BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Lanjut Baca

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

Kembali ke Titik Koordinat, Alumni Geografi ‘96 Gelar Reuni 30 Tahun

Alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1996 menyelenggarakan reuni ke-30 tahun pada Sabtu (5/9/26) di Fakultas Geografi UGM. Sebanyak 50 peserta alumni mengikuti serangkaian kegiatan yang meliputi napak tilas, angkringan malam, hingga penyerahan tali asih dan bibit pohon buah. Sesuai dengan tema “Kembali ke Titik Koordinat”, reuni ke-30 ini menjadi wadah silaturahmi bagi alumni Fakultas Geografi UGM angkatan 1996, sekaligus momentum untuk mengenang masa kuliah, mempererat persaudaraan, serta memberikan kontribusi nyata kembali ke almamater. Reuni ke-30 dibuka melalui sambutan dari Ketua Angkatan Geografi UGM ‘96 dan Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., serta dihadiri oleh beberapa dosen Fakultas Geografi UGM. Dalam kesempatan tersebut, alumni angkatan ’96 menyerahkan donasi berupa dua unit smartphone (HP) yang ditujukan bagi mahasiswa aktif Fakultas Geografi yang membutuhkan bantuan. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis melalui Dekan Fakultas Geografi UGM. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan berkelanjutan, alumni Geografi ‘96 turut menyerahkan sejumlah pohon bibit buah yang nantinya akan ditanam di lingkungan Fakultas Geografi.  Acara reuni juga diisi dengan jalan santai menyusuri rute nostalgia di area kampus UGM. Perjalanan dimulai dari Fakultas Geografi, menuju Boulevard UGM, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Gedung Alumni, Graha Sabha Pramana, Gedung Pusat (Balairung), dan kembali ke Fakultas Geografi.  Sementara itu, kegiatan reuni ditutup dengan “Angkringan Malam” yang ditujukan untuk saling bercengkerama, bertukar cerita, dan mengenang masa perkuliahan dahulu. Selain menjadi momentum untuk kembali bertemu, mengenang perjalanan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan kepedulian kepada almamater serta sesama, Ketua Panitia Reuni, Wahyudi Ardianto, S.Si., S.T., M.T., berharap semangat kebersamaan alumni Geografi '96 dapat terus terjaga. “Semoga semangat “Sesarengan, Srawung, Saklawase” terus terjaga dan menjadi bagian dari perjalanan GE'96 di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Selengkapnya

Tak Cukup Sekadar Berbagi Makanan: FTP UGM dan Foodbank of Indonesia Sepakat Hidupkan Lagi Lumbung Pangan Desa

Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami di Operation Room FTP UGM pada Jumat (25/9), untuk mengembangkan gerakan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta jajaran pimpinan departemen dan dosen. Dari pihak yayasan hadir Ketua Dewan Pembina M. Hendro Utomo, S.S., MBA, Ketua Yayasan Wida Septarina, S.S., M.Si., serta pengurus Foodbank of Indonesia (FOI). Dekan FTP UGM menyambut baik kedatangan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan adanya keberlanjutan dan pengembangan kerja sama yang dilakukan oleh FTP UGM dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. “Kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan bersama masyarakat dengan melibatkan akademisi serta yayasan atau lembaga lain yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu pangan” Ujar Eni. Hendro Utomo menyampaikan bahwa pengalaman FOI selama sekitar 11 tahun menunjukkan pembagian makanan lebih tepat disebut solusi darurat (emergency response) yang belum menyelesaikan persoalan secara struktural. Karena itu, menurutnya organisasi kemanusiaan perlu mendorong masyarakat agar mampu menolong dan memberdayakan dirinya sendiri. Pandangan inilah yang melandasi Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami, yakni menghidupkan kembali ekosistem pangan di desa. Ruang lingkup PKS ini mencakup penelitian dan publikasi mengenai lumbung pangan, pangan lokal, dan budaya pertanian dari sudut pandang ilmu teknologi pertanian, serta hasil riset beragam varietas benih lokal. Kedua pihak juga akan mendampingi pengembangan Lumbung Mustikarasa di Dusun Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dan menyusun buku bunga rampai "Bangkitnya Lumbung Kami". Sebagai sarana kaderisasi dan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa FTP UGM, akan digelar Rembug Pangan Orang Muda. Kerja sama ini turut mencakup inisiasi Pasar Rakyat Mustikarasa, yakni UMKM setempat menampilkan kreasi dan olahan pangan lokal sebagai pengenalan kuliner lokal di lingkungan universitas. Pembahasan juga menyinggung rencana pendampingan petani muda di Sriharjo, Bantul, yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng., dan kelompok Taruna Tani yang mulai memanfaatkan teknologi. Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menilai inisiatif ini berpeluang menjadi flagship program pemberdayaan masyarakat FTP UGM, dengan catatan dampaknya perlu diukur secara konkret pada satu lokasi yang sama dan dapat dikembangkan menjadi policy brief . Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. penulis : Shella Herdanti

