BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Wanagama Resmikan Gedung Asrama Gamal: Sinergi Alumni Angkatan 1999 dan 2001 Dukung Sarana Praktik Mahasiswa

GUNUNGKIDUL – Sinergi lintas angkatan alumni Fakultas Kehutanan UGM kembali membuahkan hasil nyata bagi pengembangan sarana pendidikan di Hutan Wanagama melalui peresmian renovasi Gedung Asrama Gamal pada Jumat, 3 April 2026. Renovasi gedung ini didukung penuh oleh dana bantuan dari alumni angkatan 1999 dan 2001. Perwakilan angkatan 1999, Umar Said, menyampaikan bahwa bantuan ini diniatkan sebagai andil alumni dalam mendukung pendidikan adik-adik angkatan. Selain digunakan untuk perbaikan Gedung Asrama Gamal, dana sumbangan alumni juga turut digunakan dalam memperbaiki fasilitas lapangan lain seperti Kantor Pinus dan perbaikan mobil pick-up untuk kegiatan operasional. "Gedung ini menjadi monumen bakti kami di kampus. Harapannya, pengembangan fisik yang dilakukan tetap menjaga sisi konservasi dan kelestarian hutan Wanagama," tegas Umar Said. Direktur KHDTK Wanagama I, Dr. Ir. Johanes Pramana Gentur Sutapa, M.Sc.Forest.Trop., mengapresiasi dan menyambut baik bantuan ini sebagai fasilitas penunjang untuk melayani mahasiswa dan masyarakat luas. Beliau berharap Wanagama tetap konsisten menjadi inspirasi pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., menekankan bahwa kemandirian fasilitas seperti Gedung Gamal sangat krusial bagi masa depan Wanagama. "Wanagama telah menjadi benchmark internasional. Kesuksesan ini bahkan membawa konsep Wanagama diadopsi di IKN melalui Wanagama Nusantara. Ke depan, Wanagama diharapkan menjadi institusi yang mandiri secara finansial demi keberlanjutan alam," jelas Dekan. Gedung Gamal sendiri memiliki nilai strategis karena merupakan lokasi tetap bagi pelaksanaan berbagai praktik lapangan, seperti Praktik Pengukuran Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Praktik Ilmu Kehutanan dan Pembelajaran Wanagama (PIK-PW) yang telah menggunakan fasilitas ini sejak Januari lalu. Acara diakhiri dengan pemotongan pita, doa bersama, dan ramah tamah lintas generasi rimbawan.   Penulis dan Dokumentasi: Zulva Ulin – Wanagama    

Lanjut Baca

FK-KMK UGM Buka Hibah Terintegrasi AHS 2026 untuk Penguatan Sistem Kesehatan

FK-KMK UGM. Sistem Kesehatan Akademik (Academic Health System/AHS) UGM menyelenggarakan program Hibah Terintegrasi AHS periode tahun 2026 sebagai upaya memperkuat sinergi antara institusi pendidikan, rumah sakit pendidikan, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjawab permasalahan prioritas kesehatan di masyarakat. Program ini dirancang untuk mendorong lahirnya inovasi serta rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan berkelanjutan. Pengumuman penerimaan proposal hibah ini disampaikan pada 30 Maret 2026, dengan cakupan pelaksanaan program di wilayah kerja AHS UGM. Hibah Terintegrasi AHS UGM merupakan instrumen strategis yang mengedepankan pendekatan kolaboratif lintas sektor. Setiap kegiatan yang diusulkan diharapkan melibatkan masyarakat sasaran secara aktif agar program yang dijalankan memiliki keberlanjutan dan dampak nyata. Selain itu, proposal wajib menunjukkan keterlibatan berbagai institusi, termasuk perguruan tinggi, rumah sakit anggota AHS UGM beserta jejaringnya, pemerintah daerah, serta stakeholder lain yang relevan dengan isu kesehatan yang diangkat. Dalam skema pendanaan, FK-KMK UGM menyediakan dana hibah maksimal sebesar Rp30.000.000 sebagai stimulan awal. Pengusul juga diberikan kesempatan untuk memperoleh tambahan pendanaan dari sumber lain yang sah, seperti mitra institusi maupun pemerintah daerah. Dukungan kolaboratif tersebut menjadi nilai tambah dalam proses seleksi proposal, karena mencerminkan kekuatan sinergi antar pihak dalam implementasi program. Setiap proposal diwajibkan menyusun Rencana Anggaran Biaya secara rinci yang mencakup seluruh sumber pendanaan yang digunakan. Mekanisme penyaluran dana hibah dilakukan secara penuh di awal melalui rekening Ketua Tim Pengusul. Sementara itu, wilayah implementasi program difokuskan pada area kerja AHS UGM yang meliputi Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, Klaten, Kabupaten Magelang, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Wonosobo. Batas akhir pengumpulan proposal ditetapkan pada 25 April 2026 pukul 23.59 WIB melalui email resmi AHS UGM. Melalui program ini, FK-KMK UGM menegaskan perannya sebagai institusi akademik yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga berkontribusi langsung dalam penguatan sistem kesehatan daerah. Integrasi antara akademisi, layanan kesehatan, dan pemerintah menjadi kunci dalam menghasilkan intervensi yang tepat sasaran dan berbasis kebutuhan masyarakat. Program hibah ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan intervensi kesehatan berbasis bukti yang bertujuan meningkatkan kualitas layanan dan menurunkan beban penyakit di masyarakat, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan adanya inovasi dalam program hibah yang dilaksanakan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai karena adanya kolaborasi antara institusi pendidikan, rumah sakit, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam merancang dan melaksanakan program kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Panduan Hibah dapat diakses melalui tautan berikut ini: ugm.id/PanduanHibahAHS2026 (Kontributor: Ayu Hamida Aprilia).

