BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Rayakan Satu Dekade, KAGAMAHUT 2016 Inisiasi Forester Scholarship untuk Dukung Pengembangan Mahasiswa Kehutanan UGM

Yogyakarta, 10 Oktober 2026 — Memperingati satu dekade perjalanan sejak memasuki bangku perkuliahan pada 2016, Keluarga Alumni Mahasiswa Kehutanan Universitas Gadjah Mada angkatan 2016 (KAGAMAHUT 2016) menginisiasi Forester Scholarship, program beasiswa bagi mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UGM. Inisiatif ini menjadi wujud kontribusi alumni kepada almamater sekaligus upaya memperluas akses mahasiswa terhadap berbagai kesempatan pengembangan akademik dan profesional. Penyerahan beasiswa dilaksanakan di Yogyakarta kepada 10 mahasiswa penerima (awardee). Acara ini turut dihadiri oleh Bapak Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU selaku Dekan Fakultas Kehutanan UGM periode 2026–2031, serta perwakilan KAGAMAHUT 2016. Sepuluh tahun lalu, sekitar 200 mahasiswa baru Ilmu Kehutanan angkatan 2016 memulai perjalanan mereka di Fakultas Kehutanan UGM, Bulaksumur. Masa perkuliahan menjadi ruang untuk menimba ilmu, membangun pertemanan, dan tumbuh bersama sebagai calon rimbawan, sehingga menginspirasi KAGAMAHUT 2016 untuk menghadirkan dukungan yang relevan bagi generasi mahasiswa kehutanan berikutnya. Berangkat dari pengalaman alumni, Forester Scholarship dirancang untuk mengisi celah dukungan pendanaan bagi pengembangan akademik mahasiswa. Dalam bidang kehutanan, pengambilan data skripsi atau penelitian di lapangan maupun laboratorium kerap membutuhkan biaya yang tidak sedikit, termasuk untuk transportasi dan akomodasi. Keterbatasan pendanaan juga dapat menghambat mahasiswa mengikuti program magang, pelatihan/sertifikasi, dan kegiatan profesional lainnya, terutama ketika program tersebut tidak memberikan kompensasi atau hanya menawarkan uang saku terbatas. Di sisi lain, program beasiswa yang tersedia umumnya memiliki kriteria dan sasaran penerima yang spesifik, seperti prestasi akademik (merit-based), prestasi olahraga, serta kondisi sosial-ekonomi melalui skema prasejahtera/afirmasi. “Forester Scholarship hadir untuk melengkapi dukungan yang sudah ada melalui pendekatan yang lebih fleksibel, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan beasiswa sesuai kebutuhan dan aspirasi pengembangan akademik maupun profesional mereka”, ujar Lina Dwi Lestari, salah satu anggota KAGAMAHUT 2016 yang tergabung dalam tim seleksi beasiswa. Besaran beasiswa yang diterima oleh setiap awardee adalah sebesar Rp3.000.000 yang digunakan salah satunya untuk meringankan mereka dalam memenuhi biaya uang kuliah tunggal (UKT), seperti Upik Savina Maranis, “Terima kasih kepada alumni angkatan 2016 yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya melalui Forester Scholarship, dana ini akan sangat membantu meringankan beban pembayaran UKT dan kelancaran studi saya”. Selain itu, sejumlah awardee yang menginjak tahun akhir perkuliahan seperti Ella Rovinta Fajrin berencana menggunakan dana beasiswa untuk pengambilan data skripsi dan magang, “Dana ini akan saya pakai untuk pengambilan data skripsi di Kalimantan bulan depan, sekaligus membantu dana operasional selama magang di salah satu NGO konservasi". Awardee juga dibebaskan dalam memanfaatkan dana tersebut untuk mengikuti pelatihan, sertifikasi, serta kegiatan lain yang menunjang pengembangan akademik dan profesional. Lebih dari sekadar dukungan finansial, KAGAMAHUT 2016 berharap inisiatif ini dapat menjadi pemantik bagi tumbuhnya generasi rimbawan muda yang memiliki keterampilan praktis serta jejaring yang kuat. Dengan kesempatan pengembangan yang lebih terbuka, para penerima diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan memberikan kontribusi lebih luas bagi pengelolaan sumber daya hutan serta pembangunan sektor kehutanan Indonesia. Author: Arifah Hidayati  

Lanjut Baca

Aksi Waste Management pada Jalan Sehat dan Kumpul Rimbawan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63

Yogyakarta, 16 Oktober 2026 – Sampah menjadi isu internasional yang terkenal menyumbang pencemaran udara dan sumber penyebaran penyakit. Sebuah kajian mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik 3,2 juta ton dan 1,29 juta ton berakhir di laut. Di Yogyakarta sendiri, masalah terbesar ada pada pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknik open dumping. Teknik tersebut dilakukan di TPA Piyungan seluas 16 hektare dengan timbunan sampah mencapai 600–800 ton perhari. Hal ini tentunya berdampak pada lingkungan dan kesehatan seperti pencemaran air sumur, penyebaran penyakit lewat lalat, dan polusi lewat emisi metana serta air lindi. Menanggapi kondisi ini, Fakultas Kehutanan UGM melalui tim “Rumeksa” menyelenggarakan program waste management yang dilakukan pada kegiatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63. Kegiatan ini dilakukan pada acara Jalan Sehat dan Malam Puncak sebagai upaya mengelola dan mengatasi masalah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini menjadi aksi iklim mengatasi masalah sampah dari sumbernya dengan tidak hanya memilah sampah dari hulu untuk mengurangi beban di hilir, tetapi juga memaksimalkan nilai material dari sampah tersebut. Dalam mekanisme pelaksanaannya, tim waste management membagi sampah menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sampah organik yang berupa sisa makanan dan sisa buah, sampah daur ulang seperti dupleks, plastik (thinwall dan botol), karton, sendok, dan sedotan, dan sampah residu seperti tisu, gelas/mangkok kertas, dan mika. Selain ketiga sampah tersebut, terdapat juga daftar sampah yang dihindari, seperti sterofoam, piring mika, kertas minyak, dan papercup. Adanya mekanisme pemilahan dan pengurangan sampah ini tentunya menunjang keberhasilan dari tujuan awal waste management yaitu mengurangi timbunan dan memaksimalkan potensi sampah. Edukasi ini juga disampaikan melalui poster yang disebar ke dalam 8 titik di area ‘kritis’ sampah dan kumpulan orang dalam bentuk berikut. Selain mekanisme operasional, kegiatan ini juga didukung oleh tim volunteer yang telah membantu dan mendukung jalannya waste management dalam Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Para volunteer berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, mulai dari mahasiswa S1 dari berbagai angkatan dan mahasiswa S2. Harapannya, dengan memberikan kesempatan volunteer, relawan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, baik dari segi konsep maupun praktiknya. Kegiatan waste management dilakukan secara operasional di lapangan pada tanggal 4 dan 9 Oktober 2026, yaitu ketika acara Jalan Sehat dan Malam Puncak Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Secara teknis, kelancaran program ini juga didukung oleh beberapa pihak, khususnya adalah para relawan waste ranger yang cekatan dan tanggap dalam mengedukasi dan memilah sampah yang dihasilkan dari acara tersebut. [caption id="attachment_11710" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Jalan Sehat[/caption] “Saya senang teman-teman rangers antusias dalam inisiasi ini. Harapan saya, inisiasi ini bisa menjadi pemantik untuk pengelolaan sampah yang lebih baik kedepannya, baik di”, ucap Maulida Muhadini sebagai salah satu inisiator kegiatan ini. [caption id="attachment_11711" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Malam Puncak Dies Natalis ke-63[/caption] Beberapa kendala yang dialami oleh tim waste ranger antara lain adalah sosialisasi aturan pemilahan sebelum acara perlu diperkuat, partisipasi peserta dalam memilah sampah masih perlu didorong, dan beberapa tenant yang meninggalkan sampah tercampur, sehingga berdampak pada timbunan sampah yang banyak. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan langkah adaptif tim waste management dan para volunteer yang cekatan dan dengan semangat memilah sampah dan mengedukasi peserta. [caption id="attachment_11712" align="aligncenter" width="1920"] Hasil Timbulan Sampah pada dua kegiatan[/caption] Berdasarkan grafik timbulan sampah yang dihimpun selama rangkaian acara, terdapat perbedaan komposisi yang signifikan antara Jalan Sehat dan Malam Puncak. Pada acara Jalan Sehat, sampah didominasi oleh jenis Residu sebesar 15,20 kg (41,6%), diikuti oleh sampah Recycle sebesar 14,20 kg (38,9%), dan Organik sebesar 7,10 kg (19,5%). Sementara itu, pada acara Malam Puncak, komposisi sampah yang tertimbang mayoritas adalah sampah Organik yang mencapai 122,50 kg (75,5%) dan sampah Recycle sebesar 39,80 kg (24,5%). Sebagai catatan penting, data sampah residu pada Malam Puncak tidak dapat dihitung atau ditimbang secara pasti akibat jumlah dan volumenya yang terlalu besar, ditambah dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh tim di lapangan pada saat penutupan maupun pasca acara. Dengan adanya kendala tersebut, ke depannya, dapat dilakukan penegasan kepada tenant terkait material yang dihindari agar mengurangi timbunan sampah residu. Selanjutnya, diharapkan bahwa seluruh pihak, mulai dari panitia dan seluruh tim, diharapkan juga lebih menjaga kebersihan dan berkontribusi dalam kebersihan acara. Meskipun mengalami beberapa kendala, program ini diharapkan juga tetap berkelanjutan sehingga dapat terus mengedukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kualitas lingkungan Fakultas Kehutanan UGM.   Penulis: Rizky Lanang Rangga Kumara, Maulida Muhadini Dokumentasi: Jiil Apriliyani, Thoriq Muhamad Akbar Yusuf

Selengkapnya

Tim Sekolah Vokasi UGM Kembangkan PathoCODE, Bantu Calon Perekam Medis Hindari Salah Kode Klaim JKN

(SLEMAN) Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan PathoCODE, media pembelajaran digital untuk kodifikasi penyakit pernapasan dan penetapan severity level dalam sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBG). Pengembangan dilakukan pada April hingga Oktober 2026 di Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM, melalui Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 skema kompetitif. Penelitian diketuai oleh Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH dan beranggotakan Dr. Savitri Citra Budi, S.KM., M.P.H., Nuryati, S.Far., M.P.H., dan Sugeng, S.KM., M.M. dari Sekolah Vokasi UGM, Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc. dari Departemen Parasitologi FK-KMK UGM, serta tiga mahasiswa MIK, yaitu Khodijah Aulia, Nasywa Natania Ramadhani, dan Rifka Aulia Rizki. Pembangunan platform dilakukan bersama mitra PT Lentera Amartha Berdaya. [caption id="attachment_1762" align="alignnone" width="600"] Infografis riset PathoCODE: permasalahan kodifikasi, enam modul belajar, hasil uji coba pada 48 mahasiswa, dan kolaborasi pengembangan. (Foto: Dok. Tim Peneliti PathoCODE)[/caption] Ketepatan kodifikasi diagnosis dan tindakan menjadi kunci dalam pembayaran rumah sakit pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam sistem INA-CBG, setiap episode rawat inap dikelompokkan berdasarkan diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan tindakan. Kode diagnosis sekunder yang tergolong komorbiditas atau komplikasi menentukan severity level 1, 2, atau 3 beserta besaran tarifnya. Studi di Malaysia mencatat 89,4 persen rekam medis yang diaudit memuat setidaknya satu kesalahan kode, dan diagnosis sekunder menjadi unsur yang paling sering keliru. Kondisi serupa dilaporkan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Pengembangan PathoCODE bertujuan menyediakan media yang memadukan materi klinis, kodifikasi, dan simulasi severity level dalam satu tempat, sehingga mahasiswa dapat berlatih penalaran koding sebelum terjun ke rumah sakit. Pengembangan PathoCODE mengikuti model ADDIE yang terdiri atas tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap analisis, tim mengkaji capaian pembelajaran mata kuliah kodifikasi dan pedoman INA-CBG dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2021. Tahap desain dan pengembangan dikerjakan bersama PT Lentera Amartha Berdaya dan menghasilkan lima versi aplikasi yang ditelaah secara internal oleh tim. Seluruh kode diselaraskan dengan ICD-10 versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan INA-CBG, bukan versi modifikasi klinis Amerika Serikat (ICD-10-CM). Tahap implementasi dan evaluasi dilaksanakan melalui uji coba kepada mahasiswa MIK pada September–Oktober 2026. PathoCODE memiliki enam modul