BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

FK-KMK UGM Dukung Penguatan Skrining Layak Hamil untuk Mempersiapkan Kehamilan Sehat

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berpartisipasi dalam penguatan upaya kesehatan reproduksi melalui keterlibatan Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.O.G., Subsp. Urogin, Re., sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Skrining Layak Hamil yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026, di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan, terutama bagi calon pengantin dan pasangan usia subur, agar persiapan kehamilan dapat dilakukan secara lebih sehat, aman, dan terencana. Dalam kegiatan tersebut, Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman menyampaikan materi bertajuk “Skrining Layak Hamil bagi Calon Pengantin dan Pasangan Usia Subur”. Materi ini menyoroti pentingnya mengenali kondisi kesehatan sejak sebelum konsepsi sebagai bagian dari persiapan kehamilan. Pemeriksaan kesehatan sebelum hamil dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu maupun janin, sehingga langkah pencegahan dan penanganan dapat direncanakan lebih awal. Skrining layak hamil menjadi salah satu langkah penting dalam memastikan calon orang tua memperoleh informasi yang memadai mengenai kondisi kesehatannya. Melalui pemeriksaan sejak dini, masalah kesehatan yang berpotensi memengaruhi kehamilan dapat diketahui lebih awal. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan edukasi, pendampingan, maupun penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu sebelum kehamilan direncanakan. Upaya ini juga merupakan bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan reproduksi. Persiapan kehamilan tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik, tetapi juga pemahaman mengenai kondisi kesehatan dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk hamil. Dengan demikian, calon pengantin dan pasangan usia subur memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi kesehatan yang tepat. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sebelum kehamilan perlu terus diperkuat agar faktor risiko dapat diantisipasi sedini mungkin. Persiapan yang baik diharapkan membantu mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan serta mendukung perlindungan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, skrining layak hamil perlu dipahami sebagai bagian dari perencanaan keluarga, bukan sekadar pemeriksaan yang dilakukan ketika kehamilan telah terjadi. Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya promotif dan preventif untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan dinas kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (Kontributor: Munjayati).

Lanjut Baca

Kembali ke Titik Koordinat, Alumni Geografi ‘96 Gelar Reuni 30 Tahun

Alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1996 menyelenggarakan reuni ke-30 tahun pada Sabtu (5/9/26) di Fakultas Geografi UGM. Sebanyak 50 peserta alumni mengikuti serangkaian kegiatan yang meliputi napak tilas, angkringan malam, hingga penyerahan tali asih dan bibit pohon buah. Sesuai dengan tema “Kembali ke Titik Koordinat”, reuni ke-30 ini menjadi wadah silaturahmi bagi alumni Fakultas Geografi UGM angkatan 1996, sekaligus momentum untuk mengenang masa kuliah, mempererat persaudaraan, serta memberikan kontribusi nyata kembali ke almamater. Reuni ke-30 dibuka melalui sambutan dari Ketua Angkatan Geografi UGM ‘96 dan Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., serta dihadiri oleh beberapa dosen Fakultas Geografi UGM. Dalam kesempatan tersebut, alumni angkatan ’96 menyerahkan donasi berupa dua unit smartphone (HP) yang ditujukan bagi mahasiswa aktif Fakultas Geografi yang membutuhkan bantuan. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis melalui Dekan Fakultas Geografi UGM. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan berkelanjutan, alumni Geografi ‘96 turut menyerahkan sejumlah pohon bibit buah yang nantinya akan ditanam di lingkungan Fakultas Geografi.  Acara reuni juga diisi dengan jalan santai menyusuri rute nostalgia di area kampus UGM. Perjalanan dimulai dari Fakultas Geografi, menuju Boulevard UGM, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Gedung Alumni, Graha Sabha Pramana, Gedung Pusat (Balairung), dan kembali ke Fakultas Geografi.  Sementara itu, kegiatan reuni ditutup dengan “Angkringan Malam” yang ditujukan untuk saling bercengkerama, bertukar cerita, dan mengenang masa perkuliahan dahulu. Selain menjadi momentum untuk kembali bertemu, mengenang perjalanan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan kepedulian kepada almamater serta sesama, Ketua Panitia Reuni, Wahyudi Ardianto, S.Si., S.T., M.T., berharap semangat kebersamaan alumni Geografi '96 dapat terus terjaga. “Semoga semangat “Sesarengan, Srawung, Saklawase” terus terjaga dan menjadi bagian dari perjalanan GE'96 di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Selengkapnya

