BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

FK-KMK UGM Buka Hibah Terintegrasi AHS 2026 untuk Penguatan Sistem Kesehatan

FK-KMK UGM. Sistem Kesehatan Akademik (Academic Health System/AHS) UGM menyelenggarakan program Hibah Terintegrasi AHS periode tahun 2026 sebagai upaya memperkuat sinergi antara institusi pendidikan, rumah sakit pendidikan, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjawab permasalahan prioritas kesehatan di masyarakat. Program ini dirancang untuk mendorong lahirnya inovasi serta rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan berkelanjutan. Pengumuman penerimaan proposal hibah ini disampaikan pada 30 Maret 2026, dengan cakupan pelaksanaan program di wilayah kerja AHS UGM. Hibah Terintegrasi AHS UGM merupakan instrumen strategis yang mengedepankan pendekatan kolaboratif lintas sektor. Setiap kegiatan yang diusulkan diharapkan melibatkan masyarakat sasaran secara aktif agar program yang dijalankan memiliki keberlanjutan dan dampak nyata. Selain itu, proposal wajib menunjukkan keterlibatan berbagai institusi, termasuk perguruan tinggi, rumah sakit anggota AHS UGM beserta jejaringnya, pemerintah daerah, serta stakeholder lain yang relevan dengan isu kesehatan yang diangkat. Dalam skema pendanaan, FK-KMK UGM menyediakan dana hibah maksimal sebesar Rp30.000.000 sebagai stimulan awal. Pengusul juga diberikan kesempatan untuk memperoleh tambahan pendanaan dari sumber lain yang sah, seperti mitra institusi maupun pemerintah daerah. Dukungan kolaboratif tersebut menjadi nilai tambah dalam proses seleksi proposal, karena mencerminkan kekuatan sinergi antar pihak dalam implementasi program. Setiap proposal diwajibkan menyusun Rencana Anggaran Biaya secara rinci yang mencakup seluruh sumber pendanaan yang digunakan. Mekanisme penyaluran dana hibah dilakukan secara penuh di awal melalui rekening Ketua Tim Pengusul. Sementara itu, wilayah implementasi program difokuskan pada area kerja AHS UGM yang meliputi Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, Klaten, Kabupaten Magelang, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Wonosobo. Batas akhir pengumpulan proposal ditetapkan pada 25 April 2026 pukul 23.59 WIB melalui email resmi AHS UGM. Melalui program ini, FK-KMK UGM menegaskan perannya sebagai institusi akademik yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga berkontribusi langsung dalam penguatan sistem kesehatan daerah. Integrasi antara akademisi, layanan kesehatan, dan pemerintah menjadi kunci dalam menghasilkan intervensi yang tepat sasaran dan berbasis kebutuhan masyarakat. Program hibah ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan intervensi kesehatan berbasis bukti yang bertujuan meningkatkan kualitas layanan dan menurunkan beban penyakit di masyarakat, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan adanya inovasi dalam program hibah yang dilaksanakan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai karena adanya kolaborasi antara institusi pendidikan, rumah sakit, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam merancang dan melaksanakan program kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Panduan Hibah dapat diakses melalui tautan berikut ini: ugm.id/PanduanHibahAHS2026 (Kontributor: Ayu Hamida Aprilia).

Lanjut Baca

Mengubah Air Hujan Menjadi Sumber Kehidupan: Strategi Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia dan Pengurangan Emisi Karbon

Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah, melainkan realitas yang mengetuk pintu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pola curah hujan yang tidak menentu dan penurunan muka air tanah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup. Menjawab tantangan ini, tim peneliti dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin oleh Prof. Dr-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN.Eng, merilis hasil penelitian krusial di tahun 2025 ini. Bertajuk "Studi Pilihan dalam Memanfaatkan Air Tanah dan Memanen Air Hujan untuk Peningkatan Kesehatan dan Kesejahteraan terhadap Perubahan Iklim di Indonesia", riset ini menyoroti dua lokasi strategis dengan karakteristik hidrologi yang kontras namun menghadapi tantangan serupa: Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Semarang. Paradigma Baru: Jangan Buang Air ke Laut Selama bertahun-tahun, paradigma pengelolaan air konvensional berfokus pada drainase—membuang air hujan secepat mungkin ke sungai dan laut. Riset ini mengadvokasi perubahan fundamental menuju konsep Pemanenan Air Hujan (PAH). "Air hujan adalah berkah, bukan musibah. Dengan teknologi tepat guna, air hujan dapat dikelola menjadi sumber air bersih yang melimpah, mendukung kesehatan masyarakat, dan bahkan kebutuhan peternakan." Di Kabupaten Gunungkidul, yang kerap diasosiasikan dengan kekeringan saat kemarau, dan Kabupaten Semarang yang mewakili wilayah peri-urban, tim peneliti melakukan survei mendalam serta dialog partisipatif dengan pemerintah dan kelompok masyarakat. Dokumentasi lapangan menunjukkan antusiasme warga dalam mengadopsi teknologi PAH. Selain itu, penggunaan PAH juga dapat menghemat listrik dan menurunkan kadar emisi karbon. Hal ini menjadi salah satu luaran dari penelitian yang dilakukan tahun 2025 ini.   Integrasi Nyata dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Penelitian ini tidak hanya berhenti pada tataran teknis, tetapi secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Berikut adalah tiga pilar utama dampak penelitian ini: Air Bersih & Sanitasi (SDGs 6) Mengurangi ketergantungan pada air tanah yang semakin dalam dan terkadang mengandung kapur tinggi, menggantinya dengan air hujan yang telah difiltrasi dan layak konsumsi. Penanganan Perubahan Iklim (SDGs 13) Meningkatkan ketahanan masyarakat (resiliensi) terhadap cuaca ekstrem. Saat hujan, air disimpan untuk mencegah banjir; saat kemarau, cadangan air tersedia. Kehidupan Sehat & Sejahtera (SDGs 3) Ketersediaan air bersih berkorelasi langsung dengan penurunan risiko penyakit. Di lokasi penelitian Kabupaten Semarang, air hujan bahkan dimanfaatkan untuk sanitasi peternakan, menciptakan lingkungan yang lebih higienis dan produktif. Menuju Kemandirian Air Nasional Laporan akhir hibah penelitian ini merekomendasikan replikasi model PAH di berbagai wilayah Indonesia. Tim peneliti yang beranggotakan Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, Muhammad Sulaiman, D.Eng., serta peneliti muda Adnin Musadri, Daniel Wolo, dan Pratama Tirza, optimis bahwa pendekatan berbasis komunitas adalah kunci. "Masyarakat tidak lagi menjadi objek pasif yang menunggu bantuan air tangki saat kemarau, melainkan menjadi aktor aktif yang memanen, mengolah, dan memanajemen air mereka sendiri.”

Selengkapnya

Menuju Keluarga Mandiri dan Berdaya melalui Program POWER

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=MU6NLZXtpyg[/embed] Menuju Keluarga Mandiri dan Berdaya melalui Program POWER. Video ini merupakan video 3 minutes thesis dari Hibah penelitian dosen Sekolah Pascasarjana 2024 dari Prodi Bioetika yang diketuai oleh Prof. Dr. Sismindari, Apt., SU., Ph.D.

Selengkapnya

Sambut Ramadan, Wanagama Hadirkan Pasar Murah dan Bazar Sembako untuk Masyarakat Sekitar

Gunungkidul – Hutan Pendidikan dan Pelatihan Wanagama I kembali menggelar acara tahunan Bazar Ramadan dan Pasar Murah pada hari ini, Sabtu, 7 Maret 2026, di Gedung Serbaguna Wanagama. Kegiatan yang telah sukses diselenggarakan sejak tiga tahun terakhir ini bertujuan untuk mengenalkan Wanagama kepada masyarakat luas, memperkuat peran Wanagama sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan edukasi lingkungan, serta mempererat tali silaturahmi antara masyarakat sekitar dengan KHDTK Wanagama I. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam melestarikan Hutan Wanagama, dan memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari dengan harga yang jauh lebih terjangkau di bulan Ramadan ini. Bazar Ramadan dan Pasar Murah tahun ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan menarik, di antaranya: Stand Pakaian Bekas Layak Pakai (Thrifting): Menawarkan pakaian bekas layak pakai dengan harga terjangkau. Pasar Murah Sembako: Menyediakan paket sembako yang berisi kebutuhan pokok seperti beras 2,5 kg, gula 1 kg, dan minyak 1 liter. Setiap paket sembako dijual dengan harga Rp 50.000. Tahun ini, Wanagama menyiapkan 300 paket sembako untuk masyarakat sekitar kawasan. Bazar Sembako Diskon: Menyediakan beras 2,5 kg, gula 1 kg, minyak 1 liter, kopi giling, hingga sirup yang di diskon hingga 50% dengan jumlah terbatas. Antusiasme masyarakat sekitar tetap tinggi. Hal ini terlihat dari mengularnya antrian masyarakat yang hendak menukarkan kupon miliknya sejak satu jam sebelum bazar dimulai.  Salah seorang warga Kelurahan Banaran, Nur, mengatakan bahwa adanya Bazar Sembako Murah yang diselenggarakan Wanagama ini selalu dinilai sangat membantu warga dalam menyambut Ramadan. “Kami merasa terbantu dengan adanya bazar sembako yang diselenggarakan Wanagama” ujarnya. Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan berbagai pihak, yakni Fakultas Kehutanan, Yayasan Oemi Hani’in, Zoomia Coffee, hingga  para Sahabat Wanagama. Wanagama melalui kegiatan Bazar Ramadan dan Pasar Murah diharapkan dapat terus memberikan manfaat yang besar secara berkelanjutan bagi masyarakat sekitar dan memperkuat peran Wanagama sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Penulis dan Dokumentasi : Zulva Ulin – Wanagama [gallery size="large" columns="1" ids="9069,9070,9071,9072"]

