BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Sains Menjawab Tantangan Pertanian, FMIPA UGM Perkuat Kapasitas Petani Gunungkidul

Laboratorium Kimia Organik mempertemukan kepakaran lintas lembaga untuk mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan melalui program desa binaan. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Melalui pemaparan ahli lintas lembaga, kegiatan ini membekali petani dan pekebun dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo dengan pengetahuan untuk mengenali gangguan tanaman serta menentukan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan. Diketuai oleh Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran akademik untuk membantu menjaga produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani. Membawa Pengetahuan Ilmiah ke Persoalan Sehari-hari Bagi masyarakat Wunung, Duwet, dan Mulo, pertanian dan perkebunan merupakan sumber penghidupan penting. Padi, kacang tanah, jagung, cabai, bawang merah, alpukat, dan mangga menjadi bagian dari potensi setempat. Namun, serangan hama dan penyakit dapat mengurangi hasil panen sekaligus menekan pendapatan keluarga. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan menghadirkan Dr. Suputa, S.P., M.P., ahli hama dari Fakultas Pertanian UGM, serta Dr. Sri Wahyuni Budiarti, S.P., M.Si., peneliti penyakit tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit, pemahaman gejala serangan, serta strategi pencegahan dan pengendalian sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lapangan. Pengetahuan ini diharapkan membantu petani melakukan deteksi dini dan memilih tindakan berdasarkan penyebab gangguan. Prinsipnya sederhana: mengenali masalah dengan tepat menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang sesuai. Melalui pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu, petani didorong mempertimbangkan kondisi pertanaman dan keberlanjutan lingkungan dalam mengambil keputusan. Menghubungkan Perlindungan Tanaman dan Konservasi Selain hama dan penyakit tanaman, masyarakat menghadapi gangguan monyet pada lahan pertanian dan perkebunan. Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian, keselamatan warga, dan konservasi satwa liar. Edi Warsito dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta wilayah Gunungkidul memberikan informasi mengenai persoalan tersebut beserta kendala penanganannya. Pemaparan ini memperlihatkan pentingnya koordinasi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan instansi berwenang dalam menyusun langkah yang terarah. Kehadiran narasumber dari UGM, BRIN, dan BKSDA menunjukkan pendekatan lintas keahlian yang dibutuhkan untuk memahami persoalan pertanian secara menyeluruh. FMIPA UGM mengambil peran sebagai penghubung antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan kewenangan lembaga terkait. Kontribusi Nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Kegiatan ini mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan, terutama melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kemampuan mengenali gangguan tanaman sejak dini diharapkan membantu mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dukungan terhadap SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui akses pembelajaran bagi masyarakat di luar ruang kuliah. Kepakaran perguruan tinggi dan lembaga penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan praktis yang relevan dengan pekerjaan petani. Pembahasan gangguan satwa liar juga sejalan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan, dengan menempatkan perlindungan tanaman dalam pertimbangan konservasi. Sementara itu, keterlibatan berbagai lembaga dan masyarakat mencerminkan SDGs Poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kontribusi tersebut merupakan arah yang didukung program; dampak jangka panjangnya memerlukan penerapan dan evaluasi berkelanjutan.   Menumbuhkan Kemitraan, Memperluas Manfaat Sains Kepala Laboratorium Kimia Organik, Dr. Endang Astuti, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian tahunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lurah Wunung, Sudarto, berharap pengetahuan yang dibagikan dapat membantu petani dan pekebun mengatasi persoalan di lapangan. Pelaksanaan program didukung seluruh dosen dan karyawan Laboratorium Kimia Organik. Kerja bersama ini memperlihatkan peran sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam menghadirkan manfaat perguruan tinggi di tengah masyarakat. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi alasan untuk terus bangga dan terlibat dalam kontribusi almamater. Bagi calon mahasiswa, program tersebut memperlihatkan bahwa belajar sains membuka kesempatan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata. Bagi mitra, kegiatan ini memperlihatkan ruang kolaborasi berbasis kepakaran dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kesinambungan pendampingan dan evaluasi penerapan pengetahuan menjadi langkah penting agar manfaat program semakin kuat. Dari desa binaan, FMIPA UGM meneguhkan kontribusi lokal menuju tujuan pembangunan global: pertanian yang tangguh, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang semakin berdaya. Penulis: Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Fotografer: Robby Noor Cahyono Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 15: Ekosistem Daratan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Lanjut Baca

Rayakan Satu Dekade, KAGAMAHUT 2016 Inisiasi Forester Scholarship untuk Dukung Pengembangan Mahasiswa Kehutanan UGM