Selengkapnya

Kembangkan Alat Deteksi Cepat untuk Keamanan dan Keaslian Pangan, Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional Hitachi Award

Persoalan keamanan dan keaslian pangan saat ini menjadi persoalan yang sering kita temukan di tengah masyarakat. Seperti kasus keracunan siswa yang menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis di sekolah kerap terjadi. Belum lagi banyak konsumen yang merasa dirugikan karena membeli produk pangan palsu yang beredar di pasaran maupun di e-commerce. Tidak banyak alat yang mampu mendeteksi tingkat keamanan dan keaslian pangan dalam waktu cepat. Umumnya sampel produk pangan yang akan diuji tingkat keamanan dan keasliannya memerlukan waktu uji laboratorium berhari-hari. Di tangan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., berhasil mengembangkan alat deteksi cepat tingkat keamanan, keaslian dan kualitas pangan dalam waktu cepat. Melalui riset “Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems,” Widiastuti mengembangkan metode analisis kimia inovatif yang mampu mengevaluasi keamanan pangan, keaslian produk, dan kualitas fungsional secara cepat dalam hitungan menit, bahkan detik dengan penggunaan bahan kimia yang sangat minimal atau bahkan tanpa bahan kimia sama sekali. Pendekatan ini menjadi terobosan penting sebagai alternatif metode konvensional yang umumnya memerlukan waktu analisis panjang hingga berhari-hari serta bergantung pada bahan kimia berbahaya yang berdampak negatif bagi lingkungan. Widi, demikian ia akrab disapa, menyampaikan Inovasi yang dikembangkan berfokus pada tiga pilar utama, yaitu food safety (keamanan pangan), authenticity (keaslian pangan), dan functional quality (kualitas fungsional). Pendekatan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan pengawasan pangan modern yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan keberlanjutan. Selain cepat dan akurat, metode yang dikembangkan juga ramah lingkungan. Widi menerapkan teknik ekstraksi tingkat lanjut seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction, yang membutuhkan pelarut dalam jumlah jauh lebih sedikit. “Metode ini lebih cepat dan menggunakan solvent lebih minimal, sehingga lebih ramah lingkungan. Karena itulah disebut green analytical method,” jelasnya saat diwawancarai pada kamis (21/1).  Proses analisis dan kuantifikasi juga dipercepat dengan pemanfaatan metode spektroskopi, yaitu teknik analisis yang memanfaatkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan materi untuk mengkaji sifat kimia dan fisika suatu senyawa. Dibandingkan metode kromatografi konvensional, spektroskopi memungkinkan analisis dilakukan tanpa tahap ekstraksi yang panjang, bahkan dalam beberapa kasus bersifat non-destruktif terhadap sampel. Meski demikian, Widi tetap mengembangkan metode kromatografi berkecepatan tinggi sebagai pembanding dan pelengkap. Pada kromatografi konvensional, proses analisis umumnya memerlukan waktu yang relatif lama. “Pada kromatografi konvensional, analisis bisa memakan waktu yang lama. Namun dengan Ultrahigh Performance Liquid Chromatography (UPLC), waktu analisis dapat dipangkas dari sekitar 30 menit menjadi hanya 3 menit,” jelasnya. Lebih lanjut, metode yang dikembangkan tidak hanya mampu mengidentifikasi dan mengkuantifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga mendeteksi berbagai senyawa berbahaya, seperti mikotoksin—termasuk aflatoksin dan okratoksin—serta NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) yang berpotensi disalahgunakan dalam produk pangan. Melalui pengembangan ini, Widiastuti berharap metode yang dihasilkan dapat diadopsi oleh BPOM dan institusi terkait guna memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan nasional. Selain aspek keamanan, riset ini juga mencakup evaluasi kualitas fungsional pangan, seperti potensi antidiabetes dan antidepresan, pada berbagai sistem pangan. Sejumlah riset yang telah ia lakukan meliputi pengujian aktivitas antidepresan pada edible flowers yang didukung hibah L’Oréal, pengujian senyawa antidiabetes pada bunga rosella melalui hibah Kalbe.  “Dalam proposal untuk Hitachi, saya mengusung konsep diverse food systems, artinya tidak terbatas pada satu jenis pangan. Edible flowers yang saya teliti juga sangat beragam, mulai dari bunga pisang, rosella, kecombrang, senggani, turi, hingga safflower,” jelasnya. Menariknya, Widiastuti juga telah mengembangkan aplikasi berbasis web untuk analisis makroalga dan kakao. Melalui platform ini, laboratorium yang memiliki data spektroskopi dapat langsung mengunggah data mereka untuk memperoleh hasil analisis berupa interpretasi kualitas sampel secara cepat dan akurat. Aplikasi ini dirancang agar dapat diakses secara global dan digunakan secara gratis. Menurut penuturannya, ia juga mengembangkan metode analisis yang dapat membedakan produk kopi dari luwak liar maupun yang sengaja ditangkar, serta metode deteksi adulterasi kokoa untuk dapat melihat apakah bubuknya murni/asli atau tidak, serta mengetahui makroalga jenis apa dan dari daerah Indonesia di bagian mana.   Tak hanya pada bahan baku, metode analisis yang dikembangkannya juga diaplikasikan pada produk pangan olahan, seperti penentuan kandungan resveratrol, senyawa antioksidan, pada kue kering dan selai. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan diverse food systems mencakup seluruh rantai pangan, dari bahan mentah hingga produk akhir. Ke depan, Widiastuti berharap hasil risetnya dapat diadopsi secara luas oleh industri, laboratorium pemerintah, kementerian terkait, Bea Cukai, serta BPOM, sekaligus berkontribusi dalam perumusan kebijakan dan regulasi keamanan pangan berbasis data ilmiah. “Harapannya, riset saya tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson

Selengkapnya

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menandai Dies Natalis ke-78 dengan langkah yang melampaui seremoni akademik. Pada perayaan tahun ini, FKG UGM meluncurkan sistem panen air hujan yang diolah menjadi air layak konsumsi, sebuah inovasi yang menggabungkan sains kesehatan, teknologi lingkungan, dan komitmen keberlanjutan kampus. Peresmian dilakukan dalam rangkaian pembukaan Dies Natalis yang dihadiri Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia (SDM)FKG UGM  drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D, sivitas akademika FKG UGM, mitra industri, serta perwakilan fakultas kluster kesehatan UGM. Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM menegaskan bahwa usia 78 tahun bukan sekadar penanda historis, melainkan momentum refleksi atas peran fakultas dalam menjawab tantangan masa depan, khususnya krisis lingkungan dan efisiensi sumber daya air. DARI PENGELOLAAN SAMPAH KE PANEN AIR HUJAN FKG UGM sebelumnya dikenal sebagai salah satu fakultas yang konsisten mengelola sampah berbasis pemilahan dan daur ulang. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas tidak hanya dipisahkan, tetapi juga dimanfaatkan untuk program donasi dan pengelolaan berkelanjutan. Tahun ini, pendekatan tersebut dikembangkan lebih jauh melalui pengelolaan air hujan. Air yang ditampung tidak langsung digunakan, melainkan melalui serangkaian proses teknologi: filtrasi, pengendapan, sterilisasi ultraviolet (UV), hingga reverse osmosis (RO). Hasil akhirnya adalah air dengan tingkat kemurnian tinggi yang aman untuk dikonsumsi serta berpotensi digunakan dalam kebutuhan klinik kedokteran gigi “Inovasi ini bukan sekadar memanen hujan lalu diminum. Ada tahapan ilmiah yang ketat agar air benar-benar steril dan aman,”, papar Dekan FKG UGM. “Keberadaan inovasi pemberdayaan air hujan ini, sebagai penanda komitmen terhadap inovasi serta keberlanjutan, hari ini juga kita kuatkan dengan agenda Peresmian Air Minum RO (Reverse Osmosis) dari air tadah hujan FKG UGM, sebagai langkah nyata menghadirkan kampus yang lebih sehat, adaptif, dan ramah lingkungan, ungkap Ketua Panitia Dies Natalis FKG UGM ke 78, Dr, drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.B.M.M., Subsp. T.M.T.M.J.(K), dalam sambutannya. Wakil Rektor UGM & Dekan FKG UGM mengamati instalasi air minum berbasis air hujan RELEVANSI MEDIS: AIR MURNI UNTUK PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI Berbeda dari program lingkungan pada umumnya, sistem panen air hujan FKG UGM dirancang dengan orientasi medis. Air hasil RO memiliki konduktivitas listrik yang sangat rendah karena bebas dari partikel terlarut. Kondisi ini dinilai ideal untuk mendukung penggunaan alat-alat kedokteran gigi seperti bur dan ultrasonic scaler, karena dapat mengurangi risiko rasa ngilu pada pasien serta meningkatkan kenyamanan tindakan klinis Ke depan, fakultas berencana memanfaatkan menara penampungan air di area sekitar musala, Dental Learning Center, serta gedung OECF sebagai bagian dari sistem terpadu panen air hujan. JEJAK KARBON DAN BUDAYA INTROSPEKSI LINGKUNGAN Selain air, Dies Natalis ke-78 juga menjadi titik awal pengembangan penghitungan jejak karbon (carbon footprint) di lingkungan FKG UGM. Melalui indikator ini, setiap aktivitas sivitas akademika—mulai dari penggunaan kendaraan, listrik, hingga kebiasaan merokok akan dipetakan kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan. Pendekatan ini bertujuan membangun budaya introspeksi kolektif. Fakultas berharap kesadaran lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam perubahan perilaku sehari-hari. APRESIASI UGM DAN HARAPAN REPLIKASI KE FAKULTAS LAIN Pimpinan universitas yang hadir menyebut FKG UGM sebagai contoh konkret bahwa inovasi lingkungan dapat lahir dari fakultas kesehatan, bukan hanya dari rumpun teknik atau sains murni. Inisiatif panen air hujan dan penghitungan jejak karbon dinilai berpotensi direplikasi oleh fakultas lain di UGM. “Acara besar tidak selalu identik dengan sampah berserakan. Apa yang dilakukan FKG UGM menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa menjadi bagian dari budaya akademik,” ujar Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D. SIMBOL PERUBAHAN DI USIA 78 TAHUN Perayaan Dies Natalis ditutup dengan simbolisasi minum air hasil olahan hujan oleh pimpinan universitas dan fakultas. Aksi tersebut menegaskan pesan utama perayaan tahun ini: inovasi, keberanian ilmiah, dan tanggung jawab ekologis. Di usia ke-78, FKG UGM tidak hanya merayakan masa lalu sebagai salah satu cikal bakal UGM, tetapi juga menegaskan arah masa depan—menjadi institusi pendidikan kedokteran gigi yang unggul, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan global. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

Participation of Women in Renewable Energy [POWERE]: Keterlibatan Antropologi Mengawal Energi Terbarukan dari Pesisir Negeri

