BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

DTETI UGM Gelar Sosialisasi dan Pelatihan PLTS bagi Warga Terban

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bagi warga binaan Desa Terban, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah KONEKSI bertajuk reNEWable Energy for Remote Island Sustainability and Economic LivElihoodS (NEWER-ISLES). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan dalam pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas, khususnya untuk mendukung keberlanjutan dan kemandirian energi di wilayah terpencil. Pelatihan dilaksanakan dalam beberapa sesi sejak Rabu (8/4) lalu hingga Sabtu (18/4), yang dibagi ke dalam enam kelompok warga. Nantinya, kegiatan khusus bersama Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak akan dijadwalkan pada Selasa (21/4) mendatang, bertempat di Ruang Sidang Laboratorium Teknik Tenaga Listrik (TTL) DTETI UGM. Materi pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan dasar energi terbarukan, penggunaan teknologi pembuat es berbasis energi surya, penyampaian materi melalui media visual dan video, serta praktik langsung pengoperasian alat. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman praktis dalam memanfaatkan teknologi energi terbarukan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen DTETI UGM dalam mendorong pemanfaatan energi bersih yang inklusif dan berbasis masyarakat. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat dapat mengembangkan keterampilan baru yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi sehari-hari, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. (RAS)

Lanjut Baca

Kegiatan Perpustakaan Fakultas Biologi : Perkenalan Mahasiswa Volunteer baru 2026 dan Pengenalan Program Kerja Perpustakaan dalam Mewujudkan Ekosistem Pendidikan Berkualitas (SDG 4)

Selasa (6/4/2026) Perpustakaan Fakultas Biologi menyelenggarakan kegiatan first gathering serta pengenalan mahasiswa volunteer baru yang diikuti oleh seluruh SDM perpustakaan baik dari pustakawan maupun seluruh anggota mahasiswa volunteers. Kegiatan ini menjadi momentum ramah tamah pasca libur lebaran dan cuti bersama ASN 2026, selain itu juga kegitan ini untuk mempererat hubungan antara pengelola perpustakaan dengan para mahasiswa volunteers sahabat perpustakaan yang akan bersinergi dalam program kegiatan bersama dalam mewujudkan ekosistem pendidikan berkualitas di tahun akademik 2026/2027 ini. [metaslider id="57494"] Acara first gathering yang diadakan di ruang komputer perpustakaan ini diawali dipandu oleh MC-mhs volunteer Wahyu Febriani, S.Si. dengan gaya bicara penuh komunikatif dan bersemangat membuat suasana kegiatan ini semakin meriah dan berkesan mendalam bagi seluruh peserta. Kegiatan ini sebelumnya diisi dengan acara makan siang bersama untuk menciptakan ruang interaksi yang santai dan akrab antar peserta. Memasuki acara inti diawali dengan sambutan disampaikan oleh Bapak Drs. Ignatius Sudaryadi, M.Kes selaku penanggungjawab perpustakaan 2026. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran volunteer sebagai bagian penting dari pengembangan program kegiatan perpustakaan sejalan dengan visi misi fakultas. Kehadiran volunteer mampu mengisi celah-celah layanan yang belum optimal menjadi semakin sempurna dan bermakna baik layanan untuk internal maupun eksternal perpustakaan. Mahasiswa volunteers sahabat perputakaan ini telah memberikan energi baru, ide kreatif, serta membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada sivitas akademika utamanya untuk program kegiatan manajemen sitasi literasi, bedah buku karya dosen biologi, pengabdian masyarakat PkM), anjangsana/studi tiru, serta kegiatan lain dalam kerjasama dengan lembaga/institusi mitra Fakultas. Kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan profil Perpustakaan Biologi yang mencakup informasi mengenai kegiatan layanan, program kerjasama, serta perkenalan seluruh SDM kepada mahasiswa volunteer baru. Sesi ini tentunya juga memperkenalkan empat volunteer baru yakni Anis Fauzia, Desti Liani, Nur Azizah, dan Faqih Ainun Lubab. Proses perkenalan dipandu langsung oleh pembimbing Volunteer Perpustakaan Ibu Rusna, yang juga memberikan arahan serta motivasi kepada para volunteer agar dapat menjalankan tugas dengan penuh semangat dan dedikasi. Sesi lanjutan yakni para mahasiswa volunteer bersama-sama melakukan sesi diskusi singkat mengenai program kerja dan kegiatan yang akan berlangsung selama periode tahun ini.  Melalui kegiatan first gathering ini, diharapkan seluruh SDM perpustakaan dapat saling terhubung dan bersinergi layaknya ‘enzim’ yang mempercepat setiap proses dalam pelayanan dan pengembangan perpustakaan. Dengan semangat kebersamaan, kolaborasi, dan energi positif yang terbangun, perpustakaan diharapkan mampu terus berkembang, menghadirkan inovasi, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi sivitas akademika guna mewujudkan ekosistem pendidikan yang berkualitas di Fakultas Biologi UGM ini.”. Salam literasi ~  