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Selengkapnya

Dukung Keberlanjutan Studi, 12 Mahasiswa Terima Manfaat Beasiswa Sahabat Geo Alumni 97

Dalam rangka menjamin keberlanjutan studi mahasiswa, khususnya bagi yang terkendala secara finansial, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyalurkan beasiswa Sahabat Geografi Alumni Angkatan 1997 kepada 12 mahasiswa pada Selasa (21/7/26). Beasiswa Sahabat Geografi Alumni Angkatan 1997 ini merupakan bagian dari Program Donasi Sahabat Geografi Fakultas Geografi UGM melalui skema donasi kolektif per-angkatan. Inisiatif ini telah berlangsung sejak tahun 2023 melalui penggalangan dana secara gotong royong dan sukarela dari para alumni Angkatan 1997 Fakultas Geografi UGM . Dana yang terhimpun kemudian diperuntukkan untuk membantu biaya pendidikan, baik berupa UKT maupun kebutuhan pendukung pendidikan lainnya bagi mahasiswa aktif yang mengalami kendala finansial. Sementara pada tahun ini, bantuan yang diberikan berupa pembiayaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama dua semester pada Tahun Akademik 2026/2027. Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., turut mengapresiasi program Sahabat Geo. Dalam acara Penyerahan Beasiswa Sahabat Geo, ia menyampaikan bahwa Program Sahabat Geo menjadi salah satu bentuk kepedulian para alumni terhadap kesejahteraan mahasiswa. Bahkan, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa penerima, tetapi juga telah menginspirasi program serupa di tingkat universitas. “Program yang telah berjalan selama tiga tahun ini juga telah direplikasi UGM melalui Sahabat UGM. Artinya, program ini sangat bermanfaat dan benar-benar dirasakan untuk kesejahteraan teman-teman mahasiswa,” ujarnya. Joko Sulistiono, perwakilan alumni Fakultas Geografi UGM Angkatan 1997 yang turut hadir dalam acara penyerahan beasiswa mengatakan bahwa program ini menjadi bagian dari alumni berdampak dan memperkuat ikatan emosional dengan almamater.  “Ini merupakan salah satu kepedulian untuk menjadi bagian dari alumni yang dapat memberikan dampak bagi adik-adik kita. Sejak mulai dijalankan pada 2023, Program Sahabat Geo telah membantu 45 mahasiswa dalam mendukung keberlanjutan studi mereka,” ujarnya. Melalui Program Sahabat Geo, Fakultas Geografi UGM juga memfasilitasi partisipasi alumni lintas angkatan, individu, maupun mitra institusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Seluruh dana yang terhimpun dikelola dan disalurkan secara transparan serta akuntabel oleh Unit Pengembangan Karier dan Alumni (UPKA) Fakultas Geografi UGM.  Pada kesempatan tersebut, Joko juga mengajak seluruh alumni Fakultas Geografi UGM untuk ikut berkontribusi dalam mendukung keberlanjutan pendidikan adik-adik mahasiswa. Informasi mengenai Program Sahabat Geo dapat diakses melalui laman https://alumni.geo.ugm.ac.id/beasiswa-sahabat-geo/. “Mari kita dukung program ini supaya bisa terus berkembang dan semakin banyak lagi adik-adik yang terbantu melalui program ini,” pungkasnya.