Akselerasi Hilirisasi Vaksin, UGM Perkuat Jejaring Global 

Pengembangan vaksin dalam penanggulangan penularan penyakit infeksi tidak berhenti pada keberhasilan menghasilkan produk, tetapi juga mencakup kemampuan melakukan uji klinis, memastikan kesiapan produksi dan regulasi, hingga memastikan vaksin dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, UGM mendorong upaya pengembangan kapasitas penelitian, membangun jejaring kolaborasi lintas negara, serta mendorong hasil riset dan inovasi vaksin agar dapat memberikan dampak bagi masyarakat perlu digalakkan. Hal itu mengemuka dalam International Vaccine Symposium 2026, dan 5th Annual Meeting of ARISE (Academic Research Organisations Alliance for Southeast and East Asia) yang berlangsung pada 28 september hingga 3 oktober di ruang auditorium FK-KMK UGM. Simposium internasional ini mempertemukan jejaring ARISE dan Asia-Pacific Vaccine Research Network (APVRN) dalam satu forum. Lebih dari 700 peserta dari 35 negara mengikuti kegiatan tersebut, baik secara langsung maupun daring. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kementerian dan lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, klinisi, tenaga kesehatan, industri, serta organisasi yang bergerak dalam bidang vaksin dan kesehatan masyarakat. Guru Besar Bidang Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM sekaligus koordinator pelaksana simposium internasional, Prof. Jarir At Thobari, mengatakan keberhasilan inovasi vaksin seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak vaksin yang berhasil dikembangkan, tetapi juga dari berapa banyak uji klinis yang dapat dilakukan dan berapa banyak vaksin yang benar-benar dapat diberikan kepada masyarakat. Namun yang tidak kalah penting menurutnya terkait kesiapsiagaan pemangku kepentingan dalam menghadapi dan mengantisipasi penyakit infeksi yang baru muncul. “Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi vaksin perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem kesehatan, kebijakan, distribusi, serta kepercayaan masyarakat,” tegasnya. Dikatakan Thobari, dalam simposium kali ini, para peserta diajak melihat bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya vaksin. Akses terhadap layanan kesehatan, kapasitas penelitian dan produksi, kebijakan yang mendukung, serta kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat vaksin dapat dirasakan secara luas. Melalui diskusi, studi kasus, dan pertukaran pengalaman antarnegara, peserta membahas sejumlah tantangan dalam program imunisasi, termasuk surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, kesiapsiagaan pandemi, zero-dose children, pemerataan akses imunisasi, ekonomi kesehatan vaksin, serta pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung kebijakan. Bagi FK-KMK UGM, kata Thobari, penyelenggaraan rangkaian pertemuan internasional tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai penghubung antara komunitas penelitian Indonesia dengan jejaring riset regional dan internasional. “Kolaborasi yang dibangun tidak hanya diarahkan pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas dan penerjemahan hasil penelitian menjadi kebijakan serta program kesehatan,” ungkapnya. Kolaborasi tersebut pada akhirnya diharapkan tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi berlanjut dalam bentuk penelitian bersama, penguatan kapasitas uji klinis, pengembangan inovasi, serta pemanfaatan bukti ilmiah untuk mendukung sistem imunisasi yang tangguh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik. Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan ekosistem vaksin tidak dapat dilakukan oleh satu institusi atau sektor saja. Menurutnya, keberhasilan inovasi vaksin sangat bergantung pada hubungan antara peneliti, regulator, produsen, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sebagai penerima manfaat. “Dalam ekosistem seperti ini, kita dapat menghubungkan penelitian lintas negara dengan produksi vaksin, kebijakan kesehatan, dan pemberian layanan kepada masyarakat. Tujuan bersama kita adalah melindungi setiap anak dan setiap masyarakat yang membutuhkan perlindungan,” ujar Yodi. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie Tristan

