BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Rektor UGM Resmikan Gedung Laboratorium Bahasa dan Pusat Pengembangan Riset Humaniora

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., meresmikan Gedung C Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM yang diperuntukkan sebagai Laboratorium Bahasa dan Pusat Pengembangan Riset Humaniora. Peresmian tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan dihadiri oleh pimpinan universitas, jajaran pimpinan FIB UGM, guru besar, sivitas akademika, serta pimpinan PT Waskita Karya selaku kontraktor pembangunan gedung, Sabtu (17/8). Gedung C FIB UGM diharapkan menjadi fasilitas yang mendukung pengembangan riset dan kegiatan akademik di bidang humaniora, meliputi sejarah, linguistik, sastra, arkeologi, antropologi, hingga kajian pariwisata. Keberadaan fasilitas baru tersebut juga menjadi bagian dari upaya FIB UGM memperkuat perannya dalam pengembangan keilmuan dan kebudayaan di lingkungan UGM. Dalam sambutannya, Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan bahwa keberadaan gedung baru perlu diiringi dengan pemanfaatan fasilitas secara optimal oleh sivitas akademika. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan gedung, termasuk mempertahankan ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH). “RTH adalah aset bagi kelangsungan ekologi, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat sehingga tercipta ruang akademik yang sehat dan kondusif bagi proses pembelajaran,” tegasnya. Sementara itu, Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa peresmian Gedung C tidak sekadar menandai selesainya pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang FIB UGM yang tahun ini memasuki usia 80 tahun. Menurutnya, pembangunan Gedung C merupakan bagian dari masterplan pembangunan kampus FIB UGM yang telah disusun sejak 2014. Pembangunan tersebut dilakukan secara bertahap sebagai upaya mewujudkan lingkungan kampus yang terintegrasi sekaligus memperkuat fasilitas pendukung kegiatan akademik. “Pembangunan Gedung C sendiri merupakan bagian dari masterplan pembangunan kampus FIB UGM yang telah dibuat pada tahun 2014 hingga pada akhirnya satu per satu elemen penyusun kampus semakin terwujud,” tuturnya. Setiadi turut menyampaikan laporan mengenai pembiayaan pembangunan gedung. Setelah mengalami adendum final pada 22 Juli 2026, berdasarkan keputusan Rektor UGM, nilai kontrak maksimal yang diizinkan untuk menyelesaikan pembangunan Gedung C mencapai Rp127,22 miliar. Nilai tersebut mencakup tambahan sekitar 12,5 persen atau Rp14 miliar untuk pengembangan sejumlah fasilitas penting yang diperlukan dalam mendukung operasional fakultas. Ia menjelaskan, pendanaan pembangunan gedung berasal dari akumulasi anggaran atau sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) yang dikelola sesuai dengan standar biaya UGM, serta dukungan dana hibah UGM sebesar Rp10 miliar. Pembangunan Gedung C juga diarahkan untuk mendukung transformasi FIB UGM. Setiadi mengatakan, FIB tidak hanya ingin berfokus pada produksi riset, artikel, dan buku, tetapi juga mendorong sivitas akademika menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. “FIB UGM ingin bertransformasi, memberikan kesempatan kepada civitas akademika untuk menghasilkan banyak karya-karya yang lebih langsung bisa dinikmati oleh masyarakat seluruh Indonesia. Karena itu, di lantai tujuh misalnya, kami sediakan nanti ruang DKV, ada multimedia yang cukup representatif untuk mengembangkan kajian-kajian digital,” tambahnya. Selain Laboratorium Bahasa dan Pusat Bahasa, Gedung C dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti selasar, ruang pameran, auditorium, co-working space, dan amphitheater. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas pembelajaran, penelitian, kolaborasi, serta pengembangan karya sivitas akademika FIB UGM. Peresmian Gedung C ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Rektor UGM. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata berupa Kayon Sekartaji, tokoh perempuan dalam mitologi Panji yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pertunjukan wayang gedhog. Kayon Sekartaji tersebut merepresentasikan sosok perempuan yang memiliki peran penting sebagai pasangan ksatria protagonis sekaligus simbol rahim peradaban yang melahirkan para pemimpin tanah Jawa dan Nusantara. Pemberian simbol tersebut diharapkan dapat menjadi nilai yang dijiwai oleh seluruh sivitas akademika UGM. Sebelumnya, rangkaian peresmian diawali dengan tarian penyambutan flashmob oleh sivitas akademika FIB UGM. Acara dilanjutkan dengan prosesi gunting pita oleh Rektor UGM, Dekan FIB UGM, dan pimpinan PT Waskita Karya, kemudian ditutup dengan tur Gedung C. Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie dan Dok. FIB