Yogyakarta, 10 Oktober 2026 — Memperingati satu dekade perjalanan sejak memasuki bangku perkuliahan pada 2016, Keluarga Alumni Mahasiswa Kehutanan Universitas Gadjah Mada angkatan 2016 (KAGAMAHUT 2016) menginisiasi Forester Scholarship, program beasiswa bagi mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UGM. Inisiatif ini menjadi wujud kontribusi alumni kepada almamater sekaligus upaya memperluas akses mahasiswa terhadap berbagai kesempatan pengembangan akademik dan profesional. Penyerahan beasiswa dilaksanakan di Yogyakarta kepada 10 mahasiswa penerima (awardee). Acara ini turut dihadiri oleh Bapak Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU selaku Dekan Fakultas Kehutanan UGM periode 2026–2031, serta perwakilan KAGAMAHUT 2016. Sepuluh tahun lalu, sekitar 200 mahasiswa baru Ilmu Kehutanan angkatan 2016 memulai perjalanan mereka di Fakultas Kehutanan UGM, Bulaksumur. Masa perkuliahan menjadi ruang untuk menimba ilmu, membangun pertemanan, dan tumbuh bersama sebagai calon rimbawan, sehingga menginspirasi KAGAMAHUT 2016 untuk menghadirkan dukungan yang relevan bagi generasi mahasiswa kehutanan berikutnya. Berangkat dari pengalaman alumni, Forester Scholarship dirancang untuk mengisi celah dukungan pendanaan bagi pengembangan akademik mahasiswa. Dalam bidang kehutanan, pengambilan data skripsi atau penelitian di lapangan maupun laboratorium kerap membutuhkan biaya yang tidak sedikit, termasuk untuk transportasi dan akomodasi. Keterbatasan pendanaan juga dapat menghambat mahasiswa mengikuti program magang, pelatihan/sertifikasi, dan kegiatan profesional lainnya, terutama ketika program tersebut tidak memberikan kompensasi atau hanya menawarkan uang saku terbatas. Di sisi lain, program beasiswa yang tersedia umumnya memiliki kriteria dan sasaran penerima yang spesifik, seperti prestasi akademik (merit-based), prestasi olahraga, serta kondisi sosial-ekonomi melalui skema prasejahtera/afirmasi. “Forester Scholarship hadir untuk melengkapi dukungan yang sudah ada melalui pendekatan yang lebih fleksibel, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan beasiswa sesuai kebutuhan dan aspirasi pengembangan akademik maupun profesional mereka”, ujar Lina Dwi Lestari, salah satu anggota KAGAMAHUT 2016 yang tergabung dalam tim seleksi beasiswa. Besaran beasiswa yang diterima oleh setiap awardee adalah sebesar Rp3.000.000 yang digunakan salah satunya untuk meringankan mereka dalam memenuhi biaya uang kuliah tunggal (UKT), seperti Upik Savina Maranis, “Terima kasih kepada alumni angkatan 2016 yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya melalui Forester Scholarship, dana ini akan sangat membantu meringankan beban pembayaran UKT dan kelancaran studi saya”. Selain itu, sejumlah awardee yang menginjak tahun akhir perkuliahan seperti Ella Rovinta Fajrin berencana menggunakan dana beasiswa untuk pengambilan data skripsi dan magang, “Dana ini akan saya pakai untuk pengambilan data skripsi di Kalimantan bulan depan, sekaligus membantu dana operasional selama magang di salah satu NGO konservasi". Awardee juga dibebaskan dalam memanfaatkan dana tersebut untuk mengikuti pelatihan, sertifikasi, serta kegiatan lain yang menunjang pengembangan akademik dan profesional. Lebih dari sekadar dukungan finansial, KAGAMAHUT 2016 berharap inisiatif ini dapat menjadi pemantik bagi tumbuhnya generasi rimbawan muda yang memiliki keterampilan praktis serta jejaring yang kuat. Dengan kesempatan pengembangan yang lebih terbuka, para penerima diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan memberikan kontribusi lebih luas bagi pengelolaan sumber daya hutan serta pembangunan sektor kehutanan Indonesia. Author: Arifah Hidayati  

Selengkapnya

Pantau Bencana dan Salurkan Bantuan, Drone GAMAFORCE UGM Raih Juara 3 Piala Panglima TNI

Tim Akasmatika Wijaya, salah satu subtim Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil menempati peringkat ketiga kategori Drone Militer, SAR & Bantuan Kebencanaan. Kejuaraan itu adalah Open Tournament Pengembangan Drone Piala Panglima TNI dan Festival Drone Nusantara 2026, yang digelar Kodiklat TNI di Kompleks Kodiklat TNI pada 22–26 September 2026. Sekitar 30 tim dari kampus dan industri drone dalam negeri ikut serta. Setiap peserta merancang drone sesuai gagasan dan kebutuhan misi yang mereka ajukan sendiri. Rancangan itu dipaparkan dalam sesi pitch deck, lalu dibuktikan lewat demonstrasi terbang yang memperlihatkan cara kerja teknologinya. Akasmatika Wijaya membawa Podocarpus D-13, drone quadcopter untuk pemantauan dan penanganan bencana. Drone ini membawa kamera untuk memetakan area dan membantu menemukan korban. Sistem komputasi di dalamnya mendukung live stitching dan computer vision. Live stitching menyatukan sejumlah gambar dari kamera secara real-time sehingga terbentuk citra area yang lebih luas. Fitur ini membantu pemantauan wilayah terdampak dan pencarian korban, terutama di tempat yang sulit didatangi petugas secara langsung. Podocarpus D-13 juga bisa menjatuhkan logistik dan obat-obatan ke titik tertentu. Kemampuan ini diharapkan membantu penyaluran bantuan ketika jalur darat atau jalur distribusi biasa terputus akibat bencana. Saat demonstrasi terbang, Podocarpus D-13 menyelesaikan misinya sesuai kemampuan yang dipaparkan dalam presentasi. Bagi tim, uji terbang ini menjadi kesempatan memperlihatkan hasil pengembangan teknologi mereka sekaligus membuktikan bahwa fiturnya bekerja dalam misi nyata. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa S1 aktif UGM. Lewat kompetisi yang diikuti akademisi dan pelaku industri ini, mereka bisa menguji hasil riset dan rancangan di tingkat nasional. Bertemu peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda juga membantu tim menilai kembali teknologi yang sudah mereka kembangkan. Ke depan, Akasmatika Wijaya berkomitmen terus mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) yang kompetitif dan bisa benar-benar diterapkan. Fokusnya pada kebutuhan penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), serta misi kemanusiaan. Tim berharap inovasinya terus disempurnakan hingga layak diproduksi secara industri dan dipakai dalam operasi SAR di dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memperlihatkan kesungguhan GAMAFORCE UGM mengembangkan wahana udara tanpa awak lewat riset, perancangan, dan uji coba langsung. Bagi Akasmatika Wijaya, gelar juara ini juga menjadi bagian dari proses mematangkan teknologi UAV agar makin sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Selengkapnya