Selengkapnya

8 Dokter Muda Palestina Program SHEMIND FK-KMK UGM Ucap Janji Koas untuk Jalankan Misi Kemanusiaan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND) melaksanakan medical student oath atau janji koas di Grha Wiyata FK-KMK UGM. Berlangsung pada Jumat (02/10), janji koas ini diikuti oleh delapan dokter muda dari Al-Azhar University Gaza yang akan menjalani studi profesi di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.  Dalam sambutannya, dr. Ahmad Hamim Sadewa., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM mengucapkan selamat kepada delapan mahasiswa yang sebelumnya menempuh studi di Gaza tersebut. Menurutnya, janji koas ini merupakan persiapan tahap akhir setelah mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan klinis di FK-KMK UGM selama beberapa bulan. “Hari ini kita mencapai akhir dari program persiapan tersebut. Anda harus melangkah maju ke tempat profesi di rumah sakit,” ujar dr. Hamim. Sementara itu, Kepala Bagian Akademik dan Riset RSA UGM, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E, Subsp.Ven., mengatakan bahwa janji koas SHEMIND bukan sekadar pendidikan keterampilan klinis semata. Upacara ini ditujukan agar kedelapan mahasiswa memiliki empati, integritas, dan rasa profesionalisme sebagai dokter. Sebab, menurut dr. Nurwestu, mereka tengah menjalankan misi yang berakar pada solidaritas global dan martabat kemanusiaan. “Di rumah sakit, Anda akan menemui pasien pada momen-momen paling rentan mereka,” ujarnya. Sejalan dengan misi tersebut, dr. Mohammad Zughbur selaku Dekan Faculty of Medicine Al Azhar University Gaza menasehati kedelapan mahasiswa agar menjalankan pendidikan profesi dengan rasa kemanusiaan. Terlebih, bekal ilmu kesehatan ini akan sangat berguna bagi korban terdampak genosida di Gaza, Palestina. “Kami berharap suatu hari nanti kalian kembali untuk melayani rakyat kalian dan berkontribusi dalam membangun kembali sistem pelayanan kesehatan di Gaza,” tuturnya. Janji koas SHEMIND menjadi bukti komitmen kelembagaan FK-KMK UGM terhadap misi kemanusiaan global. “Melalui program kolaboratif ini, UGM menegaskan kembali komitmennya terhadap etika kedokteran, layanan kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dalam skala internasional,” ujar dr. Nurwestu. Oleh sebab itu, agenda ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berupa SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan. (Reporter: Aghits Azka)

Selengkapnya

UGM Raih Peringkat Pertama Komersialisasi Paten Tertinggi di Indonesia 

Universitas Gadjah Mada terus mendorong pemanfaatan hasil riset melalui penguatan perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual. Upaya tersebut salah satunya tercermin dari capaian UGM yang menempati peringkat pertama perguruan tinggi dengan jumlah komersialisasi paten tertinggi di Indonesia, yakni sebanyak 35 paten dengan nilai royalti sebesar Rp15 miliar. Posisi tersebut kemudian disusul Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan 32 paten dengan nilai royalti Rp12,4 miliar dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 30 paten dengan nilai royalti Rp10,8 miliar, yang masing-masing menempati peringkat kedua dan ketiga. Capaian tersebut disampaikan oleh Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Dr. Andreansjah, S.T., S.H., M.M., selaku keynote speaker dalam acara UGM IP Forum 2026 yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Kamis (1/10). Dalam forum yang mempertemukan regulator, akademisi, dan praktisi industri ini, Andreansjah mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan indikator berkembangnya pengelolaan kekayaan intelektual di UGM. Selaras dengan tema “Bridging IP Protection to Market Integration”, ia menilai bahwa keberadaan paten tidak seharusnya berhenti pada perolehan sertifikat, tetapi mesti dilanjutkan dengan pemanfaatan agar dapat memberikan nilai