BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Menerjang ‘Ombak’ Ketimpangan Pelayanan Kesehatan di Bumi Sumekar

Di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep yang meliputi ratusan kepulauan kecil, terdapat paradoks layanan kesehatan, terlebih pelayanan kesehatan gigi. Secara administratif bagian dari Propinsi Jawa Timur, namun secara realitas geografis dan akses layanan, menyerupai wilayah terpencil wilayah Indonesia timur. Dengan 126 pulau yang sebagian besarberpenghuni dan tersebar berjauhan, tantangan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumenep bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga tentang tekad & keberanian menembus deburan ombak menuju layanan kesehatan masyarakat yang memadai. Bentang Alam Menguji Integritas Bangsa Perjalanan menuju salah satu wilayah terluar seperti Masalembu bisa memakan waktu hingga 18 jam perjalanan laut. Bahkan dari pusat kabupaten ke rumah sakit di Pulau Kangayan, masih dibutuhkan waktu tambahan berjam-jam, baik melalui laut maupun udara yang terbatas frekuensinya.  Kondisi ini menciptakan realitas keras, akses terhadap layanan kesehatan bukan hanya soal biaya, tetapi soal jarak, cuaca, dan ketersediaan transportasi. Rabu, 1 April 2026 FKG UGM menerima kunjungan kemitraan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep yang diawaki oleh: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep drg. Ellya Fardasah, M.Kes. Moh Nur Insan, S.Kep., M.Kes (Kepala Bidang-Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) Deddi Wahyono, S.Kep.Ners (Analisis Penanggulangan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep),  Syarifa Ainun, S.K.M. (Pengelola Program dan Kegiatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) drg. Azmi Fauzan Nurwansyah (Dokter Gigi Puskesmas Pasongsongan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) diterima oleh Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Pengabdian Masyarakat, & Riset, drg. Triana Wahyu Utami, MDSc, Ph.D) Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes. Wakil Dekan Bidang SDM, Keuangan, Aset. IT drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, Kepala Unit Kerja Sama FKG UGM drg. Raras Ajeng Enggardipta, Sp.KG, PhD. Kepala Departemen Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.B.M.M., Subsp. C.O.M.(K). Kaprodi Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) beserta staf FKG UGM berlangsung dengan penuh antusias terkait ketimpangan kondisi khususnya pelayanan kesehatan gigi yang masih jauh dari harapan. Dalam situasi darurat, keterlambatan rujukan bukan pengecualian, melainkan risiko sistemik. Ketika gelombang tinggi menghambat kapal, bahkan suplai oksigen pun terancam terhenti, sebuah ironi di tengah komitmen Universal Health Coverage (UHC) yang telah dicanangkan pemerintah daerah. Krisis yang Lebih Dalam: Kelangkaan Dokter Spesialis Masalah utama bukan hanya infrastruktur, tetapi kekurangan akut tenaga medis spesialis, khususnya di bidang kedokteran gigi spesialistik seperti bedah mulut. Rumah Sakit Abuya yang melayani sekitar 100 ribu penduduk kepulauan tidak terdapat satu pun dokter gigi spesialis. Bahkan di wilayah daratan Sumenep, jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya, pasien dengan kasus kompleks harus dirujuk ke kota lain seperti Surabaya sebuah proses yang mahal, lama, dan berisiko tinggi. Padahal, secara kebijakan, layanan sudah “gratis” melalui BPJS. Namun dalam praktiknya, ketiadaan tenaga spesialis membuat jaminan kesehatan kehilangan makna substansinya. Ketika Regulasi Tidak Membaca Realitas Ironi semakin dalam ketika kebijakan pusat tidak sepenuhnya sinkron dengan kondisi daerah. Sumenep, meski memiliki karakteristik kepulauan ekstrem, tidak dikategorikan sebagai daerah terpencil secara administratif, sehingga tidak memenuhi syarat penempatan residen dokter. Akibatnya, skema distribusi tenaga