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM Kembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM tengah mengembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being (DWB). Modul ini berisi panduan intervensi berbasis regulasi diri digital dan optimalisasi aktivitas digital berkualitas. Penyusunan modul bertujuan untuk meningkatkan kesadaran individu terhadap pola penggunaan digital serta mengidentifikasi perilaku maladaptif, seperti distraksi dan penggunaan impulsif.  Tim Hibah Penelitian ini merupakan kolaborasi dua universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada dan Universitas Muhammadiyah Lampung. Dari Fakultas Psikologi UGM, yaitu Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si., Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. Dari Fakultas Psikologi UML, Dr. Sovi Septania, M.Psi., Psikolog. Selain itu, mahasiswa S-3, S-2, dan alumni S-1 Fakultas Psikologi UGM juga turut terlibat dalam pengembangan modul ini. Anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UML, Sovi, menjelaskan bahwa pengembangan Modul Intervensi DWB dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko permasalahan psikologis yang turut timbul akibat penggunaan teknologi maladaptif. Risiko ini muncul seiring perkembangan teknologi digital yang mengubah kehidupan sehari-hari seorang individu. Menurut Sovi, modul Intervensi DWB berfokus pada pemberian intervensi dengan pendekatan psikologis yang menyeluruh.  “Meskipun berbagai inisiatif digital well-being telah berkembang, sebagian besar masih berfokus pada pembatasan penggunaan teknologi dan belum didasarkan pada model psikologis yang komprehensif. Oleh karena itu, modul digital wellbeing ini disusun untuk intervensi psikologis preventif dan promotif untuk meningkatkan kesejahteraan digital pada dewasa muda,” ujar Sovi.  Pengembangan Modul Intervensi DWB bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kualitas modul dengan model konseptual. Model ini memandang kesejahteraan digital muncul melalui interaksi antara mekanisme protektif antara regulasi diri digital dan mekanisme promotif berupa optimalisasi aktivitas digital. Selain itu, pengembangan modul ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan intervensi berbasis hasil riset psikologi di era digital.  Sementara itu, anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UGM, Lusi, berharap pengembangan modul ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan produktif. “Kami berharap hasil pengembangan Modul Intervensi DWB ini ke depannya dapat diakses sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna,” ucap Lusi. Kegiatan pengembangan Modul Intervensi DWB meliputi analisis konseptual dan penurunan indikator intervensi; penyusunan kerangka dan alur sesi modul; pengembangan konten modul intervensi; validasi isi modul (content validity); dan uji coba terbatas (pilot study).  Pengenalan modul telah dilakukan pada 26 Juni, dan diikuti oleh 22 peserta berusia 17-34 tahun. Kegiatan ini memberikan gambaran mengenai alur pelaksanaan modul yang terdiri atas lima sesi dan disusun secara bertahap.  Pada sesi pertama yang bertema “Kesadaran Pola Digitalmu”, tim mengawali kegiatan dengan pembukaan, penyusunan kontrak kegiatan, dan pengenalan pola penggunaan digital. Sesi kedua, yaitu “Pelajari Cara Tetap Sejahtera di Era Digital”, berfokus pada pemahaman peserta terhadap konsep digital well-being. Aktivitas dilanjutkan dengan sesi ketiga dan keempat, yaitu “Kendalikan Dirimu di Dunia Digital” dan “Gunakan secara Berkualitas”. Kedua sesi tersebut mengarahkan peserta untuk memahami dan mengembangkan kemampuan regulasi diri digital serta mengoptimalisasikan aktivitas digital yang berkualitas. Sesi kelima, “Rancang Hidup Seimbang Digital”, menutup kegiatan pengenalan modul dengan mengajak peserta mengintegrasikan pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh dari sesi-sesi sebelumnya.  Antusiasme peserta terlihat dari komitmen mereka dalam mengikuti dan menyelesaikan seluruh sesi pada Modul Intervensi DWB. Peserta terlibat dalam kegiatan dan menunjukkan kesungguhan dalam memahami materi. Ke depannya, hasil pengisian modul dapat menjadi sumber informasi penting bagi tim peneliti untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam mendukung kesejahteraan digital peserta.  Melalui pengembangan ini, tim peneliti berharap Modul Intervensi DWB yang berbentuk intervensi mandiri dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna.  Penulis: Kayla Anindya SashikiranaEditor: Erna Tri Nofiyana

Selengkapnya

Fapet UGM dan Pemkab Blora Perkuat Sinergi Pengembangan Ayam Kampung Berbasis Pemberdayaan Peternak