Selengkapnya

Dari Air Bersih hingga Pojok Baca, Pengabdian Mahasiswa KKN-PPM UGM di Aceh

[caption id="attachment_13676" align="alignnone" width="555"] Dari Air Bersih hingga Pojok Baca, Pengabdian Mahasiswa KKN-PPM UGM di Aceh[/caption] Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program KKN-PPM Peduli Bencana Sumatera 2026. Program ini menjadi wujud nyata kontribusi UGM dalam mendukung fase pemulihan (recovery) pasca bencana melalui pendekatan multidisipliner yang berfokus pada sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 30 hari dari akhir Januari hingga awal Maret 2026. Koordinator Unit KKN PPM UGM, Dewarta Bagus Bagaskara, mahasiswa Sekolah Vokasi Departemen Teknik Sipil angkatan 2023, menyampaikan bahwa partisipasinya dilandasi kepedulian kemanusiaan serta keinginan untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan. “Dorongan utamanya adalah rasa kemanusiaan. Saya merasa ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah akan jauh lebih bermanfaat jika dipraktekkan langsung di lapangan, khususnya dalam fase pemulihan pasca bencana,” ujarnya, Rabu (4/3). Pada sektor infrastruktur, tim KKN-PPM UGM melakukan perbaikan sanitasi warga serta instalasi penjernihan air untuk memastikan akses air bersih kembali tersedia. Selain itu, mahasiswa turut membantu pendistribusian dan pemetaan hunian sementara (huntara), membangun balai masjid yang difungsikan sebagai pusat kegiatan masyarakat, serta memasang penerangan jalan berbasis panel surya. Kemudian, di bidang pendidikan dan fasilitas umum, tim membangun MCK dan menyediakan toren air di SMP setempat, serta merevitalisasi ruang bersalin di puskesmas guna mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak.  Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) khususnya Tujuan 6 - Air Bersih dan Sanitasi Layak dan Tujuan 11 - Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Dalam sektor kesehatan, mahasiswa melaksanakan sosialisasi dan praktik cuci tangan di sekolah dengan pengadaan sabun, revitalisasi ruang pelayanan kesehatan, serta menggelar pengobatan gratis berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan puskesmas setempat. “Tim juga memberikan terapi korespondensi sujok serta menghibahkan alat kesehatan kepada tenaga medis desa, termasuk bidan dan kader kesehatan,” ujarnya. Kegiatan ini mendukung TPB pada Tujuan 3 - Kehidupan sehat dan sejahtera. Sementara di sektor pendidikan, mahasiswa membantu kegiatan belajar-mengajar di SD dan SMP, mengadakan aktivitas literasi dan senam bersama, membangun pojok baca dari hasil donasi buku, serta melakukan edukasi pengelolaan sampah yang berkoordinasi dengan takmir masjid. Pelaksanaan program pengabdian ini tentu saja dibarengi dengan tantangan yang dihadapi di lapangan. Disebutkan bahwa tantangan utama selama pelaksanaan program adalah aspek logistik dan aksesibilitas, mengingat beberapa lokasi terdampak sulit dijangkau. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat mahasiswa untuk tetap menjalankan program kerja secara optimal. Secara langsung, kegiatan ini mendukung TPB pada Tujuan 4 - Pendidikan berkualitas. Diungkapkan oleh Dewa, Bagi tim, momen paling berkesan adalah ketika warga kembali dapat menikmati akses air bersih dan melihat progres pembangunan hunian sementara. “Ada momen saat melihat warga kembali tersenyum lebar ketika air bersih mulai mengalir kembali. Di sana saya sadar bahwa resiliensi masyarakat kita itu luar biasa hebat,” tutur Dewa. Melalui program ini, UGM tidak hanya mendorong mahasiswa untuk mengimplementasikan keilmuan secara aplikatif, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan solidaritas sosial. “Menjadi kormanit adalah pelajaran kepemimpinan paling nyata bagi saya. Saya belajar bahwa menjadi pemimpin bukan soal memberi perintah, tapi soal bagaimana melayani dan mendengarkan anggota tim juga warga setempat,” ungkapnya. Program KKN-PPM Peduli Bencana Sumatera 2026 menegaskan peran UGM sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat, terutama dalam situasi krisis. Melalui kolaborasi, empati, dan kerja tim, UGM berkomitmen terus berkontribusi dalam upaya pemulihan dan penguatan ketahanan masyarakat pascabencana. Penulis  : Jelita Agustine Foto       : Tim KKN PPM