Lanjut Baca

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN Mengabdi ke Masyarakat

Universitas Gadjah Mada resmi menerjunkan sebanyak 8.178 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode II Tahun 2026. Upacara penerjunan yang digelar di Lapangan Pancasila UGM pada Jumat (19/6) menandai dimulainya pengabdian mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia selama 50 hari, mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Mahasiswa peserta KKN-PPM akan ditempatkan di 298 unit lokasi yang tersebar di 274 kecamatan, 132 kabupaten/kota, dan 32 provinsi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa didampingi oleh 324 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Koordinator Wilayah (Korwil), serta didukung oleh 199 mitra yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, organisasi masyarakat, dan jejaring alumni UGM. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar sekaligus ruang kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. "Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi wadah pemersatu semangat dan komitmen untuk membangun bangsa melalui pemberdayaan masyarakat. Selama kurang lebih 50 hari, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan belajar langsung dari masyarakat," ujarnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan, keselamatan, serta nama baik almamater selama menjalankan pengabdian di daerah penempatan masing-masing. "Saya yakin kalian akan melaksanakan berbagai program yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan membawa perubahan positif, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," katanya. Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, S.S., M.A., yang hadir dalam acara penerjunan, mengapresiasi konsistensi UGM dalam menjaga hubungan antara kampus dan masyarakat melalui KKN. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendukung agenda industrialisasi desa yang tengah didorong pemerintah. "Desa memiliki potensi besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun jaringan sosial. Namun potensi tersebut harus dirajut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif melalui industri. Saya berharap mahasiswa KKN UGM dapat memberikan ide, inovasi, dan kontribusi nyata untuk mengembangkan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah," ungkapnya. Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa KKN-PPM merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus sarana pembelajaran mahasiswa untuk memahami realitas sosial secara langsung. "KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan otentik untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu membangun empati sosial, menghadirkan solusi bersama masyarakat, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya. Tahun ini KKN-PPM UGM mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim melalui KKN-PPM UGM.” Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, pengelolaan lingkungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, penanganan stunting, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna dan digitalisasi masyarakat. Semangat pengabdian tersebut tercermin dari berbagai tim KKN yang akan bertugas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Papua. Salah satunya adalah Tim KKN Raja Ampat Begisah yang akan bertugas di Kampung Samati dan Waim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Salah seorang anggota tim, Rizki Abdillah, selaku Koordinator unit dari Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan bahwa timnya mengusung sejumlah program unggulan berbasis potensi lokal masyarakat pesisir. "Kami akan mendampingi komunitas nelayan melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pengembangan pemasaran hasil perikanan, serta melanjutkan program pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan yang sebelumnya telah dirintis oleh tim KKN terdahulu," ujarnya. Selain itu, tim juga mengembangkan inovasi pemanfaatan mangrove melalui produksi teh mangrove sebagai produk ekonomi kreatif masyarakat. Di bidang lingkungan, mereka bekerja sama dengan perusahaan lingkungan internasional dan nasional untuk melakukan pengambilan sampel air guna menguji kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat. "Kami ingin memastikan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat karena sebagian sumber air masih terlihat keruh meskipun telah dimasak sebelum digunakan," jelas Rizki. Meski sempat menghadapi tantangan pendanaan karena tidak memperoleh hibah kompetitif, tim Raja Ampat Begisah berhasil memperoleh dukungan dari sejumlah mitra sehingga tetap dapat melaksanakan pengabdian di wilayah tujuan. Sementara itu, Tim KKN Biak Elok yang akan bertugas di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengusung program pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan ekonomi lokal, pariwisata partisipatif, dan infrastruktur hijau. Ketua tim, Sarasvati Baktiantoro dari Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan bahwa lokasi penugasan mereka merupakan wilayah baru yang belum pernah menjadi lokasi KKN UGM sebelumnya. "Kami akan fokus pada community empowerment melalui penguatan UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," ujarnya. Tim KKN Biak Elok telah mempersiapkan keberangkatan sejak September tahun lalu, termasuk membangun jejaring pendanaan dengan berbagai mitra dan perusahaan. Menurut Saras, pengalaman mengabdi di wilayah kepulauan Papua menjadi kesempatan berharga untuk berbagi ilmu sekaligus belajar langsung dari masyarakat. "Kami ingin membawa ilmu yang telah kami peroleh selama kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, kami juga ingin belajar dari pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat," tuturnya. Melalui penerjunan KKN-PPM Periode II Tahun 2026 ini, UGM berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan masyarakat. Lebih dari itu, program KKN diharapkan semakin memperkuat peran UGM sebagai universitas kerakyatan yang hadir dan bertumbuh bersama masyarakat Indonesia. "Kepada seluruh mahasiswa, berangkatlah dengan selamat dan pulanglah dengan selamat. Jaga diri, jaga teman, dan jaga persahabatan dengan masyarakat. Belajarlah bersama rakyat, karena di sanalah banyak pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas," pesan Arie Sudjito. Penulis : Jelita Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto dan Donnie