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) bersama Pemerintah Kabupaten Blora terus memperkuat sinergi dalam pengembangan ayam kampung sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan peternak dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Komitmen tersebut ditindaklanjuti melalui pertemuan jajaran Pemkab Blora bersama tim UGM dan Bank Jateng di Fapet UGM, Jumat (23/10). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penjajakan kerja sama yang sebelumnya dirintis untuk mengembangkan potensi peternakan ayam kampung di Kabupaten Blora. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai tantangan di lapangan serta peluang pendampingan yang dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari aspek produksi hingga pemasaran. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fapet UGM, Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., menyampaikan bahwa UGM siap mendukung pengembangan peternakan di Blora melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu. Selain Fapet UGM, kerja sama ini juga melibatkan tim dari beberapa fakultas lain. Menurut Yuny, pendampingan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi ternak, tetapi perlu dirancang secara menyeluruh agar mampu membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. “Fapet bersama tim UGM lainnya siap melakukan pendampingan dan konsultasi pengembangan peternakan dari hulu hingga hilir. Harapannya, pengembangan ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, keberlanjutan program juga perlu mempertimbangkan dinamika anggaran yang dapat mengalami fluktuasi. Oleh karena itu, perencanaan program perlu disusun secara realistis, bertahap, dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat di lapangan. Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Blora, Dasiran, S.Ag., M.Si., menjelaskan bahwa pengembangan potensi peternakan di Blora menghadapi sejumlah tantangan, baik dari aspek lingkungan maupun ketersediaan lahan. Dalam lima bulan terakhir, kondisi cuaca yang relatif kering dan minim hujan turut memunculkan persoalan ketersediaan air bagi masyarakat. Selain persoalan air, penyediaan lahan untuk pengembangan usaha juga tidak mudah, terutama ketika berkaitan dengan pembebasan lahan dan kawasan hutan. Berbagai kendala tersebut membutuhkan perencanaan yang matang serta dukungan lintas sektor agar program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara optimal. Meski demikian, Pemkab Blora tetap berupaya mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan peternak. Selama ini, sektor minyak dan gas bumi menjadi salah satu sumber penghasilan penting bagi Kabupaten Blora sehingga penguatan sektor lain, termasuk peternakan, dinilai perlu terus didorong. Dasiran menilai kolaborasi dengan Fapet UGM dan tim lintas fakultas dapat menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Penguatan Peternak Dimulai dari Kelompok yang Sudah Berpengalaman Dari sisi teknis dan pemberdayaan, peneliti Fapet UGM, Dr. Ir. Heru Sasongko, M.P., menekankan pentingnya merancang program berdasarkan kondisi riil peternak dan pengalaman pelaksanaan program serupa. Ia mencontohkan, program bantuan ternak dan pakan yang pernah dijalankan di salah satu kabupaten belum selalu berhasil mencapai hasil yang diharapkan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa bantuan berupa ternak dan pakan saja tidak cukup apabila tidak disertai penguatan kapasitas, pendampingan, dan kelembagaan kelompok. Menurut Heru, pengembangan ayam kampung di Blora sebaiknya memprioritaskan peternak yang telah memiliki pengalaman beternak. Peternak yang sudah menjalankan usaha diharapkan dapat menjadi fondasi awal pengembangan sekaligus memperkuat keberlanjutan program. Heru juga telah melakukan pendataan terhadap 316 responden peternak sebagai bagian dari upaya memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan peternak. Data tersebut dapat menjadi salah satu bahan untuk menyusun pendekatan pendampingan yang lebih tepat sasaran.   Penulis: Satria

Selengkapnya

Gelar Serah Terima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea, Prodi BKK UGM Sekaligus Bagikan Buku Sejarah Korea untuk Angkatan 2026

Yogyakarta, 7 Oktober 2026 – Sebagai wujud apresiasi atas prestasi dan dedikasi akademis mahasiswanya, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea (BKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan acara serah terima beasiswa pada Rabu, 7 Oktober 2026. Acara ini mencakup penganugerahan Beasiswa Komitrando, Beasiswa KAGAMA Korea, sekaligus penyerahan buku Sejarah Korea bagi mahasiswa baru angkatan 2026. Kegiatan dibuka dengan hangat melalui sambutan dari Ketua Program Studi BKK UGM, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan apresiasi dari Ibu Irene selaku perwakilan dari pihak Komitrando. Memasuki agenda inti pertama, sertifikat Beasiswa Komitrando yang berupa bantuan pendidikan diserahkan secara langsung oleh Mr. Ahn Gyeong Hwan, perwakilan Komitrando. Beasiswa ini dianugerahkan kepada dua mahasiswi berprestasi, yaitu: Azzahra Ika Novitasari (IPK 3.68) Allysa Fadhia Pramudita (IPK 3.82) Setelah prosesi penyerahan sertifikat, kedua penerima beasiswa turut menyampaikan kesan dan pesan, serta mengutarakan komitmen untuk terus memaksimalkan potensi akademis mereka berkat dukungan pendidikan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Beasiswa KAGAMA Korea yang diserahkan oleh Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., dan Bapak Andri Saefudin, B.A., M.A.. Pada kesempatan ini, beasiswa dianugerahkan kepada 10 mahasiswa berprestasi Prodi BKK UGM dengan capaian nilai yang sangat membanggakan. Berikut adalah daftar kesepuluh penerima Beasiswa KAGAMA Korea: Rahadita Sekar Dea Alita (IPK 3.71) Layla Maryam Al-Muqaddas (IPK 3.70) Nadya Ammara Naura ADN (IPK 3.69) Nurhalima Ayunda Khoiriyya (IPK 3.79) Carissa Nura Firdaus (IPK 3.76) Salma Hayati Kurniasari (IPK 3.74) Paula Maureen Christella (IPK 3.69) Alvi Aulia Rachmi (IPK 3.97) Claudia Keishia Piji Swastika (IPK 3.92) Baiq Virnieza Muthia (IPK 3.92) Selain penganugerahan beasiswa, acara ini juga memfasilitasi kebutuhan literatur mahasiswa baru. Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D. menyerahkan Buku Sejarah Korea secara simbolis kepada Dylan selaku ketua angkatan, mewakili rekan-rekannya dari angkatan 2026. Kehadiran buku ini ditujukan sebagai bekal ilmu dan referensi berharga bagi perjalanan studi mahasiswa baru ke depannya. Tidak hanya kepada mahasiswa angkatan baru, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D. selaku Kaprodi BKK juga menyerahkan Buku Sejarah Korea kepada pihak Komitrando Mr. Ahn Gyeong Hwan dan Ibu Irene.   Selanjutnya, rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan jajaran dosen, perwakilan KOMITRANDO, penerima beasiswa, serta seluruh angkatan 2026. Selamat kepada para penerima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea! Semoga dukungan ini memberikan manfaat yang besar dan mampu memotivasi seluruh mahasiswa BKK UGM lainnya untuk terus bersemangat menorehkan prestasi cemerlang. Penulis: Salwa Aulia

