BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Lanjut Baca

Dukung Keberlanjutan Studi, 12 Mahasiswa Terima Manfaat Beasiswa Sahabat Geo Alumni 97

Dalam rangka menjamin keberlanjutan studi mahasiswa, khususnya bagi yang terkendala secara finansial, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyalurkan beasiswa Sahabat Geografi Alumni Angkatan 1997 kepada 12 mahasiswa pada Selasa (21/7/26). Beasiswa Sahabat Geografi Alumni Angkatan 1997 ini merupakan bagian dari Program Donasi Sahabat Geografi Fakultas Geografi UGM melalui skema donasi kolektif per-angkatan. Inisiatif ini telah berlangsung sejak tahun 2023 melalui penggalangan dana secara gotong royong dan sukarela dari para alumni Angkatan 1997 Fakultas Geografi UGM . Dana yang terhimpun kemudian diperuntukkan untuk membantu biaya pendidikan, baik berupa UKT maupun kebutuhan pendukung pendidikan lainnya bagi mahasiswa aktif yang mengalami kendala finansial. Sementara pada tahun ini, bantuan yang diberikan berupa pembiayaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama dua semester pada Tahun Akademik 2026/2027. Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., turut mengapresiasi program Sahabat Geo. Dalam acara Penyerahan Beasiswa Sahabat Geo, ia menyampaikan bahwa Program Sahabat Geo menjadi salah satu bentuk kepedulian para alumni terhadap kesejahteraan mahasiswa. Bahkan, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa penerima, tetapi juga telah menginspirasi program serupa di tingkat universitas. “Program yang telah berjalan selama tiga tahun ini juga telah direplikasi UGM melalui Sahabat UGM. Artinya, program ini sangat bermanfaat dan benar-benar dirasakan untuk kesejahteraan teman-teman mahasiswa,” ujarnya. Joko Sulistiono, perwakilan alumni Fakultas Geografi UGM Angkatan 1997 yang turut hadir dalam acara penyerahan beasiswa mengatakan bahwa program ini menjadi bagian dari alumni berdampak dan memperkuat ikatan emosional dengan almamater.  “Ini merupakan salah satu kepedulian untuk menjadi bagian dari alumni yang dapat memberikan dampak bagi adik-adik kita. Sejak mulai dijalankan pada 2023, Program Sahabat Geo telah membantu 45 mahasiswa dalam mendukung keberlanjutan studi mereka,” ujarnya. Melalui Program Sahabat Geo, Fakultas Geografi UGM juga memfasilitasi partisipasi alumni lintas angkatan, individu, maupun mitra institusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Seluruh dana yang terhimpun dikelola dan disalurkan secara transparan serta akuntabel oleh Unit Pengembangan Karier dan Alumni (UPKA) Fakultas Geografi UGM.  Pada kesempatan tersebut, Joko juga mengajak seluruh alumni Fakultas Geografi UGM untuk ikut berkontribusi dalam mendukung keberlanjutan pendidikan adik-adik mahasiswa. Informasi mengenai Program Sahabat Geo dapat diakses melalui laman https://alumni.geo.ugm.ac.id/beasiswa-sahabat-geo/. “Mari kita dukung program ini supaya bisa terus berkembang dan semakin banyak lagi adik-adik yang terbantu melalui program ini,” pungkasnya.