ekonomi. “Yang terpenting di sini bukan lagi soal apakah inovasi kita sudah dipatenkan, tapi bagaimana setelah dipatenkan kemudian bisa dimanfaatkan,” ungkapnya. Ia mengibaratkan sertifikat paten seperti sertifikat tanah yang tidak akan memberikan hasil optimal atau nilai manfaat jika hanya disimpan. Baginya, paten mesti dimanfaatkan melalui pengembangan usaha, lisensi, maupun bentuk komersialisasi lainnya demi menghasilkan nilai guna atau manfaat bagi inventor dan masyarakat. “Paten yang ada, ya itu harus menjadi nilai ekonomi,” sambungnya. Menanggapi efektivitas pemanfaatan paten di lingkup perguruan tinggi,  Andreansjah menyebut bahwa UGM sendiri memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan komersialisasi paten melalui ekosistem pengelolaan kekayaan intelektual yang telah dibangun. Keberadaan Intellectual Property Management Office (IPMO), dikatakan olehnya, merupakan salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem pemanfaatan paten, mulai dari proses kreasi, perlindungan, hingga utilisasi kekayaan intelektual. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menegaskan bahwa diperolehnya sertifikat paten bukanlah akhir dari proses inovasi. Danang berpendapat bahwa patent granted justru menjadi awal dari pekerjaan besar untuk membawa hasil riset menuju hilirisasi dan pasar. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan UGM IP Forum 2026, yakni untuk mengakselerasi proses hilirisasi riset UGM dengan mentransformasikan perlindungan paten menuju integrasi pasar. “Sebisa mungkin bagaimana paten ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan hilirisasi dan bagaimana produk yang Bapak-Ibu bangun itu bisa masuk ke market secara luas,” jelasnya. Lebih lanjut, Danang mengingatkan bahwa penguatan perlindungan kekayaan intelektual juga harus dilakukan sedari awal proses penelitian. Berdasarkan pengamatannya, ia menyoroti masih adanya peneliti yang telah menghasilkan produk, menemukan mitra, bahkan menjalin kerja sama, tetapi belum mengurus perlindungan patennya. Selain perlindungan, Danang juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, industri, praktisi bisnis, dan masyarakat. Menurut pandangannya, perguruan tinggi memiliki kekuatan pada aspek riset dan pengembangan, sementara proses manufaktur dan pengembangan produk hingga masuk ke pasar membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan industri. “Tidak mungkin UGM bekerja sendiri untuk melakukan manufaktur. Karena memang bukan dunianya akademik, kita (UGM) kan melakukan penelitian dan pengembangan,” pungkasnya. Senada dengan hal tersebut, Ketua Intellectual Property Management Office (IPMO) UGM, Prof. Ir. Sang Kompiang Wirawan, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa UGM senantiasa membangun kolaborasi dalam pengembangan kekayaan intelektual. Pada 2026, IPMO mencatat capaian paten yang melibatkan inventor dari berbagai fakultas dan klaster keilmuan di UGM. Dalam paparannya, Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) masih menjadi yang teratas sebagai penyumbang paten. Bersama IPMO UGM, ia menuturkan bahwa pengelolaan kekayaan intelektual di UGM tidak hanya berfokus pada perlindungan paten, tapi juga diarahkan untuk mendukung proses hilirisasi. Hal tersebut, kata Kompiang, dilakukan melalui penguatan fungsi IPMO yang mencakup regulasi, fasilitasi, hukum, kurasi, edukasi, dan data. Di akhir, Kompiang menambahkan bahwa penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat mempertemukan hasil invensi dari sivitas akademika dengan kebutuhan dunia usaha. Dengan demikian, paten tidak berhenti sebagai dokumen perlindungan, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan memberikan nilai ekonomi. “Semangat kita bersama untuk kita terus berkarya. Kita lanjutkan bahwa invensi itu bisa kita hilirisasi,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto

Selengkapnya

Kolaborasi UGM dan Industri Hasilkan Inovasi Sensor Gempa Bawah Air

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Innovation, dan PT Elnusa Tbk. sukses melaksanakan uji coba pengembangan sensor seismik bawah laut atau sensor gempa bawah air di Waduk Saguling, Jawa Barat, pada 28–29 September lalu. Teknologi yang dikembangkan dalam bentuk shallow water ocean bottom seismometer (OBS) tersebut diberi nama Prameya (Perangkat Rekam Aktivitas Mikroseismik dan Ekspedisi Yudha Akuatik), merupakan sensor getaran yang dirancang untuk ditempatkan di dasar perairan guna merekam aktivitas seismik, dengan target kemampuan operasi hingga kedalaman maksimum 100 meter. Dosen FMIPA UGM sekaligus Ketua proyek pengembangan Prameya, Dr. Wiwit Suryanto, mengatakan bahwa pengembangan sensor bawah laut tersebut merupakan kelanjutan dari riset sensor gempa darat yang sebelumnya dikembangkan UGM melalui Gamadu. “Ini sebetulnya kelanjutan dari sensor yang dulu kita buat, Gamadu dulu. Itu sensor gempa, tapi di darat,” ujar Wiwit dalam wawancara, Jumat (2/10). Pengembangan sensor tadi kemudian dilanjutkan ke lingkungan bawah air, mengingat Indonesia didominasi oleh wilayah perairan sehingga membutuhkan teknologi untuk memantau aktivitas seismik di laut. Wiwit menjelaskan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sensor gempa bawah laut yang dapat dipasang dan digunakan secara terus-menerus. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim melanjutkan pengembangan sensor hingga menghasilkan Prameya. “Kita belum punya sensor gempa bawah laut yang bisa dipasang terus-menerus. Jadi, kita mencoba mengembangkan sendiri supaya bisa memantau aktivitas gempa di bawah laut,” ungkapnya. Uji coba pertama dipasang selama satu malam dengan tujuan menguji ketahanan dan kekedapan alat ketika berada di dalam air. Pengujian ini dilakukan pada kedalaman sekitar 30 meter, sementara kedalaman waduk dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 80 meter. Tahap tersebut dipilih sebagai pengujian awal sebelum perangkat dibawa ke lingkungan laut yang membutuhkan persiapan lebih kompleks.“Jadi itu kita pasang semalam untuk melihat kedepannya karena memang ternyata tidak mudah untuk membuat alat yang kedap di bawah laut,” kata Wiwit. Menurutnya, kemampuan bertahan di dalam air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan Prameya. Versi sebelumnya baru diuji hingga kedalaman sekitar 10 meter, sedangkan pada versi terbaru tim mulai mengujinya hingga 30 meter. Selain sistem kedap air, tim juga mengembangkan sistem buoy agar perangkat dapat ditenggelamkan dan nantinya diangkat kembali. Hasil pengujian awal menunjukkan kinerja Prameya cukup baik ketika dibandingkan dengan alat standar. Meski demikian, masih terdapat satu komponen sensor horizontal yang perlu diperbaiki. Prameya memiliki tiga komponen sensor untuk merekam getaran, tetapi salah satunya masih menunjukkan kendala sehingga saat ini masih dalam proses penyempurnaan.“Waktu di darat sebenarnya hasilnya cukup baik dibandingkan dengan alat standar. Tapi memang masih ada sedikit masalah di komponen horizontal. Itu kan ada tiga komponen sensor yang kita pasang. Nah, yang satu komponennya masih bermasalah, tapi ini kita sedang perbaiki lagi,” ujar Wiwit. Dari sisi teknologi, Prameya memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan OBS pada umumnya, yakni merekam getaran dari dasar perairan. Namun, tim UGM mengembangkan Prameya dengan spesifikasi yang lebih lengkap. Perangkat ini dilengkapi webcam dan lampu yang memungkinkan tim melihat posisi sensor ketika berada di dasar perairan, termasuk kondisi lingkungan di sekitar perangkat. “Sebetulnya secara prinsip hampir sama, cuma memang kemarin kami ingin yang spesifikasi lengkap. Jadi di situ ada webcam-nya, ada monitor kameranya untuk melihat posisi dari sensor itu di dalam air,” jelas Wiwit. Kamera tersebut juga membantu tim mengetahui kondisi dasar perairan yang tidak selalu datar dan dapat dipenuhi lumpur. Dalam kondisi air keruh, jarak pandang kamera hanya sekitar 20–30 sentimeter, sedangkan pada air yang lebih jernih, posisi perangkat dapat terlihat lebih jauh. Keberadaan kamera dan lampu menjadi bagian dari upaya tim untuk membuat perangkat tidak hanya berfungsi merekam data seismik, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi alat ketika berada di dasar perairan. Wiwit mengatakan pengembangan dengan spesifikasi lengkap tersebut merupakan strategi tim untuk membangun kemampuan teknologi secara bertahap. Dengan mengembangkan perangkat pada spesifikasi yang lebih tinggi terlebih dahulu, teknologi tersebut nantinya dapat disederhanakan sesuai kebutuhan pengguna.“Kita yang cari yang paling spek tertinggi dulu. Kalau itu bisa, nanti spesifikasi yang lebih rendah kita pasti lebih bisa,” katanya. Setelah pengujian di Waduk Saguling, Prameya akan memasuki tahap pengujian berikutnya di laut lepas pada November 2026. Pengujian direncanakan berlangsung di lapangan laut Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan dukungan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa. Tahap ini akan menjadi pengujian yang lebih kompleks karena perangkat harus diturunkan dari kapal dan memiliki bobot sekitar 70 kilogram sehingga membutuhkan crane. “November itu di Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PHKT. Jadi mereka punya lapangan di laut. Nah, kita dengan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa,” ujar Wiwit. Dalam skema pengembangan tersebut, Pertamina berperan sebagai pihak yang membiayai riset di FMIPA UGM. Setelah teknologi dikembangkan menjadi produk, Elnusa akan mengambil peran dalam pengoperasian dan hilirisasi perangkat. Pengujian di laut diharapkan menjadi langkah penting untuk melihat kesiapan Prameya sebelum digunakan untuk kebutuhan yang lebih luas. Prameya sendiri tidak hanya ditujukan untuk pemantauan gempa bawah laut. Karena pada dasarnya merupakan sensor getaran, perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi serta panas bumi, mitigasi bencana, pemantauan aktivitas gunung api bawah laut, hingga deteksi aktivitas kapal. “Inovasi ini  bisa menjadi salah satu alat untuk monitoring gunung api bawah laut. Tapi untuk kebutuhan eksplorasi juga digunakan juga. Ini sensor sebenarnya sensor getar, jadi aplikasinya macam-macam. Bisa untuk eksplorasi, bisa untuk mitigasi bencana, untuk monitoring gempa. Monitoring kapal pun bisa, ada aktivitas kapal itu kelihatan,” jelas Wiwit. Wiwit berharap Prameya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi oleh perusahaan di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu, perangkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh BMKG untuk memantau aktivitas gempa di wilayah laut dalam yang hingga kini masih belum banyak terpantau. “Kalau ini nanti berhasil, bisa dimanfaatkan untuk support eksplorasi di perusahaan eksplorasi di Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, kami juga ingin agar nanti BMKG memanfaatkannya untuk monitoring gempa di bawah laut. Karena laut-laut dalam kita belum dieksplorasi itu, sementara sebetulnya potensinya sangat besar,” pungkas Wiwit. Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim Peneliti