Selengkapnya

MBA SA Care: Berbagi Kebahagiaan Ramadan Bersama Anak Panti Asuhan

Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melalui MBA Student Association (MBA SA) menyelenggarakan kegiatan sosial “BERBAGI: Buka Bersama, bagi Kasih, Kebahagiaan, dan Kepedulian untuk Sesama”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026 di Leadership Hall MBA FEB UGM Yogyakarta sebagai bagian dari rangkaian kegiatan berbagi di bulan suci Ramadan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MBA Student Association (MBA SA) 20.0, FORKIS, dan KMK, yang bertujuan menghadirkan momen kebersamaan melalui acara buka puasa bersama dengan anak-anak dari Panti Asuhan Sayap Ibu. Melalui kegiatan ini, mahasiswa MBA FEB UGM tidak hanya berbagi hidangan berbuka, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan yang penuh kehangatan, kebahagiaan, dan kepedulian. Menjelang pelaksanaan acara, panitia membuka periode donasi pada 22 Februari hingga 3 Maret 2026. Donasi dihimpun dari berbagai pihak yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan berbagi ini. Antusiasme para donatur cukup tinggi, tercermin dari 42 donatur yang berkontribusi, baik secara individu maupun kolektif. Dari proses penggalangan dana tersebut, panitia berhasil mengumpulkan total Rp11.500.000. Dalam kesempatan tersebut, Deputy Director of MBA FEB UGM Yogyakarta, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., turut menyampaikan sambutan sekaligus memberikan motivasi kepada anak-anak panti asuhan. Ia berharap anak-anak yang hadir tetap semangat belajar dan berani meraih cita-cita. Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Siapa tahu nanti teman-teman bisa bergabung bersama kami, sekolah di sini. Aamiin ya. Mudah-mudahan kakak-kakak dan adik-adik semua di sini menjadi pemimpin yang bermanfaat dan juga bermanfaat untuk sesama,” ujar Luluk. Sementara itu, Muhammad Nadhif Daffa Priyansa, selaku CEO MBA SA 20.0, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas kehadiran anak-anak dari Panti Asuhan Sayap Ibu. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan kolaborasi ini dapat menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan serta menumbuhkan semangat berbagi di bulan Ramadan. “Senang sekali saya dapat berdiri di sini menyambut teman-teman, terutama dari Panti Sayap Ibu. Saya berharap melalui event kolaborasi ini kita dapat bersama-sama berdonasi, berbuka puasa bersama, dan merayakan kebahagiaan di bulan suci ini. Saya juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus terjaga dan dilaksanakan di masa mendatang,” ujar Nadhif. Feri Rahmawan, M.A., selaku Kepala Panti 3 – Panti Disabilitas Kemandirian Terlantar Yayasan Sayap Ibu Cabang DIY, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas undangan serta perhatian yang diberikan kepada anak-anak panti dalam kegiatan tersebut. “Saya mewakili Ketua Umum Panti Asuhan Sayap Ibu mengucapkan banyak terima kasih karena kami diundang pada kesempatan sore hari ini. Sekali lagi terima kasih, semoga anak-anakku semua tetap semangat mengikuti acaranya,” ujar Feri. Kegiatan MBA SA Care diisi dengan berbagai rangkaian acara yang menghadirkan suasana hangat dan penuh keceriaan seperti mengikuti beragam games seru yang melibatkan interaksi antara mahasiswa dan anak-anak panti asuhan, sehingga menciptakan momen kebersamaan yang dipenuhi tawa dan kegembiraan. Selain itu, juga ada pembacaan ayat suci Al-Quran. Acara ini juga turut dimeriahkan dengan tausiah dongeng inspiratif yang disampaikan oleh Mohammad Johari, S.Pd. Reporter : Fitrianti Rizqi A, Raina Satmika D Editor : Ayu Aprilia