Selengkapnya

Dubes Belanda dan Jerman Kunjungi UGM, Dorong Kolaborasi Pendidikan Tinggi 

Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, dan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia pada Rabu (20/5) di Gedung Pusat UGM. Kunjungan ini menjadi momentum dalam rencana memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, riset, inovasi, serta pertukaran mahasiswa dan akademisi antara UGM dengan institusi pendidikan dan penelitian di kedua negara. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai bahwa masih banyak peluang dalam memperluas kolaborasi riset antara UGM dengan institusi di Belanda dan Jerman, terkhusus pada pendanaan riset skala kecil sebagai langkah awal membangun kerja sama yang lebih besar. “Adapun kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat melalui diskusi lanjutan dan inisiatif konkret di berbagai bidang strategis,” jelasnya. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menilai bahwa UGM merupakan salah satu universitas paling prestisius di Indonesia yang memiliki pondasi kuat untuk memperluas kerja sama akademik dan ilmiah dengan Belanda. Tidak hanya itu, menurut Marc, UGM menunjukkan lingkungan kampus yang dinamis, di mana ilmu pengetahuan, seni, dan inovasi berkembang tidak hanya untuk mencapai standar akademik tertinggi, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. “Pengetahuan idealnya tidak berhenti di kampus, tetapi juga harus diperkenalkan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Belanda bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam memberikan beasiswa di bidang-bidang strategis seperti hortikultura, pertanian, pangan, serta pengelolaan dan kualitas air. Bidang tersebut merupakan kekuatan utama Belanda yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. “Kami ingin talenta Indonesia belajar di universitas seperti Wageningen University & Research dan Delft University of Technology, kemudian membawa kembali pengetahuan itu untuk menjawab tantangan di Indonesia,” katanya. Sementara itu, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menegaskan bahwa kerja sama dalam bidang pendidikan merupakan pondasi yang sangat penting dalam membangun hubungan jangka panjang antarnegara. Adapun program German Academic Exchange Service menjadi salah satu instrumen utama pemerintah Jerman dalam membangun hubungan pendidikan dan riset dengan Indonesia. “Program ini merupakan mesin pertukaran people-to-people yang telah berjalan selama lebih dari satu abad dan menjadi fondasi hubungan akademik yang bermakna,” ujarnya. Ia memberikan contoh mengenai Presiden ke-3 Republik Indonesia, B. J. Habibie, sebagai bukti bahwa pengalaman belajar di Jerman dapat memberikan dampak besar, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi pembangunan bangsa. Menurutnya, sistem pendidikan tinggi Jerman terus membutuhkan energi baru melalui mobilitas mahasiswa dan peneliti. Karena itu, pemerintah Jerman secara konsisten berinvestasi dalam program pertukaran dan kerja sama universitas ke universitas. “Oleh karena itu kami akan terus mendukung kerja sama akademik dan riset dengan Indonesia, termasuk dengan UGM, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia,” ucapnya. Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan kerja sama UGM dengan universitas-universitas di Belanda dan Jerman, baik dalam bidang publikasi ilmiah, mobilitas mahasiswa, maupun pendanaan riset bersama. Ia menjelaskan bahwa UGM telah mencatat lebih dari 600 publikasi bersama dengan universitas di Belanda dan hampir 500 publikasi dengan perguruan tinggi di Jerman. Menurutnya, capaian tersebut merupakan investasi akademik yang sangat berharga bagi semua pihak. “Ini merupakan investasi yang sangat baik bagi UGM dan universitas-universitas di Eropa,” katanya. Ia menambahkan bahwa negara Belanda dan Jerman merupakan dua destinasi studi yang paling diminati oleh mahasiswa UGM. Oleh sebab itu, UGM berupaya mendorong penguatan kerja sama yang lebih konkret, termasuk dengan melalui skema joint funding yang tengah dibahas bersama mitra dari Jerman. Selain itu, UGM terus memperluas kemitraan dengan berbagai institusi di Belanda, termasuk Wageningen University & Research, serta melalui program Erasmus+ yang mendukung mobilitas mahasiswa dan dosen. “Mobilitas mahasiswa sangat penting, selain tentu manfaat dari berbagai proyek riset dan kerja sama profesional,” ujarnya. CEO Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Alfatika Aunuriella Dini, turut menyampaikan peluang kolaborasi dengan Belanda dan Jerman melalui program magang mahasiswa internasional, residensi seniman, serta pengembangan ekosistem inovasi yang melibatkan industri dan investor. “GIK merupakan pusat kreativitas dan inovasi baru yang dibangun UGM untuk mempertemukan industri, inkubator, akselerator, dan modal ventura dalam mempercepat lahirnya inovasi,” ungkapnya. Menurutnya kerja sama ini tidak hanya dapat dikembangkan di bidang riset, tetapi juga terdapat peluang dalam kerja sama seni dan budaya. Ia menuturkan bahwa GIK UGM memiliki galeri seni serta ekosistem inovasi yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa, seniman, dan pelaku industri dari berbagai negara. “Kami berharap dapat menerima lebih banyak mahasiswa internasional untuk magang di salah satu pusat kreativitas dan inovasi terbesar di kawasan ini,” katanya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

Peringkat 1 di Indonesia, Bidang Ilmu Studi Pembangunan dan Ilmu Politik UGM Tembus 100 dan 200 Top Dunia