Selengkapnya

Peringkat 1 di Indonesia, Bidang Ilmu Studi Pembangunan dan Ilmu Politik UGM Tembus 100 dan 200 Top Dunia

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM kembali mencatatkan prestasi gemilang dalam pemeringkatan QS World University Ranking (WUR) by Subject 2026. Dua bidang ilmu di bawah naungan Fisipol berhasil menembus jajaran 100 dan 200 besar dunia. Bidang development studies mencatatkan kenaikan signifikan dengan masuk dalam peringkat 50-100 besar dunia. Sementara itu, bidang politics & international studies, tetap konsisten berada di jajaran 150-200 besar dunia. Untuk bidang ilmu Development Studies, UGM berada di peringkat 1 di Indonesia diikuti oleh UI yang berada di peringkat 2 dan 101-150 dunia. Sementara dari dalam bidang ilmu Politic and international studies, UGM berada di peringkat 1 di Indonesia, diikuti oleh UI, Unair dan Universitas Hasanudin. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM, Prof. Poppy Sulistyaning Winanti menyatakan bahwa keberhasilan ini bukan semata-semata bertolak dari kerja satu program studi, melainkan hasil kolaborasi interdisipliner. “Pembagian QS by Subject tidak secara kaku sejalan dengan pembagian prodi di UGM. Sebagai contoh, development studies diisi oleh berbagai prodi dengan konsentrasi serupa. Ini bukti bahwa pendekatan interdisipliner dan multidispiliner di UGM relatif berhasil,” ujarnya, Selasa (7/4) Poppy menekankan bahwa kerangka berpikir kolaborasi harus terus ditingkatkan untuk memperkuat kontribusi dan reputasi akademik di tingkat global. Ia menjelaskan bahwa selama ini sejumlah langkah strategis untuk mendongkrak reputasi internasional dan berdampak langsung pada civitas terus dilakukan, misalnya kontribusi aktif Fisipol dalam Global Humanities Alliance (GHA). “Fisipol menjadi bagian dari aliansi studi-studi humaniora secara global yang melibatkan delapan universitas dari berbagai macam negara. Kami mengembangkan berbagai macam kerja sama, mulai dari menyelenggarakan seminar, bidding research grant, dan lain sebagainya,” terangnya. Lebih lanjut, Prof. Poppy menjelaskan bahwa melalui aliansi GHA, Fisipol turut mengembangkan riset yang selaras dengan topik utama penelitian fakultas. “Beberapa isu strategis yang menjadi fokus kajian bersama mitra internasional tersebut, meliputi sustainability, respons terhadap climate change, demokrasi, public humanities, hingga decolonizing knowledge,” jelasnya. Sementara itu, guna memperkuat ekosistem akademik di sisi internal, Fisipol juga rutin mengundang sejumlah pakar terkemuka dunia untuk menjadi dosen tamu. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jaringan riset sekaligus memperkenalkan keunggulan akademik fakultas. “Kehadiran pada visiting fellows ini menjadi instrumen penting bagi kami membangun reputasi akademik. Selain itu, kami juga terus mengembangkan berbagai program joint courses dengan mengundang pakar sebagai dosen tamu,” jelasnya. Lebih lanjut, mengamati hasil dari tiap subjek dalam penelitian, Poppy mengakui tantangan terbesar berada pada peningkatan H-index dan produktivitas publikasi internasional. Untuk mengatasinya, ia menjelaskan bahwa fakultas telah menjalankan skema hibah riset kompetitif selama lebih dari 10 tahun yang mewajibkan kolaborasi dengan peneliti atau dosen asing yang bereputasi. “Hasil dari riset kolaboratif itu nantinya akan meningkatkan H-indeks dosen-dosen Fisipol UGM,” tambahnya. Kemudian, dalam upaya menangkap semangat zaman, Fisipol UGM terus mempercepat transformasi digital, terutama dalam menghadirkan pakar internasional ke ruang kelas. Prof. Poppy menjelaskan bahwa sejak masa pandemi, Fisipol telah mengembangkan Learning Management System (LMS) mandiri yang bernama Focus. “Ketika dosen asing mengisi kelas, kita kelola juga secara online. Pemaparan tersebut kami digitalisasikan melalui Focus untuk kebutuhan perkuliahan yang tidak hanya saat itu, tetapi juga jangka panjang,” pungkasnya. Lebih dalam, meski terus memacu reputasi internasional, Fisipol UGM menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak boleh membuat universitas melupakan fungsi dasarnya. Poppy menekankan bahwa upaya meningkatkan peringkat global dan kontribusi nyata kepada masyarakat harus berjalan secara paralel. “Reputasi global itu penting. Akan tetapi, bukan berarti kita melupakan fungsi perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Semua harus saling menopang sesuai dengan nilai tridharma,” pungkasnya. Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Humas UGM