medis berbasis pendidikan yang seharusnya menjadi solusi tidak dapat dimanfaatkan. Ini menunjukkan satu hal krusial: standar nasional sering kali gagal menangkap kompleksitas lokal, sehingga kebijakan menjadi kaku dan tidak adaptif. Strategi Bertahan: Dari Beasiswa hingga “Kontrak Moral” Menghadapi kebuntuan struktural, pemerintah daerah memilih jalur alternatif: Mengirim dokter untuk sekolah spesialis melalui beasiswa. Memberikan insentif tinggi (hingga puluhan juta rupiah) bagi tenaga medis yang bersedia bertugas di kepulauan. Merancang skema pendidikan bagi putra daerah dengan harapan mereka akan kembali mengabdi. Namun strategi ini tidak tanpa risiko. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua dokter yang disekolahkan kembali ke daerah asal, meskipun telah menandatangani komitmen. Fenomena ini membuka dilema etis sekaligus struktural:Apakah cukup dengan kontrak formal untuk menjamin distribusi tenaga kesehatan?Ataukah diperlukan pendekatan yang lebih sistemik—mengikat secara sosial, ekonomi, dan profesional? Meretas Harapan Sinergitas Kampus dan Pemerintah Daerah Kerja sama dengan institusi pendidikan seperti UGM menjadi titik terang. Tidak hanya dalam bentuk pendidikan dokter spesialis, tetapi juga potensi: Pengiriman tenaga medis berbasis supervisi, program pengabdian Masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan model kolaborasi resiprokal di mana daerah tidak hanya menjadi “objek”, tetapi juga mitra aktif dalam sistem pendidikan kesehatan. Dimensi Sosial: Ketika Sakit adalah Urusan Kolektif Di tengah segala keterbatasan, masyarakat Sumenep memiliki kekuatan sosial yang unik. Dalam budaya lokal, ketika satu orang sakit, seluruh komunitas ikut terlibat, sebuah solidaritas yang menjadi penyangga di tengah lemahnya sistem formal. Namun solidaritas sosial tidak bisa menggantikan peran negara. Negara Harus Hadir Secara Nyata Kasus Sumenep mengungkap problem klasik pembangunan Indonesia, ketimpangan bukan hanya antar wilayah, tetapi juga antara kebijakan dan kenyataan. Beberapa poin kritis yang perlu dicermati: Reklasifikasi daerah terpencil harus berbasis realitas geografis, bukan administratif semata. Distribusi tenaga kesehatan perlu pendekatan insentif + kewajiban yang lebih kuat dan terukur . Desentralisasi kebijakan kesehatan harus memberi ruang adaptasi bagi daerah kepulauan . Investasi jangka panjang pada SDM lokal menjadi solusi paling berkelanjutan. Apakah keadilan kesehatan di Indonesia benar-benar merata? Sumenep bukan sekadar cerita tentang daerah pinggiran, hal ini adalah cermin dari pertanyaan besar. Di tengah gelombang laut dan keterbatasan akses, perjuangan tenaga kesehatan dan pemerintah daerah menjadi bukti bahwa harapan tetap ada. Namun tanpa reformasi kebijakan yang lebih adaptif dan berpihak, perjuangan itu akan terus berjalan di tempat. Dan bagi masyarakat di pulau-pulau kecil itu, waktu bukan sekadar angkamelainkan penentu antara hidup dan kehilangan. (Reporter & Fotografi: Andri Wicaksono)

Lanjut Baca

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menandai Dies Natalis ke-78 dengan langkah yang melampaui seremoni akademik. Pada perayaan tahun ini, FKG UGM meluncurkan sistem panen air hujan yang diolah menjadi air layak konsumsi, sebuah inovasi yang menggabungkan sains kesehatan, teknologi lingkungan, dan komitmen keberlanjutan kampus. Peresmian dilakukan dalam rangkaian pembukaan Dies Natalis yang dihadiri Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia (SDM)FKG UGM  drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D, sivitas akademika FKG UGM, mitra industri, serta perwakilan fakultas kluster kesehatan UGM. Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM menegaskan bahwa usia 78 tahun bukan sekadar penanda historis, melainkan momentum refleksi atas peran fakultas dalam menjawab tantangan masa depan, khususnya krisis lingkungan dan efisiensi sumber daya air. DARI PENGELOLAAN SAMPAH KE PANEN AIR HUJAN FKG UGM sebelumnya dikenal sebagai salah satu fakultas yang konsisten mengelola sampah berbasis pemilahan dan daur ulang. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas tidak hanya dipisahkan, tetapi juga dimanfaatkan untuk program donasi dan pengelolaan berkelanjutan. Tahun ini, pendekatan tersebut dikembangkan lebih jauh melalui pengelolaan air hujan. Air yang ditampung tidak langsung digunakan, melainkan melalui serangkaian proses teknologi: filtrasi, pengendapan, sterilisasi ultraviolet (UV), hingga reverse osmosis (RO). Hasil akhirnya adalah air dengan tingkat kemurnian tinggi yang aman untuk dikonsumsi serta berpotensi digunakan dalam kebutuhan klinik kedokteran gigi “Inovasi ini bukan sekadar memanen hujan lalu diminum. Ada tahapan ilmiah yang ketat agar air benar-benar steril dan aman,”, papar Dekan FKG UGM. “Keberadaan inovasi pemberdayaan air hujan ini, sebagai penanda komitmen terhadap inovasi serta keberlanjutan, hari ini juga kita kuatkan dengan agenda Peresmian Air Minum RO (Reverse Osmosis) dari air tadah hujan FKG UGM, sebagai langkah nyata menghadirkan kampus yang lebih sehat, adaptif, dan ramah lingkungan, ungkap Ketua Panitia Dies Natalis FKG UGM ke 78, Dr, drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.B.M.M., Subsp. T.M.T.M.J.(K), dalam sambutannya. Wakil Rektor UGM & Dekan FKG UGM mengamati instalasi air minum berbasis air hujan RELEVANSI MEDIS: AIR MURNI UNTUK PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI Berbeda dari program lingkungan pada umumnya, sistem panen air hujan FKG UGM dirancang dengan orientasi medis. Air hasil RO memiliki konduktivitas listrik yang sangat rendah karena bebas dari partikel terlarut. Kondisi ini dinilai ideal untuk mendukung penggunaan alat-alat kedokteran gigi seperti bur dan ultrasonic scaler, karena dapat mengurangi risiko rasa ngilu pada pasien serta meningkatkan kenyamanan tindakan klinis Ke depan, fakultas berencana memanfaatkan menara penampungan air di area sekitar musala, Dental Learning Center, serta gedung OECF sebagai bagian dari sistem terpadu panen air hujan. JEJAK KARBON DAN BUDAYA INTROSPEKSI LINGKUNGAN Selain air, Dies Natalis ke-78 juga menjadi titik awal pengembangan penghitungan jejak karbon (carbon footprint) di lingkungan FKG UGM. Melalui indikator ini, setiap aktivitas sivitas akademika—mulai dari penggunaan kendaraan, listrik, hingga kebiasaan merokok akan dipetakan kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan. Pendekatan ini bertujuan membangun budaya introspeksi kolektif. Fakultas berharap kesadaran lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam perubahan perilaku sehari-hari. APRESIASI UGM DAN HARAPAN REPLIKASI KE FAKULTAS LAIN Pimpinan universitas yang hadir menyebut FKG UGM sebagai contoh konkret bahwa inovasi lingkungan dapat lahir dari fakultas kesehatan, bukan hanya dari rumpun teknik atau sains murni. Inisiatif panen air hujan dan penghitungan jejak karbon dinilai berpotensi direplikasi oleh fakultas lain di UGM. “Acara besar tidak selalu identik dengan sampah berserakan. Apa yang dilakukan FKG UGM menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa menjadi bagian dari budaya akademik,” ujar Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D. SIMBOL PERUBAHAN DI USIA 78 TAHUN Perayaan Dies Natalis ditutup dengan simbolisasi minum air hasil olahan hujan oleh pimpinan universitas dan fakultas. Aksi tersebut menegaskan pesan utama perayaan tahun ini: inovasi, keberanian ilmiah, dan tanggung jawab ekologis. Di usia ke-78, FKG UGM tidak hanya merayakan masa lalu sebagai salah satu cikal bakal UGM, tetapi juga menegaskan arah masa depan—menjadi institusi pendidikan kedokteran gigi yang unggul, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan global. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)