Selengkapnya

UGM Bantu 48 Mahasiswa NTT Terdampak Bencana

Universitas Gadjah Mada menegaskan komitmennya untuk memastikan mahasiswa yang terkena dampak bencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dapat melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik di kampus UGM. Untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga dari mahasiswa yang terdampak, UGM menyalurkan bantuan kepada 48 mahasiswa dari NTT. Mahasiswa terdampak bencana ini berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari jenjang program sarjana (S1) sebanyak 6 orang, magister (S2) 33 mahasiswa dan 7 mahasiswa jenjang doktor (S3). Sebelumnya, para mahasiswa terdampak dilakukan melalui proses verifikasi dan validasi. Bantuan yang diberikan meliputi Uang Kuliah Tunggal (UKT) Semester Gasal 2026/2027, uang saku sebesar Rp500.000 per orang selama tiga bulan pada Agustus, September, dan Oktober 2026, serta kupon makan siang gratis untuk periode Agustus–September. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menyampaikan bahwa kondisi bencana tidak semestinya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, UGM berkomitmen untuk hadir bersama mahasiswa, khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit akibat bencana. “Saya prihatin atas situasi ini. Tapi, saya juga berharap upaya saudara-saudara untuk bangkit lebih besar,” ujar Arie, Kamuis (1/10) di Gedung Pusat UGM. Arie menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan kepada mahasiswa terdampak merupakan bentuk kepedulian UGM sekaligus upaya untuk meringankan beban mahasiswa dan keluarga. Selain bantuan dana, UGM juga terus mendorong penguatan pendampingan melalui koordinasi dengan fakultas atau sekolah serta layanan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa tetap memperoleh dukungan akademik dan kemahasiswaan selama menghadapi situasi pascabencana. Kehadiran universitas diharapkan dapat membantu mahasiswa mempertahankan keberlanjutan pendidikan sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk kembali menjalani aktivitas akademik secara optimal. Bagi mahasiswa penerima bantuan, dukungan dari UGM tidak hanya memiliki arti secara material, tetapi juga menjadi bentuk perhatian dan solidaritas dari keluarga besar UGM. Imelda, perwakilan mahasiswa terdampak dari FISIPOL angkatan 2026, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang diberikan UGM kepada mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan. “Saya merasa bahwa UGM bukan hanya tempat kami belajar dan menikmati UGM juga hadir ketika mahasiswanya sedang menghadapi kesulitan,” ungkap Imelda, salah satu mahasiswa asal NTT. Ia menyampaikan bantuan tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa terdampak untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dukungan yang diberikan juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi dan kelak memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya bagi daerah asal mereka di Flores dan Indonesia. “Bantuan ini bagi kami bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan bentuk kepedulian, kekuatan, dan harapan kami untuk terus melanjutkan,” tuturnya. Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, mengatakan penyerahan bantuan ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam mendukung kelanjutan mahasiswa yang terdampak bencana. Melalui bantuan dan pendampingan yang diberikan, UGM berupaya memastikan mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan meskipun menghadapi kondisi sulit akibat bencana. “Mari kita berkomitmen untuk mewujudkan UGM yang inklusif, peduli, dan berkelanjutan,” ujar Hempri. Melalui penyerahan bantuan dan pendampingan tersebut, UGM berupaya memastikan mahasiswa terdampak bencana tetap memperoleh dukungan selama menjalani proses pendidikan. Semangat gotong royong, kepedulian, dan solidaritas diharapkan dapat membantu mahasiswa dan keluarganya menghadapi dampak bencana serta melanjutkan pendidikan mereka. Penulis     : Zabrina Kumara Editor       : Gusti Grehenson Foto         : Donnie