Selengkapnya

Mengubah Air Hujan Menjadi Sumber Kehidupan: Strategi Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia dan Pengurangan Emisi Karbon

Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah, melainkan realitas yang mengetuk pintu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pola curah hujan yang tidak menentu dan penurunan muka air tanah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup. Menjawab tantangan ini, tim peneliti dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin oleh Prof. Dr-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN.Eng, merilis hasil penelitian krusial di tahun 2025 ini. Bertajuk "Studi Pilihan dalam Memanfaatkan Air Tanah dan Memanen Air Hujan untuk Peningkatan Kesehatan dan Kesejahteraan terhadap Perubahan Iklim di Indonesia", riset ini menyoroti dua lokasi strategis dengan karakteristik hidrologi yang kontras namun menghadapi tantangan serupa: Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Semarang. Paradigma Baru: Jangan Buang Air ke Laut Selama bertahun-tahun, paradigma pengelolaan air konvensional berfokus pada drainase—membuang air hujan secepat mungkin ke sungai dan laut. Riset ini mengadvokasi perubahan fundamental menuju konsep Pemanenan Air Hujan (PAH). "Air hujan adalah berkah, bukan musibah. Dengan teknologi tepat guna, air hujan dapat dikelola menjadi sumber air bersih yang melimpah, mendukung kesehatan masyarakat, dan bahkan kebutuhan peternakan." Di Kabupaten Gunungkidul, yang kerap diasosiasikan dengan kekeringan saat kemarau, dan Kabupaten Semarang yang mewakili wilayah peri-urban, tim peneliti melakukan survei mendalam serta dialog partisipatif dengan pemerintah dan kelompok masyarakat. Dokumentasi lapangan menunjukkan antusiasme warga dalam mengadopsi teknologi PAH. Selain itu, penggunaan PAH juga dapat menghemat listrik dan menurunkan kadar emisi karbon. Hal ini menjadi salah satu luaran dari penelitian yang dilakukan tahun 2025 ini.   Integrasi Nyata dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Penelitian ini tidak hanya berhenti pada tataran teknis, tetapi secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Berikut adalah tiga pilar utama dampak penelitian ini: Air Bersih & Sanitasi (SDGs 6) Mengurangi ketergantungan pada air tanah yang semakin dalam dan terkadang mengandung kapur tinggi, menggantinya dengan air hujan yang telah difiltrasi dan layak konsumsi. Penanganan Perubahan Iklim (SDGs 13) Meningkatkan ketahanan masyarakat (resiliensi) terhadap cuaca ekstrem. Saat hujan, air disimpan untuk mencegah banjir; saat kemarau, cadangan air tersedia. Kehidupan Sehat & Sejahtera (SDGs 3) Ketersediaan air bersih berkorelasi langsung dengan penurunan risiko penyakit. Di lokasi penelitian Kabupaten Semarang, air hujan bahkan dimanfaatkan untuk sanitasi peternakan, menciptakan lingkungan yang lebih higienis dan produktif. Menuju Kemandirian Air Nasional Laporan akhir hibah penelitian ini merekomendasikan replikasi model PAH di berbagai wilayah Indonesia. Tim peneliti yang beranggotakan Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, Muhammad Sulaiman, D.Eng., serta peneliti muda Adnin Musadri, Daniel Wolo, dan Pratama Tirza, optimis bahwa pendekatan berbasis komunitas adalah kunci. "Masyarakat tidak lagi menjadi objek pasif yang menunggu bantuan air tangki saat kemarau, melainkan menjadi aktor aktif yang memanen, mengolah, dan memanajemen air mereka sendiri.”

