaparan ini memperlihatkan pentingnya koordinasi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang dalam menyusun langkah yang terarah. Kehadiran narasumber dari UGM, BRIN, dan BKSDA menunjukkan pendekatan lintas keahlian yang dibutuhkan untuk memahami persoalan pertanian secara menyeluruh. FMIPA UGM mengambil peran sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan kewenangan lembaga terkait. Kontribusi Nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Kegiatan ini mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan, terutama melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kemampuan mengenali gangguan tanaman sejak dini diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dukungan terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui akses pembelajaran bagi masyarakat di luar ruang kuliah. Kepakaran perguruan tinggi dan lembaga penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan praktis yang relevan dengan pekerjaan petani. Pembahasan gangguan satwa liar juga sejalan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan, dengan menempatkan perlindungan tanaman dalam pertimbangan konservasi. Sementara itu, keterlibatan berbagai lembaga dan masyarakat mencerminkan SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kontribusi tersebut merupakan arah yang didukung program; dampak jangka panjangnya memerlukan penerapan dan evaluasi berkelanjutan.   Menumbuhkan Kemitraan, Memperluas Manfaat Sains Kepala Laboratorium Kimia Organik, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian tahunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lurah Wunung, Sudarto, berharap pengetahuan yang dibagikan dapat membantu petani dan pekebun mengatasi persoalan di lapangan. Pelaksanaan program didukung seluruh dosen dan karyawan Laboratorium Kimia Organik. Kerja bersama ini memperlihatkan peran sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam menghadirkan manfaat perguruan tinggi di tengah masyarakat. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi alasan untuk terus bangga dan terlibat dalam kontribusi almamater. Bagi calon mahasiswa, program tersebut memperlihatkan bahwa belajar sains membuka kesempatan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata. Bagi mitra, kegiatan ini memperlihatkan ruang kolaborasi berbasis kepakaran dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kesinambungan pendampingan dan evaluasi penerapan pengetahuan menjadi langkah penting agar manfaat program semakin kuat. Dari desa binaan, FMIPA UGM meneguhkan kontribusi lokal menuju tujuan pembangunan global: pertanian yang tangguh, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang semakin berdaya. Penulis: Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Fotografer: Robby Noor Cahyono Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Lanjut Baca

Pantau Bencana dan Salurkan Bantuan, Drone GAMAFORCE UGM Raih Juara 3 Piala Panglima TNI

Tim Akasmatika Wijaya, salah satu subtim Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil menempati peringkat ketiga kategori Drone Militer, SAR & Bantuan Kebencanaan. Kejuaraan itu adalah Open Tournament Pengembangan Drone Piala Panglima TNI dan Festival Drone Nusantara 2026, yang digelar Kodiklat TNI di Kompleks Kodiklat TNI pada 22–26 September 2026. Sekitar 30 tim dari kampus dan industri drone dalam negeri ikut serta. Setiap peserta merancang drone sesuai gagasan dan kebutuhan misi yang mereka ajukan sendiri. Rancangan itu dipaparkan dalam sesi pitch deck, lalu dibuktikan lewat demonstrasi terbang yang memperlihatkan cara kerja teknologinya. Akasmatika Wijaya membawa Podocarpus D-13, drone quadcopter untuk pemantauan dan penanganan bencana. Drone ini membawa kamera untuk memetakan area dan membantu menemukan korban. Sistem komputasi di dalamnya mendukung live stitching dan computer vision. Live stitching menyatukan sejumlah gambar dari kamera secara real-time sehingga terbentuk citra area yang lebih luas. Fitur ini membantu pemantauan wilayah terdampak dan pencarian korban, terutama di tempat yang sulit didatangi petugas secara langsung. Podocarpus D-13 juga bisa menjatuhkan logistik dan obat-obatan ke titik tertentu. Kemampuan ini diharapkan membantu penyaluran bantuan ketika jalur darat atau jalur distribusi biasa terputus akibat bencana. Saat demonstrasi terbang, Podocarpus D-13 menyelesaikan misinya sesuai kemampuan yang dipaparkan dalam presentasi. Bagi tim, uji terbang ini menjadi kesempatan memperlihatkan hasil pengembangan teknologi mereka sekaligus membuktikan bahwa fiturnya bekerja dalam misi nyata. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa S1 aktif UGM. Lewat kompetisi yang diikuti akademisi dan pelaku industri ini, mereka bisa menguji hasil riset dan rancangan di tingkat nasional. Bertemu peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda juga membantu tim menilai kembali teknologi yang sudah mereka kembangkan. Ke depan, Akasmatika Wijaya berkomitmen terus mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) yang kompetitif dan bisa benar-benar diterapkan. Fokusnya pada kebutuhan penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), serta misi kemanusiaan. Tim berharap inovasinya terus disempurnakan hingga layak diproduksi secara industri dan dipakai dalam operasi SAR di dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memperlihatkan kesungguhan GAMAFORCE UGM mengembangkan wahana udara tanpa awak lewat riset, perancangan, dan uji coba langsung. Bagi Akasmatika Wijaya, gelar juara ini juga menjadi bagian dari proses mematangkan teknologi UAV agar makin sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Selengkapnya