Selengkapnya

Fornas XVI JKKI 2026 Dorong Revisi UU SJSN dan UU BPJS demi Penguatan Pendanaan Kesehatan

FK-KMK UGM. Transformasi sistem kesehatan membutuhkan napas panjang, tetapi di lapangan banyak pelaku layanan kesehatan justru merasa sesak. Gambaran itu mengemuka dalam Press Conference Forum Nasional (Fornas) XVI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) Tahun 2026 di Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Selasa (20/10). Kegiatan bersama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM ini menjadi pembuka sebelum forum utama digelar pada 21 hingga 22 Oktober 2026. Sumber kesesakan itu adalah pendanaan. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta Indonesia masih sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari Malaysia yang berkisar 4,5 persen dan China yang mendekati 5 persen. Pengeluaran kesehatan per kapita pun baru sekitar 150 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai 480 dolar AS. Akibatnya, pelayanan terhambat, pendapatan tenaga kesehatan belum sebanding dengan tanggung jawabnya, dan mutu layanan ikut menurun. Tekanan serupa dirasakan pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa usulan perbaikan regulasi sebenarnya telah dirumuskan sejak 2019, tetapi terhenti oleh pandemi COVID-19. Kala itu, dana Pemulihan Ekonomi Nasional sempat menghadirkan surplus bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit. “Setelah COVID selesai, … defisit mulai muncul lagi. Jadi ini penyakit lama,” ujarnya. Menurut Prof. Laksono, dampaknya pertama kali terasa di rumah sakit karena pembayaran klaim menjadi lebih lambat. Jika mutu layanan turun, masyarakat yang akhirnya menanggung akibatnya, termasuk harus membayar langsung dari kantong sendiri. “Mutu pelayanan jangan turun,” tegasnya. Ia juga menyoroti manfaat JKN yang lebih banyak dinikmati warga Jawa dan kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan dokter dan rumah sakit. Di tengah tekanan anggaran negara, masyarakat yang mampu pun perlu didorong membeli asuransi swasta agar beban kesehatan tidak bertumpu pada satu sumber. Berangkat dari persoalan tersebut, Fornas XVI mengusung penguatan kebijakan pendanaan kesehatan dan JKN, termasuk dorongan merevisi UU SJSN dan UU BPJS 2011. Selain Prof. Laksono, press conference ini menghadirkan Prof. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes., dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., dan Muhamad Faozi Kurniawan, S.E., MPH. sebagai narasumber. Penyelenggara menargetkan belanja kesehatan naik menjadi 4 hingga 5 persen PDB dalam 10 tahun. Prof. Laksono menyadari peran perguruan tinggi memiliki batas. “Kalau kita perguruan tinggi, kita hanya bisa memberikan data, analisis,” katanya, sehingga organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan media diajak ikut bersuara. Revisi tersebut diharapkan mulai masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2027. Upaya memperkuat pendanaan ini sejalan dengan SDG 3 kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya jaminan kesehatan semesta. Pemerataan manfaat JKN bagi daerah terpencil berkaitan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).  

Selengkapnya

Aksi Waste Management pada Jalan Sehat dan Kumpul Rimbawan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63

Yogyakarta, 16 Oktober 2026 – Sampah menjadi isu internasional yang terkenal menyumbang pencemaran udara dan sumber penyebaran penyakit. Sebuah kajian mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik 3,2 juta ton dan 1,29 juta ton berakhir di laut. Di Yogyakarta sendiri, masalah terbesar ada pada pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknik open dumping. Teknik tersebut dilakukan di TPA Piyungan seluas 16 hektare dengan timbunan sampah mencapai 600–800 ton perhari. Hal ini tentunya berdampak pada lingkungan dan kesehatan seperti pencemaran air sumur, penyebaran penyakit lewat lalat, dan polusi lewat emisi metana serta air lindi. Menanggapi kondisi ini, Fakultas Kehutanan UGM melalui tim “Rumeksa” menyelenggarakan program waste management yang dilakukan pada kegiatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63. Kegiatan ini dilakukan pada acara Jalan Sehat dan Malam Puncak sebagai upaya mengelola dan mengatasi masalah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini menjadi aksi iklim mengatasi masalah sampah dari sumbernya dengan tidak hanya memilah sampah dari hulu untuk mengurangi beban di hilir, tetapi juga memaksimalkan nilai material dari sampah tersebut. Dalam mekanisme pelaksanaannya, tim waste management membagi sampah menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sampah organik yang berupa sisa makanan dan sisa buah, sampah daur ulang seperti dupleks, plastik (thinwall dan botol), karton, sendok, dan sedotan, dan sampah residu seperti tisu, gelas/mangkok kertas, dan mika. Selain ketiga sampah tersebut, terdapat juga daftar sampah yang dihindari, seperti sterofoam, piring mika, kertas minyak, dan papercup. Adanya mekanisme pemilahan dan pengurangan sampah ini tentunya menunjang keberhasilan dari tujuan awal waste management yaitu mengurangi timbunan dan memaksimalkan potensi sampah. Edukasi ini juga disampaikan melalui poster yang disebar ke dalam 8 titik di area ‘kritis’ sampah dan kumpulan orang dalam bentuk berikut. Selain mekanisme operasional, kegiatan ini juga didukung oleh tim volunteer yang telah membantu dan mendukung jalannya waste management dalam Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Para volunteer berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, mulai dari mahasiswa S1 dari berbagai angkatan dan mahasiswa S2. Harapannya, dengan memberikan kesempatan volunteer, relawan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, baik dari segi konsep maupun praktiknya. Kegiatan waste management dilakukan secara operasional di lapangan pada tanggal 4 dan 9 Oktober 2026, yaitu ketika acara Jalan Sehat dan Malam Puncak Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Secara teknis, kelancaran program ini juga didukung oleh beberapa pihak, khususnya adalah para relawan waste ranger yang cekatan dan tanggap dalam mengedukasi dan memilah sampah yang dihasilkan dari acara tersebut. [caption id="attachment_11710" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Jalan Sehat[/caption] “Saya senang teman-teman rangers antusias dalam inisiasi ini. Harapan saya, inisiasi ini bisa menjadi pemantik untuk pengelolaan sampah yang lebih baik kedepannya, baik di”, ucap Maulida Muhadini sebagai salah satu inisiator kegiatan ini. [caption id="attachment_11711" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Malam Puncak Dies Natalis ke-63[/caption] Beberapa kendala yang dialami oleh tim waste ranger antara lain adalah sosialisasi aturan pemilahan sebelum acara perlu diperkuat, partisipasi peserta dalam memilah sampah masih perlu didorong, dan beberapa tenant yang meninggalkan sampah tercampur, sehingga berdampak pada timbunan sampah yang banyak. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan langkah adaptif tim waste management dan para volunteer yang cekatan dan dengan semangat memilah sampah dan mengedukasi peserta. [caption id="attachment_11712" align="aligncenter" width="1920"] Hasil Timbulan Sampah pada dua kegiatan[/caption] Berdasarkan grafik timbulan sampah yang dihimpun selama rangkaian acara, terdapat perbedaan komposisi yang signifikan antara Jalan Sehat dan Malam Puncak. Pada acara Jalan Sehat, sampah didominasi oleh jenis Residu sebesar 15,20 kg (41,6%), diikuti oleh sampah Recycle sebesar 14,20 kg (38,9%), dan Organik sebesar 7,10 kg (19,5%). Sementara itu, pada acara Malam Puncak, komposisi sampah yang tertimbang mayoritas adalah sampah Organik yang mencapai 122,50 kg (75,5%) dan sampah Recycle sebesar 39,80 kg (24,5%). Sebagai catatan penting, data sampah residu pada Malam Puncak tidak dapat dihitung atau ditimbang secara pasti akibat jumlah dan volumenya yang terlalu besar, ditambah dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh tim di lapangan pada saat penutupan maupun pasca acara. Dengan adanya kendala tersebut, ke depannya, dapat dilakukan penegasan kepada tenant terkait material yang dihindari agar mengurangi timbunan sampah residu. Selanjutnya, diharapkan bahwa seluruh pihak, mulai dari panitia dan seluruh tim, diharapkan juga lebih menjaga kebersihan dan berkontribusi dalam kebersihan acara. Meskipun mengalami beberapa kendala, program ini diharapkan juga tetap berkelanjutan sehingga dapat terus mengedukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kualitas lingkungan Fakultas Kehutanan UGM.   Penulis: Rizky Lanang Rangga Kumara, Maulida Muhadini Dokumentasi: Jiil Apriliyani, Thoriq Muhamad Akbar Yusuf

Selengkapnya

Tim Sekolah Vokasi UGM Kembangkan PathoCODE, Bantu Calon Perekam Medis Hindari Salah Kode Klaim JKN