Selengkapnya

MBA SA Care: Berbagi Kebahagiaan Ramadan Bersama Anak Panti Asuhan

Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melalui MBA Student Association (MBA SA) menyelenggarakan kegiatan sosial “BERBAGI: Buka Bersama, bagi Kasih, Kebahagiaan, dan Kepedulian untuk Sesama”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026 di Leadership Hall MBA FEB UGM Yogyakarta sebagai bagian dari rangkaian kegiatan berbagi di bulan suci Ramadan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MBA Student Association (MBA SA) 20.0, FORKIS, dan KMK, yang bertujuan menghadirkan momen kebersamaan melalui acara buka puasa bersama dengan anak-anak dari Panti Asuhan Sayap Ibu. Melalui kegiatan ini, mahasiswa MBA FEB UGM tidak hanya berbagi hidangan berbuka, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan yang penuh kehangatan, kebahagiaan, dan kepedulian. Menjelang pelaksanaan acara, panitia membuka periode donasi pada 22 Februari hingga 3 Maret 2026. Donasi dihimpun dari berbagai pihak yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan berbagi ini. Antusiasme para donatur cukup tinggi, tercermin dari 42 donatur yang berkontribusi, baik secara individu maupun kolektif. Dari proses penggalangan dana tersebut, panitia berhasil mengumpulkan total Rp11.500.000. Dalam kesempatan tersebut, Deputy Director of MBA FEB UGM Yogyakarta, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., turut menyampaikan sambutan sekaligus memberikan motivasi kepada anak-anak panti asuhan. Ia berharap anak-anak yang hadir tetap semangat belajar dan berani meraih cita-cita. Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Siapa tahu nanti teman-teman bisa bergabung bersama kami, sekolah di sini. Aamiin ya. Mudah-mudahan kakak-kakak dan adik-adik semua di sini menjadi pemimpin yang bermanfaat dan juga bermanfaat untuk sesama,” ujar Luluk. Sementara itu, Muhammad Nadhif Daffa Priyansa, selaku CEO MBA SA 20.0, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas kehadiran anak-anak dari Panti Asuhan Sayap Ibu. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan kolaborasi ini dapat menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan serta menumbuhkan semangat berbagi di bulan Ramadan. “Senang sekali saya dapat berdiri di sini menyambut teman-teman, terutama dari Panti Sayap Ibu. Saya berharap melalui event kolaborasi ini kita dapat bersama-sama berdonasi, berbuka puasa bersama, dan merayakan kebahagiaan di bulan suci ini. Saya juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus terjaga dan dilaksanakan di masa mendatang,” ujar Nadhif. Feri Rahmawan, M.A., selaku Kepala Panti 3 – Panti Disabilitas Kemandirian Terlantar Yayasan Sayap Ibu Cabang DIY, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas undangan serta perhatian yang diberikan kepada anak-anak panti dalam kegiatan tersebut. “Saya mewakili Ketua Umum Panti Asuhan Sayap Ibu mengucapkan banyak terima kasih karena kami diundang pada kesempatan sore hari ini. Sekali lagi terima kasih, semoga anak-anakku semua tetap semangat mengikuti acaranya,” ujar Feri. Kegiatan MBA SA Care diisi dengan berbagai rangkaian acara yang menghadirkan suasana hangat dan penuh keceriaan seperti mengikuti beragam games seru yang melibatkan interaksi antara mahasiswa dan anak-anak panti asuhan, sehingga menciptakan momen kebersamaan yang dipenuhi tawa dan kegembiraan. Selain itu, juga ada pembacaan ayat suci Al-Quran. Acara ini juga turut dimeriahkan dengan tausiah dongeng inspiratif yang disampaikan oleh Mohammad Johari, S.Pd. Reporter : Fitrianti Rizqi A, Raina Satmika D Editor : Ayu Aprilia