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM kembali mencatatkan prestasi gemilang dalam pemeringkatan QS World University Ranking (WUR) by Subject 2026. Dua bidang ilmu di bawah naungan Fisipol berhasil menembus jajaran 100 dan 200 besar dunia. Bidang development studies mencatatkan kenaikan signifikan dengan masuk dalam peringkat 50-100 besar dunia. Sementara itu, bidang politics & international studies, tetap konsisten berada di jajaran 150-200 besar dunia. Untuk bidang ilmu Development Studies, UGM berada di peringkat 1 di Indonesia diikuti oleh UI yang berada di peringkat 2 dan 101-150 dunia. Sementara dari dalam bidang ilmu Politic and international studies, UGM berada di peringkat 1 di Indonesia, diikuti oleh UI, Unair dan Universitas Hasanudin. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM, Prof. Poppy Sulistyaning Winanti menyatakan bahwa keberhasilan ini bukan semata-semata bertolak dari kerja satu program studi, melainkan hasil kolaborasi interdisipliner. “Pembagian QS by Subject tidak secara kaku sejalan dengan pembagian prodi di UGM. Sebagai contoh, development studies diisi oleh berbagai prodi dengan konsentrasi serupa. Ini bukti bahwa pendekatan interdisipliner dan multidispiliner di UGM relatif berhasil,” ujarnya, Selasa (7/4) Poppy menekankan bahwa kerangka berpikir kolaborasi harus terus ditingkatkan untuk memperkuat kontribusi dan reputasi akademik di tingkat global. Ia menjelaskan bahwa selama ini sejumlah langkah strategis untuk mendongkrak reputasi internasional dan berdampak langsung pada civitas terus dilakukan, misalnya kontribusi aktif Fisipol dalam Global Humanities Alliance (GHA). “Fisipol menjadi bagian dari aliansi studi-studi humaniora secara global yang melibatkan delapan universitas dari berbagai macam negara. Kami mengembangkan berbagai macam kerja sama, mulai dari menyelenggarakan seminar, bidding research grant, dan lain sebagainya,” terangnya. Lebih lanjut, Prof. Poppy menjelaskan bahwa melalui aliansi GHA, Fisipol turut mengembangkan riset yang selaras dengan topik utama penelitian fakultas. “Beberapa isu strategis yang menjadi fokus kajian bersama mitra internasional tersebut, meliputi sustainability, respons terhadap climate change, demokrasi, public humanities, hingga decolonizing knowledge,” jelasnya. Sementara itu, guna memperkuat ekosistem akademik di sisi internal, Fisipol juga rutin mengundang sejumlah pakar terkemuka dunia untuk menjadi dosen tamu. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jaringan riset sekaligus memperkenalkan keunggulan akademik fakultas. “Kehadiran pada visiting fellows ini menjadi instrumen penting bagi kami membangun reputasi akademik. Selain itu, kami juga terus mengembangkan berbagai program joint courses dengan mengundang pakar sebagai dosen tamu,” jelasnya. Lebih lanjut, mengamati hasil dari tiap subjek dalam penelitian, Poppy mengakui tantangan terbesar berada pada peningkatan H-index dan produktivitas publikasi internasional. Untuk mengatasinya, ia menjelaskan bahwa fakultas telah menjalankan skema hibah riset kompetitif selama lebih dari 10 tahun yang mewajibkan kolaborasi dengan peneliti atau dosen asing yang bereputasi. “Hasil dari riset kolaboratif itu nantinya akan meningkatkan H-indeks dosen-dosen Fisipol UGM,” tambahnya. Kemudian, dalam upaya menangkap semangat zaman, Fisipol UGM terus mempercepat transformasi digital, terutama dalam menghadirkan pakar internasional ke ruang kelas. Prof. Poppy menjelaskan bahwa sejak masa pandemi, Fisipol telah mengembangkan Learning Management System (LMS) mandiri yang bernama Focus. “Ketika dosen asing mengisi kelas, kita kelola juga secara online. Pemaparan tersebut kami digitalisasikan melalui Focus untuk kebutuhan perkuliahan yang tidak hanya saat itu, tetapi juga jangka panjang,” pungkasnya. Lebih dalam, meski terus memacu reputasi internasional, Fisipol UGM menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak boleh membuat universitas melupakan fungsi dasarnya. Poppy menekankan bahwa upaya meningkatkan peringkat global dan kontribusi nyata kepada masyarakat harus berjalan secara paralel. “Reputasi global itu penting. Akan tetapi, bukan berarti kita melupakan fungsi perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Semua harus saling menopang sesuai dengan nilai tridharma,” pungkasnya. Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Humas UGM