Laboratorium Antropologi untuk Riset dan Aksi (LAURA) menjadi perwakilan UGM yang terlibat dalam proyek Participation of Women in Renewable Energy (POWERE). Proyek ini memperoleh hibah dari UKRI Ayrton Challenge, melibatkan beberapa universitas seperti University of Sussex, Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Proyek POWERE menyoroti isu ketidakmerataan akses dan dampak perubahan iklim di kawasan pulau dan pesisir. Menawarkan inovasi melalui pendayagunaan FPV (floating photovoltaic) atau panel surya apung sebagai alternatif energi terbarukan turut menaruh perhatian pada aspek gender, dan ekonomi masyarakat pesisir-luar jaringan (off-grid). Proyek POWERE ini tak hanya berfokus pada penciptaan infrastuktur fisik, namun juga infrastruktur sosial yang ditempuh melalui penguatan inklusivitas gender dalam ekonomi rumput laut di kawasan pesisir dan kepulauan di Sulawesi Selatan. Tim POWERE dipimpin oleh Prof. Raminder Kaur (US), Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi (UGM), Dr. Mia Siscawati (UI), Dr. Bradley Parrish (US), Prof. Peter Newell (US) menjadi proyek kolaborasi multidisiplin yang ‘utuh’ dalam topik energi terbarukan.  Sejak pertengahan tahun ini, tim POWERE melakukan kajian awal menyasar beberapa lokasi seperti Rannu, Katingting, Biawasa dan mempresentasikannya di World Conference on Governance and Social Sciences Universitas Hasanuddin pada 11-12 November 2025 lalu. Beragam topik dari kajian awal didiskusikan diantaranya desain infrastruktur berbasis komunitas, sensory ethnography, telaah hubungan gender-perubahan iklim-resiliensi perempuan dari perspektif feminis, energi terbarukan-infrastruktur sosial, dan tantangan adaptasi iklim bagi perempuan petani rumput laut. Keluasan topik yang muncul dari solar energy dan konsekuensi sosial yang mulai disadari menjadi tantangan kedepan dari proyek POWERE. Disamping Project Lead, proyek ini turut melibatkan peneliti post-doc seperti Dr. Diah Irawaty, Dr. Runavia Mulyasari, Dr. Chu Chun Yu, Dr. Agung Iswadi dan Monika Swastyastu, M.A. dalam riset lanjutan selama proyek ini berlangsung. Proyek POWERE mendapat dukungan berbagai lembaga non-pemerintah maupun pemerintah seperti CARE Indonesia, Aquatera, Development Finance International, Auroville Consulting dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sebagai mitra finansial maupun pembuat kebijakan. Memijaki tahapan awal dari tiga tahun program kerja, tim POWERE telah menerbitkan Newsletter dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dapat diakses melalui laman University of Sussex serta Departemen Antropologi. Untuk mendapat perkembangan terbaru akan proyek POWERE, pembaca bisa mengikuti akun instagram resmi @powere.women yang secara berkala membagikan foto dan video kegiatan selama proyek berlangsung.  Penulis: Okky Chandra Baskoro

Selengkapnya

Sinergi Industri–Kampus: CNGR Hibahkan Peralatan ICP-MS untuk Laboratorium FT UGM

Rabu, 19 November 2025, Fakultas Teknik UGM (FT UGM) secara resmi menerima hibah peralatan laboratorium NexION 1100 ICP-MS dari CNGR. Penandatanganan berita acara serah terima berlangsung di Auditorium SGLC FT UGM dan disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Airlangga Hartarto, MBA., M.M.T. Berita acara serah terima ditandatangani oleh Mr. Chen Hailei selaku Direktur PT Eco Energi Perkasa/Vice President CNGR Indonesia dan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, dan disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Airlangga Hartarto, MBA., M.M.T., Direktur Penelitian UGM, Prof. Mirwan Ushada, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset. dan Sumber Daya Manusia FT UGM, Prof. Muslikhin Hidayat, dan Chairman ERIC FT UGM, Prof Tumiran. Hibah ICP-MS ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi kampus, khususnya terkait pengembangan material maju dan teknologi berkelanjutan. Instrumen tersebut akan melengkapi fasilitas laboratorium yang sudah ada, mendukung pembelajaran, penelitian, hingga program hilirisasi produk berbasis riset di FT UGM. FT UGM memberikan apresiasi kepada PT Eco Energi Perkasa/CNGR Indonesia dan seluruh mitra industri yang telah berkontribusi dalam memperkuat kolaborasi riset nasional. Kerja sama ini dinilai bukan sekadar transfer teknologi, tetapi bentuk sinergi positif antara perguruan tinggi dan dunia industri. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Danang Sri Hadmoko juga melaporkan perkembangan inovasi lain di FT UGM, termasuk teknologi coal upgrading untuk meningkatkan nilai batubara muda, yang telah diadopsi oleh BUMN. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penandatanganan akrilik sebagai simbol serah terima, disaksikan Menko Airlangga, dan ditutup dengan sesi foto bersama. Dengan ini, hibah resmi diterima oleh Fakultas Teknik UGM sebagai penguatan fasilitas riset material maju dan energi untuk mendukung kemandirian teknologi nasional.