Selengkapnya

Cerita Mahasiswa Jepang Ikut Mengabdi di Desa

Sebanyak 5 orang mahasiswa asal Jepang bersama 14 mahasiswa UGM berkolaborasi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat selama 10 hari di Imogiri, Bantul. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan sebagai wujud penguatan kolaborasi internasional serta pembelajaran berbasis pengabdian pada masyarakat melalui pembelajaran lintas budaya melalui Program pertukaran mahasiswa Six University Initiative Japan Indonesia - Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026. Kelima mahasiswa Jepang ini terdiri dari mahasiswa dari Ehime University, 1 mahasiswa dari Kagawa University, dan 1 mahasiswa dari Kochi University. Sedangkan 14 mahasiswa UGM dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Ryoma, mahasiswa asal Jepang dari Kagawa University, menyampaikan pengalamannya melihat perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia selama mengikuti kegiatan di Imogiri, Bantul. Menurut Ryoma, salah satu hal yang paling ia rasakan selama mengikuti program tersebut adalah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun dalam budaya makanan. Selain itu, ia menyampaikan terdapat pula tantangan yang ditemuinya berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat mengenai permasalahan pertanian, khususnya terkait hama pada tanaman padi. “Saya tertarik pada permasalahan padi di desa tersebut. Dari wawancara dengan beberapa warga, saya menemukan adanya perbedaan pendapat mengenai hama tanaman padi dan cara penanganannya, sehingga hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memahami kondisi yang sebenarnya,” tutup Ryoma dalam Closing Ceremony & Farewell Dinner yang digelar pada Kamis (5/3) di Operation Room, Gedung Unit I, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kegiatan penutupan ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama mengikuti program pengabdian masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul. Selama program berlangsung, mahasiswa melakukan observasi desa dan wawancara dengan warga untuk memahami kondisi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai kegiatan budaya bersama masyarakat seperti lokakarya eco-print, membuat makanan ringan Indonesia, belajar membatik, hingga memainkan gamelan. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi peternakan domba, serta mempelajari pembuatan jamu dan tempe bersama warga desa. Menanggapi presentasi mahasiswa, Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional UGM, Tyas Ikhsan Himawan, S.Si., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam program SUIJI-SLP 2026. Ia menambahkan bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi universitas. “Di UGM kami sangat menghargai program kolaborasi internasional karena kami menyadari bahwa dengan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang akan memberikan dampak yang lebih besar, tidak hanya di bidang akademik dan riset tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan pedesaan dan praktik pertanian melalui adanya kolaborasi lintas negara ini. Ia menilai bahwa interaksi mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Jepang selama kegiatan pengabdian merupakan langkah awal dalam mewujudkan berbagai gagasan dalam meningkatkan praktik pertanian dan kehidupan masyarakat desa. “Kalian belajar tidak hanya tentang pertanian tetapi juga kehidupan pedesaan serta hubungan sosial masyarakat desa, dan pada akhirnya kalian dapat bekerja sama untuk mengusulkan berbagai ide guna meningkatkan kehidupan masyarakat desa dan praktik pertanian di lapangan,” tuturnya. Assoc. Prof. Dr. Kazuya Masuda, selaku pendamping program SUIJI-SLP 2026 dari Kochi University, juga turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan selama program berlangsung. Ia berharap berjalannya program ini dapat menjadi momentum awal terjalin hubungan erat antara mahasiswa dari kedua negara dapat terus dipertahankan hingga setelah program berakhir. “Saya telah berpartisipasi dalam program ini sejak 2017. Setiap kali mengikuti program ini, saya selalu menemukan hal baru. Terima kasih banyak karena telah menerima kami dan juga atas dukungan yang baik serta keramahan yang hangat. Semoga kedepannya para mahasiswa dapat terus menjaga komunikasi dan persahabatan yang telah terjalin melalui program ini,” ujarnya. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dari Indonesia dan Jepang yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Ia menilai program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, serta berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi dan kepemimpinan global di masa depan. “Lebih dari sekadar kegiatan akademik. Program ini menjadi wadah pembelajaran lintas budaya dan saling memahami, di mana mahasiswa tidak hanya belajar dari ruang kelas tetapi juga langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, dan berbagai tantangan nyata terkait keberlanjutan,” tuturnya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine

Selengkapnya

Sambut Ramadhan di Kampus, Rektor UGM dan Ustaz Wijayanto Ajak Perkuat Kepedulian Sosial