Selengkapnya

UGM Bantu 500 Mahasiswa Kesulitan Bayar Biaya Kuliah

Universitas Gadjah Mada memberikan bantuan beasiswa dari internal kampus kepada mahasiswa angkatan 2025 yang berasal dari keluarga kurang mampu dan mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya kuliah. Selain itu, bantuan ini juga ditargetkan untuk sejumlah 503 mahasiswa baru angkatan 2025 dengan kategori KIP Kuliah non-eligible yang belum memperoleh pendanaan melalui skema KIP Kuliah Tahun 2025 karena keterbatasan kuota, sehingga memerlukan dukungan tambahan agar dapat melanjutkan studi dengan baik. Melalui kebijakan ini, UGM berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan mahasiswa dengan memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghambat bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik dan motivasi belajar yang tinggi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Ari Sujito, S.Sos., M.Si mengatakan sebagai wujud tanggung jawab institusional dan komitmen terhadap prinsip keadilan sosial, inklusivitas, serta keberlanjutan pendidikan, UGM menyiapkan berbagai langkah mitigasi terhadap mahasiswa KIP Kuliah non-eligible yang karenea keterbatasan kuota menjadi kesulitan dalam bayar biaya kuliah, diantaranya melalui pemanfaatan imbal hasil investasi Dana Abadi UGM sebesar Rp1,5 miliar yang digunakan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak, dan alokasi IPI 2025 sebesar 1,1 Milyar rupiah. Dijelaskannya pelaksanaan dan pengaturan teknis penyaluran bantuan ini dikoordinasikan oleh Direktorat Keuangan bersama Direktorat Kemahasiswaan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pendekatan mitigasi dilakukan UGM secara hati-hati, berbasis data, dan melalui mekanisme internal universitas. ”UGM ingin memastikan proses pembelajaran mahasiswa tidak terganggu dari sisi pembiayaan, dengan memberikan bantuan, talangan atau mengatasi terlebih dahulu dampak kebijakan seperti keterbatasan kuota atau penundaan pencairan KIP Kuliah,” ujarnya di UGM, Jumat (23/1). Selain lewat sumber Dana Abadi, UGM akan mengoptimalkan berbagai skema bantuan internal lainnya, seperti penyesuaian UKT, beasiswa internal, serta bentuk dukungan lain yang relevan dengan kondisi mahasiswa. Dengan demikian, mitigasi pendanaan tidak bertumpu pada satu sumber, melainkan disusun secara komprehensif dan berkelanjutan. Sementara dari sisi tata kelola keuangan, UGM memastikan pemanfaatan Dana Abadi dilakukan secara akuntabel, sesuai mekanisme yang berlaku, dan dikoordinasikan lintas unit sebagai bagian dari tanggung jawab sosial universitas. UGM menekankan bahwa tidak seluruh mahasiswa yang belum menerima KIP Kuliah otomatis memperoleh dana pengganti yang sama. ”Setiap mahasiswa ditangani secara individual berdasarkan pemetaan dan verifikasi data yang mencakup kondisi sosial ekonomi, status UKT, kemampuan finansial, serta rekam jejak dan progres akademik,” terangnya. Ari menyebutkan 503 mahasiswa yang terkendala ekonomi ini pada prinsipnya telah memenuhi kriteria kelayakan sebagai penerima KIP-K non eligible, namun karena keterbatasan kuota mereka sangat memerlukan bantuan pembiayaan untuk keberlanjutan studinya. “Karenanya UGM bertanggung jawab memastikan mahasiswa dapat belajar dengan nyaman dengan melindungi mereka dari beban kebijakan yang berpotensi mengganggu proses pembelajaran,” jelasnya. Ari kembali menandaskan UGM tetap menerapkan mekanisme seleksi dan verifikasi untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan berkeadilan. Proses evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, disertai koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, guna memastikan pemenuhan hak-hak mahasiswa dapat berjalan dengan baik. Melalui langkah-langkah tersebut, UGM bertekad agar tidak ada mahasiswa yang dibiarkan menghadapi risiko putus studi sendirian, dan terus berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan sesuai nilai keadilan sosial dan inklusivitas. Penulis: Agung Nugroho

Selengkapnya

Komunitas Alumni UGM Pecinta Lari Salurkan Donasi Rp 500 Juta untuk Beasiswa dan Masyarakat Terdampak Bencana