Selengkapnya

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Selengkapnya

Berkat Mahasiswa KKN UGM, Desa Limboro Kembali Bisa Panen Padi Setelah 14 tahun 

Mo Sangki Pae Kita Mosiala Pale, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengarit padi kita bergandeng tangan, bukan sekadar tradisi panen raya bagi masyarakat Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Perayaan yang diselenggarakan pada Selasa (7/7) tersebut menjadi simbol bangkitnya kembali harapan masyarakat setelah bertahun-tahun lahan pertanian mereka kehilangan pasokan irigasi akibat rusaknya Bendung Uvenja. Namun sejak kedatangan mahasiswa, mereka bisa merasakan panen padi kembali. Selama kurang lebih 14 tahun, Bendung Uvenja di Sungai Limboro mengalami kerusakan akibat banjir sehingga aliran irigasi terputus dan sekitar 43 hektare sawah tidak lagi dapat ditanami. Kondisi tersebut membuat para petani kehilangan sumber penghidupan sekaligus harapan untuk kembali mengolah sawah mereka. Harapan itu mulai tumbuh kembali ketika Program KKN-PPM UGM berkolaborasi dengan Universitas Tadulako (UNTAD) pada 2025 untuk menginisiasi gerakan gotong royong memperbaiki Bendung Uvenja. Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito ikut hadir dalam panen ra kali ini serata menyerahkan bantuan benih padi Gamagora, varietas padi dari hasil hilirisasi peneliti UGM, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian masyarakat Desa Limboro. Pasalnya, padi ‘ampibi’ ini bisa ditanam di area persawahan maupun lahan kering. Arie mengajak masyarakat untuk terus menjaga potensi yang dimiliki setiap daerah agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanahan dan membangun tanggung jawab bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan. "Mari daerah-daerah itu sumber dayanya dijaga, pertanahannya diperkuat, pangannya dipikul," ujarnya. Panen raya yang berlangsung tahun ini tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembalikan produktivitas lahan pertanian mereka. Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut telah dipersiapkan sejak akhir 2024 melalui serangkaian pemetaan kebutuhan masyarakat. Bersama tim dari Universitas Tadulako (UNTAD), Nizam mengunjungi Desa Towale dan Desa Limboro pada November 2024 untuk berdialog dengan kepala desa, perangkat desa, Pemerintah Kabupaten Donggala, serta Camat Banawa Tengah. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi secara virtual yang melibatkan mahasiswa UGM dan UNTAD bersama pemerintah desa serta tokoh masyarakat guna merumuskan program yang benar-benar menjawab kebutuhan warga. Dari hasil pemetaan tersebut, Bendung Uvenja ditetapkan sebagai program prioritas. Setelah melalui berbagai tahapan yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, UGM, UNTAD, sejumlah mitra, serta dukungan alat berat, bendung akhirnya berhasil diperbaiki sehingga aliran air kembali mengairi lahan pertanian warga. "Kami kemudian fokus mencari solusi dengan menggalang gotong royong masyarakat sekaligus dukungan dari berbagai pihak," ujar Nizam. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat Desa Limboro. Pada awal 2026, sekitar 43 hektare sawah yang selama bertahun-tahun tidak dapat ditanami akhirnya kembali menghasilkan padi. Bagi sebuah desa di ujung Kabupaten Donggala, luasan tersebut menjadi capaian yang sangat berarti sekaligus menandai pulihnya produktivitas pertanian masyarakat. Menurut Nizam, kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi pertanian yang sangat besar karena kondisi tanahnya tergolong subur dengan produktivitas yang mampu mencapai sekitar delapan ton gabah per hektare. Kembalinya aliran irigasi tidak hanya menghidupkan kembali harapan masyarakat untuk mewujudkan swasembada pangan di tingkat desa, tetapi juga memperkuat peran Limboro sebagai salah satu penopang lumbung padi di Sulawesi Tengah. Keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja tidak menjadi akhir dari kolaborasi tersebut. Melalui KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026, berbagai program pemberdayaan kembali dilanjutkan, salah satunya melalui penguatan ketahanan pangan dengan memperkenalkan varietas padi Gamagora kepada masyarakat. Varietas padi hasil pengembangan UGM tersebut dipilih karena mampu tumbuh pada lahan kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dinilai berpotensi membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Kormanit KKN-PPM UGM Bulava Donggala, I Komang Agus Juliantara, menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada penyerahan benih. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan mendampingi petani dalam mengenal karakteristik Gamagora, teknik budidaya, hingga penyusunan demonstration plot (demplot) sebagai media pembelajaran di lapangan.  "Gamagora merupakan padi yang amfibi dan bisa hidup di lahan yang kering, serta memiliki produktivitas yang unggul. Diharapkan padi ini dapat membantu masyarakat untuk mengatasi serangan El Nino ke depannya di Sulawesi," jelas Komang. Menurutnya, keberadaan demplot diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempelajari teknik budidaya Gamagora secara langsung sehingga inovasi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan."Rencananya kami akan membersamai masyarakat tentunya. Kami akan mengenalkan lebih dalam lagi perihal padi Gamagora itu sendiri, khususnya yang terkait dengan cara penanaman, hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, dan akan membuat demplot," ujarnya. Selain penguatan ketahanan pangan, Tim KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026 juga mengembangkan sejumlah program lain yang disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi pengembangan sektor pariwisata, seperti restorasi terumbu karang, penguatan ekonomi kreatif, serta lingkungan dan konservasi melalui rencana pembangunan tanggul dan penanaman bambu sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan. Bagi Komang, seluruh rangkaian pendampingan tersebut menjadi pengalaman berharga. Ia menilai keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang dibawa mahasiswa, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pelaksanaan. "Pembelajarannya, masyarakatnya sangat terbuka sehingga mudah diajak berdiskusi. Kami belajar bahwa keberhasilan suatu program itu harus ada keterlibatan semua pihak," tuturnya. Waludin, selaku perwakilan dari kelompok tani juga turut mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas hibahan Padi Gamagora yang telah diberikan oleh UGM. “Kami sangat bersyukur karena adanya bantuan bibit Gamagora dari UGM,” ungkapnya. Kolaborasi yang telah terjalin selama dua tahun terakhir juga mendapat apresiasi dari Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli. Menurutnya, kehadiran UGM telah menjadi bagian dari proses belajar bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di desa."Saya memberi ucapan syukur dan juga ungkapan rasa terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang sudah dua tahun ini sudah membersamai proses belajar dengan kami," katanya. Kifli menilai keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja hingga sawah kembali produktif merupakan bukti nyata bahwa pembangunan desa hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak. "Bagi kami ini merupakan proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak," ujarnya. Ia juga mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, yang mendampingi masyarakat sejak awal proses perencanaan hingga pelaksanaan program. "Banyak kades yang punya kenalan profesor, tapi bagi kami, teman profesor pertama kami itu ya Prof. Nizam. Ini menjadi kesan yang melekat di warga desa karena jarang sekali ada profesor yang mau berproses bersama dengan petani," ungkapnya. Ke depan, Pemerintah Desa Limboro berharap kolaborasi yang telah terbangun bersama UGM tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. "Besar harapan saya bahwa ini tidak bersifat momentum, tetapi bisa kami rawat juga," pungkas Kifli. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim KKN-PPM Bulava Donggala