Ibadah puasa di bulan ramadhan, tidak sekedar hanya menahan haus dan lapar dari sejak sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam. Namun lebih dari itu, puasa mengajarkan umat muslim untuk melahirkan kepedulian sosial terhadap sesama.“Kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Begitu pula, bila kamu tidak ingin kelaparan, jangan biarkan orang lain kelaparan. Itulah esensi puasa, yakni melahirkan kepedulian sosial yang nyata,” papar Ustaz Drs. H. Wijayanto, M.A., dalam orasi syiar pada Grand Opening Ramadhan UGM 2026 yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, Selasa, (17/2). Wijayanto menegaskan bahwa Islam mengutamakan kesimbangan antara pemenuhan kebutuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Allah Swt. sehingga puasa bukan sekadar tentang menyiksa diri, melainkan mendidik diri. “Islam adalah adalah agama moderat. Puasa sejatinya bukan untuk membunuh nafsu, melainkan untuk mengendalikan nafsu sementara. Sejak saat itu, dilarang melakukan puasa wishal atau puasa sambung. Maka ketika berpuasa disegerakan berbuka dan akhirkanlah sahur,” ungkapnya. Dikatakan Wijayanto, bulan Ramadhan merupakan bulan mulia yang kedatangannya senantiasa dirindukan, sebagaimana tradisi para sahabat Nabi terdahulu. “Para sahabat bahkan telah memanjatkan doa selama enam bulan lamanya demi mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Hal ini karena Ramadhan adalah karim,” ujarnya. Lebih mendalam, Ustaz Wijayanto mengupas tuntas akar kata karim yang melekat pada bulan suci ini. Ustaz Wijayanto menjelaskan bahwa terminologi karim bukan sekadar label kemuliaan biasa, melainkan cerminan kekaguman yang luar biasa pada sebuah hal. Melengkapi dimensi historisnya, Ustaz Wijayanto menjelaskan bahwa pada bulan Syakban tahun kedua Hijriyah, turun empat perintah yang menjadi fondasi spiritual umat. Perintah-perintah tersebut antara lain mengenai peralihan arah kiblat, penetapan nisab zakat, anjuran bershalawat, serta tuntunan birrul walidain atau berbakti pada orang tua. Oleh karena itu, ia pun memberikan mengingatkan kaitan soal ibadah puasa dan adab kepada orang tua. “Gagal orang berpuasa, jika memiliki orang tua tapi tidak menjadikannya jalan untuk menuju surga. Jadikanlah orang tua sebagai wasilah menuju surga. Maka aneh jika seseorang berpuasa tapi puasanya tidak disempurnakan. Misalnya saja, zakatnya tidak jelas, shalawat pun tidak pernah, dan tidak memiliki hormat kepada orang tua,” tegas Wijayanto. Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan grand opening ramadhan sebagai pembuka rangkaian kegiatan Ramdhan di Kampus. Menurutnya, momen ramadhan ini adalah titik awal pembersihan jiwa dimana makin menguatkan karakter civitas akademika yang semakin inklusif dan berdampak. “Karakter inklusif dan berdampak yang menjadi frasa yang sering didengarkan dan diucapkan. Namun bagaimana pengejawantahan makanya dalam laku hidup keseharian, tentu menjadi bahan diskusi dan renungan kita bersama,” katanya. Ia mengajak para hadirin yang hadir untuk bersama-sama menyambut bulan Ramadhan yang penuh ampunan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amalan yang bisa berdampak bagi diri sendiri dan orang lain. “Mari kita sambut bulan penuh ampunan ini. Bulan yang selalu memberikan pembaruan iman dan benih-benih kesadaran dalam setiap amalan serta renungan yang kita jalankan selama hampir sebulan ke depan,” pungkasnya. Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Fristo

Selengkapnya

UGM Provides Free Health Checkups for Persons with Disabilities

A total of 170 people with disabilities took part in a free health checkup program held during a social service activity organized by the Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing of Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) on Sunday (Feb. 1) at Graha Agung, Bantul, Special Region of Yogyakarta. The activity was conducted as part of the 80th Anniversary and the 16th Lustrum of FK-KMK UGM under the theme “Compassion in Action, Empowering Lives,” in collaboration with UGM Academic Hospital (RSA UGM) and Sahabat dan Pemerhati Difabel dan ODGJ (Sapadifa). Dr. Supriyati, Coordinator of the FK-KMK UGM Community Service Team, stated that this community service activity reflects UGM’s commitment as an inclusive and health-promoting university to improve public health standards. To ensure the program’s success, the faculty collaborated with partners who have consistently contributed to the initiative over the past three years.  “This collaboration has been ongoing for three years, and we hope it will continue as a form of participation in supporting a healthier community,” Dr. Supriyati said in a statement released to the media on Tuesday (Feb. 3). Meanwhile, Ade Febrina Lestari, representing the board of directors of RSA UGM, welcomed the activity and expressed strong support, particularly for the provision of health services for children with disabilities. She emphasized that every child has the right to receive optimal support for growth and development.  “Disabilities should never be a reason for a child to be denied the same and equal services as other children. This is where the role of families and the surrounding environment becomes crucial in ensuring the fulfillment of children’s rights and access to facilities,” the paediatrician said. During the one-day health checkup, persons with disabilities attended the activity accompanied by their family members. In addition to free medical examinations, FK-KMK UGM also provided health education services and distributed basic food packages to persons with disabilities and their accompanying families.  “While waiting in line, participants were invited to attend educational sessions on superflu, allowing this social service activity to also serve as an informative space for health learning,” Dr. Supriyati explained. Sulis, one of the participants from Imogiri, Bantul, shared that she has lived with a disability since 2011 due to a chronic tuberculosis infection. She expressed her happiness at being able to participate in the free health checkup organized by UGM. According to her, the examination helped her better understand the development of her condition, especially as she continues to work despite relying on a wheelchair. “We are very happy. Through this checkup, we better understand our health issues and the steps we should take. Today’s services are also very complete, with special checkups for children as well as adults,” Sulis said. Dr. Supriyati emphasized that this activity further strengthens UGM’s role in implementing the Health-Promoting University (HPU) concept and consistently encourages healthy lifestyle adoption within the university and the wider Yogyakarta community. The entire series of activities also represents UGM’s tangible contribution to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in promoting inclusive and equitable health and reducing inequalities. Author: Ika Agustine Editor: Gusti Grehenson Post-editor: Zabrina Kumara Putri  Photographs: FK-KMK UGM

Selengkapnya

UGM Bantu 500 Mahasiswa Kesulitan Bayar Biaya Kuliah

Universitas Gadjah Mada memberikan bantuan beasiswa dari internal kampus kepada mahasiswa angkatan 2025 yang berasal dari keluarga kurang mampu dan mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya kuliah. Selain itu, bantuan ini juga ditargetkan untuk sejumlah 503 mahasiswa baru angkatan 2025 dengan kategori KIP Kuliah non-eligible yang belum memperoleh pendanaan melalui skema KIP Kuliah Tahun 2025 karena keterbatasan kuota, sehingga memerlukan dukungan tambahan agar dapat melanjutkan studi dengan baik. Melalui kebijakan ini, UGM berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan mahasiswa dengan memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghambat bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik dan motivasi belajar yang tinggi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Ari Sujito, S.Sos., M.Si mengatakan sebagai wujud tanggung jawab institusional dan komitmen terhadap prinsip keadilan sosial, inklusivitas, serta keberlanjutan pendidikan, UGM menyiapkan berbagai langkah mitigasi terhadap mahasiswa KIP Kuliah non-eligible yang karenea keterbatasan kuota menjadi kesulitan dalam bayar biaya kuliah, diantaranya melalui pemanfaatan imbal hasil investasi Dana Abadi UGM sebesar Rp1,5 miliar yang digunakan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak, dan alokasi IPI 2025 sebesar 1,1 Milyar rupiah. Dijelaskannya pelaksanaan dan pengaturan teknis penyaluran bantuan ini dikoordinasikan oleh Direktorat Keuangan bersama Direktorat Kemahasiswaan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pendekatan mitigasi dilakukan UGM secara hati-hati, berbasis data, dan melalui mekanisme internal universitas. ”UGM ingin memastikan proses pembelajaran mahasiswa tidak terganggu dari sisi pembiayaan, dengan memberikan bantuan, talangan atau mengatasi terlebih dahulu dampak kebijakan seperti keterbatasan kuota atau penundaan pencairan KIP Kuliah,” ujarnya di UGM, Jumat (23/1). Selain lewat sumber Dana Abadi, UGM akan mengoptimalkan berbagai skema bantuan internal lainnya, seperti penyesuaian UKT, beasiswa internal, serta bentuk dukungan lain yang relevan dengan kondisi mahasiswa. Dengan demikian, mitigasi pendanaan tidak bertumpu pada satu sumber, melainkan disusun secara komprehensif dan berkelanjutan. Sementara dari sisi tata kelola keuangan, UGM memastikan pemanfaatan Dana Abadi dilakukan secara akuntabel, sesuai mekanisme yang berlaku, dan dikoordinasikan lintas unit sebagai bagian dari tanggung jawab sosial universitas. UGM menekankan bahwa tidak seluruh mahasiswa yang belum menerima KIP Kuliah otomatis memperoleh dana pengganti yang sama. ”Setiap mahasiswa ditangani secara individual berdasarkan pemetaan dan verifikasi data yang mencakup kondisi sosial ekonomi, status UKT, kemampuan finansial, serta rekam jejak dan progres akademik,” terangnya. Ari menyebutkan 503 mahasiswa yang terkendala ekonomi ini pada prinsipnya telah memenuhi kriteria kelayakan sebagai penerima KIP-K non eligible, namun karena keterbatasan kuota mereka sangat memerlukan bantuan pembiayaan untuk keberlanjutan studinya. “Karenanya UGM bertanggung jawab memastikan mahasiswa dapat belajar dengan nyaman dengan melindungi mereka dari beban kebijakan yang berpotensi mengganggu proses pembelajaran,” jelasnya. Ari kembali menandaskan UGM tetap menerapkan mekanisme seleksi dan verifikasi untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan berkeadilan. Proses evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, disertai koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, guna memastikan pemenuhan hak-hak mahasiswa dapat berjalan dengan baik. Melalui langkah-langkah tersebut, UGM bertekad agar tidak ada mahasiswa yang dibiarkan menghadapi risiko putus studi sendirian, dan terus berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan sesuai nilai keadilan sosial dan inklusivitas. Penulis: Agung Nugroho