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM Kembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM tengah mengembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being (DWB). Modul ini berisi panduan intervensi berbasis regulasi diri digital dan optimalisasi aktivitas digital berkualitas. Penyusunan modul bertujuan untuk meningkatkan kesadaran individu terhadap pola penggunaan digital serta mengidentifikasi perilaku maladaptif, seperti distraksi dan penggunaan impulsif.  Tim Hibah Penelitian ini merupakan kolaborasi dua universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada dan Universitas Muhammadiyah Lampung. Dari Fakultas Psikologi UGM, yaitu Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si., Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. Dari Fakultas Psikologi UML, Dr. Sovi Septania, M.Psi., Psikolog. Selain itu, mahasiswa S-3, S-2, dan alumni S-1 Fakultas Psikologi UGM juga turut terlibat dalam pengembangan modul ini. Anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UML, Sovi, menjelaskan bahwa pengembangan Modul Intervensi DWB dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko permasalahan psikologis yang turut timbul akibat penggunaan teknologi maladaptif. Risiko ini muncul seiring perkembangan teknologi digital yang mengubah kehidupan sehari-hari seorang individu. Menurut Sovi, modul Intervensi DWB berfokus pada pemberian intervensi dengan pendekatan psikologis yang menyeluruh.  “Meskipun berbagai inisiatif digital well-being telah berkembang, sebagian besar masih berfokus pada pembatasan penggunaan teknologi dan belum didasarkan pada model psikologis yang komprehensif. Oleh karena itu, modul digital wellbeing ini disusun untuk intervensi psikologis preventif dan promotif untuk meningkatkan kesejahteraan digital pada dewasa muda,” ujar Sovi.  Pengembangan Modul Intervensi DWB bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kualitas modul dengan model konseptual. Model ini memandang kesejahteraan digital muncul melalui interaksi antara mekanisme protektif antara regulasi diri digital dan mekanisme promotif berupa optimalisasi aktivitas digital. Selain itu, pengembangan modul ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan intervensi berbasis hasil riset psikologi di era digital.  Sementara itu, anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UGM, Lusi, berharap pengembangan modul ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan produktif. “Kami berharap hasil pengembangan Modul Intervensi DWB ini ke depannya dapat diakses sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna,” ucap Lusi. Kegiatan pengembangan Modul Intervensi DWB meliputi analisis konseptual dan penurunan indikator intervensi; penyusunan kerangka dan alur sesi modul; pengembangan konten modul intervensi; validasi isi modul (content validity); dan uji coba terbatas (pilot study).  Pengenalan modul telah dilakukan pada 26 Juni, dan diikuti oleh 22 peserta berusia 17-34 tahun. Kegiatan ini memberikan gambaran mengenai alur pelaksanaan modul yang terdiri atas lima sesi dan disusun secara bertahap.  Pada sesi pertama yang bertema “Kesadaran Pola Digitalmu”, tim mengawali kegiatan dengan pembukaan, penyusunan kontrak kegiatan, dan pengenalan pola penggunaan digital. Sesi kedua, yaitu “Pelajari Cara Tetap Sejahtera di Era Digital”, berfokus pada pemahaman peserta terhadap konsep digital well-being. Aktivitas dilanjutkan dengan sesi ketiga dan keempat, yaitu “Kendalikan Dirimu di Dunia Digital” dan “Gunakan secara Berkualitas”. Kedua sesi tersebut mengarahkan peserta untuk memahami dan mengembangkan kemampuan regulasi diri digital serta mengoptimalisasikan aktivitas digital yang berkualitas. Sesi kelima, “Rancang Hidup Seimbang Digital”, menutup kegiatan pengenalan modul dengan mengajak peserta mengintegrasikan pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh dari sesi-sesi sebelumnya.  Antusiasme peserta terlihat dari komitmen mereka dalam mengikuti dan menyelesaikan seluruh sesi pada Modul Intervensi DWB. Peserta terlibat dalam kegiatan dan menunjukkan kesungguhan dalam memahami materi. Ke depannya, hasil pengisian modul dapat menjadi sumber informasi penting bagi tim peneliti untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam mendukung kesejahteraan digital peserta.  Melalui pengembangan ini, tim peneliti berharap Modul Intervensi DWB yang berbentuk intervensi mandiri dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna.  Penulis: Kayla Anindya SashikiranaEditor: Erna Tri Nofiyana

Selengkapnya

Fornas XVI JKKI 2026 Dorong Revisi UU SJSN dan UU BPJS demi Penguatan Pendanaan Kesehatan

FK-KMK UGM. Transformasi sistem kesehatan membutuhkan napas panjang, tetapi di lapangan banyak pelaku layanan kesehatan justru merasa sesak. Gambaran itu mengemuka dalam Press Conference Forum Nasional (Fornas) XVI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) Tahun 2026 di Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Selasa (20/10). Kegiatan bersama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM ini menjadi pembuka sebelum forum utama digelar pada 21 hingga 22 Oktober 2026. Sumber kesesakan itu adalah pendanaan. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta Indonesia masih sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari Malaysia yang berkisar 4,5 persen dan China yang mendekati 5 persen. Pengeluaran kesehatan per kapita pun baru sekitar 150 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai 480 dolar AS. Akibatnya, pelayanan terhambat, pendapatan tenaga kesehatan belum sebanding dengan tanggung jawabnya, dan mutu layanan ikut menurun. Tekanan serupa dirasakan pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa usulan perbaikan regulasi sebenarnya telah dirumuskan sejak 2019, tetapi terhenti oleh pandemi COVID-19. Kala itu, dana Pemulihan Ekonomi Nasional sempat menghadirkan surplus bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit. “Setelah COVID selesai, … defisit mulai muncul lagi. Jadi ini penyakit lama,” ujarnya. Menurut Prof. Laksono, dampaknya pertama kali terasa di rumah sakit karena pembayaran klaim menjadi lebih lambat. Jika mutu layanan turun, masyarakat yang akhirnya menanggung akibatnya, termasuk harus membayar langsung dari kantong sendiri. “Mutu pelayanan jangan turun,” tegasnya. Ia juga menyoroti manfaat JKN yang lebih banyak dinikmati warga Jawa dan kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan dokter dan rumah sakit. Di tengah tekanan anggaran negara, masyarakat yang mampu pun perlu didorong membeli asuransi swasta agar beban kesehatan tidak bertumpu pada satu sumber. Berangkat dari persoalan tersebut, Fornas XVI mengusung penguatan kebijakan pendanaan kesehatan dan JKN, termasuk dorongan merevisi UU SJSN dan UU BPJS 2011. Selain Prof. Laksono, press conference ini menghadirkan Prof. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes., dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., dan Muhamad Faozi Kurniawan, S.E., MPH. sebagai narasumber. Penyelenggara menargetkan belanja kesehatan naik menjadi 4 hingga 5 persen PDB dalam 10 tahun. Prof. Laksono menyadari peran perguruan tinggi memiliki batas. “Kalau kita perguruan tinggi, kita hanya bisa memberikan data, analisis,” katanya, sehingga organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan media diajak ikut bersuara. Revisi tersebut diharapkan mulai masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2027. Upaya memperkuat pendanaan ini sejalan dengan SDG 3 kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya jaminan kesehatan semesta. Pemerataan manfaat JKN bagi daerah terpencil berkaitan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).  

Selengkapnya

130 Peserta Ramaikan Tenis Kagama Cup, Jadi Ajang Reuni sekaligus Unjuk Kebolehan

Sebanyak 130 peserta mengikuti Turnamen Tenis Kagama Cup di GOR Lembah Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 17–18 Oktober, turnamen tahunan yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) ini memasuki penyelenggaraan ke-XIX dan menjadi ajang silaturahmi bagi alumni UGM melalui olahraga tenis. Dalam pembukaannya, turut dihadiri oleh Ketua Senat Akademik UGM, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. Seremoni pembukaan turnamen ini turut dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, dan Ketua Dies Natalis ke-77 UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku ketua panitia, mengatakan bahwa kompetisi ini berawal dari keinginan alumni untuk berkumpul dan bermain tenis bersama. Kemudian, dikembangkan menjadi sebuah kompetisi agar lebih menarik dan meriah. “Kalau konteksnya pasti selalu reuni. Reuninya (dibarengi dengan) main tenis. Kalau cuma reuni main tenis, itu kurang gayeng, maka diadakanlah turnamen,” ujar Wikan. Wikan menjelaskan turnamen ini bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan pemenang sampai podium saja, melainkan tim yang menang akan menjadi delegasi tim tenis dari Kagama untuk berkompetisi antarikatan/keluarga alumni universitas di Indonesia. “Kalau jajaran pemenang, biasanya kita masukkan ke tim Kagama yang bertanding melawan keluarga alumni kampus lain. Jadi, kompetisi itu memang ada setiap tahun. Ini (KAGAMA CUP) tiap tahun, yang itu juga tiap tahun,” ungkapnya. Direktur Kemahasiswaan Hempri Suyatna menyampaikan turnamen Tenis Kagama Cup merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara UGM dan keluarga alumni. Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan olahraga, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama dalam berbagai kegiatan lainnya. “Saya kira kolaborasi ini tidak hanya berhenti di lapangan tenis, tetapi juga dalam berbagai bentuk kegiatan yang lain,” ujar Hempri saat membuka KAGAMA Tennis Cup 2026. Ketua Panitia Die Natalis UGM, Siti Murtiningsih juga menyampaikan ucapan selamat bertanding kepada para peserta dan harapan agar turnamen ini dapat terus diselenggarakan dan menjadi ajang silaturahmi. “Menurut saya, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi yang harus terus kita jaga dan rawat. Pertandingan hari ini bukan semata-mata tentang menang atau kalah, melainkan menjadi ruang untuk menjalin silaturahmi dan mempererat persaudaraan,” tuturnya. Wira, selaku Bendahara Tenis Kagama Cup 2026, menjelaskan bahwa turnamen tahun ini mempertandingkan tiga kategori, yakni kelompok usia 65 tahun ke atas (KU 65), 55 tahun ke atas (KU 55), serta kategori jumlah usia pasangan 85 tahun (KU 85). Ia mengatakan, turnamen berlangsung selama dua hari dengan sistem pertandingan yang berbeda pada setiap harinya.“Jadi, kita sistemnya hari pertama itu sistem grup. Satu pemain bisa main tiga sampai empat kali. Baru di hari kedua kita mulai masuk 16 besar. Nah, itu kita baru mulai masuk sistem gugur,” jelas Wira. Dalam pelaksanaannya, panitia menggunakan empat lapangan outdoor di UGM dan empat lapangan indoor di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mengakomodasi jumlah pertandingan. Sementara itu, pertandingan semifinal dan final dari ketiga kategori dijadwalkan berlangsung di GOR Lembah UGM pada hari kedua turnamen. Wira juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini menghadapi tantangan dalam mencari sponsor di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif. Meski demikian, dukungan dan semangat kebersamaan para peserta membantu turnamen tetap terlaksana.“Tantangan untuk tahun ini memang cukup tricky untuk mencari sponsor karena kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, dengan keguyuban peserta dan semboyan kami, ‘dari peserta untuk peserta’, kami mencoba bersama-sama. Ada yang mendukung bola, konsumsi, pertandingan, dan sebagainya,” ungkapnya. Manfaat Kagama Tennis Cup juga dirasakan langsung oleh peserta. Ringgo, anggota Kagama sekaligus mahasiswa Magister Manajemen UGM angkatan 2021, mengatakan bahwa turnamen ini menjadi salah satu agenda yang dinantikan setiap tahun karena mempertemukan alumni dengan latar belakang dan profesi yang beragam. “Event tahunan ini salah satunya untuk bersilaturahmi, khususnya insan tenis alumni UGM. Alumni-alumni yang bekerja di Jakarta maupun di luar Jawa bisa berkumpul setahun sekali untuk acara tenis. Namun, tidak hanya tenis saja, kita juga menyambung silaturahmi,” ujar Ringgo. Baginya, nilai utama turnamen ini bukan terletak pada besarnya hadiah atau kemeriahan acara, melainkan pada kesempatan untuk menjaga hubungan antar alumnus. Pertemuan tersebut bahkan dapat membuka peluang baru melalui pertukaran informasi dan pengalaman. “Kita tidak berharap hadiahnya lebih besar atau hospitality-nya seperti apa. Konsep utamanya adalah untuk menyambung silaturahmi,” tuturnya. Ringgo berharap turnamen antar alumni UGM dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. “Keberlanjutan kegiatan ini penting agar para alumni tetap memiliki ruang untuk bertemu, berolahraga, dan memperkuat jejaring,” pungkasnya. Disela kegiatan turnamen, Akhdiyat Duta Modjo, vokalis band Sheila on 7 sempat hadir menyaksikan langsung. Meski tidak ikut bertanding, Duta, demikian ia akrab disapa, sengaja menyaksikan sahabatnya yang merupakan teman satu angkatan saat kuliah di FTP UGM ikut bertanding. Apalagi belakangan ini Duta memiliki hobi main tenis lapangan dengan jadwal rutin latihan dua kali seminggu. Penulis    : M. Aidil Syahputra Editor      : Gusti Grehenson foto       : Aidil, Dok. Komunitas Tenis UGM

Selengkapnya

Perkuat Implementasi Program Double Degree dan Joint Degree, UGM dan LPDP Gelar Diskusi Evaluasi dan Sinergi Beasiswa

Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar forum diskusi dan evaluasi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperkuat implementasi serta optimalisasi program Double Degree (DD) dan Joint Degree (JD) di Ruang Pertemuan Utama Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM (1/10). Acara yang dihadiri oleh Direktur LDPD, Direktur Kerjasama dan Relasi Global, Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran,  Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Kerjasama serta para Ketua Program Studi Doktoral Penyelenggara Program DD/JD di lingkungan UGM ini bertujuan untuk memetakan tantangan administrasi, juga memperluas cakupan kerja sama internasional, serta menyelaraskan skema pembiayaan beasiswa untuk meningkatkan daya saing akademik dan riset mahasiswa UGM di tingkat global. Dalam evaluasi strategis implementasi program DD/DJ yang disampaikan oleh pihak UGM diwakili oleh Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., dan Direktur Kemitraan, Alumni, dan Urusan Internasional UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., menyoroti tren pertumbuhan pendaftar program gelar ganda dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah kendala teknis dan administratif masih ditemukan, terutama pada tahap perolehan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas mitra serta sinkronisasi data pada sistem informasi akademik. UGM menetapkan beberapa langkah strategis untuk mengatasi hambatan tersebut”, terang Sigit. Di antaranya yakni penyelarasan persyaratan admisi dengan mewajibkan pengelola program studi menyusun dan menyerahkan daftar persyaratan kesepakatan antara pendaftaran dan lembaga pemberi beasiswa untuk diunggah secara terintegrasi pada sistem admisi. UGM juga mendorong perlunya peran aktif program studi dan pembimbing untuk menghubungkan calon mahasiswa dengan calon pembimbing di universitas mitra sejak dini, terutama untuk jenjang doktoral. Langkah strategis lainnya yaitu melalui peningkatan sinergi dengan perguruan tinggi mitra luar negeri melalui kegiatan sosialisasi bersama serta menegosiasikan skema pembebasan atau pemotongan biaya pendidikan (tuition fee waiver/discount) guna membuka peluang skema pendanaan bersama (co-funding). Direktur Beasiswa LPDP, Ir. Dwi Larso, M.Sc., Ph.D menguatkan komitmen LPDP bahwa dana abadi pendidikan yang dikelola LPDP terus mengalami peningkatan pesat. ”LPDP secara konsisten berkomitmen memaksimalkan alokasi dana untuk pengiriman mahasiswa ke perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri”, jelasnya. Dwi Larso juga menerangkan beberapa poin penting komitmen dan arah kebijakan LPDP yang mengemuka dalam diskusi tersebut di antaranya melakukan peningkatan alokasi program doktoral. Dalam hal ini, LPDP meningkatkan porsi penerima beasiswa program doktoral dari yang semula seperempat menjadi sepertiga dari total alokasi penerima beasiswa. ”Kami tingkatkan porsinya dari seperempat menjadi sepertiga”, tegasnya. Diungkapan Dwi Larso bahwa fokus pendanaan akan diprioritaskan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). “Mayoritas penerima beasiswa dialokasikan untuk bidang STEM guna mendukung kebutuhan industri nasional dan kemandirian teknologi”, jelasnya. Dwi Larso menambahkan bahwa LPDP juga terus mendorong mekanisme pembiayaan bersama dengan institusi luar negeri maupun instansi pemerintah/daerah untuk melipatgandakan kapasitas penerima beasiswa melalui dukungan skema co-funding. Selain itu, penyederhanaan persyaratan bahasa juga menjadi salah satu komitmen yang mengemuka dalam diskusi tersebut. “LPDP melakukan evaluasi kebijakan persyaratan sertifikat bahasa di awal pendaftaran agar tidak membebani calon pendaftar secara finansial, dengan menyerahkan kriteria kemampuan bahasa pada standar pengujian masing-masing universitas tujuan”, terangnya. Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif yang menyoroti berbagai isu praktis dari para pengelola prodi, seperti kuota penerimaan mahasiswa internasional, kerja sama spesifik perguruan tinggi mitra antara lain Utrecht University dan Groningen University, termasuk penanganan keterlambatan masa studi, hingga fleksibilitas proses seleksi bagi pendaftar berkebutuhan khusus (difabel). Pihak LPDP menyambut baik masukan tersebut dan berjanji akan terus melakukan penyempurnaan pada kriteria wawancara, mekanisme pendampingan, serta memperluas koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait. Diharapkan sinergi kuat antara UGM dan LPDP mampu memperluas akses civitas akademika UGM terhadap program pendidikan berkualitas internasional. ”Dengan tata kelola admisi yang semakin baik serta fleksibilitas pembiayaan beasiswa, UGM siap mencetak lulusan berdaya saing global yang berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa”, pungkas Sigit Priyanta.     Reportase & tulisan: Bondan Wijanarko Ditulis ulang:  B. Diah Listianingsih Penyunting: Endang Sulastri  