Komunitas alumni UGM pecinta lari yang tergabung dalam KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB) menyerahkan donasi sebesar Rp. 500.202.576,00 yang kemudian diperuntukan untuk bantuan beasiswa UGM bagi mereka yang terdampak Bencana Sumatra, Program Beasiswa UGM Reguler, dan Dana Abadi UGM. Donasi ini dihimpun dari hasil penyelenggaraan kegiatan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada.Penyerahan dana donasi KAGAMA Lari Untuk Berbagi secara simbolis disampaikan Ketua Panitia UGM Trail Run 2025, Budi Susila dan diterima Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos. M.Si. Audiensi dan serah terima donasi berlangsung di ruang Rektor UGM, Kamis (22/1). Penyaluran dana donasi tersebut dipercayakan kepada Universitas Gadjah Mada melalui platform Sahabat UGM (www.sahabat.ugm.ac.id) yang merupakan platform filantropi resmi untuk memfasilitasi partisipasi sivitas akademika, alumni, mitra, dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Pemanfaatan platform ini sejalan dengan upaya penguatan budaya filantropi dan keberlanjutan pendanaan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Budi Susila mengaku pihaknya sangat bersyukur terlaksananya penyelenggaraan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka memeriahkan rangkaian Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada Tahun 2025. Kegiatan olahraga sambil berdonasi ini menurutnya para peminatnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Tahun kemarin kenaikan 3-4 kali liat dari tahun sebelumnya baik dari sisi terkumpulnya donasi maupun jumlah peserta lari,” ujarnya. Ia mengharapkan kolaborasi yang erat dengan pimpinan universitas agar terus menghimpun dana untuk membantu mahasiswa dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi. “Tanpa kolaborasi yang bagus tentunya ini tidak bisa kita lakukan event tersebut. Kita terus mengajak alumni dan masyarakat luas yang memiliki hobi lari untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya. Budi menyebutkan, saat awal kegiatan UGM Ultra Charity Run hanya diikuti peserta kurang dari  100 oang, namun tahun tahun 2025 lalu setiap event mencapai rata-rata ribuan peserta. Pun dari sisi donasi, tahun sebelumnya terkumpul 170 juta maka di penyelenggaraan tahun 2025 mencapai 500 juta rupiah. “Kita sungguh bersyukur karena dengan waktu yang mepet untuk persiapan tidak sampai sebulan, hanya sekitar 3 minggu. Mudah-mudahan di tahun 2026 kita bisa menyelenggarakan kembali dengan persiapan yang lebih panjang dan matang sehingga berharap nantinya bisa terkumpul dana Rp 1 miliar sebagaimana harapan kita bersama,” imbuhnya. Arie Sujito menyampaikan apresiasi kepada pengurus komunitas KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB). Menurutnya kontribusi alumni di komunitas berhasil membangun semangat kemitraan dan kemanusiaan. “Setelah saya mengikuti Kagama lari ini menemukan spiritnya adalah sehat namun sekaligus berbagi dana, dan kami bersyukur karena kali ini terkumpul Rp 500 juta,” katanya. Dikatakan Arie, UGM saat ini tengah membantu kelancaran studi para mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu maupun terdampak bencana. Bantuan tersebut diberikan tidak hanya dalam bentuk dana, namun juga peminjaman sepeda, laptop, dan para mahasiswa terdampak bencana Sumatra. “UGM terus bekerja keras mencarikan dana untuk UKT beberapa mahasiswa terkena bencana. Ada sekitar 200an mahasiswa terkena bencana dan kita mencarikan untuk meringankan mereka,” ujarnya. Ari menyatakan UGM siap mendukung untuk penyelenggaraan UGM Ultra Charity Run di tahun 2026 agar jangkauan penyelenggaraan lebih luas. “Kita siap membantu untuk perijinan, promosi kepada mahasiswa, kita siap membantu jika perlu sekretariat sementara bisa memakai salah satu ruang yang ada disini,” imbuhnya. Penulis : Agung Nugroho Foto : Donnie

Selengkapnya

Peduli Bencana Sumatra, KAFEGAMA-FEB UGM Gelar Konser Amal

Galang dana beasiswa sekaligus dana untuk kemanusian bagi korban bencana di Sumatra, Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) bersama FEB UGM menggelar Konser Amal. Konser amal berlangsung di Grand Pacific Hotel, Yogyakarta, Sabtu malam (6/12) menghadirkan Sheila on 7 dan Jikustik. Pada konser amal, ini KAFEGAMA menyerahkan donasi beasiswa sebesar Rp 250 juta ke FEB UGM. Secara simbolis, penyerahan dilakukan oleh Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., kepada Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA. Sementara upaya penggalangan lain untuk kemanusiaan yang dibuka sejak 1 Desember 2025 telah berhasil menghimpun Rp 525.800.000, dan penggalangan ini akan terus dibuka hingga 10 Desember 2025. Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., menjelaskan konser amal yang digelar KAFEGAMA dan FEB UGM menjadi seruan untuk berempati dan bertindak nyata membantu masyarakat yang tertimpa musibah di wilayah Sumatra.  Ia pun tak henti-hentinya mengajak seluruh keluarga besar FEB UGM untuk bisa berdonasi guna meringankan beban para korban bencana banjir dan longsor, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. “Acara ini tidak memiliki arti, apabila kita tidak berempati atas apa yang terjadi kepada Saudara kita yang sedang dilanda bencana. Mari kita berdoa agar proses pemulihan pasca bencana berjalan aman dan lancar, serta masyarakat di wilayah terdampak senantiasa dilimpahkan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan,” ujar Kiki, sapaan akrab Friderica. Menurut Kiki, aksi kemanusiaan nyata sebagai dampak dari penyelenggaraan konser amal menjadi bukti komitmen KAFEGAMA menjadi organisasi yang “Migunani” atau bermanfaat. Dampak kemanfaatan yang bisa dirasakan, kata Kiki, berupa aksi kemanusiaan para alumni dengan menyalurkan bantuan senilai Rp80 juta kepada 400 penerima manfaat melalui  sinergi aktif dengan tujuh cabang Pengurus Daerah KAFEGAMA. KAFEGAMA juga menyalurkan bantuan beasiswa sebesar Rp250 juta untuk mahasiswa FEB UGM. “Tentu saja upaya ini menjadi investasi alumni untuk memastikan bibit-bibit unggul masa depan tidak terhalang oleh kendala finansial dalam meraih prestasi, dan acara ini merupakan realisasi dari motto organisasi “Guyub Rukun Migunani”. Di usia ke-10, KAFEGAMA membutuhkan energi, gagasan, dan kontribusi dari kita semua untuk melangkah menuju dekade berikutnya,” jelasnya. Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., menyampaikan ucapan terima kasih atas kontribusi para alumni dalam mendukung mahasiswa FEB UGM melalui program beasiswa. Dukungan alumni, disebutnya, berperan penting dalam menjaga keberlanjutan studi mahasiswa FEB UGM. Sementara kolaborasi antara fakultas dan alumni menjadi pilar penting dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan. “Terima kasih atas dukungan dari alumni selama ini baik melalui program beasiswa maupun magang bagi mahasiswa,” ucapnya. Konser Amal KAFEGAMA ini, kata Didi, tidak hanya menjadi sarana penggalangan dana beasiswa namun sebagai bentuk kepedulian bersama untuk membantu korban bencana di Sumatera. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara alumni dan institusi dapat menghadirkan manfaat luas, baik bagi dunia pendidikan maupun masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Iapun berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang terus memperkuat jaringan alumni agar bisa memperluas impak sosial FEB UGM. Ketua Panitia Konser Amal KAFEGAMA, Tur Nastiti, M.Si., Ph.D., menyampaikan konser yang menghadirkan Sheila on 7 dan Jikustik ini menjadi salah satu upaya untuk menggalang dana. Dana yang diperoleh digunakan untuk beasiswa bagi mahasiswa FEB UGM dan disalurkan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. “Seluruh dana donasi dialokasikan sepenuhnya untuk mahasiswa dan Saudara-saudara kita yang dilanda musibah di Sumatera,” jelasnya. Konser amal yang dihadiri lebih dari 3.000 penonton sekaligus sebagai rangkaian penutupan Dies Natalis ke-70 dan Lustrum XIV FEB UGM. Konser digelar secara gratis untuk keluarga besar FEB UGM, termasuk alumni lintas angkatan, dosen, staf profesional, mahasiswa, dan pengurus KAFEGAMA, serta  memfasilitasi kebutuhan peserta disabilitas. Dalam penyelenggaraannya, konser ini turut melibatkan 16 UMKM dari Yogyakarta dan Malang serta mahasiswa sebagai bagian dari panitia dan pelaksanaan acara. Sebelumnya, setiap Pengurus Daerah (Pengda) KAFEGAMA di berbagai daerah juga telah mengadakan kegiatan bakti sosial di wilayah masing-masing guna memperkuat semangat berbagi. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum/ Humas FEB UGM Penulis : Agung Nugroho Foto : Dok. FEB UGM