Selengkapnya

Cerita Mahasiswa Jepang Ikut Mengabdi di Desa

Sebanyak 5 orang mahasiswa asal Jepang bersama 14 mahasiswa UGM berkolaborasi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat selama 10 hari di Imogiri, Bantul. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan sebagai wujud penguatan kolaborasi internasional serta pembelajaran berbasis pengabdian pada masyarakat melalui pembelajaran lintas budaya melalui Program pertukaran mahasiswa Six University Initiative Japan Indonesia - Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026. Kelima mahasiswa Jepang ini terdiri dari mahasiswa dari Ehime University, 1 mahasiswa dari Kagawa University, dan 1 mahasiswa dari Kochi University. Sedangkan 14 mahasiswa UGM dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Ryoma, mahasiswa asal Jepang dari Kagawa University, menyampaikan pengalamannya melihat perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia selama mengikuti kegiatan di Imogiri, Bantul. Menurut Ryoma, salah satu hal yang paling ia rasakan selama mengikuti program tersebut adalah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun dalam budaya makanan. Selain itu, ia menyampaikan terdapat pula tantangan yang ditemuinya berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat mengenai permasalahan pertanian, khususnya terkait hama pada tanaman padi. “Saya tertarik pada permasalahan padi di desa tersebut. Dari wawancara dengan beberapa warga, saya menemukan adanya perbedaan pendapat mengenai hama tanaman padi dan cara penanganannya, sehingga hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memahami kondisi yang sebenarnya,” tutup Ryoma dalam Closing Ceremony & Farewell Dinner yang digelar pada Kamis (5/3) di Operation Room, Gedung Unit I, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kegiatan penutupan ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama mengikuti program pengabdian masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul. Selama program berlangsung, mahasiswa melakukan observasi desa dan wawancara dengan warga untuk memahami kondisi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai kegiatan budaya bersama masyarakat seperti lokakarya eco-print, membuat makanan ringan Indonesia, belajar membatik, hingga memainkan gamelan. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi peternakan domba, serta mempelajari pembuatan jamu dan tempe bersama warga desa. Menanggapi presentasi mahasiswa, Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional UGM, Tyas Ikhsan Himawan, S.Si., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam program SUIJI-SLP 2026. Ia menambahkan bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi universitas. “Di UGM kami sangat menghargai program kolaborasi internasional karena kami menyadari bahwa dengan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang akan memberikan dampak yang lebih besar, tidak hanya di bidang akademik dan riset tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan pedesaan dan praktik pertanian melalui adanya kolaborasi lintas negara ini. Ia menilai bahwa interaksi mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Jepang selama kegiatan pengabdian merupakan langkah awal dalam mewujudkan berbagai gagasan dalam meningkatkan praktik pertanian dan kehidupan masyarakat desa. “Kalian belajar tidak hanya tentang pertanian tetapi juga kehidupan pedesaan serta hubungan sosial masyarakat desa, dan pada akhirnya kalian dapat bekerja sama untuk mengusulkan berbagai ide guna meningkatkan kehidupan masyarakat desa dan praktik pertanian di lapangan,” tuturnya. Assoc. Prof. Dr. Kazuya Masuda, selaku pendamping program SUIJI-SLP 2026 dari Kochi University, juga turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan selama program berlangsung. Ia berharap berjalannya program ini dapat menjadi momentum awal terjalin hubungan erat antara mahasiswa dari kedua negara dapat terus dipertahankan hingga setelah program berakhir. “Saya telah berpartisipasi dalam program ini sejak 2017. Setiap kali mengikuti program ini, saya selalu menemukan hal baru. Terima kasih banyak karena telah menerima kami dan juga atas dukungan yang baik serta keramahan yang hangat. Semoga kedepannya para mahasiswa dapat terus menjaga komunikasi dan persahabatan yang telah terjalin melalui program ini,” ujarnya. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dari Indonesia dan Jepang yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Ia menilai program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, serta berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi dan kepemimpinan global di masa depan. “Lebih dari sekadar kegiatan akademik. Program ini menjadi wadah pembelajaran lintas budaya dan saling memahami, di mana mahasiswa tidak hanya belajar dari ruang kelas tetapi juga langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, dan berbagai tantangan nyata terkait keberlanjutan,” tuturnya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine