BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Modal Rp500 Ribu dari Beasiswa, Mahasiswa UGM Berhasil Bangun Bisnis Ayam Petelur

Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan untuk berusaha. Hal ini dibuktikan oleh seorang mahasiswa UGM yang sukses membangun bisnis ayam petelur berbekal modal dari tabungan beasiswanya. Berbekal tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, ia merintis usaha tersebut di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga berkembang menjadi peternakan mandiri dengan ratusan ekor ayam. Memanfaatkan ilmu pemuliaan ternak yang dipelajari di bangku kuliah, Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, mengembangkan inovasi persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi melalui usaha peternakannya, Bejo Farm. Inovasi persilangan ini berangkat dari pemahaman Anjeli terhadap karakteristik masing-masing jenis ayam. Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur yang tinggi, sedangkan ayam Mardi memiliki postur tubuh lebih besar. Melalui persilangan keduanya, Anjeli berupaya menggabungkan potensi produksi telur dan pertumbuhan tubuh dalam satu keturunan ayam. “Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” tuturnya. Melalui teknik crossbreeding, Anjeli berharap dapat menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan tubuh yang baik untuk dimanfaatkan sebagai ayam potong, sementara ayam betinanya tetap memiliki potensi produksi telur. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pemuliaan ternak yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fapet UGM. Selain mengembangkan persilangan ayam Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. "Saat ini, BejoBejo Farm memproduksi telur sekitar 15–20 butir per hari, didukung puluhan indukan aktif dan anakan hasil penetasan sendiri," dalam keterangannya. Di tengah harga pakan pabrikan yang tengah melonjak, Anjeli memanfaatkan potensi limbah lokal untuk menekan biaya operasional. “Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari," ungkapnya. Tak hanya pakan ternak, Anjeli turut menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih dan daun pepaya. “Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan," jelasnya. Untuk sistem penjualan telurnya, Anjeli menggunakan sistem beli langsung di tempat dan menyediakan pesanan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook. Produk yang ia jual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Dari hasil penjualannya, Anjeli pun mengungkapkan, sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana penerapan ilmu peternakan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha untuk membangun peternakan yang mandiri. Perjalanan Bejo Farm tidak selalu berjalan mulus. Anjeli sempat mengalami kerugian akibat kematian anakan ayam ketika cuaca di Klaten mengalami perubahan ekstrem. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk mengevaluasi sanitasi kandang dan perawatan ternak agar usaha dapat terus berkembang. Anjeli mengungkapkan alasannya membangun usaha Bejo Farm ini. Hanya bermodalkan tabungan beasiswa yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan dana tabungannya untuk mengembangkan usaha dengan mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. “Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli. Bagaimana pun, Anjeli menuturkan tabungan sebagai modal awalnya tidak luput dari penerapan ilmu di Peternakan UGM. “Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” ungkapnya. Melalui Bejo Farm, Anjeli menunjukkan bahwa ilmu pemuliaan ternak dapat menjadi dasar pengembangan inovasi di bidang peternakan. Perpaduan pengetahuan akademik, percobaan persilangan, dan pengelolaan usaha membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi ternak sekaligus membangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Anjeli