Selengkapnya

FKG UGM dan RSGM UGM Prof. Soedomo Beri Subsidi Pendidikan untuk Mahasiswa Koas

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada (RSGM UGM) Prof. Soedomo resmi meluncurkan program subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa profesi atau koas (1/10). Langkah strategis ini bertujuan memangkas beban biaya pendidikan klinis yang selama ini ditanggung mandiri oleh mahasiswa. Kehadiran subsidi ini merupakan jawaban atas impian panjang fakultas. Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. menyebut perwujudan program ini sebagai mimpi bersama yang akhirnya terealisasi demi melancarkan pendidikan mahasiswa koas. Kebutuhan subsidi berkaitan dengan adanya perbedaan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi terutama pada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun Bidikmisi. Regulasi pemerintah yang berlaku saat ini hanya memberi bantuan biaya pendidikan hanya pada jenjang S1, sementara tidak untuk jenjang pendidikan profesi. “Untuk saat ini kami anggarkan Rp5 Miliar per tahun untuk memberikan subsidi bagi seluruh mahasiswa koas tanpa terkecuali,” ucap Dekan Suryono. Guna memastikan subsidi tersebut berjalan lancar, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG menyebut 49 mahasiswa penerima subsidi akan diberikan Buku Kendali dan Buku Formularium Alat dan Bahas Koas. Buku Kendali difungsikan sebagai pedoman utama yang memuat seluruh daftar syarat pemenuhan kompetensi (requirement) klinis mahasiswa yang mendapatkan pembiayaan penuh dari program subsidi. Melalui buku ini, setiap tahapan perawatan dan klaim subsidi mahasiswa harapannya dapat tercatat dengan baik. Sementara itu, Buku Formularium Alat dan Bahan Koas berperan sebagai panduan rinci terkait manajemen logistik, kendali bahan, biaya, serta peralatan yang akan digunakan oleh seluruh sivitas hospitalia. "Buku ini kita buat agar semua syarat pemenuhan kompetensi (requirement) yang disubsidi tercantum didalamnya,” kata drg. Rini. Sementara itu, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. selaku Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo memandang peluncuran program pendanaan ini sebagai tonggak sejarah baru bagi kedua institusi. "Ini bentuk komitmen bersama antara FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung seluruh proses pendidikan bagi mahasiswa koas," tegasnya. Ia meminta kepada para mahasiswa koas untuk menghargai perjalanan pendidikan ini dan memperlakukan pasien secara bermartabat dengan menjunjung tinggi mutu keselamatan. Menurut Margareta, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa koas tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Mahasiswa juga harus menanggung biaya kebutuhan saat merawat pasien, dan melalui program ini, institusi ikut meringankan biaya tersebut. Kebijakan subsidi ini mendapat respons positif dari peserta didik. Muhammad Al Fatih Su'aidi, mahasiswa koas angkatan 87, menilai subsidi tersebut meringankan proses pemenuhan kompetensi (requirement). "Subsidi ini sangat bermanfaat bagi kami para peserta didik koas untuk memenuhi requirement. Harapannya semua proses menjadi lebih mudah dan masyarakat bisa lebih terjangkau untuk segera datang berobat ke RSGM UGM," ujarnya. Hal serupa dirasakan Farrel, mahasiswa koas angkatan 91 yang baru dua bulan menjalani pendidikan koas. Ia mengaku terbantu secara finansial dan merasa didukung oleh FKG UGM dan RSGM UGM. “Jadi makin semangat dan termotivasi untuk segera menyelesaikan pendidikan koas, pungkas Farrel. Penulis dan Juru Kamera: Fajar Budi Harsakti