Selengkapnya

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Selengkapnya

Berkat Mahasiswa KKN UGM, Desa Limboro Kembali Bisa Panen Padi Setelah 14 tahun 

Mo Sangki Pae Kita Mosiala Pale, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengarit padi kita bergandeng tangan, bukan sekadar tradisi panen raya bagi masyarakat Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Perayaan yang diselenggarakan pada Selasa (7/7) tersebut menjadi simbol bangkitnya kembali harapan masyarakat setelah bertahun-tahun lahan pertanian mereka kehilangan pasokan irigasi akibat rusaknya Bendung Uvenja. Namun sejak kedatangan mahasiswa, mereka bisa merasakan panen padi kembali. Selama kurang lebih 14 tahun, Bendung Uvenja di Sungai Limboro mengalami kerusakan akibat banjir sehingga aliran irigasi terputus dan sekitar 43 hektare sawah tidak lagi dapat ditanami. Kondisi tersebut membuat para petani kehilangan sumber penghidupan sekaligus harapan untuk kembali mengolah sawah mereka. Harapan itu mulai tumbuh kembali ketika Program KKN-PPM UGM berkolaborasi dengan Universitas Tadulako (UNTAD) pada 2025 untuk menginisiasi gerakan gotong royong memperbaiki Bendung Uvenja. Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito ikut hadir dalam panen ra kali ini serata menyerahkan bantuan benih padi Gamagora, varietas padi dari hasil hilirisasi peneliti UGM, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian masyarakat Desa Limboro. Pasalnya, padi ‘ampibi’ ini bisa ditanam di area persawahan maupun lahan kering. Arie mengajak masyarakat untuk terus menjaga potensi yang dimiliki setiap daerah agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanahan dan membangun tanggung jawab bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan. "Mari daerah-daerah itu sumber dayanya dijaga, pertanahannya diperkuat, pangannya dipikul," ujarnya. Panen raya yang berlangsung tahun ini tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembalikan produktivitas lahan pertanian mereka. Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut telah dipersiapkan sejak akhir 2024 melalui serangkaian pemetaan kebutuhan masyarakat. Bersama tim dari Universitas Tadulako (UNTAD), Nizam mengunjungi Desa Towale dan Desa Limboro pada November 2024 untuk berdialog dengan kepala desa, perangkat desa, Pemerintah Kabupaten Donggala, serta Camat Banawa Tengah. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi secara virtual yang melibatkan mahasiswa UGM dan UNTAD bersama pemerintah desa serta tokoh masyarakat guna merumuskan program yang benar-benar menjawab kebutuhan warga. Dari hasil pemetaan tersebut, Bendung Uvenja ditetapkan sebagai program prioritas. Setelah melalui berbagai tahapan yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, UGM, UNTAD, sejumlah mitra, serta dukungan alat berat, bendung akhirnya berhasil diperbaiki sehingga aliran air kembali mengairi lahan pertanian warga. "Kami kemudian fokus mencari solusi dengan menggalang gotong royong masyarakat sekaligus dukungan dari berbagai pihak," ujar Nizam. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat Desa Limboro. Pada awal 2026, sekitar 43 hektare sawah yang selama bertahun-tahun tidak dapat ditanami akhirnya kembali menghasilkan padi. Bagi sebuah desa di ujung Kabupaten Donggala, luasan tersebut menjadi capaian yang sangat berarti sekaligus menandai pulihnya produktivitas pertanian masyarakat. Menurut Nizam, kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi pertanian yang sangat besar karena kondisi tanahnya tergolong subur dengan produktivitas yang mampu mencapai sekitar delapan ton gabah per hektare. Kembalinya aliran irigasi tidak hanya menghidupkan kembali harapan masyarakat untuk mewujudkan swasembada pangan di tingkat desa, tetapi juga memperkuat peran Limboro sebagai salah satu penopang lumbung padi di Sulawesi Tengah. Keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja tidak menjadi akhir dari kolaborasi tersebut. Melalui KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026, berbagai program pemberdayaan kembali dilanjutkan, salah satunya melalui penguatan ketahanan pangan dengan memperkenalkan varietas padi Gamagora kepada masyarakat. Varietas padi hasil pengembangan UGM tersebut dipilih karena mampu tumbuh pada lahan kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dinilai berpotensi membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Kormanit KKN-PPM UGM Bulava Donggala, I Komang Agus Juliantara, menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada penyerahan benih. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan mendampingi petani dalam mengenal karakteristik Gamagora, teknik budidaya, hingga penyusunan demonstration plot (demplot) sebagai media pembelajaran di lapangan.  "Gamagora merupakan padi yang amfibi dan bisa hidup di lahan yang kering, serta memiliki produktivitas yang unggul. Diharapkan padi ini dapat membantu masyarakat untuk mengatasi serangan El Nino ke depannya di Sulawesi," jelas Komang. Menurutnya, keberadaan demplot diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempelajari teknik budidaya Gamagora secara langsung sehingga inovasi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan."Rencananya kami akan membersamai masyarakat tentunya. Kami akan mengenalkan lebih dalam lagi perihal padi Gamagora itu sendiri, khususnya yang terkait dengan cara penanaman, hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, dan akan membuat demplot," ujarnya. Selain penguatan ketahanan pangan, Tim KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026 juga mengembangkan sejumlah program lain yang disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi pengembangan sektor pariwisata, seperti restorasi terumbu karang, penguatan ekonomi kreatif, serta lingkungan dan konservasi melalui rencana pembangunan tanggul dan penanaman bambu sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan. Bagi Komang, seluruh rangkaian pendampingan tersebut menjadi pengalaman berharga. Ia menilai keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang dibawa mahasiswa, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pelaksanaan. "Pembelajarannya, masyarakatnya sangat terbuka sehingga mudah diajak berdiskusi. Kami belajar bahwa keberhasilan suatu program itu harus ada keterlibatan semua pihak," tuturnya. Waludin, selaku perwakilan dari kelompok tani juga turut mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas hibahan Padi Gamagora yang telah diberikan oleh UGM. “Kami sangat bersyukur karena adanya bantuan bibit Gamagora dari UGM,” ungkapnya. Kolaborasi yang telah terjalin selama dua tahun terakhir juga mendapat apresiasi dari Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli. Menurutnya, kehadiran UGM telah menjadi bagian dari proses belajar bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di desa."Saya memberi ucapan syukur dan juga ungkapan rasa terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang sudah dua tahun ini sudah membersamai proses belajar dengan kami," katanya. Kifli menilai keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja hingga sawah kembali produktif merupakan bukti nyata bahwa pembangunan desa hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak. "Bagi kami ini merupakan proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak," ujarnya. Ia juga mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, yang mendampingi masyarakat sejak awal proses perencanaan hingga pelaksanaan program. "Banyak kades yang punya kenalan profesor, tapi bagi kami, teman profesor pertama kami itu ya Prof. Nizam. Ini menjadi kesan yang melekat di warga desa karena jarang sekali ada profesor yang mau berproses bersama dengan petani," ungkapnya. Ke depan, Pemerintah Desa Limboro berharap kolaborasi yang telah terbangun bersama UGM tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. "Besar harapan saya bahwa ini tidak bersifat momentum, tetapi bisa kami rawat juga," pungkas Kifli. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim KKN-PPM Bulava Donggala