Lanjut Baca

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Selengkapnya

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

UGM Raih Peringkat Pertama Komersialisasi Paten Tertinggi di Indonesia 

Universitas Gadjah Mada terus mendorong pemanfaatan hasil riset melalui penguatan perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual. Upaya tersebut salah satunya tercermin dari capaian UGM yang menempati peringkat pertama perguruan tinggi dengan jumlah komersialisasi paten tertinggi di Indonesia, yakni sebanyak 35 paten dengan nilai royalti sebesar Rp15 miliar. Posisi tersebut kemudian disusul Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan 32 paten dengan nilai royalti Rp12,4 miliar dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 30 paten dengan nilai royalti Rp10,8 miliar, yang masing-masing menempati peringkat kedua dan ketiga. Capaian tersebut disampaikan oleh Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Dr. Andreansjah, S.T., S.H., M.M., selaku keynote speaker dalam acara UGM IP Forum 2026 yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Kamis (1/10). Dalam forum yang mempertemukan regulator, akademisi, dan praktisi industri ini, Andreansjah mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan indikator berkembangnya pengelolaan kekayaan intelektual di UGM. Selaras dengan tema “Bridging IP Protection to Market Integration”, ia menilai bahwa keberadaan paten tidak seharusnya berhenti pada perolehan sertifikat, tetapi mesti dilanjutkan dengan pemanfaatan agar dapat memberikan nilai ekonomi. “Yang terpenting di sini bukan lagi soal apakah inovasi kita sudah dipatenkan, tapi bagaimana setelah dipatenkan kemudian bisa dimanfaatkan,” ungkapnya. Ia mengibaratkan sertifikat paten seperti sertifikat tanah yang tidak akan memberikan hasil optimal atau nilai manfaat jika hanya disimpan. Baginya, paten mesti dimanfaatkan melalui pengembangan usaha, lisensi, maupun bentuk komersialisasi lainnya demi menghasilkan nilai guna atau manfaat bagi inventor dan masyarakat. “Paten yang ada, ya itu harus menjadi nilai ekonomi,” sambungnya. Menanggapi efektivitas pemanfaatan paten di lingkup perguruan tinggi,  Andreansjah menyebut bahwa UGM sendiri memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan komersialisasi paten melalui ekosistem pengelolaan kekayaan intelektual yang telah dibangun. Keberadaan Intellectual Property Management Office (IPMO), dikatakan olehnya, merupakan salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem pemanfaatan paten, mulai dari proses kreasi, perlindungan, hingga utilisasi kekayaan intelektual. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menegaskan bahwa diperolehnya sertifikat paten bukanlah akhir dari proses inovasi. Danang berpendapat bahwa patent granted justru menjadi awal dari pekerjaan besar untuk membawa hasil riset menuju hilirisasi dan pasar. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan UGM IP Forum 2026, yakni untuk mengakselerasi proses hilirisasi riset UGM dengan mentransformasikan perlindungan paten menuju integrasi pasar. “Sebisa mungkin bagaimana paten ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan hilirisasi dan bagaimana produk yang Bapak-Ibu bangun itu bisa masuk ke market secara luas,” jelasnya. Lebih lanjut, Danang mengingatkan bahwa penguatan perlindungan kekayaan intelektual juga harus dilakukan sedari awal proses penelitian. Berdasarkan pengamatannya, ia menyoroti masih adanya peneliti yang telah menghasilkan produk, menemukan mitra, bahkan menjalin kerja sama, tetapi belum mengurus perlindungan patennya. Selain perlindungan, Danang juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, industri, praktisi bisnis, dan masyarakat. Menurut pandangannya, perguruan tinggi memiliki kekuatan pada aspek riset dan pengembangan, sementara proses manufaktur dan pengembangan produk hingga masuk ke pasar membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan industri. “Tidak mungkin UGM bekerja sendiri untuk melakukan manufaktur. Karena memang bukan dunianya akademik, kita (UGM) kan melakukan penelitian dan pengembangan,” pungkasnya. Senada dengan hal tersebut, Ketua Intellectual Property Management Office (IPMO) UGM, Prof. Ir. Sang Kompiang Wirawan, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa UGM senantiasa membangun kolaborasi dalam pengembangan kekayaan intelektual. Pada 2026, IPMO mencatat capaian paten yang melibatkan inventor dari berbagai fakultas dan klaster keilmuan di UGM. Dalam paparannya, Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) masih menjadi yang teratas sebagai penyumbang paten. Bersama IPMO UGM, ia menuturkan bahwa pengelolaan kekayaan intelektual di UGM tidak hanya berfokus pada perlindungan paten, tapi juga diarahkan untuk mendukung proses hilirisasi. Hal tersebut, kata Kompiang, dilakukan melalui penguatan fungsi IPMO yang mencakup regulasi, fasilitasi, hukum, kurasi, edukasi, dan data. Di akhir, Kompiang menambahkan bahwa penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat mempertemukan hasil invensi dari sivitas akademika dengan kebutuhan dunia usaha. Dengan demikian, paten tidak berhenti sebagai dokumen perlindungan, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan memberikan nilai ekonomi. “Semangat kita bersama untuk kita terus berkarya. Kita lanjutkan bahwa invensi itu bisa kita hilirisasi,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto

Selengkapnya

Kolaborasi UGM dan Industri Hasilkan Inovasi Sensor Gempa Bawah Air

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Innovation, dan PT Elnusa Tbk. sukses melaksanakan uji coba pengembangan sensor seismik bawah laut atau sensor gempa bawah air di Waduk Saguling, Jawa Barat, pada 28–29 September lalu. Teknologi yang dikembangkan dalam bentuk shallow water ocean bottom seismometer (OBS) tersebut diberi nama Prameya (Perangkat Rekam Aktivitas Mikroseismik dan Ekspedisi Yudha Akuatik), merupakan sensor getaran yang dirancang untuk ditempatkan di dasar perairan guna merekam aktivitas seismik, dengan target kemampuan operasi hingga kedalaman maksimum 100 meter. Dosen FMIPA UGM sekaligus Ketua proyek pengembangan Prameya, Dr. Wiwit Suryanto, mengatakan bahwa pengembangan sensor bawah laut tersebut merupakan kelanjutan dari riset sensor gempa darat yang sebelumnya dikembangkan UGM melalui Gamadu. “Ini sebetulnya kelanjutan dari sensor yang dulu kita buat, Gamadu dulu. Itu sensor gempa, tapi di darat,” ujar Wiwit dalam wawancara, Jumat (2/10). Pengembangan sensor tadi kemudian dilanjutkan ke lingkungan bawah air, mengingat Indonesia didominasi oleh wilayah perairan sehingga membutuhkan teknologi untuk memantau aktivitas seismik di laut. Wiwit menjelaskan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sensor gempa bawah laut yang dapat dipasang dan digunakan secara terus-menerus. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim melanjutkan pengembangan sensor hingga menghasilkan Prameya. “Kita belum punya sensor gempa bawah laut yang bisa dipasang terus-menerus. Jadi, kita mencoba mengembangkan sendiri supaya bisa memantau aktivitas gempa di bawah laut,” ungkapnya. Uji coba pertama dipasang selama satu malam dengan tujuan menguji ketahanan dan kekedapan alat ketika berada di dalam air. Pengujian ini dilakukan pada kedalaman sekitar 30 meter, sementara kedalaman waduk dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 80 meter. Tahap tersebut dipilih sebagai pengujian awal sebelum perangkat dibawa ke lingkungan laut yang membutuhkan persiapan lebih kompleks.“Jadi itu kita pasang semalam untuk melihat kedepannya karena memang ternyata tidak mudah untuk membuat alat yang kedap di bawah laut,” kata Wiwit. Menurutnya, kemampuan bertahan di dalam air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan Prameya. Versi sebelumnya baru diuji hingga kedalaman sekitar 10 meter, sedangkan pada versi terbaru tim mulai mengujinya hingga 30 meter. Selain sistem kedap air, tim juga mengembangkan sistem buoy agar perangkat dapat ditenggelamkan dan nantinya diangkat kembali. Hasil pengujian awal menunjukkan kinerja Prameya cukup baik ketika dibandingkan dengan alat standar. Meski demikian, masih terdapat satu komponen sensor horizontal yang perlu diperbaiki. Prameya memiliki tiga komponen sensor untuk merekam getaran, tetapi salah satunya masih menunjukkan kendala sehingga saat ini masih dalam proses penyempurnaan.“Waktu di darat sebenarnya hasilnya cukup baik dibandingkan dengan alat standar. Tapi memang masih ada sedikit masalah di komponen horizontal. Itu kan ada tiga komponen sensor yang kita pasang. Nah, yang satu komponennya masih bermasalah, tapi ini kita sedang perbaiki lagi,” ujar Wiwit. Dari sisi teknologi, Prameya memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan OBS pada umumnya, yakni merekam getaran dari dasar perairan. Namun, tim UGM mengembangkan Prameya dengan spesifikasi yang lebih lengkap. Perangkat ini dilengkapi webcam dan lampu yang memungkinkan tim melihat posisi sensor ketika berada di