(SLEMAN) Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan PathoCODE, media pembelajaran digital untuk kodifikasi penyakit pernapasan dan penetapan severity level dalam sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBG). Pengembangan dilakukan pada April hingga Oktober 2026 di Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM, melalui Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 skema kompetitif. Penelitian diketuai oleh Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH dan beranggotakan Dr. Savitri Citra Budi, S.KM., M.P.H., Nuryati, S.Far., M.P.H., dan Sugeng, S.KM., M.M. dari Sekolah Vokasi UGM, Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc. dari Departemen Parasitologi FK-KMK UGM, serta tiga mahasiswa MIK, yaitu Khodijah Aulia, Nasywa Natania Ramadhani, dan Rifka Aulia Rizki. Pembangunan platform dilakukan bersama mitra PT Lentera Amartha Berdaya. [caption id="attachment_1762" align="alignnone" width="600"] Infografis riset PathoCODE: permasalahan kodifikasi, enam modul belajar, hasil uji coba pada 48 mahasiswa, dan kolaborasi pengembangan. (Foto: Dok. Tim Peneliti PathoCODE)[/caption] Ketepatan kodifikasi diagnosis dan tindakan menjadi kunci dalam pembayaran rumah sakit pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam sistem INA-CBG, setiap episode rawat inap dikelompokkan berdasarkan diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan tindakan. Kode diagnosis sekunder yang tergolong komorbiditas atau komplikasi menentukan severity level 1, 2, atau 3 beserta besaran tarifnya. Studi di Malaysia mencatat 89,4 persen rekam medis yang diaudit memuat setidaknya satu kesalahan kode, dan diagnosis sekunder menjadi unsur yang paling sering keliru. Kondisi serupa dilaporkan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Pengembangan PathoCODE bertujuan menyediakan media yang memadukan materi klinis, kodifikasi, dan simulasi severity level dalam satu tempat, sehingga mahasiswa dapat berlatih penalaran koding sebelum terjun ke rumah sakit. Pengembangan PathoCODE mengikuti model ADDIE yang terdiri atas tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap analisis, tim mengkaji capaian pembelajaran mata kuliah kodifikasi dan pedoman INA-CBG dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2021. Tahap desain dan pengembangan dikerjakan bersama PT Lentera Amartha Berdaya dan menghasilkan lima versi aplikasi yang ditelaah secara internal oleh tim. Seluruh kode diselaraskan dengan ICD-10 versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan INA-CBG, bukan versi modifikasi klinis Amerika Serikat (ICD-10-CM). Tahap implementasi dan evaluasi dilaksanakan melalui uji coba kepada mahasiswa MIK pada September–Oktober 2026. PathoCODE memiliki enam modul utama. Modul anatomi–patologi menampilkan sepuluh area saluran napas yang dapat diklik dan memetakan 57 kode penyakit J00–J18. Modul triase gejala membantu menelusuri kemungkinan diagnosis beserta kodenya. Modul alur pembelajaran tujuh langkah membahas sepuluh penyakit utama, mulai dari anatomi hingga INA-CBG. Simulator severity level memperlihatkan perubahan tingkat keparahan secara langsung ketika kode CC atau MCC ditambahkan. Aplikasi juga dilengkapi bank soal kasus serta referensi berupa tabel 145 kode ICD-10, panduan INA-CBG, dan glosarium 32 istilah. Aplikasi dapat diakses melalui peramban di laptop maupun ponsel pada alamat https://pathocode.jasoet.co. “Kolaborasi lintas bidang ilmu membuat materi klinis dan materi kodifikasi dapat disusun secara utuh. Mahasiswa dapat melihat letak penyakit, perjalanan klinisnya, hingga dampaknya pada pengelompokan kasus," ujar Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc., dosen Departemen Parasitologi FK-KMK UGM. "Kesalahan koding yang tidak terlihat dapat berdampak pada klaim rumah sakit. Melalui PathoCODE, kami ingin mahasiswa terbiasa mengode apa yang terdokumentasi dan mendokumentasikan apa yang dikerjakan," tutur Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH. Penelitian ini menghasilkan beberapa luaran. Luaran pertama adalah aplikasi PathoCODE yang telah diuji coba oleh 48 mahasiswa, dengan penilaian kelayakan media sebesar 81,4 persen atau kategori sangat layak. Luaran kedua adalah instrumen evaluasi yang mengukur kompetensi kodifikasi, kegunaan, dan kualitas media. Luaran berikutnya adalah naskah artikel ilmiah yang sedang disiapkan untuk jurnal internasional, serta rencana pendaftaran hak cipta atas aplikasi. Hasil uji coba juga memetakan bagian yang masih perlu diperkuat, terutama pemahaman mahasiswa dalam membedakan kode CC dan MCC. Riset ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target cakupan kesehatan semesta, melalui penguatan kompetensi tenaga pengelola informasi kesehatan yang menopang ketepatan pembiayaan JKN. Riset ini juga mendukung SDG ke-4, Pendidikan Berkualitas, melalui media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan dengan PT Lentera Amartha Berdaya. Ke depan, tim peneliti akan menyempurnakan PathoCODE berdasarkan masukan pengguna dan telaah ahli koding, termasuk validasi oleh koder praktisi rumah sakit dengan target skor validasi minimal 80 persen serta pencocokan dengan aplikasi grouper INA-CBG resmi. Tim juga merencanakan perluasan materi ke bab ICD-10 lainnya serta persiapan menghadapi penerapan ICD-11. PathoCODE diharapkan dapat menjadi sumber belajar pendamping bagi mahasiswa perekam medis dan informasi kesehatan, sekaligus mendukung upaya peningkatan mutu data klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Akses PathoCODE: https://pathocode.jasoet.co (dapat dibuka melalui peramban di laptop maupun ponsel)