Selengkapnya

Mengenal Human Flourishing, Tujuan Tertinggi Hidup Manusia

Human flourishing merupakan tingkat kesejahteraan secara utuh yang diukur dari kondisi seluruh aspek kehidupan dalam keadaan baik. Saat ini human flourishing menjadi tujuan tertinggi dari kehidupan manusia, dengan harapan seseorang tidak hanya sekadar bertahan hidup, namun benar-benar berkembang dan berkembang dengan baik sehingga manusia tidak hanya berfungsi secara biologis, tetapi juga secara psikologis, sosial, ekonomi, dan spiritual. Dicky Sofjan, M.A., MPP., Ph.D., Dosen Indonesia Consortium for religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, menjelaskan terdapat enam domain kesejahteraan yaitu kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, dan stabilitas finansial. Menurutnya, kepercayaan pada agama turut memberikan peran penting bagi setiap pengambilan keputusan dalam sehari-hari sehingga mempengaruhi tingkat kesejahteraan seseorang. “Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelasnya dalam Public Talk Show  yang bertajuk “Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif” pada Selasa (29/9) di Auditorium SPs UGM. Ia mengutip dari hasil penelitian Global Human Flourishing (GFS) belum lama ini yang menempatkan Indonesia menjadi negara yang paling sejahtera dari 22 negara yang lain. Menurutnya hasil survei ini erat kaitannya dengan kebanyakan responden Indonesia memahami makna kehidupan sesungguhnya serta dipengaruhi oleh hubungan sosial yang erat. Dalam perspektif agama islam, Dosen  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa terdapat beberapa istilah islam yang selaras dengan Human Flourishing seperti insan kamil (keseimbangan antara fisik, akal, sosial, serta hubungan spiritualnya), hayat thayyibah, maslahah (kesejahteraan holistik/martabat), dan tazkiyah an-nasf (penyucian jiwa). Baginya, syarat hidup baik dalam islam dimaknai dengan menggabungkan aspek iman, amal, kebaikan, sabar, memaafkan, serta prinsip maqasidul syariah (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan amal). Sementara itu, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menekankan pentingnya solidaritas terhadap sesama manusia sekaligus solidaritas terhadap bumi, serta mendefinisikan kondisi akhir yang ideal sebagai hidup yang terberkati dalam kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan kosmos. Perwakilan dari Human Flourishing Center UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., memaparkan terkait lima pilar Human Flourishing UGM. Pilar yang dikembangkan meliputi health and wellbeing, justice and equity for business and society, interreligious and intercultural relations, education across the lifespan, integral ecology and sustainability. Tujuan ini untuk membuktikan asumsi kemakmuran finansial yang berbanding lurus dengan kualitas hidup yang lebih baik. “Harapannya kontribusi bapak ibu bisa memunculkan studi yang sesuai dengan keadaan di Jogja,” tuturnya. Samantha Hauw dari Deakin University, Australia memaparkan kesejahteraan dari perspektif industrial dan keasliannya. Meskipun Australia adalah negara makmur, ukuran kesejahteraan tidak terdistribusi merata. Masyarakat adat terus mengalami kerugian sosio-ekonomi akibat dampak kolonisasi dan ketimpangan struktural. Sementara itu, populasi umum menghadapi masalah kesepian, kecemasan iklim, dan degradasi lingkungan. Selain itu, Ia juga menekankan prinsip non-hirarkis bahwa kesehatan manusia bergantung pada kesehatan alam. Konsep ini menawarkan kebebasan yang membebaskan dimana otonomi individu tetap terjaga di dalam jaringan hubungan yang saling bergantung secara mendalam. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok. Sps, Magnific

Selengkapnya

Cara Membangun Ketahanan Mental Anak melalui Dukungan Orang Tua dan Sekolah

Kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya ketika anak sudah menunjukkan masalah. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 4,4 persen anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan yang dapat membantu anak merasa aman, didengar, dan didukung dalam menghadapi berbagai tekanan. Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam sesi “Orang Tua-Sekolah: Support System Pembangun Kesehatan Mental Anak” yang menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM. Sesi tersebut merupakan bagian dari Program Kelas Parenting Online bertema “Rumah sebagai Ruang Aman: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta serta masyarakat umum. Dalam sesi tersebut, Nurul menjelaskan bahwa ketahanan mental bukan berarti anak harus selalu kuat dan mampu menghadapi segala sesuatu tanpa menangis atau mengeluh. “Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengeluh. Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah menangis,” ungkapnya. Menurut Nurul, kemampuan anak untuk bangkit dari kesulitan dapat berbeda-beda karena setiap anak memiliki kondisi dan dukungan yang berbeda. Ada anak yang memiliki lebih banyak orang untuk mendukungnya, sementara anak lain mungkin memiliki support system yang lebih terbatas. Karena itu, orang dewasa perlu melihat kebutuhan setiap anak secara lebih utuh, bukan membandingkan kemampuan mereka dalam menghadapi masalah. Sekolah juga menjadi bagian penting dari lingkungan pendukung tersebut. Anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah, sehingga pengalaman di sekolah turut berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Pada anak usia dini, misalnya, kesiapan untuk bersekolah dapat berbeda-beda. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi dan memastikan bahwa sekolah menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi mereka. Nurul juga mengingatkan bahwa peran orang dewasa tidak hanya sebatas menjadi teladan melalui “Ing Ngarsa Sung Tuladha”, tetapi juga hadir bersama anak melalui “Ing Madya Mangun Karsa” dan memberikan dukungan melalui “Tut Wuri Handayani”. Pada akhirnya, upaya membangun ketahanan mental anak juga dimulai dari orang dewasa yang mendampinginya. “Untuk menjadi orang dewasa yang aman, kita harus bisa menyediakan ruang aman bagi diri sendiri. Mari kita menjadi orang dewasa yang aman untuk diri sendiri dulu, sehingga kita merasa penuh dan dapat menghadirkan ruang yang aman untuk sekeliling kita,” jelas Nurul. Membangun ketahanan mental anak dengan demikian bukan sekadar mengajarkan anak untuk menjadi kuat. Ketahanan tumbuh melalui hubungan yang aman, komunikasi yang terbuka, serta dukungan yang konsisten dari keluarga dan sekolah. Ketika anak memiliki ruang untuk bercerita, menangis, melakukan kesalahan, dan belajar bangkit, orang dewasa membantu mereka membangun bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.