dasar perairan, termasuk kondisi lingkungan di sekitar perangkat. “Sebetulnya secara prinsip hampir sama, cuma memang kemarin kami ingin yang spesifikasi lengkap. Jadi di situ ada webcam-nya, ada monitor kameranya untuk melihat posisi dari sensor itu di dalam air,” jelas Wiwit. Kamera tersebut juga membantu tim mengetahui kondisi dasar perairan yang tidak selalu datar dan dapat dipenuhi lumpur. Dalam kondisi air keruh, jarak pandang kamera hanya sekitar 20–30 sentimeter, sedangkan pada air yang lebih jernih, posisi perangkat dapat terlihat lebih jauh. Keberadaan kamera dan lampu menjadi bagian dari upaya tim untuk membuat perangkat tidak hanya berfungsi merekam data seismik, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi alat ketika berada di dasar perairan. Wiwit mengatakan pengembangan dengan spesifikasi lengkap tersebut merupakan strategi tim untuk membangun kemampuan teknologi secara bertahap. Dengan mengembangkan perangkat pada spesifikasi yang lebih tinggi terlebih dahulu, teknologi tersebut nantinya dapat disederhanakan sesuai kebutuhan pengguna.“Kita yang cari yang paling spek tertinggi dulu. Kalau itu bisa, nanti spesifikasi yang lebih rendah kita pasti lebih bisa,” katanya. Setelah pengujian di Waduk Saguling, Prameya akan memasuki tahap pengujian berikutnya di laut lepas pada November 2026. Pengujian direncanakan berlangsung di lapangan laut Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan dukungan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa. Tahap ini akan menjadi pengujian yang lebih kompleks karena perangkat harus diturunkan dari kapal dan memiliki bobot sekitar 70 kilogram sehingga membutuhkan crane. “November itu di Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PHKT. Jadi mereka punya lapangan di laut. Nah, kita dengan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa,” ujar Wiwit. Dalam skema pengembangan tersebut, Pertamina berperan sebagai pihak yang membiayai riset di FMIPA UGM. Setelah teknologi dikembangkan menjadi produk, Elnusa akan mengambil peran dalam pengoperasian dan hilirisasi perangkat. Pengujian di laut diharapkan menjadi langkah penting untuk melihat kesiapan Prameya sebelum digunakan untuk kebutuhan yang lebih luas. Prameya sendiri tidak hanya ditujukan untuk pemantauan gempa bawah laut. Karena pada dasarnya merupakan sensor getaran, perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi serta panas bumi, mitigasi bencana, pemantauan aktivitas gunung api bawah laut, hingga deteksi aktivitas kapal. “Inovasi ini  bisa menjadi salah satu alat untuk monitoring gunung api bawah laut. Tapi untuk kebutuhan eksplorasi juga digunakan juga. Ini sensor sebenarnya sensor getar, jadi aplikasinya macam-macam. Bisa untuk eksplorasi, bisa untuk mitigasi bencana, untuk monitoring gempa. Monitoring kapal pun bisa, ada aktivitas kapal itu kelihatan,” jelas Wiwit. Wiwit berharap Prameya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi oleh perusahaan di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu, perangkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh BMKG untuk memantau aktivitas gempa di wilayah laut dalam yang hingga kini masih belum banyak terpantau. “Kalau ini nanti berhasil, bisa dimanfaatkan untuk support eksplorasi di perusahaan eksplorasi di Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, kami juga ingin agar nanti BMKG memanfaatkannya untuk monitoring gempa di bawah laut. Karena laut-laut dalam kita belum dieksplorasi itu, sementara sebetulnya potensinya sangat besar,” pungkas Wiwit. Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim Peneliti