Selengkapnya

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

Tanggap Bencana Kekeringan, Mahasiswa UGM Kirim 250 Ribu Liter Air Bersih ke Gunungkidul

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP UGM) menyalurkan bantuan 50 tangki air bersih dengan total volume sekitar 250.000 liter kepada masyarakat terdampak kekeringan di Kalurahan Terbah, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu, (11/10). Norol Latifah, Ketua Umum HMP UGM, menyampaikan rasa prihatin atas kondisi yang dialami warga Gunungkidul saat musim kemarau ini. Bahkan beberapa dari mereka harus menjual hasil pertanian seperti singkong untuk mendapatkan air bersih. Ia berharap adanya bantuan yang disalurkan dapat memberikan sedikit keringanan di tengah kesulitan yang dihadapi. “Mungkin bantuan ini belum dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang ada, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban masyarakat. Kami juga berharap musim hujan segera tiba sehingga kekeringan ini berangsur berakhir dan warga lebih mudah mendapatkan air bersih,” ujarnya, Selasa (13/10). Ia menyampaikan dari total bantuan yang disiapkan, 175.000 liter air bersih disalurkan pada tahap awal untuk masyarakat Padukuhan Karang dan Kayugrit. Sementara 75.000 liter sisanya direncanakan untuk disalurkan ke wilayah terdampak lainnya. Penyaluran dilakukan secara bertahap menggunakan armada tangki air menuju titik-titik penerima, termasuk pemukiman warga, tempat ibadah, dan fasilitas pendidikan, dengan rata-rata empat hingga lima tangki setiap harinya bergantung pada kapasitas tampung yang tersedia di masing-masing titik. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Kemahasiswaan UGM yang telah memfasilitasi anggaran, kemudian CSR Bimasakti, Pemerintah Kalurahan Terbah, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan penyaluran bantuan,” ungkap Norol. Lurah Terbah, Giyanto, menjelaskan bahwa kekeringan merupakan persoalan yang berulang di wilayahnya setiap musim kemarau. Dari enam padukuhan yang ada di Kalurahan Terbah, sejumlah wilayah mengalami dampak kekeringan yang cukup serius, sementara upaya penyediaan air melalui sumur bor yang telah dilakukan sebelumnya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan warga ketika musim kemarau tiba. “Selama musim penghujan, ketersediaan air masih cukup. Namun, ketika musim kemarau, air yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Giyanto juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu. Ia berharap kedepannya dari berbagai pihak dapat melanjutkan kerja sama ini untuk mengatasi persoalan kekeringan sehingga masyarakat tidak bergantung pada bantuan air tangki setiap kemarau datang. “Kami mengucapkan terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu warga kami. Semoga bantuan ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi berkah bagi semua,” harapnya. Selain penyaluran air bersih, HMP UGM berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dengan pemerintah setempat dan berbagai pihak terkait. Salah satu rencana tindak lanjutnya dengan penghijauan melalui penanaman pohon, termasuk pohon beringin, sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mendukung kemampuan kawasan dalam menyimpan air untuk jangka panjang. Melalui kegiatan ini, HMP UGM menegaskan bahwa kepedulian mahasiswa pascasarjana UGM tidak hanya terwujud dalam pencapaian akademik, tetapi juga dalam aksi nyata yang merespons kebutuhan masyarakat paling mendasar yaitu ketersediaan air bersih yang layak bagi setiap warga. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok.HMP UGM