utama. Modul anatomi–patologi menampilkan sepuluh area saluran napas yang dapat diklik dan memetakan 57 kode penyakit J00–J18. Modul triase gejala membantu menelusuri kemungkinan diagnosis beserta kodenya. Modul alur pembelajaran tujuh langkah membahas sepuluh penyakit utama, mulai dari anatomi hingga INA-CBG. Simulator severity level memperlihatkan perubahan tingkat keparahan secara langsung ketika kode CC atau MCC ditambahkan. Aplikasi juga dilengkapi bank soal kasus serta referensi berupa tabel 145 kode ICD-10, panduan INA-CBG, dan glosarium 32 istilah. Aplikasi dapat diakses melalui peramban di laptop maupun ponsel pada alamat https://pathocode.jasoet.co. “Kolaborasi lintas bidang ilmu membuat materi klinis dan materi kodifikasi dapat disusun secara utuh. Mahasiswa dapat melihat letak penyakit, perjalanan klinisnya, hingga dampaknya pada pengelompokan kasus," ujar Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc., dosen Departemen Parasitologi FK-KMK UGM. "Kesalahan koding yang tidak terlihat dapat berdampak pada klaim rumah sakit. Melalui PathoCODE, kami ingin mahasiswa terbiasa mengode apa yang terdokumentasi dan mendokumentasikan apa yang dikerjakan," tutur Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH. Penelitian ini menghasilkan beberapa luaran. Luaran pertama adalah aplikasi PathoCODE yang telah diuji coba oleh 48 mahasiswa, dengan penilaian kelayakan media sebesar 81,4 persen atau kategori sangat layak. Luaran kedua adalah instrumen evaluasi yang mengukur kompetensi kodifikasi, kegunaan, dan kualitas media. Luaran berikutnya adalah naskah artikel ilmiah yang sedang disiapkan untuk jurnal internasional, serta rencana pendaftaran hak cipta atas aplikasi. Hasil uji coba juga memetakan bagian yang masih perlu diperkuat, terutama pemahaman mahasiswa dalam membedakan kode CC dan MCC. Riset ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target cakupan kesehatan semesta, melalui penguatan kompetensi tenaga pengelola informasi kesehatan yang menopang ketepatan pembiayaan JKN. Riset ini juga mendukung SDG ke-4, Pendidikan Berkualitas, melalui media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan dengan PT Lentera Amartha Berdaya. Ke depan, tim peneliti akan menyempurnakan PathoCODE berdasarkan masukan pengguna dan telaah ahli koding, termasuk validasi oleh koder praktisi rumah sakit dengan target skor validasi minimal 80 persen serta pencocokan dengan aplikasi grouper INA-CBG resmi. Tim juga merencanakan perluasan materi ke bab ICD-10 lainnya serta persiapan menghadapi penerapan ICD-11. PathoCODE diharapkan dapat menjadi sumber belajar pendamping bagi mahasiswa perekam medis dan informasi kesehatan, sekaligus mendukung upaya peningkatan mutu data klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Akses PathoCODE: https://pathocode.jasoet.co (dapat dibuka melalui peramban di laptop maupun ponsel)