Selengkapnya

Peduli Bencana Sumatra, UGM Kirim Tim Trauma Healing ke Lokasi Terdampak

Universitas Gadjah Mada menyampaikan duka cita dan solidaritas mendalam kepada masyarakat yang terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana yang terjadi akibat hujan ekstrem pada 19-25 November 2025 lalu menimbulkan kerusakan luas, memutus akses jalan dan komunikasi, serta merusak ribuan rumah dan fasilitas umum. “UGM menyampaikan belasungkawa mendalam atas bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” kata Sekretaris Universitas (SU) UGM Dr. Andi Sandi, Rabu (3/12) di Kampus UGM. Sebagai institusi pendidikan, kata Andi, UGM berkomitmen pada pengabdian masyarakat, UGM bergerak cepat mengambil langkah-langkah respons bencana. Melalui koordinasi lintas unit, termasuk DPkM, DERU, Ditmawa, Direktur Perencanaan, BMS, Forkom, dan GER (Gelanggang Emergency Response), berbagai upaya dilakukan untuk memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran. “Kita sudah memberangkatkan tim trauma healing dari FK-KMK  yang telah bergerak  menuju lokasi terdampak,” ujarnya. Menurut Sandi, tim ini akan fokus pada pendampingan psikososial. Selain itu, UGM bersama dengan para pakar dan relawan berkoordinasi dengan pemerintah siap melakukan pendampingan  dalam penanganan darurat bencana dan rekonstruksi. Sementara Unit Disaster Response Unit (DERU) dan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM saat ini juga tengah menyiapkan sejumlah langkah penanganan dan pendampingan bagi civitas akademika yang terdampak bencana. “Kami telah melakukan koordinasi, dan untuk saat ini fokus awal kami adalah penyaluran bantuan ditujukan untuk civitas akademika UGM yang keluarganya sedang tertimpa musibah di wilayah bencana,” ujar Ardian Andi Pradana, S.T., selaku Koordinator DERU,. Menurutnya, kondisi di lapangan yang masih tidak stabil membuat sebagian mahasiswa kemungkinan kesulitan menerima kiriman uang saku dari keluarga. Karena itu, UGM berupaya memberikan dukungan sementara agar para mahasiswa dapat tetap bertahan dan fokus menjalani kegiatan sehari-hari. “Intinya adalah kami bisa membantu mendampingi teman-teman mahasiswa yang keluarganya kena musibah untuk menguatkan mereka,” jelas Andi. Andi juga menjelaskan untuk bantuan mahasiswa ini dimulai dengan melakukan asesmen mahasiswa terdampak bersama dengan Ditmawa. Data umum mengenai mahasiswa asal wilayah bencana telah diterima dari Ditmawa, dan saat ini Forkom, GER, serta BEM fakultas tengah melakukan pendataan detail untuk memastikan kebutuhan setiap mahasiswa. “Terkait dengan relawan, sementara akan kami fokuskan untuk proses pendataan mahasiswa dulu di sini. Setelah asesmen selesai, bantuan akan mulai disalurkan sesuai kebutuhan mahasiswa terdampak,” katanya. Ia menyampaikan bahwa bentuk bantuan yang akan disalurkan masih menunggu hasil asesmen, namun dipastikan akan mengikuti kebutuhan riil para mahasiswa. Baik bantuan logistik maupun dukungan finansial sedang dipertimbangkan sebagai opsi. Selain itu, GER dan Forkom juga akan bekerjasama dengan  Kantor Pos untuk memfasilitasi pengiriman bantuan ke wilayah terdampak. Selain itu, Andi menjelaskan bahwa masyarakat umum yang ingin berkontribusi dipersilakan memberikan donasi dalam bentuk barang ataupun dana. Penulis  : Lintang Andwyna Editor    : Gusti Grehenson Foto     : Antara