Selengkapnya

Dukung Pertanian Berkelanjutan, UGM Serahkan Bantuan Alsintan di Bantul

BANTUL – Universitas Gadjah Mada (UGM) melaui kerja sama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan Center for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) dan Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa chopper dan thresher di Dusun Japuhan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (2/10/2026). Penyerahan alsintan kepada Kelompok Ternak "Lembu Suro" dan Kelompok Wanita Tani (KWT) ini menjadi langkah nyata UGM dalam mendukung modernisasi pertanian ramah lingkungan serta mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan yang merupakan bagian dari program "Scaling Crop Residue Management Through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia" ini selaras dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan (peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan), SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (pengelolaan limbah tanaman/ekonomi sirkular), SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multisektor antara akademisi UGM, pemerintah daerah melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan kelompok masyarakat. Acara serah terima tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM Dr. Arifin Dwi Saputro, Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM Prof. Lilik Sutiarso, anggota tim Dr. Radi dan Dr. Sri Markumningsih, serta teknisi Marheri. Turut hadir Penyuluh Pertanian BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., serta Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM, Prof. Lilik Sutiarso, mengapresiasi komitmen para petani dan peternak di Dusun Japuhan yang dinilai sangat aktif dan maksimal dalam memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian. "Lokasi Japuhan ini bahkan akan kita jadikan salah satu daerah percontohan bagi laporan di skala nasional dan internasional. Saya berharap alat ini dapat dimaksimalkan melalui berbagai skema kerja sama yang ada agar kegiatan pertanian dan peternakan di Dusun Japuhan dapat terus berkelanjutan (sustainable)," ujar Prof. Lilik. Ketua DTPB UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, menambahkan bahwa keaktifan kelompok tani lokal yang mampu mengoperasikan hingga 90 persen hibah peralatan dari program sebelumnya menjadi alasan kuat UGM untuk terus memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan. "Harapan kami setelah serah terima ini tidak berhenti di sini. Kami di departemen memiliki laboratorium khusus yang menangani alat dan mesin pertanian, sehingga apabila Bapak dan Ibu mengalami kendala atau hendak melakukan modifikasi alat yang kami hibahkan, dapat berkunjung ke laboratorium kami," kata Dr. Arifin. Perwakilan dari BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian UGM terhadap kemajuan sektor pertanian di wilayahnya. Ia mengimbau para penerima manfaat untuk terus merawat alsintan yang diberikan agar dapat menyokong perekonomian dan kesejahteraan warga Desa Sidomulyo. Rasa syukur turut dirasakan oleh Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ia mengungkapkan bahwa pendampingan dari DTPB FTP UGM yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu memberikan dampak nyata bagi efisiensi kerja kelompoknya. "Terima kasih atas perhatian UGM kepada kelompok kami. Ini menjadi 'Jumat Berkah' bagi kami karena bantuan alat dan mesin ini akan sangat membantu serta mempermudah aktivitas sehari-hari anggota kelompok ternak," tutur Paijo. Melalui program pendampingan dan modernisasi alsintan ini, DTPB FTP UGM menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan tata kelola pertanian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat desa.