Selengkapnya

130 Peserta Ramaikan Tenis Kagama Cup, Jadi Ajang Reuni sekaligus Unjuk Kebolehan

Sebanyak 130 peserta mengikuti Turnamen Tenis Kagama Cup di GOR Lembah Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 17–18 Oktober, turnamen tahunan yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) ini memasuki penyelenggaraan ke-XIX dan menjadi ajang silaturahmi bagi alumni UGM melalui olahraga tenis. Dalam pembukaannya, turut dihadiri oleh Ketua Senat Akademik UGM, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. Seremoni pembukaan turnamen ini turut dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, dan Ketua Dies Natalis ke-77 UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku ketua panitia, mengatakan bahwa kompetisi ini berawal dari keinginan alumni untuk berkumpul dan bermain tenis bersama. Kemudian, dikembangkan menjadi sebuah kompetisi agar lebih menarik dan meriah. “Kalau konteksnya pasti selalu reuni. Reuninya (dibarengi dengan) main tenis. Kalau cuma reuni main tenis, itu kurang gayeng, maka diadakanlah turnamen,” ujar Wikan. Wikan menjelaskan turnamen ini bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan pemenang sampai podium saja, melainkan tim yang menang akan menjadi delegasi tim tenis dari Kagama untuk berkompetisi antarikatan/keluarga alumni universitas di Indonesia. “Kalau jajaran pemenang, biasanya kita masukkan ke tim Kagama yang bertanding melawan keluarga alumni kampus lain. Jadi, kompetisi itu memang ada setiap tahun. Ini (KAGAMA CUP) tiap tahun, yang itu juga tiap tahun,” ungkapnya. Direktur Kemahasiswaan Hempri Suyatna menyampaikan turnamen Tenis Kagama Cup merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara UGM dan keluarga alumni. Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan olahraga, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama dalam berbagai kegiatan lainnya. “Saya kira kolaborasi ini tidak hanya berhenti di lapangan tenis, tetapi juga dalam berbagai bentuk kegiatan yang lain,” ujar Hempri saat membuka KAGAMA Tennis Cup 2026. Ketua Panitia Die Natalis UGM, Siti Murtiningsih juga menyampaikan ucapan selamat bertanding kepada para peserta dan harapan agar turnamen ini dapat terus diselenggarakan dan menjadi ajang silaturahmi. “Menurut saya, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi yang harus terus kita jaga dan rawat. Pertandingan hari ini bukan semata-mata tentang menang atau kalah, melainkan menjadi ruang untuk menjalin silaturahmi dan mempererat persaudaraan,” tuturnya. Wira, selaku Bendahara Tenis Kagama Cup 2026, menjelaskan bahwa turnamen tahun ini mempertandingkan tiga kategori, yakni kelompok usia 65 tahun ke atas (KU 65), 55 tahun ke atas (KU 55), serta kategori jumlah usia pasangan 85 tahun (KU 85). Ia mengatakan, turnamen berlangsung selama dua hari dengan sistem pertandingan yang berbeda pada setiap harinya.“Jadi, kita sistemnya hari pertama itu sistem grup. Satu pemain bisa main tiga sampai empat kali. Baru di hari kedua kita mulai masuk 16 besar. Nah, itu kita baru mulai masuk sistem gugur,” jelas Wira. Dalam pelaksanaannya, panitia menggunakan empat lapangan outdoor di UGM dan empat lapangan indoor di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mengakomodasi jumlah pertandingan. Sementara itu, pertandingan semifinal dan final dari ketiga kategori dijadwalkan berlangsung di GOR Lembah UGM pada hari kedua turnamen. Wira juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini menghadapi tantangan dalam mencari sponsor di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif. Meski demikian, dukungan dan semangat kebersamaan para peserta membantu turnamen tetap terlaksana.“Tantangan untuk tahun ini memang cukup tricky untuk mencari sponsor karena kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, dengan keguyuban peserta dan semboyan kami, ‘dari peserta untuk peserta’, kami mencoba bersama-sama. Ada yang mendukung bola, konsumsi, pertandingan, dan sebagainya,” ungkapnya. Manfaat Kagama Tennis Cup juga dirasakan langsung oleh peserta. Ringgo, anggota Kagama sekaligus mahasiswa Magister Manajemen UGM angkatan 2021, mengatakan bahwa turnamen ini menjadi salah satu agenda yang dinantikan setiap tahun karena mempertemukan alumni dengan latar belakang dan profesi yang beragam. “Event tahunan ini salah satunya untuk bersilaturahmi, khususnya insan tenis alumni UGM. Alumni-alumni yang bekerja di Jakarta maupun di luar Jawa bisa berkumpul setahun sekali untuk acara tenis. Namun, tidak hanya tenis saja, kita juga menyambung silaturahmi,” ujar Ringgo. Baginya, nilai utama turnamen ini bukan terletak pada besarnya hadiah atau kemeriahan acara, melainkan pada kesempatan untuk menjaga hubungan antar alumnus. Pertemuan tersebut bahkan dapat membuka peluang baru melalui pertukaran informasi dan pengalaman. “Kita tidak berharap hadiahnya lebih besar atau hospitality-nya seperti apa. Konsep utamanya adalah untuk menyambung silaturahmi,” tuturnya. Ringgo berharap turnamen antar alumni UGM dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. “Keberlanjutan kegiatan ini penting agar para alumni tetap memiliki ruang untuk bertemu, berolahraga, dan memperkuat jejaring,” pungkasnya. Disela kegiatan turnamen, Akhdiyat Duta Modjo, vokalis band Sheila on 7 sempat hadir menyaksikan langsung. Meski tidak ikut bertanding, Duta, demikian ia akrab disapa, sengaja menyaksikan sahabatnya yang merupakan teman satu angkatan saat kuliah di FTP UGM ikut bertanding. Apalagi belakangan ini Duta memiliki hobi main tenis lapangan dengan jadwal rutin latihan dua kali seminggu. Penulis    : M. Aidil Syahputra Editor      : Gusti Grehenson foto       : Aidil, Dok. Komunitas Tenis UGM