Selengkapnya

After Movie Biak Elok 2024 Tuai Apresiasi di Yogyakarta

Pemutaran After Movie Biak Elok 2024 di Empire XXI Yogyakarta, Sabtu silam (15/11), menjadi ruang refleksi atas perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM di Biak Numfor, Papua. Acara ini mendapat respons positif dari para penonton karena film tersebut bukan semata dokumentasi kegiatan mahasiswa, melainkan medium untuk menampilkan kembali kedekatan, keberagaman budaya, serta dinamika sosial masyarakat Papua yang selama ini jarang tersampaikan melalui karya visual mahasiswa. Film ini mengajak penonton menyelami aktivitas sehari-hari masyarakat Biak Numfor melalui kisah budaya, relasi sosial, hingga kondisi ekologis yang ditemui selama penugasan mahasiswa. Melalui pendekatan visual yang hangat dan autentik, After Movie Biak Elok 2024 membingkai hubungan mahasiswa dengan warga lokal melalui edukasi pengelolaan sampah, inisiatif pemberdayaan pesisir, serta aktivitas pelestarian pariwisata berkelanjutan. Keindahan lanskap laut Biak, kehidupan pesisir, dan tradisi masyarakat menjadi dasar penceritaan film ini. Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) KKN Biak Elok 2024, Anugrah Amin Ignatius Julio yang akrab disapa Wejai, membuka acara dengan membagikan refleksi tentang proses lahirnya film tersebut. Ia menekankan bahwa After Movie Biak Elok 2024 merupakan perjalanan batin yang terbangun dari kedekatan mahasiswa dengan warga Biak. Wejai juga menuturkan bagaimana plakat KKN UGM di kampung halamannya dulu memotivasinya hingga ia meraih beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi dan dapat berkuliah di UGM. Ia berharap kesempatan serupa dapat dinikmati generasi muda di Biak. “Kesuksesan ini harus bisa dinikmati semua anak di sana. Karena itu kami menginisiasi KKN Biak Elok bersama teman-teman,” ungkapnya. Ia kemudian menambahkan bahwa dokumenter tersebut tumbuh dari pengalaman hidup mahasiswa selama tinggal bersama masyarakat Biak. Menurutnya, film ini menjadi wujud pendekatan yang penuh cerita dan sukacita sebagaimana nilai yang dijunjung UGM. “Saya berharap film ini bisa menjadi tanda prasasti bagi kemajuan Papua yang berangkat dari rasa dan potensi yang ada di sana,” ucapnya. Direktur Pengabdian Kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., hadir dan memberikan pandangannya. Ia melihat film ini sebagai penanda penting yang memperkuat kontribusi KKN UGM di berbagai daerah. “Film ini menjadi inspirasi bagi kita semua bagaimana kita melihat Indonesia dengan keberagamannya, terdiri dari banyak suku, bahasa, keindahan, hingga potensi,” jelasnya. Apresiasi juga disampaikan Gubernur DIY melalui Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Dr. Sukamto. Ia menilai After Movie Biak Elok 2024 sebagai karya yang menunjukkan kreativitas dan kepedulian anak muda. “Saya bangga melihat semangat dan kreativitas generasi muda dalam mengolah realitas menjadi karya yang berkarakter, bermakna, dan berintegritas,” katanya. Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, memberikan penghargaan mendalam atas dedikasi tim KKN Biak Elok 2024 dalam menghasilkan film ini. Ia menyebut bahwa film tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat Biak. “Kalian adalah jawaban doa-doa orang Biak,” ujarnya. Sutradara After Movie Biak Elok 2024, Fauzy Ash Siddiqiy, turut menjelaskan bahwa film ini merupakan hasil kolaborasi tim yang mengerahkan energi, pemikiran, dan waktu demi menampilkan wajah Biak secara jujur. Ia menyebut film ini sebagai ruang yang membuka kesempatan bagi publik untuk mengenal Biak secara lebih dekat. “Premis awal film ini adalah menghadirkan orang-orang yang tidak pernah mengenal tanah Papua agar bisa masuk ke dunia Biak,” jelasnya. Ia menutup dengan penegasan bahwa, di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, film ini diselesaikan dengan pendekatan murni tanpa dukungan AI. “Bukan berarti kita tidak mendukung industri AI di Indonesia. Tetapi kita mencoba untuk memberikan audience how it feels like to be there, yang benar-benar nyata adanya,” pungkasnya. Penulis: Cyntia Noviana Foto: Ika Editor: Triya Andriyani