Selengkapnya

Komunitas Alumni UGM Pecinta Lari Salurkan Donasi Rp 500 Juta untuk Beasiswa dan Masyarakat Terdampak Bencana

Komunitas alumni UGM pecinta lari yang tergabung dalam KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB) menyerahkan donasi sebesar Rp. 500.202.576,00 yang kemudian diperuntukan untuk bantuan beasiswa UGM bagi mereka yang terdampak Bencana Sumatra, Program Beasiswa UGM Reguler, dan Dana Abadi UGM. Donasi ini dihimpun dari hasil penyelenggaraan kegiatan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada.Penyerahan dana donasi KAGAMA Lari Untuk Berbagi secara simbolis disampaikan Ketua Panitia UGM Trail Run 2025, Budi Susila dan diterima Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos. M.Si. Audiensi dan serah terima donasi berlangsung di ruang Rektor UGM, Kamis (22/1). Penyaluran dana donasi tersebut dipercayakan kepada Universitas Gadjah Mada melalui platform Sahabat UGM (www.sahabat.ugm.ac.id) yang merupakan platform filantropi resmi untuk memfasilitasi partisipasi sivitas akademika, alumni, mitra, dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Pemanfaatan platform ini sejalan dengan upaya penguatan budaya filantropi dan keberlanjutan pendanaan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Budi Susila mengaku pihaknya sangat bersyukur terlaksananya penyelenggaraan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka memeriahkan rangkaian Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada Tahun 2025. Kegiatan olahraga sambil berdonasi ini menurutnya para peminatnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Tahun kemarin kenaikan 3-4 kali liat dari tahun sebelumnya baik dari sisi terkumpulnya donasi maupun jumlah peserta lari,” ujarnya. Ia mengharapkan kolaborasi yang erat dengan pimpinan universitas agar terus menghimpun dana untuk membantu mahasiswa dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi. “Tanpa kolaborasi yang bagus tentunya ini tidak bisa kita lakukan event tersebut. Kita terus mengajak alumni dan masyarakat luas yang memiliki hobi lari untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya. Budi menyebutkan, saat awal kegiatan UGM Ultra Charity Run hanya diikuti peserta kurang dari  100 oang, namun tahun tahun 2025 lalu setiap event mencapai rata-rata ribuan peserta. Pun dari sisi donasi, tahun sebelumnya terkumpul 170 juta maka di penyelenggaraan tahun 2025 mencapai 500 juta rupiah. “Kita sungguh bersyukur karena dengan waktu yang mepet untuk persiapan tidak sampai sebulan, hanya sekitar 3 minggu. Mudah-mudahan di tahun 2026 kita bisa menyelenggarakan kembali dengan persiapan yang lebih panjang dan matang sehingga berharap nantinya bisa terkumpul dana Rp 1 miliar sebagaimana harapan kita bersama,” imbuhnya. Arie Sujito menyampaikan apresiasi kepada pengurus komunitas KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB). Menurutnya kontribusi alumni di komunitas berhasil membangun semangat kemitraan dan kemanusiaan. “Setelah saya mengikuti Kagama lari ini menemukan spiritnya adalah sehat namun sekaligus berbagi dana, dan kami bersyukur karena kali ini terkumpul Rp 500 juta,” katanya. Dikatakan Arie, UGM saat ini tengah membantu kelancaran studi para mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu maupun terdampak bencana. Bantuan tersebut diberikan tidak hanya dalam bentuk dana, namun juga peminjaman sepeda, laptop, dan para mahasiswa terdampak bencana Sumatra. “UGM terus bekerja keras mencarikan dana untuk UKT beberapa mahasiswa terkena bencana. Ada sekitar 200an mahasiswa terkena bencana dan kita mencarikan untuk meringankan mereka,” ujarnya. Ari menyatakan UGM siap mendukung untuk penyelenggaraan UGM Ultra Charity Run di tahun 2026 agar jangkauan penyelenggaraan lebih luas. “Kita siap membantu untuk perijinan, promosi kepada mahasiswa, kita siap membantu jika perlu sekretariat sementara bisa memakai salah satu ruang yang ada disini,” imbuhnya. Penulis : Agung Nugroho Foto : Donnie